"Ha..halo perkenalkan namaku Greet, salam kenal semua, sen-senang bisa bergabung di tim ini."
Aku menahan gugup saat tersenyum, menelan saliva berkali-kali saat belasan pasang mata menatapku tajam. Entah sebenarnya tajam atau tidak, aku yang insecure selalu berpikir melebihi keadaan yang sesungguhnya. Aku menghela napas, semua semangat dan keberanian yang sedari pagi ku kumpulkan seolah menguap begitu saja.
"Baik, kalau begitu, seperti yang saya katakan tadi, Tim akan di bagi dua." Suara pria paruh baya yang Aku ingat bernama Pak Ronald terdengar. ""Team A, Leader Amanda, sama Regina presenter, camera Krisna, research sama editing Mirna n Sean." Sang Manajer, Pak Ronald menyebutkan pembagian Tim.
"Team B, Tristian sebagai Leader, tapi dia masih di Semarang. Presenter Silvy, camera Andreas, Greet n Leon research and editing. Lalu Team B, Tristian sebagai Leader, tapi dia masih di Semarang. Presenter Silvy, camera Andreas, Greet n Leon research and editing."
Jantungku mencelos sesaat. Tristian..
Aku merasa salah dengar. Tapi aku segera menggelengkan kepala mengumpulkan kembali fokusku yang buyar gara-gara nama tabu itu disebut.
Toh belum tentu orangnya sama. Emang dia doang yang punya nama itu? Asisten manajer itu pasti bukan orang sembarangan sampai bisa menjabat posisi itu, dan pastinya bukan pria itu.
Aku berusaha mengusir pikiran konyol, lalu mengikuti tur keliling kantor, mengamati setiap jengkal tempat kerja baruku dengan seksama. Tak terasa sudah jam istirahat, aku bersemangat turun ke lantai lobby dan mencari-cari orang yang sudah menungguku sedari tadi. Tiba-tiba tubuhku tertarik kebelakang saat seseorang melingkarkan tangannya di bahuku.
"Greeeet!"
"Mba Luna!"
Kami berdua berpelukan layaknya anak SMA yang sedang reuni.
"Ya ampun, akhirnya ketemu kamu lagi." Wanita cantik bernama Luna itu tersenyum sambil menarikku masuk ke sebuah kedai kopi yang ada di sudut depan lobby.
"Iya mba.. duh ga sangka aku bakal kerja lagi sama mba." Aku juga tidak dapat menahan rasa senang kembali bertemu dengan senior panutanku ini.
"Nih, aku udah ambilin kartu karwayan dan kartu akses kamu. Welcome to KG Jakarta, Greet."
Aku menatap kartu tanda pengenal karyawan yang belum sempat ku ambil dengan mata berbinar. "Repot-repot sih mba ngambilin. Padahal biar aku aja yang ambil habis istirahat ini."
"Gapapa," sahut Luna sambil mengibaskan tangannya. "kita beli kopi terus balik keruanganku aja ya, biar santai ngobrolnya disana."
Aku mengangguk, hanya membiarkan mba Luna merangkulku, Kami memang dekat seperti kakak adik walau aku merasa sedikit canggung saat kemudian banyak orang mengangguk pada mba Luna disepanjang kami berjalan menuju ke ruangannya. Mba Luna memang dikenal banyak orang, dia putri tunggal Direktur Utama KG.
"Gimana-gimana? Nervous ga?" Kami duduk di sofa minimalis saat sampai diruangan mba Luna di lantai dua puluh dua.
Mataku berkeliling takjub melihat ruangan seniorku ini, sangat cozy, serba putih, terlihat cantik seperti penghuninya. Belum lagi pemandangan kota Jakarta dari atas, wuih!
Mba Luna menyodorkan sebuah cup kopi caramel macchiato kesukaanku. Ah, mba Luna selalu saja mengingat kopi kesukaanku.
"Makasih mba." Aku menghela napas. "Nervous sih.. tapi aku yakin aku bisa."
Mba Luna mengangguk, "Orang disini baik-baik kok, ada calon tunanganku di divisi kamu. Asisten manajernya, nanti aku titipin kamu sama dia."
"Hah? Calon yang itu mba?" Aku terkejut. Mba Luna sempat bercerita kalau papanya ingin menjodohkan dia dengan anak teman bisnisnya, memang usia mba Luna yang menginjak dua puluh delapan tahun, terlihat masih santai dengan status singlenya. Dia belum mau menikah, masih mau bebas berkarir katanya.
Mba Luna mengangguk. "Iya, yang aku ceritain itu, Tian. Nanti juga kamu ketemu dia. Eh, tapi dia lagi keluar kota. Ke Semarang. Dia orangnya suka turun ke lapangan, ga cuma anak buahnya aja yang gawe."
Aku mengangguk-angguk sambil membayangkan pria seperti apa yang akan di jodohkan dengan mba Luna. Pastinya pria tampan, karena Luna itu seperti model, cantik, tubuhnya bagus tinggi semampai, rambutnya hitam legam dengan potongan modern, Aku sendiri kadang tidak percaya bisa berteman baik dengannya. Luna Maira Oetama, tiga tahun lebih tua dariku, tapi kami dekat seperti sahabat seumuran.
Mba Luna memesan makanan, dan tidak terasa satu jam berlalu saat kami asik ngobrol hingga aku terburu-buru kembali ke lantai ruanganku. Benar saja, saat sampai diruang meeting, tatapan mata salah satu head team, bu Amanda menatapku tidak suka. Salahku karena terlambat.
"Ontime. Itu hal terpenting yang harus di utamakan sebagai bagian dari team ini." Bu Amanda yang tengah bicara langsung menembakku.
"Maaf Bu." Aku hanya bisa mengatakan itu, lalu berharap dapat tenggelam ke dalam lantai tempatku berpijak. Lalu aku menyimak, sambil mengabaikan belasan tatap mata yang mendelik tajam.
Memang sulit ditakdirkan punya tubuh gemuk sepertiku, selalu jadi bahan penglihatan dan juga bahan pembicaraan, seperti sekarang, seorang pria muda menatapku dari atas ke bawah dan dua orang gadis dibelakangnya berbisik-bisik seolah membicarakanku, karena mereka selalu menghindari kontak mata saat aku menatap balik.
Hingga jam pulang kantor pun aku belum banyak bicara dengan rekan lainnya. Aku melangkah lesu keluar dari ruangan menuju ke arah lift. Ponselku berbunyi, terlihat nama mba Luna di caller idnya.
"Greet, udah kelar kerjaan?" Suara nyaring dan merdu mba Luna terdengar.
"Baru mba. Aku lagi mau turun lift. Kenapa mba?"
"Makan yuk Greet, itung-itung perayaan hari pertama kamu kerja."
"Mmm... Aku bilang Mamaku dulu ya mba." sahutku.
Setelah mendapat ijin dari Mama, aku memberitahu mba Luna. Kami janjian di lobby dan aku terkejut saat sebuah mobil BMW warna merah menyala berhenti di depannya. Jendela mobil terbuka dan aku menunduk saat namaku dipanggil. Ternyata itu mba Luna.
"Greet, ayo masuk!" Ajaknya.
Aku masuk dengan jantung berdebar, mba Luna terlihat sangat keren. "Mba Luna nyetir sendiri?"
Mba Luna melajukan mobilnya. "Iya, aku lebih suka nyetir sendiri. Kadang balik kantor aku suka kemana dulu gitu kan. Kalau pake supir ga enak, ga bebas sih tepatnya. Hehe..."
Aku ikut tersenyum, rasa kagumku pada mba Luna semakin besar, untuk ukuran anak orang kaya, mba Luna sangat mandiri. Dulu saat dia kerja di Bandung bersamaku, wanita itu memilih tinggal sendiri di apartemen.
Mba Luna memilih makan di restoran Korea setibanya di mall GI. Kami berbincang tentang banyak hal.
"Terus kapan tunangannya mba?" Aku bertanya saat mba Luna membahas tentang calon tunangannya.
"Aku masih ulur waktu, kita belum terlalu kenal. Dia juga cuek orangnya. Kayak sekarang nih lagi pergi ke Semarang, ga ada tuh ngabarin aku."
Cuek? Ke mba Luna? Ga salah? Tu cowok ga punya mata nampaknya...
"Mungkin dia ga tertarik sama aku, yah selama ini sih aku dengar banyak cewek yang antri buat jadi pacarnya, tapi ga tau juga deh. Kita kan mau dijodohin, mungkin dia udah punya pacar. Aku belum tau terlalu banyak soal dia sih Greet, kita jarang jalan juga. Tapi kalau kata orang-orang kantor sih orangnya baik. Makanya banyak yang naksir." lanjutnya lagi.
Aku merasa heran, sepertinya tidak mungkin ada orang yang tidak menyukai mba Luna, karena menurutku, mba Luna itu definisi wanita sempurna yang pernah ku temui selama hidupku. Rasanya rugi jika ada pria yang tidak mau dekat dengan mba Luna. Aku merasa jika aku terlahir sebagai seorang pria, sudah pasti aku akan jatuh cinta pada mba Luna, tanpa diragukan lagi.
"Yah, kalau jodoh ga kemana mba. Mau di jodohin kek, mau jatuh cinta sendiri kek. Mau muter-muter sedunia juga pasti bakal bersatu." Kelakarku yang berhasil membuat wajah murung mba Luna berubah.
"Greet...Greet, kamu masih aja lucu yaa.."
Kami tertawa bersama sambil melanjutkan makan. Lalu berkeliling sebentar melihat tas, mba Luna membelikanku sebuah tas mahal dengan simbol 'A' yang sudah lama ku inginkan, katanya hadiah pindah kerja. Aku merasa tidak enak tapi dia memaksa.
Setelah itu kami berpisah, aku sampai dirumah hampir sepuluh malam. Langkahku gontai saat terlihat Mama menyambutku di ruang tengah.
"Gimana hari pertama?"
Aku tersenyum masam. "Besok aja ya Mam ngobrolnya, cape."
Mama menggeleng dan mengijinkanku untuk naik ke kamar. Aku langsung menjatuhkan tubuh di ranjang.
Memang tidak ada tempat ternyaman selain didalam kamar.
Aku menghela napas dalam berpikir apakah tepat pindah di kantor yang lebih besar? Tidak ada yang tahu jika aku adalah anak salah satu Direktur disana. Aku tidak ingin di anggap bisa masuk karena hasil nepotisme andai mereka sampai tahu.
"Tidak-tidak! Aku ga boleh patah semangat, ini baru hari pertama. Lagipula ada mba Luna." Aku terduduk dan menyemangati diri sendiri. Lalu bergegas mandi. Aku merasa hari ini sangat panjang dan melelahkan
Tristian...
Nama yang pernah memberi kenangan indah tapi juga menorehkan luka. Nama yang berusaha tidak pernah ku ingat dalam benak. Aku harap tidak akan bertemu Tristian itu, Tristian atasanku bukanlah pria yang sama dari masa laluku.
Aku memejamkan mata berusaha menepis bayangan pria itu. Berharap kenangan lama itu tidak akan muncul kembali. Hingga akhirnya aku terlelap dan tidak bisa menolak saat pria itu hadir dalam mimpiku.
-tbc-
Aku menguap entah untuk yang ke berapa kalinya, melirik jam di pergelangan tanganku, masih pukul lima pagi dan aku sudah sampai di terminal satu bandara SoeTa. Pagi ini adalah hari pertamaku penugasan keluar kota dan nampaknya aku yang paling pertama datang dibanding rekan teamku yang lain. Pesawat pukul tujuh pagi menuju Yogyakarta, seharusnya kami sudah check in tapi belum terlihat batang hidung siapapun. Udara pagi dan ac bandara ditambah suasana yang masih sepi membuat tubuhku sedikit kedinginan. Untung saja aku mengenakan cardigan jeans kesayanganku.
Walau ngantuk, aku merasa bersemangat, aku terbiasa pergi liburan dengan kedua orangtuaku. Dan sekarang pekerjaanku menuntut untuk pergi keluar kota, anggap saja sekalian liburan sendirian. Lima belas menit kemudian mulai terlihat rekan-rekan yang ku kenal. Ada mba Silvy, mas Andreas, Leon yang seumuran denganku.
"Pak Tian mungkin agak telat katanya, kita disuruh boarding duluan. Dia semalam baru sampai dari Semarang." sahut Mas Andreas menjelaskan.
Kami hanya manggut-manggut. Aku belum pernah bertemu dengan Head Team ku. Seminggu kemarin bekerja aku berusaha membaur dengan rekan satu teamku dan sepertinya mereka bisa menerima kedatanganku.
Satu jam kemudian kami sudah menunggu di ruang check in, hingga tidak lama kemudian terdengar panggilan untuk penumpang pesawat jurusan Yogyakarta. Sampai saat itu pun head team kami belum sampai. Semua merasa cemas kenapa pak Tian terlambat. Kami berjalan ke arah pesawat sampai duduk di bangku kami. Aku duduk bersama Leon di barisan tiga kursi. Leon duduk di dekat jendela, aku di tengah. Sedangkan mba Silvy dan mas Andreas di seberang lorong yang berisi dua kursi.
Kami sedang memakai seatbelt saat suara lega mas Andreas menyapa seorang pria. "Pak Tian!"
Saat aku hendak menoleh tasku jatuh, jadi aku kembali membuka seatbelt dan membungkuk meraih tasku.
"Pak, telat tumbenan?" sahut mba Silvy.
"Iya, sorry ya. Semalam larut banget balik dari Semarang, kesiangan bangun. Hape juga lowbatt."
Jantungku berdetak kencang, aku seperti pernah mendengar suara ini tapi aku harap dugaanku salah.
"Pantesan di telepon susah Pak." sahut mba Silvy lagi.
"Halo." Pria itu terdengar menyapa Leon, aku merasakan gerakan tangan di atas punggungku yang membungkuk, rasanya aku tidak ingin menegakkan tubuhku. Aku tidak ingin masuk ke dalam dunia mimpi yang selama ini hanya ada di malamku. Suaranya sama persis dengan ...
Aku menahan napas dan dengan perlahan mendongak, menatap dari ujung sepatunya dan terus ke atas, bola mataku terbelalak dan mulutku terbuka saat dengan jelas melihat wajah pria yang sedang memasukan barang bawannya di bagasi cabin di bagian atas pesawat.
Astaga!!!
Itu dia!!!
Aku kembali menuduk dan memejamkan mataku. Astaga.. mimpi apa aku? Kenapa dia ada disini? Dan ... dan ... Astaga!
"Greet, ngapain lo?" Leon menatapku aneh. Aku tersentak dan menegakkan tubuhku.
"G-gapapa Yon, i-ini tas gw..." Aku melirik ke arahnya dan pandangan kami bertemu.
Deg ...
Deg deg ...
Deg ...
Aku tahu, dibalik eskpresi tenangnya, sedetik lalu dia sama terkejutnya denganku. Lidahku rasanya kelu tidak bisa berkata apa-apa. Aku tidak tahu apakah dia mengenaliku atau tidak.
Ah, bodoh kamu Greet, tentu saja dia mengenalimu! Berapa banyak cewek gendut didalam hidupnya? Mungkin hanya kamu!!
Aku menelan salivaku saat dia berdehem kemudian mengulurkan tangannya.
"Hai. Saya Tristian. Head team kamu."
Aku mengulurkan tanganku ragu, mengepalkannya hingga jarak tangan kami semakin dekat dan menjabat tangannya.
"S..saya.. Greet, Pak."
Entah perasaanku atau memang dia menggenggam lebih erat daripada cara bersalaman pada umumnya, dan dengan tergesa aku menarik tanganku. Tidak ingin berlama-lama bersentuhan dengannya.
Lalu dia duduk di kursi sebelahku, berbincang dengan rekan lainnya. Sedangkan aku merasa kikuk, aku berharap perjalanan Jakarta-Yogyakarta ini hanya lima menit saja, aku memejamkan mataku terus berdoa agar Tuhan mau bekerja sama membangunku dari tidur jika saat ini memang aku bermimpi, dan ini mimpi buruk yang tidak aku inginkan.
Leherku terasa kaku saat kami tiba di bandara Adi Sutjipto pukul sembilan pagi. Aku duduk dengan tegang disepanjang penerbangan. Bagaimana tidak tegang, orang yang paling tidak ingin aku temui di dunia malah duduk disampingku, bicara seolah-olah kami baru bertemu sekarang.
Hei, apa yang aku harapkan?
Aku mengetuk kepalaku merasa bodoh. Tristian menyarankan kami untuk sarapan terlebih dahulu karena kami akan langsung bekerja. Aku makan dengan tidak selera padahal jam sarapannya sudah lewat dari jam makan pagiku dan harusnya aku merasa lapar. Tapi entah mengapa aku malah tidak napsu makan.
"Ngapa Greet, ga doyan gudeg lo?" Leon yang duduk didepanku memperhatikan saat kami makan di restoran masih didalam bandara. Semua mata memandang padaku.
"Emm, e-enak kok! Cuma kurang sreg aja buat sarapan pagi." sahutku beralasan. Untunglah yang lain tidak bertanya tapi anehnya Tristian menatapku lebih lama daripada yang lain.
Aku pura-pura tidak menyadari dan mengajak Leon bicara tentang pengalaman kerjanya. Untungnya pria itu terus mengoceh membuat pikiranku teralihkan.
Setengah jam kemudian kami menunggu mobil jemputan. Aku memilih duduk sendirian di belakang. Aku mengirimkan pesan pada kedua orangtuaku agar mereka tidak khawatir. Aku sedang melamun memikirkan nasibku saat terdengar suara pria itu.
"Kita bikin grup wa ya? Biar gampang komunikasinya."
Aku menelan salivaku, rencananya aku tidak ingin membiarkan dia tahu nomor ponselku, tapi tidak mungkin sih, bagaimanapun kami pasti akan kerja bareng. Aku menghela napas.
Tuhan, kenapa sih harus ketemu dia lagi? Aku harus bagaimana? Apa aku bisa mengundurkan diri? Tapi rasanya konyol banget.
Wait, kenapa aku jadi uring-uringan gini?
Greet, kamu bukan cewek yang dulu hanya jadi bahan olokan! Kamu sekarang punya tekad kuat dan niat besar untuk bekerja, jadi jangan ciut nyali gara-gara orang ga penting kaya dia!
Aku manggut-manggut mendengar semangat membara dari pikiranku sendiri. Aku menegakkan kepalaku, menatap dari belakang pria itu.
Dia-dia, Gw-gw!
"Greet ...."
"Hah?" Aku tersentak saat semua kepala berputar menatapku.
"Nomor handphone kamu ..." sahut Tristian.
Aku tersenyum kecut. "Ma..maaf Pak. Saya melamun." Aku menyebutkan nomor ponselku yang sejak dulu aku pakai dan tidak pernah aku ganti. Lalu tenggelam di kursiku.
Aku meremas dadaku yang berdebar saat namaku disebut olehnya. Masih sama seperti dulu jika dia memanggil namaku. Dadaku berdebar tidak nyaman saat kilasan kenangan itu muncul tapi segera ku enyahkan dari benakku.
Mereka boleh orang yang sama, tapi aku bukan Greet yang dulu. Aku harus menjaga jarak, putusku.
-tbc-
Empat puluh menit kemudian kami sampai disalah satu tempat wisata hits di Yogya. Sebenarnya hanya perkebunan madu, tapi ada cafe baru yang menjual makanan dan minuman serba madu, dan spot untuk foto yang pasti akan disukai pada netizen.
Aku dan Leon sebelumnya sudah mencari dan menentukan tempat apa saja yang akan kami kunjungi. Jadi tidak bingung harus kemana setelah sampai di kota kunjungan kami. Sebelumnya juga aku sudah menghubungi pengelola tempat itu dan berkata akan datang dan meminta ijin untuk meliput berita tentang tempat itu.
Hampir empat jam kami disana, mba Silvy sebagai presenter mencoba berbagai wahana yang ada, dan juga makanannya. Aku ikut tersenyum saat melihat dia berbicara dengan luwesnya di depan camera, hampir tidak pernah mengulang karena dia pintar bicara. Dia sangat berbeda jika sedang ngobrol biasa. Hebat!
Aku dan Leon mengamati gambar di layar kecil sambil menandai bagian mana yang akan kami potong. Sedikit banyak pekerjaanku sama, tapi ini lebih luas karena bukan hanya satu objek yang jadi fokus liputannya. Jadi memakan waktu lebih lama daripada saat syuting makanan saja.
Kami makan siang disana. Tristian bilang kami boleh memesan yang kami mau dan aku berubah semangat. Aku ingin mencoba jus sirsak madu dan makan steak ayam madunya. Aku memilih duduk dengan Leon sambil ngobrol dengannya. Leon bilang biasanya saat kembali ke hotel kami harus menonton lagi, lalu mulai memilih adegan yang akan dibuang. Leon itu jago soal sunting-menyunting video. Dan aku harus banyak belajar. Mereka semua sudah berpengalaman dan aku harus membuktikan kalau aku juga ahli di bidangku.
Pukul 3 sore kami sampai di hotel. Aku satu kamar dengan mba Silvy, Leon dengan mas Andreas, dan si head team sendirian. Untung kamar kami beda lantai. Malam itu Tristian mengajak kami makan keluar, tapi aku beralasan sakit perut sehingga memilih untuk stay di kamar hotel.
Mereka berempat pergi dan aku merasa lega. Entah kenapa aku merasa kewalahan, sudah lama tidak bertemu, sekarang malah bekerja bareng. Entah benar atau tidak aku sering mendapati dia menatapku. Tapi aku tidak ingin geer sendiri, mungkin dia mengamati anak buahnya dan itu hal yang wajar.
Suara ponsel berbunyi. Mba Luna yang menelepon.
"Halo mba ..."
"Hi Greet, udah di Yogya?"
"Udah mba. Ini udah di hotel." sahutku.
"Udah ketemu Tian?"
Aku terdiam menghela napas malas. "Udah mba. Tadi pagi kami ketemu pas udah masuk di pesawat."
"Telat ya dia? Dia anter oleh-oleh Semarang buatku dulu kerumah soalnya, makanya terlambat."
Aku merasakan perasaan tidak nyaman saat mendengar itu. Jadi dia terlambat bukan karena telat bangun ...
"Waah.. perhatian banget ya?" Suaraku mencicit tidak nyaman. Dan aku mendengar tawa mba Luna.
"Iya. Aku juga kaget. Eh kok kamu ga keluar makan malem Greet? Dia bilang lagi makan keluar."
Dadaku seperti tercubit, kok aneh ya?
"Iya mba, aku kecapean. Belum terbiasa sih ... dulu waktu liput kuliner kan cuma berapa jam doang. Ini lebih lama. Masih menyesuaikan." jawabku.
"Jaga kesehatan loh Greet, kalian keluar kota gitu beda ama di dalam kota. Ya udah kamu istirahat deh. Kabar-kabari ya Greet."
Aku mematikan ponsel setelah mengucapkan salam perpisahan pada mba Luna lalu merebahkan tubuhku ke ranjang. Mba Luna pernah bilang sebelum aku pindah, dia ingin aku mengenal calon tunangannya. Katanya mba Luna ingin minta pendapatku apakah dia cocok dengan Tristian.
Cocok, tentu saja cocok. Wanitanya cantik, prianya tampan. Mereka serasi secara fisik.
Tristian ...
Siapa yang tidak akan terpesona pada pria seperti dia. Aku pun pernah jatuh dalam pesonanya, dulu...
Ting tong!
Aku terkejut duduk tegak, siapa ya? Seingatku mereka sudah pergi sejak setengah jam lalu. Apa iya mba Silvy balik lagi?
Aku beranjak bangun dan mengintip dari balik lubang kecil di pintu hotel. Abang ojol? Emang aku pesan sesuatu ya? Perasaan belum deh ...
Aku membuka pintu perlahan.
"Dengan mba Greet?" tanyanya sambil membaca kertas kecil.
"Iya?" Aku menatapnya heran.
"Ini pesanannya mba." Dia menyodorkan kotak hangat didalam plastik bening tersegel.
"Saya ga pesan makanan Pak. Salah kali Pak ..." sahutku enggan menerima.
Dia mengecek ponselnya. "Dengan akun @DelmarIan mba atas nama pesanannya." Dia memperlihatkan layar ponselnya.
Aku menggigit bibirku, aku kenal betul nama akun itu. Akun yang dulu sering memesan makanan secara online. Aku menerima makanan itu dan menutup pintu setelah mengucapkan terima kasih.
Aku duduk di ranjang menghela napas. Lalu membuka makanan yang masih panas dan berasap. Bau harum dan cabe menyengat langsung tercium saat aku membuka kotaknya.
Nasi goreng iga bakar pedas. Makanan favoritku.
Apa maksudnya ini?
***
Aku mengaduk teh susu saat sarapan pagi. Semalam head team kami bilang tidak usah menyunting dulu di hari pertama kami kemarin, kami di ijinkan istirahat lebih cepat karena hari ini kegiatan kami full dari pagi hingga sore. Ada tiga tempat yang akan kami kunjungi. Aku duduk dengan mba Silvy saat sarapan.
"Udah ga sakit perut kamu Greet?"
Aku menggeleng sambil tersenyum "Udah baikan kok mba." Aku sedikit merasa tidak enak karena berbohong tapi mau bagaimana lagi, aku harus mempersiapkan hatiku supaya tidak terguncang seperti kemarin.
Jam sembilan kami mulai jalan ke daerah pesisir pantai di daerah Wonosari Gunung Kidul. Ada goa bawah tanah dan wisata pantai pasir putihnya. Cuaca sangat mendukung siang itu ketika kami sampai. Pencahayaan yang bagus membuat pengambilan gambar berjalan lancar. Mas Andreas juga hebat mengarahkan cameranya. Kami ikut turun ke bawah, Leon membantu mas Andreas membawa perlengkapannya. Dan aku memandang sedikit ngeri saat harus menuruni ke tangga batu agar sampai ke mulut goa.
Langkahku kikuk, aku memang tidak suka ketinggian. Tidak ada pegangan tangga juga saat aku berpijak untuk menjaga keseimbangan tubuhku. Aku merentangkan tanganku ke samping agar tubuhku tidak oleng. Lalu seseorang menggenggam tanganku. Aku mendongak dan pandangan kami bertemu.
"Kalau takut pegang tanganku, Greet.."
Suara dan tatapan itu, langsung melemparku ke kenangan masa lalu.
Ya masa lalu, saat dia memegang tanganku seperti ini saat kami pergi bersama ke Monas dan naik ke atasnya.
Empat tahun lalu.
-tbc-