Tidak pernah sekali pun Kevin membagikan apapun tentang Anne di WhatsApp story miliknya. Satu-satunya orang yang pernah dia pamerkan adalah Cherry.
Semua orang berpikir pria itu sedang jatuh cinta. Tidak ada yang berani mengatakan bahwa Kevin tidak berperasaan atau bahkan menuduhnya memamerkan wanita lain saat dia masih memiliki seorang istri. Bagaimanapun, Kevin adalah orang yang paling berpengaruh di sekitar kota. Tidak ada yang berani mempertanyakan sikapnya.
Anne mengenakan gaun pendek berwarna merah. Rambutnya yang agak panjang tersisir rapi ke belakang telinganya. Meskipun wajahnya tidak memakai riasan apapun, tetapi Anne masih terlihat jauh lebih cantik dibanding mereka yang memakai riasan wajah.
Postur badannya terlihat sangat proposional. Sementara Cherry terlihat seperti seorang dewi, Anne terlihat seperti seorang ratu dengan pakaian yang dikenakannya.
Sosok agungnya terpancarkan dari warna gaun yang dia kenakan.
Anne turun dari mobil setelah sang supir membukakan pintu penumpang untuknya, lalu Anne berjalan ke Hotel Awan dan Surga.
Hotel tersebut merupakan salah satu hotel termewah di Kota Andara. Orang-orang perlu melakukan reservasi terlebih dahulu sebelum datang ke sana. Jika tidak melakukan reservasi terlebih dahulu, maka tidak diperbolehkan masuk. Hanya anggota emas dengan biaya tahunan lebih dari 2 Miliar rupiah yang boleh mereservasi kamar di sana. Berkata bahwa hotel itu mewah benar-benar pernyataan yang terlalu meremehkan.
Anne memesan kamar pribadi yang berada di lantai tiga. Di sanalah Anne akan mengadaan jamuan makan malam bersama orang-orang dari Grup KIA.
"Sekretaris Wendy baru saja menelepon. Dia berkata bahwa CEO Grup KIA baru saja kembali dari luar negeri. Dia juga akan menghadiri makan malam hari ini," Asisten Anne berbisik di telinganya.
Mata Anne berkedut. Grup KIA adalah perusahaan terbesar di Kota Castora, bahkan grup itu berada di posisi teratas di daftar Forbes.
Grup AN telah beberapa kali mengundang mereka untuk berkolaborasi, tetapi mereka selalu mempertimbangan ajakan tersebut.
Sekarang, CEO dari Grup KIA akan menghadiri jamuan makan malam. Apa itu berarti peluangnya untuk mendapatkan kesepakatan kerja sama akan lebih besar? Atau malah sebaliknya? Menjadi lebih kecil?
Meskipun Anne merasa khawatir, tetapi ekspresinya terlihat tenang. "Apa kamu sudah mengkonfirmasi semua hidangan dan wine yang akan disajikan malam ini?" Anne bertanya kepada asistennya dengan sopan.
"Sudah." Sang asisten menjawab dengan sigap.
Para tamu yang diundang adalah anggota senior dari Grup KIA. Sekarang, CEO-nya juga datang kemari, Anne tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apa pun.
Setelah masuk ke ruangan privat, Anne dan asistennya memeriksa semua perabotan di sekitar ruangan, mencoba memeriksa apa semuanya sudah pada tempatnya. Tepat ketika Anne hendak duduk untuk beristirahat, ada sebuah telepon yang masuk. Sang asisten kemudian mengangkat telepon tersebut.
Sang asisten dengan cepat menoleh ke arah Anne, "Bu Anne, Michelle berkata bahwa orang-orang dari Grup KIA telah tiba."
"Minta Michelle untuk mengantarkan mereka ke sini." Anne berkata dengan tenang sambil menegakkan punggungnya.
"Baik, Bu Anne." Sang asisten mengucapkan beberapa patah kata kepada orang di ujung telepon sebelum menutup telepon.
Anne masih bisa merasakan rasa pegal di sekitar kakinya. Pinggulnya pun masih terasa tidak nyaman, membuatnya susah untuk bergerak. Meskipun merasa lelah, tetapi Anne tahu jika dia tidak bisa hanya duduk dan bersantai. Para tamunya dari Grup KIA akan tiba dalam waktu dekat. Anne menatap pintu sambil mengipasi wajahnya dengan lembut.
Ini bukanlah kali pertamanya menjamu klien besar, tapi kenapa dia merasa begitu panas di sini? Apa itu karena AC-nya?
"Periksa suhu ruangan," perintah Anne pada sang asisten.
"Suhunya 24 derajat," jawab sang Asisten.
Hotel Awan dan Surga memiliki sistem pendingin udara yang sangat baik. Suhu di hotel itu bahkan beberapa derajat lebih rendah daripada hotel lain, tetapi Anne masih merasa kepanasan.
Mungkin itu hanya beberapa alasan psikologis yang Anne rasakan saja.
Tak lama kemudian, pintu di depannya didorong terbuka. Seseorang dengan perawakan yang tinggi muncul di hadapannya.
Ada sesuatu tentang pria itu yang membuat Anne merasa tertarik. Matanya terlihat indah dan tenang bagaikan laut dengan deburan ombak yang menerpa bibir pantai. Pria itu mengenakan setelan abu-abu perak, seulas senyuman terlukis dengan indah di wajahnya.
Di antara tujuh orang di depannya, pria itulah yang paling menarik perhatian. Dia terlihat sangat menonjol di tengah kerumunan.
Ketika tatapannya tertuju pada Anne, senyum di bibirnya melebar.
Senyumannya begitu mempesona, membuat Anne tidak bisa memalingkan wajahnya.
"Kami bertemu Kevin dalam perjalanan ke sini, jadi kami sedikit terlambat. Aku tidak menyangka Kevin akan memesan kamari privat di lantai empat untuk merayakan ulang tahun Cherry," ucap seseorang yang berdiri di sebelah pria berjas abu-abu itu sambil tersenyum. Orang itu tidak lain adalah Pak Rahadi, direktur dari Grup KIA. Pernyataan yang dia lontarkan cukup membuat hati Anne terasa sakit.
Mata Anne seketika berubah menjadi gelap. 'Jadi Kevin merayakan ulang tahun Cherry?' batinnya. Anne menggelengkan kepalanya untuk membuang semua pikiran di kepalanya jauh-jauh. Ini bukan saatnya untuk memikirkan hal itu.
"Apa ini adalah CEO baru grup KIA?" Anne bertanya kepada Pak Rahadi sambil menyunggingkan senyuman yang sopan.
Pak Rahadi
membusungkan dadanya dan berkata dengan bangga, "Anda sangat jeli, Bu Anne. Ini Ryan Yudhistira, CEO baru kami," ucap Pak Rahadi.
"Saya telah mendengar banyak tentang Anda, Bu Anne." Ryan melangkah maju, kemudian mengulurkan tangannya dengan sopan layaknya pria sejati.
Anne merasa terpesona hanya dengan menatap wajah pria di depannya itu. Melihat Anne yang terdiam ketika Ryan mengulurkan tangan kepadanya, sang asisten yang berada di sampingnya kemudian menyenggolnya.
Anne akhirnya tersadar dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Ryan.
Namun, tiba-tiba Ryan malah menarik Anne lebih dekat ke dadanya. Kemudian, dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan berbisik, "Selamat ulang tahun."
Anne membeku mendengar ucapannya. Wajahnya berubah menjadi pucat.
Hari ulang tahunnya... Seseorang ternyata benar-benar mengingat hari ulang tahunnya. Mata Anne terasa sedikit perih, namun dengan cepat dia mengerjapkannya matanya beberapa kali untuk menghentikan air mata keluar dari matanya. Sementara suaminya merayakan ulang tahun wanita lain, Anne malah menghabiskan ulang tahunnya bersama klien.
Suaminya bahkan tidak ingat akan ulang tahunnya, atau mungkin Kevin bahkan tidak peduli sama sekali.
Pak Rahadi tertawa, "Ryan baru saja kembali dari Prancis, jadi dia menyapa semua orang seperti itu."
Emosi yang bergejolak di matanya kini sedikit mereda, kemudian Anne menegakkan badannya, "Suatu kehormatan bagi saya untuk bisa bertemu dengan Pak Yudhistira hari ini. Semuanya, silakan duduk."
Anne membawa Ryan ke tempat duduknya yang berada tepat di sampingnya. Kemudian, dia berbalik untuk kembali menyapa pada anggota senior Grup KIA lainnya.
Hari ini, sepertinya Pak Rahadi berusaha untuk mendapatkan perhatian dari Anne. Dia berjalan menuju kursinya dan bertanya sambil tersenyum, "Jadi, kenapa Kevin tidak datang hari ini? Apa dia..."
"Pak Rahadi," potong Ryan sambil menatapnya dengan dingin. Suhu di ruangan itu seolah turun beberapa derajat.
Sedetik kemudian, seulas senyum tersungging di bibirnya, "Sebenarnya Bu Anne adalah teman sekelasku."
Pak Rahadi begitu terkejut hingga matanya terbelalak.
Bahkan, semua orang di ruangan itu juga terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa keduanya saling mengenal. Para eksekutif senior juga saling berpandangan. Mereka semua ingin tahu lebih banyak mengenai hubungan di antara keduanya.
Senyum Anne menjadi lebih lepas. Sepertinya setelah bertahun-tahun berlalu, Ryan masih mengingatnya.
Setelah mendengar peringatan bosnya, Pak Rahadi tersenyum dengan canggung. Wine baru saja disajikan kepada mereka. Dengan cepat, dia mengambil sebotol dan menuangkannya ke dua gelas. Salah satunya diserahkan kepada Anne, "Bu Anne, saya minta maaf jika saya berbicara terlalu gegabah sebelumnya. Saya harap Anda bisa menerima permintaan maaf saya."
Senyum di wajah Anne menjadi kaku.
Karena sedang mempersiapkan kehamilan, Anne tidak boleh minum alkohol. Dia bahkan tidak menggunakan kosmetik. Semua produk perawatan kulit, pakaian, tas dan minumannya dikontrol secara ketat oleh Keluarga Pratama.
Mengetahui bahwa Anne tidak boleh minum alkohol, dengan cepat asistennya mengambil wine itu dari tangan Pak Rahadi dan berkata, "Pak Rahadi, Bu Anne alergi terhadap alkohol. Izinkan saya minum bersama Anda sebagai gantinya."
Asisten Anne menenggak wine itu sebelum menunjukkan gelasnya kepada Pak Rahadi. Tidak ada setetes wine pun yang tersisa.
Pak Rahadi mengangguk, dia merasa terkesan. "Kamu pandai minum," pujinya. Tanpa mengeluh lagi, dia menenggak wine di gelasnya sendiri.
Dengan senyum kecil di wajahnya, Ryan menuangkan jus ke dalam gelas sebelum menyerahkannya kepada Anne. Di gelasnya sendiri sudah tertuang wine.
"Maukah kamu minum denganku karena kita dulu pernah menjadi teman sekelas?"
Anne melihat senyum Ryan dan mendapati dirinya membalas senyum itu. Ryan sudah berubah. Sebelum Anne mengambil jus dari tangannya, pintu ruang privat mereka didorong hingga terbuka.
Semua orang menatap pria yang tiba-tiba memasuki ruangan.
Kevin mengenakan kemeja hitam dan celana panjang. Ada sesuatu di matanya yang membuat semua orang segera berpaling.
Dia berjalan ke meja bundar dengan senyum tersungging di bibirnya, sementara tatapannya yang tajam tertuju pada jus yang dipegang Ryan. "Tuan Yudhistira, aku khawatir kamu tidak tahu bahwa istriku sebenarnya sedang mempersiapkan kehamilan, bukankah begitu?"
Mendengar kata-katanya, wajah Anne menjadi pucat. Dia menatap tajam ke arah Kevin.
Apa pria itu sedang mencoba mempermalukannya di depan umum?
Kevin melangkah maju dengan santai, tetapi matanya menatap tajam. Dia seperti predator yang sedang mengawasi pesaingnya.
"Jus itu rasanya asam. Istriku tidak bisa meminumnya."
Meskipun Kevin berusaha mati-matian untuk mempermalukannya, tapi Ryan sama sekali tidak bereaksi. Sebaliknya, Ryan justru mengangkat gelasnya sambil tersenyum, "Maaf, aku tidak tahu kalau kalian berdua sedang mempersiapkan kehamilan. Aku akan meminum wine ini sebagai tanda permintaan maafku kepada kalian."
Suasana di dalam ruangan menjadi tegang.
Dari cara Kevin menatap Ryan, terlihat jelas bahwa dia memusuhi CEO baru ini. Dengan cukup pintar, Pak Rahadi mencoba untuk meredakan ketegangan itu, "Kevin, bukankah kamu berada di lantai atas bersama Cherry?"
"Kudengar Tuan Yudhistira dan istriku dulu teman sekelas. Aku datang ke sini untuk mengajukan penawaran padamu, Tuan Yudhistira." Kevin tersenyum seperti seorang raja yang sedang menunggu ucapan terima kasih.
Sikap arogan terlihat jelas dari gerak-geriknya.
Kevin mengambil segelas wine dari meja, lalu mengangkatnya ke arah Ryan, "Tuan Yudhistira, aku akan bersulang untukmu, tetapi kamu juga harus bersulang untukku sebagai balasannya."
Dia mendentingkan gelasnya dengan gelas Ryan.
Ketegangan di ruangan itu terasa berlipat ganda.
Ryan juga menyunggingkan senyum di wajahnya. Bahkan, dia tidak tampak terintimidasi oleh pria di depannya. Dia segera meminum wine itu.
Gelas mereka secara otomatis diisi ulang.
"Kalau begitu, Kevin, aku ingin bersulang untukmu," kata Ryan sambil menyeringai.
Tatapan Kevin menjadi lebih membingungkan, entah apa yang dirasakannya. "Memangnya kamu punya alasan khusus untuk bersulang?" Suasana di sekitar mereka terasa menjadi lebih dingin.
Anne menatap mereka berdua, ingin menghilangkan ketegangan di antara mereka, tetapi dia tidak tahu harus berbuat apa.
Ryan mengerutkan kening, dia terlihat bingung.
Sudut bibir Kevin berkedut ketika perlahan-lahan dia berkata, "Aku menghukummu dengan segelas wine ini. Karena kamu tidak menghadiri pernikahan kami."
Setelah berkata begitu, senyum di wajahnya menghilang dalam sekejap.
Kevin membanting gelas ke atas meja. Cairan merah tumpah dan membasahi taplak meja. Kevin melirik ke arah asisten Anne, "Emily Kumala, jaga baik-baik bosmu dan antar dia pulang lebih awal."
Tanpa memberi Emily kesempatan untuk menjawab, Kevin langsung pergi.
Setelah Kevin pergi, semua orang diam terpaku. Seolah-olah Kevin telah memasukkan semua orang ke dalam mesin pembeku.
"Baik Tuan," jawab Emily. Lagi pula, Emily adalah asisten Anne.
Ketika menatap sosok Kevin yang sudah menjauh, kemarahan Anne memuncak. Dia mengepalkan tinjunya dan memperingatkan dirinya sendiri agar tidak kehilangan ketenangan di depan tamu-tamunya.
Sudut bibir Ryan berkedut. Senyum itu jauh lebih dingin dan lebih tajam dibanding sebelumnya.
'Kevin, kita pasti akan lebih sering bertemu di masa depan, ' batinnya di dalam hati.