[Mis, lu punya uang gak? Gue minjam dong. Lima ratus ribu aja, buar bayar uang kost.] Aku mengirim pesan pada Miska. Berharap kali ini dia dapat menolong. Sebab, uangku telah habis, sementara sewa kost harus segera dibayar. Gajian juga masih dua minggu lagi.
Tidak ada jawaban, sementara pesan centang dua biru. Pertanda bahwa pesan telah dibaca.
Kutunggu selama lima belas menit. Tetap saja tidak ada jawaban dari temanku itu. Sialan memang. Ketika dia butuh, langsung lari padaku. Sementara ketika aku yang butuh, ia seakan lepas tangan.
[Mis, lu punya gak?] Lagi, kukirim pesan sebagai penegasan bahwa aku benar-benar butuh.
Kini di layar tampak keterangan sedang mengetik.
Aku menghela napas lega. Setidaknya ada sedikit harapan bahwa Miska ingin membantu.
[Sorry ya, baru gue bales. Soalnya tadi gue lagi itung-itungan. Uang di tangan gue ada 2 juta. Tapi buat bayar uang kuliah lusa. Paling ini sisa seratus. Mau?]
Aku berdecak kesal. Seratus mungkin cukup membantu, tapi tetap saja tidak bisa menutupi biaya sewa kost.
Aku meraih dompet. Hanya sisa uang receh untuk membeli makan beberapa hari ke depan.
Lagi-lagi aku hanya bisa menarik napas dengan berat. Kukira kerja di kota akan seindah yang kulihat di sosial media. Bisa makan di tempat mewah, bisa jalan-jalan ke mana pun yang diinginkan. Nyatanya gaji yang kudapat hanya cukup untuk sewa kost juga uang makan.
[Lu mau kerjaan gak?]
Lagi, Miska mengirim pesan.
Aku mengerutkan kening. Bukankah ia tahu bahwa aku telah bekerja? Atau mungkin ia ingin menawarkan pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi? Aku menerka-nerka.
[Kamu punya aplikasi Michat gak?] Lagi, ia mengirim pesan sebelum aku membalas pesan sebelumnya.
[Punya, kenapa?] Aku menjawab.
[Coba kamu open BO.] Ia mengirim pesan dengan kilat.
Aku tertawa miris. Gila! Enteng sekali dia berkata seperti itu. Seakan wanita tidak ada harga dirinya. Tentu saja aku tidak mau. Prinsipku sejak dulu cuma satu. Suamiku tidak boleh mendapatkan bekas lelaki mana pun.
[Gue gak maksa, cuma nyaranin aja. Lu masih perawan ‘kan? Harganya bisa lebih mahal.]
Sejenak aku terdiam setelah membaca pesan dari Miska. Dia hanya mahasiswa, tapi jajannya sangat banyak. Ia juga sering nongkrong di tempat-tempat mewah. Jalan-jalan ke sana ke mari, seperti yang aku impikan. Tidak mungkin jika ia hanya mengendalikan uang kiriman dari orangtuanya yang aku tahu betul mereka tidak sekaya itu.
[Udah pernah nyoba?] Aku menjadi penasaran. Ingin tahu lebih jauh lagi.
Kutunggu beberapa menit, tidak ada balasan. Ah, sudahlah. Tampaknya memang tidak ada harapan.
Aku bangkit dari kasur lantai, bergegas menuju kamar mandi. Ingin membersihkan diri sehabis pulang dari kerja.
Baru saja kunyalakan kran air, ponsel berdering. Ada panggilan masuk, entah dari siapa.
Segera kumatikan kembali air kran, keluar dari kamar mandi untuk meraih ponsel yang masih berdering. Tertulis nama Miska di sana.
Aku mengerutkan kening, bingung. Mengapa tiba-tiba ia menelepon? Namun, tetap saja panggilan itu kuterima.
“Lu mau gak?” Itu kalimat pertama yang terucap dari bibirnya setelah panggilan terhubung.
Aku terdiam beberapa saat. Aku sangat butuh uang, tapi jika harus menjual diri, risikonya sangat besar.
“Din ....” Miska memanggil, membuatku tersentak dari lamunan singkat.
“Ya gue gak maulah. Kayak gak ada jalan lain aja.” Aku menjawab dengan cepat, juga tegas.
“Emang lu punya jalan lain?”
Pertanyaan Miska membuatku terdiam kembali. Dia benar, aku tidak punya jalan apa pun. Jalanku telah buntu, itulah sebabnya aku mencari pinjaman ke sana kemari. Namun, tak kunjung mendapatkan jalan.
“Gue punya kenalan, kalau lu mau gue bisa ajak lu buat ketemu dia. Tadi gue sambil negosiasi. Dia mau bayar 500 ribu, soalnya lu belum pernah dipake.”
Aku tertawa hambar. Nominal yang Miska sebutkan terlalu kecil untuk harga sebuah keperawanan. Yang benar saja harganya semurah itu? Kupikir nominalnya bisa lebih besar.
“Gimana? Dia minta deal ini.” Miska kembali meminta persetujuan.
Aku menarik napas dalam. Tidak bisa berpikir lebih lama, langsung mengiyakan. Tidak ada pilihan lain, aku sangat butuh uang.
“Yasudah. Entar gue jemput, sekarang lu siap-siap.” Miska terdengar senang.
Aku hanya mengangguk meskipun kutahu ia tidak bisa melihat. Panggilan terputus setelahnya. Kulempar ponsel ke kasur, lalu bergegas menuju kamar mandi.
***
Klakson motor terdengar berbunyi beberapa kali di depan pintu kost. Aku bangkit berdiri, berjalan menuju pintu untuk membukakan.
Tampak Miska telah siap dengan setelan yang menurutku sangat terbuka. Ia mengerutkan kening melihat tampilanku.
“Mau kondangan lu?” Miska berkomentar.
Aku mengigit bibir bawah. “Ada salinan di dalam tas. Gue gak nyaman kalau make pakaian terbuka di depan umum.” Aku menjawab dengan ragu.
Miska menarik napas dalam, lalu mengembuskannya secara perlahan. “Yaudah, naik. Yang penting entar pelanggan lu buat puas.”
Aku mengangguk. Setelah mengunci pintu kost, segera aku naik ke jok belakang dengan pegangan pada pinggang Miska. Ia tampaknya sudah terbiasa dengan setelan seperti itu, tampak begitu nyaman dengan apa yang ia pakai. Sementara di postingannya ia tidak pernah seterbuka itu, mungkin menghindari kecurigaan orangtuanya.
“Loh, kok ke sini?” Aku bertanya penuh heran ketika motor berbelok ke kompleks warung psk.
Aku tahu betul tempat yang kami kunjungi ini sangat tidak aman dan rawan razia Satpol-PP. Terkadang polisi langsung yang turun tangan, sebab di sini tempat judi dan barang-barang haram.
“Terus ke mana lagi? Daripada uangnya kepotong buat sewa hotel. Di sini lebih murah.” Miska berucap dengan santai.
“Batalin aja, ya.” Nyaliku semakin dibuat menciut.
Melihat kondisi sekitar, bisa dibayangkan seperti apa pelanggan yang dimaksud oleh Miska. Bertato, bau, dan tidak terawat. Aku tidak ingin memberikan kesucianku untuk orang semacam itu. Jika memang harus menjual diri, setidaknya di tempat yang sedikit lebih layak dibanding ini.
Seorang pria berlari menghampiri kami setelah Miska melambaikan tangan.
Aku menghela napas dalam. Tebakanku sangat benar. Lelaki itu tinggi, tapi kurus. Ia tidak mengenakan baju. Tubuhnya penuh tato dengan bau alkohol yang menyengat.
“Jangan hiraukan bau alkoholnya, pikirkan nominal uangnya.” Miska berbisik ketika melihat aku mengibaskan tangan karena tidak tahan dengan bau lelaki itu.
“Lumayan.” Lelaki itu berucap sembari menatapku dari atas hingga bawah.
“Uangnya di muka.” Miska berucap dengan tegas.
“Aman.” Lelaki itu merogoh saku, lalu mengeluarkan dompet yang menurutku isinya tidak terlalu tebal. Seperti penampilan dan tampangnya, ia bukan orang beruang.
Lelaki itu menyerahkan delapan lembar uang seratus ribu. Miska menerima dengan senyum merekah. Tampak sekali ia sangat senang ketika mengulurkan tangan.
“Nih, lima ratus ribu. Dua jam lagi gue jemput ke sini.” Miska berucap sembari menyerahkan lembaran uang itu.
Sial, pantas saja dia senang. Ternyata ia sengaja menjualku karena ia mendapat komisi yang nominalnya tidak jauh berbeda. Enak sekali dia, aku yang kerja, dia yang kenyang.
Miska menyalakan motor dan bergegas pergi, aku ditarik oleh lelaki itu untuk memasuki sebuah bilik yang cukup bau.
Jantungku seakan berhenti berdetak. Napas tertahan untuk beberapa saat. Tubuhku gemetar. Keringet dingin membasahi jidat. Aku benar-benar sangat takut ketika kedua tangan lelaki itu hendak melepas pakaian yang melekat di tubuhku.
Seketika aku merasa sangat kotor dan berdosa. Meminta pengampunan terhadap Tuhan untuk jalan salah yang telah aku tempuh.
Kupejamkan mata sembari melapalkan doa, jika aku mati dalam berzina, semoga Tuhan mengampuni dosa-dosaku.
Setetes air mata jatuh membasahi pipi ketika bajuku terjatuh ke lantai. Secara bersamaan terdengar sirine mobil polisi, membuat lelaki itu menghentikan aksi dan lekas berlari pergi.
Di luar terdengar begitu riuh. Langkah kaki terdengar saling beradu, juga teriakan-teriakan para lelaki maupun wanita memekak saling bertautan.
Sejenak aku tidak tahu harus berbuat apa. Membatu dalam posisi berdiri karena terlalu syok. Belum hilang kepanikan karena hampir di-unboxing, kini ditambah lagi rasa panik karena terkena razia.
“Kabur, gobl*k!” Ucapan lelaki itu membuatku tersadar. Pintu bilik yang terbuka membuat siapa pun dengan mudah untuk menatap ke dalam.
Segera aku merunduk, memungut kaus panjang yang sempat dibuka oleh lelaki yang hampir meniduriku malam ini. Kukenakan kaus itu sembari meraih tas dan berlari dengan cepat.
Namun sial, baru beberapa langkah aku keluar dari bilik, sepasang tangan kekar mencekal lenganku. Sekuat apa pun memberontak, cekalan itu tidak terlepas sama sekali.
Aku diseret paksa untuk mengikuti langkahnya menuju mobil patroli. Di dalam sana, telah tertangkap beberapa orang. Termasuk lelaki yang telah membeliku malam ini.
Tubuhku didorong dengan sangat kasar. Diminta agar ikut duduk dan bergabung dengan mereka.
Keringat dingin kini tidak lagi hanya membasahi jidat. Aku merasakan punggung telah basah karena keringat.
Kedua kaki dan tangan gemetar. Aku tidak bisa diam. Kugerakkan kedua kaki demi menutupi ketakutan.
“Baru pertama kali kena razia ya, Mbak?” Seorang wanita pekerja menyapaku.
Aku mengangguk pelan. Sebagai jawaban iya atas pertanyaan itu.
“Tenang aja, mereka cuma minta duit. Entar sampai kantor polisi ditahan semalam sampe dua malam. Kalau bersih dari narkoba, bakalan dilepasin. Asal ada uang jaminan.” Wanita itu menjelaskan dengan tenang. Sepertinya ia sudah sangat berpengalaman.
Sial! Sungguh sial! Miska sudah membuatku terjatuh ke dalam lobang yang seperti ini. Mau ditaruh di mana wajahku jika teman kerja sampai tahu?
Salahku juga karena menerima tawaran itu. Sudahlah ditawar dengan harga murah, kena razia pula. Miska sialan!
Aku tidak akan pernah ingin melakukan hal yang seperti ini lagi! Tidak akan!
Aku tidak bisa berhenti menggerutu dalam hati. Berada di tengah orang-orang seperti ini membuatku merasa telah gagal menjadi manusia. Hanya karena uang lima ratus ribu, aku harus berdesak-desakan duduk di dalam mobil patroli.
Aku merasa sangat gerah. Selain karena duduk desak-desakan, juga karena terlalu panik dalam menghadapi kejadian barusan.
Para anggota berseragam itu akhirnya ikut masuk dan duduk berdesak-desakan dengan kami. Menit berikutnya mobil berjalan meninggalkan lokasi terkutuk itu.
Sepanjang jalan aku tidak bisa berhenti menyalahkan Miska. Entah di mana gadis itu sekarang. Pasti dia tengah bersantai menikmati uang yang telah ia dapatkan. Sementara aku harus ikut ke kantor polisi dengan memasang wajah tebal. Menanggung malu di hadapan banyak orang.
“Turun!” Kami diminta untuk turun dengan kasar setibanya di kantor yang mereka sebut tempat pengamanan. Kupikir kami akan langsung dimasukkan ke dalam penjara, ternyata tidak.
Satu per satu kami diperiksa dengan sangat teliti. Mungkin mencari barang haram. Aku tidak tahu.
Tiba giliranku, aku diminta untuk mengangkat kedua tangan. Kulakukan apa pun yang mereka perintah.
Lelaki tegap itu meraba seluruh inci bagian tubuhku. Hingga di daerah sensitif, ia meraba juga meremas dengan sengaja. Aku tahu itu tidak sesuai dengan prosedur pemeriksaan. Sebab, ia sengaja berlama-lama di sana. Tentu saja aku tidak terima.
“Berani kamu melawan petugas?” Ia menatapku dengan tajam saat kedua tangannya kutepis.
“Anda melecehkan saya!” Aku menjawab tidak terima. Entah seperti apa kondisi wajahku saat ini, aku tidak tahu sama sekali.
Gelak tawa terdengar memenuhi seluruh ruangan. Mereka menganggap kalimat yang aku lontarkan adalah sebuah lelucon yang patut untuk ditertawakan.
Aku semakin kesal. Memasang wajah tidak suka. Sebab, ada banyak pasang mata yang menyaksikan pelecehan itu, tapi tidak ada satu pun yang membela.
“Kita ini PSK, Mbak.” Wanita yang tadi sempat menyapa di mobil, membuka suara kembali. Ia mengingatkanku akan posisiku di sini.
“Jika tidak ingin dilecehkan, ya cari pekerjaan yang halal dong. Kau sendiri tidak menghargai dirimu, bagaimana mungkin kami bisa menghargaimu.” Salah satu petugas berucap dengan datar.
Aku terdiam. Tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka benar. Posisiku di sini adalah seorang PSK yang sedang ditahan. Tidak ada yang bisa kulakukan. Wajar saja jika aku dianggap rendahan.
“Sudah, sudah. Ayo cek urin masing-masing.” Petugas lainnya datang melerai sembari membawa botol kecil.
Aku meraih botol itu sembari terus merungut. Kemudian berjalan menuju toilet dengan bimbingan petugas wanita.
Saat mengantre menggunakan toilet, salah satu petugas lelaki mendatangi tempatku berdiri. Ia mengajak untuk sedikit menepi.
“Kau masih perawan?” Ia bertanya dengan sangat enteng.
Aku terbelalak. Mudah sekali mulut itu menanyakan hal yang semacam itu.
“Sejak di dalam mobil, saya sudah memerhatikan. Saya tahu bahwa kamu masih perawan hanya dengan melihat wajah juga postur tubuhmu.” Ia berucap dengan santai.
“Apa maumu?” Aku bertanya dengan kasar. Berpikir bahwa ia akan berbuat macam-macam.
“Berapa tarifmu dalam semalam?” Ia kembali bertanya.
“Maaf saja, saya tidak berniat untuk menjual diri. Saya berada di sini juga karena suatu alasan.” Aku berucap dengan tegas.
“Saya juga tidak berniat untuk membayarmu. Saya hanya ingin menawarkan kerja sama.” Ia mengeluarkan sebuah kartu.
Aku tidak langsung menerima uluran kartu itu.
“Begini. Saya melihat kualitas yang lebih di dirimu. Jika dipoles sedikit lagi, kau akan telrihat jauh lebih cantik.”
Aku hanya diam, mendengarkan.
“Kita ada tugas untuk menangkap para pejabat yang menyelewengkan uang rakyat. Ada beberapa yang sudah masuk list. Rata-rata uangnya dipakai untuk bermain dengan wanita.”
Aku mengerutkan kening. Lalu, kaitannya denganku apa?
“Kau akan kita jadikan pancingan. Kita butuh bukti transaksi, juga penggerebekan agar bukti lebih akurat.”
Aku semakin mengerutkan kening.
“Pancingan?” Aku bertanya memastikan.
Petugas itu mengangguk dengan tegas.
“Kita sudah ada koneksi untuk menghubungkanmu dengan pejabat itu. Selama ini kami memakai jasa wanita lain. Namun, nampaknya bayaran yang ia dapatkan menjadi simpanan lebih besar, jadi dia memilih untuk berkhianat.”
Aku mulai paham apa yang diinginkan oleh lelaki itu.
“Hei, giliran kamu!” Petugas wanita memanggil agar aku lekas masuk toilet untuk menampung urin.
“Dia aman!” Lelaki di hadapanku memberi isyarat agar aku tidak perlu mengikuti tes narkoba.
“Aku harus apa?” Aku bertanya memastikan.
“Seperti yang kau lakukan sebelumnya. Masuk ke kamar berdua, usahakan agar kalian melepas semua pakaian sebelum kami datang untuk melakukan penggerebekan.”
Aku tertawa tipis. Gila! Sama saja dia meminta aku menjual diri ke pejabat.
“Cari wanita lain saja.” Aku menolak secara mentah-mentah.
“Kau tidak berminat? Gajinya lumayan. Bisa puluhan juta hanya dalam satu malam. Kau bebas untuk melakukan apa pun. Terserah, kau disentuh atau tidak. Yang terpenting kami masuk saat kalian berdua tanpa pakaian.” Ia menegaskan.
Sejenak aku mulai goyah. Namun, tetap saja itu bukan pekerjaan yang aku inginkan.
“Aku tetap tidak mau.” Aku kembali menolak.
“Kau coba pikirkan dulu. Ini ambil kartu nama saya. Hubungi saya jika kau berubah pikiran.” Ia memberikan kembali kartu nama yang sejak tadi tidak kunjung kuterima. Menit berikutnya ia berlalu begitu saja.
Tuhan! Tawarannya sangat menggiurkan!
Aku kembali bergabung bersama rombongan. Menunggu tahapan selanjutnya.
Benar kata wanita tadi, kami diminta untuk menginap di sini malam ini. Namun, tidak di dalam sel. Ada kamar khusus untuk kami tempati. Wanita dan pria dipisah. Hanya kamar kosong. Tanpa perabotan apa pun. Bahkan alas tidur pun tidak ada. Hanya ada lantai keramik tempat berbaring.
Ponsel yang berada dalam tas bergetar. Aku meraih untuk memeriksa pesan apa yang masuk. Nama Miska tertera di sana.
Anak ini!
[Katanya razia. Lu aman gak?]
Ternyata ia masih ingat denganku meskipun telah mendapatkan uang itu.
[Aman, disuruh nginap di kantor polisi.] Aku mengirimkan sebuah foto sebagai penguat bahwa aku tertangkap.
Kutunggu beberapa menit, tidak ada tanggapan sama sekali. Entah apa yang tengah ia lakukan. Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu. Yang jelas, dia bukan teman yang patut untuk dipertahankan.
[Lu dimintain uang berapa?] Pesan dari Miska kembali masuk.
Tampaknya ia telah khatam masalah yang seperti ini.
[Emang lu mau bayar?] Aku memancing. Ingin tahu sebesar apa rasa pertemanan yang ia miliki.
[Ya kalau uang gue cukup, gue bakalan bantu.] Pesan balasan langsung masuk.
Tidak lagi kubalas pesan itu. Kuabaikan saja meski ia mengirim pesan berkali-kali.
Tampaknya ia memang peduli. Hanya saja ia telah tercemar pertemanan dan lingkungan yang tidak baik. Sehingga tidak tahu mana yang benar mana yang salah.
Sama sepeti diriku sebelumnya. Hanya karena uang lima ratus ribu, rela mengikuti saran yang ia berikan. Sehingga berada di tempat seperti ini sekarang.
***
Aku terbangun ketika mendengar gedoran. Para tahanan lain ikut terbangun. Entah kapan aku tertidur, aku tidak tahu. Ketika tersadar, hari sudah pagi.
Kami diminta untuk berkumpul kembali. Yang positif narkoba ditahan dan akan dirujuk untuk rehabilitasi. Sementara yang negatif, dipersilakan untuk pulang setelah menyerahkan uang yang mereka sebut dengan denda.
Ketika aku menyerahkan semua uang yang ada, mereka menolak. Aku bisa pulang tanpa membayar apa pun. Ketika kutanya mengapa, mereka tidak memberitahu apa alasannya.
Sudahlah. Tidak penting apa alasannya, yang terpenting aku bisa pulang sekarang tanpa menyerahkan uang sepeserpun.
Aku berjalan sembari memerhatikan sekitar. Tidak kutemui polisi yang menawarkanku semalam. Entah di mana dia. Ada sedikit rasa penasaran di dada.
Ketika tiba di parkiran, aku bertemu dengan Miska. Ternyata gadis itu menyempatkan waktu untuk menjemput. Ia juga membawa dua helm agar bisa memberikan boncengan.
“Lu gak kuliah?” Aku sedikit enggan untuk menjalin pertemanan kembali dengannya. Namun, melihat perhatian dan kepedulian yang ia berikan, sedikit sulit untuk menghindar dari dirinya.
“Entar habis ngantar lu pulang. Tadi gue lewat depan kost-an, barang-barang lu ada di luar.” Ia berucap dengan nada prihatin.
Ah, Miska. Aku menjadi bingung sebenarnya kamu ini tipe teman yang seperti apa? Di satu sisi kau begitu baik, tapi di sisi lain kau layaknya setan yang menjerumuskan.
“Lu masih punya uang buat bayar sewa kost gak?”
Pertanyaan itu membuyarkan lamunanku.
“Ada pegangan lima ratus ribu.” Aku menjawab niat tidak niat.
Ia meminta agar aku lekas mengenakan helm.
Kukenakan helm yang ia berikan. Setidaknya aku tidak perlu mengeluarkan uang membayar ojek untuk jalan pulang.
Kali ini pertanyaan yang Miska berikan hanya kujawab dengan singkat. Ada sekat yang membuat hubungan kami tidak seerat biasanya.
Kami berasal dari kampung yang sama. Ia lebih dulu tinggal di Jakarta karena kuliah. Aku menyusul tahun berikutnya untuk mencari kerja. Nyatanya hidup di ibu kota tidak seindah yang dibayangkan. Aku menyerah. Namun, malu untuk pulang.
Sepertinya Miska tahu bahwa aku lebih banyak diam. Jadi, ia juga enggan untuk bicara banyak seperti biasanya. Sepanjang jalan kami lebih banyak diam. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri.
“Mau gue temenin?” Miska menawarkan setelah kami tiba di depan kost.
Ia benar, semua barang-barang milikku telah berada di luar. Tentu saja, aku telah telat bayar selama dua bulan. Ia hanya minta separuh dari utang biaya sewa sebagai pemberat agar aku tetap menyewa di sana. Tadi malam adalah batas bayaran. Aku telat dari perjanjian.
“Mending lu langsung ngampus deh. Pasti udah telat.” Aku menolak tawaran Miska agar tidak merasa berhutang jasa padanya. Akan semakin sulit untuk menjauh jika aku terlalu bergantung pada gadis itu.
Ia menarik napas berat. “Hubungin gue kalau lu butuh apa-apa.” Ia meninggalkan pesan sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi.
Aku menarik napas dalam. Mengempaskan pantat ke lantai keramik dekat barang-barang yang tergeletak begitu saja.
Beberapa saat hanya bisa merenungkan diri. Berpikir harus melakukan apa selanjutnya.
Mustahil jika pulang. Sebab, aku tidak punya uang untuk membeli tiket. Meminta uang pada orang tua pun, itu akan menjadi beban. Untuk makan mereka saja, aku harus mengirim dari gaji yang kusisihkan. Itulah sebabnya mengapa keuanganku tidak pernah stabil.
Lagi-lagi aku hanya bisa menghela napas berat.
Kurogoh saku untuk meraih ponsel agar bisa menghubungi ibu kost. Saat mengeluarkan ponsel, kartu nama yang kudapatkan tadi malam ikut serta terambil tanpa sengaja.
Sejenak, aku terdiam. Sementara otak tengah berpikir keras.
Kuperhatikan kartu nama itu. Tertera nama Sergio Adinaya. Nomor ponselnya juga tertera di sana.
Aku mulai tertarik untuk menerima tawaran itu. Toh ia tidak meminta agar aku tidur bersama para pejabat yang ia maksud. Ia hanya meminta agar kami tertangkap basah ketika tidak mengenakan pakaian. Kurasa itu tidak terlalu memalukan untuk bayaran senilai puluhan juta. Jauh berkali lipat dibanding harga keperawanan yang Miska tawarkan.
Kusalin nomor yang tertera ke dalam ponsel. Berniat untuk menghubungi. Namun, ternyata pulsa tidak mencukupi.
Kunyalakan wifi kost. Beruntungnya kata sandi wifi belum diganti, sehingga aku bisa menggunakan WA untuk menghubungi.
Nada sambung terdengar berbunyi ketika aku melakukan panggilan melalui aplikasi hijau itu. Tidak lama, panggilan langsung diterima.
“Halo ... saya wanita tadi malam yang Anda tawarkan pekerjaan.” Aku berucap sedikit ragu.
“Sudah kuduga kau akan menghubungi. Jadi, bagaimana?” Ia bertanya dengan semangat.
“Saya hanya ingin memastikan. Apa identitas saya akan terjaga jika saya bersedia? Apa saya akan mendapatkan perlindungan jika seandainya nyawa saya terancam? Atau mungkin saya akan ikut terpidana karena berada dalam satu kamar dengannya?” Aku menanyakan banyak hal.
Sergio tertawa kecil.
“Aman. Semuanya aman. Yang penting kau melakukan sesuai perintah.” Ia menegaskan. Meyakinkan bahwa tidak akan terjadi apa-apa, karena mereka yang meminta.
Aku terdiam untuk beberapa saat. Dilema. Di satu sisi aku tahu itu salah, tapi di sisi lain aku butuh uang.
Kutarik napas dalam-dalam, kemudian menjawab. “Baiklah. Aku bersedia.”