Gerhana memacu kencang mobilnya melebihi batas rata-rata kecepatan. Pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Dan ia masih berada di jalan Thamrin. Sementara meetingnya dengan para investor proyek dan petinggi perusahaan akan dimulai tepat pada pukul delapan pagi. Kalau ia sampai terlambat, alamat dicor bersama dengan tiang pancanglah ia oleh Abizar. Sifat Abizar itu kan sebelas dua belas dengan Om Heru. Disiplin adalah nama tengah mereka. Apalagi ia belum genap sebulan bekerja di PT. Bina Graha Persada ini. Ia memang baru saja menamatkan kuliahnya dan menyandang gelar S.Ars alias sarjana arsirektur. Ia menjabat sebagai architect engineering di perusahaan ini.
Baru saja memikirkan konsekuensi dari keterlambatannya, ponselnya bergetar. Nah kan! Pasti itu Abizar yang memang hobby sekali merazia anak buahnya setiap pagi. Khususnya hari ini, di mana para petinggi proyek turun gunung semua. Perusahaan memenangkan tender proyek raksana dan teamnya yang akan mengeksekusi pembangunannya. Di bawah arahan Abizar sebagai manager project, diharapkan hasilnya akan maksimal. Saat ini pasti briefing sudah dimulai sementara ia sebagai architect engineeringnya malah belum sampai. Dugaannya benar seratus persen. Nama boss besar alias Abizar yang tertera di layar ponselnya. Gerhana membaca doa terlebih dahulu sebelum mengangkat ponselnya.
"Ha--"
"Apa di rumah kamu tidak ada jamnya hah? Kamu tahu tidak ini sudah jam berapa?" Teriakan boss besarnya membuat telinganya pengeng seketika.
Subhanalah, belum juga ngomong halo, boss besarnya sudah ngegas aja. Ini orang cemilannya petasan kali ya?
"Ada dong, Bang. Masalahnya tadi saya terlambat bangun. Saya lupa menyetel alarm, Bang. Makanya--"
"Jangan cari alasan! Mau kamu lupa menyetel alarm kek, ponsel kamu meledak kek, itu semua bukan urusan saya. Yang menjadi urusan saya, kamu harus sudah ada di kantor sebelum rapat dimulai. Paham kamu?! Satu hal lagi kalau masih jam kantor, panggil saya Bapak!"
Gerhana menjauhkan ponsel dari telinganya. Sepertinya gendang telinganya ikutan kaget di dalam sana. Beginilah gaya komunikasi Abizar kalau sudah membahas masalah pekerjaan. Pedesnya ngalah-ngalahin nasi goreng level 14nya Mang Rojak. Ia heran apakah Abizar tidak takut terkena penyakit stroke kalau kerjanya marah-marah melulu? Tapi ya, memang dia yang salah sih. Rapat penting bernilai triliunan rupiah seperti ini, ia malah bisa-bisanya terlambat. Semua ini gara-gara sifat pelupanya. Kalau saja ia tidak lupa menyetel alarm, pasti ia tidak akan keteteran seperti ini. Ia juga lupa membawa earphone hari ini. Sampai-sampai ia harus menyetir dengan satu tangan saat harus bolak-balik mengangkat telepon dari rekan-rekan satu divisinya. Kalau ayahnya tahu ia berkendara dengan cara seperti ini, alamat dikuliahi dari pagi sampai subuh.
Ponselnya bergetar lagi. Mampus! Jangan-jangan Abizar lagi atau salah satu rekannya. Ia mengerti saat ini rekan-rekan satu teamnya pasti sudah tidak sabar menunggu kehadirannya. Sistem pekerjaan mereka memang berhubungan satu sama lain. Satu yang error, alamat rubuh lah proyek mereka semua. Melihat nama yang muncul adalah Bagas, ia menarik napas lega. Ternyata drafter divisinya lah yang menghubunginya.
"Eh Nana pikun. Lo ini nyangkut di mana sih? Meeting udah mau dimulai, Na. Bisa abis kita semua kalo lo belum nongol. Gue mau ngejelasin apa kalo hasil drawing gue belum lo cek komposisinya? Lo mau proyek kita rubuh?"
"Sabar ya, Gas. Bentar lagi gue nyampe. Maap ye, gue lupa nyetel alarm."
"Dasar pikun. Masih perawan penyakit lo udah kayak nenek-nenek. Kalo kepala lo nggak nyangkut di leher, pasti lo lupa juga narohnya di mana. Cepetan ngebut! Kalo proyek ini direject, anak bini gue mau makan apa, Na?"
Gerhana meringis. Ia tahu kalau Bagas itu mempunyai banyak tanggungan. Selain bapak dari dua orang anak kembar, ia juga menanggung biaya hidup orang tua dan juga mertuanya yang sudah tidak berpenghasilan. Memikirkan nasib rekan-rekannya yang lain, membuatnya menekan pedal gas kian dalam. Ia harus secepatnya tiba di kantor.
Untung tidak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak. Saat akan berbelok menuju kantornya, ia menabrak stealing martabak yang diletakkan terlalu dekat ke bahu jalan. Ia menjerit ngeri dan dengan cepat membanting stir. Bunyi decitan ban yang direm mendadak, berbarengan dengan teriakan ngeri para pengguna jalan lainnya. Mobilnya berguncang karena menabrak stealing martabak walaupun ia sudah berusaha mengeremnya.
Kepalanya serasa berputar dan pandangannya berkunang-kunang. Ia mengubur kepalanya sejenak pada stir mobil. Berusaha menenangkan diri. Ia shock! Nyaris saja! Ia baru mengangkat kepalanya dari stir mobil saat telinganya mendengar suara-suara teriakan. Ramainya orang-orang yang berkerumun di sekitar jendela mobil menyadarkannya. Mereka mengetuk-ngetuk jendela dan ada beberapa orang yang menggedor-gedornya. Dengan jemari bergetar ia berusaha membuka handle pintu. Namun karena jemarinya terus saja bergetar, ia kesusahan membukanya. Tangannya selalu luput dari sasaran. Saat gedoran bertambah kencang, baru lah ia berhasil membuka pintu.
"Lo ini bisa nyetir kagak hah? Lo liat itu stealing martabaknya Bu Wardah rusak parah. Kalo baru belajar nyetir, jangan main-main di jalan dong!" Seorang preman berwajah seram membentaknya dengan kasar. Beberapa orang yang ia asumsikan sebagai teman-temannya, berjalan petantang petenteng di sekelilingnya. Berusaha mengintimidasinya. Dengan tubuh kekar dan tatto yang menghiasi sebagian besar tubuh, tingkah laku mereka sungguh memuakkan. Ia memang sangat membenci orang yang menggunakan kekuatannya untuk menindas orang lain. Tidak bermoral kalau menurut ibunya.
Setelah sedikit tenang, ia memusatkan perhatiannya pada kerusakan yang ditimbulkannya. Ia adalah anak seorang penegak hukum. Ia khatam sekali mengenai hukum dan peraturan-peraturannya. Ia tahu kalau ia salah, namun ibu-ibu penjual martabak itu juga salah. Karena ibu tersebut berjualan di tempat ilegal dan stealingnya juga melewati bahu jalan. Dua hal itu saja, sudah salah.
Keadaan stealing martabak si ibu memang rusak cukup parah. Barang dagangan si ibu juga hancur berantakan. Semuanya tumpah ruah di sisi jalan. Untungnya keadaan si ibu baik-baik saja. Hanya saja wajahnya sedikit pucat. Mungkin karena kaget.
"Bagaimana keadaan Ibu? Apakah Ibu baik-baik saja? Atau kita perlu ke rumah sakit?" Gerhana keluar dari mobil dan menghampiri si ibu. Mengecek keadaannya dengan teliti.
"Ibu nggak apa-apa, Neng. Ibu cuma kaget," jawaban si ibu melegakan hatinya. Syukurlah.
"Eh lo harus mengganti semua kerugian Bu Wardah ini. Jangan cuma nanya-nanya doang!" Si Preman kembali mendekatinya sambil membuat gerakan meludah yang menyebalkan. Beberapa temannya mengikuti dan mulai mengelilinginya.
"Sudah, Barda, Jaka. Ibu kan tidak apa-apa. Jangan mengganggu gadis ini." Si Ibu berupaya menjauhkan beberapa orang preman yang terus saja mengelilinginya. Gerhana mundur teratur sampai punggungnya menabrak sesuatu yang keras. Dengan cepat ia berbalik. Ternyata ia menabrak bahu kekar seorang preman lainnya. Hanya saja penampilan preman ini begitu berbeda dengan preman-preman lainnya. Tubuh preman ini tinggi menjulang. Saat berdiri berhadapan seperti ini, tingginya hanya mencapai dadanya. Ia sampai harus mendongak saat menatap wajahnya. Walaupun penampilannya sangar dan wajahnya seram, namun struktur wajahnya sangat indah untuk dilihat. Rahangnya tegas dan dipenuhi dengan bulu-halus halus yang rapi. Hidungnya tegak lurus. Mancung tetapi berkesan angkuh. Alis kanannya terdapat bekas luka seperti disayat. Terlepas dari semua itu, tatap matanya sangat dingin dan datar. Gerhana merasa bisa membeku jika menatapnya terlalu lama.
"Anda siapa? Salah satu teman dari mereka?" Gerhana menunjuk beberapa preman yang mengelilinginya. Suaranya sengaja ia buat galak, padahal sesungguhnya ia ketakutan setengah mati. Seumur hidupnya ia tidak pernah berkonfrotasi dengan orang lain. Sekali-kalinya bermasalah, musuhnya malah preman-preman sangar. Mana mainnya keroyokan lagi. Bagaimana ia tidak gentar coba?
Sosok seram itu diam saja. Ia tidak menggubris pertanyaannya dan melewatinya begitu saja. Si Preman malah menghampiri si ibu. Dalam diam si preman memeriksa semua bagian tubuh si ibu dengan hati-hati. Ia terdengar mendesah lega saat tidak mendapati luka apapun di tubuh si ibu.
"Ibu tidak apa-apa?" Akhirnya si preman bersuara juga. Gerhana sempat mengira kali aja si preman itu bisu tuli. Karena ia hanya diam saja saat ditanya. Eh rupanya bisa ngomong juga. Sok sok cool kayak kulkas.
"Ibu nggak apa-apa, Nak. Cuma kaget saja."
Oh, ternyata preman kayak orang bisu tuli ini anaknya si ibu.
"Nggak apa-apa bagaimana? Orang Ibu pucet begini?" Preman yang dipanggil Barda tadi mulai nyolot. "Mbak ini harus membayar biaya berobat ibu lo dan juga semua kerusakan yang dia buat, Guh. Lihat stealing ibu lo, hancur! Martabaknya juga rusak semua,"
"Saya memang salah dan saya akan bertanggung jawab. Saya tidak akan lari dari kewajiban saya. Tapi Ibu ini juga salah karena sudah berjualan di luar fungsi jalan atau trotoar.
Berdasarkan Peraturan Mentri Pekerjaan Umum Nomor 03/PRT/M/2014, dilarang untuk berdagang atau berjualan di jalan dan trotoar, kecuali tempat tersebut telah ditetapkan oleh Gubernur sebagai tempat usaha pedagang kaki lima. Jadi intinya Ibu ini juga salah dan--"
"Pergi," ujar preman anak si ibu martabak datar.
"Maksud Anda?"
"Maksud saja jelas. Kamu pergi saja dari tempat ini. Satu hal lagi, saya tidak butuh pertanggungjawaban kamu karena ibu saya baik-baik saja. Lain cerita kalau ibu saya kenapa-kenapa. Kalau itu sampai terjadi, ke neraka pun kamu akan saya kejar. Sekarang, pergi!"
Gerhana cengo. Beneran ini ia disuruh pergi begitu saja? Tapi kan ia belum membayar ganti rugi kerusakan stealing dan martabak-martabak si ibu? Ia bukanlah orang yang suka lari dari tanggung jawab. Tetapi saat teringat pada jadwal meetingnya yang pasti semakin mepet, ia segera berlari ke mobil. Sebelumnya ia menjejalkan kartu namanya pada anak si ibu, dan berpesan agar ia bisa mencarinya di kantor. Ia sedang buru-buru katanya. Memikirkan nasib teman-teman satu devisinya, ia kembali tancap gas. Hanya saja kali ini ia lebih berhati-hati.
==================================
Gerhana tiba di kantor saat rapat baru saja akan dimulai. Ia seolah-olah bisa mendengar helaan napas rekan-rekan satu divisinya. Bagas mengelus dadanya seakan-akan baru saja terlepas dari azab sakratul maut. Selena dari staff admin, Bayu dari quality control staff, Rico yang menjabat sebagai structure engineering, bahkan Pak Hamzah sang mechanic, seperti mengucap kalimat alhamdullilah berjamaah tanpa suara. Drama pagi satu babaknya akhirnya bisa diselesaikan tepat waktu. Alhamdullilah.
Setelah meeting usai, barulah ia merasakan efek dari kecelakaannya tadi. Keningnya berdenyut-denyut nyeri. Ia ingat kalau saat kecelakaan tadi keningnya menghantam kemudi dengan cukup keras. Ketika kejadian mungkin tidak terasa karena ia masih dalam keadaan kaget. Ketika meeting pun belum terlalu terasa karena pikirannya terfokus pada masalah pekerjaan. Namun saat santai begini, semuanya baru terasa.
Ruangan meeting telah sepi. Para pesertanya telah kembali pada kesibukan mereka masing-masing. Hanya tinggal ia sendiri yang masih duduk dalam ruangan. Ia masih sedikit pusing. Denyutan pada keningnya terasa makin intens. Perlahan ia meraba keningnya yang tadi memang sengaja ia tutupi dengan rambut panjangnya. Ia meringis kesakitan saat meraba ada sedikit benjolan di sana. Karena berkonsentrasi dengan lukanya, ia sama sekali tidak menyadari ada langkah-langkah kaki yang menghampirinya.
"Kamu kenapa, Na?"
"Eh tokek, kadal, biawak!" Ia nyaris terlompat dari kursinya karena kaget. Abizar muncul tiba-tiba dari belakangnya.
"Kenapa cuma tokek, kadal dan biawak saja yang kamu sebut? Buayanya mana?" Abizar menoyor pelan pelipis pelipisnya. Gerhana memutar bola matanya. Lah ngapain coba seseorang menyanyakan keberadaan dirinya sendiri? Udah gitu, nggak sadar lagi!
"Buayanya kan ada di depan saya. Ngapain lagi saya sebut-sebut coba?" Gerhana nyengir yang sejurus kemudian meringis kesakitan. Keningnya berdenyut-denyut lagi.
"Kualat kamu kan ngata-ngatain orang yang lebih tua. Saya ulang pertanyaan saya sekali lagi, kamu kenapa?" Abizar kembali mengulangi pertanyaannya. Architect engineering sekaligus anak sahabat ibunya ini memang gemar sekali menguji kesabarannya. Ada-ada saja kelakuannya yang acap kali membuat emosinya terkait. Tetapi tetap saja, ia tidak bisa marah berlama-lama dengan makhluk imut ini. Ia menyukai Gerhana meskipun ia tahu kalau Gerhana hanya menganggapnya seperti seorang kakak. Tidak lebih. Makanya ia berusaha moved on dan memacari Maharani Ajisaka Prahasta. Putri bungsu Om Rendra dan Tante Cindy, teman baik kedua orang tuanya. Usia Rani ini sepantaran dengannya. Jika Gerhana itu kekanakan, heboh dan rada pikun, maka Rani adalah kebalikannya. Rani dewasa, smart dan mandiri. Kata smart membuatnya jadi tampak seksi. Sudah hampir tiga bulan ia memacari Rani.
"Saya baik-baik aja kok, Bang eh Pak. Masih jam kantor ini soalnya ya? Hehehe. Cuma tadi ada insiden kecil. Mobil saya mencium kios martabak karena saya ngebut," Air muka Abizar seketika berubah. Gerhana tahu, pasti Abizar merasa bersalah. Makanya ia mencoba bercanda untuk menghilangkan rasa tidak enak di hati Abizar.
Abizar menghela napas. Ia merasa bersalah karena secara tidak langsung, ia lah menyebabkan Gerhana terluka. Gerhana mengebut pasti karena amukannya. Coba kalau ia tidak membentak-bentak Gerhana, pasti keadaan gadis ini akan baik-baik saja.
"Mana lukanya? Coba sini saya periksa?" Abizar mendekatkan kepalanya. Gerhana seketika menjauh. Bukan apa-apa. Abizar itu kan sudah punya pacar. Tidak baik kalau ia terlalu akrab dengan pacar orang, walau pun ia sudah menganggap Abizar seperti kakaknya sendiri. Tetapi tetap saja, bagi orang lain sikap mereka tidak enak dilihat. Ia tidak mau menyakiti hati Mbak Rani.
"Nggak usah, Bang. Beneran kok, saya nggak apa-apa." Gerhana masih berupaya menolak. Tetapi Abizar memaksa dengan memegang belakang kepalanya.
"Saya lihat dulu. Setelah itu baru saya putuskan kamu itu tidak apa-apa atau memang kenapa-kenapa." Abizar bersikukuh dengan keinginannya.
"Ehm, kalian sedang apa Mas Izar, Dek Nana?"
Mbak Rani!
Nah kan! Baru aja dibatinin, eh udah kejadian aja.



"Eh ada Mbak Rani. Nggak ada apa-apa kok, Mbak. Kepala saya cuma benjut dikit doang. Soalnya tadi pagi mobil saya nyium kios martabak, dan Bang eh Pak Izar bermaksud untuk memeriksa luka saya." Gerhana buru-buru menjauhkan kepalanya sehingga tangan Abizar hanya menyentuh udara. Ia segera berdiri dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada Mbak Rani. Ia tidak ingin menciptakan kesalahpahaman di antara dua orang kekasih.
"Eh kamu kok berdiri, Dek? Duduk aja lagi. Kening kamu memar itu kayaknya," kata Mbak Rani spontan. Gerhana menghela napas lega. Syukurlah. Setidaknya adegan ala-ala sinetron tidak terjadi. Mbak Rani memang dewasa lahir batin. Buktinya si mbak sekarang malah ikut memperhatikan keningnya. Aman lah dunia.
"Sebaiknya kamu ke rumah sakit deh, Dek. Lihat, keningmu sampai benjol begitu. Atau kamu mau Mbak panggilin si Dika? Si Dika pasti pasti lebih kompeten mengobati luka kamu dari pada dokter abal-abal ini. Kalau Dika itu kan dokter beneran. Bukan dokter amatiran seperti atasan kamu ini." Mbak Rani menunjuk Abizar dengan dagu. Mengejek pacar tersayangnya. Abizar hanya menaikkan satu alis dengan ekspresi wajah santuy.
"Ya namanya juga P3K dadakan alias Pertolongan Pertama Pada Kepedulian. Biar pun Mas amatiran, tapi setidaknya kan ada niat untuk menolong," Abizar ini sifatnya mirip sekali dengan ibunya, Tante Lily. Selalu ada saja jawabannya apabila ia dicela.
"Dika itu maksudnya Dokter Mahardika adik Mbak Rani ya? Nggak perlu, Mbak. Cuma luka kecil begini. Ntar juga sembuh sendiri. Hehehe."
Mencari dokter Dika sama saja artinya dengan mencari penyakit. Mbak Yohana itu possesive abis orangnya. Setiap pasien suaminya yang berusia di bawah lima puluh tahun, pasti akan dicemburuinya. Kecuali pasiennya itu laki-laki. Baru aman.
"Ya sudah, Nana ke ruangan Bagas dulu ya? Mau mengecek komposisi drawing-an Bagas. Sepertinya tadi ada sedikit gambar yang harus dikoreksi. Permisi." Gerhana meninggalkan ruangan meeting. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan komposisi drawing-an Bagas. Ia hanya mencari alasan untuk meninggalkan sepasang kekasih itu. Tidak enak menjadi obat nyamuk di antara dua insan yang sedang cinta-cintanya. Ia tahu diri. Ia hanya merasa sedikit berdosa karena sudah menumbalkan Bagas. Padahal hasil drawing-annya sempurna. Jangan-jangan telinga Bagas menjadi gatal lagi karena sudah difitnah yang bukan-bukan.
Baru saja keluar dari pintu ruang meeting, ponselnya bergetar. Ternyata Mbak Nuri, fans setia kakaknya. Pasti si Mbak ingin meminta bantuannya lagi untuk mendapatkan hati Mas Guruh. Bukan rahasia lagi kalau Mbak Nuri ini menyukai kakaknya. Usia Mbak Nuri yang hampir dua tahun di atas kakaknya tidak menjadikannya minder. Mbak Nuri malah dengan bangganya mengatakan bahwa Mas Guruh akan bahagia lahir batin karena mendapatkan wanita yang dewasa. Yang mengerti cara memanjakan pria sekaligus mandiri secara finansial. Bukan wanita kekanakan yang hanya akan menjadikannya supir dan ATM berjalan. Mbak Nuri memang se-pede itu.
Gerhana mengangkat ponsel seraya mendorong pintu ruangan dengan bahu. Tangan kirinya penuh dengan dokumen sementara tangan kanannya memegang ponsel. Setelah menghempaskan pinggul di kursi, barulah ia menjawab panggilan dari Mbak Nuri.
"Hallo Mbak Ri, tumben jam segini menelepon Nana? Mau nraktir makan siang ya? Diterima dengan senang hati kok undangannya?"
"Ck, kecik lah kalau kamu cuma minta ditraktir makan siang. Restorannya pun bisa Mbak beli, asal kamu sukses mencomblangi Mbak dengan Mas-mu. Hehehe. Eh Na, makanan kesukaan Guruh apa sih? Mbak pengen ngasih kejutan pas makan siang besok di kantornya?"
Nah kan? Bener tebakannya.
"Mas Guruh itu suka makan ikan, Mbak. Mau digoreng, dikukus, disambel sampai digulai pun pasti disikat semua. Aduh!" Gerhana meringis saat tidak sengaja menyentuh keningnya yang memar. Sepertinya pulang kantor nanti ia memang harus ke dokter. Siapa tahu ada luka dalam di kepalanya. Kan tidak lucu juga kalau tetiba ia jadi amnesia?
"Kamu kenapa, Na? Kok kayak kesakitan gitu?"
"Nana tadi nyerempet kios martabak, Mbak?"
"Hah? Astaga, kok bisa? Tapi kamunya nggak kenapa-napa kan?"
"Nggak sih, Mbak. Cuma benjol dikit doang. Ini Nana lagi nungguin anak penjual martabaknya,"
"Lah kok ditungguin? Jangan-jangan anak penjual martabaknya ganteng ya, Na? Makanya sampai kamu tungguin? Seru juga ya, Na. Jadi kayak FTV. Ketabrak, ke rumah sakit eh jadian. Hehehe."
"Kejadian yang seperti itu kan cuma ada di novel dan sinetron, Mbak. Ketabrak, ke rumah sakit, jadian. Kalau di dunia nyata mah, ketabrak, ke rumah sakit, mati, tahlilan."
"Hahaha... lo lucu amat ya, Na? Beda beut sama si Guruh. Ya sudah, Mbak belajar masak dulu di internet biar ntar hasil masakannya bisa dipertanggungjawabkan dunia akhirat. Kamu ke rumah sakit buruan gih. Takutnya ntar ada luka dalam lagi."
"Siap, Mbakku."
Setelah Mbak Nuri menutup telepon ia bergegas ke pantry mencari kotak P3K. Bermaksud mengobati keningnya dengan pengobatan seadanya. Suara langkah-langkah kaki yang mendekat membuatnya memalingkan wajahnya. Selena. Staff admin sekaligus teman baiknya di kantor ini. Karena di kantor ini penghuninya mayoritas laki-laki, kehadiran sesama rekan kerja wanita otomatis menjadikan mereka dekat. Selain Selena ada satu orang yang berjenis kelamin perempuan dari divisinya, yaitu Marsya, sekretaris Abizar. Mereka bertiga berteman cukup akrab. Hanya saja Mbak Marsya sudah dua hari ini tidak masuk karena sakit.
"Sini gue obatin, Na. Pasti lo terlambat bangun karena lupa nyetel alarm lagi kan? Na... Na... baru aja tiga hari ortu lo ke luar kota, lo udah keteteran begini? Gimana kalo sebulan coba?" Selena meraih kotak P3K. Membubuhkan betadine pada kapas sebelum menekankannya lembut ke keningnya.
"Ya mau gimana lagi, Len? Pelupa gue ini parah. Biasanya kan ibu gue yang bangunin pagi-pagi. Lah ini ibu gue kagak ada di tempat, beginilah jadinya nasib gue. Mana diomelin sama boss besar lagi. Ya jadi ngebutlah gue."
"Dasar anak durhaka. Lo yang bangun kesiangan malah nyalahin ibu lo."
Bagas menyusul masuk ke pantry. Tangannya terlihat menenteng plastik berisi gorengan. Pasti Bagas ingin minum kopi. Sudah menjadi kebiasaan Bagas kalau minum kopi harus ditemani dengan sepiring gorengan. Biar nikmatnya kenyang katanya. Ia juga selalu membuat kopinya sendiri alih-alih dibuatkan oleh OB. Bagas ini serba bisa. Di rumah pun ia kerap memasak apabila istrinya repot mengurus anak kembar mereka. Beruntung sekali istrinya bukan?
"Maksud gue nggak gitu juga kali, Gas. Gue mah cuma cuhat." Gerhana memutar bola matanya. Bagas ini ya begini ini orangnya. Suka nyamber pembicaraan orang tanpa melihat topik permasalahannya. Bensin banget kan?
"Sebagai orang yang lebih berpengalaman dalam dunia balap mobil, gue akan memberi wejangan berharga untuk lo," tukas Bagas seraya mengambil sebuah piring. Menyalin gorengannya.
"Apaan?"
"Usahakan kalo lo lagi ngebut itu jangan kenceng-kenceng supaya nggak nabrak." Sahut Bagas kalem.
"Huuuuu... mana ada orang ngebut itu pelan, Bambank." Gerhana dan Selena meneriaki Bagas yang hanya nyengir-nyengir kuda.
"Gue duluan ya? Gue mau memeriksa ulang hasil drawing-an lo," Gerhana menunjuk Bagas. "Tadi gue cuma ngeliat sekilas doang karena waktunya mepet. Walau biasa hasil drawing-an lo oke, tapi tetep harus gue periksa ulang. Kalo nggak double check dan ada komposisi yang salah, bisa diginiin gue sama boss besar." Gerhana membuat gerakan menggorok lehernya sendiri. Ucapannya hanya disambut tawa oleh kedua rekannya. Seperti inilah suasana kantornya. Walaupun didominasi oleh para pemilik hormon testoteron, tapi selalu aman, damai, sentosa. Dengan catatan kalau boss besar mereka uratnya lurus ya?
=================================
Gerhana melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul 17.30 WIB dan anak si ibu penjual martabak belum juga datang. Padahal ia sudah menunggu setengah jam lebih lama dari jadwal kepulangannya. Kantor sudah sepi. Rekan-rekan kerjanya sebagian besar sudah pulang. Hanya tinggal Joko, OB kantor yang tengah membersihkan ruangan. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang saja. Sepertinya anak si ibu benar-benar tidak ingin menerima pertanggung jawabannya. Tetapi ia akan tetap mempertanggungjawabkan perbuatannya. Toh yang bermasalah itu antara ia dan si ibu. Bukan dengan anaknya yang sangar itu. Minimal ia akan menjenguk si ibu dan mengganti kerugian yang telah ia perbuat. Sebaiknya sepulang dari rumah sakit nanti ia menyinggahi lokasi tempat berjualan si ibu tadi. Mudah-mudahan saja si ibu masih ada di sana.
Dan di sinilah ia berada. Di antara jajaran kios-kios makanan pinggir jalan. Tetapi kios si ibu tadi kosong melompong. Stealingnya sudah tidak ada lagi. Mungkin sedang diperbaiki. Setelah memarkirkan mobilnya, ia keluar dan bermaksud menanyakan alamat rumah si ibu pada pedagang yang lain. Siapa tahu ada di antara mereka yang mengetahui alamat rumah si ibu.
"Eh lo lagi lo lagi yang nongol di mari. Mau ngapain lagi lo ke sini?" Bukannya menemukan jejak si ibu atau anaknya, ia malah bertemu dengan dua preman reseh tadi. Kalau tidak salah namanya Barda dan Jaka. Mereka berdua keluar dari kios sate dan kini sedang menghampirinya.
"Saya mau mencari ibu--" Gerhana mengingat-ingat nama si ibu.
"Ibu Wardah. Anda berdua tahu alamatnya tidak?
"Ngapain lo nanya-nanya alamat? Mau lo diabisin sama si Tangguh?" Barda mendengus kasar seraya bertolak pinggang.
"Saya mau membayar uang ganti rugi atas kerusakan yang tidak sengaja saya lakukan tadi,"
"Ooohhh... bilang dong dari tadi." Sikap Barda mendadak manis bin ramah.
"Udah lo titip aja duitnya sama gue. Ntar gue sampein dah sama Bu Wardah. Kalo lo ke rumahnya, ntar lo dimaki-maki lagi sama si Tangguh. Udah, siniin duitnya?" Barda membuka telapak tangannya sambil cengengesan. Rezeki nomplok ini namanya mah.
"Oke. Mana KTP Anda?" Gantian sekarang Gerhana yang membuka telapak tangannya. "Terus nanti Anda harus bersedia saya photo juga ya? Sebagai barang bukti." Tukas Gerhana kalem.
"Lah ngapain juga lo bocah minta KTP sama photo gue segala? Lo nggak percaya ya sama gue?" Bentak Barda kesal. Ekspresi wajahnya sudah tidak manis lagi.
"Ya iyalah. Kan kita juga baru ketemu dua kali di sini. Mana suasana ketemunya tidak enak lagi. Bagaimana saya bisa mempercayai Anda begitu saja?" Gerhana keukeuh dengan persyaratannya. Dipikir ia bodoh apa?
"Ck! Lo percaya deh sama gue. Gue janji itu uang akan gue kasih ke Bu Wardah. Suwer!" Barda mengangkat tangannya. Membuat tanda V tanya bersumpah.
"Nggak bisa. Janji zaman sekarang itu nggak bisa dipegang. Bisanya cuma discreenshoot atau di photo." Gerhana kembali menggelengkan kepalanya. "Begini aja, Anda beritahu saya alamat lengkap si ibu dan saya akan memberi Anda tips. Bagaimana? Deal?" Tawar Gerhana. Si preman seketika tersenyum sumringah.
"Deal!"
"Kalo lo berani ngasih alamat gue sama ini bocah, siap-siap aja lo gue mutilasi kecil-kecil!!!"
"Eh capung, belalang, kupu-kupu!"
Gerhana kaget saat mendengar suara bentakan dari arah belakangnya. Anak Bu Wardah rupanya. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Capek-capek ditungguin dari tadi, eh ternyata orangnya ada di mari. Anak baik mah ada ada jalannya. Ya kan?
"Waduh, maap ya Guh. Gue kagak tahu kalo lo ada di sini," Barda nyengir. "Gue tadi mah cuma becanda doang elah. Iya kan, Jak?" Barda menyenggol Jaka yang berdiri di sampingnya. Meminta dukungan. Si Tangguh ini mah serem. Dia tidak pernah main-main dengan ucapannya.
"Becanda? Kayaknya kagak deh, Bar. Kan tadi lo yang bilang sendiri kayaknya ada rezeki nomplok yang menghampiri. Rezeki nomploknya maksud lo tadi bocah ini kan?" Jaka menunjuk Gerhana.
Mampus! Barda auto pucat. Si Jaka yang komposisi otaknya sekilo kurang satu ons ini memang payah kalau diajak bekerja sama. Otaknya belum nyampe sampai ke sana. Keseringan macet karena kurang gizi sepertinya.
"Gue... gue..." Barda menggaruk-garuk kepalanya yang tidal gatal. Salah tingkah karena ketahuaan berbohong.
"Lo denger baik-baik ya, Bar? Kalo lo sampe berani melanggar aturan yang udah gue buat, gue abisin lo!" Desis Tangguh geram. Ia kemudian berpaling pada Gerhana yang cengo memandang perseteruan antar preman live show di depan matanya. Serem juga euy kalo si Tangguh-Tangguh ini sudah berbicara. Kayaknya memang lebih aman kalau orang ini diam-diam saja.
"Tadi pagi kan saya sudah mengatakan kalau saya tidak butuh pertanggungjawaban kamu. Kamu mengerti bahasa Indonesia bukan?!" Kuatnya desibel suaranya membuat Gerhana meringis. Subhanallah ternyata Abizar ada saingannya sekarang. Anak Bu Wardah ini gualake poll! Setelah membentaknya, si Tangguh-Tangguh ini berjalan meninggalkannya begitu saja. Tidak mau buruannya kabur, Gerhana mengekor di belakangnya.
"Saya mengerti, Abang Preman. Tapi saya tidak suka merugikan orang lain, makanya saya--"
"Aduh!!!"
Gerhana meringis saat keningnya yang baru saja diperban dokter menabrak keras bahu Tangguh. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Tangguh akan berbalik dengan tiba-tiba. Denyutan di kepalanya membuat matanya berkaca-kaca. Sakit sekali soalnya.
"Maaf, saya tidak sengaja." Gerhana belum bisa bersuara. Rasa sakitnya menghilangkan kemampuannya berbicara. Ia perlu menenangkan dirinya dulu.
"Sakit sekali ya?" Sekonyong-konyong Gerhana merasakan ada telapak tangan besar yang mengelus pelan keningnya yang terluka. Gerhana membeku. Posisinya saat ini dekat sekali dengan Tangguh. Ia sampai bisa melihat jakunnya yang bergerak-gerak dan rahangnya yang ditumbuhi oleh bulu-bulu halus. Ia terpesona. Ia tidak pernah berdekatan dengan seorang pria selain ayah dan kakaknya.
Tuk! Gerhana kaget lagi saat Tangguh menyentil lembut pelipisnya.
"Makanya kamu jangan keluyuran sepulang kerja. Sebaiknya kamu pulang dan istirahat. Ah, satu lagi. Jangan berani-berani mendatangi rumah saya. Ingat itu!" Kali ini Tangguh benar-benar berlalu. Ia menaiki sepeda motornya dan hanya meninggalkan kepulan asap di belakangnya.
Lo kira gue bakalan nyerah gitu aja? Lo liat aja, gue akan melakukan apapun untuk menunaikan tanggung jawab gue!
Suasana arena pertarungan liar masih terasa panas. Masing-masing kubu meneriakan yel-yel penyemangat bagi petarung jagoan mereka. Bagaimana tidak, mereka telah mempertaruhkan banyak uang demi mendapatkan pundi-pundi rupiah yang berkali-kali lipat dari yang mereka pasang. Kalau jagoan mereka sampai kalah, hilang jugalah semua uang-uang mereka. Bagi mereka tugas petarung yang mereka jagokan adalah baku hantam habis-habisan bagaikan dua ekor banteng aduan. Kalau tidak hidup ya mati. Hidup dan mati bagi petarung-petarung bayaran seperti mereka ini memang sedekat nadi bukan? Mereka jahat? Tidak juga. Toh kehidupan seperti ini merekalah yang memilih. Tidak ada paksaan. Lo menang, gue bayar. Lo mati, gue kubur. Hidup ini keras, kawan.
Tangguh melompat dengan satu kaki dan mengarahkan dengkulnya ke dada lawan. Ketika lawannya terjatuh, ia menggerakkan siku kanan secara horizontal, memotong pelipis lawan. Darah seketika mengucur deras. Saat melihat lawannya kesulitan berkonsentrasi karena darah yang mengucur deras, ia menggerakan siku kiri secara diagonal. Mengincar leher lawan. Raungan kesakitan seketika terdengar sebelum lawannya tergeletak diam tidak sadarkan diri dalam kubangan darah. Saat itu Tangguh tahu, tugasnya telah usai.
Kejadian selanjutnya sudah ia bisa ia tebak. Wasit mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi diiringi tepuk tangan membahana dari orang-orang yang menjagokannya. Lebih tepatnya orang-orang yang menjadikannya robot pembunuh sekaligus mesin pencetak uang. Beginilah sisi gelapnya yang hanya diketahui oleh beberapa orang. Mencari tambahan pundi-pundi uang dengan menjadi petarung liar. Namanya terus saja dielu-elukan disertai dengan tatapan penuh kekaguman dan kebencian. Kubu yang kalah membencinya. Namun kubu yang menang pasti bergembira bukan? Ya, seharusnya ia juga bergembira. Ia menang! Dan itu artinya ada sekian rupiah yang akan ia bawa pulang. Tetapi alih-alih gembira, ia malah merasa muak. Ia muak bergembira sementara ia harus menginjak kepala manusia lainnya.
Tatapannya jatuh pada Pascal. Lawannya itu sudah sadar dan saat ini tengah dipapah oleh orang-orangnya. Wajahnya bermandikan darah dengan mata yang nyaris tidak terlihat karena membengkak. Pelipisnya sobek, meninggalkan luka terbuka yang menganga. Lebih dari itu, ekspresi wajahnya tampak lesu. Sponsornya memasang raut wajah ketat dan para pendukungnya beramai-ramai memaki dan meneriakinya dengan kata-kata kotor. Inilah pemandangan yang paling tidak disukainya. Perasaan bahwa ia berbahagia di atas penderitaan orang lain.
Tangguh turun dari ring. Menghampiri Barda dan Jaka yang telah menunggu di bawah ring dengan handuk dan kotak P3K. Keadaannya sendiri pun tak kalah hancur. Pascal itu dedengkotnya Alcatraz. Mengalahkannya tidak mudah. Ia harus mengerahkan segenap kemampuannya untuk membungkamnya. Sebenarnya kemenangan yang ia peroleh dari Pascal dan para petarung-petarung sebelumnya adalah karena ritual rahasianya. Ritual rahasianya adalah dengan membayangkan semua lawannya adalah ayahnya. Artinya selama ia bertarung, ia membayangkan kalau ia sedang menghabisi ayahnya yang keberadaannya entah di mana.
"Lo hebat beut ya, Guh? Bisa meng-KO-kan Pascal yang body-nya sebesar mbahnya gajah begitu hanya dalam waktu delapan menit! Gue sungkem dah, Guh. Sungkem! Temen gue jagoan. Bukan kaleng-kaleng!" Barda dan Jaka, dua sahabat kentalnya menghampiri. Ia tidak menjawab. Toh pertanyaan mereka memang tidak memerlukan jawaban. Ia menghempaskan pinggulnya di kursi penonton. Menyeka keringat yang membanjir dengan handuk yang dibawakan Barda. Jaka membuka kotak P3K. Mengeluarkan alkohol dan kapas. Membersihkan darah yang mengalir dan mengobati luka-lukanya.
"Kok lo ikut beginian lagi sih, Guh? Kapan hari kan lo pernah bilang kalo lo mau berhenti. Lo bilang, ibu lo bisa ikut mati karena sedih kalo lo sampai mati di sini. Lo nggak lupa kan?" Tanya Barda penasaran. Seingatnya Tangguh sudah cukup lama tidak menjejakkan kakinya di arena berdarah ini. Ia mau pensiun katanya.
"Gue nggak lupa, Bar. Gue hanya udah nggak punya jalan keluar lain, makanya gue adu nyawa di sini. Kontrak rumah gue minggu depan habis. Stealing martabak ibu gue hancur. Modal jualan ibu gue juga habis semua. Gue butuh aliran dana segar, Bar." Jawabnya datar.
"Lah kalo gitu kenapa juga lo tolak bantuan itu bocah? Oh gue tau, karena lo sombong kan? Sok mengagung-agungkan harga diri padahal lo lagi susah setengah mati," sindir Barda pedas. Ia kesal pada Tangguh yang ia anggap terlalu idealis. Ia, Jaka dan Tangguh tumbuh besar bersama. Sudah pasti mereka bertiga saling menyayangi dan menasehati satu dengan yang lainnya. Persahabatan mereka bertiga bahkan melebihi rasa persaudaraan. Satu yang dicubit, mereka semua yang merasa sakit.
"Guh. Gue emang kagak makan bangku sekolahan kayak lo. Cara berpikir gue cetek. Tapi yang gue tau, harga diri nggak akan bisa membuat perut sejengkal gue ini kenyang. Nggak bisa juga dibuat bayar kontrakan. Kita ini miskin, Guh. Akui dan terima kenyataan ini!" Sembur Barda kesal. Ia capek hati melihat kedegilan Tangguh. Senang banget sahabatnya ini menyiksa diri padahal ada tangan lain yang bersedia meringankan bebannya. Yang diagung-agungkan selalu saja soal harga diri. Orang miskin kok ya mikirin harga diri terus. Harga diri tai* kucing!
"Kita ini miskin? Bener banget! Gue terima kenyataan itu. Tapi kalo harga diri pun kita gadaikan, kita akan bener-bener "habis", Bar. Karena apa? Karena hanya itu lah satu-satunya harta yang kita punya! Dan gue lebih memilih untuk menggadaikan nyawa gue di sini, dari pada menggadaikannya pada orang lain. Sampai mati pun nggak akan pernah! Inget itu!" Tukas Tangguh tak kalah sengit.
"Eh... eh... udah... udah... kenapa lo bedua pada ribut sih?" Jaka buru-buru berdiri. Memisahkan dua orang temannya yang sama-sama sedang emosi.
"Mulai hari ini sebaiknya lo bedua berhenti deh ngebahas-bahas soal yang namanya harga diri. Seneng amat pada berantem gara-gara si harga diri? Si harga diri aja belum tentu seneng," Jaka berdiri di tengah-tengah Tangguh dan Barda. Berusaha mencegah keduanya baku hantam. Selalu begini. Setiap dua orang keras kepala ini berselisih, ia lah yang harus menjadi wasit dadakan. Nasib menjadi anak bawang ya macam ini lah. Selalu jadi pencorot. Ya mau bagaimana lagi, kalau ia disuruh ikutan berantem, belum mulai saja ia sudah pasti kalah. Makanya ia memilih menjadi pengamat saja. Aman, tentram, sentosa jiwa raga bukan?
"Dari pada lo bedua pada benjut di sini, mending kita makan enak noh di warteg-nya Bi Sumi. Lo kan lagi banyak duit hari ini, Guh. Traktir gue ya?" Jaka menyerahkan jaket kulit Tangguh dan segera empunya kenakan tanpa banyak cincong.
"Ya udah, ayok." Tangguh menjawab pendek. Ia segera meraih tas ranselnya dan berjalan menuju pintu keluar arena. Jaka mengekori langkahnya dengan gembira. Rezeki nomplok euy. Jarang-jarang ia bisa makan besar sepuasnya tanpa harus membayar.
"Hoi, Guh. Gue kagak diajak nih? Masa cuma gara-gara kita berselisih paham lo jadi cuma nraktir si Jaka doang? Payah lo ah!" Dengus Barda kesal. Tangguh pilih kasih! Emangnya cuma si Jaka doang yang lapar apa?
"Ck! Manja amat sih lo jadi orang, Bar? Kalo mau ikut ya udah ikut aja. Tampang preman kelakuan aleman. Sensi lagi kayak perempuan!" Sembur Tangguh sebal.
"Setdah burung garuda gue segede gaban begini lo kata gue kayak perempuan?" Barda mengekori langkah dua sahabatnya sambil misuh-misuh. Beginilah persahabatan mereka bertiga. Saling sindir, baku hantam, berselisih adalah makanan mereka sehari-hari. Tapi rasa setia kawan, senasib sepenanggungan, dan saling peduli di antara mereka, melampaui semuanya. Mereka saling memaki karena peduli. Bukan karena benci. Karena kata yang diucapkan dari hati akan masuk ke hati. Sementara kata yang berasal dari mulut hanya akan berhenti di telinga. Itulah semboyan perhabatan dari mereka bertiga.
==================================
Gerhana memarkir mobilnya di ujung jalan. Ia sengaja parkir di tempat yang agak jauh, agar mangsanya tidak mendeteksi kehadirannya. Ia melepas blazer formal. Menyisakan crop top garis-garis dan memadukannya dengan jaket kulit hitam. Ia juga mengikat rambut panjangnya menjadi kuncir kuda yang praktis. Ia mengecek penampilannya sekali lagi. Pas banget. Penampilan sudah mirip dengan premanwati. Waktunya beraksi. Ia keluar dari mobil. Bermaksud menghampiri jajaran makanan pinggir jalan dan mencari Bu Wardah. Baru berjalan beberapa langkah, ia menepuk jidatnya sendiri. Ia lupa menukar sepatu high heels-nya dengan sneakers. Mana ada premanwati memakai sepatu high heels, ya kan? Coba bayangkan saat mereka harus berkelahi atau dikejar-kejar polisi? Eh jangan polisi ah pengandaiannya. Jadi berasa mengata-ngatai ayah sendiri. Dikejar-kejar KAMTIB misalnya. Kan repot lelarian dengan hak sepatu yang seruncing pensil? Berhasil kabur mah kagak, ngusruk iya. Ia kembali masuk ke mobil. Meraih sneaker di kolong jok tempat duduk. Mengenakannya tergesa dan kembali melanjutkan misinya.
Semakin mendekati lokasi, harapannya semakin tipis. Karena ia melihat tempat jualan si ibu masih kosong. Stealing martabaknya tidak ada. Apa jangan-jangan si ibu tidak punya modal lagi ya? Atau Bu Wardah sakit barangkali? Ia merasa makin bersalah. Keinginannya untuk menemui Bu Wardah semakin menggebu. Ia mendecakkan lidahnya saat melihat salah satu preman yang bernama Jaka, duduk santai di kios gorengan sambil minum kopi. Aha, ternyata usahanya hari ini tidak sia-sia. Sebaiknya ia membujuk Jaka saja. Sepertinya preman yang satu ini lebih bisa diajak bekerja sama. Mumpung ia sedang sendirian. Gerhana mempercepat langkahnya. Kesempatan baik ini harus ia manfaatkan semaksimal mungkin.
"Etdah ini bocah. Lo lagi lo lagi. Ngapain lo nongol lagi di mari?" Jaka menyambut kehadirannya dengan omelan. Tetapi ia membalas dengan senyuman manis. Demi misi ia harus pintar-pintar mengelola emosi.
"Ya mau menemui Bu Wardah lah, Bang Jaka." Sahut Gerhana manis.
"Ebuset, lo tau nama gue, bocah? Pake ditambahin abang lagi. Berasa jadi abang tukang gorengan gue," Jaka mengaruk-garuk kepalanya. Ini bocah emang kagak ada kapok-kapoknya nyari masalah.
"Bu Wardah kagak ada di mari. Stealing-nya sedang diperbaiki gara-gara lo tabrak kemaren. Udah sono pulang lo, bocah!" Jaka mengibaskan tangannya. Gerhana menarik napas panjang. Sepertinya si abang preman tidak tertarik lagi untuk melanjutkan pembicaraan. Ia memutar otak. Percuma dong jadi anak polisi kalo tidak piawai dalam mengorek informasi.
"Kalo gitu minta alamatnya si ibu aja deh, Bang. Saya mau membantu membayar biaya reperasi stealing-nya. Sekalian juga mau mengganti modal Bu Wardah. Dagangannya kan kemaren rusak semua. Kasihan kan Bu Wardah?" Gerhana memasang wajah sedih nan merana. Berusaha semeyakinkan mungkin menirukan ekspresi sedih ala-ala sinetron orang tertindas.
Jaka terdiam. Ia teringat dengan kata-kata Tangguh kemarin. Sahabatnya itu mengatakan bahwa ia sedang butuh banyak biaya. Mana kontrakannya sudah mau jatuh tempo lagi. Tetapi ia juga takut kalau si Tangguh mengamuk karena ia memberitahukan alamat rumahnya pada bocah ini. Ia bingung. Ternyata yang namanya dilema-dilema itu seperti ini toh rasanya? Emang serba salah sih.
Melihat Jaka bimbang, Gerhana makin girang. Sepertinya preman yang satu ini jiwanya masih bisa diselamatkan. Agak-agak empuk dibandingkan dengan Barda apalagi Tangguh. Beuh, jauhlah bila dibandingkan dengan mereka berdua. Mereka berdua kan batu banget hatinya.
"Ayolah, Bang Jaka yang macho namun baik hati dan tidak sombong. Bantulah orang yang mau berbuat baik. Selama ini Abang kan sudah banyak sekali melakukan kejahatan. Berbuat baiklah sesekali agar api neraka tidak terus berkobar untuk Abang. Api neraka itu panasnya seribu kali lebih panas dari api dunia lho, Bang." Gerhana mengarang bebas. Ya mau bagaimana lagi. Setidaknya walau pun ia berbohong tapi kan niatnya baik.
"Gue bukannya kagak mau berbuat baik, Bocah. Tapi masalahnya kan lo tau sendiri si Tangguh itu ngancemnya pegimana. Bisa jadi dendeng gue kalo berani melanggar aturannya," Jaka mengedikkan kedua bahunya. Merasa tidak ada jalan kedua bagi keduanya. Tangguh itu kerasnya kayak batu. Sementara ini bocah juga semangatnya tak kunjung padam. Sekonyong-konyong sebuah ide cemerlang singgah di kepalanya.
"Begini aja, Bocah. Gue kasih tau lo alamat kerjanya si Tangguh. Nah ntar di sono, lo kasih aja uangnya sama bouncer-bouncer temennya si Tangguh. Bilang nitip uang ini untuk ibunya si Tangguh. Tolong kasihin ke Tangguh ya? Bilang aja gitu. Kalo lo nitipnya sama bouncer, pasti aman."
"Akhirnya Bang Jaka berani juga melanggar aturan Bang Tangguh demi melakukan misi kebaikan. Terima kasih banyak ya, Bang Jaka? Saya yakin, api neraka untuk Bang Jaka sudah dikorting sekian persen panasnya karena kebaikan hati Abang hari ini." Ujar Gerhana gembira. Akhirnya usahanya membuahkan hasil juga.
"Lah kapan gue ngelanggar aturannya si Tangguh? Kan gue cuma ngasih tau lo alamat kerjanya doang, bukan alamat rumahnya. Berarti gue kagak ngelanggar aturan dong?" Sahut Jaka yakin. Rumah sama alamat kerja kan beda? Mana jauh-jauhan lagi tempatnya. Ya kan?
"Hahaha. Iya ya, Bang. Abang cerdas beut dah pokoknya. Teope begete. Alamatnya di mana, Bang?" Gerhana ingin tertawa tetapi ia takut dosa karena menertawai orang yang lebih tua. Mana maksud orangnya baik lagi. Ya kan?
"Ntar malem lo ke Astronomix deh. Si Tangguh seminggu tiga kali jadi bouncer di sana. Semoga niat baik lo kesampean ya, Bocah? Sekarang lo pulang gih, udah sore. Ntar emak lo bingung lagi nyariin anaknya kagak pulang-pulang."
Mampus! Astronomix kan kepunyaan Om Axel, alias Om-nya Abizar. Kalau ia ketahuan ke sana, bisa dihukum squat jump sampai semaputlah ia oleh ayahnya. Lah seumur-umur ia tidak pernah menginjakkan kaki ke tempat-tempat begituan. Tapi demi melaksanakan kewajiban, ia harus menerjang segala rintangan.
"Mohon maaf ya, Bang Jaka. Bouncer itu apaan sih?"
"Bouncer itu tukang pukul istilah kasarnya, Bocah. Lah lo kagak tau masalah beginian ya?" Jaka menepuk keningnya sendiri.
"Gue sebenernya sedang melakukan kebaikan atau kejahatan sih ini? Ntar kalo lo kenapa-kenapa di sana kan gue yang dosa ya, Bocah?" Jaka bingung. Kini ia sedikit menyesal. Mungkin ia memang melakukan misi kebaikan untuk Bu Wardah. Tapi secara tidak langsung ia juga telah melakukan tindak kejahatan terselubung. Kalau ini bocah sampai dimakan mentah oleh para hidung belang di sana, api nerakanya pasti akan berkali-kali lipat panasnya. Nah kan, dia dilema lagi sekarang. Kalau Tangguh dan Barda selalu bermasalah dengan harga diri, ia sekarang jadi ikut punya masalah dengan si dilema. Naseb... naseb...

Gerhana Putri Alam

Tangguh Langit Ramadhan

Jaka Suharsa

Barda Laksamana
Notes.
Bouncer adalah semacam penjaga keamanan di bar atau klub malam. Tugas mereka antara lain menyediakan keamanan, memeriksa usia legal, dan menolak masuk tergantung pada kriteria yang ditetapkan oleh pihak club. Bouncer biasanya pria berukuran tubuh tinggi besar dengan tampilan orang sangar. Karena tugas mereka selalu berhubungan dengan orang-orang yang agresif dan perkelahian.