Bab 1

"Ya Tuhan, mengapa Naila tidak ada di kamar pengantin?" gumam Ibu Nurma ketika dirinya berada di dalam kamar pengantin.

Kemudian, Ibu Nurma bergegas mencari suami dan anak pertamanya, Naya.

"Naya, gawat! Naila tidak ada di kamarnya!" teriak Ibu Nurma dengan wajah ketakutan.

Naya yang sedang membantu mempersiapkan dekorasi pernikahan terkejut mendengar teriakan ibunya. Padahal hari ini adalah hari pernikahan adiknya, Emeline Naila Pury dengan seorang pengusaha sukses, Zayn Wirakusuma Baskara.

Naya segera berlari mendekati ibunya, "Ibu, benarkah Naya tidak ada di kamarnya? Bagaimana mungkin Naila tidak ada di kamarnya?" tanyanya dengan nafas terengah-engah.

Ibu Nurma hanya menggeleng kepalanya, "Benar, Naya. Ibu tidak tahu, Naya. Dia pergi tanpa meninggalkan pesan apapun. Ibu sudah mencarinya ke mana-mana tapi tak ada hasil," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Naya merasa panik, "Lalu, bagaimana dengan pernikahan hari ini, Bu? Apa yang harus kita lakukan? Semua tamu sudah datang, dan Tuan Zayn sudah menunggu di pelaminan."

Mendengar pertanyaan Naya, Ibu Nurma tampak bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Namun, tiba-tiba Naya mendapatkan sebuah ide yang terasa gila di benaknya. "Apa aku manfaatkan situasi ini, ya?" ucap Naya dalam hati sambil tersenyum nakal.

"Bu, bagaimana kalau... bagaimana kalau aku yang menggantikan posisi Naila sebagai pengantin wanita?" usul Naya dengan ragu.

Ibu Nurma terkejut mendengar usulan Naya, "Naya, apa kamu yakin dengan keputusan ini? Ini bukan hal yang mudah, dan bisa saja berdampak buruk pada hidupmu nantinya."

Namun, Naya tetap bersikeras, "Naya yakin, Bu. Demi menyelamatkan nama baik keluarga kita, aku rela mengambil resiko ini. Naya akan menjelaskan semuanya pada Tuan Zayn nanti setelah pernikahan selesai."

Melihat tekad Naya yang bulat, Ibu Nurma akhirnya setuju dan memberitahu Ayah Ferdi tentang keputusan tersebut. Mereka pun segera menyiapkan Naya untuk menggantikan posisi Naila.

Akad nikah akan segera berlangsung, Tuan Zayn tampak melotot begitu juga para tamu undangan dan juga keluarga besar Tuan Zayn saat melihat mempelai wanitanya bukanlah Naila, melainkan Diandra Kanaya Pury—kakaknya Naila.

"Tunggu!!" teriak Tuan Zayn langsung berdiri tegak, "apa-apaan ini?" laki-laki bertubuh kekar ini merasa telah dipermainkan. "Yang akan saya nikahi itu, Naila, bukan kamu!" tunjuk Zayn dengan tatapan sinis ke arah Naya, namun berbisik.

Naya segera menarik tangan Zayn, membawa laki-laki itu ke tempat yang aman untuk berbicara.

Pesta pernikahan langsung heboh, mulai terdengar bisik-bisik tetangga. Mereka juga penasaran, mengapa peran mempelai wanitanya tidak seperti yang ada di foto, tidak seperti yang tertera di surat undangan.

"Lepas!" Zayn menepis tangan Naya. "Mana Naila?" tanyanya ketus.

"Mas Zayn, Naila kabur. Dia pergi tanpa meninggalkan pesan apapun. Kami tidak tahu kemana perginya Naila. Maka aku menggantikan posisi Naila agar pernikahan ini tetap berlanjut. Aku tidak mau nama keluarga kita jadi buruk karena masalah ini. please, Mas Zayn cari cara apa kek gitu! Ya, pernikahan ini hanya sekedar untuk menyelamatkan nama baik saja," kata Naya.

Kedua tangan Zayn mengepal kuat, perasaannya sangat hancur ditinggal pergi begitu saja dihari yang paling dinantikan selama ini.

"Mas Zayn juga tidak mau diejek' kan? Masa seorang pengusaha tampan, gagah, ditinggal kabur oleh calon istrinya," ujar Naya, dia terus membujuk Zayn untuk setuju menikah dengannya.

Zayn menghela nafas dalam-dalam, ia mencoba untuk tetap tenang meskipun sebenarnya dia sangat rapuh.

Zayn menarik sebelah pergelangan tangan Naya. Saat tiba di area pesta, Zayn menggandeng tangan Naya dengan sangat mesra.

"Pak penghulu, bisakah di mulai akad nikahnya?" ucap Zayn dengan lantang dan tegas.

Para tamu undangan semakin bingung, termasuk keluarga besar Zayn. Karena saat lamaran tempo lalu, jelas yang dilamar Zayn bukan wanita itu, tapi adiknya.

"Zayn, tolong jelaskan! Mengapa kamu jadi menikah dengan Kakaknya, bukankah gadis yang kamu lamar itu adiknya?" tanya Zahra, Maminya Zayn.

Zayn mencoba tersenyum. Ia juga sebenarnya tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya?

"Jadi .... " Naya angkat suara, "Ummmp.... " Naya juga bingung menjelaskannya.

"Sebenarnya, Mas Zayn ini cintanya sama aku. Tapi, aku menolak. Mas Zayn maksa aku sampai dia nekat melamar aku. Ya karena aku enggak mau keluarga aku malu, terus jauh-jauh Mas Zayn dan keluarganya dari Jawa Timur datang ke sini, jadi aku malah memaksa Naila untuk menerima lamaran Mas Zayn. Saat itu, Mas Zayn sangat kecewa, jadi terpaksa setuju melamar Naila. Terus sekarang Naila pergi, karena dia tidak mencintai Mas Zayn," ucap Naya panjang lebar, ngasal aja. Hanya itu yang ada di otak Naya saat ini.

Zayn langsung melirik sinis kearah Naya, bisa-bisanya wanita ini mengarang jika Zayn jatuh cinta padanya.

"Naziiiss!" umpat Zayn, dia sama sekali tidak tertarik kepada Naya, penampilan Naya juga terkesan seksi, setiap Zayn berkunjung untuk bertemu Naila, pasti laki-laki yang bersama Naya selalu berbeda. Zayn yakin, kalau Naya bukan wanita baik-baik, status perawan tapi Zayn yakin kalau Naya bukan

"Zayn, benarkah apa yang dikatakan Naya?" Tanya Papi Zaenal.

"Iya benar," sahut Zayn terpaksa mengiyakan.

Penjelasan Naya yang diluar nalar itu ternyata dipercaya oleh keluarga Zayn dan juga para tamu undangan. Menurut mereka, alasan Naya masuk akal.

"Tega sekali kamu, Naila. Mengapa kamu pergi begitu saja, alasan kamu apa, Naila? Apa?" Pekik Zayn dalam hati.

Zayn dan Ayahnya Naya, Pak Ferdy sudah berjabat tangan. Acara akad nikah akan segera dimulai.

"Yes, yes, yes, akhirnya... Aku menikah dengan Mas Zayn, pengusaha tampan idaman aku selama ini. Huwaaa! Aku enggak tahu alasan Naila kabur karena apa? Ah bodo amat! Emang gue pikirin! Aku harus bisa membuat Mas Zayn jatuh cinta sama aku. Diluaran sana, para lelaki pada takluk sama pesona Naya. Masa iya, aku enggak bisa menaklukkan Mas Zayn," monolog Naya dalam hati.

Ya, selama ini Naya memang jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Zayn, saat itu Zayn sering mengunjungi sebuah kafe milik temannya, Naya menjadi pelayan di sana. Namun sayangnya, Zayn malah jatuh cinta kepada Naila. Naya pun terpaksa memendam perasaannya, memang sejak kecil Naya selalu mengalah.

Zayn dan Naila pacaran LDR, kurang lebih selama 1 tahun. Bisa dibilang ketemunya hanya 3 bulan sekali. Semenjak itu, Naya sering gonta ganti pasangan. Bahkan Naya enggan menikah, saat Naila meminta izin untuk menikah lebih dulu, Naya mengizinkan tanpa meminta apapun.

"Bagaimana para saksi, SAH?"

"SAH!" Mereka yang menjadi saksi pun teriak.

Sekarang, Zayn dan Naya sudah resmi menjadi pasangan suami istri.

Zayn segera memasangkan sebuah cincin di jari manisnya Naya. Naya pun sama, ia melingkarkan sebuah cincin di jari manis Zayn.

"Lihat saja! Pengusaha tampan ini pasti akan bertekuk lutut padaku!" Naya begitu yakin sekali dengan ucapannya itu.

Bab 2

Kamar pengantin itu terasa begitu sunyi, hanya suara nafas seorang lelaki bernama Zayn yang memburu terdengar di telinga Naya. Dinding-dinding yang seharusnya dipenuhi dengan kebahagiaan, kini menjadi saksi bisu dari penderitaan yang dialami oleh lelaki itu.

Naya tersenyum lebar, entah dirinya mimpi apa? Malam ini ia berada di dalam kamar pengantin bersama lelaki yang ia cintai selama ini. Ya meskipun kamar pengantinnya berada di kamar Naila, adik perempuannya. 

Naya menatap wajah Zayn yang terlihat tajam, emosi laki-laki itu seakan tak terkendali. Dalam hati, Naya merasa kasihan pada lelaki itu, namun dia juga merasa bingung harus bersikap bagaimana? Tapi disisi lain Naya sangat bahagia, ini kesempatan emas bagi dirinya untuk menjerat seorang Miliarder tampan ini menjadi miliknya seutuhnya.

"Sudahlah, Mas Zayn. Mengapa kamu masih menangisi, Naila? Ya, aku tahu kalau kamu sangat patah hati, tapi ya sudahlah. Kita jalani saja pernikahan kita," ucap Naya mencoba menenangkan Zayn sembari memeluk lelaki itu dari arah belakang.

Namun, reaksi pria itu tak sesuai harapan. Zayn langsung melotot dan mengepalkan tangannya erat-erat, marah yang dirasakannya sepertinya semakin memuncak.

"Kau tidak akan pernah mengerti perasaan saya, Naya! Lagi pula, saya tak ingin membahasnya denganmu!" bentak Zayn tajam. Ia kemudian memutar tubuh Naya, ketika dirinya sudah melepaskan pelukan dari wanita itu. Bahkan, Zayn sampai mendorong kasar tubuh wanita itu ke atas tempat tidur.

Naya memekik kaget, tangannya yang mencoba menahan tubuh lelaki itu yang ternyata berada di atas tubuhnya. 

"Oh jadi Tuan Zayn mau malam pengantin? Aku siap untuk melayani kamu," ujar Naya mencoba berkelakar untuk mengurangi ketegangan di antara mereka. Ia malah menggoda Zayn. 

Akan tetapi, Zayn semakin marah, merasa kesal dengan sikap Naya.

"Dasar murahan!" seru Zayn penuh amarah. Ia memalingkan wajahnya, kemudian beranjak berdiri.

Bukannya sakit hati dihina sebagai wanita murahan oleh Zayn, Naya malah tersenyum tipis. Wanita itu berusaha beranjak bangun. Di tengah keheningan, suara gemuruh dari nafas Zayn terdengar lagi oleh Naya, membuat Naya semakin ingin menenangkan pria itu. 

"Mas Zayn, maafkan aku. Aku tak bermaksud apa-apa. Kita memang tidak saling mencintai, tapi kita jalani sana pernikahan ini. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu," ucap Naya dengan suara dibuat lembut.

Zayn terdiam, mencoba meresapi kata-kata Naya dan melupakan kekesalannya yang ditinggal oleh Naila. Meskipun tak mudah, pria itu sadar bahwa Naya adalah istrinya sekarang, terlebih keluarga besarnya juga percaya jika Naya adalah wanita yang ia cintai.

Zayn menatap Naya dengan sorot mata yang masih terlihat menyeramkan. 

"Tapi jangan harap cinta dariku, Diandra Kanaya Pury! Kau bukan wanita baik-baik, tak pantas menjadi istriku. Kalau bukan demi nama baik, saya tidak sudi menikah denganmu!" ucap Zayn ketus. 

"Ya mungkin sekarang kamu belum mencintaiku. Ya, siapa tahu nanti, kamu.... "

"Apa? Kamu bilang apa? Jangan harap!" bentak Zayn, "bukan wanita seperti kamu yang pantas menjadi pendampingku! Tubuhmu pasti sangat menjijikkan!" sungut Zayn .

Naya tersenyum kemudian mengalungkan kedua tangannya di tengkuk Zayn, "kita lihat saja nanti, Mas Zayn," bisik Naya. 

Bola mata itu saling bertemu dengan jarak yang begitu dekat sampai Naya merasakan hembusan nafas Zayn. 

Zayn menatap heran. Mengapa Naya terlihat biasa saja saat menjadi pengantin pengganti. Justru wanita itu tidak terlihat terpaksa, malah seakan ingin menikmati. 

Zayn pun menepis tangan Naya, kemudian laki-laki itu keluar dari kamar. 

Naya menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, ia terus tersenyum.

Saat Zayn mau keluar rumah, Nyonya Nurma-Ibu mertuanya mencegah langkah Zayn. Pesta pernikahan memang sudah usai, namun suasana pengantin masih terasa.

"Zayn, sekali lagi Ibu minta maaf atas nama Naila-Putri Ibu. Sampai detik ini, Ibu masih belum mendapatkan informasi di mana Naila sekarang," ujar Ibu Nurma lirih, dia begitu khawatir. Memikirkan nasib Naya yang menggantikan posisi Naila, memikirkan Naila juga yang entah di mana? 

Zayn hanya mengangguk dan mencoba untuk tersenyum. Tanpa memberikan tanggapan, laki-laki itu keluar rumah hanya untuk mencari udara segar.

Nyonya Nurma segera masuk ke kamar pengantin, di sana Naya terlihat sedang melepas riasan pengantin di kepalanya. 

"Naya, ibu jadi merasa bersalah. Zayn terlihat kecewa sekali," ujar Ibu Nurma. 

"Sudah, Ibu jangan merasa bersalah begitu. Ini salah Naila, bukan Ibu. Kenapa dia mendadak kabur? Ibu serahkan saja semuanya sama aku. Do'ain saja semoga Naya bisa membuat Zayn melupakan Naila," ujar Naya.

"Zayn itu sangat mencintai Naila. Ibu tidak yakin kamu bisa," ujar Ibu Nurma meragukan Naya. 

"Astaga, Ibu! Lupa ya? Naya ini wanita paling cantik di kota ini, " Naya begitu percaya diri, padahal dia juga ragu. "Ibu tidak melihat? Banyak lelaki yang tergila-gila padaku. L"

"Ya ya ya, Ibu tahu. Kamu sudah membuat dua lelaki paling kaya di kota ini patah hati. Yang ibu khawatirkan, ketika kalian saling mencintai. Naila kembali, terus.... Ah mengapa pikiran ibu jadi mengarah ke sana."

Naya hanya tersenyum tipis, ia kembali melanjutkan melepas riasan pengantin itu

Saat ini, Zayn mengubungi seseorang untuk mencari keberadaan Naila. Ia hanya ingin penjelasan saja dari Naila. 

Setelah itu, Zayn kembali ke kamar. 

Begitu Zayn membuka pintu kamar pengantin, matanya terbelalak seketika. "Ya Tuhan!" Zayn langsung memutar tubuhnya membelakangi Naya. 

Dihadapannya, Naya berdiri dengan pakaian seksi berwarna hitam yang mengekspos kulit kuning langsatnya. Pakaian tersebut sangat minim, membuat Zayn merasa tidak nyaman melihat penampilan Naya.

"Mengapa kamu menggunakan pakaian seperti itu?" tanya Zayn dengan nada ketus. Ia masih belum mau menengok ke arah Naya.

Naya tampak tersnyum mengangkat bahu seolah tidak mengerti masalahnya. "Loh, Mas Zayn. Ini pakaian yang biasa digunakan para wanita jika mau malam pertama dengan suaminya," ucap Naya tersenyum.

Zayn menghela napas, ia masih berdiri membelakangi Naya. "Bisa-bisa kamu masuk angin jika menggunakan pakaian itu. Aku tidak mau tahu, kamu harus ganti pakaian. Mata saya sampai sakit melihat penampilan kamu yang menggunakan kurang bahan seperti itu," bentaknya, mengepalkan tinjunya untuk menahan emosi. Zayn sama sekali tidak berminat untuk malam pertama dengan Naila.

Naya merasa kesal, usahanya telah gagal. Bibirnya terlihat cemberut. Namun, ia tahu bahwa dirinya tidak akan menyerah. Dengan berat hati, Naya melangkah menuju lemari untuk mengambil pakaian lainnya sesuai permintaan dari Zayn. 

"Iya, Mas Zayn, iya! Aku ganti pakaiannya," sahut Naya.

Pakaian untuk malam pertama itu seharusnya digunakan Naila, Ibu Nurma yang menyiapkannya untuk malam pertama Naila dan Zayn. 

Zayn yang merasa dirinya bergairah, ia pun memutuskan untuk keluar dari kamar. 

"Gagal deh malam pertama dengan Mas Zayn!" gerutu Naya saat Zayn keluar dari kamar.  "Dia normal gak sih?"

Bab 3

Naya yang sudah mengganti pakaiannya menggunakan piyama ke luar dari kamar. Wanita cantik yang berusia 26 tahun ini menghampiri Zayn yang lagi duduk santai di ruang keluarga sambil memainkan ponselnya.

"Mas Zayn, sudah malam. Ayo istirahat," ucap Naya setelah bertatap muka dengan Zayn.

"Saya mau tidur di sini," ucap Zayn ketus.

"Jangan, Mas Zayn. Kamu tidur di kamar Naila saja. Aku akan tidur di kamarku, " ucap Naya mengalah daripada Zayn tidur di sofa.

Tanpa sepatah kata pun yang terucap, Zayn beranjak berdiri. Ia melangkahkan kakinya menuju ke kamar pengantin.

"Sabar, Naya," bisiknya sambil mengelus dadanya. "Belum saatnya kamu malam pertama dengan Tuan pengusaha yang tampan itu."

Naya tidak langsung ke kamarnya. Ia pun duduk senderan di kursi. Naya mengambil ponselnya di saku piyamanya. Menghidupkan layar ponselnya, mencari kontak Naila-sang adik yang usianya beda 2 tahun dengannya.

Nomer yang Anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi.

"Yaah... masih belum aktif juga," gumamnya.

Sejak tadi, semenjak Naila kabur. Ponsel Naila tidak aktif, bahkan ratusan chat WhatsApp yang Naya kirim masih centang satu (√).

Meskipun Naya sangat senang bisa menggantikan posisi Naila sebagai istrinya seorang Presdir dingin itu. Namun tetap saja, Naya juga ingin mengetahui alasan kepergian sang adik perempuannya itu.

Terlebih, Naila ini anak kesayangannya ayah dan ibunya. Terkadang, Nyonya Nurma dan Tuan Ferdi terlihat pilih kasih.

"Sebenarnya alasan kamu apa, Naila? Bukankah kamu sangat mencintai Tuan Zayn? Kelau kamu kabur tanpa asalan yang pasti. Itu artinya kamu memberikan peluang kepada Kakak untuk mendapatkan cinta dari lelaki yang selama ini Kakak taksir," monolog Naya.

***

Naya bangun pagi-pagi, ia merias dirinya secantik mungkin. Bahkan sampai menggunakan pakaian yang seksi. Ia mengenakan rok mini, penampilan Naila seperti ini hanya sekedar untuk menarik perhatian suaminya, pria yang selama ini Naya cintai dalam diam. Wanita yang memiliki bulu mata lentik, bola mata bulat ini pun menyiapkan sarapan. Yaitu segelas susu rasa vanila dan roti.

"Astaga, Naya! Mengapa kamu menggunakan pakaian seperti itu?" Ayah Ferdy sampai geleng-geleng kepala melihat penampilan Naya.

"Kenapa dengan pakaian Naya, Ayah?" tanya Naya sambil memperhatikan penampilannya di pantulan kaca, kebetulan ada cermin.

"Sangat tidak sopan, Naya," kata Ayah Ferdy berterus terang.

"Ish, Ayah. Masalahnya apa? Sekarang Tuan Zayn itu suami Naya. Jadi, Naya bebas dong menggunakan pakaian seperti ini?" ucap Naya santai.

"Kamu ini... sepertinya hanya kamu yang terlihat biasa saja saat adik perempuan kamu kabur. Kamu seperti menikmati peran kamu sebagai wanita pengganti. Terus, kamu malah mencoba untuk menarik perhatian lelaki yang sangat dicintai Naila. Kita belum tahu alasan Naila pergi, Naya? Ibu kamu juga sejak semalam menangis terus sampai membuat telinga Ayah terasa panas," ucap Ayah Ferdy.

"Terus Naya harus bagaimana, Ayah? Apakah Naya harus menangis juga seperti Ibu, begitu? Ayah, dengar! Bukan maksud Naya untuk menarik perhatian Tuan Zayn. Tapi, aku hanya berusaha untuk menghibur Tuan Zayn disaat Naila tidak ada. Jika memang nanti Naila kembali, terus dia ingin menikah dengan Zayn. Ya ... Naya siap menjadi janda," ucap Naya, padahal faktanya dia menikmati perannya sebagai wanita pengganti. Bahkan sangat menginginkan laki-laki yang memiliki Perusahaan Dirtara Grup itu jatuh cinta padanya.

"Ayah hanya mengingatkan saja, Naya. Hanya Naila—wanita yang dicintai Zayn, bukan kamu," ucap Ayah Ferdy.

"Iya, Ayah. Naya tahu," sahut Naya.

Setelah selesai menyiapkan sarapan, Naya berjalan menuju kamar sang adik dengan hati yang berdebar-debar. Lalu, Ia mengetuk pintu kamar.

"Mas Zayn," panggil Naya.

Pintu kamar tidak dikunci, Naya pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar tersebut dengan senyum manis di wajahnya.

"Selamat pagi, Mas Zayn," sapa Naya lembut.

Zayn menoleh ke arah Naya dengan ekspresi wajahnya berubah sinis. "Pakaian seperti apa yang kamu gunakan, Naya?" tanya Zayn ketus. "Pakaian kamu ini tidak jauh beda dengan pakaian yang sering digunakan wanita murahan yang suka menjual tubuhnya kepada Casanova." Zayn tersenyum mengejek.

"Benarkah? Aku hanya ingin tampil sedikit berbeda, Mas Zayn," jawab Naya dengan senyuman dibuat semanis mungkin. "Apakah kamu tidak menyukai penampilan aku?" tanya Naya begitu sabar menghadapi sikap Zayn yang selalu menghina dirinya wanita murahan.

Zayn tertawa sinis. "Sama sekali tidak suka. Sakit mata aku melihat penampilan kamu. Asal kamu harus tahu, pakaian yang kamu gunakan ini tak jauh beda seperti para pelacur, dan make up yang kamu itu seperti hantu kuntilanak. Apa kamu benar-benar berharap saya akan tertarik padamu dengan penampilan seperti ini? CIH! Tidak akan pernah terjadi."

Naya merasa kesal, namun ia berusaha menahan diri. Ia menunjukkan nampan sarapan yang ia bawa. "Aku hanya menawarkan sarapan, Mas Zayn. Bukan meminta kamu mengoreksi penampilan aku. Ya, kalau kamu tidak menyukainya tidak masalah. Aku pun tidak berharap kamu bisa menyukai penampilanku," ucap Naya.

Zayn menghela nafas. "Benarkah? Terus, apa yang kamu bawa?" tanyanya sinis.

"Aku membuatkan susu dan roti. Tenang, tidak ada racunnya. Semoga kamu bisa menyukainya," ujar Naya dengan nada lembut.

Zayn menerima nampan tersebut dan menatap Naya tajam. "Oke! Sekarang kamu keluar! Tapi, tolong, lain kali jangan berpenampilan seperti ini di depanku. Saya tidak suka. Kamu ini istri seorang miliarder yang memiliki banyak cabang perusahaan. Maka kamu harus bisa menjaga penampilan kamu!" ucap Zayn yang selalu sinis.

Naya mengangguk, menahan rasa sakit hati yang ia rasakan. "Baik, Mas Zayn. Aku mengerti, lagian aku ini hanya sekedar wanita pengganti, bukan? Terserah aku mau berpakaian bagaimana juga."

"Ya, memang. Tapi karena Naila tidak ada, jadi kamu istriku. Dan besok, aku akan membawa kamu ke kota. Maka saya ingatkan dari sekarang, di sana kamu harus bisa menjaga penampilanmu, jangan menggunakan pakaian seperti pelacur atau pakaian kurang bahan. Apakah kamu tidak bisa meniru penampilan, Naila? Anggun, cantik, sederhana, pakaian juga tertutup."

"Iya, Mas Zayn." Naya benar-benar kesal karena Zayn membandingkan penampilan dirinya dengan Naila.

"Sekarang, keluar dari sini. Saya ingin menikmati sarapan saya dengan tenang."

Naya beranjak keluar dari kamar dengan perasaan yang tidak bisa ia ungkapan dengan kata-kata. Lagi-lagi usahanya gagal untuk bisa membuat seorang Zayn itu menyukai penampilannya.

"Jadi Mas Zayn meminta aku agar penampilanku seperti Naila?" gumam Naya. "Ah, aku akan tetap seperti ini. Aku tidak akan merubah penampilanku seperti apa yang dia inginkan," gerutunya.

Huh, Zayn menghembuskan nafas kasar. Kemudian, ia kembali menghubungi seseorang yang ia perintahkan untuk mencari Naila.

"Halo, bagaimana? Apakah kau sudah mendapatkan kabar?" tanya Zayn kepada orang itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED