Bab 1

Sebuah taksi berhenti di area pemakaman, langkah kakinya terasa berat. Dia membawa dua karangan bunga yang sudah di pelukannya dengan erat.

Dua batu nisan terpampang jelas di pelupuk matanya. Ada rasa sesal dan sesak dalam dada, rasa sakit yang disimpan selama lima tahun itu tertumpah begitu saja diatas batu-batu nisan tersebut.

"Aku pulang Pah, Lana. Maaf membuat kalian menungguku terlalu lama. Maaf karena aku telah banyak menyusahkan kalian. Aku berjanji akan menjaga dan merawat mama menggantikan kalian." 

Deraian air mata berjatuhan membasahi wajah nan cantik jelita. Mengingat semua kejadian lima tahun lalu meninggalkan luka yang teramat dalam.

Setelah menaruh karangan bunga, dia pun pergi meninggalkan area pemakaman. Taksi kembali melanjutkan perjalanan pada sebuah rumah sakit. 

Dia membawa satu karangan bunga lili putih juga sekotak makanan kesukaan. Wanita paruh baya itu terbaring lemah dengan selang infus di lengan dan hidungnya. Alat bantu yang membuatnya bertahan untuk hidup.

Wanita nan cantik jelita tadi meletakan bunga lili putih kesayangan menggantikan bunga yang sudah layu di atas meja pasien.

"Ma, aku sudah pulang, aku sudah sehat. Semua ini berkat Lana yang sangat menyayangiku. Sekarang giliran aku yang menjaga dan merawatmu," ucap wanita nan cantik jelita itu sambil mengusap lembut pipi wanita kesayangan yang sudah terlihat keriput.

Suara dorongan pintu dibuka, seorang pria berkacamata menghampiri wanita nan cantik jelita tadi, "Kau sudah datang, Nis? Bagaimana perjalananmu?" suara tadi menepuk perlahan pundak wanita itu.

"Uhm, lumayan melelahkan Adam, tapi aku sudah bertemu papa dan Lana sebelum kesini," ucapnya sambil tangan mungil itu memijat perlahan lengan wanita kesayangan tadi.

"Sebaiknya kau pulang dan istirahat, dua hari lagi kau kan sudah mulai bekerja dan maaf jika tempat tinggal yang kupilihkan tidak sesuai dengan keinginanmu. Aku harap kau tak keberatan,"  tambah lelaki yang bernama Adam tadi.

"Terima kasih sudah membantuku mencarikan pekerjaan dan tempat tinggal buatku, Dam!" suaranya nan lembut dengan lesung pipi yang kembang kempis juga tersenyum saat berbicara.

"Jangan bicara seperti itu Nis, selama ini paman dan bibi sudah banyak membantuku. Kalau bukan mereka yang membantu, mungkin aku masih bergelandangan di jalan," ucap Adam menatap Nisa  yang sedang mengkhawatirkan kondisi ibunya.

"Bagaimana dengan kondisi terakhir mamaku, Dam? Apa yang dokter katakan?" Nisa mencoba mengalihkan dengan pertanyaan.

"Bibi memerlukan transplantasi jantung dan yang paling penting biaya untuk operasi juga pemulihannya membutuhkan biaya yang tak sedikit," jelas Adam.

Meski mencoba tersenyum, Adam sangatlah tahu beban yang sedang dirasakan Nisa. 

"Uhm, aku paham!"

Nisa hanya mengangguk perlahan, dia mencoba memahami semua ucapan yang dikatakan Adam.

Ya ... inilah awal baru untuk seorang Faranisa Aznii setelah orangtuanya bangkrut. Ayah dan adiknya, Lana meninggal karena kecelakaan dan jantung Lana didonorkan kepadanya. Sedangkan dirinya terpaksa memulihkan diri di negeri orang dengan sia-sia ekonomi terakhir mereka.

Ibunya memiliki riwayat yang sama seperti Nisa, terpaksa hanya bisa mengandalkan peralatan bantu untuk mendominasi tubuhnya tiga tahun belakangan ini. Kali ini Nisa harus berjuang mengandalkan diri sendiri dan kemampuannya yang tak seberapa untuk mencari biaya perawatan, operasi ibu juga dirinya sendiri.

Nisa berjalan keluar rumah sakit berbarengan dengan satu mobil yang diparkir dengan tergesa, terlihat salah seorang membuka pintu penumpang dan memapah seseorang yang terluka. Mereka hanya terhalang satu orang sehingga tidak ada satupun dari mereka yang menyadarinya.

"Nis, aku akan mengantarkanmu."  Adam berlari menyusul Nisa.

"Kau pasti lelah seharian bekerja, Dam. Apa masih ada waktu untuk mengantarkanku?" 

Nisa merasa sungkan karena selama dia tak ada, Adamlah yang menjaga juga merawat ibunya.

"Tidak apa-apa, Nis. Kau juga pasti belum makan, kita mampir makan sekalian ya," ucap Adam, Nisa tak bisa menolak lagi menerima ajakan dari Adam.

"Aku ambil motorku sebentar. Kau tunggu disini ya, Nis," lanjut Adam meninggalkan Nisa berjalan ke arah parkiran.

"Cih ... aku bilang, aku baik-baik saja. Kau sampai repot membawaku ke rumah sakit!" Gerutu seorang pria yang lengannya sudah di balut perban.

"Maaf, Tuan, tapi ini adalah perintah dari tuan Prawira langsung, kakek Tuan, beliau menyuruh saya menjaga Tuan apapun yang terjadi. Jadi mana saya berani melanggarnya." kilahnya.

"Kau masih saja memakai alasan kakekku, Bisma. Dia itu sudah meninggal, sudahlah, aku bukan anak kecil lagi," sahutnya dengan suara setengah bariton yang dikeluarkan.

"Ta–ta–pi, Tuan Leon, ini adalah amanat beliau yang harus saya jaga." Bisma masih saja bersikeras.

"Sssttt, sudah jangan berisik lagi. Ambilkan mobil! Mau sampai kapan aku berdiri seperti ini," delik Leon memberi perintah. Dia terdengar tak sabar ingin segera meninggalkan rumah sakit.

"Ba–ba—baik, saya ambil sekarang, mohon tunggu sebentar, Tuan!" Bisma berlari meninggalkan tuannya mengambil mobil. 

Mata Leon berkeliling sesaat, matanya menangkap sosok yang dia kenali. Namun, dia segera meremas wajahnya sendiri dengan kasar.

"Ughh. Aku masih juga belum bisa melupakan dia, padahal sudah lima tahun berlalu. Rasanya itu tidak mungkin dia.  Aku sudah sering salah mengenali orang. Dasar sial, semua karena ulah Marko mengajakku minum malam ini." 

Leon bergerutu dalam hati saat melihat sosok wanita yang di bonceng motor bebek butut.

"Maaf ya, Nis. Aku hanya bisa mengantarmu pakai motor jelek begini," ucap Adam disela perjalanan mereka.

"Nggak apa-apa, Dam. Kalau kamu nggak kasih aku tebengan malam ini, aku akan keluar uang lagi buat bayar taksi," kekeh Nisa. Adam hanya tersenyum mendengar celotehannya.

Motor bebek butut Adam berhenti di salah satu warung tenda pecel ayam.

"Nah Nis, ini  pecel ayam favorit disini, aku jamin sekali coba bikin nagih!" Adam mempromosikan santapan pecel ayam dengan penuh semangat.

"Wah ...  aku makan banyak loh, Dam, kalau bikin nagih aku bisa makan dua atau tiga porsi sekaligus," sahut Nisa sambil tersenyum meledeknya.

"Boleh, boleh, kamu mau makan tiga porsi pun, boleh. Malam ini spesial, aku traktir!" Adam tak bisa menghindari pesona dari wajah cantik Nisa.

"Oke, satu porsi aku bungkus ya, buat cadangan kalau nanti malam aku kelaparan. Soalnya aku belum punya stok apa-apa di rumah, barang-barang pun belum ada yang aku bongkar!" Nisa melepas rasa sungkannya sambil tertawa bersama di meja makan pecel ayam.

***

"Anda ada janji makan malam dengan nona Wina, Tuan," Bisma mengingatkan tuannya.

"Dia lagi! Huft, sungguh tidak pernah menyerah!" Leon langsung kesal ketika Bisma menyebutkan nama Wina.

"Setidaknya dia salah satu kandidat yang cocok untuk, Tuan," tambah Bisma lagi.

"Aku sudah bilang, apapun kau boleh atur, tapi untuk urusan kandidat apa dia cocok denganku atau tidak, aku yang sendiri yang menentukan. Itu perjanjianku dengan almarhum kedua orangtua dan kakekku!" tegas Leon, mengingatkan perjanjian mereka.

"Saya mengerti, Tuan. Tapi tidak salah jika anda mencobanya dengan nona Wina. Dia sangat cantik, anggun dan juga seorang model," kembali Bisma mulai berkhotbah mempromosikan Wina.

"Kalau begitu, kau saja yang menggantikan aku menemui dia. Kau juga harusnya sudah punya calon kandidat, kan?" cibir Leon tak mau kalah jika berdebat soal kandidat.

Bisma menelan pil pahit ketika dia terus membujuk tuannya untuk menerima acara kencan buta yang sudah dirancang, tapi tuannya langsung menolak mentah-mentah.

"Ah, Tuan sampai kapan anda akan menutup diri anda. Setelah kepulangan anda lima tahun lalu, sikap anda telah banyak berubah."

Bab 2

Nisa masuk rumah sewaan. 

Melihat sekeliling ruangan. Ruangan kecil dengan satu kamar tidur, mini dapur yang bersebelahan dengan kamar mandi dan sisa sedikit ruangan untuk dirinya duduk sejenak melepaskan lelah. Tanpa ada suasana mewah sedikit pun, sangat berbeda dengan masa lima tahunnya.

Nisa menyeret satu demi satu koper masuk ke dalam kamar. Kembali melihat sekeliling kamar,  dengan satu single kasur lantai, lemari baju dan meja rias kecil.

Nisa menghela nafasnya sesaat.

"Sabar, Nis. Kau pasti bisa melewati semua, demi mama dan dirimu sendiri, semangat Nis." Nisa menyemangati dirinya sendiri.

Dia membuka satu persatu koper, menyusun baju-baju kedalam lemari. Usai semua tersusun dengan rapi dia mengambil satu baju tidur dan handuk, ber bebersih sebelum dia tidur.

Terdengar suara bel pintu berbunyi.

Nisa meraih ponsel, menyalahkan layar dan melihat jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Dia tidak merasa punya janji, jadi dia bangun dengan malas dan bergerutu.

"Sepagi ini siapa yang datang sih?"

Nisa berjalan menghampiri pintu dan perlahan membukanya.  Wajah Adam sudah berada di ambang pintu dengan seorang wanita.

"Pa–pagi, Dam?" Nisa canggung dengan menunjukkan wajah bantalnya.

"Maaf ganggu, Nis. Kamu baru bangun ya?" Adam terdengar merasa bersalah karena mengganggu tidurnya.

"Eh, nggak Dam, ayo masuk, maaf masih berantakan soalnya semalam aku hanya sempat merapikan beberapa barang." 

Nisa menuntun mereka masuk dan duduk di lantai dengan satu meja bundar di tengahnya.

"Maaf ya, Dam, masih seadanya, rencana hari ini aku baru akan berbelanja barang-barang."

Nisa mencoba menghilangkan rasa tidak enaknya dengan memulai obrolan.

"Nggak apa-apa, Nis. Makanya kita pagi-pagi datang, mau membantu kamu biar pekerjaan cepat selesai dan kamu bisa istirahat penuh besok sebelum memulai hari pertama kerja kamu," jelas Adam memberitahu maksud kedatangannya.

"Wah ... terima kasih banyak Dam. Eh, ini siapa, Dam?"  Nisa melirik wanita yang duduk di samping Adam. Dia terlihat malu-malu.

"Oya, ini aku perkenalkan, dia, Sarah teman dekatku. Ayo Sar." Sarah mengeluarkan tangan untuk berkenalan dengan Nisa.

"Faranisa Aznii, seenaknya kamu saja memanggil akunya, Sar." Nisa menjabat tangan Sarah dengan ramah.

"Sarah. Aku panggil, Nisa saja yah biar sama seperti Adam panggil kamu," ucap Sarah.

"Sarah jangan cemburu yah dengan kedekatanku dengan Adam, Adam sudah seperti kakak laki-laki buat aku," jelas Nisa agar tak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari.

"Iya, Nis. Aku tahu kok, Adam sudah banyak cerita soal kamu dan keluarga sebelum kepulangan kamu," ucap Sarah yang langsung mengakrabkan diri.

"Ehem, ngobrol dilanjut nanti. Ini aku bawa sarapan dan air, kita sarapan bareng nanti keburu dingin!" sela Adam.

Suara nyaring dari perut Nisa langsung terdengar.  Berbunyi ketika mendengar kata sarapan.

"Yahh, ketahuan deh ... kalau cacing-cacing diperutku sudah kelaparan!" 

Mereka terkekeh bersama ketika mendengar candaan dari Nisa.

Beberapa jam berlalu. 

Semua sudah tersusun dengan rapi, lantai dingin tadi sudah di sulap beralaskan karpet dengan empat bantal duduk yang mengelilingi meja bundar kecil tadi. Dinding ruangan Nisa ganti dengan memakai wallpaper yang bernuansa cerah agar bisa merubah mood menjadi lebih baik.

Kulkas satu pintu yang memang sudah tersedia juga, dia sudah isi dengan beberapa bahan makanan setidaknya cukup untuk satu dua minggu. Atau Nisa berharap bisa mencukupi untuk satu bulan sebelum dirinya mendapatkan gaji pertama. Beberapa alat masak dan peralatan makan dia pun membeli.

"Kalian tunggu disini dulu ya, aku keluar sebentar!" Nisa meraih tas kecilnya yang menggantung di balik pintu.

"Aku antar Nis," Adam langsung berdiri bersiap mengantar.

"No. No. No. Thanks, Dam. Tidak usah diantar, biar aku bisa menghafal jalan juga, pokoknya kalian duduk manis disini nggak boleh kemana-mana, kalau boleh pinjamkan aku motormu?" ucap Nisa sambil menodongkan tangannya pada Adam.

"Kamu bisa naik motor? Itu motor bebek loh, Nis?" Adam setengah tak percaya sambil menyerahkan kunci motornya.

"Kamu meremehkan aku? Begini-begini aku mantan kurir pengantar makanan saat aku kekurangan uang disana," ucap Nisa menyeringai langsung menutup pintu.

Tempat sewa yang dipilih Adam adalah bangunan dua lantai. Dengan Nisa kebetulan mendapatkan bangunan lantai kedua. Nisa turun melalui tangga besi berwarna hijau, motor Adam sudah terparkir di samping tangga besi tadi.

Nisa berencana akan membelikan mereka makan siang. 

"Mungkin ke sebelah sini." 

Nisa  berpikir sambil mengendarai sepeda motor Adam melewati dua blok dan berbelok bertemu jalan raya.

"Ah, benar."

Nisa terus melajukan motor Adam secara perlahan. Dia menuju salah satu restoran siap saji. Nisa memarkirkan motor pada parkiran motor restoran makanan siap saji. 

Namun, matanya teralihkan oleh toko kue di seberang jalan.

Nisa masih berdiri menunggu mobil yang melintas lalu lalang di lampu merah. Bertepatan saat lampu merah mobil Leon berhenti. 

Mobilnya berada di bagian tengah jalan dan paling depan dekat trotoar penyeberangan jalan. Leon tampak bosan melipat kedua tangannya di dada memperhatikan orang yang lalu-lalang menyebrang jalan.

Matanya membulat lebar, kali ini siang hari, dia tidak sedang bermimpi dan Marko tidak mengajaknya minum. Sosok yang selalu dirindukan sekaligus di bencinya  tepat melintas  di hadapannya.

Tanpa ragu Leon membuka pintu mobil, disaat bersamaan dengan lampu hijau menyala. Suara klakson mobil terus berbunyi menghamburkan penglihatannya yang sudah tak mendapati sosok tersebut.

"Tuan, ada apa?" ucap Bisma, bingung melihat tingkah tuannya.

Leon membanting pintu mobilnya dengan kasar. Kesal sendiri.

"Aku yakin itu dia. Ternyata selama ini dia bersembunyi di kota ini. Pantas saja orang-orang suruhanku tak bisa melacak keberadaan, ternyata dia bersembunyi di lubang yang aku duduki."

Leon meracau dalam hati, seperti sosok dua tanduk monster berkepala merah tiba-tiba saja muncul dijiwanya.

"Putar mobil, aku mau ke toko kue itu," perintah Leon  meyakini bahwa sosok yang dicarinya masuk kedalam toko kue.

"Lihat pembalasanku. Ketika aku menemukanmu, aku pastikan kali ini akan mengikatmu lebih erat. Kalau perlu aku pasangkan rantai di lehermu."

Nisa sibuk memilih beberapa roti dan satu kue berukuran kecil untuk sekali santap. Sudah mendapatkan yang dia mau segera membayarnya.

Mobil Leon masih belum terparkir dengan benar.  Dia langsung membuka dan menerobos keluar.  Leon berlari ke dalam toko kue, matanya terus berkeliling mengawasi setiap sudut. Namun, sosok yang dicarinya tak ditemukan.

"Ah, shit. Dia menghilang lagi. Aku yakin kali aku tak salah lihat."

Batin Leon bertambah kesal karena dia tetap kalah cepat mengejar sosok tersebut.

"Ada apa, Tuan? Akan sangat berbahaya jika Tuan berlari seperti tadi," Bisma lari tergagap mengejar tuannya yang seperti sedang mengejar maling.

"Kau ingat dulu aku pernah menyuruhmu menyelidiki seseorang? Apa orang-orang mu sedang membohongiku, hah?" Leon langsung menarik kedua kerah kemeja Bisma menahan amarahnya dengan eratan gigi yang terdengar jelas.

Bisma mencermati semua ucapan yang keluar dari mulut tuannya lalu dia mengingatnya, "Saya tidak berani, Tuan. Mana mungkin saya membohongi anda, memang benar tidak ada jejak tertinggal untuk orang itu," sahut Bisma dengan tubuhnya yang sudah bergetar.

"Kalau begitu, cari lagi dia. Selidiki ulang dimana keberadaan dia sekarang. Aku menginginkan data itu sampai di tanganku paling lambat hari senin!" 

Perintah Leon sambil menghempaskan kasar kerah kemeja Bisma yang sudah dicengkramnya tadi.

Bab 3

Leon membalikkan tubuh dan mata langsung berkeliling ke segala arah. Dia ingin memastikan semua penglihatannya.

Benar-benar kosong.  Sosok itu tak terlihat lagi dari puluhan orang yang lalu-lalang. Bisma merapikan kerah dan dasinya yang sempat rusak oleh cengkraman tuannya.

"Tuan memintaku untuk mencarinya lagi. Siapa dia? Apa hubungannya dengan Tuan? Bahkan setelah lima tahun dia tetap mencarinya."  Bisma berdiskusi dengan batinnya sendiri.

Bisma mengikuti tuannya yang sudah lebih dulu masuk mobil. Dia melirik spion.  Wajah kesal tuannya sangat terlihat jelas bahkan bertambah parah semenjak kejadian tadi.

"Tuan."

"Lanjutkan, aku akan menemuinya, tapi bukan untuk melakukan kencan. Aku akan membahas kontrak peluncuran produk terbaru kita!" 

Perkataan Leon sudah seperti perintah yang tak bisa digoyahkan. Bisma sudah pasrah. Dia tidak akan memaksakan lagi tuannya untuk melakukan kencan buta. Tanpa aba-aba mobil pun melaju ke perjalanan awal mereka.

"Banyak sekali, Nis. Kau tidak salah belanja sebanyak ini?" Adam kaget ketika melihat Nisa pulang dengan beberapa tentengan makanan.

"Besok kamu libur kan Sarah?" kata Nisa.

"Uhm," jawab Sarah.

"Menginap disini, temani aku satu malam saja," Nisa membujuk Sarah.

"Ehem, tidak boleh. Sebaiknya habis ini, kau istirahat Nis. Pulihkan tenagamu. Pekerjaan pertamamu nanti akan sangat melelahkan!" Adam menggeleng sambil memberikan kode delikan pada Sarah.

"Kamu pelit banget sih, Dam. Aku hanya meminta dia menemaniku malam ini saja," Nisa menyadari kode yang diberikan Adam pada Sarah.

"Iya, Dam. Aku menginap ya, semalam saja," kini Sarah mulai bergelayut di lengan Adam, mencoba membujuknya.

"Haisss, iya, iya, nggak jadi, Dam. Sana pergi, tapi habiskan dulu makanan kalian," Nisa sadar diri sekarang malam minggu mereka.

"Huhuhu. Nasib jomblo." Nisa meringis dalam hati sambil memasukkan satu potongan kue besar ke dalam mulutnya.

Setelah mereka pulang Nisa merasa bosan. Walau sebenarnya, tubuh Nisa perlu istirahat. Namun, dia tetap merasa jenuh. Ingin menjenguk ibunya sudah terlalu malam dan jam besuk pun sudah habis. Alhasil Nisa luntang lantung di jalan sendirian.

"Hmm, bete. Aku ngapain ya?"

Nisa terus berfikir berjalan pelan di pinggir trotoar, tidak menyadari dari belokan sebuah mobil melaju dengan cepat dan memercikkan kubangan air ke bajunya.

BLASH. BYAARR.

"Arrrggghhh!"  teriaknya sambil merapikan baju. Seorang laki-laki turun dan menghampirinya.

"Maaf, Nona. Saya tidak sengaja menyetir terlalu cepat! Saya sedang terburu-buru." Laki-laki tadi berusaha meminta maaf dan memberikan sapu tangannya untuk membantu membersihkan air yang menciprat di wajah Nisa.

Nisa mengangkat kepalanya, "Tidak apa-apa, Tuan. Saya yang salah karena jalan tak melihat!" Laki-laki tadi terus menatap wajah Nisa dengan lekat.

"Az-Aznii? Kamu, Aznii kan?" Sontak mata Nisa membulat lebar. Sudah lima tahun ini dia mengubur nama tersebut. Bahkan untuk pertemuan pertama pada orang yang baru dikenal dia lebih sering menyebutkan nama Nisa seperti keluarganya yang memanggilnya begitu.

Nisa menatap wajah orang di hadapannya yang berpenampilan sangat maskulin dengan jas dan sepatu mengkilapnya. Dia merasa tidak mengenal orang itu.

"Uhm, maaf mungkin anda salah orang, Tuan," Nisa berusaha menghindari dan akan pergi.

"Kamu? Lupa? Aku, Aldo mantan kamu waktu SMA dulu!"

Kini dada Nisa yang bergetar hebat ketika mendengar nama yang laki-laki yang ingin dia hindari. Nisa sudah melupakan semua yang terjadi lima tahun lalu. Dia tak ingin membuka atau mengusiknya lagi. Karena bagi Nisa sekarang, menjaga, merawat dan memulihkan ibunya adalah prioritas utama.

Nisa tetap tak menghiraukan, dia tetap berjalan meninggalkan Aldo.

"Az, Az ... dengarkan aku dulu, tolonglah!" ucap Aldo menarik tangan Nisa mencegahnya pergi. Nisa berhenti sejenak. Namun, tetap diam. Dia berusaha mendengarkan penjelasan Aldo.

"Jangan lari Az, aku mohon. Lihatlah, kamu nggak perlu lari dariku!" Aldo menunjuk satu buah cincin yang sudah melingkar di jari manisnya. Nisa meliriknya.

"Ah, dia sudah menikah."

Aldo merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselnya. 

Nada sambung beberapa kali terdengar, "Sayang, maaf ... aku tak bisa menjemputmu dengan Nata. Kamu naik taksi online saja, kita langsung bertemu di rumah ya, i love you!" Telpon pun terputus.

"Kita perlu bicara, Az!" Aldo menarik tangan Nisa masuk ke mobilnya, setelah dia benar-benar menutup teleponnya.

"Az, ayolah ... aku nggak akan macam-macam. Aku cuma mau bicara sama kamu!" Aldo mencegah Nisa yang akan keluar dari mobilnya.

"Huh, seharusnya tadi aku nggak keluar rumah. Tetap di kamar seperti yang Adam bilang." Nisa merutuki kebodohannya karena bertemu dengan Aldo.

"Bicaralah!" Akhirnya Nisa mencoba berdamai dengan dirinya sendiri.

"Katakan padaku, kemana saja kau pergi selama ini? Aku dan Leon terus mencarimu. Bahkan kami sampai datang ke rumahmu, tapi kau sudah pindah." 

Aldo  tak sabar menghujani Nisa dengan pertanyaan yang disimpannya selama beberapa tahun ini.

"Itu sudah berlalu, jadi aku nggak perlu jelaskan apapun lagi kan!" Nisa menjawabnya dengan ketus.

"Ayolah Az, aku ini nggak akan seperti dulu. Aku sudah menikah dengan seorang wanita yang bernama Sofia dan putriku, Nata sudah berusia empat tahun. Aku sudah benar-benar rela dan melepaskanmu. Kali ini aku bertanya sebagai seorang sahabat yang sangat mengkhawatirkanmu. Kau menghilang setelah kami bertengkar, apa yang sebenarnya terjadi, Az?" Aldo  yang mencerca Nisa dengan pertanyaan lagi.

"Hurf!"  Nisa membuang nafasnya perlahan, dia lega setelah mendengar ucapan dari Aldo.

"Intinya, aku baik-baik saja selama ini. Maaf jika dulu aku langsung menghilang. Aku hanya tak ingin merusak persahabatan kalian hanya karena persaingan cinta," jelas Nisa sekenanya sejak mendengar penjelasan Aldo barusan.

Nisa hanya samar-samar mengingat ucapan Aldo, dia sebenarnya tidak mengingat apapun yang terjadi 5 tahun lalu.

"Aku yang salah Az, kalau dulu aku nggak gegabah dan terbakar cemburu pada Leon. Kalian tidak akan seperti ini!" sesal Aldo.

"Sudah berlalu semua, jadi kita nggak perlu bahas masalah itu."

"Benar katamu, tapi nggak dengan Leon. Dia mencarimu seperti orang gila. Dia banyak berubah setelah kepergianmu. Bahkan aku sudah nggak bisa memberikan saran atau masukan apapun padanya!"

"Itu masalah dia, Aldo. Aku nggak ingin mengingatnya. Kita sekarang sudah punya jalan masing-masing!"

"Uhm, aku mengerti. Untungnya aku bertemu dengan Sofia. Dia sangat sabar menghadapi sikapku. Dia juga tak pernah menghujat diriku saat kehilangan arah karena kekecewaanku. Dia selalu mendukungku." 

Aldo sudah terlihat berbeda. Setelah lima tahun dia berubah menjadi seorang laki-laki dewasa dan bijak. Walaupun Nisa dulu sempat memberi cap Aldo sebagai pembohong karena sikapnya. Setidaknya potongan itulah yang diingat Nisa.

"Aku senang kalau kamu bisa berbahagia dan bertemu dengan wanita yang tepat. Baiklah sudah malam, aku pulang dulu,"  ucap Nisa berbalik dan akan membuka pintu mobil Aldo.

"Aku antar ya, Az,"  Aldo menyentuh lengan Nisa.

Nisa menoleh, "Nggak ada maksud apa-apa Az, sudah malam, aku khawatir kamu kenapa-napa di jalan."

"Uhm, baiklah!"

"Boleh minta nomor teleponmu, Az?" Nisa menautkan kedua alisnya.

"Aku ingin mengenalkanmu dengan Sofia dan Nata," lanjut Aldo. Nisa pun menyerah dengan alasan Aldo dan mereka pun bertukar nomor telepon.

"Aldo."

"Uhm."

"Lain kali kalau kita ketemu panggil aku dengan Nisa, ya!" Kini Aldo yang menolehkan wajahnya sesaat.

"Karena Aznii sudah jadi masa lalu, sekarang hanya ada Nisa, putri kesayangan papa dan mamaku," jelas Nisa menerawang jauh tak memperdulikan Aldo yang masih menatapnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED