Ketika cinta berkata lain.
Ada hangat yang tercipta dalam kalbu, mencipta senang dengan rasa yang menggebu-gebu.
Rayden Arditama adalah seorang pengusaha sukses, bahkan dia berada diurutan ketiga orang terkaya di Asia. Namun anehnya tidak banyak yang tahu identitas lengkap seorang Rayden Arditama, karena selama ini yang menghadiri acara-acara pentingnya adalah wakilnya yang bernama Chimmileonard. Dan hal terpenting yang orang lain tidak tahu adalah bahwa dia sudah MENIKAH !
Sadiza Liliareswati adalah mahasiswi semester 3 yang lugu, aktif, ceria, manja dan sedikit jail. Adik dari pengusaha batu bara, Ardian Jinnamo, ini telah dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan orang yang ia sukai sejak SD. Waww betuntung sekali nasibnya. Dan semenjak itu orang-orang disekitarnya mulai tahu sikap tersembunyinya.
27 Maret 2020
Pernikahan Sadiza dan Rayden di gelar dengan sangat mewah. Dan dipenuhi dengan banyak tamu dan reporter. Kedua pasangan yang dipersatukan lewat perjodohan orang tuanya ini duduk berdua di singgahsana raja-ratu sehari mereka dengan raut wajah yang bahagia. Orang-orang bergantian datang ke atas panggung untuk bersalaman dan memberikan ucapan-ucapan selamat dan doa-doa baik.
Diza berbisik pada Rayden. "Bee ... aku capek."
Rayden yang mendengar permintaan honeynya diam-diam mengeluarkan smirk-nya.
"Oke." Rayden berucap singkat kemudian berdiri sambil memegang gelas dan garpu, kemudian mendentingkannya tiga kali.
"Ting ... ting ... ting ..."
"Perhatian sepertinya saya dan istri saya akan melanjutkan acara yang lebih privat. Silahkan nikmati acaranya."
Diza tercengang dengan kejujuran suaminya. Beberapa tamu juga berekspresi demikian.
"Let's go honey, ayo kita mulai petualangan kita." Ucap Rayden sambil menggendong Diza yang masih tercengang.
Prok prok prok. "Anak saya memang sudah sangat dewasa. Mari kita lanjutkan acaranya." Ayah Rayden yakni Willard Arditama, mengalihkan perhatian tamu dengan bertepuk tangan, dan mempersilahkan mereka untuk kembali menikmati makanan yang tersedia dan penampilan musik jazz dari grup band terkenal.
Sesampainya di kamar Rayden melemparkan Diza ke atas ranjang mereka yang bertabur bunga mawar dan dirangkai berbentuk hati.
"Aww! Bee kok kasar sih?!" Protes Diza.
"Sorry honey, aku akan melanjutkannya dengan perlahan." Rayden perlahan melepaskan dasi yang mengekang lehernya berjam-jam lalu.
Kemudian membuka kancing kemejanya satu-persatu.
Lalu ...
"Aduh!"
"Loh kok!"
Diza mengaduh sesaat dirinya terjatuh dari atas ranjang.
"Aww mimpi gue ajib banget. Mana pegelnya kerasa lagi," ucap Diza sambil memegangi pinggangnya.
Diza melihat kesekitar dan merasa aneh.
"Dimana ini? Apa gue diculik?!" Gumam Diza dengan suara lirih.
Diza kemudian memeriksa keadaan dirinya dan betapa terkejutnya dia melihat ...
"AAAAaaaaaaaaaa!!"
"Honey, are you okay?" Rayden yang mendengarkan suara istri kesayangannya berteriak. Langsung bergegas sampai kamar mereka, padahal tadi ia sedang ada di dapur dan menyiapkan sarapan mereka.
"Ohh bee?! Ini beneran?!" Diza takjub melihat orang yang sejak lama dicintainya benar-benar ada di depannya dan sekarang sedang menyentuh pipinya dengan kedua tangan hangat pria itu.
"Hmm, kamu nggak lihat ini." Rayden menunjuk leher atasnya, dan membuat Diza tersipu malu.
"Berarti sekarang kamu suami aku?" Tanya Diza dengan mata berbinar.
"Iya dong, dan kamu istriku yang paling aku cintai." Ucap Rayden sambil memeluk istrinya dan mengelus punggung istrinya lembut. 'Sepertinya Diza shock karena pernikahan kita yang mendadak aku harus segera membuatnya nyaman' -batin Rayden.
Diza balas memeluk Rayden dan meletakkan dagunya di bahu Rayden. "Berarti mulai saat ini kamu milik aku, kamu nggak boleh lirik perempuan manapun, cuman boleh ada aku dimata kamu," ucap Diza serius.
Rayden mencium dahi Diza dan berbisik di telinga Diza dengan nada dalam. "Tentu honey, i'm yours."
