Dua anak ABG sedang berkendara sepeda motor sambil berbincang, menyusuri jalan raya Tawangmangu Karang Anyar. Jalan yang setiap hari mereka lewati saat pergi ke sekolah, Adrian dan Wandi.
“Brow, lu tadi denger nggak? Ada suara desahan di rumahku?”
“Kagak, jangan bilang itu bapak ama emak lu? Udah konslet otak lu Wandi.”
Citt ... suara bunyi ban sepeda motor mereka berderit. Dua anak laki-laki yang berumur enam belas tahun turun dari sepeda motor dan menuntunnya di bawah pohon beringin yang sangat besar. Terlihat dari raut wajah mereka nampak segar oleh sapuan udara pagi yang masih sejuk. Tempat yang sunyi dan sepi seolah tempat tersebut tidak terjamah, membuat bulu kuduk berdiri. Ada aura mencekam yang tiba-tiba menyeruak membuat kedua pemuda tersebut saling pandang, seram.
“Dingin sekali pagi ini,” kata Adrian sambil memegang setir sepeda motor bututnya di tepi jalan raya yang masih sepi. Mereka berhenti di bawah pohon beringin yang sangat besar. Adrian dan Wandi, nama kedua anak itu, yang kemudian melihat sekeliling tampak banyak sekali kotoran burung di tanah. Mata Adrian yang membonceng melotot tangannya menekan hidungnya yang mancung kecoklatan.
“Duduk saja sini, enggak panas! Lagian masih pagi ngapain kita di sini? Kurang kerjaan aja,” sahut Wandi yang turun dan duduk di bawah pohon tanpa melihat kondisi tempatnya duduk. Matanya menatap sekeliling yang sepi tanpa seorang pun lewat. Berkali- kali mata sipit itu mengerjap dan tangannya mengusap kepala.
“Woi, lu gak liat tuh ....!” ucap Adrian sambil tangannya menunjuk ke arah tanah di sekitar Wandi yang terlihat banyak kotoran burung yang sudah kering.
“Napa?” tanya Wandi yang masih asyik menyibakkan rambutnya yang keriting sedikit basah. Tangannya mulai menggaris kepalanya berkali-kali merapikan yang ada di atasnya.
“Astaga, nih anak kagak liat yang lu pakai duduk? Wan, Wan, lu jadi anak polos amat ya!” ucap Adrian tanpa melihat ke arah temannya yang masih sibuk dengan sisiran tangan di kepalanya.
Tiba-tiba ... plukk ...
“Pff ... wuekkk ... apa-an nih?”
Wandi tiba-tiba menurunkan tangannya, melihat telapak tangannya dan mencium. Dia meludah dan kepalanya menggeleng kencang dengan mimik wajah mengerut.
“Hahaha ... lu napa? Ada kotoran? Hahaha ... rasain lu, dari tadi gue bilangin kagak denger. Noh, liat atas lu! Ada penghuninya, hahaha ....” Tangan Adrian memegangi perut dan tertawa terpingkal-pingkal. Sementara Wandi dengan wajah masam berdiri berjalan menjauh dari Adrian dan mencari daun yang basah. Setelah menemukan, dengan cepat tangan Wandi yang sudah basah mengusap kepalanya dengan kasar.
“Wuekk ... cuihh ... aduh, gimana nih Yan? Kog kagak ilang baunya? Tolongin guee ....!”
Wandi mendekati Adrian yang masih menertawakan dirinya. Namun naas, Adrian semakin menjauh darinya. Bukan Adrian, jika tidak jahil dengan Wandi temannya yang sudah dianggap sebagai saudara. Mereka selalu bersama-sama hampir setiap saat dari mulai kecil. Teman sepermainan yang sama-sama anak semata wayang. Wandi bertetangga dengan Adrian, mereka kerap menginap di rumah bergantian jika kedua orang tuanya sedang tidak ada di rumah. Wandi anak penakut, dan sering di buli teman-temannya. Berkat Adrian yang pemberani dan kelewat pe-denya, Wandi merasa bisa hidup dengan tenang di samping temannya itu. Meskipun Adrian sering kali menjahilinya, namun dia juga melindungi Wandi jika ada masalah dengan temannya yang lain.
“Napa, mo gue tambahin lagi kotorannya? Hahaha ... Wan, Wan, sonoh! Jangan deketin gue! Awas lu ya!”
Wandi yang mulanya berjalan dengan jarak hanya beberapa meter akhirnya berhenti, dan menatap Adrian dengan mata berair. Mulai akan jatuh, air yang dari tadi menggantung di pelupuk matanya. Sedangkan Adrian dengan santainya melangkah pergi dari tempat itu dan berjalan masuk ke dalam hutan. Dia tidak memperdulikan Wandi yang terus saja menatap kepergiannya dari tempa itu.
Adrian, anak bengal yang selalu bikin ulah di mana-mana. Dia sering membuat kesal Wandi, karena temannya itu sering bertindak konyol dan takut dia tinggalkan. Adrian sendiri tidak pernah merasa terbebani ketika Wandi sering kali membuntuti kemana saja dia pergi. Bahkan Adrian rela mengeluarkan uang demi temannya itu, karena memang ekonomi kedua orang tua Wandi sangat jauh dari kata cukup. Rasa kasihan Adrian meskipun sering dibilang anak bengal oleh banyak teman sekolahnya, tidak membuat Adrian sakit hati, cuek tanpa ingin dipuji oleh siapa pun.
Mata Wandi tiba-tiba membola hendak keluar, melihat Adrian kembali membawa air di dalam kantong plastik. Bibirnya yang hitam tebal merekah dan menapakkan giginya yang putih kusam belum terkena pasta gigi pagi. Tubuhnya yang lebih kecil dari Adrian terduduk di tanah yang masih basah oleh embun. Bahkan mulutnya tidak juga menutup saat temannya sudah berada di sampingnya.
“Mulut lu ditutup napa? Bau tuh, kagak sedap-sedapnya lu Wan,” ucap Adrian sambil mengulurkan air yang ada di kantog plastik sambil menutup hidung dengan tangan kanannya.
Bukan menerima air, tapi Wadi mberusaha mendekati Adrian dan memeluk teman sekaligus sahabatnya itu dengan kencang. Hal itu membuat Adrian kaget dan balik mendorong tubuh kecil itu hingga terjatuh ke tanah. Brukk ....
“Aduh.”
Wandi memegang pantat dan mengelusnya sambil meringis. Dia sudah terbiasa sengan kelakuan Adrain yang seenak jidatnya. Dengan berani dia peluk temannya untuk mencari sekutu merasakan bau yang sama dengannya. Akibatnya Adrian marah dan berteriak.
“Woii, lu kira gue apa-an? Gay?”
Adrian mengancam akan meninggalkan wandi, meskipun itu hanya dalam cadaan. Dasar Wandi, dia ketakutan saat ucapan itu keluar dari bibir temannya. Membuat Adrian tertawa sambil menepuk jidat.
“Dasar, kapan gue ninggalin elu? Sampai ujung dunia juga lu tetap buntutin gue. Udah cepetan bersihin itu!! Gue dah laper nih, lu mau makan kagak?”
Adrian duduk di atas sepeda motornya menunggu Wandi yang sedang sibuk membersihkan kotoran burung yang terjatuh di kepalanya. Dua orang anak yang terlihat jauh secara fisik. Adrian tampan dan bertubuh kekar, sedangkan Wandi bertubuh kecil dan terlihat kurus seperti kurang makan. Hal ini lah yang sering menjadi bahan cemo’ohan teman-temannya. Dan Adrian selalu di depannya menolong Wandi jika sudah mulai terdesak dibuli oleh temannya.
Beberapa saat Wandi selesai membersihkan kotoran burung, Adrian segera menyalakan sepeda motornya. Sepeda motor Honda CB yang masih bagus dan terlihat terawat. Adrian memang rajin membersihkan dan mengutak- atik sepeda motor kesayangannya itu. Meskipun bisa minta di belikan yang baru dan lebih bergaya, namun tidak dilakukannya. Dia anak yang sederhana tanpa pernah memamerkan kekayaan kedua orang tuanya.
Namun seseorang memanggilnya hingga Adrian mematikan mesin motor itu.
“Hai, kalian!” terdengar suara kakek memanggil. Keduanya melihat sekeliling dan terpaku pada sosok kakek yang muncul dari belakang pohon beringin yang seiring daun-daun berjatuhan, rontok tersapu angin.
“Kakek panggil kami?” tanya Adrian menyenggol Wandi agar meberi isyarat supaya turun dari motornya.
“Siapa lagi yang ada di sini? Mau apa kalian pagi- pagi ribut di tempat ini? Pergi cepat ...!”
Kakek yang saat ini bicara menatap dengan pandangan tajam ke arah Adrian dan Wandi. Tubuhnya yang hanya berbalut kaos putih singlet dan celana kolor selutut, tampak sedikit membungkuk. Tidak ada yang istimewa darinya, hanya suaranya yang terdengar keras membuat dua anak terlihat saling memandang dan bergegas kembali naik ke sepeda motornya.
“I- iya Kek, kami akan pergi. Jangan khawatir!” ucap Adrian sambil mencubit Wandi yang masih terdiam melihat kedatangan kakek yang tiba-tiba itu.
“Awas ya, jangan sampai kalian datang lagi dan buat keributan di tempat ini! Kalian bisa rasakan akibatnya jika bandel!” ucap kakek dan tetap menatap tajam ke arah Adrian dan Wandi.
Akhirnya keduanya kembali naik sepeda motor milik Adrian dan bergegas menancapkan gas dengan cepat pergi dari tempa itu. Hawa pagi yang sangat dingin membuat keduanya menggigil dan saling memeluk di atas sepeda yang melaju kencang menembus jalan raya yang masih sepi.
“Kabur ...!”
Adrian melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi meninggalkan pohon beringin yang terlihat bergoyang meskipun angin belum berhembus. Sedangkan kakek misterius sudah kembali ke balik pohon dan menghilang. Suasana di sekitar tempat itu kembali sepi dan hanya beberapa kendaraan saja yang terlihat melintas.
“Gile bener tuh si Kakek, edan.”
“Diem lu ....!”
Whosh ....
Motor Honda CB milik Adrian menyusuri tepi jalan raya hingga beberapa kilometer sampai di warung yang berada di tepi jalan raya. Suasana warung yang sepi, hanya segelintir orang makan di sana. Nampak sang pemilik seorang gadis ditemani pamuda yang berusia 20 tahunan. Mereka kompak melayani pembeli yang datang dengan ramah, meskipun masih sepi warungnya.
“Kita makan di sini aja ya? Soto tuh, tulisannya! Lumayan buat ngisi perut,” ucap Adrian turun dari sepeda motornya diikuti Wandi dari belakang.
Mereka masuk dan memilih duduk di dekat pintu masuk.
“Bang, soto dua, sama teh manis dua,“ ucap Adrian sambil meraih tahu goreng yang ada di meja dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Demikian juga dengan Wandi, dia bahkan tidak ketinggalan menggambil dua potong sekaligus.
“Dasar tukang makan, napa badan lu kagak ikut mekar sih Wan? Lari ke mana makanan lu?”
“Mana gue tahu? Dah dari jaman orok juga kagak bakalan jadi daging,” jawab Wandi terus saja mengunyah gorengan dengan mulut seperti bakpo.
”Eh, ngomong-ngomong lu kagak keder di sana tadi? Gue kog merasa ...,” ucap Wandi tertahan.
“Apa an? Di mana? Di bawah pohon beringin tadi? Kagak tuh, emang lu ngerasain apa? Jangan ngadi- ngadi lu Brow,” ucap Adrian sambil menerima teh manis yang baru di berikan pemilik warung.
“Ngadi-ngadi gimana? Gue hanya pernah dengar kalau setiap pohon besar itu selalu ada penunggunya, bukan bercanda.”
“Nah, emang ada kan? Tadi itu Kakek yang ngusir kita dari sana. Lu sadar nggak? Mukanya kayak hitam gitu seperti kebakar.”
Soto yang dipesan datang dan obrolan dihentikan. Seorang gadis seksi datang membawa pesanan mereka. Sorot mata nakal, keluar dari matanya. Terlihat tonjolan padat dari balik bajunya yang ketat, cukup membuat dua anak ini gerah dan saling menatap, dan menelan ludah. Glekk ... banyak sekali yang mereka telan ludahnya, sampai lupa mangkuk panas sudah ada di depannya.
Mereka menikmati makan pagi dengan lahap, kelihatan sekali jika kelaparan. Pasti kenyang dengan soto dan suguhan seksi pelayan warung. Bahkan tidak memperdulikan orang yang mulai berdatangan ke warung dan mulai ramai. Adrian dan Wandi menikmati menu soto ayam kampung yang sudah familar di telinga banyak orang. Apalagi daerah itu jauh dari tempat orang jualan makanan. Kebanyakan mereka beristirahat setelah menempuh perjalanan yang jauh.
Warung tempat Adrian dan Wandi sarapan semakin ramai, bahkan ada yang rela duduk di luar karena gak dapat tempat duduk di dalam. Mereka mengelar tikar di gubuk luar yang memang disediakan pemilik warung saat sedang full pengunjung. Gubuk yang sederhana dengan atap genting dan tiang dari bambu. Culup luas dengan menampung lebih dari sepuluh orang untuk dapat eikmati sarapan mereka. Pelayan yang ramah dan cantik karena masih muda semuran Adrian dan Wandi.
Baru saja Adrian ingin meminum tehnya, ketika datang gadis cantik seumuran dengannya, masuk ke dalam warung. Dia nampak kesulitan untuk memesan makan, karena jaraknya dengan pemilik warung terlalu jauh dan terhalang pengunjung yang lain. Hingga benda padat kenyal miliknya sesekali bersenggolan dengan pengunjung. Adrian yan tidak sengaja melirik ke arah gadis itu tidak jadi memimum teh yang sudah siap masuk di dekat bibirnya. Dia akhirnya berdiri dan berjalan mendekati gadis itu.
“Hai, mau pesan makan? Boleh gue bantuin?” ucap Adrian sambil menyentuh bahu gadis itu. Gadis cantik itu seketika menoleh ke arah Adrian dan melihatnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Meskipun suasana ramai mereka tidak perduli diperhatikan banyak orang.
“Hei, anak muda! Kalau mau pacaran jangan di sini, ganggu saja! Sono keluar,” ucap salah satu pengunjung warung yang merasa terhalangi oleh kedua bocah itu.
“Pak, gak tahu kalau dia kesulitan mo pesan soto? Sama kayak Bapak, bantuin kek, ya kan ‘Neng?” ucap Adrian melirik ke arah gadis yang ada di sebelahnya.
Dengan sedikit perdebatan dengan pengunjung yang lain, akhirnya Adrian memesan makan untuk gadis itu. Senyum merekah terpapar dari wajahnya yang manis rambut panjang terkepang dua. Hidungnya yang mancung merekah mekar saat dia tersenyum ke arah Adrian. Bibirnya yang tipis basah membuat mata Adrian tidak berkedip melihatnya. Hingga membuat sang pemilik menutup rapat bibir yang basah kemerahan itu.
Pletakk ...
“Ajir ... lu ngapain timpuk gue? Awas lu! Gangguin aja nih anak,” ucap Adrian sambil meraba kepala yang tadi kena tampol sendok oleh Wandi. Ternyata Wandi sejak tadi memperhatikan Adrian yang mendekati gadis cantik itu. Yang dirasakan Wandi ada yang berbeda dengan gadis itu. Tidak seperti gadis kampung yang lain dan juga teman-teman sebayanya.
“Elu napa? Kog beda gue liatnya. Lu kenal sama dia? Hati-hati Brow, gue ngerasa ada yang beda dengan dia,” ucap Wandi sambil menarik tangan Adrian untuk diajaknya duduk kembali. Tapi ternyata Adrian berontak dan mengibaskan tangan kawannya itu dengan kencangnya. Wandi terkejut tidak biasanya temannya berlaku kasar padanya, apalagi situasi warung yang ramai seperti ini. Selama ini Adrian selalu membelanya dan tidak pernah kasar. Dia selalu menghargai apa yang dilakukan Wandi.
“Yan, Adrian dengerin gue dulu! Lu kenapa Brow? Kenal sama cewek itu?” Wandi tidak menyerah, dia tetap memegang tangan Adrian meski sudah di tepisnya. Gak ada perasaan sakit hati sedikitpun, dia hanya merasa ada yang aneh dengan temannya itu.
“Udah lu tenang saja, tuh bayar dulu makanan kite!” ucap Adrian tanpa menghiraukan ucapan Wandi. Sedangkan Wandi merasa kebingungan, karena dia sama sekali tidak bawa uang buat bayar makanan.
Pemilik warung melihat Wandi bicara sendiri menghampirinya. Bingung yang sekarang mendera Wandi. Bagaimanapun juga, dia cuma numpang makan sama Adrian. Sekarang temannya meninggalkan dia entah ke mana perginya. Tubuhnya digeser lebih merapat ke meja agar tidak terjatuh karena syok disuruh bayar pemilik warung. Bibirnya bergetar mengaga tapi tak bersuara.
“Mas, jangan diem! Cepetan bayar! Jangan bilang kagak ada duit buat bayar makanan ini?”
Terkejut Wandi pura-pura tersenyum menampakkan sederet giginya yang kusam dan sisa cabe di sana. Rambutnya yang keriting pendek ikut bergerak karena usapan tangannya yang menggaruk kepala tapi tidak merasa gatal. Kasihan Wandi harus menanggung pembayaran uang makan mereka berdua.
“I-ya Bang, bentar ya! Berapa jumlah semuanya?” tanyanya sambil membekap mulutnya yang mengaga sejak tadi.
“Tiga puluh ribu rupiah semuanya.”
“What? Kagak salah Bang? Kita cuma berdua masa sebanyak itu?”
Pemilik Warung mendekati Wandi dan memberikan tulisan yang sudah dia siapkan sejak tadi. Mata Wandi melotot bulat menatap coretan kertas yang disodorkan. Berkali- kali kepalanya naik turun melihat ke arah pemilik warung. Matanya mulai berair dan tubuhnya bergetar menahan sesuatu.
“Aduh Bang, g-gimana ya? Gue ... gue kagak punya uang. Teman gue yang harusnya bayar.”
“Gue kagak mau tahu! Yang penting lu bayar sekarang! Eh ... tapi temen lu tadi ke mana? Ninggalin lu di sini buat apa an? Kagak mau gue, apa mo kabur? Busyet dah, anak jaman sekarang kagak tahu cari uang susah pada main kabur aja kagak mo bayar.”
“Aduh ... gimana dong Bang? Maafin gue ya?”
“Kagak bisa.”
Pemilik warung tetap ngotot dengan ucapannya supaya Wandi segera membayar makanannya. Sedangkan Wandi gelisah, sambil memegang kedua tangannya yang di remas bersama dengan ujung baju yang sudah kucel dari tadi.
“Ya Tuhan, gue harus bagaimana ini?”
Wandi yang gelisah akhirnya teringat jika Adrian selalu menyiman dompetnya di dalam jok sepeda motor. Kemudian dia melihat ke arah meja saat dia makan, matanya bersinar melihat kunci motor Adrian tergeletak di sana. Pelan dia menerobos orang yang menghalangi untuk menjangkau tempat duduknya tadi dan mengambil kunci motor itu, "alhamdulillah akhirnya rejeki juga, dia lupa bawa kuncinya. Emang kalau anak baik pasti jodohnya juga orang baik.”
“Mas, ayo cepetan bayar!” ucap pemilik warung menatap tajam ke arah Wandi.
Pemilik warung laki-laki dengan sangarnya, berteriak. Tetapi untungnya tidak sampai membuat semua pengunjung warung heboh mengeroyok Wandi. Berkat pelayan seksi memegang tangannya dan memberikan kecupan di pipi si abang dan melumat bibirnya. Dadanya yang menonjol terlihat dia tempelkan dengan sengaja di tubuh kekar sambil mengerlingkan mata nakal. Tentu saja adegan ini hanya di tonton Wandi saja, karena terhalang tirai tipis dari balik pintu.
Degup jantung Wandi seketika bergemuruh menahan rasa panas melihat adegan yang menodai kedua matanya. Beruntung dia segera tersadar dan kembali membalas teriakan abang pemilik warung.
“Iyee ... dih gak sabar amat. Gue kagak bakalan kabur Bang, tenang saja. Gini gini, gue laki yee ... punya tanggung jawab,” ucap Wandi yang bertubuh kurus sambil keluar dari warung menuju ke arah motor yang terparkir di sisi warung.
“Hei, jangan kabur lu, bayar dulu!” teriakan pemilik warung sontak mengagetkan para pengunjung warung yang sedang makan saat itu. Muka Wandi terasa merah terbakar menahan malu mendengarnya. Hingga berhenti dan menoleh ke arah abang pemilik warung.
”Gue kagak kabur Bang, nih mo ambil uang di jok motor. Ayok ikutin kalo gue bohong!” Teriak Wandi tanpa memperdulikan orang-orang yang menatapnya curiga. Wajahnya sudah merah menahan malu dicurigai gak bisa bayar makanan. Apes benar nasib Wandi hari ini.
Dengan langkah lesu meskipun sudah makan semangkuk soto ayam, Wandi membuka jok motor. Perasaannya tidak karuan, tidak tahu apakah dompet Adrian ada di dalam atau tidak? Pikiran buruk mulai membayang jika tidak menemukan dompet Adrian di sana. Matanya menciut saat membuka jok motor, takut menerina kenyataan buruk. Wandi sering mendapat bom kejutan dari Adrian, jantungnya selalu berdetak setiap kali dia ditinggalkan teman baiknya itu sendirian.
Tetapi saat membuka jok motor ....
“Yess ... alhamdulillah, Tuhan masih berpihak pada gue, orang ganteng ini. Yes ... awas lu Yan! Sekali lagi ngerjain gue, gak bakalan gue ....”
Belum selesai Wandi bicara sendiri, pemilik warung sudah memanggilnya untuk cepat membayar tagihan makanan. Dan terpaksa tanpa sepengetahuan temannya, Wandi mengambil dompet Adrian yang selalu di letakkan di dalam jok sepeda motor. Dompet warna hitam kulit yang berisi uang seratus ribu rupiah dan STNK sepeda motor milik Adrian. Segera Wandi mengambil uaang dan memberikannya kepada pemilih warung yang terus mengawasinya sejak tadi.
“Nih Bang, gue gak bohong? Gue bayar lunas. Eh, tapi kog banyak amat nih tagihannya? Bukannya tadi cuma berdua? Jangan bilang gadis tadi juga mau dibayari?”
“Emang iya, lu nggak tahu kalo dia belum bayar? Tanya sono ama teman lu yang udah kabur duluan sama dia!” ucap mas pemilik warung sambil memberikan uang kembalian.
“Bang, tadi tau kemana temen gue pergi? Gara-gara Abang gue ditinggal nih.”
Abang pemilik warung melihat ke arah Wandi sambil membereskan meja yang penuh dengan mangkuk kotor. Dia meletakkan mangkuk-mangkuk itu di tempat pencucian, kemudian berjalan mendekati Wandi yang masih menatap ke arahnya. Untung suasana warung agak sepi, para pengunjung sudah mulai pergi, sebagian yang ada di gubuk juga tinggal dua orang yang duduk di sana.
“Lu kagak tau, kalo temen lu tadi jalan ke arah sono? Gue juga heran napa dia ikut cewek itu? Tadi mo ngingetin tapi warung gue masih rame trus lupa.”
“Ke arah mana Bang? Naik apa dia tadi? Motornya juga masih ada di sini? Kagak mungkin jalan kaki lah? Dia gak suka jalan kaki.”
Abang pemilik warung menunjuk ke arah jalan raya, arah balik Wandi dan Adrian datang ke warungnya. Membuat Abang sedikit bingung karena melihat tidak ada sosok yang dia maksud. Pandangannya masih lurus menatap ke arah jalan raya yang sudah banyak lalu lalang kendaraan. Kemudian dia melangkah diikuti Wandi yang masih menatap ke arah mas nya dengan mulut mengaga. Hampir saja mentes air dari mulutnya, orang yang ada di sekeliling menatap dan mengangkat bahu mereka. Bahkan ada yang sebagian memilih menjauh dari Wandi yang sedang berjalan ke arah pintu keluar warung.
“Heh Mas, tadi gue liat temen lu jalan ke arah sono. Tapi kagak tahu kemana lagi? Kog gak ada, hati-hati aja, karena daerah sini masih rawan makhluk beda alam. Jangan-jangan temen lu tadi kebawa sama makhluk itu.”
“Aduh Bang, jangan ngadi-ngadi deh. Gue merinding ini, oke gue susul dia tapi ... kog arahnya ke sono ya Bang? Bener ya?”
Tak ada jawaban dari pemilik warung, Cuma anggukan dan masuk ke dalam warung. Tinggal Wandi yang termenung di dekat sepeeda motot Adrian. Antara bimbang untuk mencari temannya itu, atau pulang ke rumah bilang ke orang tua Adrian. Dia melihat lagi ke arah yang di tunjuk Abang pemilik warung tak ada orang yang berjalan ke arah dia dan Adrian tadi datang. Aran pohon beringin yang bergoyang, maeskipun tidak ada angin yang datang.
Dengan langkah lunglai Wandi berjalan ke arah sepeda motor, dan menyalakan mesin motor. Meskipun dengan bimbang dan sesekai menatap ke arah waring dan jalan raya, akhirnya Wandi berangkat menuju arah pohon beringin tadi.
“Semoga Adrian tidak ada masalah. Ya Tuhan, tolong bantu gue, gak mau ditinggal kayak gini? Sumpah gue bingung gak punya SIM juga, nanti kalo ada polisi gimana? Dasar Adrian kampret lu napa ninggalin gue. Awas lu ya! Gue ....”
“Woi ... Bang ... cepetan minggir! Gue mo lewat, ngomong sama siapa sih? Udah gini kali nih orang.”
Seorang perempuan berteriak di samping Wandi dengan jari disilang di dahinya. Sepertinya dia kesal dengan Wandi yang menghalang jalannya untuk keluar dari tempat itu.
“Iye Mak ... ini juga mau berangkat, sial bener nasib gue hari ini. Adrian ... tunggu gue ... mo buat perhitungan sama elu ....”
Plakk ....
“Pergi enggak lu!”