Bab 1

🏵️🏵️🏵️

“Jika kamu tidak bersedia dimadu, kita cerai!” Bayu dengan yakin mengucapkan kalimat itu kepada Tiara, wanita yang telah mendampingi hidupnya selama lima tahun terakhir ini.

“Tega kamu, Mas. Kamu sudah lupa dengan kebersamaan kita selama ini? Lima tahun aku menemani hidupmu.” Tiara tidak pernah menyangka kalau suami yang ia cintai, dengan tega mengucapkan kata cerai kepada dirinya.

“Keluargaku butuh penerus. Kamu sangat tahu kalau aku anak satu-satunya.”

“Kenapa kamu nggak bisa bersabar sebentar lagi, Mas? Aku yakin keajaiban itu pasti ada. Atau ini hanya alasan kamu karena sebenarnya kamu sudah memiliki wanita lain?” Tiara curiga terhadap laki-laki yang baru saja mengucapkan kata cerai itu.

“Terserah kamu mau bilang apa, yang pasti aku ingin memperoleh keturunan.” Bayu tetap pada keputusannya.

“Baiklah, jika itu yang kamu inginkan, aku akan pergi dari rumah ini. Semoga kamu mendapatkan balasan atas keputusan ini, Mas.”

“Balasan yang pasti, aku akan memiliki anak dari wanita lain.”

“Kenapa kamu seyakin itu, Mas? Sementara kamu tidak berusaha untuk percaya padaku. Apa yang kamu lakukan di belakangku?” Tiara curiga dengan apa yang Bayu katakan.

“Kamu nggak berhak lagi untuk tahu tentangku. Silakan kemasi barang-barangmu dan pergi dari sini.” Tiara mencoba meraih tangan Bayu, tetapi ditepiskan.

“Ini balasan yang kamu berikan padaku, Mas? Kamu tidak menghargai apa yang kulakukan selama lima tahun ini? Tidak adakah rasa cinta lagi dalam hatimu untukku?” Tiara tidak kuasa menahan air matanya agar tidak jatuh.

“Rasa itu perlahan sirna seiring berjalannya waktu karena kamu tidak mampu mewujudkan harapanku dan keluargaku. Hubungan yang kita jalani hanya buang-buang waktu. Untuk apa aku mempertahankan istri yang tidak dapat memberiku kebahagiaan?”

“Tega kamu, Mas. Jadi, kebersamaan kita selama lima tahun ini, kamu anggap apa?”

“Sudahlah. Biarkan aku hidup bersama wanita yang mampu melahirkan anak untukku. Kamu harus tahu bahwa dia ada di sini sekarang.”

Tiara makin terkejut melihat seorang wanita keluar dari kamar tamu dengan perut membesar. Sekarang ia baru tahu kenapa Bayu sangat mudah mengucapkan kata cerai kepadanya. Alasannya ada di depan mata.

“Siapa dia, Mas?” tanya Tiara setelah wanita yang keluar dari kamar itu berada di antara mereka. Ia ingin mendengar jawaban yang lebih meyakinkan dari Bayu.

Bayu pun melangkah menghampiri wanita tersebut, lalu meraih tangannya. “Dia calon ibu dari anakku.” Ia kemudiam mengusap perut wanita yang kini berada di dekatnya.

“Ternyata ini jawaban dari perubahan sikap kamu selama ini, Mas? Kamu telah mengkhianatiku, kamu bermain api di belakangku!” Tiara menaikkan suaranya.

“Kamu tidak dapat memberikan apa yang ia berikan. Kamu sudah tahu yang sebenarnya. Mulai sekarang, calon ibu dari anakku yang akan menjadi tuan rumah di sini. Kamu nggak ada hak lagi untuk tetap tinggal di rumah ini.”

Tiara melangkah ke arah Bayu dan wanita tersebut. Ia pun mendaratkan tamparan di pipi laki-laki itu. “Aku jijik melihatmu, Mas!”

Bayu merasa kesakitan setelah mendapatkan tamparan dari Tiara. Ia pun memegang pipinya. Sementara itu, Tiara menuju kamar untuk berkemas. Dirinya masih merasa seperti mimpi dengan apa yang ia saksikan hari ini. Ia sangat sedih karena suami yang ia cintai lebih memilih perempuan lain.

Setelah barang yang ia butuhkan sudah berada dalam koper. Ia pun memandang sekeliling. Kamar ini hanya akan menjadi kenangan untuknya karena Bayu sudah tidak membutuhkannya lagi di ruangan ini.

Ia pun berusaha menerima kenyataan, lalu beranjak dari kamar itu dengan hati yang sangat hancur. Ia melewati Bayu dan wanita yang kini hadir dalam hidup laki-laki tersebut. Ia lebih terkejut lagi saat perempuan itu menunjukkan senyum sinis kepadanya.

🏵️🏵️🏵️

Akhirnya, Tiara tiba di rumah orang tuanya. Ia langsung memeluk ayah dan ibunya yang sedang duduk di depan teras rumah. Kedua orang tua itu sangat heran melihat putri bungsunya tiba-tiba datang tanpa memberi kabar sebelumnya.

Tiara merasa menjadi anak yang tidak berhasil membahagiakan orang tua. Kehidupannya sungguh sangat jauh berbeda dengan kakak satu-satunya yang tinggal di kota lain karena ikut suaminya. Walaupun terpaut usia dua belas tahun dengan pendamping hidup, sang kakak justru tetap sangat bahagia.

“Kamu kenapa, Sayang? Bayu mana?” Bu Laras—ibunda Tiara, menanyakan sang menantu kepada putrinya.

“Tia diusir, Yah, Bun, dari rumah Mas Bayu.” Tiara pun mengatakan yang sebenarnya kepada kedua orang tuanya. Ia akhirnya duduk di samping ibunya.

Sang ayah sangat terkejut mendengar apa yang Tiara katakan. “Diusir? Apa maksudnya? Siapa yang ngusir kamu, Nak?” Laki-laki itu memegang lengan putrinya.

================

Bab 2

🏵️🏵️🏵️

“Mas Bayu telah menceraikan Tia, Yah.” Tiara tidak kuasa lagi menahan air matanya.

“Maksud kamu apa, Nak? Jangan bercanda.” Pak Arif—ayahanda Tiara, tidak percaya mendengar pengakuan anak bungsunya.

“Tia nggak bercanda, Yah. Mas Bayu sudah mengeluarkan kata cerai di depan Tia.” Tiara berusaha meyakinkan ayah dan ibunya.

“Ayah tidak bisa terima semua ini. Waktu dia meminangmu lima tahun yang lalu, dia datang ke sini baik-baik. Sekarang dia tega memperlakukan kamu seperti ini. Ayah akan membuat perhitungan dengannya.” Pak Arif pun berdiri, tetapi sebelum melangkah, Tiara menghentikan laki-laki paruh baya itu.

“Jangan, Yah, Tia mohon. Sekarang sudah tidak ada gunanya lagi. Untuk apa Tia tetap mendampinginya, sedangkan hatinya bukan milik Tia lagi.” Tangisan Tiara makin pilu.

“Apa maksud kamu, Sayang?” Sang ibu menggenggam jemari putrinya.

“Mas Bayu sudah memiliki wanita lain yang kini mengandung anaknya. Dia selalu bilang kalau Tia tidak mampu memberikan keturunan untuknya.”

Uek!

Tiba-tiba Tiara merasa mual. Ia pun langsung berlari ke dalam rumah menuju kamar mandi. Bu Laras segera menyusulnya. Wanita paruh baya itu mengernyitkan dahi sambil menebak apa yang terjadi terhadap Tiara.

“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Bu Laras.

“Nggak tahu, Bun. Akhir-akhir ini Tia sering mual, mudah lelah, dan selera makan menurun.” Tiara memberikan penjelasan kepada ibunya sambil mengusap air mata yang belum berhenti menetes.

“Bayu nggak lihat perubahan kamu?”

“Nggak, Bun. Dia sering nggak di rumah dan selalu kasih alasan lembur. Tia berusaha untuk tetap percaya walaupun ada rasa curiga. Ternyata dugaan itu benar, Mas Bayu sudah berkhianat di belakang Tia.”

“Dasar laki-laki nggak tahu diri!” Bu Laras kesal dan marah. “Udah berapa lama kamu nggak datang bulan?” tanya wanita paruh baya itu.

Tiara sangat ingat kalau dirinya sudah tiga bulan tidak kedatangan tamu rutin tersebut. Oleh karena itu, ia ingin menyampaikan hal itu kepada Bayu. Namun, sebelum harapan itu terucap, laki-laki yang pernah menikahinya tersebut telah mengucapkan kata cerai.

“Kamu hamil, Sayang. Bunda yakin. Kenapa kamu tidak memberitahukan kepada Bayu kalau kamu sering mual?” Bu Laras kembali membuka suara.

“Saat itu Tia masih ragu, Bun. Belum yakin sepenuhnya.”

“Kasihan kamu, Sayang.” Wanita itu meraih tubuh Tiara, lalu memeluknya.

Bu Laras sangat yakin kalau putri bungsunya sedang hamil. Untuk lebih memastikan keyakinannya, ia pun meminta asisten rumah tangga mereka membeli alat tes kehamilan di apotek terdekat. Ternyata setelah Tiara menggunakan benda itu, menunjukkan dua garis merah.

🏵️🏵️🏵️

Tiara dihadapkan pada perasaan tidak menentu. Di satu sisi, ia sangat bahagia karena akhirnya mendapat anugerah terindah setelah lima tahun menikah. Namun, di sisi lain, ia juga bingung harus bagaimana menghadapi kenyataan kalau calon ayah dari bayi yang ia kandung sudah tidak mengharapkan dirinya lagi.

Bu Laras sangat iba melihat air mata putrinya. Ia pun mengusap bening kristal yang sulit untuk dibendung itu. Ia tidak pernah menyangka kalau anak bungsu yang dulu sangat dimanja, harus menanggung penderitaan sesulit ini.

Pernikahan yang baru berjalan lima tahun, akhirnya harus kandas karena adanya orang ketiga dan ketidaksabaran Bayu untuk menunggu kehadiran buah hati dalam rumah tangganya. Kini, Tiara harus menghadapi sendiri kenyataan yang ada di depan mata.

Pak Arif dan Bu Laras berpikir keras agar dapat menemukan jalan keluar untuk situasi yang Tiara hadapi saat ini. Kedua orang tua itu sudah memutuskan agar putri tercinta mereka tidak kembali lagi kepada Bayu yang sudah tega memberikan penderitaan.

Saat ini, Pak Arif dan Bu Laras sedang menenangkan Tiara di ruang keluarga. Sudah beberapa jam tiba di rumah orang tuanya, tetapi air mata Tiara masih sulit untuk dihentikan. Ia terus jatuh membasahi pipi hingga matanya terlihat sembab.

“Bayu benar-benar keterlaluan. Semoga dia mendapatkan balasan atas apa yang dia perbuat pada Tiara.” Bu Laras sangat marah mengingat perbuatan Bayu kepada putrinya. Sementara Pak Arif hanya terdiam untuk memikirkan jalan keluar yang harus ditempuh.

“Apa yang harus Tia lakukan, Bun?” Tiara bertanya kepada ibunya.

“Sabar, ya, Sayang. Ayah dan Bunda sedang memimirkan solusinya. Tapi yang pasti, kamu jangan pernah kembali pada laki-laki itu. Dia juga nggak perlu tahu tentang anaknya. Ayah dan Bunda masih sanggup untuk membiayai hidupmu dan calon cucu kami.” Bu Laras berusaha memberikan semangat kepada putrinya.

Tiara sangat terharu mendengar ungkapan yang disampaikan ibunya. Ia merasa bersyukur memiliki ayah dan ibu yang selalu ada untuknya saat sedang mengalami masa sulit seperti saat ini.

“Terima kasih, Yah, Bun. Tia nggak tahu harus gimana kalau Ayah dan Bunda tidak menguatkan Tia. Tia janji akan berusaha kuat dan tegar demi anak ini.” Tiara mengusap perutnya.

Bu Laras tidak kuasa melihat kesedihan di wajah putrinya. Ia memilih menjauh dan mencari alasan. Ia mengaku akan menyiapkan makan malam. Setelah di ruang makan, Bu laras pun menitikkan air mata yang sejak tadi ia tahan.

“Ibu kenapa nangis?” Bu Laras terkejut mendengar suara asisten rumah tangganya.

================

Bab 3

🏵️🏵️🏵️

“Nggak apa-apa, Bik.” Wanita itu berusaha tersenyum dan mengelak.

“Ibu yang sabar, ya. Saya dapat merasakan apa yang Ibu pikirkan saat ini.”

Bu Laras kembali terkejut, ia tidak mengerti kenapa Bi Inah berusaha menguatkan dirinya. “Bibik sudah tahu tentang Tiara?” Ia bertanya untuk memastikan apa yang membuat Bi Inah bersikap seperti itu.

“Iya, Buk. Maafkan saya karena tidak sengaja mendengar pembicaraan Ibu dan Bapak tadi.” Ternyata Bi Inah sudah mengetahui apa yang menimpa Tiara saat ini.

“Saya bingung harus gimana, Bik. Kasihan Tiara. Saya tidak sanggup melihat kesedihan di wajahnya. Saya berusaha kuat di depannya, Bik. Padahal, hati kecil saya sangat sakit.”

“Saya juga terkejut saat mengetahui Den Bayu menceraikan Non Tiara. Wanita lembut dan cantik seperti dirinya, tidak pantas disakiti.”

“Tapi inilah kenyataannya, Bik. Anak saya sekarang menderita.”

Beban pikiran Bu Laras terasa berkurang sedikit setelah bercerita kepada Bi Inah. Ia sangat tahu dan mengenal asisten rumah tangganya tersebut yang amat peduli dengan keluarga sang majikan. Bu Laras sudah menganggap Bi Inah seperti keluarga sendiri.

🏵️🏵️🏵️

Setelah makan malam dan menunaikan salat Isya. Tiara memasuki kamar yang dulu sangat setia menjadi saksi atas keceriaannya sebelum memilih menikah dengan Bayu. Ia menghempaskan tubuh ke tempat tidur. Ia masih merenungi kejadian yang menimpa dirinya saat ini.

Ia tidak pernah menyangka akan bercerai di usia pernikahannya yang baru menginjak lima tahun. Bayu yang dulu sangat mencintai dirinya, kini telah berubah menjadi sosok yang kejam dan tidak memiliki belas kasihan sama sekali.

Bayu bukan lagi laki-laki yang dulu bersikap mesra dan romantis kepada Tiara, padahal kebersamaan mereka tidaklah sebentar. Setahun menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih dan lima tahun terikat dalam pernikahan.

Akan tetapi, beberapa bulan terakhir ini, Tiara ternyata sudah merasakan perubahan yang terjadi terhadap Bayu. Laki-laki itu sering pulang larut malam, bahkan kadang tidak kembali ke rumah dengan alasan lembur karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

“Kemeja kamu, kok, wangi parfum cewek, Mas?” tanya Tiara beberapa bulan yang lalu kepada Bayu saat dirinya menghidu aroma minyak wangi yang berbeda dari biasanya.

“Namanya juga di kantor, banyak karyawati. Mungkin nggak sengaja bersentuhan, aroma parfum yang mereka gunakan menempel di kemeja.” Tiara berusaha percaya, tetapi ia tetap merasa tidak tenang.

Bukan sekali atau dua kali hal itu terjadi. Hampir setiap hari, Tiara mencium minyak wangi perempuan di kemeja Bayu. Aroma itu tetap sama hingga ia mulai menaruh curiga terhadap laki-laki itu. Namun, ia memendam semuanya karena Bayu tetap bersikap lembut saat itu.

Sekarang Tiara baru menyadari bahwa sikap dan perubahan Bayu yang ia rasakan ternyata menyimpan aroma pengkhianatan. Bayu dengan tega bermain api di belakangnya. Laki-laki itu pun justru memberikan alasan yang menyakitkan karena Tiara tidak mampu melahirkan anak untuknya.

Saat Tiara benar-benar mengandung anak yang selama ini diharapkan oleh dirinya dan Bayu, justru perpisahan yang terjadi. Namun, ia tidak ingin memberitahukan kehamilannya kepada laki-laki yang telah berbuat jahat kepadanya. Ia ingin membesarkan calon buah hatinya sendirian tanpa seorang suami.

Tiara kembali meratapi penderitaan yang Bayu berikan kepadanya. Sementara itu, laki-laki yang sudah mengucapkan kata cerai kepada Tiara, saat ini sedang tertawa dengan Lisa, istri barunya. Terpancar kebahagiaan di wajah Bayu saat berbaring bersama wanita itu.

“Mas, aku boleh minta sesuatu?” Lisa merengek di samping suaminya.

“Mau minta apa, Sayang?” Bayu dengan lembut membalasnya.

“Aku ingin agar semua barang-barang mantan istri kamu segera dibuang dari rumah ini. Aku nggak mau kalau kamu masih mengingat tentang dia. Cukup aku dan anak kita yang ada di hatimu.” Lisa mengusap pipi suaminya.

“Iya, Sayang. Apa pun yang kamu minta, pasti aku turutin. Kamu nggak perlu meragukan hatiku lagi. Aku sudah membuktikan kalau aku mampu mengusirnya dari rumah ini dan menjadikan kamu ratu di istana cintaku. Untuk apa aku mengingat wanita yang tidak mampu melahirkan anak untukku?” Bayu berkata seperti itu seolah-olah tidak ingat lagi tentang kenangan dan kebersamaan dengan Tiara.

“Terima kasih atas cintamu, Mas. Aku bangga dan bahagia menjadi istrimu.” Lisa menunjukkan sikap manja di depan suaminya.

Bayu langsung terbuai dengan sentuhan yang diberikan oleh wanita tersebut. Ia tidak ingat lagi dengan kemesraan yang pernah ia lakukan bersama Tiara di tempat tidur itu. Ia telah tergoda dengan pesona yang dipancarkan Lisa. Ia tidak menyadari bahwa paras Tiara jauh lebih cantik daripada wanita yang kini bersamanya.

============

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED