“Faldo… kamu beneran?!” tanyaku kaget.
“Kok kaget? Aku kangen, Rin,” jawabnya santai.
Aku berdiri cepat. “Kok bisa tahu aku di rumah nenek?”
“Usaha lah. Tanya temenmu. Aku nggak betah kalau nggak ketemu kamu.”
Aku mendengus. “Dasar aneh. Ini jauh, loh. Nggak takut nyasar?”
“Nyasar dikit nggak apa. Yang penting ketemu kamu.”
Pipiku panas. Dari dalam rumah terdengar suara nenek. Aku panik.
“Kamu gila, Al. Kalau nenek lihat gimana?”
Faldo tertawa. “Santai, cuma ngobrol sebentar.”
Belum sempat kusembunyikan senyum, nenek keluar. “Lho, siapa ini?”
“Permisi, Nek. Saya Faldo, temen kampus Erina.”
Nenek tersenyum. “Oh, Faldo. Masuk, Nak.”
Aku lega. Di ruang tengah, aku membuatkan kopi cream favorit kami, sambil menggoreng singkong.
“Nih, Fal. Kopi kesukaanmu.”
“Wah, kirain kamu lupa,” katanya.
Ia lalu mengeluarkan ransel penuh minuman dan cemilan.
“Kamu mau buka warung?” candaku.
“Kata kamu di sini nggak ada. Kan kamu masih lama liburannya.”
“Bawa segini berat banget, Al.”
“Demi cucunya nenek, apasih yang berat.” Ia mengedip nakal.
Aku tertawa.
“Rin, kok nggak bilang kangen? Udah ada cowok baru ya?” godanya.
Aku melotot. “Oh my God! Erina kangen banget, tau! Dua minggu kamu kemana aja?”
Ia melempar coklat padaku.
“Dasar gila!” aku tertawa.
Nenek kembali membawa singkong goreng.
“Nih, makan dulu,” katanya.
Faldo buru-buru menyerahkan bungkusan kertas. “Sedikit oleh-oleh buat Nenek.”
Nenek tersenyum hangat. “Wah, terima kasih banyak, Nak.”
Aku tersenyum melihat Faldo akrab dengan nenek, rasa waswasku lenyap. Udara dingin membuatnya menggigil.
“Rin, kamu suka mandi nggak sih?” tanyanya sambil memeluk diri.
“Heh! Emang aku keliatan jorok?” aku manyun.
Ia terkekeh. “Bukan, maksudku di sini dinging banget, kuat nggak mandi pagi di sini?”
Aku mendekat nakal. “Modus ya, mau dipeluk? Padahal ada singa di dapur.”
Pipinya memerah, buru-buru menyeruput kopi. Aku tertawa. Suasana hangat, ditemani kopi, singkong goreng, dan nenek yang sesekali nimbrung.
Tak lama, Faldo berbisik, “Rin, temenin aku ke warung beli rokok.”
Sejak keluar rumah, tatapan orang-orang langsung mengikuti. Anak-anak berhenti main, ibu-ibu melongo. Wajar, Faldo tinggi, gagah, gaya kota, kontras sekali denganku yang berdandan seadanya. Rasanya seperti jadi pembantunya.
“Aku kok berasa jalan sama majikan,” bisikku.
Faldo merangkul pundakku. “Aku malah berasa jalan sama bidadari.”
“Sttt, jangan rangkul! Ini kampung, Fal,” aku panik.
“Hehe, kirain kita di hutan pinus berdua doang,” godanya.
Aku mendengus. “Pansos aja.”
“Biarin, yang penting sama kamu,” balasnya sambil menepuk pundakku.
Warung sederhana itu sudah terlihat. Obrolan ibu-ibu di depannya langsung terhenti, mata mereka penuh rasa penasaran, ada yang melirik diam-diam, ada yang menatap terang-terangan.
Faldo membeli rokok dan bisik-bisik makin ramai saat kami kembali pulang ke rumah nenek.
Aku mendengus, “Mau beli rokok apa pamer sih?”
“Pamer lah. Biar nggak ada yang berani godain kamu,” katanya sok jagoan. Aku senyum-senyum sendiri.
“Ih pede. Emangnya aku laku?”
Faldo berhenti, menatapku dramatis. “Kalau kamu nggak laku, pasar cinta bisa bangkrut.”
Aku ngakak. “Pasar cinta apaan sih?”
“Tempat aku belanja hati kamu tiap hari.”
Aku hampir melempar sandal. “Gombal banget!”
“Biarin. Tugasku bikin kamu ketawa. Kalau serius terus, kita kayak sinetron.”
Aku manyun pura-pura, tapi ujung bibir tetap terangkat. Bersama Faldo, kadang marah dan tangis pun berakhir tawa.
Menjelang sore, ia pamit, menatapku seolah enggan pergi.
Atas saran nenek dan tetangga, Faldo pulang ditemani dua tukang ojek. Motor dan gayanya terlalu mencolok, dikhawatirkan rawan begal. Sebenarnya aku ingin ia menginap, tapi aturan nenek jelas tak bisa ditawar. Sebelum berangkat, Faldo menyalamiku.
“Nanti kalau pulang mau dijemput, bilang aja Rin. Jangan kangen berlebihan, ya.”
Aku manyun. “Hati-hati, jangan sok gaya. Itu hutan, bukan catwalk. Lagian gak ada sinyal.”
Ia tertawa, lalu melaju pergi, meninggalkan aroma kopi dan singkong goreng… juga rasa hangat bercampur rindu.
Malam terasa lebih sepi. Angin sawah masuk lewat celah jendela, sementara aku masih terbayang senyumnya saat pamit.
“Eh, Neng,” panggil nenek. “Temenmu itu baik, ya. Sopan, bawain kado segala.”
Aku nyengir. “Iya, cuma agak bawel.”
“Bawel nggak apa, asal hatinya bagus,” jawab nenek terkekeh.
Usai makan, suara salam terdengar. Seorang lelaki paruh baya berdiri di beranda: sarung rapi, baju koko putih, peci hitam, wajah teduh berjanggut tipis.
“Assalamu’alaikum, Mak Yanah,” sapanya.
“Wa’alaikum salam, Pak Haji. Silakan duduk,” sambut nenek ramah.
Aku menyiapkan teh. Saat menyerahkan, tatapannya sempat menyentuhku—membuatku buru-buru kembali ke dapur. Obrolan samar, lumayan lama sampai akhirnya lelaki paaruh baya itu pamit.
“Neng, ke kamar sebentar,” panggil nenek kemudian.
“Tamu tadi Haji Fariduddin. Orang baik, mapan, tanah luas, toko besar… Dia tadi sempat nanya-nanya tentang kamu.”
Aku tercekat. “Tapi… dia kan sudah punya istri?”
“Anak-anaknya sudah pisah. Istrinya sakit-sakitan. Usianya enam puluh, tapi sehat. Dan dia sanggup biayai kuliahmu sampai tamat.”
Dadaku sesak. Bayangan jadi istri kedua lelaki seusia ayahku membuat tubuhku dingin.
“Nek… aku nggak mau. Aku masih mau kuliah.”
Nenek mengusap tanganku. “Nenek ngerti. Tapi di kampung, seusiamu wajar menikah. Dan Haji Farid… bukan orang sembarangan.”
Aku terdiam. Apakah nenek tidak mengerti arti kata ‘teman’ yang dimaksudkan Faldo tadi? dia sepertinya menganggap Faldo memang bukan siapa-siapaku.
Sejak sore itu, rumah nenek nyaris tak pernah sepi. Menjelang magrib, Haji Farid rutin datang, membawa makanan untukku. Awalnya aku enggan, tapi demi nenek, akhirnya ikut menemaninya.
Ternyata ia berbeda dari bayanganku: ramah, sederhana, suka bercanda, tak pernah genit atau menyinggung soal lamaran. Jauh dari tipikal bapak-bapak kampung yang mapan dan sering sok berkuasa. Seperti Pak Hasbi.
Suatu siang nenek mengajakku ke tokonya, alasan beli pupuk. Toko itu ramai. Dari balik meja, Haji Farid menyambut hangat, senyumnya tenang, matanya sempat singgah padaku. Cukup membuat jantung berdegup.
Di sudut, seorang perempuan duduk pucat dan ringkih. “Itu istrinya,” bisik nenek. Usianya baru lima puluhan, tapi tampak renta. Saat tatapanku bertemu dengannya, ia tersenyum lembut, ramah, namun sarat makna. Seolah tahu sesuatu, seolah memberi izin sebelum ada kata terucap.
Aku merinding. Antara simpati dan takut, seperti berdiri di ambang rahasia besar. Mungkin Haji Farid tulus, tapi aku sadar: bahagia bukan hanya soal ketulusan orang lain, melainkan juga pilihan hati. Dan hatiku belum siap. Aku masih ingin mengejar mimpi, bukan terikat janji.
Tak terasa masa liburan hampir selesai. Aku harus kembali karena kuliah sebentar lagi masuk. Kupikir akan naik ojek seperti biasa, tapi Haji Farid justru menawarkan diri mengantarku.
“Sekalian aja, Neng. Saya juga mau ke kota belanja pupuk sama alat pertanian. Pas sekali, kan,” katanya ringan.
Aku tak enak menolak. Nenek tersenyum setuju, seolah semuanya sudah mereka atur. Aku duduk di jok samping, sementara beliau menyetir mobil pick-up. Sepanjang perjalanan, kami hanya sesekali bertukar kata, tentang kampus, sawah, atau cuaca. Aku lebih banyak menatap jalanan, pura-pura sibuk.
Saat mobil berhenti di mulut gang kampungku, aku turun dan mengucapkan terima kasih. Sebelum menutup pintu, Haji Farid menyelipkan sebuah amplop putih ke tanganku.
“Buat jajan Neng Erina dan adik-adik,” katanya singkat, senyumnya seperti seorang ayah.
Tanganku menerima, tapi dadaku bergetar aneh. Di kamar, aku membuka amplop itu: beberapa lembar uang seratus ribuan. Lebih dari cukup untuk jajan aku, Erwan dan Enda sebulan, tapi di tanganku terasa seperti beban yang tak kuminta.
Sebenarnya aku ingin menceritakan semuanya pada Ayah dan Ibu, tapi lidahku kelu. Toh, Haji Farid sendiri belum pernah bicara gamblang soal lamaran. Bisa jadi hanya nenek yang terlalu jauh menafsirkan kebaikannya. Lagian orang tuaku bisa tersinggung, menganggap nenek ikut campur urusan yang bukan haknya?
Terus Faldo gimana?
Aku dan Faldo beda kampus. Dia setahun di atasku. Awalnya aku yang lebih dulu suka, tapi langsung mundur, minder karena selain terlalu ganteng, dia jelas dari keluarga berada, sedangkan aku cuma anak petani dengan ibu penjual kue di pasar.
Saat aku berhenti berharap, dia malah menyatakan perasaan. Tiga bulan kami bersama, sederhana saja: nongkrong di kafe kecil, jalan berdua, tanpa banyak tahu soal keluarga masing-masing. Aku nyaman, karena walau populer dan kaya, Faldo nggak pernah pamer. Kedua orang tuaku pun belum kenal sama sekali.
Selama bersama itu, selain manis, aku merasa lebih banyak bertengkarnya. Faldo terlalu banyak penggemar dan tidak bisa tegas menolak, sementara aku sendiri tak kuat menahan rasa cemburu kalau dia sudah bersikap terlalu manis dan mesra pada cewek lain.
Ah, sudahlah. Biarlah waktu yang akan menjawab takdirku.
^*^
“Rin… dengerin aku dulu,” suaranya tegas, mencoba menahan langkahku.
Aku menatap Faldo yang tiba-tiba muncul di pangkalan ojek dengan motor maticnya. Wajahnya setengah serius, setengah memelas. Dia langusung mndatangi dan menggengam erat tanganku,
“Lepasin! Aku gak mau dengerin apapun darimu, Faldo! Dasar cowok sok kegantengan!” hardikku sambil menepiskan kasar tangannya.
Belum sempat dia bicara lagi, Merlin yang kebetulan sedang menunggu di sebelahku langsung berdiri. Wajahnya merah padam.
“Eh, lu mau apa sih, Faldo? Ngapain ganggu Erina?!” suaranya menembus keramaian.
Faldo berusaha tenang. “Aku cuma mau jelasin—”
“Jelasin?! Dasar pengecut! Jangan deketin dia lagi!” Merlin maju, matanya menyala. Aku tahu sahabatku ini tidak akan main-main kalau marah.
Suasana makin panas. Beberapa tukang ojek buru-buru menengahi, menahan Merlin agar tidak benar-benar melayangkan tinju. Faldo mundur beberapa langkah, wajahnya merah menahan malu.
“Oke… aku pergi dulu. Tapi nanti kita ngobrol baik-baik,” katanya singkat sebelum akhirnya pergi.
Aku masih gemetar. Merlin menghela napas kasar, lalu menatapku tajam.
“Erina! Gue udah bilang berkali-kali! Jangan pernah deket-deket sama cowok brengsek itu lagi!”
Aku terdiam. Kata-katanya pedih, tapi aku tahu ia benar.
“Lu cantik, pintar, punya masa depan. Ngapain lu pertahankan cowok kayak dia?” lanjutnya, suaranya meninggi tapi juga bergetar karena marah sekaligus sayang.
Aku hanya bisa menunduk. Hati kecilku masih sulit menerima semuanya.
Dua hari kemudian, di kampus, suasana tampak biasa saja. Namun dari halaman, aku melihat Faldo berdiri dengan almamater kampusnya, tampak ragu tapi jelas ingin menemuiku.
Seketika Merlin muncul di sampingku. “Rin, jangan konyol. Jangan termakan rayuan buaya kayak dia.”
Aku hendak menjawab, tapi Faldo sudah lebih dulu bicara.
“Rin, boleh kita ngobrol sebentar? Aku cuma mau minta maaf. Serius.”
Aku diam. Sebenarnya aku ingin bilang sudah memaafkannya, tapi Merlin melangkah maju, tubuhnya jadi penghalang.
“Udah, Faldo. Jangan harap bisa deket lagi sama Erina. Janji lu nggak ada artinya.”
Faldo menunduk sebentar, lalu mencoba lagi. “Aku ngerti, Lin… tapi kali ini aku sungguh-sungguh. Aku janji nggak bakal nyakitin dia lagi.”
Merlin mendengus. “Janji nggak cukup. Gue nggak akan biarin Erina disakitin lagi.”
Aku hanya menunduk, hatiku campur aduk. Antara lega, marah, tapi juga masih menyisakan cinta yang susah kuakui. Faldo akhirnya menyerah, mundur dengan langkah berat.
Sore harinya, sepulang kuliah, aku dan Merlin berjalan menuju pangkalan ojek. Tiba-tiba, dari arah gang kecil, Faldo muncul lagi. Senyumnya canggung.
“Rin… aku cuma mau minta maaf. Bisa nggak kita ngobrol sebentar?”
Merlin langsung melotot. “Ngapain lu muncul lagi? Gue udah bilang jangan deket-deket dia!”
Aku menarik napas dalam-dalam. Kali ini aku merasa harus bicara langsung.
“Lin, biar aku yang ngobrol sebentar. Kamu tunggu aja di situ.”
Akhirnya aku dan Faldo duduk di bangku pinggir jalan, sementara Merlin mengawasi dari jarak beberapa meter.
“Fal,” ucapku pelan, “aku sudah memaafkan semua kesalahanmu. Tapi itu nggak berarti aku mau mengulang lagi. Kita harus sudahi, baik-baik.”
Faldo terdiam, wajahnya menegang. “Tapi aku masih sayang sama kamu, Rin. Aku bisa berubah…”
Aku menggeleng, menahan air mata. “Bukan soal itu. Aku nggak mau terus saling menyakiti. Keputusan ini bulat. Aku ingin kita selesai tanpa dendam.”
Ia menunduk lama, lalu menghela napas berat. “Kalau itu pilihanmu… aku terima. Tapi aku tahu kamu masih cinta sama aku.”
Aku tersenyum tipis. “Mungkin iya. Tapi cinta bukan alasan untuk bertahan di hubungan yang bikin sakit. Aku harus belajar jaga diriku sendiri.”
Faldo akhirnya berdiri, menatapku sebentar, lalu pergi tanpa menoleh lagi.
Aku sudah capek. Dia terlalu baik pada semua orang, sementara aku terlalu gampang cemburu. Lima kali kami bertengkar, lima kali aku terluka. Hubungan ini lebih banyak melelahkan daripada membahagiakan.
Akhirnya aku sadar: memaafkan bisa, tapi nggak harus kembali. Kadang cinta harus diakhiri demi diri sendiri. Kalau jodoh, pasti dipertemukan lagi. Kalau pun bukan, aku siap belajar melepaskannya.
Sekarang hidupku lebih tenang. Masih sering keingat, iya. Tapi setiap kali bayangannya datang, aku mengingatkan diriku sendiri: cinta bukan alasan bertahan dalam hubungan yang menyakitkan. Merlin malah sudah mulai sibuk menjodohkan aku dengan Fajar.
“Aku tuh penasaran, Rin,” Fajar nyender ke kursi kantin, gelas es teh masih berembun di tangannya. “Kamu kan rumahnya jauh, ya? Asli mana sih sebenarnya?”
Aku senyum tipis. “Asli sini hanya di kampungnya, Jar. Dua puluh kiloan lah dari sini. Tiap hari bolak-balik naik angkot. Kadang pulang sambung ojek pangkalan, kadang ojek online.”
“Wih, pejuang transportasi banget,” Fajar ketawa. “Terus kampungmu lengkap nggak tuh? Ada mall gitu?”
Aku geleng cepat sambil nutup mulut geli. “Halah, nggak ada. Kalau mau ke mall harus ke kota. Tapi lumayan lengkap lah. Nggak ndeso-ndeso banget juga.”
“Hmm, pantes kamu jarang nongol kalau anak-anak ngajak jalan ke mall.” Dia pura-pura menatapku curiga.
Aku nyengir. “Emang iya, aku bukan tipe yang doyan mall. Malu ngemol rumah ku aja biasa aja, sederhana. Tapi nyaman karena kami sekeluarga kompak rawat. Jadi kelihatan asri.”
Fajar ngangguk, ekspresinya kayak lagi nyimak podcast. Dia lanjut, “Aku juga sering liat kamu sibuk di acara seni. Padahal jurusan kita kan bisnis. Kok bisa nyasar ke situ?”
Aku ketawa lagi. “Ya emang suka dari dulu. Dunia seni tuh seru, bikin hidup nggak kering. Jadi ya udah, sekalian ikut aja.”
“Ah, pantesan,” Fajar senyum. “Aku pikir kamu cari spotlight.”
Aku melotot kecil. “Dasar! Aku bukan Merlin yang suka narsis.”
Dia ketawa makin keras. “Kalau di rumah, kamu ngapain aja si, Rin?”
“Ya… mostly jadi emak buat adik-adikku. Erwan kelas satu SMA, Enda kelas enam SD. Kalau ayah di sawah, ibu di pasar, ya aku jadi emak mereka.”
“Berat tuh jadi anak sulung.”
“Udah biasa, Jar. Kadang juga bantu ngantar makanan buat ayah di sawah, ikut panen juga. Tapi kalau ikut ibu jualan kue ke pasar, aku males.”
“Kenapa?”
“Risi, banyak cowok iseng. Nggak banget.”
Fajar senyum tipis, kayak ngerti.
Aku balik nanya, “Kalau kamu sendiri? Dari keluarga apa sih?”
“Biasa aja. Nothing special. Aku lebih ke musik sih. Penampilan aja agak religius, tapi santai, nggak fanatik.”
Aku ngakak. “Makanya kalau nongkrong suka nyanyi-nyanyi random ya.”
“Ya itu hiburan,” dia nyengir.
Dan di kepalaku langsung terlintas. Kalau Merlin denger obrolan ini, pasti langsung nyeletuk: ‘Udah deal, kalian cocok!’
Melihat keadaanku dengan Fajar tak menggembirakan, suatu siang Merlin kembali berulah. Tiba-tiba saja dia menyeretku ke kantin belakang kampus.
“Rin, kenalin. Ini Fahmi. Santri, pinter, calon sarjana sebentar lagi,” katanya dengan senyum penuh arti.
Fahmi menyalami dengan sopan. “Assalamualaikum, Erina. Aku sering dengar cerita tentang kamu dari Merlin.”
Aku hanya tersenyum kaku. “Waalaikumsalam… semoga yang diceritain nggak macam-macam.”
Kami pun duduk bertiga. Obrolan mengalir cukup hangat. Fahmi bercerita tentang kesibukannya jadi asisten dosen, tentang kegiatannya di pesantren dulu, bahkan sempat menyinggung rencananya melanjutkan kuliah S2.
Aku mendengarkan, sesekali menimpali. Dia memang pintar berbicara, sopan, tidak ada nada meremehkan.
Namun di sela-sela semua keramahan itu, aku sadar: tidak ada debar. Tidak ada getaran yang sama seperti saat bersama Faldo dulu, atau tawa lepas seperti ketika ngobrol dengan Fajar. Obrolan hangat itu hanya mengalir… tanpa meninggalkan bekas.
Merlin sempat menyikut lenganku pelan, memberi kode. Aku hanya bisa menatapnya sekilas, lalu tersenyum tipis. Dalam hati aku tahu, sebaik apa pun Fahmi, hatiku belum bisa digerakkan hanya karena logika.
Setelah itu, Fahmi beberapa kali datang menemuiku. Pembawaannya selalu ramah, obrolannya santun, bahkan terkadang membawakan buku atau camilan kecil. Tapi hatiku tetap saja gersang.
Merlin jelas berang, merasa usahanya sia-sia. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kesungguhannya menjodohkan aku dengan orang lain, sementara hubungan dia sendiri dengan Hendrik tak pernah baik-baik saja.
Yang lebih membuatku bingung, justru bayang-bayang Haji Farid makin sering hadir. Ia kerap datang membawa kebaikan, jajanan, amplop, obrolan ringan. Tapi tak sekalipun ia menyinggung perjodohan atau urusan hati. Justru sikap itu yang semakin menjerat pikiranku.
Kedua orang tuaku pun belum menunjukkan tanda-tanda tahu atau curiga. Semua berjalan seolah biasa, padahal di dalam hatiku mulai tumbuh rasa was-was yang sulit kujelaskan.
Dan waktu pun berlalu tanpa jawaban pasti.
^*^
Sore itu aku kembali dari kampus, hujan turun dengan deras. Aku dan Merlin berdiri di tepi jalan, basah sampai ke sepatu. Kami menunggu angkot pedesaan, rit terakhir hari ini. Tapi sepertinya hujan deras membuat sopirnya terlambat kembali ke kota.
“Aduh, kalau nunggu terus bisa masuk angin,” gumam Merlin sambil menggigit bibir.
“Kita naik ojek aja, yuk?” usulku, tapi langsung kami berdua menggeleng hampir bersamaan. Hujan terlalu deras, jas hujan pun rasanya percuma. Anginnya dingin sekali.
Tiba-tiba sebuah pick-up melambat di depan kami. Kaca jendela sisi sopir turun, dan muncullah wajah Pak Hasbi. Ia tersenyum lebar.
“Lho, kalian ngapain di sini, keujanan begini?” suaranya terdengar riang.
“Nunggu angkot, Pak Haji,” jawab Merlin sambil setengah berteriak karena suara hujan menutupi segalanya.
Pak Hasbi tertawa kecil. “Waduh, sampai malam pun belum tentu lewat. Ayo ikut aja sama Haji.”
Aku dan Merlin saling pandang. “Beneran gak merepotkan, Pak Haji?” tanyaku ragu.
“Lho, masa kalian tega ngebiarin Haji jalan sendirian? Ayo, cepat naik, keburu banjir!” godanya sambil menepuk pintu mobil.
Aku melirik Merlin sekilas. Pak Hasbi memang selalu menyebut dirinya dengan “Haji,” seakan ingin semua orang mengingatnya jika dia sudah menunaikan rukun Islam kelima.
Merlin masuk duluan, aku menyusul duduk di sisi pintu. Begitu mobil melaju, aroma kabin yang hangat bercampur bau hujan membuat kami sedikit lega.
Pak Hasbi tampak seperti biasa, flamboyan dan gagah. Ia melirik kami lewat kaca spion. “Dua mahasiswi manis diselamatkan dari hujan deras. Wah, pahalanya dobel ini,” ujarnya sambil terkekeh.
“Pahala atau kesempatan, Pak Haji?” Merlin ikut menggoda.
Pak Hasbi hanya tertawa lebih keras. “Dua-duanya boleh. Yang penting kalian selamat sampai rumah. Kalau enggak, nanti yang panik siapa? Ibu kalian kan?”
Kami ikut tertawa, sedikit lupa pada dinginnya hujan.
Sebenarnya, kalau sendirian, aku pasti menolak ajakan ini. Ada sesuatu dari lelaki berusia di atas lima puluh tahun ini yang membuatku selalu ingin menjaga jarak. Gelarnya Haji, sikapnya santun, penampilannya pun rapi dan religius, tapi feelingku mengatakan itu hanya topeng.
Di balik senyum ramahnya, dia adalah pengusaha kampung yang punya tangan di banyak bidang, sekaligus rentenir yang hobi kawin-cerai. Lebih buruknya lagi, hampir semua perempuan yang pernah dinikahinya adalah istri orang, janda atau gadis yang dipaksa karena hutang. Kabarnya rumahnya ada di mana-mana, seperti jejak yang tak pernah bisa dihapus.
Aku teringat, orang tua Merlin pun salah satu nasabahnya. Hutang mereka sudah lama tak lunas. Semoga saja Merlin tak menjadi korban berikutnya. Pikiran itu membuatku melirik sahabatku sekilas, bertanya-tanya apakah ia sadar bahaya yang mungkin mengintainya.
Sejak lama Pak Hasbi menaruh hati padaku. Sorot matanya tak pernah bisa menipu. Aku selalu pura-pura tak melihat, berharap orang tuaku pun tidak sampai tersangkut dalam urusan apa pun dengannya.
“Pak haji dari mana?” tanyaku, sekadar memecah keheningan.
“Dari meriksa gudang di kota sebelah. Tenang aja kalian Haji antar sampai rumah, ya.” katanya.
“Wah, makasih banyak, Pak Haji,” jawab Merlin dengan senyum lebar.
Pak Hasbi tertawa kecil. “Iya lah. Masak Haji tega biarin kalian kedinginan di pinggir jalan? Kalau sampai sakit, yang rugi siapa? Calon mertua kalian nanti marah sama Haji.”
Merlin spontan tertawa, sementara aku hanya menunduk, pura-pura merapikan tas. Aku tahu betul Pak Hasbi sedang melemparkan umpan.
“Kalian tingkat berapa?” tanya Pak Hasbi, suaranya agak meninggi untuk mengalahkan suara hujan.
“Saya baru tingkat satu, Erina tingkat dua. Bentar lagi naik tingkat, heheh,” jawab Merlin santai.
“Wah,” Pak Hasbi terkekeh. “Berarti sebentar lagi siap-siap nikah, dong? Atau mau lanjut kuliah sampai tamat?”
“Maunya sih sampai punya gelar, Pak Haji,” jawab Merlin sambil tersenyum lebar. “Tapi ya lihat sikon ortu dulu, hehehe.”
Pak Hasbi ikut tertawa. “Ya semoga aja bisa kuliah sampai kelar, ya. Kalau perlu nikah sambil kuliah juga enggak masalah. Anak Haji juga, si sulung, sudah tingkat tiga kuliahnya.”
“Oh, Pak Haji punya anak yang sudah kuliah?” Merlin tampak terkejut.
“Ada, cowok,” jawabnya santai. “Tapi dia nggak tinggal sama Haji, kost dari kelas dua SMA. Tepatnya sejak Haji bercerai deengan mamanya.”
“Kenapa kost? Mamanya ke mana?” Merlin semakin penasaran.
“Pulang ke Manado,” jawab Pak Hasbi ringan.
“Oh, istri Pak Haji orang Manado?”
“Mantan istri pertama,” koreksi Pak Hasbi sambil tersenyum kecil. “Kalau Haji asli sini.”
Obrolan mereka terus berlanjut, sementara aku sibuk dengan pikiranku sendiri. pakaianku masih lembap, tas juga terasa berat karena cipratan hujan tadi.
“Kalau Erina gimana?” Tiba-tiba suara Pak Hasbi menembus lamunanku.
“Eh? Gimana apanya, Pak Haji?” tanyaku gugup. Aku jelas tidak menyimak obrolan mereka.
“Udah punya calon suami belum?” tanyanya lagi sambil terkekeh.
Aku ikut terkekeh canggung. “Hehehe… udah, Pak Haji,” jawabku cepat-cepat, sekadar mengakhiri topik.
“Orang mana?” tanyanya lagi, nada suaranya seperti benar-benar ingin tahu.
“Orang jauh… tapi dekat, hehehe.” Aku sengaja menggantung jawabanku.
“Alah, calon apaan, pacaran aja putus nyambung mulu. Nih baru putus lagi,” sela Merlin sambil mencibir.
“Beneran, Rin?” tanya Pak Hasbi, suaranya seperti mencampur rasa penasaran dan godaan.
Aku tersenyum hambar. “Hehehe, iya, Pak Haji. Saya mau fokus kuliah dulu.”
“Bagus itu,” kata Pak Hasbi sambil mengangguk kecil. “Belajar yang rajin. Biar nanti enggak nyesel.”
Mobil kembali hening, hanya suara hujan yang terdengar. Aku menarik napas pelan, berharap perjalanan ini cepat selesai.
Merlin dan Pak Hasbi terus mengobrol sepanjang jalan. Topiknya lompat-lompat—dari kuliah, cerita masa kecil, sampai gosip ringan tentang orang kampung. Sesekali aku hanya ikut tersenyum, lebih banyak menjadi pendengar setia.
Beberapa kali mata Pak Hasbi tertangkap sedang melirikku lewat kaca spion, seakan menunggu aku ikut nimbrung. Tapi aku memilih diam, berpura-pura sibuk menatap jendela, memperhatikan hujan yang mulai reda.
Tak terasa, mobil sudah berhenti di depan rumah Merlin.
“Nah, sampai juga. Untung tadi kalian ketemu Haji di jalan,” ucap Pak Hasbi sambil tersenyum lebar.
Aku dan Merlin mengucapkan terima kasih hampir bersamaan. Aku ikut turun, walau rumahku sebenarnya masih sekitar setengah kilometer lagi. Tapi aku merasa lebih aman jalan kaki dari rumah Merlin daripada harus berdua dengan Pak Hasbi di mobil.
Pak Hasbi langsung memutar setir, balik arah. Rumahnya sudah terlewat. Rumah paling besar dan paling mencolok di kampung kami.
“Eh, Rin, kamu beneran mau liburan di rumah nenekmu lagi?” tanya Merlin sambil menatapku penuh rasa ingin tahu.
Aku mengangguk pelan. “Iya, besok atau lusa sama adik-adiku. Gak bakal lama, mereka gak betahan tinggal di rumah nenek. Selebihnya, di rumah aja bantuin ibu bikin gorengan dan kue, hehehe.”
“Wah, enak dong bisa liburan,” sahut Merlin sambil senyum-senyum.
“Enak apanya?” aku terkekeh. “Sama aja, rumah nenekku kan di kampung juga. Mainnya ya ke sawah, ke kebun, atau ke hutan. Paling banter mancing di empang.”
Merlin ikut tertawa. “Ya setidaknya beda suasana lah, Rin. Aku mah kayaknya nggak bisa liburan, harus cari kerja sambilan.”
“Kerja sambilan itu jadi?” aku menoleh, penasaran.
“Iya, kemungkinan jadi, Rin. Lumayan kan, kita libur sebulan penuh. Aku mau bantu-bantu ortu. Kebetulan abis lebaran gini, banyak ART yang belum balik dari mudiknya. Nah, rencananya aku mau jadi pembokat dadakan, hehehe.”
Aku menepuk bahunya ringan. “Ya udah, hati-hati ya, Lin.”
“Kamu juga hati-hati, Rin. Di kampung nenekmu banyak cowok mata keranjang juga, lho.” Merlin menggoda sambil menyipitkan mata. “Dan jangan sampai si Faldo brengsek, nyusul lagi!”
“Aman, Ciin, aku malah udah lupa sama dia, hehehe,” jawabku sambil tertawa.
Kami berpelukan seperti teletabis, seolah-olah akan berpisah lama sekali, padahal paling juga ketemu lagi setelah libur. Ada sedikit perasaan hangat sekaligus sedih yang menggantung di dada.
^*^