“Min, kapan anakmu lahir?” tanya Suratman saudara kembar
Suratmin dengan nada mengejek.
“Alhamdulilah, Mas, kata bidan sih tinggal menghitung
hari saja paling tidak tiga atau lima hari lagi,” jawab Suratmin dengan santai
sembari membuat meja kecil dari kayu untuk di dapurnya.
“Berarti istri kamu melahirkan nanti di bidan dong?”
“Iya, nggak apa-apa, lagian nggak ada uang juga kalau harus
di rumah sakit, bayarannya mahal, nggak sanggup aku,” kilahnya merendah diri.
“Iya sih kamu kan jadi OB di warung makan kecil, gajimu berapa
di sana, Min?”
“Nggak cukuplah pastinya, kalaupun ngutang nanti susah
bayarnya, apalagi sama saudara nanti pura-pura amnesia kalau ditagih, lebih
baik yang sesuai kemampuan saja, nggak usah neko-neko!” hardiknya sembari
mengejek dengan jelas.
“Iya, Mas, makanya disesuaikan
dengan kemampuan kami.” Suratmin tersenyum walaupun di dalam hatinya sangat
sakit dengan perkataan saudara kembarnya itu.
“Bagus deh tahu diri juga kamu. jadi nggak menyusahkan aku,
soalnya istriku rencananya sih mau lahiran di rumah sakit kalau perlu operasi
secar biasalah mau cari tanggal yang
hoki gitu,” jelasnya bersemangat.
“Ngapain operasi secar Mas, kalau masih bisa normal, kecuali
kalau memang harus jalan operasi ya mau nggak mau,” tandas Suratmin menjelaskan.
“Itukan menurutmu, Min, kalau aku bedalah orang kaya itu harus
terlihat kayanya dong, jangan kayak orang miskin!” sahutnya tak mau kalah.
Senyum yang dipaksakan selalu dia lakukan lantaran agar
tidak menyinggung perasaan Suratman yang lebih kaya dari Suratmin.
Sudah sering kali Suratman merendahkan Suratmin lantaran menjadi
orang miskin baginya.
Perbincangan di hari minggu itu membuat Susi istri dari
Suratmin menitikkan air matanya ketika mendengar percakapan mereka.
Namun buru-buru dia usap air matanya dengan daster panjang
yang terlihat kusam dan banyak tambalan di mana-mana, agar tidak ketahuan oleh Suratmin kalau dia
baru saja menangis.
Susi kembali ke dapur
untuk memasak makan siang. Hanya goreng tempe, sambal terasi dan tumis kangkung
membuat aroma masakan yang dibuat oleh Susi menyeruak sampai keluar.
Penciuman hidung Suratman sangat tajam sampai tak terkendalikan
sehingga perutnya selalu berbunyi. Di saat itu juga istri Suratman yaitu Siska
ikut datang ke rumah kontrakan kecil milik Suratmin.
Sudah hal lumrah untuk pasangan suami istri ini yang mereka
bilang orang kaya itu setiap hari selain hari Jum’at mereka akan datang entah
pagi, siang ataupun malam ke rumah kontrakan
Suratmin.
Apalagi kalau bukan minta makan, padahal Suratmin juga dalam kekurangan bahkan tidak pernah dia meminta
apapun, tetapi Suratman dan istrinya tetap tidak peka dengan keadaan.
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam!”
“Eh Mbak Siska, mau jemput Mas Suratman ya?” tanya Suratmin tersenyum renyah ketika selesai membuatkan meja kayu untuk istrinya.
“Biasalah, hari Minggu main-main ke rumah saudara, nggak
apa-apa kan?” balasnya dengan santai.
“Berarti aku juga bisa main-main ke rumah sampean toh?”
tanya Suratmin semringah.
“Ngapain ke rumah nggak ada apa-apa di sana, lagian kalau di
sini kan ada makanan, tuh sepertinya istrimu sudah selesai masak, ayuk kita
makan,” ajak Suratman dan langsung masuk ke dalam tanpa di suruh.
“Ayuk, Mbak silakan masuk!” ajak Suratmin tersenyum yang
dipaksakan.
“Wah dengan senang hati, dong,” jawabnya dan langsung
menyelonong ke dalam.
Sampai di dapur, Susi yang selesai masak pun langsung menghidangkan
makanan diatas dipan yang terbuat dari kayu.
Nasi yang masih panas mengepul dengan baunya yang wangi,
ditambah sambal terasi yang menggugah selera.
Mereka pun sudah duduk menghadap makanan yang disajikan
Susi.
“Loh, Mas dan Mbak mau numpang makan lagi, kenapa nggak makan di rumah?” tanya Susi yang mulai kesal dengan tingkah mereka.
“Kamu kan tahu Mbakmu ini malas masak, lagian pembantu kalau
masak itu-itu saja, bosan nggak ada variasinya, beda sama kamu selalu
ganti-ganti walaupun hanya tempe saja,” kilah Suratman yang sudah tidak sabar
ingin menyantap makanan yang ada didepannya.
“Ya belajar dong, Mbak, sebentar lagi mau lahiran juga terus
siapa yang mengurus, Mbak nanti?” tanya Susi kepada Siska.
“Aku belum ngambil cuti sayangkan uangnya, nanti tunggu dua
atau tiga harilah, baru aku rehat dan kita mau pakai baby sister aja, aku kan
wanita karier ya bedalah sama kamu yang Cuma rebahan saja nggak ada kegiatan,”
sahutnya dengan nada menyinggung.
Tak lama kemudian Suratmin datang dan ikut bergabung duduk
di antara mereka.
“Ayuk, cepatan toh, aku sudah lapar nih!” ucapnya dengan
cepat tangannya mengambil nasi itu sudah berpindah cepat dipiringnya.
“Sus, kamu kok masak sedikit amat, jangan pelit-pelit sama
keluarga, nanti nggak berkah loh!” ucapnya sembari melahap makanan itu dengan
lahap begitu juga dengan Siska istrinya tanpa malu-malu dai pun menambah porsinya
dengan alasan harus makan yang banyak karena hamil.
Mendengar ucapan Suratman, Susi kembali terhenyak dan
membuat selera makannya berkurang.
“Loh bukannya kalian ya yang pelit, buktinya makan terus di
sini gratis pula, kan duit banyak tinggal telepon pesan makanan terus datang
lalu bayar, ngapain toh susah-susah ke sini!”
“Berasku tinggal sedikit, Mas, yang jatahnya cukup untuk
sebulan, eh malah nggak cukup, harusnya tahu diri dong!” ejek Susi tetapi
mereka pun tetap tidak memedulikan omongan Susi, karena masih menikmati
makanannya sehingga semua yang disajikan tadi ludes seketika tidak menyisakan
Suratmin.
“Wah enak sekali makananmu Sus, sampai lupa nggak nyisakan
makanannya!” ucap Suratman dengan enteng.
“Kalau mau makan banyak sini, mana uangnya biar aku buatkan
lagi kayak tadi dan bisa sampean bawa pulang makan di rumah kalian saja!” ucap
Susi sembari mengulurkan tangannya untuk minta uang.
“Lah, aku nggak ada uang kecil, adanya juga uang merah semua,
kalau kasih kamu yang untung kamu dong, makanan seperti ini nggak nyampe tiga
puluh ribu juga nanti mau minta angsulannya bilang nggak ada kembaliannya,
orang miskin kan selalu mencari kesempatan dalam kesempitan!” rutuknya membuat
Susi bertambah kesal.
“Ya Allah, Mas nggak apa-apa, aku belikan di warung tunggu
sini nanti uang kembaliannya tak kasih sampean lagi, bagaimana?”
“Alah itu akal-akalan kamu saja, nanti kalau kamu
lebih-lebihkan harga di warung bagaiamana bilang beli kangkung harganya cuma
tiga ribu seikat nanti kamu bilang lima ribu, tekor dong aku!” hardiknya kesal.
“Kalau begitu sama-sama ke warung supaya tahu harga semua
kebutuhan yang di beli, bagaimana?” usul
Suratmin padahal dia sudah tahu jawabnnya.
“Nggak lah, aku malas kayak gitu, aku ini orang kaya, malu
lah belinya kok gituan, nggak level!” tolaknya.
“Ya sudah biar Mbak Siska saja yang ke warung, nanti biar
aku yang masakan, bagaimana ini alternatif terakhir loh!” ucap Susi yang hampir
putus asa mendengar alasaan demi alasan yang dibuatnya.
“Aku kamu suruh ke warung nggak ah ... nggak mau, nggak
level dengan warung kotor, bau, banyak kumannya ... iiihhh!” Siska mendelik
jijik saat membayangkan pergi ke warung dengan memakai sandal uang harganya
bisa mencapai satu juta rupiah itu.
Suratmin yang mendengarnya hanya biaa tertawa kecil
menampilkan deretan giginya yang putih, sedangkan Susi hampir kehilangan cara
untuk membuat mereka mengerti tetapi dia tidak ingin selalu dikelabui oleh
mereka yang bergelar sultan itu.
“Loh Mbak ini bagaimana sih, masakan yang aku buat itu dari
sana loh, yang Mbak bilang bau, kotor, banyak kumannya, berarti masuk ke perut
bahaya dong?” ejek Susi.
“Ya nggak lah, buktinya kamu dan Suratmin makan juga, nggak
ada masalah tuh, baik-baik saja!” jawabnya lagi dengan santai.
“Huh ... tenang Susi, tenang ... sabar ... aku harus banyak
istighfar kalau menghadapi mereka, untungnya aku tidak menikah dengan Suratman,
bisa pusing kepala aku dibuatnya tiap hari,” gerutunya dalam hati.
“Baiklah, kalian seperti benalu kok di rumah orang miskin,
benalu itu di rumah orang kaya, ini nggak bisa dibiarin , pokoknya aku akan membuat mereka nggak ke sini lagi pelitnya
minta ampun malah kita lagi yang dibilang pelit!” rutuknya dengan kesal.
Setelah selesai makan mereka bersantai ria duduk di teras
rumah, walaupun rumahnya kecil tetapi teras dan halaman rumah kontrakan Suratmin
sedikit luas.
Terdapat dua buah kursi yang terbuat dari kayu itu, menselonjorkan
kedua kakinya yang terasa pegal tadi karena duduk bersila, membuat Siska yang
hamil besar sedikit merasa rikeks di tempat itu.
Angin yang datang hilir mudik membuat Suratman dan Siska
malas beranjak dari tempat duduknya seakan-akan mereka pemilik kontrakan itu.
“Sus, enak juga ya di rumah kontrakan kamu, biar dikatakan
kecil, sumpek, bau, dan kotor kalau sudah ada angin sepoi-sepoi bawaannya
ngantuk melulu, kayak kita lagi di pantai, benar nggak sih Mas?” tanya Siska
yang asyik menikmati angin yang melewati dirinya.
“Iya, benar kamu Sayang, apalagi ada segelas es teh sama camilan,
serasa di pantai benaran loh!” sahutnya yang sengaja minta disediakan yang dia
maksud.
“Mudah-mudahan mereka masuk angin, jadi nggak ke sini, eh
tapi jangan deh, nanti kalau dua-duanya sakit malah aku yang repot, nggak mau
ah!” gerutu Susi dalam hati tetapi
tangannya sibuk mengangkat jemuran yang sudah kering karena hari ini matahari sangat
bersahabat membuat pakaian yang
dijemurnya kering semua.
Siska pun memperhatikan Susi yang cekatan mengambil
pakaian-pakaian itu walaupun sudah hamil besar, tidak membuat aktifitas
terganggu akan hal itu, malah lebih agresif dengan pekerjaan rumah tangganya.
“Sus, kamu dengar nggak apa yang dikatakan Mas Ratman, minta
es teh, tetapi gulanya sedikit saja, usahakan kalau mencari es batu itu kamu
harus tahu dia pakai air bersih atau tidak, atau sudah di masak atau belum.”
“Kesehatan itu mahal harganya, biaya rumah sakit berapa,
kita harus menjaga kesehatan jangan sampai masuk rumah sakit, kalau orang kaya
masih bisa bayar coba kalau orang miskin seperti kamu, pasti ujung-ujungnya
minta sama saudara pinjam uang!”
“Nanti kalau nggak dipinjamkan katanya kita lelit, padahal
kita ini dasarnya nggak pelit loh, Sus, cuma malas saja keluar uang begitu
aja!” jelasnya panjang lebar, tetapi Susi tidak menghiraukan mereka yang asyik
menikmati hari di siang tengah bolong itu.
“Sus, kamu dengar nggak sih?” tanya Siska mengulang
kalimatnya.
“Ya dengar Mbak!” sahutnya malas.
“Lah terus, ya buatkan dong, ingat tamu itu adalah raja,
maka harus dilayani dengan baik loh!” sindirnya kepada Susi.
“Sayangnya Mbak Siska bukan raja, kalian kan keluarga ku
toh, jadi kalau sama keluarga harus pengertian, aku lagi sibuk banyak kerjaan,
kalau Mbak kan enak ada pembantu yang ngerjakan, kalau aku kan nggak ada!”
kilah Susi sambil tersenyum.
“Lagian kita nggak ada teh maupun gula, belum beli,
menghemat,” lanjutnya lagi dengan sedikit memajukan bibirnya yang seksi ke
depan.
“Ya buatkan sebentar saja bisa toh, Sus?”
“Lah mau pakai apa buatnya, sudah di bilang nggak punya stok
teh!”
“Min, istrimu toh kok nggak sopan gitu, Siska ini lagi hamil
dia nggak boleh banyak gerak, apalagi bawa yang berat-berat, nanti kasihan
dedeknya di dalam!” sungut Suratman yang mulai membela istrinya.
Namun Suratmin juga harus membela istrinya yang juga hamil
besar bahkan tinggal menghitung hari saja.
“Wah, mas Ratman ini memang nggak lihat tuh apa yang ada
diperutnya itu, bukan bawa bantal, tetapi lagi hamil juga, dan bentar lagi mau
melahirkan kalau situ kan baru delapan bulan!”
“Mbak Siska itu harus banyak gerak, jangan-jangan di kantor cuma
duduk-duduk doang, dan menyuruh temannya kerja!” jelas Suratmin lembut.
“Kok malah kamu yang ngajarin aku toh , Min, suka-suka aku
lah, terserah Siska yang penting dia nggak stres, dia lebih suka di sini
ketimbang di rumahnya sendiri, nggak tahu kenapa?” kilahnya yang masih tetap
nggak mau beranjak dari tempat duduknya.
“Lah, situ juga ngatur-ngatur istriku, dia itu hanya
melayani rumah kecil ini, Mas Ratman, nggak lihat aku saja lagi bantu-bantu
perkerjaan istriku ini, supaya dia nggak stres di rumah, benarkan, Sayang?”
goda Suratmin kepada istrinya di balas dengan kedipan mata dari Susi.
“Hahaha ... orang miskin manggilnya Sayang, belagu amat jadi
orang kamu, Min,” ejek Suratman saat
mendengar Suratmin memanggil Susi dengan sebutan Sayang.
Namun kedua suami istri itu hanya tersenyum mendengarkan
celoteh pasangan Suratman dan Siska yang selalu membanding-bandingkan dirinya.
“Wah perlu dikerjai ini si Suratman,” ucap Susi dengan
tersenyum licik.
Lalu dia melihat beberapa ibu-ibu sedang melewati tempat
kontrakan Suratmin dan Susi, lalu memanggil dan menyapanya dengan ramah.
“Bu Retno, mau ke mana siang-siang begini?” sapa Susi
mengalihkan perhatian mereka berdua.
“Eh, Mbak Susi, wah ibu hamil ini rajin banget sih, sudah
jangan terlalu capek, bentar lagi lahiran loh, sudah dipersiapkan belum
keperluannya, supaya nggak kalang kabut saat mau ke bidan, loh,” ucap Bu Retno
menasihati.
“Alhamdulillah sudah Bu, yang penting-penting sudah
dipersiapkan tinggal angkut,” sahut Susi tersenyum.
“Loh ada saudaranya toh datang, mau ngapain sih datang
melulu ke sini, pasti minta makan, ya toh, hayuk ngaku?” tanya Bu Retno ceplas-
ceplos membuat wajah Suratman dan Siska hanya bisa nyegir kuda.
“Nggak juga, cuma malas saja di rumah besar nan mewah nggak
ada kerjaan, Bu!”
“ Terus ya Bu, lagian kalau makan kita itu tinggal telepon,
bayar, nyampe terus makan deh, hidup itu nggak usah terlalu ribet, deh,” sahut
Siska dengan ketus.
“Eh, Siska jangan cuma duduk-duduk saja banyak gerak, tuh
contoh si Susi dia aja hamil besar masih bisa ngerjain tugas rumah tangga, lah
kamu malah santai!” celetuk Bu Lina mengejek.
“Malas ya Bu, buat apa ada pembantu dia kan digaji untuk
itu, makanya enak jadi orang kaya tinggal perintah beres deh,” sahutnya santai.
“Iya, Bu, mereka ini memang malas masak di rumah, eh maksudnya
karena sibuk kerja di luar, makanya pembantunya juga jarang masak.”
“Ini saja Mas Ratman mau minus es teh, tetapi persediaan stok
kebetulan sudah habis makanya dia mau kasih uang untuk
beli teh sama gula, iya kan Mas?” tanya
Susi membuat Suratman bingung.
“Wah baik banget Mas Suratman ini, gitu dong sekali-kali
bantu saudara, lagian hidup rukun sudah saudara kembar, perhatian, tetanggaan
pula hanya beda dua rumah,” celetuk Bu Retno tersenyum.
“Iya betul itu, sesama saudara harus saling tolong menolong
seperti almarhum kedua orang tua kalian dulu yang selalu baik sama kita, jadi jangan
membuat malu keluarga,” sahut Bu Lastri menimpali.
Karena merasa gengsi di depan Ibu-ibu tadi terpaksa Suratman
mengambil dan mengeluarkan salah satu uang kertasnya yang bewarna merah itu dari
dompetnya dengan tangan gemetaran.
“Mas, kok kasih seratus ribu buat Susi sih?” tanya Siska
yang tidak terima uang suaminya keluar begitu saja.
“Loh Mbak Siska ini bagaimana toh, tadi katanya mau es teh
sama camilan, ya aku belikan dulu sekalian mau beli yang lainnya, kebetulan
habis juga, nggak apa-apa kan, Mas?” tanya Susi mencari pembelaan sembari
mengambil cepat uang yang ada di tangan Suratman.
“I-iya, nggak apa-apa sekali-kali berbuat kebaikan sama
saudara banyak pahalanya apalagi kita sering juga makan di sini,” sanggah
Suratman tersenyum kecil.
“Mas ... tapi ... “ ucapannya lalu dipotong oleh suaminya
dengan nada kesal.
“Sudah nggak apa-apa, malu banyak ibu-ibu sini, kamu mau citra kita
tercoreng hanya karena masalah sepele seperti ini, di luar sana suamimu ini
terkenal dengan dermawannya, kalau sampai mereka tahu aku pelit sama saudara
sendiri mau taruh di mana wajah gantengku ini?” Suratman menjelaskan kepada
istriya agar diam saja.
“Wah tekor aku seratus ribu gara-gara Susi Similikiti, ada
juga idenya, ngapain juga panggil Ibu-ibu itu yang biang gosip itu!” gerutunya
dalam hati.
“Selamat tinggal uangku, jangan marah ya, aku terpaksa
mengeluarkan dari dompetku!” Suratman bersedih karena uangnya keluar satu
lembar.
“Ayuk Sus, kalau mau bareng ke warung kebetulan kita juga
mau ke sana, rencananya kita mau rujakan, kamu ikut saja,” ajak Bu Retno dengan
senang hati mengajak Susi.
Siska yang mendengar kalau ada makanan gratis pun dengan
sigap mendatangi mereka yang asyik ngerumpi.
“Loh, Bu saya kok nggak diajak ikutan gabung?” tanya Siska
dengan panik karena takut ketinggalan makan rujak.
“Siska kalau mau ikut sumbang dong, katanya orang kaya apa
kata dunia kalau kamu tidak ikut, apalagi suamimu kan setiap Jumat sedekah tuh
bagi-bagi sembako, sekalian buat pencitraan kalau istri dari Bapak Suratman Jayadiningrat
Satroatmojo itu suka membaur di kalangan warga kampung, tidak pelit dan juga
tidak sombong,” jelas Bu Retno yang selalu membanggakan Siska hingga dia pun
tersenyum malu-malu.
“Usul Ibu boleh juga, baiklah saya izin suami dulu, sebentar!”
ucap Siska dengan tersenyum lebar memperlihatkan gigi gingsulnya.
Susi dan Ibu-ibu lainnya tersenyum puas karena bisa
mengerjai Siska habis-habisan, hanya sekali disanjung atau dipuji dia akan
berubah sebagai peri yang baik hati.
“Bu, Susi juga ke dalam sebentar taruh cucian pakaian dulu!”
“Iya, cepat kita tunggu, hari ini kita bisa makan enak nih,”
celetuk Bu Lastri tersenyum licik.
“Mas, aku izin bentar ke warung,” ucap Susi kepada suaminya
Suratmin.
“Iya, hati-hati, bawa sini saja biar Mas lipatkan pakaiannya!”
perintah Suratmin.
“Iya, Mas, terima kasih ya sudah dibantu in,” balas Susi dengan
memberikan senyuman termanisnya.
“Ibu-ibu titip istriku!” pesan Suratmin kepada ibu-ibu
tetangga.
“Iya Mas ganteng, jangan khawatir duduk manis saja di rumah,
nanti kita antarkan lagi kalau pulang,” sahut Bu Retno tersenyum.
“Loh, Bu Retno, kok sampean bilang Suratmin ganteng dari mananya?”
Suratman sewot tidak terima kalau saudara kembarnya dikatakan ganteng oleh
ibu-ibu lain, sedangkan dia tidak pernah disanjung oleh siapa pun apalagi
dengan istrinya sendiri.
“Kulit hitam nggak putih kayak aku, rambutnya botak kalau
aku lihat klimis kan, dia punya kumis lah saya lihat bersih terawat dari ujung
sampai kaki,” sahut Suratman yang sangat percaya diri.
“Aduh sampean nggak tahu kalau hitam itu eksotis tahu,
lagian kulitnya menjadi hitam itu karena kerjaannya di luar kena panas matahari.”
“Apalagi senyumannya manis banget kayak gula merah, tuh
lihat suami idaman nggak malu lipat pakaian di depan rumah, kurang apa coba,
mau dong kalau kita digodain?” goda Bu
Nila menimpali.
“Hust ... jangan begitu ibu-ibu, itu suaminya orang,
bagaimana yang di rumah?” tandas Bu Retno kesal.
“Kalau yang di rumah itu tetaplah nomor satu dong, hahaha
... tawa ibu-ibu menggelegar membuat Suratmin ikut tertawa melihat tingkah laku
mereka yang bisa dianggap seperti ibu mereka.
“Nak Suratmin jangan marah ya, kita Cuma bercanda saja, lagian
kami ini tetap setia kok sama suami masing-masing,” ucap Bu Retno menjelaskan.
“Iya Bu, nggak apa-apa!”
“Man, contoh itu adekmu, sopan santunnya oke punya, lah kamu
minta di sanjung dulu, jangan takabur loh, Man.”
“Roda itu selalu berputar, begitu juga dengan kehidupan
manusia hari ini memang kaya tetapi kita nggak tahu besoknya.”
“Kita harus menerima kehidupan yang kita jalani, jangan
berkeluh kesah kalau tidak dibarengi oleh usaha dan do’a, setidaknya kita masih
bisa bernapas itu sudah rezeki dari Allah, kita harus mensyukuri apa yang kita
punya, intinya jangan banyak mengeluh karena sama saja kamu tidak menyukai
hidupmu!” nasihat Bu Retno panjang lebar.
“Tuh dengar Min, mensyukuri seperti saya ini, buktinya dari
tahun ke tahun hartaku tidak habis tujuh turunan sedangkan kamu dari zaman kita
susah bareng-bareng ya tetap saja kamu miskin dan melarat seperti ini!”
“Lah saya bertemu Siska karena kita memang berjodoh dia kaya
dan berkelas cocok memang denganku,” jelasnya panjang lebar tetapi Suratmin
hanya mangut-mangut mendengarkannya.
“Mas, Susi jalan dulu, Assalamu’alaikum!” ucap Susi tidak
lupa mencium tangan suaminya.
“Wa’alaikum salam, hati-hati di jalan ya!” sahut Suratmin
yang sedikit khawatir dengan kehamilan istrinya itu.
“Iya, Mas!” jawab Susi tersenyum.
Sedangkan Siska berpamitan dengan suaminya dengan mencium
pipi kanan dan kiri Suratman.
“Sus, lebay banget sih cium tangan segala, terlalu over
akting tahu nggak!” gerutu Siska yang tidak suka mencium tangan suaminya.
“Contoh dong kayak aku cipika-cipiki orang kaya begitu lah,
dasar udik,” ujarnya dengan percaya tinggi tingkat dewa.
“Nggak apa-apalah udik yang penting membawa berkah,” sindir
Susi dengan tersenyum manis.
Akhirnya mereka pun berjalan beriringan ke warung milik Mak Leha
yang menyediakan berbagai macam kebutuhan sembako dan ada juga warung sayur.
“Sus, pelan-pelan ini, sandalku bisa rusak kalau jalannya
seperti ini, kamu tahu kan harga sandalku ini hampir setara dengan gaji suamimu
itu!” hardiknya kepada Susi yang berpegangan tangan dengannya saat melewati
tanah yang sedikit lempung akibat kemarin hujan deras.
“Ini suami istri sama saja, duh mau benci sama mereka kan
nggak boleh kata orang kalau lagi hamil dan membenci sama orang itu, bisa-bisa
wajah anakku mirip dengan mereka perpaduan antara mbak Siska dan Mas Ratman!”
“Duh, amit-amit cabang bayi, jangan dulu benci tunggu sampai
lahiran deh, Ya Allah kuatkan imanku agar tidak membenci mereka!” Do’a
Susi yang sangat takut membayangkan kalau wajah bayinya nanti mirip mereka.
Sampai di warung Mak Leha, dan di sambut hangat oleh yang
punya warung.
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam, eh Susi, sama kakawalan, handak manukari
apakah, ikam?”
“Ulun, handak beli wadai, gula sama teh, sekalian yang
lain, ulun cari dulu lah, setumat, Mak ai!” ujar Susi yang sedikit bisa
berbahasa Banjar.
“Iih, cari aja, yang mana ikam handak, unda barpandir
dulu sama yang lain, tuh ada Nia, di dalam,” sahut Mak Leha kepada Susi dan
segera menemui ibu-ibu yang karena ingin membeli buah-buahan yang kebetulan
masih ada di warung itu.
Susi lalu
membeli beberapa kebutuhannya yang dianggap penting setelah berhasil menjarah
kakak iparnya.
Uang seratus ribu itu dia belikan semua bahan makanan, dan
menyisakan uang seribu rupiah dengan sengaja untuk dikembalikan ke Suratman
yang pasti akan menagih sisa uang kembaliannya.
Sementara itu Bu Retno dengan lainnya menyibukkan Siska
untuk membelikan buah-buahan untuk bahan rujakan.
“Wah ada bubuhan Susi!”
“ Retno, siapa ini, unda kada pinandu, urang hanyar kah?”
tanya Mak Leha sedikit berbahasa Banjar nampak tetlihat bingung.
“Loh, Mak Leha piye toh, ini loh kakak iparnya Susi, namanya
Siska yang punya rumah gedung di sebelahnya Pak Umar itu,” jelas Bu Retno
tersenyum.
“Oh iya kah, kada parnah lihat ikam sorang, maaflah,” sahut
Mak Leha tersenyum.
“Aduh, Mak, orang dermawan begini nggak kenal sama saya, ituloh
yang sering bagi-bagi sembako tiap hari Jum’at,” jelasnya sedikit sewot karena ada juga yang tidak
mengenal dirinya.
“Kada ingatlah, maklum sudah tuha, muha ikam kada parnah malihat,
tapi kalau uang tetaplah ...hahaha ,” tawa Mak Leha diikuti tawa ibu-ibu
yang lain.
“Mbak Sus, tumben dia mau ke sini, biasanya ogah deh?” tanya
Nia anak dari Mak Leha.
“Biasalah namanya juga saudara, ya main-main ke rumah,”
celetuknya dengan santai.
“Main ke rumah kok tiap hari, apa Mbak Sus nggak gerah gitu
di datangi terus, padahal sudah punya pembantu lengkap, tetapi doyan banget ke
rumah Mbak Sus, memang Mbak pernah ke rumahnya gitu?” tanya Nia penasaran.
“Selama nikah dengan Mas Ratmin baru dua kali ke sana,
itupun kita di suruh cepat-cepat pulang alasannya ada tamu penting katanya,”
jelas Susi sambil mengambil bahan makan dan lainnya yang dianggap penting.
“Oh walah, kok bisa Mbak Sus? Aneh tapi nyata loh,” ucapnya
sambil tertawa kecil dan sedikit berbisik.
Ini saja Mbak Nia, tolong totalkan semuanya ya Mbak,” ucap
Susi sambil menyerahkan semua barang yang sudah diambilnya.
“Mbak semuanya jadi Rp. 99.000, “ ucap Nia setelah menghitung
semua belanjaanya.
“Oke!”
“Nggak digenapin seratus ribu, Mbak?” tanya Nia penasaran.
“Nggak usah biar kelihatan ada kembaliannya,” jawab Susi
tersenyum licik.
Sementara itu di luar para Ibu-ibu sedang memilah-milah
buah-buahan yang masih bagus.
“Pakai mentimun nggak sih?”
“Pakai saja Bu, terserah saja yang penting kelihatan banyak,”
sahut Bu Wulan menimpali.
Dengan segala pujian yang dilontarkan oleh Ibu-ibu itu
uangnya pun akhirnya keluar yang berwarna merah dan membayarkannya dengan
ihklas.
Tak lupa ibu-ibu yang lain memanfaatkan untuk membeli
camilan yangblain ubtuk dibawa ke rumah kontrakan Susi.
Di saat Suratman mengeluarkan uang sebesar seratus ribu
rupiah kini Siska dengan penuh percaya diri mengeluarkan uangnya juga sebesar
dua ratus ribu rupiah.
“Eh, Bu enakkan rujakan di mana ya?” tanya Bu Wulan
bersemangat.
“Bagaimana kalau di rumah Susi saja, kan enak tuh anginnya
kebanyakan ke rumah Susi, bagaimana?” usul Bu Retno.
“Aku sih yes!” sahut
Bu Wulan dan Bu Nila secara bersamaan.
“Iyalah kita ngikut sajalah!” jawab ibu-ibu yang lain.
Setelah membayar dan membeli buah-buahan di sana mereka pun segera
ke rumah Susi.
Sampai di rumah kontrakan Susi, dia lalu menaruh
belanjaannya di dalam lemari, dan menguncinya, dan benar saja Suratman menanyakan sisa uang yang dipakai oleh Susi.
“Sus, ada kembaliannya nggak, soalnya aku mau membeli bensin!” teriaknya dari luar.
·
Kakawalan, bubuhan = teman
·
Ulun = aku, saya
·
Unda = saya
·
Manukari= beli
·
Handak = ingin, mau
·
Hanyar =baru
·
Iih = iya
·
Kada =tidak
·
Pinandu = kenal
·
Malihat =melihat
·
Tuha. = tua
·
Urang =orang
·
Muha. = muka atau wajah
·
Barpandir = mengobrol
·
Setumat =
sebentar