Di lantai atap rumah sakit.
Jenna dengan kaki goyah, mulai memanjat dinding pembatas atap itu. Gedung rumah sakit ini tidak terlalu tinggi, hanya memiliki 7 lantai, tetapi jika melompat, maka Jenna yakin ia pasti akan mati. Walaupun tidak tinggi, tetapi gedung rumah sakit ini begitu luas.
Namun, dari begitu banyak sudut gedung ini, Jenna menaiki sisi atap yang tepat menghadap ke arah depan rumah sakit.
Mata Jenna menatap jauh ke atas langit, air mata sudah berhenti mengalir. Kedua kakinya sudah menapak di atas dinding pagar. Perlahan, Jenna merentangkan kedua tangan, lebar. Memejamkan mata, merasakan terpaan angin dan hangatnya pancaran sinar mentari. Namun, perasaan Jenna tetap sama, ya ia hanya merasa begitu hampa, kosong.
"A-Anakku.... N-Nenek.... Apakah kalian menunggu kedatanganku?" bisik Jenna dengan suara yang begitu pelan. Seulas senyum putus asa menghiasi wajah pucatnya.
Kembali menundukkan kepala, Jenna perlahan membuka mata.
Seakan tidak cukup penderitaan yang diterima, ia yang ingin mengakhiri hidup, kembali harus melihat sang suami dengan wanita lain. Ya, dari ketinggian gedung itu, Jenna dapat melihat semua dengan jelas. Tatapannya tertuju pada lahan parkir rumah sakit.
Semua kemalangan ini, bermula 7 bulan yang lalu.
***
Tujuh bulan yang lalu.
Jenna Ren duduk di kloset toilet, perusahaan tempatnya bekerja selama 5 tahun belakangan ini.
Tangannya gemetar, saat melihat dua garis merah pada alat tes kehamilan yang baru dibelinya. Mendorong kacamata yang merosot, Jenna menatap lekat sekali lagi ke arah dua garis itu. Berharap, salah lihat.
Namun, dilihat berapa lama, bahkan berkali-kali, tetapi hasilnya tetap sama.
Panik! Ya, panik dan mulai berkeringat dingin, Jenna berdiri dan menaikkan celana panjangnya. Menggigit kuku dan mulai ketakutan. Apalagi saat mendengar langkah kaki orang-orang yang masuk ke dalam toilet.
Buru-buru, Jenna memasukkan alat tes kehamilan ke dalam saku celana kerjanya dan membuka pintu ruangan dalam toilet. Lalu, buru-buru keluar tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.
Kehadirannya tidak terlihat, bahkan tidak penting. Lima tahun bekerja di perusahaan ini, mungkin mereka yang sering melihatnya tidak tahu siapa namanya.
Jenna Ren adalah sekretaris dari CEO, King Company, Leonel Kim. Perusahaan yang bergerak di bidang perhiasan, fashion, perhotelan dan pusat perbelanjaan, serta di bidang properti. King Company adalah perusahaan terbesar di kota dan negara ini, dengan ratusan cabang serta ribuan pegawai.
Berlari kembali ke ruang kerjanya, di lantai yang sama dengan pimpinan tertinggi perusahaan ini. Menarik kursi putar dan duduk di balik meja kerjanya. Mengatup kedua tangan yang gemetar, Jenna berusaha menenangkan diri.
Bagaimana bisa begitu bodoh? Setelah kejadian satu bulan lalu, ia sama sekali tidak memikirkan kemungkinan ini. Cinta satu malam dan berakhir hamil. Jenna curiga, saat haid nya tidak kunjung datang dan saat hendak menuju perusahaan, ia singgah ke apotik untuk membeli satu alat tes kehamilan. Kecurigaannya benar.
Kedua kakinya terus bergerak tidak berhenti, ia begitu panik dan tanpa sadar menatap ke arah dinding kaca di sampingnya. Menatap ke arah bosnya, Leonel Kim. Ayah, bayi yang ada dalam kandungannya.
"Arggghhhh!" pekik Jenna tertahan dan mengacak rambutnya yang memang sudah kusut.
Satu bulan yang lalu, ya satu bulan yang lalu, seperti biasa Jenna mengantarkan kontrak untuk bosnya itu di klub malam terbesar di kota. Saat itu, ia baru diputuskan oleh sang kekasih yang kesal karena Jenna lebih mementingkan pekerjaan daripada hubungan mereka. Merasa frustasi, Jenna minum cukup banyak alkohol saat menunggu kontrak ditandatangani.
Sebenarnya alasan yang membuatnya dapat bekerja selama 5 tahun adalah karena kerja kerasnya yang seperti seorang budak. Siaga 24 jam dan melakukan semua hal untuk CEO itu. Mulai dari menyemir sepatu sampai membersihkan aquarium raksasa di ruang kerja pria itu. Bahkan dalam tas tangan, berisi semua barang bosnya. Malam itu, Leonel Kim mabuk berat dan Jenna yang juga merangkap sebagai sopir dadakan, sama mabuknya. Penjaga klub memanggilkan taksi untuk mereka. Menuju apartemen mewah di tengah kota, untuk mengantar bosnya itu pulang.
Jenna yang juga sesekali diperintahkan untuk membersihkan apartemen itu, sudah tahu letak ruangan di apartemen dan langsung membawa bosnya ke dalam kamar. Entah mengapa, saat terjatuh bersama bosnya itu di atas ranjang king size yang begitu mewah, Jenna yang kehilangan akal sehat, langsung mengecup bibir tipis pria itu.
Awalnya, Jenna hanya penasaran dan hanya ingin mengecup sekilas, tetapi yang tidak disangka, sang bos yang setengah sadar langsung menerkam. Dan begitulah semua terjadi dan itu adalah kali pertama bagi Jenna. Keesokan paginya, mereka sepakat itu adalah kesalahan karena mabuk dan tidak akan membahasnya lagi.
Awalnya cukup canggung, tetapi setelah beberapa hari, mereka sudah mampu mengatasinya. Sampai saat ini, saat Jenna tahu dirinya hamil.
Pesawat telepon di meja kerja berdering dan membuat Jenna terlonjak karena terkejut.
"H-Halo!"
[Siapkan kontrak kerjasama dengan Victor Company!]
Kemudian sambungan telepon diputuskan.
Jenna meletakkan gagang telepon dan menatap ke layar datar komputer di hadapannya, berusaha konsentrasi. Membuka file dan memperbarui draft kontrak yang ada.
Siang hari.
Ding!
Pintu lift pribadi terbuka dan seorang staff keamanan, mengantar langsung seorang tamu yang merupakan perwakilan dari Victor Company.
Jenna langsung berdiri dan menyambut tamu itu, mengetuk pintu ganda ruang kerja sang CEO.
"Masuk."
Suara berat Leonel Kim terdengar dari balik pintu itu.
Jenna membuka pintu dan mempersilahkan tamu itu masuk.
"Selamat siang Tuan Victor," sapa Leo yang berdiri dari duduknya dan sambil merapikan jas jahitan tangan, yang membalut sempurna tubuh atletis itu.
Kedua pria itu saling berjabat tangan dan duduk di sofa hitam di tengah ruang kerja luas ini.
"Jenna, bawakan kontrak!"
"Baik, Tuan."
Jenna berlari keluar dari ruangan itu dan mengambil dokumen yang dimaksud, dari meja kerjanya. Sepatu flat berwarna hitam, membuat langkahnya lancar, celana panjang hitam membuat geraknya tidak terbatas dan atasan kemeja longgar, membuat kedua tangannya dapat bergerak leluasa. Rambut bergelombang selalu diikat sanggul pada bagian belakang kepala, sehingga tidak mengganggu pandangannya. Kacamata berbingkai hitam membuat tatapannya jelas. Namun, hari ini otaknya bermasalah, tidak dapat fokus karena kenyataan mengejutkan yang terus membuatnya khawatir.
Dengan kedua telapak tangan berkeringat, Jenna berjalan cepat kembali ke ruang kerja sang CEO.
Menyerahkan dokumen itu kepada bosnya dan melangkah ke arah mesin pembuat kopi. Meletakkan gelas dan menyalakan mesin itu.
Leonel memeriksa sekilas kontrak itu, sekilas saja sebab biasanya sangat sekretaris sangat teliti dan tidak pernah membuat kesalahan. Namun, pada halaman pertama satu kesalahan fatal sudah tertangkap oleh matanya.
"Jenna!" panggil Leonel, sambil memijat pelipisnya.
Jenna yang tiba-tiba dipanggil, kembali terkejut. Cangkir berisi kopi panas yang ada dalam genggamannya bergoyang dan tumpah mengenai tangannya.
"Arghhh!" pekik Jenna tertahan, saat kopi panas mengenai tangannya.
Panik! Jenna hendak meletakkan cangkir itu ke meja, tetapi karena begitu panik, cangkir itu semakin terguncang dan isinya menyiram tangannya semakin banyak.
Saat kedua cangkir itu hendak terlepas dari tangannya, beruntung Leonel mengambilnya.
"M-Maafkan aku, Tuan."
Buru-buru Jenna meminta maaf dan menyembunyikan tangannya kebalik punggung.
Leo tidak menjawab apa pun, meletakkan cangkir itu kembali ke meja di mana mesin kopi berada, lalu berjalan ke balik meja kerja, mengangkat gagang telepon.
"Rosa, segera keruanganku! Gantikan Jenna!" ujar Leo dingin, lalu meletakkan gagang telepon cukup kasar.
"Keluar! Kembali bekerja, setelah kamu dapat fokus!" perintah Leo dingin dan kembali duduk di sofa kulit, meminta maaf atas kericuhan yang tidak penting.
Dengan menunduk, Jenna berjalan cepat keluar dari ruangan itu, menuju toilet. Membuka keran di wastafel dan air dingin mengalir, menyiram ke luka lepuh pada jari jemarinya.
Leonel Kim, pekerja keras dan tidak mentolerir kesalahan, sekecil apa pun. Di usia yang masih amat belia, yaitu 25 tahun, Leo berhasil menduduki posisi sebagai CEO, berkat kepiawaiannya dalam berbisnis.
Begitu juga dengan Jenna, walaupun tidak memiliki mimpi setinggi itu, tetapi ia selalu bekerja dengan penuh ketelitian, tetapi pengecualian untuk hari ini. Ia tidak mampu fokus, saat memikirkan ada nyawa lain di dalam rahimnya.
Satu hari itu, Jenna hanya duduk di anak tangga yang ada di balik pintu darurat. Memikirkan apa yang harus dilakukan? Yang pasti, ia tidak ingin menjadi pembunuh dengan menggugurkan kandungannya. Lalu, apa? Menjerat bosnya itu ke dalam pernikahan? Sepertinya itu tidak mungkin, lagipula Jenna tidak mau. Pernikahan harus dilandasi dengan cinta dan kepercayaan, bukan karena kecelakaan satu malam seperti ini.
Termenung begitu lama, akhirnya Jenna dikejutkan dengan getar ponselnya. Buru-buru, mengeluarkan ponsel dari saku dan itu adalah panggilan dari Rosa, sekretaris Direktur perusahaan ini, Nyonya Besar Kim, nenek dari Leonel Kim.
"Halo._
[Mau sampai kapan kamu meninggalkan pekerjaanmu padaku? Kembali sekarang, atau aku akan hancurkan meja kerjamu!]
Belum sempat menjawab, panggilan itu sudah diputuskan. Jenna berdiri dan perlahan membuka pintu darurat, keluar.
"Ini semua sudah aku selesaikan! Dan ini, yang harus kamu kerjakan sekarang!. Maaf, aku harus pulang awal, pengasuh anakku tidak akan menunggu!" seru Rosa dan meninggalkan meja kerjanya. Yang ternyata, hari sudah sore dan waktunya pulang kerja. Berarti, begitu lama dirinya termenung duduk di tangga, tanpa melakukan apa pun. Bahkan, Jenna sama sekali tidak merasa lapar ataupun haus.
Menatap ke arah catatan kecil yang dituliskan Rosa, tetapi Jenna tidak mampu membaca isinya. Dirinya benar-benar kacau.
Drittt Drittt!
Ponselnya kembali bergetar kembali terkejut. Namun, kali ini adalah panggilan dari sang bos.
"H-Halo!"
[Antarkan kontrak A&T ke restoran Hotel King, sekarang! Aku tidak mau ada kesalahan!] Tegas Leonel Kim dari seberang panggilan.
Kemudian, panggilan diputuskan.
A&T, A&T, ah... Ini dia. Dokumen ini sudah dipersiapkan beberapa hari yang lalu, jadi Jenna yakin terhindar dari kesalahan. Mengambil tas tangan dan memasukkan dokumen serta ponsel, Jenna langsung masuk ke dalam lift, turun ke lobi.
Keluar dari lobi, Jenna masuk ke dalam taksi dan minta diantar ke Hotel King. Jalanan macet, karena waktunya pulang kerja. Jenna merasa perutnya kembung dan sedikit mual, apalagi saat menghirup aroma pengharum di dalam taksi ini. Membuka kaca jendela mobil, barulah Jenna dapat bernapas lega.
Perjalanan cukup lama, karena terjebak macet. Saat dapat melihat gedung Hotel King yang menjulang tinggi, Jenna membayar biaya taksi dan turun. Berlari di trotoar untuk menuju ke gedung hotel. Berlari bahkan lebih cepat dari barisan kendaraan yang merayap lambat.
Seperti inilah Jenna, melakukan apa pun untuk menyenangkan bos yang tidak suka menunggu. Selalu lupa akan dirinya sendiri, apalagi saat ini dalam tubuhnya sudah ada jiwa yang lain.
Akhirnya setelah berlari beberapa menit, Jenna tiba di depan pintu lobi hotel itu. Para penjaga keamanan sudah mengenalnya sebagai sekretaris hantu sang CEO. Ya, sebutan untuk dirinya selain budak, juga sebagai sekretaris hantu. Sebab, dirinya akan muncul di mana saja dan kapan saja, lalu menghilang saat tidak lagi dibutuhkan. Jenna hanya tertawa saat mendengar julukan itu, yang nyatanya benar, memang dirinya seperti itu.
Berlari kecil ke arah restoran Eropa yang mewah dan terkenal mahal, untuk menyerahkan dokumen ini.
Menyebutkan nama bosnya itu kepada pelayan, Jenna langsung diantar ke ruangan VIP restoran itu.
Tok tok tok!
Pintu ganda yang terbuat dari kayu kokoh dengan ukiran elegan, diketuk perlahan sebelum dibuka oleh pelayan itu.
Jenna melangkah masuk dan mendapati, perwakilan A&T adalah seorang wanita muda yang begitu jelita. Langkah Jenna terhenti, saat melihat sang bos tampak begitu serasi dengan wanita itu.
"Mengapa hanya diam di sana?" tegur Leo, membuyarkan lamunan Jenna.
Mengerjapkan mata beberapa kali, Jenna akhirnya mengangguk dan berlari kecil ke arah Leo, menyerahkan dokumen yang diminta.
Menerima dengan cukup kesal, Leo mengeluarkan dokumen itu dan membacanya.
"Leo, dia sekretarismu?" tanya Anya manja. Anya Lu, putri tunggal dari A&T Company, juga ditunjuk sebagai CEO perusahaan itu. Anya dan Leo adalah sahabat masa kecil dan lulus dari
universitas yang sama.
Leonel mengangguk, sambil memeriksa setiap lembar kontrak itu. Dirinya tidak mau mengambil resiko, sekretarisnya kembali melakukan kesalahan.
"Aku tidak mengira, kamu akan membiarkan seseorang dengan penampilan seperti itu, menjadi sekretarismu!" ujar Anya merendahkan.
Jenna sudah terbiasa diperlakukan seperti itu, tetapi lama kelamaan kehadirannya tidak lagi diperhatikan.
"Dia bisa bekerja!" jawab Leo santai.
Jenna mengangkat wajah dan menatap bosnya itu. Ini kali pertama, kali pertama Leonel Kim membuka suara untuk membela dirinya. Hal itu, membuat perasaan Jenna berbunga-bunga. Seulas senyum muncul di wajah Jenna dan lesung pipinya terlihat.
Anya Lu, terang-terangan menilai penampilan Jenna dari atas kepala sampai ujung kaki. Anya sudah mengenal Leo sejak mereka masih kecil dan sangat jarang bagi pria itu membela seseorang, bahkan dirinya. Jadi, wanita kampungan itu cukup menarik perhatiannya.
"Periksalah!" ujar Leo sambil menyodorkan kontrak kepada Anya.
"Aku percaya padamu," balas Anya manja, sambil menerima kontrak itu. Lalu, dengan anggun mengeluarkan stempel perusahaan dari dalam tas tangan yang harganya selangit.
Saat itu barisan pelayan masuk dengan piring berisi makanan yang mewah.
"Ini Foie Gras pesanan, Nona."
Pelayan menyebutkan nama pesanan, bersamaan dengan meletakkan piring keramik putih yang indah.
Foie Gras? Seketika, Jenna merasa mual. Ia tahu jelas itu adalah menu mewah, yang terbuat dari hati angsa. Namun, kenyataan akan bagaimana hati itu bisa begitu lezat, membuat Jenna seumur hidup tidak akan makan makanan itu, walaupun memiliki banyak uang. Aroma masakan itu, membuat Jenna semakin mual.
"Oeiighhh!"
Jenna menutup mulut dengan kedua tangan, saat hendak muntah. Buru-buru meminta maaf dan berlari keluar dari ruang VIP itu. Lari sekencang-kencangnya menuju toilet dan muntah di wastafel pertama yang dilihatnya.
Muntahan hanya cairan kekuningan. Namun, itu membuat seluruh tubuh Jenna berkeringat dingin dan dunianya berputar. Memejamkan mata, Jenna meraba keran air dan membukanya, mencuci mulut serta wajahnya. Setelah rasa mualnya berkurang, Jenna membuka mata, tetapi langsung dipejamkan kembali. Seakan dunia disekitarnya sedang terjadi gempa hebat.
Kedua tangan yang basah karena keringat, mencengkeram sisi batu alam meja wastafel. Menahan tubuhnya agar tidak terjatuh dan Jenna perlahan duduk di lantai, bersandar di dinding yang dingin.
Kembali ke ruang VIP restoran di hotel berbintang.
Leonel Kim, merasa ada yang salah dengan sang sekretaris. Tidak biasanya, Jenna melakukan kesalahan seperti. Apalagi, sampai muntah di hadapannya. Apakah wanita itu hamil, setelah percintaan satu malam mereka?
Mengingat kejadian malam itu, membuat Leonel tersenyum. Bagaimana tidak, sekretaris yang tidak berani menatap matanya selama 5 tahun, berani menciumnya. Namun, yang paling mengejutkan adalah rasa bibir itu begitu lembut dan nikmat. Walaupun mabuk, Leo masih ingat sebagian besar percintaan mereka, sebab itu begitu memuaskan. Apalagi, Jenna Ren menyerahkan keperawanan kepadanya.
"Apa yang membuatmu tersenyum seperti itu?" tanya Anya yang mulai memotong Foie Gras pesanannya.
"Begitu banyak menu yang enak, mengapa kamu memilih menu itu?" tanya Leo, mengabaikan pertanyaan wanita itu.
"Untuk menjadi cantik, tentu ada tahap menyakitkan yang harus dilewati. Seperti makanan ini, tentu ada alasan istimewa yang membuatnya begitu lezat," jawab Anya ringan.
Itulah mengapa Leo tidak akan pernah jatuh cinta dengan sahabat masa kecilnya itu. Anya Lu sangat cantik, tetapi tanpa empati. Sikap mereka berdua hampir sama, jadi tidak akan cocok.
Leo tidak lagi bertanya dan melihat ke arah jam tangan mewah yang melingkari pergelangan tangannya. Sudah hampir setengah jam dan Jenna belum kembali.
Mengambil serbet dan membersihkan bibirnya, Leo berdiri dari duduknya, merapikan jas dan melangkah keluar.
"Mau kemana?" tanya Anya. Dan kembali, ia diabaikan.
Keluar dari ruang VIP, Leo berjalan ke arah toilet yang paling dekat, masuk ke toilet wanita dan menemukan Jenna terduduk di lantai.
Khawatir, Leo langsung berlutut di samping Jenna yang entah masih sadar atau pingsan.
"Jenna! Jenna!" panggil Leo.
"T-Tuan!" seru Jenna dengan suara yang lemah, kedua tangannya yang kurus berusaha menggapai.
Leo menangkap tangan mungil itu dan menggenggamnya erat.
"Kamu sakit?"
"T-Tidak! Hanya saja, semua yang ada didekatku terus bergoyang," jawab Jenna apa adanya.
"Buka matamu!"
Jenna membuka mata, walaupun begitu ketakutan. Namun, saat tahu Leonel Kim ada di sampingnya, semua ketakutan Jenna sirna.
Tatapannya menangkap wajah tampan bosnya itu. Bahkan, Jenna dapat melihat kekhawatiran di mata pria itu, kembali hatinya berbunga-bunga. Namun, wajah pria itu berbayang-bayang dan mengapa mendadak semuanya menjadi agak gelap.
"T-Tuan... "
"Ada apa?"
"Sepertinya aku akan pingsan."
Tepat setelah mengucapkan kalimat itu, Jenna pingsan di dalam pelukan hangat Leonel Kim.
Leo menggendong tubuh mungil itu, bahkan begitu ringan. Keluar dari toilet dan mengabaikan tatapan penasaran orang-orang. Melangkah keluar, menuju lobi hotel, melewati pintu putar.
"Tuan!" panggil sang supir yang hendak membantu.
"Antar Nona Anya Lu pulang!" perintah Leo dan sang supir mengerti, langsung membukakan pintu mobil Rolls Royce berwarna hitam mengkilap.
Leo meletakkan Jenna di kursi samping kemudi dan menurunkan sandaran kursi, lalu dengan langkah lebar berjalan ke arah pintu kemudi dan masuk. Menyalakan mesin dan melajukan mobil, menuju rumah sakit swasta terbesar dan ternama, yang juga merupakan milik Keluarga Kim.
Saat mobil mewah itu masuk ke area rumah sakit, semua staff keamanan sibuk mengatur. Siapa yang tidak tahu, pemilik mobil mewah itu.
Mobil mewah itu, berhenti tepat di depan pintu besar IGD. Staff keamanan buru-buru membukakan pintu mobil dan beberapa dokter senior sudah menunggu di depan pintu.
Leo turun dari mobil dan mengabaikan semua sapaan penuh hormat, lalu dengan langkah lebar berjalan ke arah pintu penumpang. Membuka pintu dan menggendong Jenna keluar.
Para dokter dan perawat sibuk, hendak mengambil alih orang sakit itu dari gendongan Tuan Muda Kim. Namun, Leo mengacuhkan mereka dan berjalan ke salah satu ranjang kosong yang ada di ruangan IGD. Dengan lembut, meletakkan tubuh kurus Jenna di atas ranjang itu.
Para perawat berdiri di samping, membiarkan beberapa dokter langsung turun tangan, memeriksa pasien istimewa itu.
"Lakukan pengecekan seluruh tubuh! Termasuk, tes kehamilan," ujar Leo santai.
Para dokter membeku sejenak, lalu melakukan perintah Leonel Kim. Pihak lain yang mendengar perintah itu langsung berlari, ya berlari. Melaporkan kepada pihak yang lebih tinggi.
Leonel menarik kursi dan duduk di samping ranjang, mengeluarkan ponsel dan mulai memeriksa surel, dengan seulas senyum di wajahnya. Sebentar lagi, ya sebentar lagi pria tua itu pasti akan segera tiba.
Di sudut kota yang lain, Bugatti hitam membelah jalanan kota dengan kawalan mobil kepolisian, lengkap dengan sirene yang menyala, meraung-raung. Ya, ini menyalahi aturan, tetapi untuk kali pertama Tuan Lucas Kim melakukannya. Setelah mendapatkan panggilan dari rumah sakit, yang menyampaikan bahwa putra bungsunya membawa seorang wanita halim ke sana. Jelas putra bungsunya ingin dirinya tahu, maka terjadilah hal ini.
Iring-iringan membuat semua kendaraan di jalan raya, menyingkir. Mobil mewah itu melesat begitu kencang, sebab itulah perintah Tuan Besar Kim, mengabaikan puluhan surat tilang yang akan segera diterima.
Kembali ke rumah sakit.
Jenna Ren masih belum sadar, tetapi warna wajahnya sudah lebih baik.
"Ehem, Tuan Muda Kim."
Seorang dokter senior menghampiri Leonel yang duduk, sambil menyilangkan kaki panjangnya.
"Katakan," perintah Leo, tanpa mengalihkan tatapan dari ponsel pintarnya.
"Ehm, Nona pingsan karena anemia pasca kehamilannya," jelas sang dokter perlahan.
Leo mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Jenna yang terbaring di ranjang rumah sakit.
"Usia kandungan?" tanya Leo datar.
"Empat minggu. Jika Tuan Muda tidak keberatan, kami akan melakukan pemeriksaan ultrasound, guna memastikan kesehatan janin," anjur dokter senior itu.
Leo langsung berdiri dari duduknya dan menunduk, menatap dokter paruh baya yang hanya setinggi dadanya.
"Buka kamar VVIP, berikan semua pelayanan kesehatan terbaik milik rumah sakit ini!" perintah Leo tegas.
"B-Baik, Tuan Muda."
Lalu, sang dokter berlari untuk mengabarkan soal pemindahan pasien ke lantai VVIP.
Leo berjalan dan berhenti tepat di samping ranjang. Menatap sekretaris bodohnya itu. Bodoh, tetapi itu menguntungkan dirinya.
Tidak lama, para perawat datang dan memindahkan pasien ke salah satu kamar rawat paling mewah, milik rumah sakit ini.
Leonel Kim turut serta, memastikan Jenna diperlakukan dengan baik.
Tidak lama, pintu ruangan ini didorong hingga terbuka lebar dan Tuan Besar Kim yang duduk di atas kursi roda, didorong ke dalam.
BRAKKK!
Tongkat kayu yang selalu berada di dalam genggaman Tuan Besar Kim, dihantam kuat ke lantai. Beruntung, lantai tidak retak.
Dokter dan perawat menunduk dan buru-buru meninggalkan kamar rawat ini.
Sekretaris Tuan Besar Kim, pria berusia sekitar 40 tahun, mendorong kursi roda semakin mendekati Leonel Kim yang sudah bersiap menghadapi emosi ayahnya itu.
"Jenna?" gumam Tuan Besar Kim, cukup terkejut saat menatap wanita pucat yang terbaring tidak sadarkan diri.
"Kau bajingan! Begitu banyak wanita yang kamu temui, malah wanita baik itu yang kamu hamili!" raung Tuan Besar Kim marah besar. Lima tahun Jenna Ren menjadi sekretaris putranya, tentu ia pernah bertemu beberapa kali dengan wanita polos itu.
Kali pertama bertemu dengan Jenna Ren, Tuan Besar Kim tahu wanita itu adalah pekerja keras. Wanita itu menekan semua harga dirinya, agar mampu melayani putranya itu.
"Aku juga tidak menyangka!" seru Leo membela diri.
BRAKKK!
Tongkat kembali dihentakkan ke lantai dengan penuh emosi, oleh Tuan Besar Kim.
"Tidak menyangka? Kau menidurinya dan hanya itu alasan yang keluar dari mulutmu?"
"Ayolah, Ayah! Ayah selalu memintaku segera menikah dan memberikan cucu! Saat ini aku memberikan cucu kepada Ayah, bukankah seharusnya Ayah merasa senang?"
"APA?" raung Tuan Besar Kim.
"Aku akan menikahinya," ujar Leo yakin.
"Kamu mencintainya?" tanya Tuan Besar Kim sambil berusaha menenangkan emosinya.
"Cinta? Yang pasti, Jenna adalah calon istri yang tepat. Dia memahami diriku, bahkan mungkin melebihi diriku sendiri. Yang penting, Jenna akan memahami dan mengerti diriku, serta akan melahirkan anakku!" jawab Leo yakin.
BUKKK!
Kali ini tongkat Tuan Besar Kim melayang di lengan kokoh Leo dan membuat putra bungsunya itu meringis, menahan sakit.
"Kamu harus bertanggung jawab karena menghamilinya dan yang terpenting, kamu juga harus memahami dan mencintainya!" tegas Tuan Besar Kim yang berusaha menasehati putranya itu.
Lalu, sang Sekretaris mendorong kursi roda dan mereka meninggalkan ruang rawat ini.
Leo mengelus lengannya yang terkena hantaman tongkat, ayahnya itu. Kembali menghampiri ranjang dan menatap, Jenna Ren.
"Kita akan menikah," ujar Leo. Ya, dirinya tidak keberatan menikah dengan wanita itu. Seulas senyum terpatri di wajah tampannya, apakah ia mencintai Jenna? Tidak, hanya sedikit menyukainya. Apalagi, wanita itu hanya bercinta dengan dirinya seorang, jadi itu patut dihargai. Lagipula, di mana lagi dapat menemukan wanita polos dan penurut seperti ini? Setelah menikah, Leo yakin kehidupannya tidak akan berubah banyak.
***
Jenna membuka matanya perlahan, dari aroma yang memenuhi indera penciumannya, ia tahu tempat ini adalah rumah sakit.
"Anda sudah sadar?" tanya seorang perawat yang selalu berjaga di sisinya.
Jenna berusaha untuk duduk dan dibantu oleh perawat itu. Seketika kesadaran Jenna pulih sepenuhnya, saat melihat ruangan kamar yang begitu mewah. Hal pertama yang terpikirkan adalah dirinya tidak akan mampu membayar tagihan.
"Ehem, aku sudah tidak apa-apa, bisakah aku pulang sekarang?" tanya Jenna buru-buru.
"Memang tidak ada masalah serius dengan kesehatan Anda. Anda pingsan karena anemia pasca kehamilan, setelah beberapa macam vitamin dicampurkan ke dalam cairan infus, harusnya tubuh Anda baik-baik saja, begitu juga dengan janin Anda," jelas sang perawat apa adanya.
Jenna langsung menurunkan kakinya dan berkata, "Tolong lepaskan jarum infus ini, aku ingin segera pulang."
Jenna masih merahasiakan kehamilannya ini dan tidak berencana membiarkan Leonel Kim tahu. Sebab, reaksi buruk yang pasti akan didapatnya.
"Tentu, Anda dapat pulang. Namun, lebih baik kita tunggu wali Anda tiba lebih dahulu," jelas sang perawat dan menaikkan kaki Jenna kembali ke atas ranjang.
"Wali?" Jenna bingung, siapa yang akan datang menjadi walinya? Keluarganya tinggal neneknya saja. Masalahnya sang nenek yang bisu dan tuli, berada di panti jompo termahal di kota ini. Ya, Jenna bekerja keras agar dapat membayar iuran panti itu setiap tahunnya.
"Ah, beliau sudah tiba," ujar sang perawat sambil tersenyum lebar, sebelum keluar dari kamar rawat.
Wajah Jenna kembali memucat dan takut, saat melihat siapa yang melangkah masuk.
"T-Tuan...."
"Sudah lebih baik?" tanya Leo dan berdiri di sisi ranjang menatap Jenna dengan tatapan yang tidak dapat terbaca.
Mengangguk, ya Jenna hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan itu.
"Mengapa tidak bilang bahwa kamu hamil?" tanya Leo langsung.
Mulut Jenna terbuka dan tertutup, tetapi tidak ada kata-kata yang meluncur keluar.
"Ehem, aku... Aku tidak akan menggugurkannya!" ujar Jenna dan tanpa sadar langsung menyentuh perutnya.
Ha ha ha!
Leonel tertawa kecil dan menatap geli ke arah Jenna Ren.
"Tidak! Tentu itu tidak boleh terjadi! Karena, kita akan menikah!" ujar Leonel.
Jenna mengerjapkan matanya beberapa kali dan tangannya berusaha menemukan kacamata yang tergeletak di meja sisi ranjang itu. Kemudian, mengenakannya, menatap lawan bicaranya itu. Memastikan apakah sosok itu benar-benar adalah Leonel Kim.
Menelan ludah, Jenna bertanya, "Apakah ini lelucon?"
"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?"
"T-Tapi, mengapa?"
"Sebab kamu hamil anakku dan anggap ini sebagai penghargaan, atas menjadikan diriku yang pertama!"
Jenna terdiam dan membeku untuk sesaat. Ia cukup terkejut dan kecewa. Lucu! Sebab di dalam lubuk hatinya, Jenna berharap pria itu menyatakan cinta atau sesuatu seperti itu. Namun, itu tidaklah mungkin. Alasan yang tepat adalah karena kebodohannya yang hamil dari hubungan satu malam.
"Besok, setelah keluar dari rumah sakit, mari kita temui orang tuamu. Malam ini, istirahatlah!" ujar Leonel sebelum keluar dari kamar rawat VVIP.
Meninggalkan Jenna yang belum yakin apakah ini kenyataan atau mimpi bodohnya.
Malam itu, Leo kembali berkumpul dengan para sahabatnya dan menghabiskan malam di klub ternama kota, berpesta.