Di tempat kami, ada gunung yang sering didatangi oleh para pecinta alam.
Dari luar pulau, kota, banyak yang datang untuk mendaki menaklukan gunung itu.
Tetapi, walau gunung tersebut sangat ramai dikunjungi. Tetap, alam banyak menyimpan rahasia dan misteri.
Kata Kakek dan Nenek buyutku.
Gunung itu dinamai Gunung Pengantin, karena terkenal dihuni oleh salah satu hantu wanita. Memakai baju putih, panjang, layaknya seorang pengantin.
Hal tersebut sangat dipercaya dari dahulu sebelum dan bahkan sesudah tempat kami menjadi seramai ini penduduknya.
Mitos dan menurut orang zaman dulu di desa, ada gadis muda yang baru saja menikah enam bulan, diketahui kalau mertuanya selalu menuntut untuknya hamil.
Lantaran dia belum juga hamil, ada kata-kata dari mertuanya yang menyakiti hati si Gadis. Sehingga Gadis itu nekat keluar dari rumah, dan berlari menuju gunung. Lantaran suaminya juga tidak ada sedikitpun membelanya, meski tahu kata-kata ibunya sangat menyakiti dia yang sebagai istri.
Katanya, ketika disusul dan dicari oleh orang tua si gadis dengan bantuan warga. Sampai lebih dari seminggu pencarian, mereka sama sekali tidak pernah menemukan si Gadis.
Hingga keputusan terakhir adalah diikhlaskan, dan dipercaya telah meninggal di sana karena tersesat, lalu kelaparan dan kehausan, sebab lama tidak ditemukan.
Beberapa tahun, gunung tersebut dijadikan sebagai gunung sarana pendakian. Karena keindahan alam, juga sumur yang ditemukan di dekat curug. Di sepanjang jalur Pos Ipar menuju pos terakhir, yaitu Pos Buyut dikelilingi bunga Primula/bunga kunci dan bunga kantung semar, yang menjadi salah satu pemandangan indah untuk para pendaki.
Berita menyebar, dan memperkuat asal-usul gunung Pengantin, karena banyak para pendaki yang mengaku, melihat sosok gadis, memakai baju putih seperti pengantin.
Cukup banyak juga para pendaki mengaku, sosok perempuan itu mendatangi salah satu dari mereka, lalu bertanya.
"Bisa carikan saya anak?"
Sang pendaki yang ditanya setelahnya, hampir kebanyakan menjadi linglung, dan merasakan kesedihan, apalagi jika sang pendaki adalah perempuan, mereka akan menangis histeris, merasakan sedih yang begitu mendalam tanpa tahu sebabnya apa.
Sejak saat itu, para penduduk meyakini sosok hantu gadis itu adalah Gadis Pengantin yang melarikan diri ke gunung dan menghilang.
Para penduduk menghimbau, anak-anak tidak boleh bermain di dekat Gunung Pengantin ketika menjelang petang.
Dikarenakan, tidak mau ada sesuatu yang buruk terjadi.
****
Namaku, Bima. Umurku, 11 tahun.
Aku terlahir dari keluarga yang kurang mampu, sehingga untuk jajan saja orang tuaku tidak bisa memberikanku uang walau hanya dua ribu rupiah.
Bisa makan saja sangat beruntung.
Suatu hari, sekitar jam satu siang.
Aku tengah mencari kayu bakar di Gunung Pengantin.
Kata Bapak, dan Ibu aku tidak boleh ke sana. Tetapi, jiwa penasaranku membantah larangan itu. Sehingga aku tetap pergi, dan nyatanya tidak pernah terjadi apapun sampai saat ini.
Kuceritakan pada Ibu dan Bapak, bahwa aku mencari kayu bakar di gunung tersebut.
"Kamu! Kok yo dibilangin ngeyel banget, to, Le!"
Awalnya, mereka memarahiku. Namun, karena setiap hari aku membuktikan kalau siang hari itu tidak ada apa-apa di sana.
Mereka pun pasrah, dan mengizinkanku.
Dengan syarat, jam empat sore, harus sudah berada di bawah kaki gunung.
Seperti biasa, saat sedang mencari kayu bakar. Aku melihat dan tak jarang menemui rombongan orang mendaki.
Setelah kuperhatikan, aku memiliki ide untuk menjual air minum pada mereka.
Di gunung itu, ada sebuah sumur. Yang airnya sangat sangat jernih dan bahkan orang-orang yang ke sana bisa mengambil dan meminum langsung. Airnya dingin, dan segar. Seperti air yang disimpan dalam botol kendi.
Akan tetapi, karena letak sumur itu lumayan jauh dari jalur pendakian. Sehingga banyak juga orang yang malas ke sana.
Beberapa hari kemudian, aku mencoba menjual lima botol air yang kuambil dari sumur itu. Menggunakan botol bekas yang sudah kucuci bersih dengan sabun, lalu kubersihkan lagi dengan air panas. Entahlah, kutiru saja cara membersihkan botol seperti Bibi yang mencuci dot milik Tika-bayi tiga bulan, keponakanku.
Tak kusangka, semuanya laku terjual. Satu botol berukuran sedang, aku jual 2 ribu saja.
Pada hari itu, untuk pertama kalinya. Aku bisa memegang uang 10 ribu hasil jualan sendiri. Langsung kupakai untuk jajan separuh, dan sisanya kuberikan pada Ibu.
Sampai saat ini, aku melakukan kebiasaan itu. Sembari mencari kayu bakar, sambil berjualan.
****
Aku tidak akan naik sampai puncak, tapi akan berhenti dan mangkal di pos keempat yaitu Pos Mantu Lanang.
Kebiasaanku di sana, sampai dihapal oleh para pendaki yang lewat. Mereka merasa terbantu, dengan adanya aku yang berjualan air, karena tak akan susah untuk berjalan ke lokasi sumur yang jaraknya cukup jauh dari jalur pendakian.
Seperti biasa siangnya aku bersiap naik ke Gunung Pengantin untuk berjualan dan sekalian mencari kayu untuk Ibu.
Tiba-tiba teman mainku yang bernama Alif datang menghampiri.
"Mau ke mana, Bim?"
"Biasa, jualan air sama sekalian nyari kayu bakar buat Ibu," jawabku.
Alif ini, adalah anak korban perceraian. Kedua orang tuanya pergi entah ke mana setelah berpisah, yang jelas aku tahu Alif sekarang tinggal dengan paman dan bibinya.
Paman dan bibinya juga memiliki dua anak yang masih kecil, keenomian membuatnya tak jauh berbeda denganku.
Jarang jajan, atau bisa dikatakan tidak pernah jajan.
Rumah kami berdekatan, hanya bersebrangan di antara jalan setapak yang biasanya dilewati pendaki berjalan kaki, bagi yang tidak mau menyewa jasa ojek untuk menuju pos satu, yaitu Pos Bapak Mertua. Mereka akan lewat jalan itu, dan secara melewati rumahku dan rumah pamannya Alif.
Sering kulihat dia dimarahi dan disuruh-suruh oleh paman dan bibinya. Karena rumah kami dekat Jadi, aku sering melihatnya saat hal itu terjadi.
Hari itu, Alif meminta untuk ikut karena dia ingin punya uang sendiri untuk jajan.
Aku pikir, ada teman itu menjadi asik. Jadi aku mengizinkannya.
Dari siang sampai jam empat sore, kami berjualan dan Alif juga membantuku mengumpulkan, membawa kayu sampai rumah.
"Lif, ini buat kamu," kusodorkan uang sepuluh ribu padanya. Dan aku memegang 15 ribu.
Dia tampak senang, sampai kebiasan kami jadi keterusan, dan terus berjualan bersama.
Satu hari itu, kami turun dari gunung terlalu sore. Biasanya jam empat kami sudah ada di pos kedua, Pos Ibu Mertua.
Estimasi Pos 2. Ibu Mertua ke Pos 4. Mantu Lanang memakan waktu kurang lebih tiga jam, tetapi saat ini sekitar jam empat sore. Kami berdua malah baru mau turun dari Pos Mantu Lanang, karena lupa waktu, terlalu asik mengobrol.
"Bim, kita kesorean ini pulangnya. Nanti sampe bawah pasti udah gelap," ujar Alif yang berjalan di belakang, Kami turun gunung sambil memikul masing-masing seikat ranting kering yang kami kumpulkan.
"Iya, ayo cepetan jalannya," balasku, mempercepat langkah.
Anehnya, setelah kami berjalan cepat. Aku justru merasa kami berdua tidak sampai-sampai di bawah.
Seketika, perasaanku tak enak. Segala pikiran negatif, dan bayangan tak menyenangkan muncul secara tiba-tiba di benakku.
Cahaya matahari perlahan sudah hilang, dan tiba-tiba Alif menyuruhku berhenti sejenak setelah berjalan turun ngebut, kurang lebih satu jam sudah ada hampir sampai di pos tiga, Pos Ipar.
"Berhenti dulu, Bim!"
"Apa?" Aku menoleh, dengan mata sipit karena keringat yang masuk ke mata. Sehingga membuat perih. Ditambah, ranting-ranting di atas pundak serasa semakin berat.
"Aku denger suara Ibuku manggil!"
"Hah?" Aku terkejut, ibunya manggil katanya?
Berdiri menjaga keseimbangan tubuh sembari satu tangan merangkul ranting-ranting kayu yang kupikul. Sedangkan satu tangan lagi, berpegangan pada tumbuhan liar yang kuyakini cukup kuat.
"Aku denger suara Ibuku, Bim!" Alif berkata lagi, padahal ungkapan awalnya saja belum aku jawab.
Alif mulai mengendarkan mata, tetapi tetap sembari memegangi ikatan ranting yang ada di atas pundak.
"Bukan Ibumu, Lif. Kita di gunung, mana ada suara orang dari bawah manggil ... lagian, ibumu juga bertahun-tahun nggak pulang. Masa iya, sekarang kamu denger suara ibumu?" jawabku. Tanpa bisa kutahan lagi, bulu kuduk di tubuh mulai meremang.
"Tapi, aku bener-bener dengar suaranya. Apa iya, ibuku pulang terus nyusulin aku ke sini karena belum pulang, ya?" katanya.
"Nggak mungkin menurutku, Lif." Aku berusaha untuk membuat Alif melupakannya, dan lanjut berjalan turun untuk pulang.
Sebab, waktu akan terus berjalan walau kami tetap berhenti.
Akan semakin gelap, dan belum tentu aku dan Alif bisa turun dengan benar karena tidak adanya alat penerangan.
"Udah, ayo kita pulang. Sebelum malem. Itu bukan ibumu, bukan," kataku.
"Tuh! Denger nggak? Itu bener-bener suara ibuku, Bim!" Nada suaranya bersungguh-sungguh, seakan dia telah merasa sangat rindu.
"Lif! Nggak mungkin itu ibumu. Dari Pos 1-Bapak Mertua sampe sini itu sekitar empat jam, loh! Ayo kita pulang, nanti kita makin malem! Iya kalo ketemu pendaki di jalan, kalo enggak?
Udah, kamu salah denger itu!"
"Aku nggak salah denger! Kamu coba dengerin baik-baik!"
Aku terdiam, mencoba mendengarkan.
Kayu di atas pundak semakin lama semakin berat, dan membuat pundak sakit.
Aku mengerti, seberapa rindunya dia pada ibunya. Tetapi, yang benar saja dia dengar suara ibunya memanggil sedangkan aku tidak mendengar suara orang selain suaraku dan Alif yang berdebat.
Alif masih saja mengedarkan pandang, mungkin mencari-cari dari mana arah tepat suara yang dia dengar.
Sedangkan aku tetap diam sembari mulai khawatir dan terus merinding, mengingat waktu makin terulur.
"Lif ...." Aku bingung, melihat Alif menurunkan kayu dari atas pundaknya, aku pun ikut-ikutan menurunkan kayu yang kupikul.
Menatap Alif yang tiba-tiba menatap ke satu arah lurus.
"Bima! Itu ibuku! Itu ibuku, Bim!"
Aku melihat ke arah yang ditunjuk Alif, tetapi tak melihat seorangpun.
"Mana?!" tanyaku, sebab mulai emosi karena merasa ini akan menjadi tambah lama.
"Itu!" Dia menunjuk ke arah yang tetap.
"Ibuuuu!"
"Alif!" Aku mengejar Alif, yang tiba-tiba saja berlari. Terus kupanggil sampai sendal yang kupakai putus, karena rumput dan akar pohon liar yang kuterobos begitu saja.
Saat sendalku putus, aku sempat berhenti, berniat memperbaiki mungkin saja masih bisa dipakai lagi. Akan tetapi, ketika aku melihat Alif berlari makin jauh, aku jadi melupakan niat tentang sendal dan memilih lanjut berlari mengejarnya tanpa alas kaki.
"Tunggu, Lif!"
Tubuh Alif makin tak terlihat, aku sudah terlalu jauh tertinggal di belakang.
Tumbuhan liar, dan zona tanah yang tidak rata pada gunung membuat aku yang sebenarnya bisa berlari cepat, menjadi lambat, karena harus melompati semak, juga menyibak tanaman untuk melihat jalan.
Sampai akhirnya, aku melihatnya, di depan sana. Alif memeluk sosok perempuan yang membuatku langsung berhenti melangkah.
Bisa aku tebak, rambutnya sepanjang betis, gaun putih, kulit pucat. Sedang mengelus-elus belakang kepala Alif.
Dadaku berdebar hebat, dengan menahan ragu aku terus melangkah pelan. Sembari gemetaran, aku memberanikan diri memanggil Alif.
"Lif! Alif! Itu bukan ibumu, ayo kita pulang, nanti kamu dicariin sama Pamanmu."
Alif menoleh padaku dengan mata basah, dan senyuman, diselingi suara ingus layaknya bocah yang habis menangis.
Dari cara Alif menatapku, seolah dia meyakinkanku kalau itu memang ibunya, dan ketika aku berusaha melangkah untuk mendekat lalu menarik Alif.
Tiba-tiba, di belakang wanita itu, muncul sesosok tubuh besar yang terjun mendarat dari atas pohon. Berbulu lebat, badannya besar dan tinggi.
Reflek aku berteriak dan berbalik, lalu lari kencang meninggalkan Alif.
Menerobos kembali rumput dan tumbuhan liar, sampai kakiku tersandung tumbuhan, dan membuatku jatuh terjerembab. Masuk ke dalam semak. Tubuh kecilku langsung tenggelam begitu saja.
Bau tanah, dan tumbuhan khas tercium begitu jelas. Aku tak langsung bangun, tapi duduk dengan napas tak stabil, melihat ke arah Alif.
Sosok wanita itu membawa Alif berjalan bersamanya. Pergi, entah ke mana.
Namun, dari arah jalan yang mereka ambil, mereka sedang menuju curug dan sumur tempat aku mengambil air, bersama Alif untuk dijual.
Pikiran kacau, baju basah karena keringat. Tangan gemetaran, ketika aku melihat bayangan hitam dengan suara yang sangat gampang dikenali. Tengah berjalan ke arahku.
Grk ... Grok!
Itu bab1 hutan.
Sontak aku menangis dalam diam, aku berdo'a meminta keselamatan pada Tuhan, di antara tumbuhan liar yang menutupi penuh tubuhku.
Beruntung, tak lama hewan buas itu hanya lewat, juga sama sekali tidak menyadari keberadaanku.
Segera aku bangkit, hutan sudah mulai gelap. Tetapi, masih ada cahaya remang yang membuatku masih bisa melihat. Berdiri sambil berpikir.
Apakah aku akan nekat pulang dan meninggalkan Alif? Lalu bagaimana aku akan berkata pada Paman dan bibinya? Juga, aku pasti dimarahi oleh orang tuaku karena telah lalai atas peringatan. Apalagi terjadinya hal seperti ini, jelas aku takut, dan bingung dalam satu waktu.
Sudah kuputuskan, aku kembali menyusul Alif. Mengikuti ke arah wanita itu membawa Alif.
"Alif! Aliiif!" Sembari berjalan, melihat kanan kiri. Kupanggil dia.
Hingga, harapan muncul begitu melihat Alif di depan sana. Tak jauh, di tepi curug.
Aku tak langsung menghampiri, melainkan diam berjongkok, karena heran melihat Alif yang tidak memakai baju. Hanya celana saja.
Di sana juga ada sosok wanita yang membawa Alif, sedang duduk di batu. Sedangkan Alif, berjongkok.
Sosok wanita itu menyerok air dari curug menggunakan gayung batok kelapa. Aku melihat, sosok wanita tersebut memandikan Alif.
Dari atas kepala, air diguyurkan ke tubuh Alif. Aku menahan napas, kala sosok wanita itu tiba-tiba berhenti menyiram Alif, dan justru malah melihat ke arahku.
Hampir pingsan dan kembali lari, ketika wajah wanita itu begitu hitam legam. Dengan mata bulat tanpa kelopak, dari semua warna kulit hitam wajahnya, bola mata putihnyalah yang paling menonjol. Juga terlihat, garis lengkung dari mulutnya yang tersenyum menyeramkan padaku.
Tak berapa lama, aku lihat Alif kembali memakai baju. Dia berjalan ke arahku, seakan tahu aku ada di sini sejak tadi.
Padahal, Alif sama sekali belum menoleh ke arahku dari tadi aku datang menyusul.
"Ayo, Bim," ajaknya. Aku terbengong, melihat tingkah Alif. Seperti sudah tak terjadi apa-apa.
"Lif, kita mau ke mana?" tanyaku, mengikuti di belakang.
"Pulang, kan?" jawabnya.
"O-oh, iya," jawabku, walau sebenarnya ada pertanyaan di benak. Tentang, kenapa hantu wanita itu memandikan Alif. Dan kenapa dia tidak terlihat takut sedikitpun.
Kami turun gunung berdua dalam ketemaraman yang begitu sunyi sepi, benar-benar tak bertemu satu orang pendaki sekalipun. Alif juga tak berkata apa-apa selama kami berjalan.
Aku mengikutinya tanpa sendal, sementara dia berjalan biasa, tak ada basa-basi seperjalanan kami.
Anehnya, aku merasa kali itu kami cepat sampai di bawah, di pos Bapak mertua. Mungkin, hanya memakan waktu 15 menit.
Padahal, seingatku. Harusnya bisa sampai kurang lebih, tiga jam sampai di bawah dan tentunya. Aku juga sempat terpikirkan bagaimana caranya turun, kalau tak bertemu pendaki, secara kami tak ada alat pencahayaan.
Bahkan, kami tak membawa ranting yang sudah kami tinggalkan.