Aaah….mimpi itu terus. Kata seorang gadis yang baru terbangun dari tidurnya dan menyibak’kan selimutnya. Ia bangun dengan nafas tersengal-sengal, bahkan ia berkeringat dingin dan sadar bahwa itu hanyalah sebuah mimpi namun ia merasakan ada yang aneh dari mimpi tersebut seakan mimpi tersebut seperti kejadian nyata.
“Yui, kau sudah bangun? Kalau kau sudah bangun, cepat sarapan!.”perintah Ibunya.
“Ya, aku sudah bangun.”
Yui yang masih di atas Kasur kembali merebahkan badannya setelah ia bermimpi buruk bahkan ia menempelkan tangannya untuk mengetahui apakah ia panas atau tidak. Badannya tak panas bahkan ia normal, namun mengapa mimpi itu terus menerus menghampirinya katanya didalam hati. Yui yang memiliki rambut coklat ke hitam-hitaman, mata berwarna coklat jernih, mencoba menjernihkan pikirannya turun dari tempat tidur dan merapihkan kasurnya. Setelahnya ia turun ke bawah dan menghampiri keluarganya yang sedang sarapan.
“Kenapa kau harus lama sekali? Lekas lah di makan nanti keburu dingin.”kata Ibunya.
Ibu Yui yang bernama Akiko, masih mengenakan celemek dan menyiapkan makanannya. Akiko memiliki perawakan yang sederhana. Dengan struktur wajah yang lonjong, hidung mancung, sorot mata yang berwibawa. Akiko merupakan sosok yang keras kepada anak-anaknya bahkan ia tak akan tinggal diam jika masih ada orang yang berusaha menyakiti keluarganya, bahkan ia rela memasang tubuhnya demi melindungi anak-anaknya.
“Ya, bu. Bu, aku tidak ingin ke sekolah tersebut.”katanya sembari mengambil lauk dan menyuapi ke dalam mulutnya sendiri.
“Ada apa dengan anak ini?.”kata ibunya yang seakan tak percaya apa yang baru saja ia katakan.
“Cari saja sekolah yang lain. Aku tak mau ke sekolah itu ada yang aneh.”katanya sembari menaruh kembali sumpit yang ia gunakan ke atas meja.
“Memangnya kenapa?.”Tanya ibunya yang sudah mulai kesal akan perlakuan Yui.
“Entahlah, bu. Pokoknya aku tak mau ke sekolah itu.”
“Suka tidak suka kau harus bersekolah di sana.”celetuk ayahnya yang masih serius membaca koran.
“Cepat habiskan makanannya. Aku akan mengantar kalian berdua ke sekolah tersebut.”katanya yang sudah duduk di meja makan.
“Aku tidak mau!.”kata Yui galak kepada ibunya.
Akiko yang kesal dengan mendengar perkataan Yui tersebut, mengambil makanannya dan membuangnya ke tong sampah, “Bu, itu makanan’ku.”katanya kesal. Beberapa pelayan yang melihat tersebut hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya seakan sudah tahu bahwa hal tersebut akan terjadi.
“Kalau kau mau makan, pergi ke sekolah itu! Aku Tanya kepadamu siapa yang membiayai sekolah’mu sampai sekarang? Kenapa kau jadi anak yang tak berterima kasih kepada orang tua!?.”marah Akiko.
“Bu, sudah lah jangan marah-marah.”kata Arisawa yang datang dan duduk untuk menikmati sarapannya. Arisawa merupakan adik Yui yang paling kecil. Dia sangat imut dan pinta. Rambutnya berwarna hitam legam dan mata belonya menambah dirinya makin terlihat imut. Bahkan ia memiliki lesung pipi.
“Bagaimana, ibu tidak marah dengan kakakmu. Sudah bagus di sekolahkan, malah tidak berterima kasih.”
“Minta maaf lah kepada Ibumu.”kata ayahnya yang sedari tadi hanya diam saja. “Kau juga makan dari uang’ku, kau sekolah dari uang’ku. Aku bahkan tak pernah memintamu untuk mengganti semuanya. Lalu, kau tiba-tiba memutuskan untuk tidak mau sekolah? Mau jadi apa ‘kau?.”kata ayahnya yang berusaha menengahi pertengkaran anak dan ibunya.
Kenzo yang memiliki struktur wajah seperti kotak, hidung mancung dan sedikit berkumis. Menurunkan koran yang ia baca dan melepas kacamatanya. Hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat putrinya bertingkah seperti itu.
“A..Aku.”kata Yui yang tak bisa menyelesaikan perkataannya.
“Kak, minta maaf’lah kepada Ibu.”
“Aku minta maaf, bu.”katanya dengan suara kecil.
“Minta maaf dengan benar kepada Ibumu. Kita bukan tinggal di Korea lagi, kita tinggal di Jepang.”kata ayahnya dengan menaikkan suaranya.
“Aku minta maaf, bu.”kata Yui.
Perdebatan pagi hari yang menguras emosi memang membuat kita terkadang tak menyukainya. Kenzo sekeluarga merupakan keluarga asal Jepang. Beberapa kali Kenzo pulang pergi ke Korea karena urusan pekerjaan bahkan beberapa tahun belakangan ini mereka akhirnya memutuskan untuk menetap di Jepang karena kakaknya akan segera menikah dengan orang jepang. Di dalam keluarganya Yui merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara. Yui dan adiknya Arisawa masih bersekolah. Sedangkan kakak pertama mereka, Anna, sudah menikah dengan orang terkaya di Jepang, Imasida-San, hingga sekarang mereka di karunia dua anak dan hidup bahagia di kawasan Toto. Sedangkan, kakak keduanya bernama Tomoko, saat ini masih ada di Jerman dan sedang ujian tesis, yang sebentar lagi akan menikah dan menyusul kakak pertamanya.
Yui pun di ambil kan makanannya kembali oleh pelayannya, ia menghabiskan makanannya dalam diam takut-takut ibunya akan mengambil dan membuang makanannya kembali. Selesainya mereka sarapan, Yui dan Arisawa menuju sekolah baru mereka di antar oleh ibunya sedangkan ayahnya pergi bekerja yang di antar oleh supirnya. Kenzo memiliki bisnis di prefektur Nagata. Ia seorang CEO perusahaan tersebut.
Yui dan Arisawa naik ke mobil dan ibunya membawa mobilnya melaju ke sebuah sekolah. Sekolah tersebut adalah Sekolah Teitan. Akiko pun turun, tangannya gemetar dan nafasnya seakan di buru oleh perasaan bersalah. Ia memantapkan langkahnya untuk masuk ke dalam sekolah tersebut. Ia menyelesaikan beberapa administrasi dan mengambil barang-barang yang di perlukan oleh Yui dan Arisawa. Sepulangnya itu mereka mengunjungi salah satu mall. Yup, ibunya adalah pemilik mall tersebut. Beberapa staff yang melihat bahwa bos mereka sudah datang menghampirinya termasuk sekretarisnya yang sekaligus pengawal Akiko itu sendiri, Park Bo Geum. Park Bo-Geum dengan struktur wajah yang sama persis dengan ayahnya namun lebih kasar saja, membuat Yui tak suka dengan Pak Park.
“Pak Park, antar anak-anak’ku ke salah satu toko untuk membeli tas dan peralatan lainnya.”
“Baik, bu.”katanya dengan suara lantang.
“Sisanya aku akan ke kantor dan kau tolong antarkan anak-anak’ku pulang ke rumah.”
“Maaf tapi ada beberapa dokumen yang harus ibu tanda tangani terlebih dahulu.”kata Pak Park.
Walaupun mereka sembari bicara langkah kaki mereka tetap berjalan ke ruang ibunya bekerja. Sesampainya di lantai sepuluh. Pak Park mengambil beberapa dokumen yang harus di tanda tangani oleh Akiko selaku pemilik dan CEO Mall tersebut. Arisawa dan Yui hanya bisa mengikuti mereka,
“Tuan dan Nyonya Muda, silakan ikuti saya.”kata Pak Park dengan sopan.
Arisawa dan Yui yang sudah menikmati kekayaan orang tuanya sudah tak perlu lagi mencemaskan masa depannya seperti anak-anak lainnya. Mereka di antar oleh Pak Park dan bahkan di bawakan barang-barang mereka. Sepanjang perjalanan di mall tersebut Yui dan Arisawa ribut yang tak karuan. Pak Park yang sudah bosan akan kegaduhan tersebut, “Sudah-sudah, kalian ini seperti anjing dan kucing saja. Pokoknya aku hanya mengantar kalian.”kata Pak Park,
“Tolonglah, Pak Park, antarkan kami saja sebentar.”celetuk Arisawa di dalam mobil.
“Tidak. Itu perintah dari Ibumu. Kalian mau aku di gorok.”kata Pak Park dengan tegas.
“Ya, baiklah. Kami mengerti.”kata Arisawa dan Yui yang menjawab secara bersamaan.
Malam pun menjelang, para pelayan sudah menyiapkan nasi kare dan mereka makan dengan lahapnya. Waktu tepat menunjukkan pukul sepuluh, ayah dan ibu mereka belum pulang bekerja, tetap saja mereka sudah harus beristirahat.
Mimpi yang sama tetap masih menghantui Yui lagi dan lagi namun kali ini mimpinya sedikit berbeda, seorang gadis meminta Yui untuk menggabungkan kekuatannya dengan Izikawa. Tepat waktu yang bersamaan Akiko mendengar Yui berteriak,
“Aaahhh…mimpi itu lagi! Ada apa ini sebenarnya? Kenapa aku selalu memimpikan hal yang sama terus.”
Akiko yang panic menghampiri kamar anaknya, Yui, “Ada apa, Yui? Sudah beberapa hari ini pelayan mengatakan kau selalu berteriak terus selama tidur bahkan beberapa pelayan memergoki kau turun sembari tidur dan duduk seperti mayat. Dan, kau juga turun tiba-tiba hanya untuk mengambil air. Ada apa? Katakan!.”
“Sudah aku bilang, bu, tapi ibu tidak mau mendengar ucapan’ku. Sudah‘lah hanya mimpi buruk saja.” katanya yang langsung menutupi dirinya dengan bed cover.
“Kau yakin tidak apa-apa? Apa mau kita ke dokter?.”Tanya Ibunya.
“Aku tidak apa-apa.”
“Yaa sudah. Kau istirahat saja tapi Ibu minta setelah bangun kau kemasi barang-barangmu. Ayahmu tidak pulang ia sudah pergi ke Osaka.”
Yui yang mendengar ayahnya sudah pergi, membuka kembali bed covernya, “Ayah pergi ke Osaka? Ada apa? Kenapa mendadak.”katanya.
“Bereskan saja barang-barangmu, kita akan menyusulnya besok. Kau mau di buatkan apa untuk sarapan?.”Tanya ibunya.
Yui diam sejenak, ia berfikir, “Aku mau sup miso lobak.”
“Baiklah, akan ibu minta pelayan menyediakan untukmu.”
Yui pun kembali tidur dan ia berbicara dalam hatinya sendiri, siapa Izikawa? Sepertinya aku mengenalnya. Pagi harinya Yui dan Arisawa merapihkan beberapa baju yang akan mereka bawa pergi. Padahal waktu mereka sekolah tinggal empat hari lagi, ada apa yang terjadi sebenarnya. Akiko pun ikut terjaga, ia bingung dengan semua ini, apakah mimpi Yui berhubungan dengan kehidupan masa lalu Akiko dan sekarang apa yang terjadi?
Pagi-pagi harinya mereka sudah sibuk sekali, beberapa pelayan membantu merapihkan barang-barang mereka yang sudah akan di bawa menuju Osaka. Osaka di kenal akan kota makanan, mereka langsung meluncur menuju bandara. Pak Park dengan setia, menemani Akiko. Beberapa jam kemudian mereka semua sampai di Bandara, “Please Your Attention. Passengers of Japan Airlines on Flight Number JA785 to Osaka, Tokyo. Please Boarding from door B01 Thank You.” begitulah pesan yang di kumandangkan bahwa pesawat mereka akan segera berangkat, menuju Osaka sebelah timur Jepang.
“Bu, kita di kelas apa?.”tanya Arisawa yang sudah lama tak naik pesawat.
“Seperti biasa, tuan muda.”kata Pak Park.
“VIP?”
“Business Class.”sahut ibunya.
Mereka pun dengan segera menaiki pesawat tersebut dan pesawat pun tinggal landas menuju Osaka. Di dalam pesawat justru Pak Park terlihat sangat sibuk. Pak Park memilihkan jenis makanan yang hanya bisa di makan oleh mereka semua, bahkan Pak Park juga mengiring mereka jika mereka mau ke toilet atau kemana saja. Beberapa orang di kelas Business memang sedikit mungkin bisa di hitung hanya hitungan jari termasuk dengan keluarga Akiko. Salah satu mereka yang juga pebisnis menegurnya,
“Ma’am, Where you come from? Can we talk just for a minute? I have a business that might benefit for you.”
“Sir, You can talk with my secretary. He will manage the time for you and me.”sahut Akiko.
“It’s okay, no problem, ma’am.”
“Thank’s for your offer.”
“Pak Park, tolong kau atur pertemuannya.”
“Baik, akan saya aturkan.”
Pak Park menemui orang asing tersebut dan mereka berbicara dengan Bahasa Inggris. Mereka setuju akan bertemu setelah beberapa minggu dari kepulangan mereka semua di Osaka. Pak Park juga menjelaskan bahwa Akiko adalah pemilik mall dan hotel terbesar yang ada di Tokyo. Mendengar hal tersebut pria itu terkejut, ia tak menyangka bahwa ia bisa bertemu secara langsung dengan pemilik hotel yang baru saja ia tinggalkan.
Pesawat pun turun, sesampainya di Osaka Pak Park sedikit kewalahan karena bukan hanya harus mengurus bisnis yang akan di jalankan tetapi ia juga harus mengawasi Yui dan Arisawa. Pak Park sedikit tak mau mengawasi Yui karena Yui cenderung lebih membuat masalah di bandingkan Arisawa. Pak Park meminta Akiko, Yui dan Arisawa untuk dapat menunggu di ruang tunggu. Mobil yang akan mereka tumpangi sampai, mobil tersebut di desain khusus dan istimewa hanya untuk beberapa orang. Dengan warna silver dan hitam yang mengkilat mengesankan bahwa mobil tersebut sangat mahal sekali, supir yang membawanya pun juga harus memiliki lisensi. Supir itu turun dan membantu membawakan barang mereka semuanya masuk ke dalam mobil tersebut.
Di dalam mobil Arisawa dan Yui hanya bisa diam, tak bisa berkomentar banyak. Mereka diam seribu bahasa. Mobil itu membawa mereka ke sebuah hotel berbintang lima. Ya, Hotel itu adalah milik Ibunya. The Luxorius.
The Luxorius, di desain sendiri oleh salah satu perancang terkenal pada masanya. Bahkan eksterior yang digunakan merupakan eksterior luar, beberapa barang mereka juga import termasuk dari Indonesia. Beberapa barang antik tersebut di simpan rapih, salah satunya adalah Sasando yang sangat terkenal di Indonesia. Pegawai yang mengenal CEO mereka telah datang berusaha membawakan barang-barang mereka, tiba-tiba di saat yang bersamaan Tomoko kakak kedua mereka menghampirinya, “Bu.”teriak Tomoko yang senang akan kehadiran ibunya. Tomoko yang memiliki struktur wajah oval, di sertai dengan rambut panjang ikal dan hidungnya yang mancung membuat ia terlihat lebih dewasa.
“Tomoko.”kata Akiko yang seakan tak percaya kehadiran putrinya, “Kapan kau datang?.”tanya Akiko.
“Bukan’kah ayah sudah menceritakan kepada, ibu.”
“Ayahmu belum menceritakannya.”
“Ahhh, menyebalkan sekali, aku pikir ibu sudah tahu. Aku akan menikah tepatnya besok.”
Akiko yang mendengar bahwa putrinya akan menikah besok terkejut, “Kenapa terburu-buru? Ibu tak tahu sama sekali!.”
“Dasar ayah.”
“Dimana ayahmu?.”
“Di restoran, sedang bersama dengan Jao.”katanya
“Jawab pertanyaan, ibu, Kenapa kau terburu-buru menikah?.”
Tomoko akhirnya harus membuka rahasianya kepada ibunya sendiri bahkan dengan perasaan malu dan segan, ia mau tak mau harus menceritakannya, “Aku hamil duluan. Kau akan segera punya cucu.”
Akiko yang mendengar anaknya sudah terlebih dahulu mengandung, hanya bisa terkejut, tak bisa berkata apa-apa bagaikan petir di siang bolong perasaannya hancur namun senang, “Bu, maaf ‘kan aku. Semua sudah ayah yang mengaturnya. Itu kenapa ayah sekarang sedang bicara dengan Jao.”
“Kapan kejadiannya?.”
“Bulan lalu.”
“Kuliahmu?.”
“Setelah pernikahan aku akan kembali dengan Jao.”
“Sudah ibu bilang berkali-kali, jangan melakukan terlebih dahulu, kenapa kau tak mau mendengarkan ibu!.”katanya yang harus menerima kenyataan.
“Maaf.”
“Bu Akiko, silakan ke restaurant. Pak Kenzo sudah membuka tempat kembali.”kata salah satu pegawainya.
“Di mana Pak Park?.”
“Pak Park sedang bersama dengan Pak Kenzo.”
“Baiklah, aku akan menyusul.”
Kirosuki-Jao adalah pemegang saham terbesar di Jepang, Jao Corporation. Mereka berdua bertemu di Jerman tempat Tomoko bersekolah. Tomoko yang melihat adik-adik mereka sudah besar berusaha untuk berbaur dengan mereka yang masih kecil sekolah,
“Hai, apa kabarnya kalian semua?.”kata Tomoko.
“Mengapa hanya ibu yang di tegur sedangkan kami tidak?.”tanya Yui yang sembari menyilangkan tangannya. Tomoko yang mendengar hal tersebut hanya tersenyum, “Kenapa kakak hanya tersenyum?.”
“Suatu saat nanti kau akan mengetahuinya, Yui. Ayo, kita bertemu dengan ayah dan ibu.”katanya sembari mengajak kedua adiknya tersebut.
“Kakak, kapan pulang?.”tanya Arisawa.
“Sudahlah. Pastinya akan kakak ceritakan.”
Mereka meninggalkan lobby dan menuju restaurant yang sudah dipesankan oleh ayahnya, Kenzo. Kenzo yang melihat Jao sedikit marah, sudah menodai putrinya, “Tak habis pikir aku dengan’mu, Jao. Bisa-bisanyan kau menodai putri’ku sebelum menikah.”
“Paman, maaf. Aku tak sengaja.”jawab Jao. Jao memiliki wajah yang oval namun simetris, kulitnya sedikit pucat menambah kesan bahwa dirinya seperti orang yang punya banyak pikiran.
“Harusnya kalian melakukannya setelah menikah, bukan sebelum menikah.”katanya yang sembari memotong bagian steak dan memakannya.
“Sudahlah, paman. Toh aku pasti akan bertanggung jawab juga.”
“Memang kau harus bertanggung jawab. Yaa sudahlah tak perlu kita bahas lagi. Ingat satu hal, Jao, kalau kau berani menyakiti anak’ku lagi. Kau akan berhadapan dengan Ibunya bukan aku lagi.”katanya dengan tegas.
PLAK!! Jao yang merasakan pukulan dari belakang menengoknya, “Bibi, sudahlah.”katanya memelas kepada Akiko.
“Kau ini!.”katanya yang berusaha memukul Jao kembali.
“Sudahlah, Akiko, aku sudah memarahinya!.”kata Kenzo yang berusaha menenangkan istrinya.
“Kenapa seenaknya saja kau menodai putri’ku?.”katanya dengan nada marah. Jao tak bisa berkutik apapun ia tak tahu bahwa hidupnya sedang terancam.
“Bu, sudahlah, jangan memarahi Jao.”kata Tomoko yang menyusul di belakang.
“Kau ini juga membelanya terus menerus.”
“Sudah! Tak ada yang perlu di bahas lagi!.”kata Kenzo yang berusaha meredamkan semua ke amarahan di antara mereka bertiga.
“Kau juga tidak memberitahu’ku.”kata Akiko kesal kepada suaminya.
“Kalau aku memberitahumu, apa kau bisa menyelesaikannya? Yang ada kau hanya bisa memarahi putrimu sendiri tanpa ada solusi.”
Akiko terdiam benar yang di katakan suaminya bahwa bisa saja ia tidak menemukan solusi malah memperparah mental anaknya tersebut, “Kau kan bisa memberitahu’ku ketika dia sudah ada di Tokyo.”katanya yang berusaha membela diri.
“Masalah sudah selesai, Tomoko akan menikah besok!”katanya marah bahkan ia juga tak mau berlarut-larut dalam menyelesaikan masalah putrinya. Semua terdiam, mereka memesan makanan satu per satu. Pak Park pun juga ikut memesan makanan, mereka makan sampai habis.
“Tomoko, ceritakan kepada ibu bagaimana kejadiannya dan kapan kau kembali ke Tokyo?.”tanya ibunya.
“Aku akan menjawab yang kedua terlebih dahulu. Aku sudah di Jepang satu bulan yang lalu. Ayah yang mengurusnya setelah ayah tahu bahwa aku hamil.”
Akiko serasa tak berdaya suaminya menyembunyikan rahasia dari dirinya. Namun mau bicara apa lagi toh nasi sudah berubah jadi bubur. Dan, benar jika dirinya yang berusaha untuk menyelesaikannya malah akan mencemari nama baik Akiko sendiri di saat Hotel dan Mall nya sedang berkembang pesat, “Maaf, aku paham kenapa kau membantu’ku.”kata Akiko yang baru paham saat itu juga.
“Itu yang ‘ku pikirkan. Di saat bisnis’mu sedang meroket apakah mungkin kau bisa menerima berita seperti itu? Itu kenapa aku melakukannya diam-diam tanpa sepengetahuan dirimu.”
“Maaf’kan aku jika aku hanya sibuk dengan bisnis’ku. Maafkan aku, sayang.”katanya yang berusaha mengambil hati suaminya.
“Ya, aku maafkan. Memang hanya itu yang aku pandang baik untukmu, Akiko.”katanya yang memegang tangan istrinya itu.
“Tomoko, ceritakan apa yang terjadi.”
==Dua Bulan yang Lalu==
Minggu yang indah, Tomoko menikmati suasana Jerman yang saat itu sedang bagus-bagusnya. Jao menemaninya dengan memetikkan bunga yang indah di samping jembatan. Beberapa pengunjung hilir mudik di jembatan tersebut, mereka berdua larut akan kemesraannya. Jao menyematkan sebuah bunga indah ke rambut Tomoko.
“Ayo, aku ingin memperlihatkan sesuatu kepadamu.”kata Jao kepada Tomoko.
“Mau kemana kita?.”
“Kau lihat saja nanti.”
Jao membawa Tomoko melintasi samudra dengan kapal spedd boatnya. Hanya mereka berdua tak ada lagi yang menganggu mereka. Minuman dan makanan pun juga sudah tersedia. Diam-diam ketika Tomoko sedang menikmati pemandangan Jao mematikan mesin speed boat dan menemani Tomoko.
Ia memeluk Tomoko dari belakang dan mencium lehernya. Suasana romantis terasa di antara mereka berdua, Tomoko melihat ke arah calon suaminya, “Aku mencintaimu.”katanya dengan tersenyum.
“Aku juga. Kau mau menikah dengan ‘ku?.”tanya Jao.
Tomoko yang mendengar terasa tak percaya bahwa Jao melamarnya di atas speed boat dan di tengah hamparan laut yang mengelilinginya, “Ya.”kata Tomoko dengan bahagia. Jao yang mendengar bahwa lamarannya telah di terima oleh Tomoko menutupnya dengan ciuman manis di bibir Tomoko. Mereka pulang dan memberitahukan kepada keluarganya masing-masing.
Ke esokan harinya, Jao dan Tomoko pergi ke pesta temannya. Mereka bersenda gurau dan Jao terlihat mabuk akibat teman-temannya yang terlalu sering memberinya minuman keras. Padahal Jao tak bisa minum terlalu banyak, “Jao, bangunlah. Aku tak mungkin membawamu.”kata Tomoko sembari memapah tubuh Jao yang lemas keluar dari ruang pesta tersebut.
Tomoko membawa Jao keluar menuju parkiran, ia mengambil kunci mobil milik Jao, ia menduduki Jao di kursi penumpang depan dan menstarter mobil tersebut. Tomoko melintas keluar dari tempat yang telah mempengaruhi Jao, sesampainya di apartemen, Tomoko meminta bantuan kepada petugas setempat untuk memapah tubuh Jao yang sudah tak berdaya masuk ke dalam apartemennya. Tomoko mengucapkan terima kasih atas apa yang telah mereka lakukan.
Jao yang masih dalam pengaruh alkohol menghampiri Tomoko. Tomoko tahu bahwa Jao masih dalam pengaruh alkohol. Jao mencium bibir Tomoko dan membawa ke dalam kamarnya, Tomoko melepas keperawanannya pada malam itu juga. ia merasakan apa yang belum pernah ia rasakan, seluruh darahnya berdesir hebat, ketika Jao memegang seluruh bagian sensitivitasnya, ia merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Darah segar pun mengalir membasahi daerah kewanitaannya. Ia masih merasakan sakit tak tertahan namun bercampur rasa enak yang ada di dirinya.
== Dua Bulan Kemudian ==
Akiko yang mendengarnya sangat-sangat geram akan perilaku Jao yang di luar kendali tersebut, ia mengepalkan tangannya seakan berusaha untuk memukul laki-laki tersebut yang sudah merebut keperawanan anaknya.
“Maaf, bibi, aku dalam pengaruh alkohol.”katanya yang merasa bersalah.
“Kau sudah tahu tak bisa minum kenapa masih minum.”kata Tomoko dalam bahasa Jerman kepada Jao.
“Kau tahu akibatnya ‘kan kalau aku menolak acara minum-minum.”
“Harusnya kau bisa menolak dengan halus.”
“Hei, jangan bicara dengan bahasa jerman. Pak Park, apa kata mereka?.”tanya Akiko yang tak bisa bicara dengan bahasa Jerman.
“Mereka mengatakan kenapa Pak Jao masih harus menerima tawaran minum tersebut jika tidak bisa minum. Pak Jao tidak bisa menolaknya karena mungkin itu acara yang membawa nama baik perusahaan Jao Corporation, kata Tomoko, seharusnya Pak Jao bisa menolaknya dengan halus.”jelasnya dengan detail. Jao terdiam seakan tak percaya bahwa sekretaris ibunya paham akan bahasa Jerman, sedangkan Tomoko sudah tahu bahwa Pak Park pasti mengerti.
“Benar yang dikatakan oleh putriku. Harusnya kau bisa menolak dengan halus, setidaknya kau juga harus menjelaskan bahwa kau tidak bisa minum.”
“Kalau aku menolaknya, mereka pasti akan membatalkan kerja sama antara perusahaan.”
“Lebih baik kau kehilangan itu di bandingkan dengan kau seperti ini jadinya. Paham maksud’ku?.”
“Aku paham. Tapi, boleh ‘kah sekretaris bibi bekerja dengan’ku juga?.”tanya Jao.
“Tak boleh.”
“Bagaimana jika kau ‘ku ajarkan menembak saja?.”tanya Pak Park. Jao yang mendengarnya tak sengaja tersedak akibat pembicaraan yang sudah melenceng tersebut. Namun, Akiko sendiri setuju, ia menganggukan kepalanya kepada Pak Park.
“Aku bukan tentara.”katanya sembari menyeka mulutnya.
“Setidaknya kau punya kelebihan di bandingkan kau harus terjadi seperti ini lagi bagaimana? Aku bersedia jika kau mau belajar menembak dengan sekretaris’ku. Asal kau jangan mengambil sekretaris’ku saja, karena aku tak pandai bahasa. Kalau kau mau tahu ia mantan tentara Amerika.”
“Pantas saja, bibi, terlihat dari mukanya seram.”
“Setidaknya masih lebih seram yang di seberang sana.”celetuk Arisawa yang menunjuk beberapa meja tak jauh dari mereka. Semua pandangan tertuju dimana Arisawa menunjuk orang-orang tersebut.
Akiko yang melihatnya seakan tak percaya, ia shock bercampur dengan ketakutan, pikirannya kalut. Ia berusaha menyembunyikan namun Kenzo bisa membaca dari raut wajah istrinya, sebuah pertanda apa ini.
Mereka yang melihat orang-orang tersebut seakan tak percaya. Yui dan Arisawa saling bertukar pandang, mereka tak paham seakan kedua orang tuanya menyembunyikan sesuatu dari mereka. Yui mengangkat bahunya tanda bahwa kakaknya juga tak tahu sama sekali. Kenzo memegang tangan istrinya yang gemetar tersebut. Pikirannya kalang kabut entah kemana berusaha untuk menyembunyikan atau memberitahukan supaya Yui dapat aman tak mengetahui apa yang sudah terjadi.
“Sudahlah kita sudahi di sini.”
“Tunggu, ada yang ingin ibu katakan.”
Kenzo yang mendengar bahwa Akiko akan memberitahukan apa yang terjadi kaget, ia menarik tangan Akiko dari kerumunan keluarganya dan menjauh beberapa meter, “Apa yang kau pikirkan, Akiko? Kau ingin memberitahu mereka.”
“Aku takut. Setidaknya aku ingin Yui aman.”
“Jangan sekarang. Waktunya tidak pas.”jelas Kenzo.
“Lalu, mau bagaimana lagi? Aku hanya ingin Yui tidak berteman dengan Izikawa. Kalau sampai hal itu terjadi aku tak tahu lagi bisa saja ramalan itu benar dan Yui yang akan jadi korban.”jelasnya kalut.
“Lupakan ramalan itu. Fokus terhadap pernikahan anakmu, Akiko.”
“Tapi..”
“Sudahlah, jangan kau cemaskan masalah itu. Lupakan dahulu.”
Akiko tak menjawab ia hanya memberikan anggukan, mereka berdua pun kembali berkumpul bersama dengan keluarganya. Tomoko yang melihat ibunya sudah duduk, ia pun penasaran dengan perkataan terakhir ibunya, “Bu, memangnya apa yang ingin ibu katakan?.”
“Ibu hanya ingin tahu kapan kau tahu kau hamil?.”tanya nya penasaran.
Tomoko yang mengetahui bahwa bukan hal tersebut yang ingin ibunya katakan, “Aah, sepertinya bukan hal itu yang ingin ibu tahu, ada yang ibu sembunyikan ya?.”godanya.
“Jawab saja pertanyaan ibu.”katanya yang berusaha mawas diri di hadapan keluarganya sendiri.
“Ya, setelah kejadian itu aku dan Jao beberapa kali melakukan hubungan badan. Ayah mengetahuinya ketika ayah menelepon’ku dengan menggunakan video call.”katanya yang malu mengakui.
“Lalu kapan kau mengetahuinya?.”
“Tiga minggu yang lalu.”
“Hampir satu bulan yang lalu.”koreksi ayahnya.
==Satu Bulan yang Lalu==
Sebuah telepon berbunyi, Tomoko yang masih dalam keadaan tanpa berbusana, mencari handphonenya sendiri, ia mengambil dan mengangkatnya tak tahu bahwa ayahnya yang meneleponnya, “Halo.”katanya yang masih dengan suara seperti orang baru bangun tidur.
“Perlihatkan mukamu, Tomoko.”
Tomoko yang tak asing mendengar suaranya, tiba-tiba dia memperlihatkan separuh tubuhnya tak berbusana kehadapan ayahnya, “Apa yang kau lakukan, tanpa berbusana?.”kata ayahnya yang kaget setengah mati.
“Ayah!.”katanya yang seakan tak percaya dan berusaha menutupi tubuhnya sendiri.
“Pulang hari ini juga!.”teriaknya marah dan memutus telepon dengan anaknya.
Jao menghampiri Tomoko yang baru bangun, ia membawakan sarapan omelete dan susu. Tomoko bingung mau bicara apa dengan Jao. Jao mencium bibir Tomoko dan Tomoko lupa akan apa yang baru saja terjadi. Masih tanpa busana sama sekali, mereka kembali berhubungan intim layaknya suami istri hingga mereka berdua lemas.
Telepon Tomoko kembali berbunyi, ia melihat takut-takut ayahnya lagi yang menelepon dan benar saja, ayahnya yang menelepon. Ia kalut dan bingung hubungannya dengan Jao sudah ketahuan terlampau batas, “Jao ayah’ku tadi menelepon satu jam yang lalu. Aku terpergok tidak menggunakan pakaian. Ia tahu kita sudah berhubungan badan. Aku di suruh pulang ke Jepang hari ini. Pastinya kau akan kena omel oleh ayah dan ibu’ku. Temani aku.”katanya sembari mengambil bajunya yang tak karuan dimana dan bersiap-siap untuk berkemas kembali ke Jepang.
“Aku akan bertanggung jawab. Aku bantu kau berkemas.”
“Setidaknya aku harus mengangkat video call ayah’ku dahulu.”
“Gunakan bajumu. Pura-pura saja kau tak mendengarnya.”katanya yang sudah pasrah akibat ketahuan Tomoko tak mengenakan baju. Tomoko pun mengenakan bajunya dan mengangkat telepon ayahnya, ayahnya memberitahukan bahwa ia sudah memesan tiket pulang untuk anaknya. Bahkan ia sudah mengurus sampai ke Universitas bahwa ada urusan keluarga yang sangat mendesak sehingga ia harus pulang sekarang.
Tomoko dan Jao kembali ke Jepang. Ayahnya Kenzo hanya bisa menunggu kedatangan putrinya. Ia berharap bisa menyelesaikannya. Sekretaris pribadinya, Yumiko, menjadi korban kemarahan Kenzo sebelum kedatangan putrinya, “Yumiko, jika anak’ku sudah datang. Suruh ia ke ruangan’ku. Kau dan karyawan lainnya boleh pulang. Maaf jika aku marah dengan’mu kemarin.”katanya sembari meminta maaf kepada Yumiko.
“Baik, pak. Itu tidak masalah, saya tahu bapak bahkan saya sudah bekerja lama dengan Bapak. Permisi, pak.”katanya sembari kembali ke tempat ia bekerja. Beberapa teman sekerjanya berusaha membuat Yumiko untuk tetap tenang.
“Apa yang ia katakan?.”
“Setelah putrinya datang, ia meminta kita pulang. Feeling’ku tak enak ini.”
“Ada apa ya? Padahal putrinya yang di Jerman tak pernah buat masalah malah adiknya yang ketiga setahu’ku sering membuat masalah.”
Tak berapa lama pintu pun terbuka, Tomoko, sampai di kantor ayahnya. Yumiko melihat kedatangan Tomoko dengan membawa kopernya, “Kau, ada apa? Ayahmu marah sekali kepada’ku kemarin.”
“Yumiko, tolong aku.”katanya memelas.
“Hei, Tomoko, ada apa?.”tanya salah satu pegawai.
“Aku tak berani masuk ke dalam.”
“Ada apa?.”katanya yang berusaha mencari tahu kebenarannya.
“Aku ketahuan ayah sudah berhubungan badan dengan Jao.”katanya yang berusaha minta tolong. Yumiko pun bersedekap terkejut dan beberapa pegawai pun menggeleng-gelengkan kepalanya,“Tolol sekali kau kenapa kau bisa ketahuan.”
“Aku tak tahu kalau yang menelepon ayah, Miko, aku tak sengaja memperlihatkan separuh tubuh’ku.”
“Kau ini, kau tahu sendiri bagaimana ayahmu marah sama aku kemarin? Sekarang aku tanya, kau sudah datang bulan atau belum?.”tanya Yumiko.
“Ya, aku tahu ayah marah besar kemarin dan aku belum datang bulan. Pokoknya aku tak mau masuk ke ruangan ayah.”katanya keukeh.
Yumiko tak tahu harus berkata apa, ia bingung harus bicara apa lagi, “Kau tetap harus masuk ke dalam. Kami di suruh pulang oleh ayahmu. Cek ke dokter, feeling’ku mengenakan bahwa kau hamil.”
“A..aku hamil!?.”katanya seakan tak percaya.
“Kalau kau sudah berhubungan badan dan kau belum datang bulan ada kemungkinan kau hamil. Aku minta kau cek ke rumah sakit.” jelas Yumiko. Tomoko semakin terpojok ia tak tahu harus bicara apa dengan ayahnya, “Hadapi ayahmu. Aku pulang.”katanya yang meninggalkan Tomoko seorang diri. “Ayo, kita pulang semuanya.”perintah Yumiko kepada semua yang ada di tempat itu. Dengan berat hati Tomoko masuk ke dalam ruang kerja ayahnya, ia masuk dengan langkah pelan yang tak tahu akan jadi apa ia di dalam ruangan ayahnya,
“Ayah.”
“Masuk.”kata ayahnya.
Tomoko masuk, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Ia menahan rasa tangis, ingin rasanya bersembunyi di balik punggung Ibunya namun tak ada. Yumiko pun tak ada, rasa bersalah membuncah di hatinya sendiri seakan membuat malu keluarga sendiri. Ia mulai menangis, caci maki keluar dari mulut ayahnya tak karuan.
“Ayah malu! Sejak kapan ayah punya anak seperti ini? Ayah menyekolahkan mu ke Jerman untuk mendukung cita-citamu tapi apa balasannya. Tidur dengan Jao sebelum menikah!.”katanya marah.
Tomoko pun menangis di hadapan tak tahu mau berkata apa lagi hanya satu kata yang keluar dari mulutnya, “Ayah, maaf.”
“Tak ada ampun kau kali ini! Berapa kali kau melakukannya?.”
“Aku tak ingat.”
Kenzo pun melonggarkan dasinya, ia melempar testpack ke Tomoko. Tomoko yang baru pertama kali melihatnya, tahu apa yang di minta ayahnya, “Pergi ke kamar mandi cek. Habis itu kita ke dokter.”
Tomoko keluar dari ruangan ayahnya dan mendapati seluruh ruangan sudah kosong tak ada orang, ia menuju kamar mandi, ia mengikuti yang ada di tulisan testpack tersebut. Ia menunggu hasilnya, dua garis merah terlihat, kata-kata Yumiko tergiang di kepalanya, matanya merah. Ia kembali ke ruangan ayahnya dengan muka pucat pasi, “Dua garis atau satu garis?.”tanya ayahnya. Tomoko tak dapat menjawabnya. Ia terduduk di hadapan ayahnya. Kenzo sudah dapat mengetahuinya, “Kita ke dokter.”
Mereka berdua diam membisu seperti patung tak ada yang berbicara. Supirnya pun juga sudah di suruh pulang seakan sudah di rencanakan ayahnya, Tomoko tak tahu harus berkata apa pun. Ia hanya bisa mengikuti ayahnya pergi, ia melihat sebuah tulisan yang baru ia lalui, Rumah Sakit Beika.
Di Rumah Sakit Beika, Kenzo sudah mendaftarkan anaknya Tomoko terlebih dahulu. Ia menuju ke lantai yang di tuju, lantai empat. Ia melangkahkan kakinya ke bagian Nurse Station, “Ibu Tomoko.”kata suster yang melayani.
“Ya.”
“Boleh saya periksa terlebih dahulu. Ada keluhan?.”tanya susternya.
“Hanya mau periksa.”
“Baiklah. Normal ya, bu.”
Tak berapa lama nama Tomoko kembali di panggil untuk masuk ke ruangan Dokter Ryoko. Mereka berdua masuk ke dalam ruangan karena Tomoko hanya bisa diam saja tak mampu berbicara Kenzo akhirnya menjelaskan, “Bu Tomoko, mari kita periksa.”kata Dokter Ryoko.
Dokter tersebut meminta Tomoko, untuk membuka celana panjangnya dan pakaian dalamnya. Ia melakukan langsung dengan tangannya sendiri. Dokter tersebut meminta Tomoko untuk mengikuti ia untuk menarik nafas dan melepasnya supaya Tomoko bisa rileks, “Pak, mau melihat kandungannya?.”tanya dokter tersebut. Kenzo pun memberanikan dirinya untuk melihat kondisi cucunya, sebuah layar menangkap jelas bahwa usia kandungan Tomoko sudah jalan satu bulan, “Untuk bayinya belum terlihat tapi sudah ada kantungnya. Mohon di jaga saja. Saya akan memberikan resep.”jelas dokter tersebut.
Dokter itu meminta Tomoko untuk mengenakan kembali celananya dan kembali ke tempat ia bekerja. Ia pun memberikan resep kepada Kenzo, bahkan memintanya untuk menjaga kandungan anaknya karena ia terlihat sedang mengandung anak kembar. Kenzo keluar dari ruangan dokter di ikuti oleh Tomoko. Mereka pergi lagi ke bagian administrasi untuk menyelesaikannya dan menunggu obat mereka.
Tomoko tetap masih diam tak berkutik, Kenzo hanya bisa berfikir. Ia membawa mobilnya ke arah bandara dan membeli dua buah tiket ke Osaka. Hanya itu yang ada didalam pikiran kepalanya, Tomoko pun menyerahkan passportnya ke ayahnya sendiri. Mereka berdua menaiki pesawat yang akan segera tinggal landas. Sesampainya di Osaka dan mereka keluar dari lobby, Kenzo memberhentikan sebuah taksi dan membantu Tomoko menaruh kopernya di belakang bagasi. Kenzo meminta di antarkan ke Hotel The Luxorius.
Sesampainya mereka di The Luxorius, Kenzo memesan kamar untuk satu orang. Ia mengantarkan putrinya. Di dalam kamar tersebut Kenzo meminta, Tomoko untuk duduk dekat dengan dirinya, “Maafkan ayah. Maaf, jika ayah sudah menamparmu.”
“Ayah marah dengan’ku?.”
“Sangat bahkan Yumiko pun menjadi korban kemarahan ayah.”jelas Ayahnya.
“Maafkan aku juga ayah.”
“Kau mungkin berfikir mau berlindung di belakang punggung ibumu. Jangan harap bisa berlindung dari ibumu. Bahkan mungkin ibumu hanya bisa memarahimu tidak ada solusinya. Untuk sementara waktu kau bersabarlah. Kau harus menikah dengan Jao bulan depan, aku sudah menghubungi beberapa perancang gaun pengantin. Pilihlah, mereka akan ke sini. Dan, jaga kandunganmu. Jangan melakukan aktivitas yang berat.”katanya dengan menghela nafas. “Ayah balik dulu.” Kenzo meninggalkan putrinya seorang diri di ruangan.
Tomoko hanya bisa melihat kepergian ayahnya, namun entah dorongan dari mana, ia mengejar ayahnya dan memeluknya dari belakang. Ia menangis tak karuan di belakang punggung ayahnya, ia tahu bahwa ia sudah menghancurkan hati ayahnya sendiri. Kenzo mematung, tak bisa meninggalkan putrinya seorang diri. Ia membalikan tubuhnya dan memeluk putrinya, “Sudah jangan menangis. Jangan kau pikir ayah tega memarahimu, ayah juga masih punya hati, Tomoko. Kalau ayah masih marah, ayah masing sayang dengan dirimu. Hati siapa yang tidak hancur jika mengetahui putrinya hamil terlebih dahulu? Kami orang tuamu, Tomoko.”
“Maaf’kan aku. Aku tak berfikir jauh atas apa yang sudah aku dan Jao lakukan. Aku pikir ayah akan mencampak’kan aku ternyata malah sebaliknya.”
“Karena kau putri ayah. Sebagai ayah pasti ayah akan membelamu, walau dengan kemarahan.”katanya sembari memegang wajah putrinya dan menghapus air mata putrinya, “Sudah jangan menangis, nak.”
==Satu Bulan Sekarang==
“Ya, begitulah kisahnya.”kata Tomoko yang masih ingat bagaimana hubungan dirinya dengan ayahnya menjadi sangat dekat sekali.
“Pantas kalian jadi dekat.”kata Akiko.
“Semua sudah ku atur. Tinggal kalian yang akan menjalankannya, sudah aku tak mau berlarut-larut dalam masalah ini. Kembali ke kamar masing-masing, besok akan padat acara kita.”jelas ayahnya.
“Setelah itu ia baru memberitahu’ku bahwa dirinya hamil, bi.”jelas Jao.
“Ckck..kalian ini benar-benar. Dan, kau sayang, mengapa kau terpikir menyembunyikan Tomoko kau di hotel’ku?.”
“Daripada aku mencari hotel yang lain lebih baik hotel’mu.”
“Oh iya benar kalian bisa menikmatinya di sini. Gratis untuk kalian tak perlu bayar.”
“Pastilah. Kan ini hotel milik, Ibu.”goda Yui.
“Ayo kembali ke kamar masing-masing.”kata Kenzo.
Mereka semua akhirnya kembali ke kamar masing-masing dan beristirahat sebab besok mereka akan melakukan banyak sekali rangkaian acara yang mungkin akan menguras tenaga mereka semua.