Bab 1

Di sebuah ruangan besar, telepon yang berada di meja samping tempat tidur terus berdering. Suaranya tak henti-hentinya mengganggu Anne Mahendra.

Dengan susah payah dia beringsut untuk meraih seprai dari bawah tubuhnya sambil membentak pria di sebelahnya, "Kevin Pratama, kamu... ahhh...", sebelum bisa menyelesaikan kata-katanya, pria itu membuatnya mengerang dengan puas.

Anne bahkan tidak punya kekuatan untuk memelototinya, dia hanya bisa menggertakkan giginya.

Seluruh tubuhnya seolah-olah menjadi lemas tak bertulang di bawah tubuh pria itu.

Pria itu perlahan-lahan melepaskan tubuh Anne. Kevin tersenyum dengan malas, lalu mengulurkan tangan untuk mengangkat telepon di meja samping tempat tidur.

"Sayang, aku segera ke sana. Kamu menungguku di ruang tamu?" Kevin berhenti sejenak sebelum kemudian mengangguk, "Aku mandi dulu, oke? Aku mencintaimu."

Pria di sampingnya sangat tinggi dengan tubuh yang berotot. Otot-ototnya yang kencang terlihat menawan dan seksi, terutama dengan keringat yang mengalir di permukaan kulitnya. Ada sesuatu di matanya yang memancarkan kelembutan dan kebaikan. Sepasang mata itu dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang.

Namun, Anne tahu pasti bahwa perasaan itu bukan untuknya.

Kelembutan pria itu hanya milik satu orang.

Anne langsung terpaku ketika mendengar suara Kevin yang manis.

Dengan wajah dingin, Anne menarik selimut yang sudah jatuh ke lantai dan menyelimutkannya ke seluruh tubuhnya, sementara Kevin melangkah ke kamar mandi.

Pintu kamar mandi sedikit terbuka, dan Anne bisa mendengar suara air yang mengalir ke ubin.

Anne menatap ruangan di sekitarnya. Semua benda di ruangan itu diimpor dari Negara Damar. Itu berarti, semua perabotan di situ mungkin sangat mahal harganya.

Anne berada di salah satu kamar di vila Keluarga Pratama, tetapi dia merasa bahwa kamar itu tidak berbeda dengan semua hotel bintang lima yang pernah dia kunjungi.

"Turunlah dan ambil foto untukku." Ketika Anne sedang sibuk menatap sekelilingnya, Kevin sudah keluar dari kamar mandi.

Suaranya terdengar acuh tak acuh, seolah-olah Anne hanyalah mainan lain yang bisa dia perlakukan seenaknya.

Kevin sebenarnya sangat membenci Anne. Meskipun Anne adalah istrinya, dia tidak punya perasaan apa pun padanya.

Satu-satunya alasan mereka bersama adalah untuk memenuhi kewajiban yang mereka miliki terhadap satu sama lain. Yang dilakukan Anne hanyalah pergi tidur pada jam-jam seperti ini setiap harinya. Jelas tertulis di kontrak bahwa Anne harus mengandung anak Kevin pada akhir tahun ini.

Jika Anne tidak bisa melahirkan anak Kevin, semua saham Anne di Grup AN akan diambil alih, dan dia tidak akan punya pilihan selain diusir dari Kota Andara.

Grup AN adalah perusahaan teratas dalam daftar Forbes. Pendapatannya melonjak sangat tinggi hingga tidak ada perusahaan lain yang bisa menandinginya.

Kevin Pratama, sebagai sang CEO seketika menjadi legenda. Ketika baru berusia 17 tahun, dia berhasil menggandakan kekayaan bersih Grup AN, menaikkan peringkatnya dari nomor tujuh di daftar Forbes menjadi yang pertama.

Sudah tiga kali berturut-turut Kevin dinobatkan sebagai 'Pria yang Paling Ingin Dinikahi'. Kevin juga diberi gelar sebagai 'Pria Paling Legendaris di Seluruh Dunia'.

Dari nada suaranya, Anne tahu bahwa kekasih Kevin pasti sudah menunggu di bawah.

"Aku bukan fotografer profesional," kata Anne blak-blakan.

