Bab 1

Happy Reading

*****

Bunyi gelas jatuh ke lantai membuat kedua orang itu menoleh. Bukannya membereskan pecahan kaca, perempuan itu malah berlari menjauhi dua orang yang berada di ruang tamu. Suara-suara sumbang beberapa hari tentang sang suami tak pernah dihiraukan, tetapi saat mendengar secara langsung mengapa bisa sesakit ini.

Tangisan Ibu dua orang anak itu semakin menjadi saat melihat buah hatinya yang tertidur lelap. Wajah polos dengan segala keluguan sebagai penyemangat hidup. Tak terbayang jika mereka tahu kejadian hari ini.

"Ma, buka pintunya," teriak sang suami, "aku bisa jelasin semua."

Perempuan dengan tinggi 155 sentimeter itu enggan menjawab dan beranjak membukakan pintu. Tangan kanannya menyusuri setiap inci wajah anak-anak satu per satu. Sesekali mengecup kening mereka.

"Kalian harus jadi kuat setelah ini, Nak. Bantu Mama menghadapi semua, hanya kalian harapan Mama," ucap sang perempuan pada dua buah hatinya.

Sepulang sekolah dan makan siang, anak-anak bermain di ranjang kamarnya. Sesuatu hal yang sudah jarang sekali mereka lakukan, mengingat usia mereka yang semakin dewasa. Namun, Ardiyanti kini menyadari bahwa semua sudah tertulis. Kehadiran mereka di kamarnya sebagai penguat atas kabar yang baru saja dia dengar.

"Sayang .... Buka pintunya atau aku akan mendobrak," teriak si lelaki, sekali lagi.

Yanti mengusap kasar air mata, berbalik arah mendekati pintu. Air mata yang masih terus mengalir ditahannya kuat-kuat. Bukan sekali ini sang suami bermain hati, tetapi yang sekarang sudah sangat keterlaluan.

"Dobrak saja! Dari dulu kamu selalu melakukannya, 'kan?"

Lelaki pemilik nama Basukiharja itu membuka paksa pintu. Menarik keluar sang istri, membanting pintu dengan keras setelah mereka berada di luar kamar.

"Dengar! Suka tidak suka kamu harus menerimanya jika masih ingin hidup enak," kata Basuki tegas tak terbantahkan.

Apa katanya tadi? Jika ingin hidup enak? Sejak kapan aku hidup enak selama membangun mahligai bersamanya. Namun, semua kalimat itu, hanya mampu Yanti ucap dalam hati.

Perempuan dengan rambut lurus hampir sepinggang itu melepas paksa cekalan sang suami. Yanti berlalu pergi tak menghiraukan perkataan selanjutnya. Menyibukkan diri di dapur sebagai pengalihan.

"Kamu budek apa gimana? Suami ngomong itu dengerin!" teriak Basuki yang mengikuti langkah sang istri sampai di dapur.

"Ini rumah, Mas. Bukan lapangan atau alun-alun kota. Ada anak-anakmu yang sedang tidur. Apa pantas seorang abdi negara sepertimu melakukan semua ini?" kata Yanti.

Berkata lembut pada seseorang yang telah menyakiti hati harus tetap dia lakukan. Bukan karena memaafkan kebejatan Basuki, tetapi menjaga psikis anak-anak jauh lebih penting saat ini. Menekan segala ego yang dia miliki agar tak semakin memperkeruh perdebatan di rumah.

"Berani kamu sekarang, ya?" Tangan kanan si lelaki sudah mengayun pada pipi Yanti. Namun, teriakan si sulung menghentikan semua.

"Papa!" teriak Chalya, putri sulung keduanya yang masih berumur 16 tahun. Gadis belia itu memeluk erat Yanti.

"Jangan takut, Kak. Mama nggak papa, kok," ucapnya menenangkan disertai elusan tangan pada rambut si sulung.

"Papa nggak capek tiap pulang kerja selalu marah-marah? Kakak yang denger aja bosen, Pa. Ini rumah apa neraka sih sebenarnya." Chalya mengatakan sambil terisak.

Bagai bom waktu yang menunggu untuk meledak, ketakutan Yanti terbukti hari ini. Perkataan si sulung membuat perempuan itu tertampar. "Sudah ... sudah, Sayang. Kakak kembali ke kamar, ya," pintanya.

"Nggak, Ma. Kalau Kakak nggak datang tadi, Papa pasti nampar Mama." Tatapan penuh amarah Chalya tujukan pada orang tua laki-lakinya.

"Lancang kamu, Kak!" kata Basuki keras, "apa ini hasil didikan mamamu?"

"Mas," ucap Yanti.

Jari telunjuk si sulung menempel pada bibir mamanya. "Mama nggak pernah ngajari hal jelek sama Kakak. Kenapa nggak mau ngaca gimana perlakuan Papa selama ini pada kami." Gadis itu pergi meninggalkan kedua orang tuanya.

"Chalya ...," teriak Basuki. Dia mengejar putrinya yang terus berlari keluar.

Sampai di ruang tamu, si sulung melihat seorang perempuan yang sedang asyik bermain ponsel. Pertengkaran kedua orang tuanya seakan tak diketahui oleh orang itu. Chalya menatap tajam dan mengerutkan kening.

"Siapa njenengan?" tanya Chalya sinis.

Perempuan itu mendongakkan kepala menatap gadis di depannya. "Hai, kak," sapanya sok akrab.

Chalya menajamkan mata. "Tante siapa?"

"Dia temen Papa, Kak," terang Basuki yang sudah berdiri di ambang pintu ruang tamu.

Perempuan itu berdiri dan mendekat pada lelaki yang tahun ini berumur 35 tahun. Bergelayut manja pada pergelangan tangan kanan si empunya rumah. "Kok teman, sih, Mas."

"Oh, jadi Tante biang kerok pertengkaran Papa, Mama," kata Chalya, "jadi perempuan yang punya harga diri dikit, dong, Tan. Masak nggaet cowok yang udah punya anak-istri. Punya otak dipake napa."

"Kakak!" panggil Basuki marah.

"Papa nggak terima? Mau belain perempuan nggak bener ini? Dasar ...."

"Jangan teruskan kata-kata itu, Kak. Mama nggak pernah ngajari Kakak durhaka sama orang tua." Yanti menggelengkan kepala, meminta pada putrinya menghentikan semua.

Chalya keluar tanpa berkata apa pun lagi. Yanti menatap nanar dua orang di hadapannya. "Ini kan yang kalian mau?" Dia kembali masuk, meninggalkan perempuan yang masih bergelayut pada suaminya.

Bersama dengan Basuki sejak jaman putih biru, Yanti paham betul bagaimana sifat dan sikapnya. Jika ada yang membuat perempuan itu bertahan hidup dengan sang suami tak lain semua demi anak-anak. Menyandarkan pungung pada daun pintu, lalu meluruhkan tubuh ke lantai. Yanti kembali menangis dalam diam. Memukul-mukulkan tangan ke lantai, kecewa pada kehidupan dan takdirnya.

"Mama kok duduk di lantai," tanya putra bungsunya yang terbangun.

Gegas Yanti merapikan rambut dan pakaiannya. Berdiri, lalu menghampiri si bungsu. "Adik udah bangun?"

"Adik dengar orang teriak-teriak tadi, Ma. Ada apa?"

"Adik mimpi kali. Nggak ada orang teriak kok. Dah, bobok lagi, ya," suruh Yanti.

Cipta Bagaskara anak kedua dari Yanti dan Basuki, masih berumur 10 tahun. Bocah laki-laki itu menatap mamanya. Netranya berhenti pada mata sang Mama yang terlihat memerah dengan kabut menyelimuti seluruh kornea.

"Mama habis nangis?" tanya Bagas. Tangannya mengusap satu tetes air yang mengalir di pipi Yanti. "Apa Adik nakal lagi?"

Yanti menggeleng dan mendekap erat sang putra. "Adik nggak nakal, kok," jawab Yanti, terbata, antara menahan tangis dan ingus yang mulai menghambat pernapasan.

"Alhamdulillah kalau bukan karena Adik. Lepas dong, Ma! Adik mau berangkat ngaji. Tuh, suara azan asar dah terdengar," kata Bagas.

Seolah tuli oleh perkataan sang putra, Yanti terus mendekap Bagas. "Adik nggak usah ngaji hari ini. Libur sehari nggak papa, Sayang," ujarnya.

"Nggak bisa, Ma. Hari ini Adik harus setor hapalan surat Ad-Dhuha. Minggu lalu 'kan belum setor." Bagas turun dari ranjang Yanti hendak pergi ke kamarnya sendiri.

Perempuan dua anak itu sudah berusaha mengejar Bagas, tetapi si bungsu terlanjur keluar kamar. Seketika bocah kecil itu menghentikan langkah, mendengar suara tawa papanya dengan orang lain.

Bagas mendekati sumber suara dan melihat Basuki dengan seorang perempuan yang bergandengan tangan.

"Papa ngapain?" tanya Bagas.

Bukannya melepas genggaman tangan, Basuki malah mengenalkan perempuan itu sebagai calon Mama baru padanya.

"Mamaku cuma Mama Ardiyanti nggak ada yang lain." Dia pergi menjauhi mereka dan masuk kamar lagi.

Lengkap sudah kekecewaan Yanti hari ini. Semua orang di dalam rumah ini sudah mengetahui kebejatan sang suami.

Bab 2

Happy Reading

*****

Suara azan subuh sebagai penanda jika aktifitasnya akan segera dimulai. Yanti hendak turun dari ranjang, meskipun sang suami masih bergelung di balik selimut. Setiap hari aktifitas perempuan dengan dua anak itu, hanya berkutat pada pekerjaan rumah tangga. Dimulai dari matahari yang belum menyapa sang kekasih, bumi, hingga nanti menjelang perpindahan waktu.

"Mau ke mana, Ma?" tanya Basuki. Saat istrinya akan turun, tanpa rasa bersalah sama sekali.

Semalam pun, lelaki itu langsung tidur di sebelah Yanti disertai aktifitas mereka sebagai suami-istri. Entah, terbuat dari apa pikiran dan hati Basuki. Sore, menyakiti hati sang istri hingga remuk bak butiran debu diterbangkan angin. Malam, dia sudah berubah manis dan sok mesra. Seolah semua masalah yang terjadi beberapa jam lalu itu tidak pernah ada.

"Salat, Mas. Mau apa lagi, azan sudah manggil-manggil," jawab Yanti penuh kelembutan.

Basuki membuka mata, lalu duduk bersandar pada kepala ranjang. "Kebiasaan buruk, suami masih pengen tidur malah ditinggal salat," ucapnya sedikit bernada emosi.

Yanti tetap berjalan ke kamar mandi, dia hanya mampu mengucap istigfar dalam hati. Sampai kapan sang suami terus seperti itu, abai dengan segala kewajibannya pada Sang Khalik. Sebagai seorang istri, dia sudah sering mengingatkan sang suami tentang kataatan dalam menjalankan perintah-Nya. Namun, setiap kali pula Basuki akan marah dengan nasihatnya.

"Ketaatanku sama, Mas, tetap akan berjalan sesuai karidor syariat. Jangan melarangku untuk menjalankan perintah Allah karena pasti aku akan melanggar keinginanmu," jawab Yanti sebelum membersihkan diri. Pintu kamar mandi segera dia tutup.

"Halah, sok alim," kata Basuki yang sudah bisa diprediksi oleh Yanti.

Selalu, kalimat bernada sama seperti itu terucap oleh lelaki yang telah menghalalkan dirinya lebih dari sepuluh tahun. Yanti memang bukan perempuan salihah sebagaimana agama mensyariatkan, tetapi dia juga tidak pernah abai untuk menjalankan kewajiban beragama. Salat lima waktu tetap perempuan itu kerjakan, meskipun terkadang terlambat pelaksaanannya karena kesibukan yang tidak bisa ditinggal.

*****

"Iya, Sayang. Mas, segera ke sana, tapi nunggu bentar lagi," ucap Basuki pada seseorang di seberang.

Mata yang mulai berembun serta gerakan tangan kiri mengelus jantung Yanti lakukan. Tangan lain, cekatan menyiapkan hidangan sarapan untuk keluarganya. Tak ada rasa malu atau canggung dari Basuki saat mengatakan kalimat itu, seolah kehadiran sang istri tak pernah ada.

"Assalamualaikum, Mama," salam buah hatinya disertai ciuman pada kedua pipi.

"Waalaikumsalam. Kalian mau sarapan apa?  Roti atau nasi goreng?" Yanti bertanya pada kedua buah hatinya.

"Aku suamimu, harusnya tawarkan dulu padaku baru anak-anak. Hadeh jadi istri nggak becus banget." Basuki berkata dengan tangan dan fokus tertuju pada layar ponsel.

Chalya menatap sinis pada papanya. "Jangan cuma ingin dihargai, tapi hargai juga orang lain," sindirnya pada Basuki.

Si kepala keluarga mengalihkan pandangan pada putri sulungnya. Iris dan pupil indera penglihatan Basuki terbuka sempurna, kelopaknya terangkat ke atas sehingga kedua alisnya bertautan. Sendok di tangan kiri dia hentakkan pada meja.

"Siapa yang ngajari Kakak menyela ucapan orang tua, ha?!"

Bagas menghentikan gerakan tangan yang hendak mengambil piring berisi nasi goreng dari tangan mamanya. Sorot mata penuh kekecewaan jatuh pada Basuki, lelaki itu sudah dianggap gagal menjadi sosok pemimpin serta teladan yang baik. Namun, untuk mendebat seperti si kakak, jelas dia tak memiliki keberanian.

Basuki menyadari tatapan si bungsu. "Adik juga. Jangan sekali-kali melawan omongan, Papa. Ngerti?" katanya dengan nada keras.

Kasar, Bagas berdiri. "Ma, Adik berangkat dulu," ucapnya.

Tangan kanan bocah sepuluh tahun itu cepat meraih jemari sang Mama menciumnya sebagai bentuk penghormatan, lalu pergi tanpa pamit pada Basuki. Setengah berlari dia keluar. Tidak ada sarapan atau minuman yang masuk ke perutnya pagi ini.

Tatapan sang kepala keluarga kini mengarah pada Yanti. Wajah memerah penuh amarah terlihat jelas. "Inikah hasil didikanmu pada anak-anak. Dasar wanita nggak guna." Basuki membanting sendok sekali lagi ke meja.

Lelaki itu pergi meninggalkan rumah tanpa sarapan. Kemarahan serta kekerasan verbal yang terucap tadi tak segan ditunjukkan di depan anaknya. Bagaimana perkembangan psikis si sulung yang menginjak dewasa dan butuh figur teladan dari orang tua, tak lagi dipedulikan lelaki itu.

Chalya mendekati perempuan yang telah melahirkannya dengan perasaan yang sulit dideskripsikan.

"Kenapa Mama nggak ngelawan Papa? Dia sudah keterlaluan, Kakak benci Papa," ucap si sulung yang membuat Yanti terkejut.

"Jangan lakukan itu, Kak. Gimana pun, dia papamu. Adanya Kakak di dunia karena beliau juga. Doakan Papa, ya, biar berubah kayak dulu lagi." Yanti mendekap sang putri dan salah satu tangannya mengelus rambut disertai kecupan beberapa kali.

"Kenapa Mama masih bertahan dengan Papa?" tanya gadis yang baru merangkak dewasa itu.

"Kelak Kakak pasti tahu alasan Mama." Yanti melepas dekapannya, memegang kedua bahu si sulung dan berkata, "Yuk, sarapan!" Dia menggiring Chalya duduk kembali.

Setelah melihat putrinya menyantap nasi goreng. Yanti berjalan ke dapur, mengambil kotak bekal yang akan diisi untuk si bungsu.

"Kak, mampir ke sekolah adikmu dulu, ya. Kasihan dia belum sarapan tadi, botol minumnya juga nggak sempat dibawa." Yanti menyerahkan barang yang disebut.

Sekolah Bagas dan Chalya memang searah. Sejak kelas empat, si bungsu sudah tidak mau diantar-jemput lagi. Dia lebih suka naik sepeda miliknya sendiri, sedangkan si sulung sejak dia berseragam putih abu-abu juga sudah mengendarai kendaraan sendiri ke sekolah. Sebuah motor yang dirancang khusus untuk perempuan orang tuanya berikan sebagai kado pada ulang tahun yang ke 15, tahun lalu.

"Kakak berangkat, ya, Ma," pamit Chalya setelah menyelesaikan sarapan.

Yanti mengangguk. "Hati-hati, ya, Kak. Nggak usah mikir macam-macam. Fokus sama pendidikanmu aja, lupain yang lain." Dia pun memberikan senyum terbaiknya.

Begitulah seorang Ibu walau hatinya sakit, tetapi tetap menunjukkan kebahagiaan. Jika ada penghargaan terbaik seorang aktris, tentu setiap perempuan yang bergelar ibu adalah pemenangnya. Mereka selalu apik melakonkan peran, meskipun harus berbohong demi kebahagiaan keluarga terutama anak-anaknya.

Setelah mengantar kepergian si sulung, Yanti kembali masuk. Melakukan pekerjaan rumah yang belum selesai. Hal pertama adalah membereskan meja makan dan mencuci seluruh peralatan yang sudah digunakan. Selesai dengan itu, dia segera menata dan membersihkan kamar tidur anak-anak. Rutinitasnya akan berulang setiap hari dan terakhir yang dilakukan adalah mencuci pakaian.

Satu per satu baju yang akan dicuci diperiksa kantongnya. Sering kali anak-anak dan suaminya meninggalkan sesuatu di sana. Kali ini, celana sang suami yang dia pegang. Dari luar saja sudah terlihat jika di dalam kantong itu ada sesuatu karena permuakaan yang terlihat menonjol.

Tangan kanannya mulai masuk ke dalam celana, menyentuh sebuah benda yang diperkirakan kotak kecil. Yanti segera mengeluarkan apa yang ditemukan, saat itu juga reaksinya langsung berubah. Tulisan di luar kotak itu membuatnya mengerutkan kening. Beberapa detik memejamkan mata dan meraup seluruh wajah, berhenti dengan menutup mulut tak percaya.

Ya Allah semoga isi benda ini tidak seperti dugaanku.

Celana Basuki, dia masukkan ke mesin cuci. Ragu-ragu perempuan itu membuka kotak benda yang dipegang. Ujung yang mulai terlihat masih belum membuktikan apa-apa karena hasil kerja benda itu belum tampak. Detak jantung Yanti kian bergemuruh ketika netranya menangkap garis merah di sana.

Tak sabar, dia mengeluarkan seluruh isi kotak. Saat itu juga, iris pupilnya melebar, terhuyung Yanti menatap benda mungil panjang di tangannya.

Astagfirullah. Apa lagi ini, Ya Allah?

*****

Bab 3

Happy Reading

*****

Segala kesakitan dan pertanyaan masih tersimpan sampai saat ini. Alih-alih menanyakan pada sang suami, Yanti malah memikirkan bagaimana perasaan Basuki jika benda yang meruntuhkan hati itu ditanyakan pada jam kerja. Tentu fokus sang suami terpecah, jadi perempuan itu menangguhkan semua tanya hingga nanti si lelaki pulang.

Berbagai macam pikiran mulai terbayang. Isi kepala Yanti mulai merangkum beberapa kejadian sebelum-sebelumnya. Bagaimana sang suami sangat tegas mengatakan bahwa dia akan segera menikah dengan perempuan yang dibawanya kemarin. Sikap Baasuki yang makin abai dan kasar pada keluarga, mungkin benda itulah sumber segalanya.

Tugas mengurus rumah tetap perempuan itu lakukan walau hati dan pikirannya entah mengembara ke mana. Pekerjaan yang seharusnya selesai sebelum si bungsu datang, kini malah molor. Hingga Bagas pulang sekolah, masih banyak yang belum sempat tersentuh tangan.

Baju kering kemarin yang belum disetrika dibiarkan begitu saja di dalam keranjang. Yanti malah duduk termenung menatap akuarium mini yang berisi ikan hias kecil-kecil milik Bagas. Tangan kirinya menopang wajah, matanya terpejam memikirkan sesuatu. Sementara tangan kanan masih memegang benda penghancur hati. Beberapa kali jari-jarinya memijit pelipis yang makin terasa nyeri. Sering juga dia mengembuskan napas panjang. Benda kecil itu sanggup meruntuhkan kepercayaan bahwa suaminya akan segera berubah.

Bagas yang baru pulang dari sekolah, mendapati mamanya yang tampak lelah. Suara salam yang dia berikan tak juga dijawab hingga beberapa kali mengulang. Diam-diam dengan berjinjit, bocah itu mendekati Yanti. Setelah jarak mereka cukup dekat, Bagas mencium pipi kiri mamanya.

"Astagfirullah, Adik," ucap Yanti kaget, "masuk salam dululah, Nak. Kalau Mama jantungan gara-gara kaget gimana?"

"Adik tadi udah salam. Mama aja yang nggak dengar, makanya langsung cium biar tahu kalau Adik pulang," terang Bagas.

Yanti menyembunyikan benda mungil tadi di bawah paha kanan sebelum si bungsu mengetahui dan bertanya.

"Makasih, ya, Ma. Udah dibawain bekal tadi. Untung aja Mama nitipin ke Kakak kalau nggak, Adik bisa kelaparan. Mana lagi pelajaran olahraga." Bagas mengembuskan napas panjang, sebentar. Teringat kejadian tadi pagi yang membuatnya enggan sarapan.

"Sama-sama, Sayang. Udah tugas Mama merhatiin kalian semua."

Pikiran Yanti kembali mengambara. Biasanya, jika salah satu anaknya pulang sekolah perempuan itu gesit menyiapkan makan buat mereka, tetapi tidak kali ini. Dia diam saja dengan mata menatap plafon.

"Adik mau ganti baju dulu, Ma," pamit Bagas yang masih bingung dengan keadaan mamanya.

Sekitar lima belas menit kemudian, suara salam lelaki yang ditunggu-tunggu terdengar. Kebiasaan Basuki jika waktu makan siang akan pulang ke rumah dan hal itu belum berubah sampai saat ini. Yanti beranjak dari duduk menyambut sang suami. Namun,  kakinya mendadak seperti tertempel lem, tatapannya tajam melihat tangan Basuki yang menggandeng seseorang.

"Ma, siapkan makan siang, ya. Dua porsi, sekalian buat dia," lirik Basuki pada perempuan yang dibawa. Kemarin pun, perempuan itu datang dan menimbulkan gonjang-ganjing di rumah mereka.

"Istrimu lelet banget, sih, Mas. Betah, ya, hidup sama perempuan kayak gitu," cibir perempuan yang mengenakan rok di atas lutut dengan kemeja berlengan pendek ketat. Lekukan tubuhnya terlihat jelas, apalagi bagian depan tampak membusung.

Yanti berjalan ke arah dapur. Malas berdebat karena di rumah ini bukan cuma ada dia, tetapi si bungsu juga. Satu jam lagi si sulung juga datang. Jika perempuan itu tidak segera melaksanakan perintah Basuki, pasti keributan seperti kemarin bakal terjadi. Psikis buah hati mereka perlu dijaga.

Semua masakan yang sudah di masak, Yanti hidangkan di meja makan. Sayur sup ditemani ayam goreng kalasan dengan sambel kecap diberi sedikit kacang terlihat menggoda. Tempe dan tahu bacem menjadi lauk pelengkap makan siang kali ini. Selesai menyiapkan semua, perempuan itu memanggil suami dan anaknya.

Dari arah kamar, Bagas keluar. Tepat di pintu yang menghubungkan dapur dan meja makan dia melihat perempuan yang ditemuinya kemarin. Kakinya berbelok arah, enggan makan siang bersama papanya dan hal itu diketahui Yanti.

"Dik, ayo makan siang. Dari pulang sekolah tadi kamu 'kan belum makan," pinta Yanti.

"Adik nggak laper, Ma. Nanti aja nunggu Kakak." Bagas berjalan ke kamar lagi.

"Silakan kalian makan dan nikmati hidangan itu tanpa memikirkan perasaan kami," sindir perempuan berkulit sawo matang itu. Namun, dia tetap berada di meja makan.

"Masakan sederhana gini, mana bisa aku makan dengan nikmat, Mas. Istrimu nggak bisa apa masak yang lebih wah, gitu," ujar perempuan yang dibawa Basuki.

"Ini aja udah lezat, Sayang. Aku 'kan harus nabung buat pernikahan kita nanti." Basuki mencoba merayu si perempuan.

Cemburu, jelas Yanti rasakan. Tak ada satu perempuan pun sudi melihat kejadian seperti yang dialaminya di depan mata. Kata-kata manis dan rayuan suaminya pada sang perempuan berbanding terbalik dengan perlakuan kepadanya. Yanti mengelus dada, menahan emosi yang mulai merayap di hati.

"Mas, setelah makan nanti kita perlu bicara. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan." Setelah mengambil piring berisi makanan, Yanti meninggalkan mereka berdua.

"Mau ngomong apa perempuan itu, Mas?" tanya wanita yang bernama Ilyana.

Basuki mengangkat kedua bahu dan melanjutkan acara makan siang. Memasukkan makanan yang sudah di masak sang istri ke dalam mulut. Tak memungkiri keahlian Yanti dalam mengolah masakan, lelaki itu selalu puas dengan hasilnya.

Selesai menghabiskan makananan, Basuki meninggalkan Ilyana. "Bereskan meja, ya. Aku mau temui istriku."

"Lho, kok, aku? Aku kan nggak bisa ngerjain yang berat-berat, Mas. Kalau sampai dia kenapa-kenapa, nyesel, lho." Ilyana mengusap perutnya yang belum terlihat membuncit.

"Apanya yang berat?  Cuma naruh piring kotor ke cucian aja. Jangan malas, deh. Perempuan hamil juga butuh gerak." Basuki meninggalkan Ilyana tanpa menatap lagi.

Hentakan kaki merupakan protes dari sikap Basuki. Ilyana merengut, marah. Apa-apaan dia? Aku kan males kalau suruh ngerjain beginian.

Setengah hati, perempuan itu membereskan peralatan yang ada di meja. Menaruhnya pada wastafel di dapur tanpa berniat mencuci. Setelah itu, Ilyana menghampiri sang kekasih.

"Ya, itu memang punya Ilyana. Terus kamu mau apa? Nggak terima kalau aku nikah lagi?" kata Basuki penuh emosi.

"Mas, lihat anak-anak. Bayangkan perasaan mereka saat tahu papanya menghamili perempuan lain. Kamu itu abdi masyarakat." Yanti berkata disertai isakan kecil.

"Ya, mau gimana lagi. Dia terlanjur hamil. Lagian semua ini terjadi juga gara-gara kamu."

Yanti mendelik, tak percaya ucapan suaminya. "Salahku di mana, Mas?"

"Ya, salah. Kamu jarang nemenin aku ke acara-acara kantor. Kalau diajak keluar sekedar bersenang-senang alasanmu banyak banget. Belum lagi saat aku membutuhkan kehangatan malam hari. Kamu sering menolak dengan alasan capek."

Yanti terhuyung ke belakang hingga terjatuh di pinggir ranjang. Teganya lelaki itu berkata menyakitkan seperti barusan. Seluruh pengorbanannya tak berarti apa pun.

"Tuh, denger. Makanya jadi istri yang becus ngurus suami." Ilyana nyelonong masuk ke kamar mereka berdua. Sesuatu yang seharusnya tak boleh dilakukan oleh seorang tamu.

Basuki menggandeng tangan Ilyana keluar, meninggalkan istrinya yang meratapi kesedihan. Tak ada penyesalan atau permintaan maaf. Semua seolah biasa saja bagi lelaki itu dan sang kekasih.

Di mana rasa malu saat berbuat dosa yang telah mereka lakukan? Semua dilakukan secara terang-terangan di depan mata perempuan yang telah sah sebagai pasangan Basuki. Jika sudah seperti ini di mana letak kesalahan itu?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED