“Hei, minggir!” teriak Arhan ke pengendara itu. “Kamu pikir ini jalan nenek moyangmu!” teriaknya lagi.
Sayangnya teriakan itu sama sekali tidak digubris oleh wanita yang mengendarai motor matik berwarna putih tersebut. Pria yang ada di dalam mobil itu bernama Arhan Bramantio, dosen baru di kampus ternama yang ada di Ibukota. Ia merasa kesal sekali dengan pengendara motor yang melintas lambat di depannya.
“Astaga, tuh orang budek kali ya,” kesal Arhan.
Sontak ia melihat sebuah kubangan air yang berada di dekat motor wanita itu. Lalu ia pun berpikir untuk menjaili wanita tersebut. Dan memaksa mobilnya untuk menyalip motor tersebut.
Srettt!
Air cipratan itu langsung membasahi motor itu. Namun, bukan hanya motornya yang terkena cipratan air kubangan, melainkan celana serta baju berwarna putih yang dikenakan oleh wanita itu pun ikut terkena air tersebut.
“Mampus kamu!” ucap Arhan di dalam mobil. Ia sama sekali tak peduli dengan kejadian tersebut.
Ia melihat dari kaca spion mobilnya, wanita itu menghentikan motornya dan merasa kesal dengan kejadian yang barusan terjadi.
“Siapa suruh pakai jalan seenaknya. Emang enak kena cipratan air kotor. Sekalian aja pulang, nggak usah kuliah,” kekeh Arhan seraya melajukan mobilnya dengan cepat hingga ke Fakultas.
Ia langsung turun dari mobilnya, lalu bergegas menuju ke ruangan dekan untuk menghadap. Dekan itu tidak lain adalah ayahnya sendiri, Profesor Demian Bramantio.
Tok tok tok!
Ia mengetuk pintu sebelum ia masuk ke ruangan Demian. Setelah itu, ia masuk ke ruangan dan mendapati ayahnya sudah menunggunya sejak tadi.
“Arhan, kamu langsung ditugaskan di semester 5 ya, kebetulan dosen Aljabarnya sudah menjabat sebagai pembantu rektor. Dan kamu akan menggantikannya mulai hari ini,” tutur Demian.
“Baiklah, aku terima.”
“Lima belas menit lagi kamu masuk ke kelas, karena ada jadwal ujian tengah semester,” ujar Demian.
“Sekarang juga?” Arhan terbelalak. Ia merasa malas sekali untuk masuk ke kelas di hari pertamanya menjadi dosen di kampus ini.
Tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa, karena perintah dari Demian hukumnya mutlak dan tak bisa diganggu gugat. Itulah prinsip yang dia tahu dari sosok ayah yang ada di depannya.
“Bersikaplah profesional, kamu seorang dosen bukan mahasiswa. Mengerti!”
“Iya, Pa.”
“Apa, papa?” Demian mengerutkan dahinya. “Ini kampus, panggil papa dengan panggilan PAK. Paham!”
“Iya, Pak.”
Setelah itu, Arhan pun bangkit dan bergegas pergi ke kelas yang dimaksud. Kebetulan Demian juga sudah memberitahu Arhan posisi kelas itu berada.
Arhan melangkah ke lift, karena kelas itu berada di lantai 3 gedung Fakultas MIPA. Setelah keluar dari lift, banyak mahasiswa memandangnya dengan tatapan yang berbeda. Ia tak bisa menerka maksud dari tatapan tersebut.
“Ganteng banget, sumpah!” ujar salah satu mahasiswi yang terpesona dengan ketampanannya. Arhan bersikap biasa saja dengan kalimat yang barusan terdengar di telinganya.
“Mahasiswa baru kayaknya, calon gebetan gua,” sahut salah satunya lagi.
“Dia jatah gua ya,” sahut yang lain.
Arhan tak memperdulikan semua omongan para wanita yang terdengar di telinganya. Ia bergegas masuk ke kelasnya. Lalu menutup pintunya.
Ia hanya berdiri santai di depan dua puluhan mahasiswa yang ada di kelas tersebut. Suasana kelas menjadi sedikit gaduh dengan kedatangannya.
Buk!
Tangan Arhan langsung memukul meja yang ada di depannya. Sontak suara gaduh itu langsung menjadi hening. Semuanya mendadak membisu dengan tatapan penuh ketakutan.
“Kalian pikir ini pasar!” bentak Arhan dengan tegas. Tatapannya tajam mendominasi keadaan. “Saya tidak suka keramaian di kelas ini. Mengerti!”
Tak ada suara apapun yang terdengar dari puluhan mulut yang ada di kelas itu. Sebagian dari mereka menundukkan kepala, dan sebagiannya lagi memandang ke arahnya dengan tatapan penuh pertanyaan.
“Maaf, Pak. Anda siapa?” celetuk salah seorang pria. Dia ketua tingkat di kelas tersebut.
“Oh. Saya belum memperkenalkan diri ternyata. Maaf,” sesal Arhan. “Saya dosen baru di kampus ini dan menggantikan Prof Deva Mahardika yang udah menjabat sebagai pembantu rektor. Ada lagi yang mau bertanya?”
Tak ada suara apapun yang terdengar dari semau mahasiswa yang ada di depannya. Setelah itu, ia pun membuka amplop ujian tengah semester yang dia bawa.
“Kamu, ketua tingkat, sini!” panggil Arhan dengan tatapan serius. Ketua tingkat itu pun langsung maju dengan gugup.
“I-iya, Pak. Kenapa?”
“Bagikan soalnya ke semua teman-temanmu.”
Ketua tingkat itu pun membagikan lembar ujiannya. Tak lama berselang, semua selesai dibagikan. Sisanya ia kembalikan ke Arhan. Lalu ketua tingkat kembali ke kursinya.
Ceklek!
Pintu kelas terbuka. Sontak membuat pandangan Arhan langsung beralih ke arah pintu yang terbuka itu. Muncul seorang mahasiswi seraya memasang senyum yang memaksa.
“Kamu! Sini!” panggil Arhan yang duduk di kursinya.
Wanita itu pun melangkah ke arahnya. Lalu menatap Arhan dengan penuh penyesalan karena sudah telat hampir dua puluh menit dari waktu normal.
“Kamu tahu ini jam berapa?” bentak Arhan.
“Delapan lebih dua puluh menit, Pak,” jawab wanita itu dengan polos.
“Siapa namamu?”
“Na-ina A-lexan-dra,” jawab wanita itu dengan gagap.
“YANG JELAS NYEBUTNYA!” bentak Arhan dan membuat semua mahasiswa terkejut.
“Naina Alexandra,” ulang wanita itu.
“Bagus,” sahut Arhan. “Kamu pulang dan mengulang tahun depan di mata kuliah ini,” titah Arhan.
“Apa? Ngulang?” Naina terbelalak. Semua mahasiswa pun langsung terkejut dengan keputusan yang diambil oleh Arhan. “Tolong, Pak. Kasih saya kesempatan, tadi saya telat karena ...”
“KELUAR!” potong Arhan tanpa ampun seraya menunjuk pintu.
“Tapi, Pak. Saya ...”
“KELUAR SAYA BILANG!” titah Arhan dengan mata yang melotot.
Naina pun tak punya pilihan selain keluar dari kelas itu. Ia juga tak mau mempermalukan diri dihadapan teman-temannya.
Ia melangkah menyusuri koridor ruangan tersebut. Lalu duduk di bangku panjang tempat mahasiwa sering duduk menunggu mata kuliah dimulai. Hanya ada dia di bangku itu, karena semua mahasiswa sedang mengikuti ujian tengah semester.
“Mimpi apa aku semalam, kenapa nasibku sesial ini,” keluh Naina.
Ia tak bisa mengelak lagi dari masalah yang baru saja terjadi. Ia terpaksa harus mencari uang tambahan untuk biaya kuliahnya di semester berikutnya. Padahal ia sudah berencana untuk menyelesaikan semuanya di semester ini.
“Tuhan, apa yang harus kulakukan,” lirihnya.
Ia mengasihi dirinya sendiri dengan keadaan yang dia alami. Tiba-tiba ia teringat dengan kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia semenjak dia masih SMA. Sehingga sekarang ia tinggal bersama neneknya. Satu-satunya keluarga yang dia miliki.
“Maafin aku ya, Nek. Aku udah mengecewakanmu,” sesal Naina. “Ini semua gara-gara mobil sport merah maroon itu. Dia harus bertanggung jawab dengan semua ini. Dia harus ganti rugi dan membayar biaya kuliahku yang molor ini,” sambungnya dengan kesal.
Di tengah lamunannya itu, ponselnya bergetar. Lalu ia menerima panggilan dari tetangganya tersebut.
“Iya, Bu. Ada apa?”
“Nenekmu ditabrak motor. Naina.”
Deg! Hati Naina langsung tak karuan.
***
“Apa? Nenek kecelakaan?” Naina terkejut ia mendadak terkulai lemas mendengar kabar itu.
Ia langsung bergegas menuju rumah sakit tempat neneknya berada. Dalam perjalanan, ia terus mengeluarkan air matanya, dan membasahi pipi yang tadinya dilapisi bedak.
“Tuhan, jaga nenekku,” pintanya di sepanjang jalan.
Ia menarik gas motornya untuk mempercepat lajunya menuju ke rumah sakit. Tak lama berselang, ia sampai di rumah sakit tersebut. Ia melepas helm, lalu sejenak menghapus air matanya dengan tisu yang ada di tasnya.
Ia mempercepat langkahnya menuju ke resepsionis.
“Maaf, Bu. Pasien atas nama Amira Jensen, ruangan berapa, Bu?”
“Sebentar ya,” sahut si resepsionis. Naina pun menunggu sejenak dengan perasaan yang was-was. “Melati 5 ya. Lurus, belok kanan,” tunjuk si resepsionis.
“Terima kasih, Bu.”
Naina tak membuang waktu lagi. Ia pun langsung menuju ke ruangan yang dimaksud. Sesampainya di sana, ia langsung melihat neneknya sudah terbaring di ranjangnya.
“Nenek, baik-baik aja, kan?” tanya Naina dengan lirih. Ia langsung memeluk neneknya yang tersenyum.
“Jangan sedih, aku baik-baik aja, Naina.”
“Bagaimana aku nggak sedih, Nek. Lihat dirimu, tertabrak motor. Aku langsung panik dan khawatir sekali. Aku takut terjadi sesuatu denganmu,” lirih Naina.
“Dokter bilang cuma memar, bukan patah tulang. Jadi kamu nggak usah khawatirin aku ya,” pinta Amira seraya tersenyum. Tubuhnya memang sudah sangat tua, sehingga ia merasa lemah untuk berjalan lagi.
“Syukurlah, aku lega, Nek.” Naina sedikit tenang sekarang. Namun, ia harus berpikir keras bagaimana caranya membiayai perawatan neneknya di rumah sakit ini.
Ia mendadak melamun, tetapi ia berusaha untuk tidak menunjukkan hal itu di depan neneknya.
“Kenapa kamu melamun?” tanya Amira.
“Nggak apa-apa, Nek.”
“Aku tahu, kamu pasti mikirin biaya rumah sakitnya, kan?”
Nainan mengangguk, meski terpaksa. Ia pun tak bisa menyembunyikan hal itu. Namun, Amira malah tersenyum. Membuat Naina keheranan.
“Kamu jangan khawatirin biaya rumah sakit. Sudah ditanggung kok.”
“Siapa, Nek?”
“Keluarga Demian. Dia sahabat papamu. Kamu memang nggak pernah tahu hal ini,” ungkap Amira.
“Oh. Begitu ceritanya.”
Amira lalu meminta cucunya untuk mendekat ke arahnya. Lalu menyentuh pipi cucunya dengan lembut. Ia merasa sangat bahagia melihat cucunya tumbuh dewasa dan berparas cantik seperti ibunya.
“Kamu persis ibumu, Naina. Kadang, aku sering sedih ketika melihatmu. Wajahmu hampir mirip dengan Helena, dia sangat cantik dan anggun sepertimu,” ungkap Amira lirih.
Tak tega melihat neneknya bersedih seperti itu. Ia langsung memeluk tubuh Amira dengan erat. Seketika air matanya juga ikut keluar dan membasahi pipinya lagi.
Amira lalu melepas pelukan cucunya, lalu menatap wanita muda itu dengan serius.
“Naina, aku mau sampaikan sesuatu sama kamu.”
“Iya, Nek. Katakanlah.”
“Wasiat mendiang ibumu sebelum ia meninggal dunia.”
Seketika Naina terkejut saat mendengar kalimat tersebut. Matanya menatap serius ke arah Amira yang menatapnya dengan sendu.
“Apa, Nek?”
“Kamu harus menikah dengan salah satu anak laki-laki dari sahabat ibu dan papamu,” jawab Amira dan tersenyum.
“Apa? Menikah?” Naina terbelalak. Ia juga semakin tak mengerti dengan jalan hidupnya. Entah ini keberuntungan atau kesialan. Ia belum bisa menebaknya.
“Iya, Naina. Anak Demian itu kembar. Dan salah satu dari mereka harus menikah denganmu, itu wasiat ibumu yang harus kamu penuhi, Naina,” tutur Amira.
Naina menghela napas berat. Ia tak pernah menduga di usianya yang ke 22 ini, ia harus dijodohkan dengan seseorang yang sama sekali belum pernah dia kenal.
“Apa yang harus aku lakukan, Nek. Aku belum pernah ketemu orang itu, jadi bagaimana bisa aku menikah dengannya,” ujar Naina membela diri.
Amira tersenyum mendengar hal itu. Karena bukan hal baru bagi Amira menemukan kejadian seperti itu.
“Dulu, Glenn dan Helena juga nggak saling mengenal, tetapi setelah menikah mereka bisa saling mencintai. Aku cuma berharap, kamu nggak mengecewakan keluarga Demian dan juga bisa memenuhi wasiat ibumu. Aku yakin mereka keluarga yang baik, Naina.”
Naina kembali membuang napas berat mendengar penjelasan neneknya. Ia tak punya pilihan lain lagi selain memenuhi permintaan neneknya. Meski ia tak bisa membayangkan hidup dengan pria yang sama sekali dia tidak cintai.
“Baiklah, aku akan memenuhi permintaan itu. Kapan aku akan bertemu dengan mereka?”
“Malam minggu. Kamu diundang ke acara makan malam keluarga Demian.”
“Lusa berarti?”
“Iya, Naina. Aku harap dia benar-benar jodoh terbaik untukmu.”
“Semoga, Nek.”
Amira langsung memeluk cucunya dengan penuh cinta. Ia sangat mencintai Naina. Karena dialah satu-satunya keluarga yang dia miliki saat ini. Itulah alasan kenapa Amira ingin Naina menikah dengan salah satu anak dari keluarga Demian.
***
Sorenya, Arhan baru saja tiba di rumahnya. Demian dan Feli langsung memanggilnya ke ruang keluarga.
Arhan lalu melangkah menghampiri kedua orang tuanya yang sudah menunggu kepulangannya. Setelah menyalami keduanya, ia lalu duduk di depan kedua orang tuanya.
“Ada apa, Pa. Ma?” tanya Arhan penasaran.
“Kami ingin membicarakan sesuatu denganmu.”
“Serius amat, Ma?”
“Iya, ini serius. Bisa nggak bersikap serius? Kamu selalu saja santai seperti itu,” keluh Feli.
“Iya deh, mamaku yang paling cantik. Aku akan mendengarmu.”
Demian dan Feli saling menatap seolah memberi kode siapa yang akan menyampaikan hal tersebut. Hingga akhirnya, Feli yang mengambil alih pembicaraan serius sore ini.
“Arhan, aku melihatmu udah tumbuh dewasa dan sudah mapan. Jadi aku pikir inilah waktunya kami mengatakan hal ini kepadamu.” Feli menggantung kalimatnya.
“Apaan sih, Ma? Kok kayak serius banget?”
Feli menatap putranya dengan serius. Begitu juga dengan Demian.
“Gini, Arhan. Sejak kecil kami udah berniat untuk menjodohkanmu dengan seorang wanita. Dia anak yatim piatu. Kedua orang tuanya adalah sahabat kami ...”
“Bentar, ini perjodohan?” potong Arhan.
“Iya, apa kamu keberatan?” tanya Demian. Ia langsung mengambil alih pembicaraan saat melihat reaksi putranya.
“Astaga. Ini zaman apa, Pa? Ini ... ini bukan zaman Siti Nurbaya pake jodoh-jodohan. Ayolah, aku lulusan luar negeri, masa dijodohin,” protes Arhan.
“Diam kamu, Arhan! Ini yang terbaik buat kamu. Lagipula dengan sikapmu yang kayak gini sekarang, mana bisa mencari wanita yang tepat. Jadi mending kamu terima aja perjodohan ini,” paksa Demian.
Sifat kerasnya itu pun tak bisa hilang dari Demian. Sehingga Arhan pun juga percuma membantah, karena hal itu tak akan pernah berpengaruh apa-apa dalam keputusan ayahnya.
Arhan membuang napas berat. Ia merasa sedikit frustasi dengan perjodohan ini.
“Kenapa nggak Revano aja sih, kan dia terlihat lebih dewasa dari aku,” tawar Arhan.
“Nggak bisa. Dia udah punya calon. Jadi satu-satunya pilihan kami, iya kamu. Paham!”
“Astaga, kenapa aku terlahir di keluarga kayak gini ya. Benar-benar menyebalkan,” keluh Arhan pelan.
“Arhan! TUTUP MULUTMU!” bentak Demian seraya berdiri dari duduknya.
Feli langsung menenangkan suaminya yang sudah terbawa emosi. Ia tahu bagaimana jadinya jika sampai Demian marah.
Demian pun duduk kembali setelah tenang, sementara Arhan masih duduk santai di depan mereka. Begitulah Arhan, selalu santai menghadapi masalah apapun.
“Aku boleh tahu, siapa wanita itu?” tanya Arhan menatap kedua orang tuanya.
“Dia mahasiswamu,” jawab Demian.
Deg!
***
“Apa? Dia masih mahasiswa?” Arhan terbelalak mendengar jawaban ayahnya tersebut.
Arhan menggeleng-geleng, ia masih tak percaya dengan pernyataan ayahnya barusan. Ia kembali membuang napas berat.
“Lalu kenapa kalau mahasiswa? Masalah?” tanya Demian.
“Tapi, Pa. Dia kan masih kecil ...”
“Jangan membuat alasan, Arhan!” potong Demian. “Usia seseorang nggak menjamin kedewasaan seseorang. Aku udah melihat orangnya, dia dewasa dan bertanggung jawab. Aku pikir, dia sangat cocok denganmu,” sambungnya.
Arhan hanya terdiam mendengar ucapan ayahnya. Ia merasa percuma untuk mengeluarkan pendapatnya di depan sang ayah. Karena semua pendapatnya tetap tak berpengaruh apa-apa dengan keputusan ayahnya tersebut.
“Cocok apaan, ketemu aja kagak. Liat orangnya aja kagak pernah. Jangan-jangan orangnya jelek. Nggak, nggak, ini nggak boleh dibiarin. Tapi gimana caranya membantah, nggak mempan,” gerutu Arhan, dalam hati.
Demian dan Feli memperhatikan Arhan sedikit melamun. Lalu Feli mengambil alih pembicaraan.
“Arhan, lusa kami akan mengundangnya ke sini untuk makan malam. Jadi kamu bisa berkenalan sekalian dengannya. Kamu jangan mempermalukan keluarga, bersikap baik dan sopan. Kamu mengerti, Arhan?”
“Iya, Ma. Aku mengerti,” ungkap Arhan.
Setelah itu ia pun berpamitan dengan kedua orang tuanya. Lalu ia naik ke lantai dua. Ia merasa seperti sedang bermimpi di siang bolong.
Plak! Plak! Plak!
“Aduhh, sakit,” jerit Arhan.
Ia menampar dirinya sendiri untuk memastikan jika ia tidak sedang bermimpi sekarang. Ia membuang napas berat, dan sedikit frustasi dengan situasi yang sedang dia hadapi.
“Apa yang harus kulakukan, masa iya aku menerima perjodohan dengan wanita yang sama sekali belum pernah aku temui. Mending cantik, kan lumayan. Kalau jelek, mau ditaruh di mana nih muka? Cowok ganteng sejagat kayak aku nikah sama cewek jelek. Ogah!” keluh Arhan menggerutu sendiri.
Ia lalu mengambil ponselnya, dan mencari kontak Jonathan, sahabat terbaiknya. Setelah ketemu, ia pun langsung menekan icon panggil. Tak menunggu lama, Jonathan yang biasa dipanggil Joe itu pun langsung menerima panggilannya.
“Halo, Arhan, kenapa?”
“Aku mau ketemu sama kamu, nih. Penting.”
“Iya udah. Tinggal ketemu, apa susahnya sih. Jam 9 di bar biasa.”
“Oke. Ajak Renata juga ya.”
“Beres, tuh anak pasti datang.”
Arhan lalu menutup teleponnya. Setelah itu, ia menaruh ponselnya di atas nakas. Ia pun merebahkan tubuhnya dan sejenak menenangkan pikirannya yang kacau.
Perlahan ia pun melelapkan matanya yang sudah mengantuk. Akan tetapi, rasa ngantuknya pun harus terhenti karena sebuah panggilan dari nomor baru.
“Siapa sih, nih. Ganggu aja!” kesalnya seraya memandang layar ponselnya. Ia masih sangat mengantuk. Sehingga ia sangat malas untuk menerima panggilan itu.
Akan tetapi, panggilan itu pun masuk lagi untuk kedua kalinya. Arhan yang kesal, langsung menerimanya.
“Hei, ini siapa?” tanya Arhan dengan tegas.
“Saya mahasiswa yang diusir tadi, Pak. Mohon kebijakannya, sekali ini aja,” pinta wanita di seberang teleponnya.
“BODOH AMAT!”
Arhan langsung menutup teleponnya secara sepihak. Ia tak memeperdulikan apapun tentang mahasiswanya yang dia usir dari kelas tadi pagi.
Sejenak ia berpikir dan merenung sesaat. Ia kembali mengingat suara wanita tadi yang terdengar lirih. Membuatnya merasa iba, lalu ia memutuskan untuk mengirim pesan kepada nomor yang barusan meneleponnya.
“BESOK TEMUIN AKU DI RUANGAN JAM 8 TEPAT. PAHAM!”
Pesan tersebut langsung terkirim ke nomor yang bersangkutan. Setelah itu, ia menaruh kembali ponsel itu di tempat semula. Ia sudah mengantuk sekali, lalu perlahan melelapkan matanya.
***
Tepat jam 9 malam, Arhan sudah berada di bar tempat biasa dia nongkrong dengan dua sahabatnya, Joe dan Renata.
Joe adalah putra dari Deva Mahardika, sekarang dia menjadi seorang dosen di kampus yang sama dengan Arhan. Sementara Renata adalah putri dari Icha Clairine, ia seorang pengacara yang hobi minum alkohol.
“Kemana sih tuh anak dua, belum pada nongol udah jam segini. Dasar!” kesal Arhan.
Ini bukan pertama kali, dua sahabatnya itu melakukan hal yang sama. Namun, setiap membuat janji selalu telat.
Tak lama berselang, dua orang itu muncul dan menghampirinya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“Sorry, macet,” ungkap Joe.
“Lagu lama. Ngeles aja kayak bajai,” keluh Arhan.
“Beneran loh, aku nggak bohong. Sueerr!” seru Joe. “Nih, Renata saksinya. Iya kan, Ren?” sambungnya.
“Iya, begitulah.” Renata menjawab dengan santai.
Setelah itu, Renata memesan sebotol bir, sedangkan Joe memesan red wine. Keduanya melihat wajah Arhan kusut seperti cucian yang belum disetrika.
“Hei, tuh muka kenapa kusut begitu?” ejek Joe.
“Entahlah. Aku nggak bersemangat banget dengan hidupku,” jawab Arhan.
“Lah, kenapa? Mobil punya, tampang oke, keluarga kaya, lalu apa yang kurang?” cecar Renata setelah meneguk birnya.
Sejenak Arhan terdiam sambil menatap kedua sahabatnya. Ia bingung harus memulai dari mana ceritanya. Lalu ia menyeruput minuman soda di depannya. Arhan memang tidak meminum alkohol.
“Cerita sama kita, ada apa?” tanya Joe.
“Aku dijodohin,” jawab Arhan malas.
Sontak membuat Joe dan Renata saling menatap seketika. Sedetik kemudian, tawa renyah pun pecah. Joe dan Renata benar-benar menertawakan sahabatnya tersebut.
“Sumpah, kamu lucu banget,” ejek Joe.
“Zaman modern gini masih aja dijodohin. Sekalian aja masuk tuh acara kontak jodoh, langsung dapat hadiah uang.” Renata tak mau kalah, ia ikut mengejek sahabatnya itu.
Tetapi Arhan hanya menatap sahabatanya dengan santai. Ia sudah paham bagaimana sifat keduanya.
“Kamu dijodohin sama siapa?” tanya Joe setelah menyelesaikan tawanya.
“Mahasiswa di kampus kita,” jawab Arhan.
“Buset dah, mahasiswa?” Renata terbelalak. “Jadi om-om dong kamu kalau nikah sama mahasiswa sendiri,” ejeknya.
“Cantik nggak? Kalau cantik sih, nggak apa-apa, aku sih setuju aja,” tambah Joe.
Kedua sahabatnya itu masih belum bosan meledekinya. Tetapi Arhan tak memperdulikan hal itu.
“Aku belum bertemu dengannya. Entahlah, aku pasrah aja. Mau cantik kek, mau jelek ke. Itu udah nasibku. Aku terima takdir aja,” ungkap Arhan.
“Pasrah amat, Pak!” ejek Renata. “Udahlah, sekarang kita bersulang aja, cheeerrs!”
Di tempat yang sama, Naina juga berada di bar tersebut. Tetapi dia bukan sebagai tamu, melainkan pegawai part time.
Ia merasa lelah dengan pekerjaannya hari ini, lalu keluar mencari udara segar di luar bar. Sontak ia terbelalak saat melihat mobil sport merah maroon itu terparkir di depannya. Ia masih ingat nomor plat mobilnya.
“Mobil itu?” Naina geram. “Siapa yang punya mobil itu?”
Ia langsung menghampiri mobil itu, sesampainya di sana. Ia tak melihat pemiliknya di dalam. Lalu ia mengambil paku dan merusak cat mobil itu.
“Gara-gara kamu, aku jadi bermasalah di kampus. Rasain kamu!”
Naina tidak segan-segan merusak semua bagian bodi mobilnya dengan paku yang ada di tangannya. Setelah selesai, ia pun memandang mobil itu dan terkekeh.
“KENAPA KAMU MENCORET MOBILKU!” teriak seorang pria di belakangnya.
***