"Aku menyuruhmu melakukannya, jadi kamu harus melakukannya." Kevin memelototinya, tatapan matanya menusuk, sedingin malam. "Apakah kamu benar-benar sebodoh itu sampai-sampai tidak tahu cara menggunakan ponsel? Kalau begitu, seharusnya kamu tidak menjadi wakil CEO Grup AN."

"Kamu!" Kemarahan mendidih di dalam hati Anne, membuatnya menggertakkan gigi.

Tanpa melirik Anne sedikit pun, Kevin melangkah keluar dari ruangan, "Jangan lupa ada acara makan malam di Awan dan Surga malam ini. Kalau kamu terlambat dan menyebabkan kerugian, maka kamu harus menebus semuanya."

Sambil menatap sosok Kevin yang menjauh, Anne mengepalkan tinjunya. Bagi Kevin, tidak ada yang lebih penting dari kekasihnya.

Anne melepas kepalan tangannya, lalu melangkah ke lemari pakaian untuk mengambil bajunya.

Untuk mendapatkan sahamnya, Anne harus menanggung semua ini, tetapi apakah tujuannya benar-benar hanya itu? Hatinya bergetar.

Mata Anne berkilat sedih.

Setelah terdiam beberapa lama, Anne mengenakan gaun panjang dengan cepat. Kecuali rasa sedikit tidak nyaman pada tubuh bagian bawahnya, Kevin tidak meninggalkan jejak apa pun di tubuhnya.

Setiap kali Kevin melakukannya, dia selalu tampak meremehkannya.

Kalau saja tidak ada kontrak di antara mereka, Kevin bahkan tidak ingin menyentuhnya.

Sambil menahan rasa sakit di pinggulnya, Anne turun ke lantai bawah.

Di aula, Kevin sedang berfoto bersama Cherry Darmais, kekasihnya yang tercinta.

Cherry mengenakan gaun panjang berwarna putih salju. Gaun itu membungkus tubuhnya dengan sempurna, bahkan menonjolkan wajahnya yang cantik.

Mereka adalah pasangan yang ditakdirkan untuk bersama.

Saat itulah, Kevin melihat Anne sedang menuruni tangga.

Senyum di wajahnya langsung memudar. "Kenapa kamu lama sekali?" bentak Kevin.

Anne menahan amarahnya. Namun sebenarnya, dia betul-betul ingin memukul wajah pria itu.

Cherry, kakak sepupunya, meringkuk dengan nyaman di pelukan Kevin. Dia tersenyum meminta maaf kepada Anne. "Kevin yang bersikeras agar kami berfoto bersama dan mengunggahnya di WhatsApp story kami. Kevin bilang dia harus mengunggah satu foto di hari ulang tahunku setiap tahunnya," kata Cherry menjelaskan.

Anne bahkan tidak peduli pada alasannya. Dengan acuh tak acuh, dia mengulurkan tangannya ke arah Kevin, "Mana ponselmu."

Kevin melemparkan ponselnya lalu tersenyum manis pada Cherry.

"Kalau kamu tidak bisa mengambil foto dengan baik, sebaiknya kamu tinggal di rumah saja dan mempelajarinya untuk beberapa hari ke depan. Mungkin nanti, kamu benar-benar bisa memiliki masa depan setelah kehilangan sahammu," ancam Kevin.

Kemarahan di hati Anne terasa menggelegak, tetapi dia tidak berkomentar sepatah kata pun.

Kevin melirik ke arah Anne, merasa kesal karena wanita itu tidak bereaksi pada kata-katanya.

Kevin lalu meletakkan tangannya di paha Cherry.

"Oh, hentikan, Kevin!" seru Cherry menggoda dengan pipi yang memerah.

Cherry bersandar di dada Kevin. Namun, tatapannya tertuju pada Anne. Matanya berkilat menggoda, seolah menantang Anne untuk mengucapkan sesuatu.

Pose mereka begitu intim.

Kain lembut yang membungkus tubuh Cherry terasa seperti sutra, kain itu menempel di jas Kevin.

Anne tetap diam. Dia tetap terlihat dingin dan tegar. Seberapa pun bencinya Anne kepada dua orang di depannya, dia akan berusaha untuk bersikap setenang mungkin.

Yang dia inginkan hanyalah pasangan itu menghilang dari pandangannya. Namun, saat ini Anne harus menahan diri dan terus memotret mereka.

Kevin memegang kaki dan pinggang Cherry. Di foto lain, Kevin bahkan berpose membungkuk untuk mencium bibir Cherry.

Cherry tersenyum malu-malu, lalu pura-pura cemberut.

Anne memastikan tidak ada satu pose pun terlewatkan olehnya.

Meski Kevin sudah melakukan semua pose yang provokatif, tapi ekspresi di wajah Anne tetap tidak berubah sedikit pun. "Kembalikan ponselku. Kalau Cherry tidak terlihat bagus, kamu harus mengulanginya lagi."

Tanpa ragu-ragu, Anne mengembalikan ponsel itu.

Cherry meninju lengan Kevin seperti anak manja. "Menurutmu aku ini jelek?" tanyanya pura-pura merajuk.

Seolah-olah sedang menghadapi musuh yang tangguh, Kevin langsung mendaratkan beberapa ciuman di wajah Cherry. "Tentu saja tidak! Kamu wanita tercantik di dunia," kata Kevin memuji. "Aku hanya khawatir dia tidak pandai menangkap kecantikanmu ketika memotret."

Cherry tersenyum, "Apakah kamu tidak percaya pada gen kami?"

Karena Anne adalah adik sepupu Cherry, itu berarti dia juga cantik. Meskipun dia tidak secantik Cherry.

Kevin langsung mengangguk.

Cherry memang sangat cantik. Kulitnya cerah dan lembut. Rambutnya yang hitam legam terurai hingga ke pinggang, membingkai wajahnya yang berbentuk hati dan matanya yang besar. Ada sesuatu di matanya yang mirip dengan tatapan mata anak-anak. Tatapan itu memancarkan kepolosan yang tidak bisa dijelaskan.

Tubuhnya tinggi dengan lekuk yang sempurna. Bahkan, setiap pria yang melihatnya pasti akan menyamakannya dengan seorang dewi.

Setiap foto yang menampilkan Cherry pasti terlihat indah, terutama karena Anne memotretnya dengan sepenuh hati.

Kevin menatap semua foto yang diambil Anne. Di setiap foto, kecantikan Cherry tampak menonjol dan gayanya yang elegan terlihat sangat jelas. Sepertinya dia tidak bisa menemukan kekurangan dalam foto-foto itu.

Dengan kemarahan yang tidak bisa dijelaskan di dalam hatinya, Kevin menyimpan ponselnya dengan kasar, "Kamu boleh pergi sekarang."

Anne berbalik dan hendak pergi, tetapi Kevin memanggilnya kembali.

"Tunggu sebentar." Kevin bersedekap dan menunjukkan ekspresi tidak puas. "Ganti dulu gaunmu. Warna gaunmu sama dengan gaun Cherry. Jangan memakai warna yang sama dengan Cherry saat kamu menghadiri jamuan nanti. Jangan bersikap kurang ajar terhadapnya."

Wajah Kevin terlihat sama kejamnya dengan Pangeran Kematian, "Kalau perlu, buang semua pakaianmu yang warnanya mirip dengan pakaian pilihan Cherry."

Kemarahan Anne hampir tak terbendung lagi. Perlu waktu beberapa detik baginya untuk mengucapkan kata-kata sambil menggertakkan giginya, "Akan kuingat pesanmu baik-baik."

Memangnya apa yang sudah dia lakukan? Dia hanya mengenakan gaun berwarna putih! Bagaimana bisa hal itu disebut tidak menghormati Cherry? Anne mengepalkan tinjunya.

Anne lalu pergi.

Melihat Anne sangat marah, sudut bibir Cherry terangkat. Sesuatu berkilat di mata Cherry ketika dia menatap pria di sampingnya dengan penuh kasih.

Anne merobek semua pakaian putihnya dan melemparkannya ke lantai.

Cherry selalu menyukai pakaian berwarna terang, terutama putih.

Jadi, mulai saat ini, Anne tidak akan pernah mengenakan pakaian dengan warna yang sama.

"Kevin, apa kamu sudah mengunggahnya?" tanya Cherry sambil bersandar di dada kekasihnya.

Kevin tersadar dari lamunan, kemudian dia tersenyum cerah pada wanita di sampingnya, "Akan kulakukan sekarang."

Kevin mengeluarkan ponselnya dan memilih foto yang paling mewakili mereka. Dalam foto itu, mereka tampak sedang tertawa bahagia. Dengan lengan yang saling merangkul satu sama lain, mereka jelas terlihat sebagai pasangan yang sempurna. Tetapi, semakin lama Kevin menatap foto itu, dia menjadi semakin kesal. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia mengunggahnya di WhatsApp story miliknya.

Unggahan itu berisi kata-kata, 'Selamat Ulang Tahun, Sayang. Aku akan mencintaimu selamanya!'

Begitu Kevin selesai mengunggahnya, banyak orang yang mengomentari foto itu.

Tuan Hendrawan berkomentar, "Wah, melihat foto seperti ini merupakan siksaan bagi para lajang."

Tuan Susanto berkata, "Kamu harus terus memamerkannya, ya? Kamu benar-benar membunuhku, teman. Setidaknya biarkan temanmu yang lajang beristirahat!"

Ada juga beberapa komentar yang memuji, seperti: "Cherry, kamu tampak cantik! Selamat ulang tahun! Kuharap kalian akan selalu bersama di kehidupan ini dan di kehidupan berikutnya."

Meskipun mereka semua tahu bahwa Kevin memiliki istri, mereka juga tahu bahwa Kevin hanya peduli pada satu orang saja.

Bab 2

Tidak pernah sekali pun Kevin membagikan apapun tentang Anne di WhatsApp story miliknya. Satu-satunya orang yang pernah dia pamerkan adalah Cherry.

Semua orang berpikir pria itu sedang jatuh cinta. Tidak ada yang berani mengatakan bahwa Kevin tidak berperasaan atau bahkan menuduhnya memamerkan wanita lain saat dia masih memiliki seorang istri. Bagaimanapun, Kevin adalah orang yang paling berpengaruh di sekitar kota. Tidak ada yang berani mempertanyakan sikapnya.

Anne mengenakan gaun pendek berwarna merah. Rambutnya yang agak panjang tersisir rapi ke belakang telinganya. Meskipun wajahnya tidak memakai riasan apapun, tetapi Anne masih terlihat jauh lebih cantik dibanding mereka yang memakai riasan wajah.

Postur badannya terlihat sangat proposional. Sementara Cherry terlihat seperti seorang dewi, Anne terlihat seperti seorang ratu dengan pakaian yang dikenakannya.

Sosok agungnya terpancarkan dari warna gaun yang dia kenakan.

Anne turun dari mobil setelah sang supir membukakan pintu penumpang untuknya, lalu Anne berjalan ke Hotel Awan dan Surga.

Hotel tersebut merupakan salah satu hotel termewah di Kota Andara. Orang-orang perlu melakukan reservasi terlebih dahulu sebelum datang ke sana. Jika tidak melakukan reservasi terlebih dahulu, maka tidak diperbolehkan masuk. Hanya anggota emas dengan biaya tahunan lebih dari 2 Miliar rupiah yang boleh mereservasi kamar di sana. Berkata bahwa hotel itu mewah benar-benar pernyataan yang terlalu meremehkan.

Anne memesan kamar pribadi yang berada di lantai tiga. Di sanalah Anne akan mengadaan jamuan makan malam bersama orang-orang dari Grup KIA.

"Sekretaris Wendy baru saja menelepon. Dia berkata bahwa CEO Grup KIA baru saja kembali dari luar negeri. Dia juga akan menghadiri makan malam hari ini," Asisten Anne berbisik di telinganya.

Mata Anne berkedut. Grup KIA adalah perusahaan terbesar di Kota Castora, bahkan grup itu berada di posisi teratas di daftar Forbes.

Grup AN telah beberapa kali mengundang mereka untuk berkolaborasi, tetapi mereka selalu mempertimbangan ajakan tersebut.

Sekarang, CEO dari Grup KIA akan menghadiri jamuan makan malam. Apa itu berarti peluangnya untuk mendapatkan kesepakatan kerja sama akan lebih besar? Atau malah sebaliknya? Menjadi lebih kecil?

Meskipun Anne merasa khawatir, tetapi ekspresinya terlihat tenang. "Apa kamu sudah mengkonfirmasi semua hidangan dan wine yang akan disajikan malam ini?" Anne bertanya kepada asistennya dengan sopan.

"Sudah." Sang asisten menjawab dengan sigap.

Para tamu yang diundang adalah anggota senior dari Grup KIA. Sekarang, CEO-nya juga datang kemari, Anne tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apa pun.

Setelah masuk ke ruangan privat, Anne dan asistennya memeriksa semua perabotan di sekitar ruangan, mencoba memeriksa apa semuanya sudah pada tempatnya. Tepat ketika Anne hendak duduk untuk beristirahat, ada sebuah telepon yang masuk. Sang asisten kemudian mengangkat telepon tersebut.

Sang asisten dengan cepat menoleh ke arah Anne, "Bu Anne, Michelle berkata bahwa orang-orang dari Grup KIA telah tiba."

"Minta Michelle untuk mengantarkan mereka ke sini." Anne berkata dengan tenang sambil menegakkan punggungnya.

"Baik, Bu Anne." Sang asisten mengucapkan beberapa patah kata kepada orang di ujung telepon sebelum menutup telepon.

Anne masih bisa merasakan rasa pegal di sekitar kakinya. Pinggulnya pun masih terasa tidak nyaman, membuatnya susah untuk bergerak. Meskipun merasa lelah, tetapi Anne tahu jika dia tidak bisa hanya duduk dan bersantai. Para tamunya dari Grup KIA akan tiba dalam waktu dekat. Anne menatap pintu sambil mengipasi wajahnya dengan lembut.

Ini bukanlah kali pertamanya menjamu klien besar, tapi kenapa dia merasa begitu panas di sini? Apa itu karena AC-nya?

"Periksa suhu ruangan," perintah Anne pada sang asisten.

"Suhunya 24 derajat," jawab sang Asisten.

Hotel Awan dan Surga memiliki sistem pendingin udara yang sangat baik. Suhu di hotel itu bahkan beberapa derajat lebih rendah daripada hotel lain, tetapi Anne masih merasa kepanasan.

Mungkin itu hanya beberapa alasan psikologis yang Anne rasakan saja.

Tak lama kemudian, pintu di depannya didorong terbuka. Seseorang dengan perawakan yang tinggi muncul di hadapannya.

Ada sesuatu tentang pria itu yang membuat Anne merasa tertarik. Matanya terlihat indah dan tenang bagaikan laut dengan deburan ombak yang menerpa bibir pantai. Pria itu mengenakan setelan abu-abu perak, seulas senyuman terlukis dengan indah di wajahnya.

Di antara tujuh orang di depannya, pria itulah yang paling menarik perhatian. Dia terlihat sangat menonjol di tengah kerumunan.

Ketika tatapannya tertuju pada Anne, senyum di bibirnya melebar.

Senyumannya begitu mempesona, membuat Anne tidak bisa memalingkan wajahnya.

"Kami bertemu Kevin dalam perjalanan ke sini, jadi kami sedikit terlambat. Aku tidak menyangka Kevin akan memesan kamari privat di lantai empat untuk merayakan ulang tahun Cherry," ucap seseorang yang berdiri di sebelah pria berjas abu-abu itu sambil tersenyum. Orang itu tidak lain adalah Pak Rahadi, direktur dari Grup KIA. Pernyataan yang dia lontarkan cukup membuat hati Anne terasa sakit.

Mata Anne seketika berubah menjadi gelap. 'Jadi Kevin merayakan ulang tahun Cherry?' batinnya. Anne menggelengkan kepalanya untuk membuang semua pikiran di kepalanya jauh-jauh. Ini bukan saatnya untuk memikirkan hal itu.

"Apa ini adalah CEO baru grup KIA?" Anne bertanya kepada Pak Rahadi sambil menyunggingkan senyuman yang sopan.

Pak Rahadi

membusungkan dadanya dan berkata dengan bangga, "Anda sangat jeli, Bu Anne. Ini Ryan Yudhistira, CEO baru kami," ucap Pak Rahadi.

"Saya telah mendengar banyak tentang Anda, Bu Anne." Ryan melangkah maju, kemudian mengulurkan tangannya dengan sopan layaknya pria sejati.

Anne merasa terpesona hanya dengan menatap wajah pria di depannya itu. Melihat Anne yang terdiam ketika Ryan mengulurkan tangan kepadanya, sang asisten yang berada di sampingnya kemudian menyenggolnya.

Anne akhirnya tersadar dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Ryan.

Namun, tiba-tiba Ryan malah menarik Anne lebih dekat ke dadanya. Kemudian, dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan berbisik, "Selamat ulang tahun."

Anne membeku mendengar ucapannya. Wajahnya berubah menjadi pucat.

Hari ulang tahunnya... Seseorang ternyata benar-benar mengingat hari ulang tahunnya. Mata Anne terasa sedikit perih, namun dengan cepat dia mengerjapkannya matanya beberapa kali untuk menghentikan air mata keluar dari matanya. Sementara suaminya merayakan ulang tahun wanita lain, Anne malah menghabiskan ulang tahunnya bersama klien.

Suaminya bahkan tidak ingat akan ulang tahunnya, atau mungkin Kevin bahkan tidak peduli sama sekali.

Pak Rahadi tertawa, "Ryan baru saja kembali dari Prancis, jadi dia menyapa semua orang seperti itu."

Emosi yang bergejolak di matanya kini sedikit mereda, kemudian Anne menegakkan badannya, "Suatu kehormatan bagi saya untuk bisa bertemu dengan Pak Yudhistira hari ini. Semuanya, silakan duduk."

Anne membawa Ryan ke tempat duduknya yang berada tepat di sampingnya. Kemudian, dia berbalik untuk kembali menyapa pada anggota senior Grup KIA lainnya.

Hari ini, sepertinya Pak Rahadi berusaha untuk mendapatkan perhatian dari Anne. Dia berjalan menuju kursinya dan bertanya sambil tersenyum, "Jadi, kenapa Kevin tidak datang hari ini? Apa dia..."

Bab 3

"Pak Rahadi," potong Ryan sambil menatapnya dengan dingin. Suhu di ruangan itu seolah turun beberapa derajat.

Sedetik kemudian, seulas senyum tersungging di bibirnya, "Sebenarnya Bu Anne adalah teman sekelasku."

Pak Rahadi begitu terkejut hingga matanya terbelalak.

Bahkan, semua orang di ruangan itu juga terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa keduanya saling mengenal. Para eksekutif senior juga saling berpandangan. Mereka semua ingin tahu lebih banyak mengenai hubungan di antara keduanya.

Senyum Anne menjadi lebih lepas. Sepertinya setelah bertahun-tahun berlalu, Ryan masih mengingatnya.

Setelah mendengar peringatan bosnya, Pak Rahadi tersenyum dengan canggung. Wine baru saja disajikan kepada mereka. Dengan cepat, dia mengambil sebotol dan menuangkannya ke dua gelas. Salah satunya diserahkan kepada Anne, "Bu Anne, saya minta maaf jika saya berbicara terlalu gegabah sebelumnya. Saya harap Anda bisa menerima permintaan maaf saya."

Senyum di wajah Anne menjadi kaku.

Karena sedang mempersiapkan kehamilan, Anne tidak boleh minum alkohol. Dia bahkan tidak menggunakan kosmetik. Semua produk perawatan kulit, pakaian, tas dan minumannya dikontrol secara ketat oleh Keluarga Pratama.

Mengetahui bahwa Anne tidak boleh minum alkohol, dengan cepat asistennya mengambil wine itu dari tangan Pak Rahadi dan berkata, "Pak Rahadi, Bu Anne alergi terhadap alkohol. Izinkan saya minum bersama Anda sebagai gantinya."

Asisten Anne menenggak wine itu sebelum menunjukkan gelasnya kepada Pak Rahadi. Tidak ada setetes wine pun yang tersisa.

Pak Rahadi mengangguk, dia merasa terkesan. "Kamu pandai minum," pujinya. Tanpa mengeluh lagi, dia menenggak wine di gelasnya sendiri.

Dengan senyum kecil di wajahnya, Ryan menuangkan jus ke dalam gelas sebelum menyerahkannya kepada Anne. Di gelasnya sendiri sudah tertuang wine.

"Maukah kamu minum denganku karena kita dulu pernah menjadi teman sekelas?"

Anne melihat senyum Ryan dan mendapati dirinya membalas senyum itu. Ryan sudah berubah. Sebelum Anne mengambil jus dari tangannya, pintu ruang privat mereka didorong hingga terbuka.

Semua orang menatap pria yang tiba-tiba memasuki ruangan.

Kevin mengenakan kemeja hitam dan celana panjang. Ada sesuatu di matanya yang membuat semua orang segera berpaling.

Dia berjalan ke meja bundar dengan senyum tersungging di bibirnya, sementara tatapannya yang tajam tertuju pada jus yang dipegang Ryan. "Tuan Yudhistira, aku khawatir kamu tidak tahu bahwa istriku sebenarnya sedang mempersiapkan kehamilan, bukankah begitu?"

Mendengar kata-katanya, wajah Anne menjadi pucat. Dia menatap tajam ke arah Kevin.

Apa pria itu sedang mencoba mempermalukannya di depan umum?

Kevin melangkah maju dengan santai, tetapi matanya menatap tajam. Dia seperti predator yang sedang mengawasi pesaingnya.

"Jus itu rasanya asam. Istriku tidak bisa meminumnya."

Meskipun Kevin berusaha mati-matian untuk mempermalukannya, tapi Ryan sama sekali tidak bereaksi. Sebaliknya, Ryan justru mengangkat gelasnya sambil tersenyum, "Maaf, aku tidak tahu kalau kalian berdua sedang mempersiapkan kehamilan. Aku akan meminum wine ini sebagai tanda permintaan maafku kepada kalian."

Suasana di dalam ruangan menjadi tegang.

Dari cara Kevin menatap Ryan, terlihat jelas bahwa dia memusuhi CEO baru ini. Dengan cukup pintar, Pak Rahadi mencoba untuk meredakan ketegangan itu, "Kevin, bukankah kamu berada di lantai atas bersama Cherry?"

"Kudengar Tuan Yudhistira dan istriku dulu teman sekelas. Aku datang ke sini untuk mengajukan penawaran padamu, Tuan Yudhistira." Kevin tersenyum seperti seorang raja yang sedang menunggu ucapan terima kasih.

Sikap arogan terlihat jelas dari gerak-geriknya.

Kevin mengambil segelas wine dari meja, lalu mengangkatnya ke arah Ryan, "Tuan Yudhistira, aku akan bersulang untukmu, tetapi kamu juga harus bersulang untukku sebagai balasannya."

Dia mendentingkan gelasnya dengan gelas Ryan.

Ketegangan di ruangan itu terasa berlipat ganda.

Ryan juga menyunggingkan senyum di wajahnya. Bahkan, dia tidak tampak terintimidasi oleh pria di depannya. Dia segera meminum wine itu.

Gelas mereka secara otomatis diisi ulang.

"Kalau begitu, Kevin, aku ingin bersulang untukmu," kata Ryan sambil menyeringai.

Tatapan Kevin menjadi lebih membingungkan, entah apa yang dirasakannya. "Memangnya kamu punya alasan khusus untuk bersulang?" Suasana di sekitar mereka terasa menjadi lebih dingin.

Anne menatap mereka berdua, ingin menghilangkan ketegangan di antara mereka, tetapi dia tidak tahu harus berbuat apa.

Ryan mengerutkan kening, dia terlihat bingung.

Sudut bibir Kevin berkedut ketika perlahan-lahan dia berkata, "Aku menghukummu dengan segelas wine ini. Karena kamu tidak menghadiri pernikahan kami."

Setelah berkata begitu, senyum di wajahnya menghilang dalam sekejap.

Kevin membanting gelas ke atas meja. Cairan merah tumpah dan membasahi taplak meja. Kevin melirik ke arah asisten Anne, "Emily Kumala, jaga baik-baik bosmu dan antar dia pulang lebih awal."

Tanpa memberi Emily kesempatan untuk menjawab, Kevin langsung pergi.

Setelah Kevin pergi, semua orang diam terpaku. Seolah-olah Kevin telah memasukkan semua orang ke dalam mesin pembeku.

"Baik Tuan," jawab Emily. Lagi pula, Emily adalah asisten Anne.

Ketika menatap sosok Kevin yang sudah menjauh, kemarahan Anne memuncak. Dia mengepalkan tinjunya dan memperingatkan dirinya sendiri agar tidak kehilangan ketenangan di depan tamu-tamunya.

Sudut bibir Ryan berkedut. Senyum itu jauh lebih dingin dan lebih tajam dibanding sebelumnya.

'Kevin, kita pasti akan lebih sering bertemu di masa depan, ' batinnya di dalam hati.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED