---
----
Langit Jakarta malam itu terlihat gelap, seperti halnya hati Zoe Zivana yang tengah termenung di balkon apartemen mewahnya. Si manis tengah memeluk lututnya sendiri, ia mengenakan kaus putih longgar dan celana pendek. Angin malam menyapu rambut hitam panjangnya yang berkilau, membuatnya tampak seperti model dalam iklan di televisi. Namun, Zoe bukan lagi model. Ia kini adalah istri dari seorang pria kaya dan berpengaruh, Altair Nanggala-seorang CEO sukses yang hampir selalu absen dari rumah mereka.
Zoe memandang kosong ke arah lampu-lampu kota yang berkilauan, mencoba mengusir kesepian yang selalu menyelimutinya. Ia mendengar suara langkah kaki yang berat di belakangnya, mengiringi suara pintu balkon yang terbuka.
"Kenapa duduk di sini? Sudah malam," suara dingin Altair memecah keheningan.
Zoe menoleh, tersenyum tipis. "Cuma ingin menghirup udara segar. Kamu baru pulang?"
Altair mengangguk sambil melonggarkan dasinya. Wajah tampannya yang tegas terlihat lelah. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berjalan masuk ke ruang tamu. Zoe mendesah pelan. Sudah setahun lebih mereka menikah, tapi Altair selalu terasa seperti orang asing.
Zoe mengikuti Altair ke dalam. Ia melihat suaminya menuangkan segelas air dingin lalu setelahnya duduk di sofa.
"Makan malamnya sudah aku siapkan, tapi mungkin sudah dingin," kata si manis dengan suara lembut.
"Aku sudah makan," jawab Altair singkat tanpa menatapnya.
Zoe menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan rasa sakit di hatinya. Hal ini selalu terjadi di setiap hari, pikirnya.
"Mas Al," Zoe akhirnya memecah keheningan.
"Aku tahu kamu sibuk, tapi ... bisa nggak kita luangkan waktu bersama, seperti dulu?"
Altair mendongak, menatap Zoe dengan tatapan datar. "Seperti dulu? Zoe, kita menikah bukan karena cinta. Kamu tahu itu, bukan."
Kata-kata yang terucap dari bibir Alta seperti sebuah pisau yang menghujam hati Zoe, rasanya sungguh menyakitkan. "Aku tahu," jawab si manis pelan, suaranya hampir gemetar.
"Tapi aku hanya ingin mencoba, Mas. Aku ingin mencoba membuat semuanya lebih baik."
Altair menghela napas panjang, meletakkan gelasnya di meja.
"Aku tahu kamu mencoba, Zoe. Tapi aku ... aku nggak tahu bagaimana harus menjalani ini. Aku terlalu lelah."
"Lelah? Dengan aku?" suara Zoe semakin lirih.
Altair mengalihkan pandangannya. "Lelah dengan semuanya. Jangan salah paham."
Zoe terdiam. Ia ingin bertanya lebih jauh, tapi takut mendengar jawaban yang menyakitkan.
----
Di ruangan kerjanya, dalam pikiran yang penuh kekacauan, Altair teringat masa lalunya bersama Naura Zoffany. Wanita itu adalah cinta sejati sekaligus istri pertamanya dulu. Jadi Altair ini dulu pernah menikah dan mereka menikah atas dasar cinta, sesuatu yang kini terasa asing baginya. Naura selalu berhasil membuat hidupnya berwarna, meskipun pernikahan mereka tidak sempurna.
Namun, tekanan dari keluarga membuat segalanya berubah. "Aku ingin punya cucu dari kamu, Altair. Jangan sampai kamu hanya menikah untuk bersenang-senang saja," ucapan ibunya masih terngiang jelas di telinganya.
Altair dan Naura mencoba segalanya, tapi tak kunjung dikaruniai anak. Hal itu membuat hubungan mereka menjadi rapuh, dan akhirnya, perpisahan menjadi jalan yang terpaksa mereka pilih. Altair tidak tahu bahwa perpisahan itu menyisakan luka yang dalam pada Naura, juga sebuah rahasia yang akan menghantuinya di kemudian hari.
---
Zoe menatap Altair yang duduk membelakanginya, tubuhnya terlihat tegang. Dengan hati-hati, ia mendekat dan duduk di samping suaminya.
"Mas Al ... apa aku pernah salah?" tanya Zoe, mencoba memberanikan diri.
Altair mengerutkan kening, lalu menatap Zoe. "Maksudmu?"
"Maksudku ... aku nggak tahu apa yang salah dengan kita. Aku selalu merasa bahwa aku seperti bukan bagian dari hidupmu."
Altair terdiam sejenak, menimbang kata-katanya. "Zoe, kamu nggak salah. Aku yang mungkin nggak pernah benar-benar mencoba."
"Kalau begitu, kenapa kamu nggak mencoba?" Zoe mendesak, matanya mulai berkaca-kaca.
Altair menghela napas panjang, lalu berdiri. "Aku nggak tahu. Mungkin karena aku nggak pernah benar-benar menginginkan pernikahan ini. Aku hanya melakukan apa yang diinginkan keluarga."
Zoe terpaku. Meski ia sudah sering merasakan hal ini, mendengar Altair mengatakannya secara langsung tetap saja masih menyakitkan.
"Jadi aku hanya kewajiban untukmu? Sebuah kompromi?" suaranya nyaris berbisik.
Altair menatap Zoe, matanya menunjukkan rasa bersalah, tapi tidak ada cinta di sana. "Zoe, kamu tahu bagaimana awalnya. Aku menikahimu karena ... ibu menginginkan cucu. Itu saja."
Air mata Zoe akhirnya jatuh. Ia berdiri dan berjalan ke arah kamar mereka tanpa berkata apa-apa lagi. Di belakangnya, Altair hanya bisa menatap dengan perasaan campur aduk.
Di dalam kamar, Zoe duduk di tepi ranjangnya dengan memeluk bantal untuk menahan isakannya. Ia tahu sejak awal menikah, Altair tidak pernah mencintainya, tapi ia berharap waktu bisa mengubah segalanya.
Sebagai seorang mantan model yang biasa hidup dalam sorotan, Zoe selalu terbiasa berpura-pura bahagia di depan orang lain. Tapi sekarang, tidak ada yang bisa ia sembunyikan dari dirinya sendiri.
"Kenapa aku tetap di sini?" tanyanya pada dirinya sendiri. Jawabannya selalu sama yaitu karena ia mencintai Altair, meskipun pria itu tidak pernah mencintainya.
Altair, di sisi lain, merasa dadanya sesak setiap kali melihat Zoe menangis. Bukan karena ia merasa bersalah, melainkan karena ia tahu ia tidak pernah memberikan Zoe apa yang pantas ia dapatkan.
Ia membenarkan kacamatanya lalu membuka laci, dan mengambil sebuah foto lama. Foto itu adalah satu-satunya kenangan yang masih ia simpan dari Naura. Dalam foto itu, Naura tersenyum hangat, dengan mata yang berbinar penuh cinta.
"Apa yang sedang kamu lakukan sekarang, Nau?" bisiknya pelan.
Altair tahu bahwa pernikahannya dengan Zoe tidak akan pernah seperti pernikahannya dengan Naura. Ia tidak pernah bisa melupakan wanita itu.
Malam semakin larut, dan kedua penghuni apartemen itu terjebak dalam kesunyian masing-masing. Zoe akhirnya tertidur dengan mata bengkak, sementara Altair tetap terjaga, memandangi foto Naura dalam diam.
Kehidupan mereka terlihat sempurna dari luar, tapi hanya mereka yang tahu betapa kosongnya hati masing-masing.
Altair dan Zoe tidak tahu bahwa takdir sedang merancang pertemuan yang akan mengubah segalanya. Kehadiran seseorang dari masa lalu akan menguji kekuatan pernikahan mereka yang rapuh dan menghadirkan pertanyaan besar. Aapakah cinta sejati akan selalu menang, ataukah kewajiban dan komitmen akan menjadi pemenangnya?
TBC 🥀🥀---
Pagi itu, Zoe Zivana bangun lebih awal dari biasanya. Ia menyiapkan sarapan lengkap di dapur, sesuatu yang jarang ia lakukan karena biasanya ia lebih sering memesan makanan dari luar. Tapi kali ini berbeda. Ia memutuskan untuk memasak sendiri.
"Dia pasti suka kalau aku masak sendiri," gumam Zoe sambil menuangkan adonan pancake ke wajan.
Zoe mencoba mengingat apa yang dulu disukai Altair sebelum mereka menikah. Ia tahu Altair suka pancake dengan sirup maple dan segelas kopi hitam tanpa gula. Dulu, di awal pernikahan mereka, Zoe sering membuat sarapan seperti ini. Tapi perlahan, kebiasaan itu memudar, seiring dengan dinginnya hubungan mereka.
Ketika semuanya siap, Zoe menyajikan makanan itu di meja makan. Ia kemudian melangkah ke kamar, mendapati Altair masih duduk di depan meja kerjanya, membaca dokumen. Jas kerjanya sudah tergantung di kursi, siap ia kenakan.
"Mas Al," Zoe memanggil lembut, "Aku sudah siapkan sarapan. Yuk makan dulu sebelum kamu ke kantor."
Altair menoleh, wajahnya datar seperti biasa. "Aku sudah bilang, aku nggak terbiasa sarapan pagi-pagi. Kamu nggak perlu repot-repot."
"Tapi ... aku pikir mungkin hari ini kamu mau coba makan dulu," Zoe mencoba tersenyum, meskipun hatinya mulai terasa berat.
Altair hanya menghela napas. "Zoe, aku benar-benar nggak ada waktu. Ada rapat pagi ini. Aku harus pergi."
Zoe terdiam, menelan kekecewaannya. Ia tahu Altair tidak berniat menyakitinya, tapi setiap kalimat dingin itu selalu meninggalkan luka kecil di hatinya.
Setelah Altair pergi ke kantor, Zoe duduk di meja makan, memandangi sarapan yang telah ia siapkan dengan penuh semangat tadi pagi dengan tatapan kecewa. Ia mencoba mencicipi pancake itu, tapi rasanya hambar di mulutnya.
Pikiran Zoe melayang ke awal pernikahannya dengan Altair. Saat itu, ia merasa seperti wanita paling beruntung di dunia. Altair adalah pria yang tampan, sukses, dan sangat dihormati. Tapi seiring waktu, ia menyadari bahwa pernikahan mereka bukanlah cerita dongeng seperti yang ia harapkan.
"Aku nggak akan menyerah," bisik Zoe pada dirinya sendiri. "Altair hanya butuh waktu. Dia pasti akan melihat usahaku suatu hari nanti."
Zoe selalu mencoba meyakinkan dirinya bahwa Altair adalah pria yang pantas diperjuangkan. Ia tahu Altair adalah orang yang penuh tekanan karena tanggung jawabnya sebagai CEO, dan mungkin itulah yang membuatnya sulit membuka hati.
Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Zoe tahu ada alasan lain. Ia sering melihat Altair termenung, seolah memikirkan sesuatu yang tidak pernah ia bagi.
Atau seseorang.
Sementara itu, Altair yang kini tengah duduk di belakang meja kerjanya di kantor. Di depannya ada tumpukan dokumen yang perlu ia tanda tangani, tapi pikirannya melayang jauh ke masa lalu.
Altair mengingat saat-saat bersama Naura, wanita yang pernah ia cintai dengan segenap hatinya. Mereka dulu memiliki dunia kecil mereka sendiri, penuh dengan tawa dan mimpi-mimpi. Tapi semuanya hancur karena satu alasan, mereka tidak bisa memiliki anak.
Ibunya, wanita yang sangat ia hormati, selalu menekankan pentingnya memiliki keturunan.
"Altair, kamu adalah penerus keluarga ini. Kamu harus memastikan ada generasi berikutnya," katanya suatu hari.
Tekanan itu membuat Altair terpaksa mengakhiri pernikahannya dengan Naura, meskipun hatinya hancur berkeping-keping. Ia ingat malam terakhir mereka bersama. Naura menangis, memohon agar mereka mencoba lagi. Tapi Altair tidak bisa melawan keinginan ibunya.
"Ini bukan tentang cinta, Naura," katanya waktu itu. "Ini tentang kewajiban."
Dan itu adalah kebohongan terbesar yang pernah ia katakan.
Ketika waktu makan siang tiba, Altair akhirnya memutuskan untuk menghubungi sahabat lamanya, Davin. Mereka bertemu di sebuah restoran mewah yang sering mereka datangi.
Singkat saja keduanya saat ini sudah ada di restoran yang menjadi tempat bertemu.
"Ada apa dengan wajahmu? Kelihatan kusut banget," tanya Davin sambil mengaduk kopinya.
Altair menghela napas panjang. "Gue nggak tahu, Dav. Kadang gue ngerasa hidup gue kosong, meskipun dari luar semuanya kelihatan sempurna."
"Zoe?" tanya Davin, langsung menebak.
Altair mengangguk pelan. "Dia wanita baik, tapi ... gue nggak pernah benar-benar mencintainya. Gue menikahinya karena keluarga. Sekarang gue mulai merasa bersalah karena dia selalu berusaha, sementara gue ... gue bahkan nggak bisa berpura-pura peduli."
Davin menggelengkan kepala. "Lu nggak bisa terus begini, Alta. Kalau lu nggak mencintai dia, kenapa lu nggak ngomong terus terang? Lu nggak adil ke dia."
Altair menatap sahabatnya dengan tatapan berat. "Gue nggak mau nyakitin dia. Gue juga nggak tahu apa yang harus gue lakuin."
Davin terdiam sejenak, lalu berkata, "Masalahnya bukan Zoe, kan? Ini tentang Naura."
Nama itu membuat Altair tersentak. Ia menatap Davin dengan tajam. "Gue udah selesai sama Naura. Itu masa lalu."
"Kalau bener, kenapa lu masih mikirin dia? Gue tahu lu, Alta. Lu mungkin nggak ngomong, tapi gue bisa lihat. Lu nggak pernah benar-benar move on dari dia."
Altair tidak bisa menyangkal. Bayangan Naura selalu menghantuinya, bahkan setelah lima tahun berlalu.
---
Malam itu, Zoe menunggu Altair pulang seperti biasa. Ketika pria itu akhirnya tiba, wajahnya tampak lelah. Altair langsung melangkah menuju sofa tanpa sepatah kata, melepas dasi dan menenggelamkan dirinya dalam kesunyian.
Zoe ingin bertanya banyak hal, tapi ia tahu Altair tidak akan menjawab. Ia memandang pria yang kini menjadi suaminya, mencoba memahami pikirannya, meskipun Altair terasa seperti teka-teki yang sulit dipecahkan.
Pikirannya kembali pada foto yang ia temukan di laci kerja Altair tadi siang. Naura, Zoe tahu nama itu, meskipun Altair jarang sekali menyebutnya. Ia tahu Altair pernah menikah sebelumnya, dan ia juga tahu pernikahan itu berakhir karena Naura tidak bisa memberikan keturunan.
Tapi apa artinya foto itu sekarang? Kenapa Altair masih menyimpannya?
Zoe menggenggam gelas tehnya erat-erat. Hatinya penuh dengan pertanyaan yang enggan ia ucapkan.
"Mas Alta," panggilnya lembut.
Altair mendongak sedikit, menatapnya sekilas. "Ada apa?"
Zoe menggigit bibirnya, berusaha memutuskan apakah ia harus melanjutkan pertanyaannya atau tidak. Tapi akhirnya ia hanya berkata,
"Kamu capek, ya? Aku buatkan teh hangat, ya."
Altair mengangguk kecil tanpa berkata apa-apa. Zoe berdiri dan menuju dapur, membawa gelas teh miliknya yang sudah dingin.
Di dalam hatinya, Zoe bertanya-tanya. Apakah aku ada di hatinya? Apakah dia benar-benar sudah melupakan Naura, ataukah wanita itu masih menjadi bayangan yang mengisi kekosongan dalam hatinya?
Sementara itu, di ruang tamu, Altair menatap ponselnya. Ia menemukan dirinya membuka daftar kontak dan berhenti di nama yang sudah lama tidak ia hubungi. Naura. Jarinya melayang di atas layar, tapi ia tidak menekan tombol apa pun.
Malam itu, di bawah atap yang sama, dua hati yang sama-sama lelah berjuang untuk tetap bertahan. Zoe dengan usahanya mempertahankan cinta yang seakan tak pernah utuh, dan Altair dengan bayang-bayang masa lalunya yang terus menghantui.
TBC 🥀🥀🥀---
Pagi itu, Altair Nanggala berdiri di depan jendela kantornya yang besar, memandangi pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Kopi hitam di tangannya sudah hampir dingin, tapi pikirannya terus melayang pada mimpi buruk yang mengganggunya semalam. Di dalam mimpi itu, Naura tersenyum, lalu perlahan menghilang dalam kabut. Senyum yang dulu selalu membuatnya merasa memiliki dunia kini hanya menjadi bayang-bayang di benaknya.
Namun, Altair tidak punya waktu untuk tenggelam dalam lamunan. Hari ini adalah hari penting. Perusahaan akan menyambut beberapa karyawan baru, salah satunya adalah kandidat terbaik yang berhasil menembus seleksi ketat, seorang manajer pemasaran yang baru direkrut.
"Pak Altair, karyawan baru sudah tiba. Anda ingin bertemu sekarang?" suara sekretarisnya memecah pikirannya.
Altair meletakkan kopinya di meja. "Bawa mereka ke ruang rapat. Aku akan datang sebentar lagi."
---
Di ruang rapat, Naura Zoffany duduk sambil merapikan blazer birunya. Hatinya berdebar-debar, bukan hanya karena ini hari pertamanya bekerja, tapi karena perusahaan ini adalah milik Altair Nanggala-pria yang pernah menjadi pusat dunianya.
Naura tidak pernah membayangkan bahwa ia akan bertemu Altair lagi. Lima tahun telah berlalu sejak mereka berpisah, dan ia sudah membangun kehidupan baru bersama anaknya, Aruna. Namun, ketika tawaran pekerjaan ini datang, ia tidak bisa menolaknya. Gajinya cukup besar untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi Aruna, dan Naura yakin ia bisa menghadapinya.
"Aku sudah bukan Naura yang dulu," gumamnya dalam hati, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Namun, ketika pintu ruang rapat terbuka dan Altair melangkah masuk, segala keyakinan itu runtuh.
---
Altair berhenti di ambang pintu, matanya langsung tertuju pada wanita yang duduk di tengah ruangan. Untuk beberapa detik, dunia seperti berhenti berputar.
"Naura?" suaranya terdengar seperti bisikan, nyaris tak percaya.
Naura menoleh, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, pandangan mereka bertemu. Ada banyak hal yang ingin Naura katakan, tapi ia hanya bisa tersenyum tipis dan berkata, "Selamat pagi, Pak Altair."
Altair berusaha menguasai dirinya. Ia melangkah masuk, menyapa semua karyawan baru, tapi matanya terus mencuri pandang ke arah Naura. Wanita itu masih sama seperti yang ia ingat, hanya saja lebih dewasa. Rambutnya kini lebih pendek, dan tatapannya tidak lagi selembut dulu.
Setelah memberikan sambutan singkat, Altair keluar dari ruang rapat dengan langkah cepat. Jantungnya berdegup kencang, dan pikirannya dipenuhi pertanyaan: Kenapa Naura ada di sini? Apa ini kebetulan, atau ada alasan lain?
---
Altair memanggil sekretarisnya ke ruangan. "Siapa yang mengurus perekrutan untuk posisi manajer pemasaran?" tanyanya dengan nada tajam.
Sekretarisnya, Livia, tampak bingung. "Tim HRD, Pak. Kandidat itu memang memiliki kualifikasi terbaik. Ada sesuatu yang salah?"
Altair menggeleng pelan, menenangkan dirinya. "Tidak, tidak ada yang salah. Tapi, pastikan aku mendapat laporan lengkap tentang semua karyawan baru, segera."
Setelah Livia pergi, Altair bersandar di kursinya, menggosok pelipisnya. Ia tahu ia harus berbicara dengan Naura, tapi ia tidak tahu bagaimana memulainya.
---
Sementara itu, di ruang makan karyawan, Naura mencoba menenangkan dirinya. Ia tahu bahwa pertemuan dengan Altair tidak bisa dihindari, tapi ia tidak menyangka reaksi pria itu akan sekuat tadi.
"Bu Naura, Anda baik-baik saja?" tanya salah satu rekan barunya.
Naura tersenyum kecil. "Oh, saya baik-baik saja. Hanya sedikit gugup, itu saja."
Namun, dalam hatinya, ia tahu alasan sebenarnya. Bertemu Altair lagi membuat kenangan lama yang selama ini ia coba kubur muncul kembali.
Menjelang siang, Altair akhirnya memutuskan untuk memanggil Naura ke ruangannya. Ketika Naura masuk, Altair berdiri di dekat jendela, memunggunginya.
"Kamu ... sengaja melamar pekerjaan di sini?" tanyanya tanpa basa-basi, suaranya datar.
Naura menghela napas. "Tidak. Aku tidak tahu ini perusahaanmu sampai aku menerima tawaran pekerjaan."
Altair berbalik, menatapnya tajam. "Kenapa kamu tidak pergi setelah tahu?"
Naura menegakkan bahunya, mencoba terlihat kuat. "Karena aku butuh pekerjaan ini. Aku butuh memastikan masa depan anakku."
Kata-kata itu membuat Altair terdiam. Ada sesuatu dalam nada suara Naura yang membuatnya merasa bahwa wanita itu menyembunyikan sesuatu.
"Anakmu?" tanyanya, mencoba terdengar santai.
Naura mengangguk. "Ya, anakku. Aku punya seorang putri."
Altair ingin bertanya lebih banyak, tapi ia menahan diri. "Baiklah. Aku tidak akan mempersulit mu. Tapi pastikan urusan kita tidak mengganggu pekerjaan."
Naura menatap Altair dengan mata yang penuh emosi, tapi ia hanya berkata, "Terima kasih, Pak Altair."
---
Setelah Naura pergi, Altair kembali duduk di kursinya, tapi ia tidak bisa berkonsentrasi. Kata-kata Naura terus terngiang di telinganya: "Aku butuh memastikan masa depan anakku."
Altair tidak tahu kenapa, tapi ada sesuatu yang membuatnya merasa bahwa anak itu mungkin...
Ia segera mengusir pikiran itu dari kepalanya. Tidak, itu tidak mungkin. Jika anak itu memang anaknya, kenapa Naura tidak pernah memberitahunya?
Di meja kerjanya, Naura memandang layar komputer sambil menggigit bibirnya. Hatinya terasa berat setelah pertemuannya dengan Altair. Ia tahu ini tidak akan mudah, tapi ia juga tidak punya pilihan.
Naura tahu bahwa cepat atau lambat, Altair akan mengetahui kebenarannya. Tapi ia tidak siap. Ia masih ingat jelas bagaimana Altair dan keluarganya memandang pernikahan mereka sebagai cara untuk menghasilkan keturunan. Ketika ia akhirnya hamil dua minggu setelah perceraian mereka, ia memutuskan untuk merahasiakannya. Ia tidak ingin anaknya tumbuh dengan beban menjadi 'penerus keluarga'.
Tapi sekarang, semuanya terasa semakin rumit.
Hari pertama Naura di kantor berakhir dengan rasa lelah yang luar biasa. Ketika ia pulang ke rumah, ia langsung disambut oleh Aruna, anak perempuannya yang berusia lima tahun.
"Mama, aku bikin gambar di sekolah hari ini!" Aruna menunjukkan gambarnya dengan penuh semangat.
Naura tersenyum, mengusap kepala anaknya. "Bagus sekali, sayang. Nanti Mama pajang di kamar, ya."
Aruna tertawa riang, tapi di dalam hatinya, Naura merasa khawatir. Kehadiran Altair dalam hidup mereka lagi bisa menjadi ancaman besar bagi kedamaian yang selama ini ia dan Aruna miliki.
Di sisi lain, di apartemennya, Altair menatap kosong ke arah foto pernikahannya dengan Zoe yang terpajang di meja. Ia tahu hidupnya tidak akan sama lagi setelah hari ini.
Di bawah langit Jakarta yang mulai gelap, takdir mulai menggerakkan roda-roda yang akan membawa mereka ke dalam pusaran konflik yang semakin rumit.
-----
Pagi itu, Zoe memutuskan untuk datang ke kantor Altair lebih awal, membawa sarapan kesukaan suaminya yang kemarin ia siapkan tapi diabaikan. Ia berpikir mungkin Altair akan menghargainya jika ia langsung mengantarnya ke kantor. Zoe tahu pernikahannya tidak sempurna, tapi ia tidak mau menyerah begitu saja.
Dengan senyum yang dipaksakan, Zoe melangkah memasuki lobi perusahaan Nanggala Group. Ia menyapa resepsionis yang sudah mengenalnya dan naik ke lantai atas menggunakan lift pribadi. Setibanya di lantai eksekutif, ia langsung menuju ruang kerja Altair.
Namun, langkah Zoe terhenti di depan pintu ketika ia mendengar suara Altair yang cukup keras.
"Livia, aku bilang aku nggak mau ada karyawan lain yang tahu soal masa laluku!" suara Altair terdengar tajam.
"Tentu, Pak. Saya akan memastikan itu," balas suara sekretarisnya dengan nada tegang.
Zoe mengerutkan kening. Ia tidak ingin menguping, tapi kata-kata Altair tadi membuat rasa penasarannya tumbuh. Masa laluku? Apa maksudnya? pikir Zoe. Ia memutuskan untuk tidak masuk dan memilih menunggu di lobi lantai bawah.
Sementara itu, Naura sedang bersiap untuk menghadiri rapat pagi di kantor. Hari keduanya di perusahaan itu tidak terasa lebih mudah daripada hari pertama. Ia masih berusaha mengendalikan kegelisahan karena harus bekerja di bawah Altair, mantan suaminya.
Saat ia memasuki ruang rapat, ia melihat Altair sudah duduk di ujung meja, berbicara dengan beberapa direktur lain. Altair terlihat begitu tenang dan profesional, tidak menunjukkan tanda-tanda kegelisahan seperti yang dirasakannya.
"Selamat pagi, semuanya," sapa Naura, berusaha terdengar santai.
Altair mengangkat wajahnya, menatap Naura sejenak sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke dokumen di tangannya. Ia terlihat seperti pria yang benar-benar fokus pada pekerjaannya, tapi Naura tahu lebih baik. Ia bisa merasakan ketegangan di udara setiap kali mereka berada di ruangan yang sama.
Selama rapat, Altair beberapa kali menyebut ide-ide Naura sebagai solusi yang masuk akal untuk proyek baru mereka. Para direktur lain tampak terkesan, tapi Naura tidak merasa bangga. Ia tahu Altair hanya bersikap profesional.
Namun, setiap pujian yang keluar dari mulut Altair membuatnya sedikit gugup. Apakah pria itu benar-benar tulus, ataukah ada sesuatu yang lain di balik sikapnya?
---
Di lobi lantai bawah, Zoe duduk sambil memainkan ponselnya, menunggu Altair selesai dengan urusannya. Ia merasa tidak enak mengganggu, tapi ia benar-benar ingin melihat Altair tersenyum saat menerima sarapan yang ia buat.
Ketika Livia, sekretaris Altair, keluar dari lift, Zoe langsung berdiri. "Livia, ada waktu sebentar?"
"Oh, Bu Zoe. Ada yang bisa saya bantu?" Livia tersenyum sopan, meskipun raut wajahnya terlihat sedikit tegang.
Zoe memutuskan untuk berbasa-basi terlebih dahulu. "Kamu pasti sibuk sekali ya kerja sama Altair? Aku tahu dia orangnya cukup ... keras."
Livia tertawa kecil. "Pak Altair memang sangat fokus pada pekerjaannya, Bu. Tapi beliau juga adil. Kalau ada hasil, beliau pasti menghargainya."
Zoe mengangguk sambil tersenyum. "Oh ya, aku dengar tadi Altair bilang soal masa lalunya. Ada sesuatu yang aku perlu tahu?"
Pertanyaan itu membuat Livia terlihat sedikit gugup. Ia jelas tidak ingin menyinggung hal yang terlalu pribadi. "Saya rasa itu hanya hal biasa, Bu. Pak Altair tidak suka mencampurkan kehidupan pribadinya dengan pekerjaan."
Zoe mencoba membaca wajah Livia, tapi ia tidak bisa mendapatkan petunjuk lebih banyak. "Baiklah. Kalau begitu, aku akan menunggu dia selesai rapat."
---
Ketika rapat selesai, Naura melangkah keluar dari ruang rapat bersama beberapa kolega baru. Ia bernapas lega, merasa sedikit lebih percaya diri setelah memberikan presentasi yang sukses.
Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat sosok yang tidak asing di ujung lorong. Zoe Zivana.
Zoe berdiri sambil memegang sebuah kotak makan, terlihat sedang menunggu seseorang. Ketika mata mereka bertemu, Zoe langsung menyadari bahwa wanita itu adalah orang yang sama seperti di foto yang ia temukan di laci Altair kemarin.
Naura juga tampak terkejut, tapi ia berhasil menguasai dirinya lebih cepat. Ia mengangguk sopan dan melanjutkan langkahnya, mencoba menghindari kontak lebih lanjut.
Namun, Zoe tidak bisa membiarkannya begitu saja. Ia memanggil Naura dengan suara lembut, "Kamu ... Naura, kan?"
Naura berhenti, menoleh dengan senyum tipis. "Iya, benar. Maaf, apakah kita saling kenal?"
Zoe melangkah mendekat, berusaha terlihat ramah meskipun hatinya bergejolak. "Aku Zoe, istri Altai
TBC ☘️☘️☘️☘️☘️