Bab 2

"Hoeekk ... hooeekk!" Suara mual yang berulang kali terdengar di kamar mandi pagi itu membuat seisi Panti Asuhan Kasih Ibu Kartini menjadi gembar.

"Intan, apa kamu masuk angin? Mau Bunda kerokin?" Wanita berusia setengah abad itu memijit tengkuk anak asuh kesayangannya yang masih membungkukkan badannya menghadap kloset.

Kemudian Intan pun berdiri dan menjawab, "Intan minum obat aja, Bun. Paling juga sebentar udah baikan, maklum cuacanya lagi nggak menentu 'kan?"

"Ohh, ya sudah. Kamu isi dulu perut kamu pake nasi soto ayam yang Bunda bikin. Sedikit nggakpapa, yang penting nggak kosong dan bisa buat minum obat. Kuliah kamu hari ini apa mending libur aja?" ujar Bunda Kartini merangkul bahu Intan seraya berjalan keluar dari kamar mandi menuju ke meja makan.

"Iya, Bun. Terpaksa begitu, Intan bolos sehari kuliahnya. Besok lihat catatan kuliah teman Intan aja," jawab gadis itu sembari duduk di meja makan panjang bersama adik-adik yang sama-sama menjadi anak asuh di panti asuhan Bunda Kartini.

Namun, ketika kuah soto dituang oleh Bunda Ranita di mangkuk yang ada di hadapan Intan. Sontak saja perut gadis itu kembali bergolak tak tahan dengan aroma masakan tersebut. Intan pun berlari lagi ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya yang nyaris kosong dan hanya cairan kekuningan yang tak lain adalah asam lambung.

Bunda Ranita dan Bunda Kartini saling bertukar pandang penuh arti, mereka berdua sudah menjalani kehidupan hampir setengah abad lamanya dengan asam garam kehidupan yang naik turun jalannya. "Biar aku yang ajak Intan bicara, Ran!" ujar Bunda Kartini menghela napas dengan wajah sedih.

Ketika Intan selesai mual di kamar mandi, dia masuk ke kamarnya dan berbaring miring di ranjangnya membelakangi pintu. Bunda Kartini menghampirinya dan duduk di tepi ranjang berukuran queen size itu, dia berkata sembari menatap wajah pucat Intan, "Nak, kalau boleh dijawab dengan jujur ... apa kamu melakukan hubungan dengan pacar kamu tanpa pengaman baru-baru ini? Bunda nggak akan menghakimi kamu."

Gadis belia itu pun menangis tergugu tak mampu menjawab pertanyaan Bunda Kartini. Namun, wanita paruh baya berwajah teduh tersebut mengerti bahwa jawabannya pastilah iya. Dia pun menghela napas dengan berat. Kemudian sekali lagi Bunda Kartini bertanya, "Apa kamu sudah memeriksa dengan test pack kehamilan keadaaan kamu, Intan?"

"Sudah. Garis merahnya dua, Bunda. Maafkan Intan ... huhuhuu!" jawab Intan menangis penuh penyesalan karena telah mengecewakan ibu angkatnya itu dan menyimpang dari ajaran baik yang telah diterimanya selama tinggal di panti asuhan.

Kedua wanita berbeda generasi itu pun saling berpelukan. Bunda Kartini berusaha menenangkan tangis perempuan muda itu dengan mengelus-elus punggungnya. "Intan, pacarmu harus bertanggung jawab dengan anak yang kamu kandung. Coba temui dia dan bicarakan baik-baik langkah selanjutnya!" saran Bunda Kartini tanpa memarahi Intan.

Gadis itu pun sambil sesenggukan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baik, Bunda. Siang ini Intan akan ajak dia ketemuan. Semoga Zayn akan menjadi pria yang bertanggung jawab," sahut Intan menghela napas dalam-dalam berusaha berpikir positif.

"Bunda buatkan bubur ayam gurih aja ya biar perut kamu ada isinya. Sebentar—" Dengan segera Bunda Kartini keluar menuju ke dapur memasak bubur untuk Intan.

Sesuai dengan perjanjiannya dengan Zayn, gadis itu pun dijemput di halte bus yang terletak 5 blok dari panti asuhan tempat tinggalnya. Sebuah mobil Porsche warna hitam menepi di halte bus dan segera saja Intan masuk ke dalamnya.

Zayn tersenyum tampan seperti biasanya di balik kaca mata hitam yang bertengger di pangkal hidung mancungnya. "Hai, Intan Sayang. Tumben bolos kuliah. Kenapa nih, Mahasiswi Teladan?" sapanya menoleh sekilas menatap pacarnya.

"Kita perlu ngobrol serius, Zayn. Cari cafe yang dekat sini aja ya biar enak nggak di jalan raya," pinta Intan karena topik yang akan mereka bicarakan pastinya sangat sensitif.

"Hmm ... oke deh. Tuh ada Cafe Bianglala, kita ke sana aja," putus Zayn lalu mengarahkan mobil sedan mewahnya memasuki halaman parkir cafe luas yang berlokasi tak jauh dari tempat tinggal Intan. Dia memarkir rapi mobilnya dan membantu Intan turun dari mobil seperti biasanya.

Setelah mereka berdua memesan minuman di cafe ke waitress, Intan pun mengambil sebuah benda dari dalam tas tangannya. Kemudian ia meletakkannya ke atas meja dan menyodorkan test pack bergaris merah dua itu ke hadapan Zayn.

Pemuda itu mengerutkan dahinya lalu bertanya, "Apaan nih, Tan?"

"Gue hamil, Zayn. Ada janin buah cinta kita di dalam perutku ini," tutur Intan berusaha tetap tenang sekalipun ia tak yakin dengan tanggapan pacarnya itu.

"Gugurkan janin itu, Tan! Ngapain juga lo bilang ke gue. Kita masih muda, lagian lo baru juga semester 2 'kan, masa mau putus kuliah gara-gara hamil?!" desak Zayn berkelit dari tanggung jawabnya atas benih yang telah dia tanam di rahim kekasihnya.

"ZAYN! Lo mau lari dari tanggung jawab 'kan?!" tuduh Intan sengit menatap tajam pemuda itu dengan telunjuk teracung lurus.

Tawa pongah meluncur dari Zayn. "Hahaha, dasar perempuan naif! Mana ada anak konglomerat mau menikahi gadis yatim piatu seperti lo! Kita memang menikmati momen-momen manis itu bersama, tapi ... nikahin elo? Nanti dulu!"

"Tapi ... tapi, lo selalu bilang kalo lo tuh cinta banget sama gue 'kan, Zayn? Apa semua itu cuma gombal?" ucap Intan dengan tubuh lunglai di kursinya serasa dunianya runtuh di bawah pijakan kakinya. Dia telah menyerahkan miliknya yang paling berharga kepada Zayn dan segala perasaan cinta yang tanpa syarat kepada kekasihnya. Namun, inikah balasannya?

Tangis Intan pecah tak terkendali ketika waitress cafe tadi menyajikan minuman dingin pesanan mereka berdua di meja. Gadis pelayan restoran itu penasaran ada apa sebenarnya dengan muda mudi tersebut, tetapi dia tidak boleh mencampuri urusan tamunya. "Silakan minumannya, kalau butuh yang lainnya bisa panggil saya atau rekan lainnya yang siap melayani!" ujarnya sebelum berlalu dari meja itu.

"Huhh, lo bikin malu gue aja, Tan. Nongkrong di cafe malah jadi pusat perhatian begini, berhenti nangis lo!" bentak Zayn sinis.

Intan menutup mulutnya dengan telapak tangannya untuk meredam isakan tangisnya. Dia tak tahan lagi berhadapan dengan pacarnya yang penuh dengan kepalsuan. Cinta yang dulu diagung-agungkan olehnya tak lebih dari sekadar dusta. Lantas bagaimana dengan nasib calon anaknya? Dia tak tega membunuh nyawa janin yang tak berdosa, yang berdosa adalah kedua orang tuanya.

"Zayn ... apa nggak ada jalan lainnya selain membunuh calon anak kita ini? Hiks hiks ... dia nggak bersalah dan berhak untuk hidup!" bujuk Intan mengiba sembari menggenggam tangan Zayn erat-erat.

"Alaa—jangan-jangan lo cuma ngincer harta gue 'kan? Dasar cewek matre! Picik pikiran lo ternyata ya. Hmm ... gue baru tahu sifat asli lo, kirain lo tuh cewek pinter yang mandiri dan nggak bergantung sama cowoknya. Salah gue nilai lo, Tan. Kita putus!" Zayn mengatakan segala tuduhan kejinya kepada Intan dan mengakhiri hubungan mereka yang telah terjalin semenjak SMA.

Tatapan Intan nanar mendengar kata putus dari Zayn. Dan pemuda itu pun menaruh selembar uang rupiah merah di meja serta memanggil waitress dengan kode tangan yang terangkat. Kemudian dia melenggang pergi begitu saja, meninggalkan Intan sendirian di meja itu.

Segera saja Intan mengejar Zayn hingga ke parkiran mobil di halaman depan cafe. "Zayn, tunggu gue!" panggil Intan seraya meraih lengan pemuda itu.

Namun, dengan tega Zayn menepis tangan Intan hingga dia terjerembap di tanah. "Lo jangan pikir gue bakal kasihan. Lo—gue end! Pergi lo, Cewek Murahan! Jangan coba-coba hubungi gue lagi. Paham?!" seru pemuda itu kasar dengan tampang jijik lalu naik ke mobil Porsche miliknya meninggalkan Intan yang sendirian duduk menangis penuh penyesalan di atas parkiran cafe.

Bab 3

"Huhh ... sial ... sial ... sial!" teriak kesal Zayn sembari memukul gagang setir mobilnya. Tak dipungkiri hatinya masih tak rela mengakhiri hubungannya dengan Intan baru saja.

"Gue udah ingetin bolak-balik pake pil kontrasepsi biar kagak kebobolan. Dasar perempuan tolol, rusak semua jadinya!" maki pemuda itu penuh amarah di dalam mobilnya yang melaju kencang menuju ke rumah keluarga Pradipta di pinggiran kota Jakarta yang tenang.

Tak biasanya Zayn pulang ke rumah itu, tetapi kali ini mamanya mengiriminya pesan agar dia hadir makan malam bersama di sana. Ucapan mamanya itu mutlak harus dipatuhi kalau masih menginginkan suport materi secara penuh.

Bendahara di keluarga Pradipta adalah mamanya, Nyonya Selvi Ratna Pradipta. Sedangkan, papanya yaitu Bramantyo Muis Pradipta hanya tahu mencari nafkah dan menambah pundi-pundi kekayaan keluarga mereka. Pak Bram hanya tahu beres atas segala pengaturan istrinya yang memang jago menaruh pos-pos keuangan keluarga.

Hubungan Zayn dan Intan memang sejak awal disembunyikan dari keluarga Pradipta. Dia takut mamanya akan menentang karena latar belakang Intan yang bukan siapa-siapa. Apa yang mau diharapkan dari anak yatim piatu sejak lahir yang bahkan bersekolah pun full beasiswa?

Memang Intan cantik luar dalam dan pintar secara akademik. Makanya Zayn langsung jatuh hati kepada gadis itu dulu ketika berkenalan di SMA yang sama.

Hanya saja zaman begini masih percaya dan mengagung-agungkan cinta? Itu sangat konyol bin naif, pikir Zayn sembari merutuki keluguan Intan tiada habisnya.

Mobil Porsche itu memasuki halaman rumah megah 3 lantai bercat dinding putih dengan genting warna biru navy yang nampak elegan dari kejauhan. Zayn pun memarkir mobilnya sekenanya di depan teras rumah karena tak ada mobil lainnya di situ.

Dia menyembunyikan mood buruknya karena akan bertemu mamanya sebentar lagi, Zayn harus ceria.

"Hai, Jagoan Mama!" sambut Nyonya Selvi seraya memeluk cium putera kesayangannya. Dia menatap wajah pemuda tampan bertubuh jangkung dan kekar itu dengan cermat lalu berkata lagi, "Zayn, kamu sudah siap buat terbang ke Swiss 'kan besok?"

"Swiss?! Astaga, Mama ... kenapa mendadak sekali?" protes Zayn yang nampaknya tak siap berangkat besok ke luar negeri untuk mempersiapkan kuliahnya.

Nyonya Selvi menggandeng lengan Zayn menuju ke sofa ruang keluarga sembari menjawab, "Kamu tinggal berangkat aja 'kan? Semuanya kebutuhan kamu sudah diatur Martin, dia nanti yang bantu-bantu urusan pendaftaran kuliah, apartment tempat tinggal kamu, dan lain sebagainya. Nggak boleh ngebatalin keberangkatan kamu besok ya, Nak!"

Bila itu sudah maunya sang mama, Zayn tak bisa menolak. Dia pun menganggukkan kepalanya dengan lesu. Mereka pun melanjutkan perbincangan seputar adik Zayn yang bernama Prilly yang masih duduk di bangku SMP tingkat akhir tahun ini dan juga kesibukan papa Zayn.

Sementara itu di Panti Asuhan Kasih Ibu Kartini, kepulangan Intan yang nampak sembab wajahnya dan juga lemas tak bersemangat membuat Bunda Kartini Soekotjo bisa menebak hasil pertemuan anak asuhnya dan pacarnya yang telah menghamili Intan.

"Nak, apa kamu mau cerita sama Bunda tentang hasil pembicaraan kamu dan pacarmu?" bujuk Bunda Kartini sambil mengiring Intan ke kamar tidur remaja itu.

Intan terduduk lunglai di tepi ranjangnya dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia mulai menangis pilu tak henti-henti.

Dengan besar hati Bunda Kartini membelai lembut puncak kepala Intan. "Sabar ya, Nak. Apa mau Bunda temani besok untuk menemui orang tua pacarmu? Kamu punya alamat rumahnya 'kan?" tanyanya.

"Ada, Bunda. Mungkin itu jalan satu-satunya agar Zayn mau bertanggung jawab untuk janin di rahimku ini!" sahut Intan setuju dengan usul Bunda Kartini.

"Besok pagi kita berdua naik taksi online ke sana saja. Sekarang kamu mandi, makan, istirahat biar janin kamu tetap sehat. Jangan stres dan banyak pikiran ya, Tan!" tutur Bunda Kartini sebelum meninggalkan kamar tidur Intan.

Memang keesokan harinya, sekitar pukul 08.00 WIB mereka telah sampai di teras depan rumah megah milik keluarga Pradipta. Asisten rumah tangga yang menyambut kedatangan Bunda Kartini dan Intan.

"Maaf, kalian mencari siapa ya?" tanya Murni, art kediaman Pradipta kepada kedua tamu tak diundang tersebut.

"Kami ingin bertemu orang tua Zayn, Mbak," jawab Bunda Kartini tanpa bertele-tele karena tujuan kedatangan mereka berdua membawa topik yang sensitif.

Murni pun meminta mereka berdua untuk menunggu di sofa ruang tamu yang ada di sisi barat rumah megah tersebut. Baik Intan maupun Bunda Kartini berdecak kagum seraya mengedarkan pandangannya ke interior rumah yang nampak mewah dan juga arsitektur yang terkesan elegan itu.

Tak lama setelahnya Nyonya Selvi memasuki ruang tamu dan mengernyitkan keningnya ketika melihat sosok kedua tamunya pagi itu. Dia pun menyapa sekadarnya, "Selamat pagi. Saya mamanya Zayn, kalian siapa ya?"

"Selamat pagi, Bu. Perkenalkan saya Kartini, walinya Intan," balas Bunda Kartini sambil berjabat tangan dengan Nyonya Selvi bergantian dengan Intan yang telapak tangannya terasa dingin.

"Oke. Ada perlu apa ya datang menemui saya ke mari?" tanya Nyonya Selvi bernada ketus.

Kedua tamunya kompak menghela napas dalam dan merasa tak nyaman. Namun, Bunda Kartini merasa hak puteri asuhnya wajib dibela. Maka dia pun mulai berbicara tanpa basa-basi, "Jadi kedatangan kami ini untuk meminta pertanggung jawaban Nak Zayn yang telah menghamili Intan ini—"

"HAHH?! Hamil? Maaf ya, kalau Zayn bersenang-senang dengan sembarang perempuan di luar rumah, bukan berarti dia wajib bertanggung jawab menikahi perempuan itu dong! Enak saja kalian minta pertanggung jawaban. Keluarga kami tidak buka panti sosial ya!" cerca Nyonya Selvi dengan pedas.

"Tapi, Bu—ini anaknya Zayn lho, cucu Anda!" tegas Bunda Kartini tak ingin menyerah memperjuangkan hak Intan.

Tawa sinis terdengar menggema di ruang tamu. Mama Zayn pun bangkit berdiri seraya bersedekap di hadapan kedua tamu yang tak diundang tersebut.

Dia pun menjawab, "Gugurkan saja dan selesai perkara! Hari ini Zayn berangkat ke Swiss untuk sekolah kedokteran, masa depannya masih terbentang panjang. Jangan hanya karena menghamili perempuan bodoh yang miskin lantas cita-citanya kandas!"

"Ya Tuhan, tega sekali Anda menyuruh Intan menggugurkan calon cucu Anda, Bu!" Bunda Kartini mengelus dadanya mencoba bersabar sekalipun dia yang selama ini merawat anak-anak yang dibuang oleh orang tuanya di panti asuhan merasa wanita di hadapannya berhati degil.

"Alaa—perempuan mata duitan saja sok-sokan jadi korban. Aku yakin pasti dia yang menggoda Zayn sampai jadi bunting begini, iya'kan?!" sentak Nyonya Selvi bernada tajam seolah pendapatnya pasti dijamin benar 100%.

Intan merasa lidahnya kelu dan air matanya seolah tak dapat dibendung terus mengalir. Dia baru sekali bertemu dengan mama Zayn. Pemikiran pemuda itu rupanya hasil didikan mamanya yang sebelas dua belas dengannya.

"Sudah, begini saja. Kalian 'kan mau uang, aku akan berikan cek giro senilai 100 juta rupiah. Cairkan itu di bank sepulang dari sini dan jangan pernah mengungkit masalah anak haram yang dikandung perempuan ini!" putus Nyonya Selvi dengan ringan. Dia menulis nominal di buku cek giro lalu menanda tanganinya.

Selembar kertas berharga 100 juta rupiah itu diulurkan ke hadapan kedua tamunya. "Ambil ini! Lalu cepat tinggalkan rumahku," tuturnya dingin.

Bunda Kartini dan Intan bertukar pandang dengan perasaan tak menentu. Karena belum bisa menentukan akan bagaimana, maka Bunda Kartini pun menerima lembaran cek giro itu dari tangan Nyonya Selvi.

"Bagus. Sekarang kalian enyah dari hadapanku. Orang miskin memang selalu bisa dibeli bukan? Sungguh menjijikkan!" hina Nyonya Selvi sebelum memanggil pelayan laki-laki di rumahnya untuk mengusir kedua tamunya.

Intan tak akan pernah lupa hari dimana harga dirinya diinjak-injak sedemikian hina oleh mama Zayn. Dia berdoa dalam hatinya bahwa suatu hari nanti karma dari Tuhan akan berbalik memukul wanita arogan tersebut.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED