"Ibu, apa Ibu tidak bosan berbuat kasar terhadapku?" ucap perempuan cantik bernama Jingga.
Pagi hari dengan udara yang masih dingin terdengar suara tamparan yang sangat keras
"Aku tidak akan pernah merasa bosan selama Kamu tidak menuruti semua kemauanku. Aku juga tidak bosan menamparmu karena selalu saja minta apa pun dariku," ucap seorang wanita yang dipanggil Ibu oleh Jingga.
"Aku ini anak Ibu apa bukan sih, Bu?" teriak Jingga dengan nada yang penuh dengan kekesalan.
Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut ibunya. Ibu Jingga hanya terdiam dan berlalu meninggalkan rumah. Sebelum keluar dia berkata, "Jangan pergi sebelum cucian di ember bersih dan mengering serta tumpukan baju yang akan disetrika menjadi rapi."
"Apa tidak ada hal lain selain mengurusi baju-baju ini? Sangat melelahkan Bu. Aku ada kelas jam 11 nanti untuk kuliah. Aku juga harus kerja cari uang," ucap Jingga yang tanpa dia sadari ibunya telah berdiri lagi dihadapananya.
'Plak.' Suara tamparan di pipi terdengar sangat keras dan bisa dipastikan itu rasanya sakit sekali.
Jingga menangis dengan berusaha menghentikan isakannya. Air matanya keluar membasahi pipinya yang mulus tanpa jerawat. Jingga kali ini hanya diam dan tidak lagi membantah ibunya. Lelah yang dia rasakan karena selalu berdebat dengan ibunya. Pada akhirnya, kekerasan yang dia terima. Tangannya sangat cekatan membawa baju-baju kotor ke ember dan akan mencucinya hingga bersih.
Setelah menampar pipi Jingga, ibunya langsung pergi keluar yang entah kemana tujuannya. Jingga tidak pernah mengetahui kemana saqt ibunya keluar rumah.
Sejak Jingga kecil perlakuan seperti itu sudah menjadi hal biasa. Perlakuan kasar dari ibunya menyiratkan tanda seperti bukan anak kandung. Wajar saja jika Jingga muncul pikiran tentang hal tersebut. Pernah suatu hari kala Jingga masih duduk di bangku sekolah dasar, ibunya memarahinya dihadapan teman-temannya dan para wali murid. Persoalannya sebenarnya tidak terlalu rumit. Waktu itu, Jingga menumpahkan minuman yang baru saja dibelikan ibunya. Minuman tersebut membasahi pakaian ibunya. Ibunya marah dan tidak mengenal situasi serta kondisi. Jingga menjadi malu. Kepalanya menunduk dan wajahnya ditutupi dengan tangannya. Jingga tidak berani menangis.
Ibunya Jingga tidak seperti ibu-ibu lainnya dalam memperlakukan anaknya. Orang lain yang melihat pasti mengira bahwa Jingga adalah anak tiri.
Jingga membuka wadah sabun cuci. Jingga berniat segera menyelesaikan pekerjaan itu.
"Ah sial sabun cucinya habis lagi. Jadi harus keluar rumah untuk membelinya. Sebenarnya Aku males. Hidup seperti ini terus. Membosankan!," gumam Jingga dengan perasaan kesal.
Jingga segera beranjak dari tempat cucian dan menuju ke kamar untuk mengambil dompet. Jingga membuka dompetnya. Dengan wajah memelas dia berkata, "Uangku di dompet akan segera habis. Masih banyak kebutuhan yang harus Aku penuhi. Kalau begini keadaannya maka Aku harus mencari tambahan penghasilan."
Jingga tidak ingin berlama-lama larut dalam sendu yang menghampiri. Jingga segera mengambil jaket dan hijabnya lalu keluar rumah untuk membeli sabun di toko seberang jalan. Rumah Jingga berada di pinggir jalan raya yang lalu lintasnya ramai sekali. Jingga berhenti di pinggir jalan dan menoleh ke kanan serta ke kiri untuk melihat kendaraan yang lalu lalang. Setelah sepi dia melangkahkan kakinya untuk menyeberang. Jalan raya yang letaknya di depan rumah Jingga selalu ramai saat pagi hari karena jam-jam sibuk seperti berangkat sekolah dan kantor.
Tiba-tiba Jingga membalikkan tubuhnya di tengah jalan. Langsung saja berbalik. Perbuatannya itu tidak dia sadari. Alasannya karena ingat tidak membawa uang. Dia tadi membuka dompet tetapi malah menutupnya kembali sebelum dia mengambil uang. Dari arah kanan Jingga, melajulah pengendara montor sport dengan kecepatan tinggi. Beruntung pengendara tersebut bisa menguasai diri dan montornya sehingga bisa berhenti tepat di depan Jingga.
"Hei, kalau jalan lihat-lihat dan jangan di tengah jalan tiba-tiba balik kanan gitu. Bahaya untukmu dan pengguna jalan lainnya!" teriak pria tersebut dengan rasa kesal pada Jingga.
Jingga hanya menoleh dan terdiam saja. Entahlah Jingga pagi ini enggan berbicara. Membuka mulut untuk sekedar menguap saja tidak dilakukannya. Mulutnya hanya bergerak sedikit sekedar untuk berdecit.
"Hei, Kamu! Kenapa tidak merespon pertanyaanku?" tanya pria tersebut. Pria itu menghardik Jingga di tengah jalan karena kesal. "Kelakuan Kami barusan itu bisa membuat celaka banyak orang. Kamu paham!" ucap pria tersebut.
Jingga hanya menganggukkan kepala dan terpaksa membuka mulut lalu berkata, "Maaf". Jingga kemudian berlalu dari hadapan pria tersebut. Pria bermotor yang masih merasa kesal melajukan kembali kendaraannya. "Ada-ada saja. Perempuan itu menyebalkan sekali. Tapi parasnya terlihat sendu," gumam pria bermontor tadi.
Pria itu melamunkan Jingga sambil berkendara. "Oh Tuhan, gadis tadi cantik sekali. Tadi manusia apa malaikat ya? Ataukah jin? Mbak Jinni dong. Hahahahah," gumamnya. "Ah kok aku tiba-tiba melamunkan dirinya," ucap pria itu. "Aku merasa gila jika harus melamunkan dirinya. Bisa bahaya! Hahahaha!" Pria tersebut tertawa malu seperti orang sedang jatuh hati.
****
[Di rumah Jingga]
Jingga kembali ke rumah berniat mengambil uang untuk membeli sabun cuci yang habis. Suara hiruk piku terdengar sangat keras di rumahnya. "Ada apa ini? Berisik sekali. Kenapa ibu dikerumuni orang-orang berbadan preman?" gumam Jingga.
Jingga memberanikan diri melangkahkan kakinya menuju ke rumah. Sebelum sampai rumah, seorang wanita paruh baya berkata, "Sukma! dengar baik-baik! Kamu harus melunasi hutangmu yang banyak ini."
Jingga lantas berhenti dan segera bersembunyi di balik dinding rumahnya yang berbatasan dengan rumah tetangganya. Jingga sedikit panik dan ketakutan melihat orang-orang yang mengerumuni ibunya. Penampilannya pantas jika disebut preman. Seorang wanita paruh baya yang dipanggil mami oleh ibunya Jingga berpenampilan sangat seksi. Pakaiannya ketat membentuk lekuk tubuh. Make up yang menempel di wajahnya juga sangat tebal. Lipstiknya merah menyala. Bulu matanya seperti bulu mata unta.
Jingga terus menguping pembicaraan mereka dari balik dinding. Jingga terus mengawasi karena menyangkut keselamatan ibunya.
"Hutang apa Mami? aku tidak pernah punya hutang denganmu. Apakah belum lunas? Hutangku sudah ditebus lunas dahulu, Hah?" kata Bu Sukma.
Jingga kaget mendengar perkataan ibunya. Penuh tanya dalam dirinya.
"Ibu punya hutang?" gumamnya.
Jingga kembali mengintai mereka. Ibunya dicaci maki dengan perkataan kasar dan tidak layak diucapkan. Jingga merasa ngeri melihatnya. Jingga merasa takut. Jingga menitihkan air mata.
"Oh Tuhan, tolonglah Kami. Lindungi Ibu Saya dari gangguan para preman tersebut," ucap Jingga sambil menengadahkan tangan dan menundukkan kepala karena berdoa dengan khusuk.
Mami itu terus menerus berbicara keras. Isi pembicaraannya berupa ancaman.
Sesungguhnya Jingga bertanya-tanya. Pikirannya menghubungkan keterkaitan ibunya dengan dirinya.
"Kasihan Ibu. Biar bagaimanapun juga, Ibu adalah orang yang merawatku sejak bayi. Ibu yang membiayaiku. Aku harus membelanya," kata Jingga.
Jingga mengambil nafas dalam-dalam lalu melangkahkan kakinya untuk menuju ke rumah. Lebih tepatnya menuju pada kerumunan kecil tersebut.
"Ibu, ada apa ini? Ibu kenapa?" tanya Jingga dengan suara bergetar menahan takut.
Semua orang memandang Jingga dengan pandangan licik. Terutama mami yang memandang Jingga dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Eeemmm cantik juga," decit mami sambil berjalan melingkari Jingga dan melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Ini anak Kamu, Sukma?" tanya mami.
Mami mengedipkan mata kepada para pengawalnya. Hal itu ditanggapi dengan cepat oleh para pengawalnya. Lalu para pengawal mami sigap untuk segera menangkap Jingga.
"Jangan pernah Kalian sentuh anakku!" teriak Bu Sukma.
Mami dan para pengawalnya tidak menghiraukan ancaman Bu Sukma. Bagi mereka, teriakan itu hanyalah dicitan kecil yang tidak berarti.
Salah satu pengawal menyergap Jingga dengan mencengkeram erat tangannya. Dipeganginya dengan sangat kuat supaya tidak lari. Jingga meronta dengan tenaga ekstra melawan pria gagah besar dan berotot kekar.
"Ada apa ini sebenarnya, Bu?" tanya Jingga sambil terus melawan dan berusaha melepaskan diri dari cengkraman pengawal mami.
"Hei, anak ingusan! Diam Kamu! Ibu Kamu ini adalah perempuan liar. Dia bekas wanita penghuni lokalisasi milikku," tukas mami dengan nada bicara yang tidak enak didengar.
Jingga terus menggerakkan tubuhnya agar bisa lepas dari jerat kasar preman pengawal mami.
"Sukma, jika Kamu tidak sanggup membayar hutangmu maka anakmu ini yang akan menjadi jaminan atau setidaknya DP. Dia punya barang berharga bernilai jual tinggi," ucap mami dengan gertakan tegas.
"Hutang apa lagi Mami? Semua sudah Saya lunasi," kata Bu Sukma datar.
"Kepergian Kamu tanpa ijin dari lokalisasiku itu adalah hutang terbesarmu padaku. Sampai kapan pun, Aku akan menagihnya," jelas mami seorang mucikari di rumah tempat maksiat.
"Pengawal! Bawa Jingga masuk ke mobil untuk ganti membayar hutang ibunya!" perintah Mami pada pengawalnya.
"Jangan Mami! Dia tidak tahu apa pun. Biarkan Saya yang akan menanggungnya sendiri," ujar Sukma Ibu Jingga.
"Ibu, ini kenapa Bu? Jingga mau diapakan? Tolong Jingga, Bu!" ronta Jingga.
"Diam Kamu! Kamu akan Saya bawa ke lokalisasi untuk melayani tamu-tamu Saya sebagai ganti rugi atas diri Ibu Kamu," ucap mami dengan binar mata melotot.
"Aku tidak mau!" jawab Jingga berani.
Mami memegang dagu Jingga dan mendongakkan ke atas sambil berkata , "Kamu tidak akan bisa menolaknya."
Mami segera memerintahkan pengawalnya untuk membawa Jingga masuk ke dalam mobil.
"Cepat bawa anak gadis itu ke mobil! Cepat!" perintah Mami.
Jingga meronta-ronta sambil terus berzikir di dalam hatinya. "Diam Kamu!" kata Mami
Jingga menghentakkan kepalanya hingga membuat mami kaget dan melepaskan dagu Jingga. Jingga meludah sebagai bentuk perlawanan.
"Kurang ajar!" hardik Mami sambil menampar pipi Jingga.
Jingga yang dari tadi mengawasi gerak gerik para pengawal Mami bisa mengambil celah untuk kabur. Jingga menginjak kaki orang yang mencengkram dirinya dan menendang kemaluannya sehingga tangan pengawal mami melepaskan Jingga. Jingga kemudian berlari sangat kencang. Nafasnya memburu untuk menghindari ancaman Mami. Terlalu pedih hidupnya jika terjebak oleh Mami lokalisasi. Jingga bertekad agar jangan sampai dirinya tertangkap dan jatuh ke lembah menjijikkan. Menghadapi ibunya saja membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Terkadang ingin menyerah tetapi nikmat Tuhan akan hidup jauh lebih indah dari segalanya.
"Lari yang jauh Jingga! Jangan pikirkan Ibu!" pekik Ibu Jingga yang meskipun galak dengannya tapi masih punya hati nurani.
"Dasar pengawal teledor!" ucap Mami marah dan pergi meninggalkan Sukma. Para Pengawal mami lari mengejar Jingga. Mami masuk mobilnya dan melajukan kendaraannya secepat mungkin. "Dasar anak ingusan! Bisa-bisanya meludahiku. Tunggu pembalasan dariku!" hardik Mami.
Jingga berlari kencang tanpa arah yang jelas. Kekuatan dari Tuhan mampu menyelamatkan Jingga dari orang keji. Dalam pikiran Jingga, dia hanya ingin menyelamatkan diri dari kejaran preman pengawal mami lokalisasi tersebut. Jingga terus berlari kencang hingga nafas terasa sesak. Sesekali Jingga melihat kebelakang. "Oh masih jauh di belakangku ternyata preman jahanam itu. Aku harus berhenti sejenak. Kalau tidak aku bisa mati," gumam Jingga sambil perlahan mengambil nafas dalam-dalam. Keringat mengucur deras di wajahnya. Jingga merasa hari ini sangat sial. Dalam hati, Jingga masih ingat Tuhan. Mulutnya terus beristighfar dan berdoa kebaikan untuknya dan juga ibunya. "Kemana lagi aku harus berlari. Ini sudah terlalu jauh aku lalui," Jingga bermonolog sambil mengernyitkan dahi. Sejenak dia berhenti dan berjongkok. Perutnya mulai terasa mual. Efek berlari sekaligus karena lambungnya kosong. Jingga belum sarapan sejak pagi. Jingga melihat kanan kiri untuk mencari tempat persembunyian sejenak. Matanya memandang sebuah lorong kecil yang cukup untuk dia beristirahat sejenak. Jingga masuk dan merundukkan tubuhnya sambil mengawasi sekitar.
"Ibu, bagaimana keadaan Ibu dirumah? Bu, kenapa Ibu tidak pernah terbuka kepadaku. Aku ini anak siapa jika Ibu pernah tinggal di lokalisasi. Aku jijik sebenarnya mengetahui kenyataan pahit ini. Tapi Engkau adalah Ibuku. Surgaku ada di bawah telapak kaki Ibu," kata Jingga lirih.
"Itu Dia. Gadis tadi yang melarikan diri. Ayo kejar," kata pengawal mami yang ternyata sudah mendekati Jingga.
Jingga menoleh ke arah sumber suara lalu berkata, "Oh tidak, sedikit lagi mereka akan menangkapku." Jingga tetap berlari sekuat tenaga. "Tolong Saya, Tuhan!"
Tiba-tiba salah seorang preman itu sudah berdiri di hadapannya. Jingga kaget dan panik. "Hah, mau kemana Kamu? Sudah tidak bisa melarikan diri," kata preman yang menghadang Jingga.
"Jangan macam-macam ya! Ini jalan raya. Aku akan teriak minta tolong," kata Jingga tegas.
"Diam anak ingusan!" hardik salah seorang preman tersebut.
Jingga dikepung para preman. Jingga berteriak," Tolong! Tolobg! Tolong!"
"Hahahaha, mana ada orang yang akan iba pada gadis cantik jutek dan sombong sepertimu," kata salah seorang pengawal mami.
"Aku punya Tuhan. Pasti Tuhan akan mengabulkan pintaku. Dasar manusia biadab!" hardik Jingga.
Situasi jalan raya tersebut ramai tetapi pengguna jalan memilih cuek dari pada harus berusan dengan peristiwa berat. Jingga merasa orang-orang sekarang ini sudah hilang hati nuraninya. Buktinya, tak seorang pun mau menolong Jingga.
Beberapa saat setelah Jingga disergap dan tangannya akan diikat ke belakang menggunakan tali kalar, Jingga pasrah.
Pria yang nyaris menabrak Jingga masih mengendarai montor melewati jalan yang juga Jingga lewati. Takdir mempertemukannya kembali dengan Jingga di jalan raya.
"Gadis yang aku tabrak tadi. Dia kenapa dikeroyok sama banyak preman. Kasihan aku harus menolongnya," ucap pria itu.
Pria itu tadi menghentikan laju kendaraannya. Dia berhenti sejenak untuk menolong Jingga.
"Hei, hentikan!"
Para preman kaget sehingga reflek melepaskan tangan Jingga yang sedari tadi dipegangnya.
"Kamu siapa? Tidak usah turut campur!" hardiknya pada sekelompok preman brutal tersebut.
"Pergi! Pergi Kalian dari hadapan Kami!"
Para preman tersebut menyerang pria itu tadi. Mereka berkelahi dan mengeluarkan jurusnya masing-masing. Pria bermotor itu sangat piawai berkelahi dengan beragam jurus pencak silat. Para preman bisa dikalahkan oleh pria muda itu.
Pria tampan bermotor sport tadi berhasil mengalahkan para preman. Dirinya memastikan para preman tersebut benar-benar hengkang dari hadapannya dan Jingga, sebelum meninggalkan tempat tersebut. Pria tersebut lalu menaiki montornya. Ketika sudah berada di atas montor, pria itu kasihan melihat Jingga. Dirinya ingin membantu Jingga setidaknya mencarikan tempat yang dirasa aman dari gangguan para preman utusan mami. Pria tersebut lalu berkata, "Hai Gadis yang tadi mau Aku tabrak! Ayo ikutlah denganku! Kamu bisa membonceng diriku dan pegang pinggangku dengan erat!" pinta pria tersebut tanpa bertanya lebih lanjut.
Jingga pun tanpa pikir panjang dan berdebat untuk menyetujui tawarannya. Jingga membonceng dengan perasaan tidak karuan. Antara takut, malu dan juga canggung. Alasan dari semua rasa itu adalah Jingga belum pernah sekalipun membonceng laki-laki.
Dahulu, saat Jingga masih SMP, ibunya melarang Jingga membonceng teman lelaki. Sejak saat itu, Jingga menuruti nasihat ibunya. Jingga menjadi anak yang patuh. Dalam hidupnya, dia tidak pernah melanggar perintah ibunya sebatas tidak melanggar norma agama. Namun, kali ini demi keselamatan dirinya Jingga harus melanggar perintah ibunya dan membonceng pria yang belum dikenalnya.
Sementara para preman sedang bersembunyi dan duduk di tempat yang agak teduh sambil memesan es degan pinggir jalan. Mereka merasa risau jika bertemu mami yang merupakan bos mereka.
"Sialan. Gadis incaran Mami kabur dengan pria ingusan pengendara montor itu. Mana CCnya besar lagi. Mampus deh Kita orang. Bakal kena semprot Mami," umpat salah seorang pengawal Mami.
"Jangan takut, ada kalanya Kita memang tidak berhasil," tukas salah seorang preman tersebut.
"Tapi tau sendiri Mami itu galaknya bukan main," kata preman satunya.
"Tenang saja Kawan! Kita sudah memegang kartu Mami. Dia tidak akan bisa bertahan tanpa Kita," jelas preman satunya.
Keempat preman tersebut memanggutkan kepalanya pertanda memahami penjelasan sesama preman tersebut. Mereka bernafas lega dan dengan santai kembali ke lokalisasi.
Para pengawal mami tersebut balik kanan dengan tangan kosong. Muka mereka ditekuk pertanda pulang tanpa hasil. Tetapi itu hanyalah taktik mereka saja. Sejatinya, para preman sudah bosan diperlakukan layaknya budak oleh mami.
Jingga sementara waktu selamat karena pertolongan pria yang hampir menabraknya tersebut. Allah pasti memberikan pertolongan pada seseorang yang sedang didholimi seperti Jingga.
Pria itu terus melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi tapi konstan. Jingga memegang pinggang pria yang baru saja ditemuinya dengan erat. Pria tersebut konsentrasi kedepan dan sesekali melihat spion. Ketika pengawal Mami sudah tidak terlihat lagi di spionnya maka Langit mengurangi laju montornya. Langit membawa motornya menepi dan berhenti di toko retail moderen yang letaknya disebelah kiri di pinggir jalan. Pria tersebut menggandeng Jingga yang masih mengatur nafasnya. Kemudian pria tersebut mengajak masuk Jingga untuk membeli minum. Setelah membayar minuman dan makanan kecil yang dibelinya, pria itu mengajak Jingga duduk. Dengan pelan dan hati-hati pria itu bertanya, "Siapa nama Kamu? Maaf terpaksa tadi Aku gandeng Kamu. Namaku Langit."
Pria penolong Jingga tersebut bernama Langit. Pertemuan yang sudah ditakdirkan Allah itu ternyata dapat diambil hikmahnya.
"Terima kasih ya, atas pertolongannya. Namaku Jingga," jawab Jingga yang masih ngos-ngosan setelah berlari kencang. Tangan Jingga terus memegangi perutnya.
"Kenapa dengan perut Kamu?" tanya Langit yang melihat Jingga terus memegangi perutnya.
"Perut Saya sakit sekali. Belum makan dari pagi. Jadi, mungkin Saya lapar," ucap Jingga jujur.
"Makanlah roti ini sebagai pengganjal perut. Nanti kita makan di cafe dekat balai kota," kata Langit.
"Terima kasih ya," ucap Jingga.
"Iya sama-sama. Maaf sebelumnya kenapa Kamu sampai dikejar preman?" tanya Langit.
"Sebenarnya preman tersebut utusan seorang Mami lokalisasi yang menagih hutang Ibuku. Tapi Ibuku bilang tidak punya hutang pada Mami itu. Aku belum paham jelas persoalannya. Tapi tadi tiba-tiba aku akan dijadikan sebagai pengganti hutang Ibuku untuk dibawa ke lokalisasi," jawab Jingga datar.
"Aku turut prihatin denganmu. Ku doakan semoga selalu dilindungi Tuhan," ujar Langit. "Iya amin dan terima kasih doanya," jawab Jingga.
"Ini kartu namaku. Kamu bisa menghubungiku kapan pun Kamu butuh bantuan," ujar Langit.
"Iya terima kasih. Aku simpan ya!" jawab Jingga menerima kartu nama Langit.
"Yuk Kita lanjutkan perjalanan. Ku ajak Kamu makan di cafe dekat balai kota sana," ucap Langit.
"Sekali lagi Aku mengucapkan terima kasih kepadamu. Aku belum bisa menerimanya. Sudah ditolong lari dan ditraktir minum udah seneng banget," ucap Jingga sopan.
"Jingga, bener ya anggap Aku ini teman Kamu. Jadi, kapan pun Kamu butuh bantuan maka hubungi aku," ucap Langit sambil menyodorkan kembali beberapa lembar uang lima puluh ribuan.
"Apa ini Langit?" tanya Jingga merasa heran.
"Aku tahu Kamu tidak membawa uang dan ini untuk bekal perjalananmu nanti. Apakah mau pulang atau lanjut kemana," ucap Langit.
"Sekali lagi Aku ucapkan terima kasih ya Langit. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu," ujar Jingga pada Langit.
Mereka berdua akhirnya berpisah setelah lari dan berjumpa. Langit tidak bisa memaksakan Jingga karena mereka tidak ada ikatan apa-apa. Hanya saling doa ikatan tersebut mungkin terbentuk.
"Sepertinya sudah aman untuk kembali ke rumah. Oh iya, Ibu bagaimana ya? Meskipun Ibu sering marah padaku tapi Ibu yang membesarkanku. Uang pemberian Langit cukup untuk membeli keperluan Ibu juga. Aku belikan makan ah," gumam Jingga.
Jingga kemudian mencari makanan untuk ibunya. Tidak lupa juga membeli sabun cuci yang tadi akan dibelinya.
Jingga berjalan dengan banyak tanya dalam benaknya. Pertanyaan itu mengganggu konsentrasi kuliahnya.
Pertanyaan-pertanyaan itu semua berkumpul menjadi satu di pikirannya. Mulai dari rencana penyelidikan dirinya tentang hubungannya dengan Bu Sukma. Mulai bertanya dalam hati siapa ayahnya.
Sekelebat bayangan sosok Langit mulai menghiasi pikiran Jingga. Sejenak melupakan masalahnya, Jingga justru mulai tertarik membayangkan Langit.
"Astagfirullah, kenapa Aku jadi mikirin Dia sih," gumam Jingga dengan tawa kecil menghiasai bibirnya.
Jingga memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Jingga teringat ibunya. Biar bagaimana pun juga, Bu Sukma adalah ibunya Jingga yang merawat dengan penuh pengorbanan. Jingga tidak boleh larut dengan keegoisan hatinya karena sakit hati terhadap perlakuan ibunya.
Posisi Jingga saat ini dengan rumahnya lumayan jauh. Jika dia harus berjalan, dirinya pasti tidak akan kuat karena kelelahan. Dia berarti berlari lumayan jauh.
Jingga ingin mengeluarkan ponselnya karena berniat untuk memesan ojek online. Dirabanya saku bajunya. Ternyata tidak ada.
"Astaga! Aku tidak membawa apa pun juga. Berarti tadi Aku berlari hanya membawa badan saja." Tangannya diangkat dan pundaknya ditempelkan sampai di rahang bawah.
Jingga memutuskan untuk naik angkot saja. Rumahnya juga dilalui jalur angkot sehingga aksesnya tidak sulit. Jingga menunggu datangnya angkot dengan sabar. Tidak jauh dari dia menunggu angkot, ada warung makan sederhana yang menyediakan banyak menu makanan pagi yang cocok untuk sarapan. Jingga membeli sebungkus nasi beserta lauk pauknya untuk sarapan ibunya. Dia juga tidak lupa membeli minuman hangat kesukaan Bu Sukma yaitu kopi susu.