Bab 2

Aku menguap entah untuk yang ke berapa kalinya, melirik jam di pergelangan tanganku, masih pukul lima pagi dan aku sudah sampai di terminal satu bandara SoeTa. Pagi ini adalah hari pertamaku penugasan keluar kota dan nampaknya aku yang paling pertama datang dibanding rekan teamku yang lain. Pesawat pukul tujuh pagi menuju Yogyakarta, seharusnya kami sudah check in tapi belum terlihat batang hidung siapapun. Udara pagi dan ac bandara ditambah suasana yang masih sepi membuat tubuhku sedikit kedinginan. Untung saja aku mengenakan cardigan jeans kesayanganku.

Walau ngantuk, aku merasa bersemangat, aku terbiasa pergi liburan dengan kedua orangtuaku. Dan sekarang pekerjaanku menuntut untuk pergi keluar kota, anggap saja sekalian liburan sendirian. Lima belas menit kemudian mulai terlihat rekan-rekan yang ku kenal. Ada mba Silvy, mas Andreas, Leon yang seumuran denganku.

"Pak Tian mungkin agak telat katanya, kita disuruh boarding duluan. Dia semalam baru sampai dari Semarang." sahut Mas Andreas menjelaskan.

Kami hanya manggut-manggut. Aku belum pernah bertemu dengan Head Team ku. Seminggu kemarin bekerja aku berusaha membaur dengan rekan satu teamku dan sepertinya mereka bisa menerima kedatanganku.

Satu jam kemudian kami sudah menunggu di ruang check in, hingga tidak lama kemudian terdengar panggilan untuk penumpang pesawat jurusan Yogyakarta. Sampai saat itu pun head team kami belum sampai. Semua merasa cemas kenapa pak Tian terlambat. Kami berjalan ke arah pesawat sampai duduk di bangku kami. Aku duduk bersama Leon di barisan tiga kursi. Leon duduk di dekat jendela, aku di tengah. Sedangkan mba Silvy dan mas Andreas di seberang lorong yang berisi dua kursi.

Kami sedang memakai seatbelt saat suara lega mas Andreas menyapa seorang pria. "Pak Tian!"

Saat aku hendak menoleh tasku jatuh, jadi aku kembali membuka seatbelt dan membungkuk meraih tasku.

"Pak, telat tumbenan?" sahut mba Silvy.

"Iya, sorry ya. Semalam larut banget balik dari Semarang, kesiangan bangun. Hape juga lowbatt."

Jantungku berdetak kencang, aku seperti pernah mendengar suara ini tapi aku harap dugaanku salah.

"Pantesan di telepon susah Pak." sahut mba Silvy lagi.

"Halo." Pria itu terdengar menyapa Leon, aku merasakan gerakan tangan di atas punggungku yang membungkuk, rasanya aku tidak ingin menegakkan tubuhku. Aku tidak ingin masuk ke dalam dunia mimpi yang selama ini hanya ada di malamku. Suaranya sama persis dengan ...

Aku menahan napas dan dengan perlahan mendongak, menatap dari ujung sepatunya dan terus ke atas, bola mataku terbelalak dan mulutku terbuka saat dengan jelas melihat wajah pria yang sedang memasukan barang bawannya di bagasi cabin di bagian atas pesawat.

Astaga!!!

Itu dia!!!

Aku kembali menuduk dan memejamkan mataku. Astaga.. mimpi apa aku? Kenapa dia ada disini? Dan ... dan ... Astaga!

"Greet, ngapain lo?" Leon menatapku aneh. Aku tersentak dan menegakkan tubuhku.

"G-gapapa Yon, i-ini tas gw..." Aku melirik ke arahnya dan pandangan kami bertemu.

Deg ...

Deg deg ...

Deg ...

Aku tahu, dibalik eskpresi tenangnya, sedetik lalu dia sama terkejutnya denganku. Lidahku rasanya kelu tidak bisa berkata apa-apa. Aku tidak tahu apakah dia mengenaliku atau tidak.

Ah, bodoh kamu Greet, tentu saja dia mengenalimu! Berapa banyak cewek gendut didalam hidupnya? Mungkin hanya kamu!!

Aku menelan salivaku saat dia berdehem kemudian mengulurkan tangannya.

"Hai. Saya Tristian. Head team kamu."

Aku mengulurkan tanganku ragu, mengepalkannya hingga jarak tangan kami semakin dekat dan menjabat tangannya.

"S..saya.. Greet, Pak."

Entah perasaanku atau memang dia menggenggam lebih erat daripada cara bersalaman pada umumnya, dan dengan tergesa aku menarik tanganku. Tidak ingin berlama-lama bersentuhan dengannya.

Lalu dia duduk di kursi sebelahku, berbincang dengan rekan lainnya. Sedangkan aku merasa kikuk, aku berharap perjalanan Jakarta-Yogyakarta ini hanya lima menit saja, aku memejamkan mataku terus berdoa agar Tuhan mau bekerja sama membangunku dari tidur jika saat ini memang aku bermimpi, dan ini mimpi buruk yang tidak aku inginkan.

Leherku terasa kaku saat kami tiba di bandara Adi Sutjipto pukul sembilan pagi. Aku duduk dengan tegang disepanjang penerbangan. Bagaimana tidak tegang, orang yang paling tidak ingin aku temui di dunia malah duduk disampingku, bicara seolah-olah kami baru bertemu sekarang.

Hei, apa yang aku harapkan?

Aku mengetuk kepalaku merasa bodoh. Tristian menyarankan kami untuk sarapan terlebih dahulu karena kami akan langsung bekerja. Aku makan dengan tidak selera padahal jam sarapannya sudah lewat dari jam makan pagiku dan harusnya aku merasa lapar. Tapi entah mengapa aku malah tidak napsu makan.

"Ngapa Greet, ga doyan gudeg lo?" Leon yang duduk didepanku memperhatikan saat kami makan di restoran masih didalam bandara. Semua mata memandang padaku.

"Emm, e-enak kok! Cuma kurang sreg aja buat sarapan pagi." sahutku beralasan. Untunglah yang lain tidak bertanya tapi anehnya Tristian menatapku lebih lama daripada yang lain.

Aku pura-pura tidak menyadari dan mengajak Leon bicara tentang pengalaman kerjanya. Untungnya pria itu terus mengoceh membuat pikiranku teralihkan.

Setengah jam kemudian kami menunggu mobil jemputan. Aku memilih duduk sendirian di belakang. Aku mengirimkan pesan pada kedua orangtuaku agar mereka tidak khawatir. Aku sedang melamun memikirkan nasibku saat terdengar suara pria itu.

"Kita bikin grup wa ya? Biar gampang komunikasinya."

Aku menelan salivaku, rencananya aku tidak ingin membiarkan dia tahu nomor ponselku, tapi tidak mungkin sih, bagaimanapun kami pasti akan kerja bareng. Aku menghela napas.

Tuhan, kenapa sih harus ketemu dia lagi? Aku harus bagaimana? Apa aku bisa mengundurkan diri? Tapi rasanya konyol banget.

Wait, kenapa aku jadi uring-uringan gini?

Greet, kamu bukan cewek yang dulu hanya jadi bahan olokan! Kamu sekarang punya tekad kuat dan niat besar untuk bekerja, jadi jangan ciut nyali gara-gara orang ga penting kaya dia!

Aku manggut-manggut mendengar semangat membara dari pikiranku sendiri. Aku menegakkan kepalaku, menatap dari belakang pria itu.

Dia-dia, Gw-gw!

"Greet ...."

"Hah?" Aku tersentak saat semua kepala berputar menatapku.

"Nomor handphone kamu ..." sahut Tristian.

Aku tersenyum kecut. "Ma..maaf Pak. Saya melamun." Aku menyebutkan nomor ponselku yang sejak dulu aku pakai dan tidak pernah aku ganti. Lalu tenggelam di kursiku.

Aku meremas dadaku yang berdebar saat namaku disebut olehnya. Masih sama seperti dulu jika dia memanggil namaku. Dadaku berdebar tidak nyaman saat kilasan kenangan itu muncul tapi segera ku enyahkan dari benakku.

Mereka boleh orang yang sama, tapi aku bukan Greet yang dulu. Aku harus menjaga jarak, putusku.

-tbc-

Bab 3

Empat puluh menit kemudian kami sampai disalah satu tempat wisata hits di Yogya. Sebenarnya hanya perkebunan madu, tapi ada cafe baru yang menjual makanan dan minuman serba madu, dan spot untuk foto yang pasti akan disukai pada netizen.

Aku dan Leon sebelumnya sudah mencari dan menentukan tempat apa saja yang akan kami kunjungi. Jadi tidak bingung harus kemana setelah sampai di kota kunjungan kami. Sebelumnya juga aku sudah menghubungi pengelola tempat itu dan berkata akan datang dan meminta ijin untuk meliput berita tentang tempat itu.

Hampir empat jam kami disana, mba Silvy sebagai presenter mencoba berbagai wahana yang ada, dan juga makanannya. Aku ikut tersenyum saat melihat dia berbicara dengan luwesnya di depan camera, hampir tidak pernah mengulang karena dia pintar bicara. Dia sangat berbeda jika sedang ngobrol biasa. Hebat!

Aku dan Leon mengamati gambar di layar kecil sambil menandai bagian mana yang akan kami potong. Sedikit banyak pekerjaanku sama, tapi ini lebih luas karena bukan hanya satu objek yang jadi fokus liputannya. Jadi memakan waktu lebih lama daripada saat syuting makanan saja.

Kami makan siang disana. Tristian bilang kami boleh memesan yang kami mau dan aku berubah semangat. Aku ingin mencoba jus sirsak madu dan makan steak ayam madunya. Aku memilih duduk dengan Leon sambil ngobrol dengannya. Leon bilang biasanya saat kembali ke hotel kami harus menonton lagi, lalu mulai memilih adegan yang akan dibuang. Leon itu jago soal sunting-menyunting video. Dan aku harus banyak belajar. Mereka semua sudah berpengalaman dan aku harus membuktikan kalau aku juga ahli di bidangku.

Pukul 3 sore kami sampai di hotel. Aku satu kamar dengan mba Silvy, Leon dengan mas Andreas, dan si head team sendirian. Untung kamar kami beda lantai. Malam itu Tristian mengajak kami makan keluar, tapi aku beralasan sakit perut sehingga memilih untuk stay di kamar hotel.

Mereka berempat pergi dan aku merasa lega. Entah kenapa aku merasa kewalahan, sudah lama tidak bertemu, sekarang malah bekerja bareng. Entah benar atau tidak aku sering mendapati dia menatapku. Tapi aku tidak ingin geer sendiri, mungkin dia mengamati anak buahnya dan itu hal yang wajar.

Suara ponsel berbunyi. Mba Luna yang menelepon.

"Halo mba ..."

"Hi Greet, udah di Yogya?"

"Udah mba. Ini udah di hotel." sahutku.

"Udah ketemu Tian?"

Aku terdiam menghela napas malas. "Udah mba. Tadi pagi kami ketemu pas udah masuk di pesawat."

"Telat ya dia? Dia anter oleh-oleh Semarang buatku dulu kerumah soalnya, makanya terlambat."

Aku merasakan perasaan tidak nyaman saat mendengar itu. Jadi dia terlambat bukan karena telat bangun ...

"Waah.. perhatian banget ya?" Suaraku mencicit tidak nyaman. Dan aku mendengar tawa mba Luna.

"Iya. Aku juga kaget. Eh kok kamu ga keluar makan malem Greet? Dia bilang lagi makan keluar."

Dadaku seperti tercubit, kok aneh ya?

"Iya mba, aku kecapean. Belum terbiasa sih ... dulu waktu liput kuliner kan cuma berapa jam doang. Ini lebih lama. Masih menyesuaikan." jawabku.

"Jaga kesehatan loh Greet, kalian keluar kota gitu beda ama di dalam kota. Ya udah kamu istirahat deh. Kabar-kabari ya Greet."

Aku mematikan ponsel setelah mengucapkan salam perpisahan pada mba Luna lalu merebahkan tubuhku ke ranjang. Mba Luna pernah bilang sebelum aku pindah, dia ingin aku mengenal calon tunangannya. Katanya mba Luna ingin minta pendapatku apakah dia cocok dengan Tristian.

Cocok, tentu saja cocok. Wanitanya cantik, prianya tampan. Mereka serasi secara fisik.

Tristian ...

Siapa yang tidak akan terpesona pada pria seperti dia. Aku pun pernah jatuh dalam pesonanya, dulu...

Ting tong!

Aku terkejut duduk tegak, siapa ya? Seingatku mereka sudah pergi sejak setengah jam lalu. Apa iya mba Silvy balik lagi?

Aku beranjak bangun dan mengintip dari balik lubang kecil di pintu hotel. Abang ojol? Emang aku pesan sesuatu ya? Perasaan belum deh ...

Aku membuka pintu perlahan.

"Dengan mba Greet?" tanyanya sambil membaca kertas kecil.

"Iya?" Aku menatapnya heran.

"Ini pesanannya mba." Dia menyodorkan kotak hangat didalam plastik bening tersegel.

"Saya ga pesan makanan Pak. Salah kali Pak ..." sahutku enggan menerima.

Dia mengecek ponselnya. "Dengan akun @DelmarIan mba atas nama pesanannya." Dia memperlihatkan layar ponselnya.

Aku menggigit bibirku, aku kenal betul nama akun itu. Akun yang dulu sering memesan makanan secara online. Aku menerima makanan itu dan menutup pintu setelah mengucapkan terima kasih.

Aku duduk di ranjang menghela napas. Lalu membuka makanan yang masih panas dan berasap. Bau harum dan cabe menyengat langsung tercium saat aku membuka kotaknya.

Nasi goreng iga bakar pedas. Makanan favoritku.

Apa maksudnya ini?

***

Aku mengaduk teh susu saat sarapan pagi. Semalam head team kami bilang tidak usah menyunting dulu di hari pertama kami kemarin, kami di ijinkan istirahat lebih cepat karena hari ini kegiatan kami full dari pagi hingga sore. Ada tiga tempat yang akan kami kunjungi. Aku duduk dengan mba Silvy saat sarapan.

"Udah ga sakit perut kamu Greet?"

Aku menggeleng sambil tersenyum "Udah baikan kok mba." Aku sedikit merasa tidak enak karena berbohong tapi mau bagaimana lagi, aku harus mempersiapkan hatiku supaya tidak terguncang seperti kemarin.

Jam sembilan kami mulai jalan ke daerah pesisir pantai di daerah Wonosari Gunung Kidul. Ada goa bawah tanah dan wisata pantai pasir putihnya. Cuaca sangat mendukung siang itu ketika kami sampai. Pencahayaan yang bagus membuat pengambilan gambar berjalan lancar. Mas Andreas juga hebat mengarahkan cameranya. Kami ikut turun ke bawah, Leon membantu mas Andreas membawa perlengkapannya. Dan aku memandang sedikit ngeri saat harus menuruni ke tangga batu agar sampai ke mulut goa.

Langkahku kikuk, aku memang tidak suka ketinggian. Tidak ada pegangan tangga juga saat aku berpijak untuk menjaga keseimbangan tubuhku. Aku merentangkan tanganku ke samping agar tubuhku tidak oleng. Lalu seseorang menggenggam tanganku. Aku mendongak dan pandangan kami bertemu.

"Kalau takut pegang tanganku, Greet.."

Suara dan tatapan itu, langsung melemparku ke kenangan masa lalu.

Ya masa lalu, saat dia memegang tanganku seperti ini saat kami pergi bersama ke Monas dan naik ke atasnya.

Empat tahun lalu.

-tbc-

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED