Bab 2

Dengan hati-hati, Rizal membimbing Susan berdiri. Tangannya menyangga punggung perempuan itu, sementara sebelah tangan Susan bertumpu di lengan kekar Rizal. Dan sebelahnya lagi menahan handuknya agar jangan sampai melorot. Dia sama sekali tidak mengenakan dalaman, karena memang seperti itu jika akan mandi.

Langkah mereka pelan dan pendek-pendek—Susan meringis tiap kali menapakkan kaki kanannya yang terasa ngilu.

“Pelan-pelan aja, Bu, nggak usah dipaksa,” bisik Rizal, suaranya rendah, nyaris seperti gumaman tertahan.

Susan hanya mengangguk kecil, napasnya sesekali tercekat menahan rasa sakit, juga rasa malu. Handuk yang ia pegang kini makin terasa ringkih, seolah bisa terlepas kapan saja bila lengah. Tapi Rizal tampak menjaga matanya, tak berani menatap lebih dari yang diperlukan.

Begitu sampai di dapur, Rizal membantu Susan duduk di bangku kayu panjang dekat dinding. Ia lalu jongkok di depannya, memastikan kaki Susan dalam posisi nyaman.

“Sini saya lihat, Bu... bagian mana yang sakit?”

“Enggak usah, Zal... nanti juga sembuh sendiri...” Susan menggeleng pelan, pipinya memerah, matanya menunduk.

Namun Rizal tetap diam di situ, sejenak tertegun. Matanya menatap tangan Susan yang erat memegangi handuk, wajahnya yang berkeringat, dan helaian anak rambut yang menempel di pelipisnya. Seketika suasana terasa sunyi, hanya suara angin sore yang menyusup lewat celah dinding dapur yang menemani.

“Maaf ya, Bu… saya nggak sengaja,” ucap Rizal lirih.

Susan mengangguk lagi, pelan. Tapi entah kenapa, hatinya justru terasa hangat, walau nyeri masih terasa di kakinya. Di balik ketidaknyamanan siang itu, ada sesuatu yang lembut dan asing menyelinap. Entah perhatian, atau mungkin... hasrat birahi yang sejak tadi belum terlampiaskan.

“Pak Ustaz belum pulang, Bu?” tanya Rizal hati-hati

“Belum, mungkin sebentar lagi. Anak-anak juga lagi main di rumah Ustazah Aida.”

“Beneran ibu gak sakit?” Rizal kembali memastikan.

“Sakiit banget, Zal,” jawab Susan sambil meringis.

Mata Rizal kembali menatap ke bawah, ia mendapati sebuah bukit kecil yang ditumbuhi rambut lebat terselip begitu indah. Berulang kali, remaja berusia setahun lebih tua dari Hafiz itu menelan ludah dan menahan gejolak birahi di dada dan di balik kain sarung yang dikenakannya.

“Biar saya bantu. Ibu istriahat di kamar aja, ya,” ujar Rizal.

Susan mengangguk dan Randan kembali membantu Susan berjalan menuju kamarnya. Sebenarnya Susan merasa sangat risih, namun bagaimana lagi, karena dia merasakan kaki kanannya sangat sakit. Kebetulan tidak ada orang lain yang bisa dimintai tolong.

Setibanya di kamar Susan duduk di pinggir ranjang dengan masih berkemben handuknya.

“Sepertinya kaki ibu keseleo, biar saya periksa dulu,” ucap Rizal datar sambil berusaha mati-matian menahan gejolak dalam dirinya.

“Aduh!” ringis Susan, ketika Rizal menyentuh pergelangan kakinya. “Pelan-pelan Dan!” pinta Susan sembari terus meringis menahan sakit di kakinya.

Tangan Randan mulai mengusap-usap kaki kanan Susan beberapa lama sampai Susan merasa sedikit lebih baik. Lantas Rizal menarik sedikit kaki Susan, memperbaiki posisi uratnya dengan gerakan yang agak cepat dan menyakitkan.

“Auuww… Sakiiiit, Zal!” jerit Susan.

Telapak tangan Rizal naik ke atas, ke bagian belakang lutut Susan. Rasa geli yang dirasakan Susan sedikit mengurangi rasa sakitnya. Dan perasaan geli itu perlahan mulai menimbulkan gairah dalam dirinya, apa lagi ketika telapak tangan Rizal naik menuju pahanya dan sekilas dia melihat gunudkan besar di balik kain sarung Rizal. Susan bahkan menduga jika Rizal tidak memakai celana dalam.

Rizal memijit kaki Susan dengan pelan, menyentuh bagian-bagian sensitif seorang wanita yang ia dapatkan dari teman lamanya. Dan cara itu memang sangat berhasil membangkitkan birahi Susan yang memang selalu menggebu-gebu.

“Kalau pake minyak gimana, Bu,” usal Rizal.

“Pake handbody aja, Zal.”

Rizal membalikan wajahnya lalu mengambil botol handbody yang berada tepat di belakangnya, di meja rias. Lalu kembali menghadap Saanti dan matanya nanar menatap sepasang payudara Susan di balik handuk yang naik turun mengikuti irama nafasnya. Rizal berhayal bisa meremas dan menghisap putingnya.

Menyadari tatapan Rizal tak biasa, Susan jadi salah tingkah. Putingnya terasa makin keras dan area kewanitaannya pun mulai berdenyut-denyut.

Rizal menaburkan lotion pada kedua telapak tangannya.

“Maaf ya, Bu,” ucapnya sopan, sebelum tangannya masuk lebih dalam. Ia menyentuh bagian bawah pergelangan dan betis Susan dengan sedikit mengangkat kaki itu.

“Ough,” desah lembut Susan tak terelakan lagi.

Rizal tersenyum tipis, ia tahu kalau ibu tiri temannya ini tengah dilanda sesuatu yang membuatnya gelisah.

“Sakit ya, Bu?” tanya Rizal, sambil terus memijit lembut paha belakang Susan.

“Eng-eng-enggak terlalu,” jawab Susan terbata, wajahnya mulai bersemu merah karena menahan malu juga birahi.

Rizal kembali melanjutkan pijatannya di kedua kaki Susan. Ia memijatnya secara bergantian kiri dan kanan. Selama itu juga Susan sangat tersiksa karena gairahnya kian menggebu-gebu menuntut penuntasannya.

“Masih mau dilanjut pijatnya, Bu?” tanya Rizal memastikan lagi.

Karena sudah kepalang tanggung, Susan mengangguk memberi izin. Masih ada sedikit rasa nyeri di kakinya membuat Susan memejamkan matanya. Rizal yang melihat hal tersebut sedikit merasa kasihan, namun juga ngos-ngosan karena jembut di selangkangan Susan makin terlihat jelas.

“Tahan ya, Bu. Ini hanya sebentar,” bisik Rizal.

Setelah merasa cukup memijat di bagian belakang lutut, jemari Rizal naik sedikit ke atas menyingkap ujung handuk yang dikenakan Susan.

“Tahan sedikit ya, Bu!” Rizal kembali berucap.

Susan menganggukan kepalanya. Ia mengepal kedua tangannya hendak menahan rasa sakit. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, ketika Rizal memijit bagian belakang pahanya, Rasa nikmat dan geli semakin menjadi-jadi membuat birahinya nendang hingga ke ubun-ubun.

Bayangan Hafiz yang sedang ngocok di kamar mandi, kembali memenuhi isi kepalanya. Tubuh Rizal memang lebih kecil, tapi bisa saja senjata andalannya sama besarnya, pikir dia.

Napas Susan mulai tersengal, pikirannya makin berkecamuk tidak fokus. Telapak tangan Rizal makin naik ke atas, memijit bagian belakang pahanya.

“Aduh, aah…” Susan kembali mendesah tanpa sadar.

“Sakit ya, Bu?” tanya Rizal, pura-pura khawatir.

Susan mengangguk lemah. Ia merasa sangat malu kalau sampai Rizal tahu dirinya sedang diamuk gelombang birahi. Sentuhan Rizal semakin naik ke atas, menyingkap lebih banyak handuk yang ia kenakan hingga sebatas pahanya. Susan berusaha merapatkan kedua pahanya, namun sia-sia.

Hatinya mulai merasa bimbang. Sentuhan Rizal terasa sangat nikmat, bahkan bisa membuatnya terbuai. Tetapi masih tersisa rasa malu jika harus memulai.

Sebagai seorang santri dan juga teman dekat Hafiz, selama ini Rizal senantiasa bersikap hormat pada Susan juga Ustaz Ustaz Hasbi. Dia tidak pernah berani kurang ajar kepada siapapun, atau bahkan hanya dengan tatapan nakal. Susan sangat berpengalaman dalam membedakan tatapan lelaki yang ikhlas atau penuh nafsu.

“Maaf Bu, uratnya gak dapet! Boleh saya urut lebih ke atas.” Rizal meminta izin, dan Susan menganguk tak mampu menolaknya. Geli dan nikmat itu terlalu sayang untuk dilewatkan.

Tak dapat si Hafiz, Rizal pun jadi, begitu pikirnya.

Tangan Rizal menyibak handuk yang dikenakan Susan hingga berada di atas paha. Sementara tangannya berada di balik handuk. Jemari kasar Rizal memijit dan membelai paha bagian dalamnya, hingga tubuh Susan mulia sedikit gemetar.

Dengan satu dorongan, tangan Rizal mulai masuk lebih dalam mendekati selangkangan Susan, hingga handuk yang dikenakannya tertarik makin ke atas bahkan mulai dengan bebas memperlihatkan belahan kemaluan yang dihiasi bulu-bulu indah. Perlahan-lahan Susan membuka pahanya seolah memberi jalan pada tangan Rizal untuk lebih dekat lagi.

“Sakit gak, Bu?” tanya Rizal sok polos.

Susan mengangguk seraya menahan gejolaknya.

Susan mengangkat wajahnya menatap Rizal yang sedang menatapnya nanar penuh gairah. Zakunnya begerak-gerak menelan air liurnya. Dengan sedikit kesadaran Susan berpura-pura menarik ke bawah ujung handuknya, tapi tidak menyingkirkan tangan Rizal yang nakal bermain di balik handuk itu.

‘Ternyata nakal juga kamu, Rizal,’ gumam Susan dalam hati.

Aksi Rizal semakin berani, dua jemarinya bersamaan menyelinap masuk ke celah kewanitaan Susan yang sudah makin basah. Mata Susan membeliak menatap Rizal tak percaya, tapi dengan tenang Rizal malah tersenyum tipis.

Sekuat tenaga Susan menahan gejolak itu, dia masih belum mau mengakui jika dirinya sangat berharap Rizal membuka kain sarungnya dan memperlihatkan apa yang ada di selangkangannya.

Namun tiba-tiba Rizal menarik tangannya.

“Sudah selesai ya, Bu Ustazah!” ujarnya tenang.

“Iya, terima kasih, Dan.” Jawab Susan lirih.

“Sama-sama. Saya permisi dulu, Bu. Sebentar lagi saya juga mau berangkat lagi ke pesantren, lagian takut Pak Ustaz nanti jadi fitnah.” Rizal berpamitan.

Susan hanya mengangguk lemah, sedikit kecewa karena Rizal berpamitan. Padahal sedikit lagi dia akan mencampai orgasmenya…. Kini hanya menggantung.

Hasrat Susan untuk menikmati daun muda pun harus tertunda kembali.

“Sialan!” makinya dalam hati.

Siapa sebenarnya Ustazah Susan?

Susan Nuraeni, 31 tahun, kini dikenal sebagai ‘Ustazah Susan’ di lingkungannya. Sebutan yang lahir karena status pernikahannya, bukan karena kedalaman ilmu agamanya. Ia bukan lulusan pesantren, tak hafal banyak ayat atau hadits. Hanya memang pakaiannya selalu tertutup rapi. Terlebih lagi setelah menikah untuk yang kedua kalinya dengan Ustaz Hasbi. Seorang guru agama dan penceramah yang sederhana.

Sejak dulu Susan belajar cepat, bukan dari kitab, tapi dari pergaulan dan kebiasaan di lingkarannya. Kapan harus menundukkan pandangan, menyelipkan “Masya Allah”, atau diam untuk terlihat shalihah. Peran itu ia lakoni laksana panggung sandiwara yang menutupi siapa dirinya yang sejati. Dalam beberapa tahun ini Susan sukses bertranformasi.

Susan tak jahat, hanya belum kuat. Ilmu agamanya masih dangkal, keteguhan imannya masih setipis ari dan hatinya masih mudah tergoda oleh bayang-bayang masa lalunya yang terasa kelam. Tapi status barunya sebagai istri Ustaz, memaksanya tetap berdiri sebagai wanita shalihah, seolah benar-benar telah hijrah. Bersama Ustaz Hasbi dia telah dikaruniai seorang anak berusia 6 tahun.

Namun, di balik pakaian syar’I, sikap lemah lembut dan ucapan ramah nan santun pada semua tetangganya, ada sisi lain yang tak diduga oleh semua orang yang dengan mudahnya memanggilnya ‘Ibu Ustazah’ hanya karena pakaian dan menyandang status sebagai istri seorang guru agama alias Ustaz.

Pada awalnya Susan merasa risih dengan julukan tersebut namun entah mengapa, lama-lama dia justru merasa senang. Merasa lebih seksi dan bisa berkamuplase dengan sempurna, setidaknya dia bisa mengubur dalam-dalam sisi liar dalam dirinya.

Namun dalam beberapa bulan terakhir, sisi gelap itu muncul kembali seperti jamur di musim hujan. Sebenarnya Susan senantiasa menekan gairah liar itu, agar tidak sampai khilaf apalagi ketahuan suami dan keluarganya. Namun Hafiz, anak tirinya yang gagah dan tampan terlalu sukar untuk diabaikan.

Siapa sebenarnya Susan sebelum menjadi istri Ustad Hasbi?

Ternyata panjang sekali lika-liku perjalanan hidup Susan yang sangat seru, tersembunyi dan mencengangkan. Kita pun mungkin tidak akan menduga bisa segila itu.

^*^

Mohon bijak, banyak adegan dewasa yang ekspilist tanpa sensor. Jika tidak kuat segera tinggalkan novel itu, jangan memaksakan diri untuk membacanya.

Terima kasih.

^*^

Bab 3

Kita akan memulai kisah Ustazah Susan, dari beberapa tahun sebelum menikah dengan Ustad Hasbi.

Nama lengkapnya Susana Wulandari, biasa disapa Susan. Kala itu berusia 21 tahun. Langkah hidupnya sudah cukup panjang untuk merasakan suka dan duka kehidupan. Satu tahun yang lalu, ia resmi menikah dengan Aldi Wibowo, lelaki berusia 23 tahun yang merupakan tetangga sekampungnya sejak kecil. Mereka berasal dari keluarga sederhana; tak ada kemewahan, tapi juga tak kekurangan cinta.

Aldi berpenampilan manis dan tampan walau postur tubuhnya cenderung kurus. Ia bekerja di Jakarta di salah satu kantor ternama sebagai Office Boy. Gaji yang ia terima tak seberapa, cukup untuk makan sehari-hari dan menyisakan sedikit untuk dikirim ke Susan setiap bulannya.

Karena alasan penghasilan itulah Aldi belum bisa membawa istrinya tinggal di Ibukota. Biaya hidup yang mahal menjadi pertimbangannya. Mereka sepakat Susan tinggal di kampung mengisi rumah sederhana peninggalan almarhum neneknya.

Walaupun di kampung, namun faslitas mudah terjangkau, jarak ke kota kecamatan dan kabupaten tidak terlalu jauh. Namun yang pasti hidup di sana lebih tenang, dan tidak terlalu jauh dari rumah orang tua Aldi. Sehingga jika ada keperluan mendesak, Susan tidak benar-benar sendiri.

Ibunya Susan sudah lama meninggal dunia. Ia hanya memiliki keluarga dari pihak ayah yang sekarang tinggal di Sumatera, namun hubungannya dengan mereka tak begitu dekat. Karena itulah, lingkungan keluarga besar Aldi dan almarhum ibunys di kampung menjadi satu-satunya dunia kecil tempat ia menambatkan hati.

Susan dikenal ramah, sopan, dan ringan tangan. Ia cepat akrab dengan semua orang. Mereka menyukainya, terutama karena senyum hangat dan tutur katanya yang lembut. Susan dan Aldi satu almamater dari SMP sampai SMA, walau berbeda angkatan.

Masa remaja dan pacaran mereka lalui dengan sangat normal. Susan mampu mempersembahkan kesucian dirinya pada Aldi di malam pertamanya, walau sejak lama cukup banyak godaan lelaki pada Susan. Termasuk beberapa guru di SMP dan SMA. Maklum Susan termasuk primadona di lingkungannya,

Meski hidupnya jauh dari kemewahan, Susan tak pernah mengeluh. Namun, sebagai istri, ia juga ingin turut meringankan beban suaminya. Beberapa kali ia mengusulkan untuk mencari kerja di kota. Pekerjaan ringan apa saja yang bisa dilakoni tanpa harus meninggalkan rumah terlalu lama. Tapi Aldi selalu menolak dengan lembut.

“Aku gak mau kamu kecapekan, Sayang,” begitu katanya, “Tugasmu cukup jaga diri dan rumah. Aku yang cari uang.”

Susan paham, Aldi bukan melarang karena otoriter, tapi karena sayang. Namun hari-hari terasa panjang saat kesunyian datang menghampiri. Tak jarang ia termenung menatap jendela rumah sederhananya, bertanya dalam hati, apakah ini cukup? Apakah begini saja? Ia tak meminta banyak. Ia hanya ingin merasa berguna.

Dan seperti itulah keseharian Susan berjalan. Tenang, sederhana, tapi dengan banyak ruang kosong di hatinya yang diam-diam tumbuh besar. Ruang itu perlahan mendorongnya untuk mencari harapan baru, meskipun langkah pertama sering kali diiringi keraguan dan gemetar.

Dan karena Itu pula Susan mulai rajin membuka media sosial. Selain untuk sedikit bersosialisasi, dia juga ingin mencari harapan—lowongan kerja yang bisa menopang hidup keluarganya sebagai seorang istri demi mengurangi beban suaminya. Juga demi memanfaatkan ijazahnya

Pada suatu hari, Susan menemukan sebuah iklan di facebook. Iklan itu adalah lowongan pekerjaan. Di sana tertulis:

"Dibutuhkan 10 tenaga terapis wanita. Usia 20–35 tahun, berpenampilan menarik, bersedia kerja shift pukul 09.00–15.00 WIB."

Susan membaca iklan itu berulang kali. Tak ada yang mencurigakan, bahkan terdengar cukup menjanjikan. Para pelamar diminta datang langsung dengan membawa lamaran dan siap untuk wawancara di tempat. Hatinya pun tergoda untuk mencoba.

Bekerja hingga jam tiga sore bukan hal yang berat baginya. Soal penampilan, ia tak pernah merasa khawatir. Hampir setiap orang yang bertemu dengannya selalu memberi pujian—kadang terang-terangan, kadang sembunyi di balik senyum atau lirikan mata. Kulitnya putih bersih, tubuhnya proporsional, dan wajahnya, menurut banyak orang, tak membosankan untuk dipandang.

Setiap kali Susan belanja ke pasar, selalu saja ada yang menggoda. Pedagang, tukang parkir, bahkan pemuda kampung yang sok sopan tetapi tak bisa mengalihkan pandangannya dari tubuh Susan. Tapi ia tak pernah menggubris mereka. Ia bukan tipe perempuan yang mudah diajak main-main. Susan tetap setia degan Aldi yang sudah menyayanginya sepenuh hati.

Pagi pukul sembilan, setelah membersihkan rumah dan memasak untuk dirinya sendiri, Susan bersiap berangkat menuju alamat Pusat Kebugaran yang tertera di iklan. Ia sudah menghubungi nomor yang tertera sebelumnya, hanya untuk memastikan iklan itu benar adanya. Dan yang pasti dia juga merahasiakan rencananya itu kepada suami, mertua atau saudara lainnya. Dia hanya berpamitan meminta izin main ke rumah saudara jauhnya.

Setelah berganti dari ojeg naik angkot, tanpa kesulitan berarti ia tiba di depan sebuah ruko empat lantai dengan papan nama bertuliskan: “Pusat Kebugaran & Pijat Refleksi Harmonis.”

Hatinya berdebar. Ini adalah kali pertama ia melamar pekerjaan. Ia melangkah masuk, disambut senyum manis dua perempuan sebaya dengannya.

"Mau melamar ya, Mbak?" tanya seorang wanita berkulit hitam manis dengan baju hijau muda. Pertanyaan itu sedikit mengurangi rasa gugup Susan.

"Iya, Mbak," jawabnya dengan jantung yang masih berdegup.

'Kenapa aku malah makin grogi?’ batin Susan. 'Bukankah niatku baik, ingin bekerja?'

"Silakan naik aja langsung ke lantai empat, Mbak. Tangga ada di sebelah sana," ucap wanita berbaju hijau sambil menunjuk ke pojok ruangan.

"Terima kasih, Bu... eh, Mbak," balas Susan sambil tersenyum semanis mungkin.

"Sama-sama," timpal wanita satunya dengan senyum ramah.

"Eh, Mbak!" panggil salah satu dari mereka saat Susan hampir beranjak.

Susan menoleh dengan kaget.

"Pasti Mbak diterima deh," ucap wanita berkaos pink sambil memainkan matanya.

"Loh, kok tahu, Mbak?" Susan terlihat heran.

"Habis Mbak cantik sih," jawab mereka hampir bersamaan.

Pipi Susan terasa hangat, mungkin karena malu atau tersanjung. Ia tersenyum, lalu menaiki tangga menuju lantai empat.

Ia mengetuk sebuah pintu kaca berwarna hitam pekat. Seorang pria berkumis tebal, berbadan tegap, dan mengenakan kemeja safari membukakan pintu tanpa senyum.

"Mau melamar?" tanyanya sambil berjalan ke arah meja.

"Iya," jawab Susan sambil mencoba tersenyum setenang mungkin.

"Surat lamarannya sudah lengkap? Mana?" tanyanya lagi, kali ini dengan nada lebih tegas.

Susan menyerahkan map berisi surat lamaran dan kelengkapannya. Pria itu membuka mapnya, membolak-balik cepat, lalu menatap Susan.

"Silakan masuk ke ruang aula. Itu pintunya, gabung dengan pelamar lain. Ini nomor urutnya. Tunggu sampai nomor kamu dipanggil untuk wawancara," katanya, menyerahkan kertas kecil bernomor 58.

“Terima kasih, Pak,” ucap Susan, menatap nomor tersebut. Ia terkejut. Ternyata sudah begitu banyak yang melamar.

Ia menuju pintu aula, membuka dan melangkah masuk. Dugaan Susan benar: ruangan itu sudah dipenuhi puluhan wanita. Ada yang duduk, ada yang berdiri sambil mengobrol pelan.

Di tengah kerumunan itu, Susan melihat sebuah kursi kosong. Ia berjalan pelan ke arah sana, menyapa pelamar lain yang dilewatinya.

"Permisi," ucapnya pelan. Tapi tak satu pun membalas senyum atau sapaan itu. Mereka tampak cuek dan dingin. Beruntung tadi dua resepsionis menyambutnya dengan ramah, jika tidak, mungkin Susan sudah putar balik pulang.

Pelamar baru terus berdatangan. Ia melihat ada tiga wanita lain masuk hampir bersamaan dengannya. Di saat bersamaan, pintu kaca di sisi ruangan terbuka—seorang perempuan keluar dari sana. Mungkin itu ruang wawancara, pikirnya.

Susan menarik napas panjang. Ia duduk dengan tenang dan bersiap menunggu namanya dipanggil.

Cukup lama Susan menunggu—lebih dari dua jam—hingga akhirnya nomor miliknya dipanggil oleh seorang pria yang wajahnya mengingatkan pada keturunan Timur Tengah. Jantungnya kembali berdebar saat mendengar nomornya disebut. Dengan langkah pelan, ia mendekati pria itu dan menuju ke sebuah ruangan kaca yang tertutup tirai, tanpa celah untuk melihat ke dalam.

"Silakan masuk," kata pria tersebut sambil melirik dada Susan yang tertutup blazer batik—hadiah ulang tahun dari suaminya beberapa bulan lalu.

"Terima kasih," jawab Susan lirih sambil masuk ke dalam ruangan, matanya menyapu interior sejuk di dalamnya.

Tampak seorang pria lain sedang dipijat di atas kasur kecil oleh seorang pelamar yang sebelumnya telah dipanggil. Pria yang memanggil Susan lalu menunjuk ke sebuah sofa.

"Silakan duduk," katanya.

Susan duduk hampir bersamaan dengannya di sofa tunggal yang tersedia.

"Nama saya Fahmi," ujar pria berusia 40 tahun itu, sambil menyodorkan tangan.

"Susan Wulandari," balas Susan, menyambut tangannya untuk bersalaman.

Fahmi kemudian membuka map lamaran yang sebelumnya telah diserahkan Susan kepada pria lain di depan—kemungkinan bagian keamanan. Ia membaca dengan seksama isi lamaran sambil sesekali melirik ke arah Susan.

"Anak kamu berapa?" tanyanya kemudian.

"Belum punya, Pak," jawab Susan sambil memberanikan diri menatap wajahnya.

"Suami kamu kerja?" tanya Fahmi lagi.

"Kerja di Jakarta, pulang sebulan sekali," jawab Susan, kali ini dengan pandangan menunduk. Ia enggan menatap mata Fahmi dan memilih menatap map di tangannya.

Pria itu lalu menatap tajam ke arah dada Susan yang sedikit terbuka karena posisi duduknya yang agak condong ke depan. Susan menyesal memakai kaos tipis longgar yang dilapisi, meskipun sudah dilapisi blazer, tetap saja potongannya tak cukup menjaga auratnya.

Saat pikirannya sedang melayang memikirkan pakaiannya, tiba-tiba Susan dikejutkan oleh suara bergeser dari arah lemari buku di sampingnya. Ternyata lemari itu bergeser seperti pintu rahasia, dan dari baliknya muncul seorang pria bertubuh besar, agak botak, dan langsung menatapnya. Ternyata lemari itu bukan sekadar lemari—ia juga berfungsi sebagai pintu.

Susan tersenyum sopan kepada pria yang baru saja keluar dari balik lemari. Pria itu tampak berusia sekitar lima puluhan, rambutnya tipis hampir botak, namun masih terlihat tampan. Seperti Fahmi, pria ini juga tampak keturunan Timur Tengah.

"Fahmi, masih banyak pelamar?" tanyanya dengan suara berat sambil matanya menatap dada Susan, membuatnya risih.

"Masih sekitar 30 orang lagi, Pak Zakir. Saya sudah perintahkan Satpam agar tidak menerima pelamar lagi hari ini," jawab Fahmi.

"Baiklah. Kalau begitu, biar saya yang wawancarai nona ini. Kamu panggil yang lain," ujar pria yang dipanggil Pak Zakir itu.

"Baik, Pak," jawab Fahmi sambil menyerahkan map lamaran Susan kepada atasannya.

"Mari," ucap Pak Zakir sambil berjalan lebih dulu.

Susan mengikutinya dari belakang, memasuki ruangan melalui pintu rahasia di balik lemari. Tingginya hanya sebatas bahu Pak Zakir, sementara lebar tubuhnya tak sebanding dengan pria itu.

Ia tersenyum kecil dalam hati, membandingkan tubuh Pak Zakir dengan tubuh besar pria itu. Anehnya dia juga membandingkan lelaki itu dengan Aldi suaminya yang memang cenderung kurus.

^*^

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED