"Bagaimana para saksi?" Tanya pak penghulu yang sedang menikahkan Rudi dengan Vanessa.
"Sah," jawab semua para tamu undangan yang hadir pada siang hari itu.
Akhirnya pernikahan Vanessa dan Rudi berakhir dengan ending yang sangat membahagiakan mereka semau. Pernikahan yang sangat di nantikan oleh kedua sejoli itu akhirnya terlaksana sesuai dengan keinginan mereka tentunya.
Malam harinya,
Ketika semua tamu undangan sudah pergi dan menyisakan para kerabat dekat dan jauh yang menginap di rumah keluarga Wiratama saat itu.
Vanessa dan Rudi memilih untuk masuk ke dalam kamar,karena serangkaian acara pernikahan mereka sudah usai, walaupun terlihat kelelahan dan mereka sudah berada di kamar,tetap saja raut bahagia tidak bisa di sembunyikan di balik wajah kedua sejoli itu.
" Mas,kamu mau mandi dulu gak?" Tanya Vanessa kepada suaminya itu.
Tetapi Rudi yang di tanya malah sedang asyik mengunci pintu kamar.
" Lah,kok pintunya di kunci sih,mas? Kita belum makan malam loh?" Ucap Vanessa mengingatkan.
" Kita sekarang kan sudah sah,sayang! Mas lebih menginginkan makam malam yang lain,dari pada makan malam bersama yang lainya," ucap Rudi sambil mendekat kearah istrinya itu.
"Degh. Jantung Vanessa langsung berdetak lebih cepat dari sebelumnya, walaupun dia mengetahui kalau saat ini mereka sudah menjapasangan yang halal,tetapi, perkataan Rudi barusan berhasil membuat Vanessa terkejut dan merasa malu,padahal hal ini sangatlah lumrah di ucapkan olwh pasangan yabg baru menikah.
Melihat Rudi yang semakin dekat ke arahnya, membuat Vanessa semakin salah tingkah," apakah mas Rudi akan meminta hak nya sekarang? Secara ini adalah malam pertama kami," ucapnya dalam hati.
Rudi yang melihat perubahan di wajah istrinya itu,semakin tersenyum melihat wajah istrinya itu terlihat sudah seperti kepiting rebus, Rudi sangat mengetahui kalau saat ini istrinya itu sedang malu,melihat semua yang di lakukan Rudi kepadanya. Oleh karena itu, Rudi memilih Vanessa sebagai istrinya.
Kecantikan alami Vanessa dan sikapnya yang sopan dan ramah kepada semuanorang membuat Rudi, menjatuhkan pilihannya kepada Vanessa yang ternyata memiliki perasaan yang sama terhadapnya.
Paras Rudi yang sangat sempurna,membuat semua orang yang berada di dekat Rudi merasa iri,dan mereka menyayangkan pilihan Rudi ternyata jatuh pada Vanessa yang notabenenya bukanlah gadis impian Rudi selama ini.tetapi, Rudi sama sekali tidak peduli,baginya,pacar boleh saja cantik dan harus sepadan dengan ya,namun kalau untuk menjadi istri,harus berasal dari seorang istri yang baik akhlaknya dan juga bisa membuat Rudi kembali ke jalan yang benar.
Rudi semakin dekat ke arah Vanessa,
Di tengah kegugupan yang dia rasakan," M- mas? A--aku mau mandi dulu,gerah soalnya," ujar Vanessa sambil berbicara dengan terbata-bata.
"Kamu takut,sayang? Kamu merasa kepanasan? Padahal kan AC di kamar kita udah nyala loh?" Rudi semakin membuat istrinya itu salah tingkah.
" Eh,iyakah?" Mungkin karena pakai baju ini mas,aku merasa kegerahan,aku mau ganti baju dulu,mas. Sekalian mau bersih-bersih," ucapnya.
"Sini,biar aku bantuin kamunya,pasti jauh lebih cepat selesainya kalau kita buka berdua," tangan Rudi sudah berada di belakang bjmaju pengantin istrinya itu.
" Ja- jangan mas,a- aku--"
"Sssst," Rudi malah menutup mulut istrinya itu dengan tangannya.
Rudi mulai mendekatkan wajahnya ke arah istrinya itu, Vanessa pun akhirnya memejamkan matanya dan menunggu pasrah apa yang akan di lakukan oleh suaminya itu selanjutnya.
Dengan satu tarikan saja,gaun yang dikenakan olwh Vanessa berhasil lolos dari tubuh rampingnya itu,dan terlihatlah oleh Rudi seluruh bagian tubuh istrinya itu.
Vanessa yang menyadari kalau saat ini dia sudah tidak memakai pakaian tadi,secara refleks langsung menutup bagian tubuhnya yang pastinya sangat membuat Vanessa malu.
" Kenapa di tutup,sayang?"
" A-aku malu,mas! Lebih baik aku mandi sekarang,aku sudah sangat bau ini," ucapnya sambil berlalu dari hadapan Rudi.
Namun,belum sempat dia berjalan ke kamar mandi, Rudi yang sudah gemas mwlihat tingkah malu-malu istrinya itu,langsung membopong tubuh istrinya itu untuk masuk kedalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya itu.
" Mas? Apa yang kamu lakukan? Turunkan aku!" Teriak Vanessa.
" Aku nggak mau, bukannya sudah aku katakan sama kamu,kalau aku yang akan membantumu untuk membersihkan diri? Kita kan sudah suami istri Van, masak iya kamu masih malu Sama aku?" Tanya Rudi.
" Iya mas, tapi turunin aku dulu dong,masak iya kamu mau bopong aku begini? Aku berat loh mas," Vanessa sedikit mengiba agar suaminya itu bisa menurunkan dirinya,tetapi, semua itu percuma saja,karena dia tetap saja tidak akan di turunkan oleh Rudi.
Mereka pun akhirnya masuk kedalam kamar mandi bersama, Rudi menurunkan Vanessa di dalam bathtub dan dia pun ikut berendam di sana.
"Mas,kamu keluar saja ya,aku risih kalau mando begini,apalagi nanti ada yang nyariin kita loh mas,kan kita juga yang malu," ucap Vanessa.
" Kalau aku gak mau? Kenapa sih kamu itu, tertarik banget mau ngusir aku dari sini? Van,mulai sekarang kamu harus terbiasa melihat aku yang selalu gentayangan di sekitaer kamu,karena aku gak mau jauh-jauh dari istriku ini," jawab Rudi sambil menoel hidung istrinya itu.
" Memangnya kamu hantu,bisa gentayangan ha?" Tanya Vanessa sambil tersenyum kepada suaminya itu.
Sambil terus bercanda, akhirnya mereka berdua berhasil menyelesaikan pembersihan diri dan kembali ke kamar.
" Mas,aku lupa kalau kita gak bawa handuk, bagaimana ini? Tanya Vanessa.
" Yaudah sih, tinggal masuk aja ke kamar,kan gak bakal ada orang juga yang masuk ke dalam kamar kita," ucapnya santai.
"Gak mungkin lah mas,nanti lantainya basah mas,bisa saja kita terpeleset karena air mandi yang belum di keringkan ini,"kata Vanessa.
" Kami terlalu mempersulit dirimu sendiri Van,lagian kan yang ada di dalam kamar itu hanya kita berdua,kalau kita mengingat dan berhati-hati gak akan ada yang terjatuh sayang," Rudi berusaha menenangkan Vanessa.
" Yasudah,Mas. Aku keluar dulu kalau gitu,sekalian mau ngambil handuk buat kamu dan lebih baik kamu tunggu aku disini saja,tutup mata kamu ya mas,jangan sampai di buka sampai aku keluar dari kamar mandi ini," ujar Vanessa mengingatkan.
" Baiklah," Rudi menuruti saja keinginan istrinya itu,permintaan itu terlalu konyol menurutnya,padahal dia baru saja sudah melihat semua yang ada di dalam diri istrinya itu, Tetapi,mungkin saja Vanessa lupa kalau mereka baru saja bersama.
Vanessa mulai berjinjit untuk keluar dari kamar mandi,setelah dia memastikan kalau Rudi tidak melihat dalam keadaan bugil begitu,sambil menutup area sensitif nya,dia perlahan berjalan keluar dari sana,
Apakah Rudi menutup matanya? Atau malah menikmati pemandangan yang sangat indah di depan matanya itu?
Pastinya kalau di lihat pun gak ada masalah,kan udah halal,tapi ini baru pertama kalinya dia bersama dengan wanita yang dia belum terlalu di kenalnya, bagaimana reaksinya?
Vanessa dan Rudi keluar dari kamar untuk makan malam, Rudi yang berjalan beriringan dengan sang istri berusaha untuk mencubit pinggang Vanessa karena masih mengingat kejadian di dalam kamar.
" Kamu apaan sih, Mas? Jangan usil ya kamu!" Ucap Vanessa tertahan.
Rudi hanya bisa meringis ketika merasakan jari tangan Vanessa berhasil mencubit tangannya, Tetapi, Dia sangat senang melihat Vanessa yang malu-malu seperti sekarang, apalagi wajah Vanessa sudah seperti kepiting rebus karena ulahnya.
" Aku akan melakukan itu lagi nanti, Kamu harus mempersiapkan diri sebaik mungkin ya, Kalau bisa sampai pagi aku gak bakalan kasih kamu waktu buat istirahat," Ucap Rudi di telinga Vanessa.
Vanessa langsung melotot ke arah suaminya itu, Membayangkan hal yang sudah dialami tadi, Membuat dia kapok dan masih merasakan sakit akibat pertempuran mereka, Sekarang Rudi bahkan meminta hal itu dilakukan sampai pagi.
" Kamu kalau mau membuat aku mati secara perlahan gak papa, Mas! Silahkan, Lakukan!" Jawab Vanessa akhirnya.
Melihat kedatangan Vanessa dan Rudi yang menjadi bintang utama pada malam ini, Berhasil membuat pandangan semua orang yang sedang berada di ruang tamu menatap ke arah mereka yang jalan beriringan.
Menjadi pusat perhatian semua orang membuat Rudi dan Vanessa jadi salah tingkah, Bahkan ada yang sengaja menggoda mereka karena melihat rambut Rudi dan Vanessa sudah basah ketika keluar dari kamar.
" Cie, Yang habis unboxing malam pertama," Ucap sepupu Vanessa.
" Ini harusnya baru permulaan,kok udah pada basah aja sih tu rambut," ucap Tante Sherly.
"Gercep ya, Mana tau nanti bisa kasih Papa cucu," Papa Vanessa pun ikutan menggoda anak gadisnya tersebut.
" Pa, apaan sih? Gak lucu tau gak," ujar Vanessa yang merasa sangat malu,kalau bisa dia malah ingin menyembunyikan mukanya dari hadapan semua orang saat ini, "
Terlepas dari semua orang yang mencoba untuk menggoda Rudi dan juga Vanessa, hanya Mama Vanessa yang terlihat diam saja tanpa ada reaksi apapun ketika semua orang berusaha untuk meledek dan juga membuat Vanessa dan juga Rudi merasa malu. Bahkan dari awal dia sama sekali tidak ingin membahas tentang hal itu di tempat ini.
"Sudah! Sudah! Kalau kalian selalu menggoda mereka, kapan kita akan makan? Meja makan saatnya kita untuk sama-sama mengisi perut, bukannya malah membuat mereka merasa malu dengan ulah kalian yang tidak ada faedahnya, " jelas Nina.
Semua orang pun akhirnya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Nina, mereka pun mulai fokus dengan menu makanan yang ada di hadapan mereka masing-masing, Vanessa merasa sangat lega dengan tindakan yang diambil oleh Mamanya itu, karena dia bisa terselamatkan dari bahan ledekan yang tidak akan pernah habisnya kalau saja sang Mama tidak memberhentikan topik utama yang saat itu tertuju kepada dirinya dan juga Rudi suaminya.
Di dalam hatinya Vanessa berkata, "untuk saja Mama mengerti isi hatiku, I love you so much mom."
Setelah makan malam selesai, Mereka semua langsung menuju ke arah ruang keluarga untuk bersantai dan mengobrol di sana, Tanpa terkecuali Vanessa dan Rudi.
Ketika Rudi akan pergi mengikuti Vanessa ke ruang keluarga, tiba-tiba saja dia menyadari kalau handphone yang dari tadi dia tinggalkan di kamar belum dia buka dari selesai acara pernikahannya, Rudi berinisiatif untuk mengambil terlebih dahulu handphone yang ketinggalan di kamar lalu menyusul istrinya di ruang keluarga.
Nina yang kebetulan dari tadi mengintip Rudi yang saat ini berada di tempat lain, Merasakan ada waktu untuk mendekati Rudi, Tanpa membuang waktu Dia langsung berlari ke arah kamar Vanessa dan Rudi yang berada di lantai atas rumahnya itu.
Rudi telah mendapatkan ponsel yang ada di tangannya saat ini,ketika dia menghidupkan data di ponselnya itu,banyak sekali chat bertumpuk masuk ke dalam aplikasi berlogo hijau tersebut untuk segera dia baca. Rudi memilih untuk skip semua itu, Karena menurut Rudi ini adalah ucapan dari sebagian orang yang mengenalnya dan rekan kerjanya saat ini, saking asyik dengan gadget di tangannya, Rudi bahkan tidak menyadari kalau Nina mertuanya saat ini sudah berada di dalam kamar tersebut.
Tanpa basa-basi Nina langsung saja mengunci pintu kamar putrinya dan juga menantunya tersebut, Rudi kaget ketika mendengar pintu terkunci, Dia lalu melihat ke arah pintu karena posisinya saat itu membelakangi pintu.
"Ma-mama? Ngapain Mama disini?" Tanya Rudi heran.
"Aku merindukanmu, Rud!" Ucap Nina sambil berjalan mendekati Rudi.
" Mama, jangan gila! Ingat kalau sekarang status kita sudah berbeda, Apa mama lupa kalau aku adalah menantu Mama?" Rudi merasa tidak habis pikir dengan apa yang diucapkan oleh mertuanya tersebut.
" Peduli setan dengan semua itu! Aku merindukanmu, Aku menginginkanmu! Aku yang lebih dulu mengenalmu. Jadi, semua yang telah menjadi milikku tak akan mudah aku lepaskan dengan mudah, Termasuk pada anakku sendiri!" Jelas Nina penuh emosi.
" Kamu benar-benar sudah gila! Keluar dari kamar ini sekarang, Sebelum semua orang melihat kita dan mereka salah paham dengan semua yang mereka lihat."
" Apa kau tidak rindu dengan goyangan liar ku ini? Bahkan dulu kau tergila-gila dengan sentuhan lembut dari jemari indah ini bukan?" Tanya Nina yang sekarang sudah berada di depan Rudi.
Rudi berusaha menghindar dan berpikir sewajarnya, Keimanan yang setipis tisu itu, Benar-benar diuji oleh Mama Mertua yang sangat membuatnya mabuk kepayang.
" Tolong kembalikan dirimu, Ma! Ingat lah Vanessa, Bukankah dia adalah putri kandungmu? Apa yang akan dia katakan ketika suami dan juga mamanya sendiri berada di dalam kamar seperti ini," jelas Rudi.
"Semakin kau mencoba untuk banyak bicara, Semakin membuat aku berhasrat untuk melakukan ini, sayang! Puaskan aku! Jangan munafik seperti ini Rudi!"
Nina merasa geram dengan penolakan yang dilakukan Rudi terhadapnya, Tetapi, Bukan Nina namanya ketika dia menginginkan sesuatu tapi tidak mendapatkan apa yang dia mau.
Nina mulai membuka satu persatu pakaiannya, menyisakan bagian dalam yang melekat di tubuhnya. Dia tidak peduli dengan Rudi yang berusaha menatap ke arah lain saat ini, Nina langsung mendorong tubuh Rudi ke atas kasur yang ada di hadapannya.
" Tolong lepaskan saya,Ma! Masih banyak orang lain yang bisa memuaskan kamu melebihi saya. Apa kau tidak mengingat suamimu? Aku akan melupakan kalau kita pernah ada hubungan sebelum ini, bersikaplah layaknya seorang mertua memperlakukan menantu kepadaku, Aku sangat mencintai Vanessa, Aku tidak mau hubungan pernikahan kami hancur hanya karena ego Mama yang tidak bisa dikendalikan seperti itu."
"Dari kecil saya sudah banyak berkorban untuk Vanessa, Lalu dimana salahnya? Kalau saat ini aku meminta Vanessa sedikit berkorban untuk ku? Kalau kau tak banyak bicara dan nikmati saja semua yang terjadi antara kita hari ini, pastinya kau akan baik-baik saja, Semua akan berjalan sesuai dengan semestinya," ucap Nina.
Nina mulai melakukan penyerangan di area sensitif dan Dia sangat hapal sekali kalau Rudi tidak akan bisa menolak, Jika sudah disentuh oleh Nina.
Otak dan hati Rudi sudah tidak berfungsi dengan benar, otaknya berpikir untuk menghentikan aktivitas konyol ibu mertuanya, Tetapi hatinya berpikir dan menyuruhnya untuk segera melarang Rudi untuk segera berhenti. Nina sangat tahu kelemahannya, sekarang dia mulai terpancing dengan sentuhan demi sentuhan yang dimainkan Nina di tubuhnya.
Melihat Rudi yang saat itu tidak lagi berontak dan mulai pasrah menerima apapun yang dia lakukan kepadanya. Hal itu tidak disia-siakan oleh Nina, Dia mulai melucuti semua pakaian yang melekat di tubuh Rudi saat ini.
"Jadilah suami untuk anakku, Tetapi, Aku akan selalu menjadikan kamu sebagai tempat pemuas hasrat ketika aku menginginkannya, Itu berarti kau juga milikku," bisik Nina di tengah aktivitas yang dia lakukan saat ini.
Akhirnya Rudi kalah dengan akal sehatnya, Dia mulai merespon dan membuat Nina mendapatkan apa yang seharusnya dia cari selama itu, pertempuran yang seharusnya dia lakukan bersama Vanessa, Malah dia lanjutkan bersama Nina di kamar yang sudah digunakan untuk dia dan istrinya.
Di tengah-tengah asiknya mereka saling bertukar keringat, mereka mendengar pintu kamar yang di ketuk.
Tok...tok...tok...
Siapa yang datang?
Rudi seketika mendorong Nina yang saat ini berada di atasnya, Saking kaget ketika dia mendengar suara pintu yang diketuk.
" Aww... Sakit, Kamu kenapa kasar begitu sih Rudi?" Tanya Nina yang tidak terima dirinya di dorong begitu keras oleh Rudi sehingga ia jadi terjungkal akibat ulahnya Rudi.
"Ma- maafkan saya,Ma! Sa-saya kaget dan refleks mendorong Mama sampai terjatuh," Jawab Rudi sambil membantu Nina sang ibu mertua berdiri.
Setelah menolong Nina, Rudi langsung mengenakan semua pakaiannya secara cepat, seiring dengan ketukan pintu yang semakin cepat.
Melihat Rudi yang panik seperti itu, Membuat Nina tidak terima, Karena Rudi menghentikan permainan di saat Nina hampir sampai pada puncaknya.
" Rud, Kamu mau ngapain?kenapa semua pakaian di pakai? Kan belum selesai? Enak di kamu, Gak enak di saya dong,"Ucap Nina protes.
"Hentikan kegilaanmu ini, Ma! Apa telingamu tuli? Kau tidak mendengar pintu yang digedor sekarang? Sebaiknya pakailah pakaianmu, Aku tidak mau ketangkap basah dan pernikahan aku yang baru berlangsung dengan hitungan jam, Harus berakhir konyol karena masalah ini?" Tanya Rudi.
"Persetan dengan itu semua! Walaupun mereka tau tentang kita, Aku sama sekali tidak peduli Rud! Yang penting aku bisa terpuaskan dengan semua keinginan ku terpenuhi," jawab Nina yang tidak mau tau.
Rudi benar-benar merasa kalau Nina sudah mulai tidak waras, Bahkan Dia tidak tampak cemas sama sekali saat ini, Padahal Rudi sudah hampir pecah kepalanya memikirkan alasan apa yang akan dia berikan ketika nanti Vanessa menanyakan tentang keberadaan dirinya dan Mertua di dalam kamar mereka.
"Kamu tidak perlu cemas begitu, Sayang! Aku tidak mungkin membiarkan hubungan rumah tangga kamu dan Vanessa hancur, Itu sama saja membuat aku tidak bisa dekat-dekat lagi dengan kamu, sekarang tolong dengarkan aku! Cepat buka pintu itu, Aku akan berada di balkon dan carilah alasan agar istrimu itu tidak jadi masuk kedalam kamar ini, Kau mengerti?" Tanya Nina.
Karena tidak bisa memikirkan cara apapun saat ini, Rudi hanya menurut saja semua yang dikatakan oleh Nina kepadanya, Setidaknya apa yang dilakukan Nina ada benarnya juga, Pernikahan yang baru hitungan jam itu bisa diselamatkan untuk hari ini.
~~~
Di ruang keluarga
Vanessa yang dari tadi asyik berbincang dengan seluruh anggota keluarga, Sehingga Vanessa lupa kalau dari tadi dia tidak bersama dengan suaminya, Vanessa seakan lupa kalau dia sudah bersuami dan juga mempunya status yang baru.
Tari yang saat itu baru datang dan bergabung dengan mereka semua, Langsung mempertanyakan tentang suami Vanessa yang tidak terlihat ada disampingnya, Padahal notabenenya mereka adalah pengantin baru, Yang identik dengan selalu bersama dimanapun berada.
" Van,Suami kamu mana?" Tanya Tari.
" Suami? Vanessa mulai bingung dengan pertanyaan dari Tante nya itu, karena dari tadi mereka memang membahas tentang di luar acara yang sudah mereka gelar.
" Jangan bilang kamu lupa kalau kamu sudah punya suami ya Van, belum sampai 1 hari loh, Masak iya kamu udah lupa sih?" Tanya Tari sambil menepuk jidat
Vanessa tampak berpikir sebentar,lalu
" Astaga! Aku lupa kalau tadi aku habis makan malam bersama mas Rudi, kemana ya, Dia?" Tanya Vanessa sambil melihat-lihat sekitar ruang keluarga.
" Ya ampun, Van! Kumat lagi ya sifat lupa Lo itu, bahkan hal sepenting itu bisa Lo lupain? Jangan-jangan bentar lagi Lo bakalan lupa juga kalau Lo itu anak siapa," ejek Tari.
" Sialan,Lo!"
Vanessa langsung melempar bantal yang ada di sofa tersebut ke arah Tari, Dia langsung berdiri mencari keberadaan suaminya yang entah dari kapan dia tidak berada di sampingnya.
Semua ruangan bawah sudah di cari oleh Vanessa, Tetapi, Dia tidak dapat menemukan Rudi dimanapun di tempat ini, Vanessa berpikir paling suaminya itu saat ini sedang istirahat di kamar, Karena cuman tempat itu satu-satunya tempat yang belum di datangi oleh Vanessa untuk mencari suaminya.
Vanessa bergegas menaiki tangga dan menuju ke kamar pengantin dirinya dan Rudi tempati, kamar yang sengaja dipilih Vanessa untuk dirinya ketika pembuatan rumah dulunya, Selain pemandangan yang bagus dari atas, Vanessa sangat menyukai kesunyian, Hal itulah yang membuat Vanessa memilih kamar itu untuknya.
Setelah sampai di depan pintu kamar nya sendiri, Vanessa mencoba mendorong pintu yang tadi di awal tidak di kunci mereka, Tetapi, saat ini pintu tersebut ternyata tidak bisa dibuka dan dikunci dari dalam.
Vanessa bingung, Kenapa pintunya bisa terkunci, Padahal seingatnya tadi sebelum mereka pergi, Pintu ini masih terbuka."
"Apa mungkin mas Rudi tidur? Makanya dia mengunci pintu ini? Tetapi, kenapa dia tidak mengatakan apa-apa kepadaku kalau ingin istirahat? Atau mungkin dia marah padaku? Karena aku mengabaikan dirinya?" Vanessa mulai bermonolog sendiri dan menerka-nerka apa yang terjadi saat ini.
Dengan sedikit keraguan antara mengetuk pintu dan membiarkan suaminya itu di dalam, Vanessa memilih berdiri saja di depan pintu itu dan mencoba untuk menimbang baik dan buruknya apa sikap yang akan dilakukan oleh Vanessa saat ini.
"Aku harus apa sekarang? Apa aku ketuk saja pintunya? Takutnya nanti pas Aku ketuk Mas Rudi beneran lagi istirahat dan ketukan pintu itu malah mengganggu istirahatnya. Tetapi, kalau aku biarkan saja seperti ini, Takutnya memang aku yang membuat kesalahan karena terlalu lama mengabaikannya dari tadi karena terlalu sibuk mengobrol dengan seluruh anggota keluarga, sehingga aku melupakan dirinya. Argh... Aku harus apa?" Cicit Vanessa sendiri.
Lama Vanessa berdiri mematung di depan pintu kamarnya sendiri, tetapi, Ada sesuatu hal yang lama-kelamaan didengar oleh Vanessa dari dalam kamar tersebut.
Seperti suara orang berbicara, Vanessa mencoba untuk lebih menajamkan pendengarannya ke arah pintu tersebut, namun, Tidak terdengar lagi.
Akhirnya setelah perdebatan panjang dengan pemikirannya, Dia lebih memilih untuk mengetuk saja pintu tersebut dan membangunkan suaminya.
Ketukan demi ketukan yang ia lakukan, Tetap tidak membuat sang suami membuka pintunya. Dia lalu mencoba lagi dan lagi untuk mengetuk pintu tersebut, Karena tidak ada tanda-tanda mau dibuka, Akhirnya dia memutuskan untuk memanggil sambil terus mengetuk pintu yang masih tertutup rapat itu.
Tok...tok ...tok... Mas?
Tak ada jawaban, dia mengulanginya sampai berulang kali, tetap saja tidak dijawab.
"Mas? Kamu ketiduran? Masak iya sih gedoran pintu Segede gini dia gak denger? Kamu tidur apa mati sih mas? Buka pintunya dulu, kamu marah sama aku? Ayo, ngomong dulu! Jangan ngambek begini! Gak lucu tau gak," ucap Vanessa yang mulai jengkel karena pintu yang dia harapkan terbuka sampai saat ini masih belum terbuka.
" Kalau kamu gak mau buka ini pintu, jangan salahin aku kalau pintu ini aku dobrak ya,Mas! Kamu gak tau ya kalau aku ini adalah atlet pencak silat, gak susah buat Aku membuka pintu ini jika aku mau merusaknya," teriak Vanessa lagi.
Vanessa masih mencoba menunggu agar suaminya itu membuka pintu, Tapi masih tetap tidak terbuka, Perasaan khawatir akan suaminya membuat Vanessa berencana akan mendobrak langsung pintu yang ada di depannya saja. Vanessa langsung mengambil ancang-ancang agar bisa menendang dengan perkiraan yang tepat.
Ketika dia merasa sudah pas,dia mulai menghitung,1...2..ti-
Hiyaaaaa- tendangan mulai di layangkan oleh Vanessa
Ceklek...Van-
Bugh!
Aaaaa....!!!