Drrrtt-drrrtt-drrrtt-drrrtt.
"Ha-lo."
"Marigold Flora," teriak lawan bicaranya di ponsel, yang menggema di telinga wanita cantik yang berusaha mengumpulkan kesadarannya karena baru bangun tidur.
"Selamat pagi, my mommy yang paling cantik sedunia flora," sapa Marigold sambil meregangkan tubuhnya dengan malas. "Kenapa pagi-pagi sudah berisik?"
"Dasar anak kurang ajar," sembur mama Marigold kesal. "Mana janjimu untuk datang ke rumah saat akhir pekan? Ini sudah berlalu dua akhir pekan, dan hidungmu yang cantik itu tidak terlihat di rumah mama. Kamu sudah membuat mama malu, tahu!"
"Malu kenapa, ma?" balas Marigold sambil memandang langit-langit kamarnya dan tersenyum. Disana, tertempel poster berukuran besar, seorang laki-laki super ganteng dan milyader. Jika orang lain mengidolakan artis dan aktor negeri ginseng, maka Marigold sangat mengidolakan seorang CEO dengan wajah dinginnya. Pertama kali melihat wajah super tampan itu di layar televisi, Marigold langsung terpesona.
Ocehan mamanya yang panjang kali lebar plus tinggi, tidak didengarkan Marigold. Masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Karena keluhan mamanya hanya berkutat pada geng arisan yang selalu membanggakan anak, menantu, dan cucu.
Srek-srek.
Marigold bangun dari posisi berbaringnya, sambil melihat jam di nakas di sebelah ranjangnya. Alisnya terangkat kesal. Masih jam setengah enam pagi, dan mamanya sudah berisik menelponnya? Marigold kembali meregangkan otot-ototnya sebelum turun dari ranjang. Hari ini ada latihan pagi, jam sembilan di Dojo pamannya.
Dojo adalah tempat untuk latihan karate. Marigold yang berusia dua puluh tiga tahun, merupakan salah satu sensei atau yang disebut pelatih karate di Dojo. Kemampuannya cukup mumpuni di dunia karate. Beberapa kejuaraan daerah dan nasional pun telah dikantonginya semenjak remaja. Dojo milik pamannya yang baru dibuka dua tahun yang lalu ini, khusus melatih karate untuk usia anak-anak hingga remaja.
"Ma, apa mama sudah minum teh kesukaan mama pagi ini?" tanya Marigold sambil menguap dan menyiapkan ritual paginya.
Ritual pagi Marigold adalah membaca novel percintaan sambil menikmati secangkir teh bunga dandelion yang ringan, sedikit manis, serta beraroma segar bunga. Khasiat dari teh ini sangat dibutuhkan Marigold untuk memperkuat imunitas dan meningkatkan kesehatan tulang. Sangat cocok bagi Marigold yang menyukai olahraga karate.
"Persediaan green tea mama habis. Papamu yang pikun itu lupa membelikannya sewaktu pergi ke kota," omel jengkel mama Marigold.
Orang tua Marigold tinggal di sebuah desa yang permai, jauh dari keramaian kota. Selain itu, pekerjaan keduanya mendukung untuk tinggal di desa. Papa dan mama Marigold bekerja yang berhubungan dengan tanaman, yang sering dikenal sebagai ahli botani. Marigold pindah ke kota, mengikuti pamannya yang membuka Dojo baru, untuk mengisi posisi sebagai sensei.
Marigold yang mendengar keluhan mamanya yang tergila-gila dengan green tea, memutar bola matanya. Pantas. Mamanya akan uring-uringan, jika paginya belum menikmati secangkir green tea kesukaannya.
"Akan aku kirimkan green tea untuk mama hari ini juga," kata Marigold sambil menuangkan air panas ke dalam cangkir yang berisi teh kering dari akar dandelion. Marigold segera menghirup aroma teh dandelion yang menenangkan.
"Mama tidak butuh green tea darimu. Mama butuh menantu. ME-NAN-TU," teriak mama Marigold keras. "Kamu dengar itu, Marigold Flora?!"
"Tentu saja aku dengar, my mommy," jawab Marigold sambil menjauhkan ponsel dari telinga nya. "Suara sekeras itu, tetangga sebelah apartemen pun juga pasti mendengarnya," lanjutnya sambil menghirup teh dandelion dengan nikmat. Kemudian Marigold membawa cangkir itu dan novel yang belum selesai dibacanya ke balkon yang menghadap ke kolam bebek di taman apartemen.
"Kamu dengar apa, Marigold? Mama sudah bosan bertanya padamu, kapan kamu akan membawakan calon menantu untuk mama dan papa?"
Marigold menghela nafas lelah. "Jangan khawatir, aku pasti akan membawanya ke rumah mama."
"Kamu sudah mengatakan hal yang sama, dua minggu yang lalu. Mana.. mana buktinya? Mama menginginkan menantu sekarang, Marigold!"
"Ma, aku masih dua puluh tiga tahun. Aku masih muda, untuk apa setiap detik mama terus merecokiku dengan pernikahan?"
"Mama hanya tidak mau kamu menjadi perawan tua, Marigold. Mama tidak ingin kamu terlambat menikah, seperti mama yang baru menikah diusia empat puluh tahun. Pokoknya mama tidak mau tahu. Mama minta menantu sekarang. Titik!"
"Ma...," keluh Marigold dengan mengusap wajahnya, jengkel.
Dua minggu yang lalu, Marigold masih berstatus kekasih seorang pria bernama Nolan. Marigold sangat memuja Nolan, kekasihnya yang tampan dan keren. Bahkan semua temannya mengatakan bahwa dirinya sangat beruntung memiliki Nolan.
Namun dua minggu yang lalu, tiba-tiba Nolan hilang tanpa kabar. Marigold sudah mencarinya ke manapun, dan sosok tampan itu tetap tidak terlihat. Marigold tidak bisa bertanya kepada teman-teman Nolan, karena selama berkencan, kekasihnya itu tidak pernah sekalipun mengenalkan nya pada mereka.
"Aku belum punya pacar, ma," jawab Marigold lesu. Jawaban yang aman.
"Belum punya?! Bukannya kemarin kamu bilang sudah punya pacar dan akan mengenalkannya pada mama? Kenapa sekarang bilang tidak punya? Jangan-jangan kamu putus lagi ya," cecar mamanya tanpa jeda.
"Bisa dibilang begitu."
"Maksudmu apa, Marigold? Atau begini saja, di kelompok arisan mama ada anaknya Tante Sari. Dia.."
"No way mommy. No way. Aku bisa cari sendiri," tolak Marigold cepat. "Sial," umpatnya pelan saat teh dandelion nya tumpah ke celana piyamanya karena tersenggol tangannya. "Ma, aku.."
"Tidak ada bantahan! Jika sampai akhir tahun ini kamu belum memberikan menantu, mama akan nikahkan kamu dengan anaknya Tante Sari itu. Titik."
"Tidak mau," sergah Marigold. "Ma, akhir tahun itu tinggal satu bulan lagi, darimana aku bisa mendapatkan menantu untuk mama? Semisal aku mendapat pacar, memangnya dia mau langsung menikah denganku?"
"Mama tidak peduli. Pokoknya mama mau menantu dan cucu."
Ini lagi! Urusan menantu belum kelar, sekarang nambah urusan cucu. Pada siapa lagi, orang tuanya meminta cucu selain pada dirinya yang merupakan anak semata wayang. Marigold menghela nafas panjang. Dipandangnya dengan nanar awan hitam yang sedang menggantung di kota. Hati Marigold pun juga tidak kalah suram bila dibandingkan dengan cuaca kota yang sedang mendung itu.
"Marigold, kamu dengar tidak?"
Marigold menarik pikiran kalutnya pada suara mamanya yang menggelegar di telinga. "Aku dengar ma. Jangan khawatir, aku akan bawa menantu untukmu, ma," jawab Marigold lesu.
"Pastikan itu, Marigold," tegas mamanya. "Pokoknya mama tidak mau jadi yang orang terakhir menjadi besan dan nenek, di grup arisan."
"Siap jenderal."
Klik. Sambungan terputus.
Dengan cemberut, Marigold menegak habis teh dandelion nya yang sudah dingin. Kemudian dirinya bersandar pada pagar besi di balkon sambil menikmati angin sejuk yang menerpa wajahnya.
Tiba-tiba...
Plak.
"Astaga, apa ini?" serunya kesal sambil merenggut sebuah pamflet yang menempel tepat di wajahnya. Rupanya selebaran itu tertiup angin dan mampir ke balkon Marigold. "Pamflet apa ini?"
"Sebuah pemilihan gadis cantik yang memiliki identitas nama bunga. Pemenangnya akan menjadi kekasih dan pendamping Maximilian Alexander, seorang milyader terkenal."
Raut wajah Marigold saat membaca pamflet itu, semakin lama semakin ceria. Marigold segera berlari menuju kamarnya dan naik ke ranjangnya lalu mendongak.
"Sama, ini wajah yang sama," teriaknya girang sambil menunjuk ke arah poster miliknya yang berukuran jumbo di langit-langit kamarnya. "Milyader ku akan mengadakan pemilihan gadis," lanjutnya sambil mendekap selebaran itu dan meloncat-loncat di ranjang. "Coba kubaca sekali lagi syaratnya."
"Gadis perawan, dengan disertai surat keterangan dari laboratorium. Identitas nama bunga. Cantik," baca Marigold keras-keras sambil ber-yes ria. "Aku cantik kan? Tidak ada yang bilang aku jelek kan? Tentu saja, siapa yang berani bilang aku jelek, siap-siap berakhir di rumah sakit."
Marigold berlari lagi ke luar balkon, dimana dirinya mendapatkan tamparan kertas selebaran yang akan mengubah hidupnya. Kedua tangannya dicorongkan di depan mulutnya sambil berteriak...
"Mak, tunggu ya.. aku akan bawa menantu milyader untukmu. YES!"
Bersambung...
"Selamat pagi, Tuan Max," sapa Pak Umar, sopir pribadi yang membukakan pintu mobil untuk tuannya.
"Pagi," jawab Max singkat, sambil masuk ke dalam mobil Rolls-Royce silver miliknya, yang akan membawanya beraktivitas pagi ini.
"Selamat pagi, Tuan Max," sapa Martin, sekretaris pribadi dari Maximilian Alexander, salah satu pewaris kerajaan parfum dunia, The Alexander's Perfume. Martin duduk di sebelah Max, di kursi jok belakang mobil.
"Pagi, Martin."
"Jadwal anda hari ini."
"Bacakan."
"Baik. Jam sembilan ada meeting via teleconference dengan direktur cabang Paris, Inggris, dan Italia. Jam sebelas meeting via teleconference lagi dengan pemegang saham di New York. Jam satu, ibu anda menginginkan makan siang bersama di restoran Italia kesukaannya. Saya sudah pesan tempat.."
"Tunggu, bukannya kemarin mama sudah merecokiku, kenapa siang ini kamu memasukkan lagi jadwal makan siang dengannya?" protes Max yang memandang tajam pada Martin.
"Ibu anda mengancam akan memindahkan saya ke cabang Vancouver, Kanada. Anda tahu sendiri, saya alergi cuaca dingin. Jadi terpaksa saya memasukkan jadwal itu. Maafkan saya, tuan."
"Kalau begitu, aku akan mendepakmu ke gurun Sahara," balas Max kesal sambil tetap meneruskan membaca laporan penjualan global minggu ini.
Martin hanya bisa meringis dan mengusap tengkuknya. "Ibu anda juga mengatakan, jika hari ini anda pasti akan mencarinya. Maka untuk memudahkan, beliau sengaja membuat jadwal makan siang dengan anda."
"Mama mengatakan apa padamu?"
"Kurasa anda belum melihat ini," kata Martin sambil menyodorkan sebuah tablet yang memuat informasi online dengan tajuk utama yaitu Milyader Maximilian Alexander mengadakan pemilihan gadis untuk dijadikan pendamping.
"Apa ini?! Pemilihan gadis?! Sejak kapan semua berita ini beredar?" amuk Max ketika membaca tajuk utama mengenai dirinya, yang memenuhi hampir semua berita online.
"Tengah malam tadi," sahut Martin cepat. "Informasi itu beredar mulai tengah malam di semua berita online. Bahkan pamflet dalam jumlah besar telah disebarkan ke seluruh penjuru kota dan negara."
"Astaga! Mama benar-benar kelewatan."
"Ibu anda hanya merasa khawatir, karena tenggang waktu yang diucapkan peramal itu hampir tiba, makanya beliau berinisiatif untuk mengadakan pemilihan ini untuk mencari gadis terakhir. Anda selalu sibuk dengan pekerjaan, jarang bisa melewatkan waktu untuk berkencan," papar Martin dengan suara datar.
Max memberikan tatapan tajam pada sekretaris pribadinya yang menyebalkan ini. Jika Martin bukan orang yang cekatan dan bisa menyesuaikan diri dengannya, sudah ditendangnya sekretaris itu ke planet Jupiter.
Maximilian Alexander, berusia tiga puluh lima tahun, yang dipercaya sebagai tangan kanan dari pemilik kerajaan bisnis parfum di seluruh dunia. Maximilian mendapatkan sebuah ramalan pada dua tahun yang lalu, dari seorang peramal yang terkenal akan kebenarannya. Ramalan itu mengatakan bahwa dirinya harus mendapatkan tujuh gadis dengan identitas nama bunga yang melambangkan kekayaan.
Peramal itu juga mengatakan bahwa ketujuh istrinya itu yang akan mendukungnya tetap berada di posisinya sekarang, bahkan bisa menjadi pemimpin tertinggi dari The Alexander's Perfume. Dan semenjak mama Maximilian mengetahui ramalan itu, banyak gadis perawan cantik telah disodorkan padanya. Kini tenggat waktu dari ramalan itu hampir berakhir yaitu pada akhir tahun, yang tinggal sebulan lagi. Jika gadis terakhir tidak segera masuk ke dalam pelukan Maximilian, maka bencana kebangkrutan akan melanda The Alexander's Perfume.
"Aku tidak peduli dengan ramalan itu!" sergah Maximilian kesal. "Hanya orang bodoh yang mempercayai omong kosong itu!"
"Tetapi ibu anda peduli," sela Martin yang menatap dengan tatapan peduli pada atasannya sekaligus sahabatnya. Max dan Martin adalah teman di sekolah menengah pertama hingga perguruan tinggi terkenal di Inggris.
"Ck, merepotkan."
"Aku tahu ini merepotkan, Max. Aku tahu kamu juga tidak menyukai hal ini. Tetapi ini demi keluargamu. Kamu juga tidak menginginkan Archie mendapatkan posisi tertinggi kan?" papar Martin yang mencoba bersikap sebagai teman, untuk melunakkan sikap Max yang keras kepala. Max bukan hanya atasannya, tetapi dia juga adalah sahabat baiknya semenjak duduk di bangku sekolah hingga kuliah.
"Pria playboy mesum itu.. Mana bisa dia memegang posisi? Kerjaannya hanya bermain dan bersenang-senang," gerutu Max sambil menyerahkan berkas pada Martin.
Max memijat pangkal hidungnya. Rasa mual mendadak menyerang dadanya, jika mengingat sepupunya yang bernama Archie Alexander itu dipercaya untuk memegang posisi puncak. Kerajaan bisnis keluarga Alexander yang dibangun leluhur keluarga Alexander, bisa hancur di tangan Archie.
"Baiklah, terserah kalian saja."
"Anda hanya datang pada saat pemilihan terakhir, yaitu dua minggu kemudian," jelas Martin yang kembali bersikap resmi pada Max. "Tenang saja, acara ini pasti sukses dan kamu akan mendapatkan gadis yang terbaik."
"Baiklah," sahut Maximilian acuh tak acuh, sambil keluar dari mobil yang telah dibukakan pintunya oleh sopir pribadinya. "Terima kasih, Pak Umar."
"Selamat beraktifitas, Tuan Max."
Maximilian masuk ke dalam lobi kantor pusat, berlantai enam yang mewah. Didampingi Martin, Max melangkah tegas berjalan melewati meja resepsionis dan langsung menuju lift khusus direktur.
Sepanjang melangkah ke koridor lobi, Max dan Martin menjadi pusat perhatian para karyawan wanita, baik yang tua maupun muda. Keduanya, Max dan Martin, selain mempunyai paras yang rupawan, juga memiliki postur tubuh yang tinggi dan atletis, sehingga membuat pakaian apa pun yang dikenakan mereka, selalu nampak sempurna bak model internasional.
Siapa yang tidak tergila-gila dengan Maximilian Alexander, seorang milyuner yang terkenal tampan namun dingin terhadap wanita itu? Maximilian adalah idola para wanita. Ditambah lagi dengan harta keluarga yang melimpah hingga tujuh turunan serta kepiawaian nya berbisnis, membuat sosok Max semakin ditakuti dan dihormati para pesohor dunia.
"Ruang meeting tujuh, Tuan Max," kata sekretaris wanita yang tiba-tiba muncul di samping Max, sambil mengarahkan bosnya ke ruangan yang digunakan untuk meeting rutin bersama para petinggi perusahaan.
"Baik." Max mengangguk dan melangkah bersama sekretaris wanita itu masuk ke ruang meeting tujuh.
Sementara itu..
Di meja resepsionis lobi kantor The Alexander's Perfume, berkumpul beberapa karyawan wanita yang sedang asyik menggosip disana.
"Apa kamu sudah dengar, kalau bos tampan kita akan mengadakan pemilihan gadis untuk menjadi pendampingnya?"
"Ya-ya, aku sudah membacanya di berita online dini hari tadi. Tapi sayang, namaku tidak mengandung arti nama bunga," keluh muram wanita yang berpakaian seragam marketing.
"Gunakan kartu identitas lain saja, lalu menyusup ke dalam acara pemilihan itu," usul wanita penjaga meja resepsionis sambil bercermin dan mengoreksi dandanannya.
"Dasar bego! Kamu pikir mereka akan membuat acara dengan sembarangan?!" sembur wanita dari divisi legal. "Pria se-kaya Tuan Max pasti akan menggunakan jasa profesional. Dan pasti ada barisan pengacara yang menjaga acara itu agar tidak ada yang berani mencurangi."
"Lalu bagaimana?" rengek wanita marketing itu sambil memonyongkan bibir seksinya. "Aku ingin sekali didekap tubuh atletis itu. Aku juga ingin dibuat menjerit puas olehnya. Dia pasti hebat di ranjang," lanjutnya seraya melamun.
"Aku juga. Oh, Tuan Max.. dia selalu menjadi bahan fantasiku saat bercinta," sela wanita penjaga resepsionis sambil memeluk tubuh montoknya sendiri dan mendesah. "Namun sayang, aku sudah tidak perawan lagi, jadi aku tidak bisa ikut pemilihan itu. Hiks, sedih deh."
"Huuu... lebay."
Bersambung...
Di sebuah dojo..
"Hiiyaaaa.."
"Hait.. hait..."
Plok-plok-plok.
"Oke. Untuk latihan hari ini, sudah selesai ya. Kalian semua hebat."
"Terima kasih, sensei," ucap serempak para murid kelas karate Marigold.
"Terima kasih kembali."
Marigold mengambil handuk putih yang tergeletak di kursi tunggu di tepi matras. Disekanya keringat yang mengucur deras di leher dan dahinya. Udara siang ini terasa gerah dan pengap. Sejak pagi tadi, mendung gelap terlihat menggantung tebal di langit, tetapi hujan belum juga turun.
"Marigold," panggil seseorang yang masuk ke ruang berlatih, kemudian duduk di kursi dan mengipasi dirinya dengan selembar pamflet. Dia adalah Nina. Gadis berusia dua puluh tiga tahun itu adalah sepupu Marigold, putri pamannya. "Makan siang yuk. Aku lapar."
"Tunggu lima belas menit. Aku ingin mandi dulu. Gerah sekali. Seluruh tubuhku lengket," keluh Marigold sambil berlalu ke kamar mandi di belakang Dojo.
*****
Di restoran cepat saji.
"Apa kamu bertengkar lagi dengan bibi?" tanya Nina sambil menggigit kentang goreng yang sudah diberi sambal. Bibi yang dipanggil Nina adalah mama Marigold. "Tadi pagi papa cerita ke aku."
Marigold mengangkat bahu, acuh. "Kalau seminggu saja, mama belum merecoki diriku perihal menantu, suami, dan cucu, rasanya kurang komplit hidup mamaku tercinta itu."
"Masih belum ada kabar dari Nolan?"
Gerakan Marigold yang hendak menyuapkan sesendok nasi, terhenti di udara, di depan mulutnya yang terbuka. Nina melipat bibirnya ke dalam mulutnya, ketika melihat kesedihan serta kegalauan berkelebat di mata sepupunya itu.
"Aku tidak tahu harus mencari kemana lagi, Nina. Dua minggu ini, aku terus menerus mengukur jalanan kota untuk menemukannya, namun sama sekali tidak terlihat sosoknya. Nolan hilang bak ditelan bumi," jawab Marigold muram, lalu melanjutkan makannya. "Aku lelah, Nina. Aku sudah menyerah mencarinya."
"Apa karena itu, kamu berniat mengikuti acara pemilihan ini?" cecar Nina yang menyodorkan kertas pamflet yang sudah sedikit kusut karena sempat dipakainya untuk mengipasi wajahnya yang gerah.
"Darimana kamu dapat pamflet itu?" sembur Marigold yang terkejut sambil merebut pamflet itu dari tangan Nina.
"Aku menemukannya terjatuh di depan meja resepsionis," jawab sepupunya sambil menyeruput soft drink miliknya yang berwarna merah menyala. Kemudian Nina mengedikkan dagunya ke arah pamflet itu. "Apa kamu serius ingin mengikuti acara pemilihan gadis untuk milyader itu?"
"Terpaksa," sahut Marigold lesu. "Mama sudah mendesakku hingga ke tembok, dan aku sama sekali tidak bisa berkutik. Jika sampai akhir tahun ini, aku tidak membawakan seorang menantu untuk mama tercinta, aku akan dinikahkan dengan Adam, anaknya Tante Sari."
Mata Nina membelak lebar. "Adam?! Adam yang playboy itu? Teman sekelas kita yang amit-amit itu?!" pekik Nina syok. Marigold dan Nina seumuran dan selalu satu kelas di setiap jenjang pendidikan, sepanjang umur mereka.
"Hm-hm," ucap Marigold sambil mengangguk mantap. "Aku tidak mungkin menikah dengan Adam, Nina. Kamu tahu sendiri, bahwa Adam itu musuh bebuyutanku sejak masih di sekolah dasar. Aku dan dia saling membenci. Lagipula yang paling menyebalkan adalah kelakuan Adam yang tidak jauh beda dengan playboy kelas kakap yang kerap gonta ganti pacar. Ck, padahal tampangnya hanya pas-pasan dan standar begitu, tapi lagaknya seolah dia pesohor dunia yang digilai para wanita," lanjut Marigold berapi-api.
"Ck, malang betul nasibmu, sepupuku."
Marigold menggeleng kuat-kuat. "Tidak. Aku akan benar-benar bernasib malang bin apes, jika aku menikah dengan si kakap itu," tukasnya sambil menggebrak meja. "Lebih baik aku menikah dengan milyader yang sudah pasti adalah pesohor dunia yang asli. Ditambah lagi, Maximilian Alexander adalah idolaku selama ini. Jadi kurasa.. itu adalah sebuah rencana yang sempurna."
"Tapi Marigold," protes Nina. "Si milyader itu juga pasti bukan laki-laki yang setia. Aku dengar dia sudah memiliki istri."
"Aku tahu itu. Tapi tidak masalah bagiku, jika dia sudah memiliki istri. Maximilian Alexander adalah idolaku. Berada di dekat laki-laki tampan dan seksi itu saja sudah menjadi membuatku bahagia."
"Tapi..," ucap Nina yang mencemaskan Marigold.
Marigold mengibaskan tangannya. "Jangan khawatirkan aku. Aku pasti bisa menang dan mendapatkan idolaku itu. Maximilian Alexander, milyader idolaku. Dan yang paling penting, aku akan membuatnya jatuh cinta padaku."
Mendengar sesumbar Marigold, Nina bersedekap dan memandangi sepupunya dari atas hingga ke pinggang. Marigold adalah seorang gadis yang tomboi dan ceroboh, bukan seorang gadis cantik yang lembut dan anggun. Nina menggeleng-gelengkan kepala sambil berdecak.
"Apa?!" desak Marigold defensif.
"Aku tidak yakin, kamu akan mendapatkannya, Marigold. Dia seorang milyader, sayangku. Sudah pasti di sekelilingnya banyak wanita super cantik dan anggun. Kamu.. yakin bisa menandingi mereka semua?" tanya Nina dengan nada menyindir. "Seorang Nolan saja tidak bisa kamu pertahankan, apalagi si milyader itu."
Nolan adalah kekasih Marigold yang tidak diketahui keberadaannya, semenjak dua minggu yang lalu. Nolan adalah laki-laki pertama yang mempunya hubungan percintaan dengan Marigold hingga satu tahun lamanya. Namun.. tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba Nolan menghilang tanpa kabar.
Marigold menyipitkan matanya, memandang sebal ke arah Nina yang meremehkannya. "Sialan kamu, Nina!"
"Aku hanya mengungkapkan fakta yang kejam, sepupuku sayang," papar Nina tegas. "Seorang Maximilian Alexander itu milyader tingkat dunia. Kekayaan melimpah tujuh turunan, perusahaannya ada dimana-mana, dan tentu saja wanita cantik selalu ada di dekatnya. Dia berpergian menggunakan helikopter pribadi, jet pribadi, yacht pribadi, mobil sport pribadi. Dia tidur di hotel pribadi, berlibur di pulau pribadi. Lalu kamu?!"
"Kenapa dengan A-KU?! Apa yang salah dengan A-KU?! Kenapa kamu jadi menyebalkan, Nina?" sembur Marigold jengkel.
"Kamu hanyalah gadis sederhana, Marigold. Tidak punya keahlian hebat selain karate. Hanya berpendidikan ala kadarnya. Harta pribadi hanya sepeda motor bekas. Lalu ditambah lagi, semuanya pada dirimu serba rata-rata."
"Rata-rata?" ulang Marigold emosi. "Bagian mana dari seorang Marigold yang RATA-RATA?!" desaknya penuh penekanan sambil menunjukan kepalan tangannya ke arah Nina yang meringis.
"Wajah rata-rata, ukuran dada dan pantat rata-rata, lekukan body pun juga rata-rata."
"Sialan kamu, Nina! Bicaramu semakin lama semakin tidak enak didengar," sungut Marigold seraya melemparkan tisu yang diremas ke arah sepupunya.
"Perbandingan kalian terlalu ekstrim, bagaikan bumi dan langit. Terlalu mustahil, Marigold."
"Heh, Cinderella dan sang pangeran pun juga bagaikan bumi dan langit. Tapi buktinya... mereka hidup bahagia selamanya."
"Tolong ya sepupuku yang keras kepala. Tolong dipisahkan antara dongeng dan kenyataan."
Marigold menudingkan jari telunjuknya ke arah Nina. "Nina, jika kamu mengkritikku habis-habisan seperti ini, apa kamu punya solusi brilian untuk memecahkan masalahku, hah?"
Terdiam. Nina terdiam, kehilangan kata-kata.
"Eng, sewa pacar.. mungkin?"
"Ide bagus," sahut Marigold sinis. "Apa kamu sudah lupa kejadian waktu kita lulus SMU?"
Nina hanya meringis mengingat kejadian memalukan itu. Mama Marigold selalu mendesak tanpa ampun pada putrinya agar selalu memiliki pacar, seperti kebanyakan gadis di sekolah mereka. Hei, Marigold bukannya gadis yang tidak laku. Tetapi, hubungan percintaan Marigold selalu tidak berhasil. Paling lama.. hanya bertahan tiga bulan, Marigold berstatus kekasih seseorang.
Dan karena sudah tidak ada lagi laki-laki seumuran dengan Marigold yang mau berkencan dengannya, maka Marigold menyewa pacar untuk mengelabuhi mamanya. Namun sialnya, itu pun juga gagal.
Ternyata, pria yang menjadi pacar sewaan Marigold, tidak lain tidak bukan adalah kakak laki-laki dari teman sekelas mereka, Alana. Dan semuanya terbongkar saat kelulusan sekolah menengah atas. Brengsek! Marigold menjadi bulan-bulanan sepanjang waktu, oleh teman-temannya.
"Kalau kamu lupa, aku akan mengingatkanmu. Menyewa pacar sewaktu kita SMU juga adalah ide brilian darimu kan?"
"Maaf."
"Sudah, lupakan. Yang penting saat ini, aku akan tetap pada pendirianku. Mengikuti pemilihan para gadis untuk Maximilian."
Nina menghela nafas panjang. "Baiklah. Aku akan mendukungmu."
"Bagus," sahut Marigold bersemangat. "Sekarang waktunya kita pergi untuk melakukan langkah pertama."
"Kemana?"
"Ke laboratorium. Aku membutuhkan surat keterangan yang menyatakan bahwa aku masih perawan."
Bersambung...