'and you're mine, as always,' batin rayden, dan menyembunyikan senyum misteriusnya di leher Diza.
“Berarti kemarin itu ..." Diza tersipu malu dan secara tak sadar menggigit bahu Rayden.
“Sss ... honey ayo kita makan dulu.” Rayden lebih memilih mengalihkan pembicaraannya daripada harus mengikuti apa yang kepalanya pikirkan.
“Kamu pasti laparkan honey? ayo aku sudah menyiapkan nasi goreng limited edition buatan lelaki paling tampan yang hanya boleh dimakan oleh perempuan paling cantik di dunia ini.” Rayden menggendong Diza ala bridal style menuju ruang makan.
Sepanjang jalan itu Diza mengamati ruangan yang mereka lewati, tadi malam dia belum melihatnya dengan jelas karena keadaan lampu yang remang-remang. Ruangannya sangat luas dengan berbagai ornamen klasik yang menghiasi dinding, dan sudut-sudut ruang. Dindingnya di cat dengan kombinasi putih dan warna emas, bahkan tangga yang mereka lewati berlapis emas. Rayden kemudian membuat Diza duduk di atas kursi yang berada di balkon dengan pemandangan yang sangat indah, langit biru yang menawan hati tersaji dengan perpaduan awan-awan yang seperti permen kapas, bangunan-bangunan besar yang sekarang terlihat seperti mainan lego bagi Diza. Sejenak Diza takjub, dan disadarkan oleh deheman suaminya.
“Ehem, bukannya di sebelahmu ada pemandangan yang jauh lebih indah?” ucap Rayden sembari meletakkan 2 piring nasi goreng buatannya dan 2 gelas honey lemon ice tea, di meja yang ada diantara dua kursi.
Diza kemudian mengamati penampilan suaminya. Rambutnya yang hitam legam dan sangat lembut saat Diza menjambaknya, turun lagi ke matanya yang tajam namun penuh kehangatan dan menggelora, hidungnya yang mancung seperti perosotan anak kecil, bibirnya yang penuh dan berwarna pink cerah yang membuat Diza sangat iri, lehernya yang kokoh, badannya yang tegap dan berotot di tempat-tempat yang seharusnya, kebawah lagi …
Ctek ctek ctek.
Rayden menjentikkan jarinya agar istrinya tersadar akan pesona dirinya.
“Ehem honey, ayo kita makan, nanti keburu dingin,” ucap Rayden dengan telinga yang memerah. Rada panas-dingin kalo ditatap honey-nya
Keduanya kemudian makan dengan penuh nikmat.
“Ah kenyang!” ucap Diza sambil menepuk-nepuk perutnya. Rayden yang rupanya sudah menyelesaikan acara makannya sedari tadi memperhatikan Diza yang makan dengan lahap. Sambil membatin, ‘Ah imutnya istriku, pasti dia butuh banyak makanan untuk mengisi ulang energinya.’
Mengetahui suaminya memperhatikan dirinya, Diza jadi ikut memperhatikan penampilannya. Rambut coklatnya yang kusut, mata yang sepertinya ada beleknya, kimono yang kusut. ‘Eh aku ileran nggak ya?’ tanya Diza dalam hati sambil meraba-raba disekitar bibirnya.
Seakan tahu apa yang dipikirkan Diza, Rayden berucap, “Nggak ileran kok.”
“Ish iya dong, aku emang nggak pernah ileran bwee.” Ucap Diza kemudian menjulurkan lidahnya untuk mengejek Rayden.
“Tapi boong, tuh udah mencetak benua Australia di pipi kiri kamu.” Lanjut Rayden.
Diza terkejut dan segera mencari-cari kaca sambil menutupi pipi kirinya dengan tangan kiri. “Aaah! Kaca mana kaca?”
Saat Diza sibuk mencari kaca, Rayden mendekat dengan cepat mengambil tangan kiri Diza dan mengecup kilat pipi kiri Diza dan berbisik, “Tapi bohong lagi.”
Rayden kemudian memanggul Diza dan membawanya ke kamar mereka. Sengaja nggak bridal style lagi takut kena cakar.
“Rayden gilaa! Dasar tukang boong! PK! Aku bukan karung beras woii! Omel Diza sambil memukul-mukul punggung Rayden.
“Sssttt honey, kamu belum mandi.” Rayden kemudian membuka pintu kamar, dan ….
“Sssttt honey, kamu belum mandi.” Rayden kemudian membuka pintu kamar, dan menurunkan Diza. Diza merasakan bumi disekitarnya berputar saat Rayden menurunkannya. Saat Diza hampir terjengkang namun Ray segera memeluk Diza.
“Maaf honey, kamu jadi pusing ya?” Ray jadi menyesali perbuatan jailnya yang malah memanggul istrinya itu.
“Ish udah tau pake nanya lagi,” gerutu Diza sambil memukul manja dada suaminya.
“Cup cup cup ... Baby gede nggak boleh ngambek,” ucap Ray sambil mempererat pelukannya dan mempuk-puk kepala Diza.
‘Mmmh.” ‘Dada Ray sandar-able banget sih, jadi ngantuk’ –batin Diza. Diza yang sudah akan sampai ke Antartika malah dibangunkan oleh Ray.
“Honey, cepet mandi biar seger.” Ray menyadarkan Diza.
“Males,” ucap Diza sambil menduselkan kepalanya di dada Ray.
Ray tersenyum dan mengecup kepala Diza. “Aku mandiin ya,” ucap Ray sambil tersenyum-senyum.
“Dih itu mah maumu.” Diza langsung tersadar 100% dan segera melepaskan pelukan mereka untuk pergi ke kamar mandi.
Saat pertama kali Dia membuka kamar mandi Diza langsung dibuat terpukau oleh arsitektur dalam ruangan itu. Selain karena handle dan pancuran yang berlapis emas, dan kaca besar yang didampingi dengan meja yang berisi peralatan mandi terlengkap dengan merek yang Go International. Jacuzzi yang digunakan juga dihiasi banyak batu giok di sekelilingnya.
“Wah apa ini asli?” Diza mengusap-ngusap giok itu dan berusaha mencongkelnya namun tidak berhasil. “Ah sayang sekali pasti sangat indah jika giok itu berada di jari-jari ku,” gerutu Diza. Diza mengusap-ngusap jari kirinya yang polos.
“Hmmm… Wangi bunga lavender memang sangat cocok dipakai untuk aroma terapi.” Diza sangat menikmati harum yang menguar di sekelilingnya.
Di dalam Jacuzzi juga telah terisi air dengan bunga berbagai warna. “Hmm banyak banget bunganya, dikira aku ratu lebah apa ya?” gerutu Diza.
Diza kemudian menggerakkan jarinya ke dalamnya untuk mengecek suhu air. “Hangat.”
Dan Diza memutuskan untuk berlama-lama tenggelam dalam kenyamanan yang diberikan ruangan tersebut.
“Aaahh segarnya!” seru Diza yang memakai kimono dan merentangkan kedua tangannya setelah keluar dari semedinya di kamar mandi. Diza tersenyum bahagia sambil memeluk tubuhnya karena sekarang ia merasa rileks.
“Bahagia banget hmm,” ucap Ray setelah mengecup leher Diza.
Diza sempat terkejut sejenak karena merasa ada yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Diza kemudian berbalik menghadap Ray untuk memeluknya.
“Uuh baby bear-ku. Sini-sini peluk aku yang udah harum ini,” ucap Diza sambil menepuk-nepuk punggung Ray.
Ray semakin mengeratkan pelukannya dan menghirup dalam aroma alami istrinya yang benar-benar memabukkan.
Tapi Diza yang tidak tau situasi mesra itu langsung menghempaskan Ray jauh-jauh.
“Eh Jin Tomang ngasi kita hadiah voucher berlian loh, ayo kita siap-siap ke ke mall.” Segera Diza pergi ke ruang ganti baju untuk bersiap-siap untuk membangkrutkan abangnya itu. Kapan lagi Namo mau memberikan kartu AMEX black card miliknya itu.
Setelah dua jam Diza bersiap-siap dari memakai make up minimalis, rambut yang sedikit di-blow di ujungnya, dan memilih baju yang lamanya berjam-jam dan akhirnya memutuskan untuk memakai blouse lengan panjang warna merahmuda dengan motif kotak-kotak dan pita manis yang melingkar dipinggang dipadukan dengan rok hitam selutut, membuat penampilan Diza sangat manis. Diza kemudian menghampiri Ray yang sedang sibuk dengan ipadnya di ruang tamu.
“Bee ayoo ...” Ajak Diza manja.
Ray yang sempat terpaku akan kecantikan istrinya langsung sigap mendengar ucapan Diza.
“Oke ayoo ...” Ajak Ray, dan menarik Diza kembali ke kamar.
Namun sebelum menjejak tangga Diza menghentikan suaminya. “Ih aku udah siap-siap Bee, kamu sana siap-siap cepetan nanti mallnya tutup.”
“Hah?” Cengo Ray.
Diza menggembungkan pipinya dan menghentakkan kakinya. “Ayo anterin aku ke mall Beee ...”
“Ngapain? Kamu nggak capek hon?” tanya Ray khawatir.
“Nggak dong kak aku mau ngabisin ini!” Smirk Diza sambil menunjukkan kartu AMEX milik Namo di tangan kanannya.
Ray mendekat dan menangkup kedua pipi Diza. “Honey, aku kan udah kasih kamu tiga, kalo kurang nanti aku tambahin lagi.”
Diza langsung menghempaskan kedua tangan Ray dan pura-pura menangis. “Hiks ... hiks ... kamu tuh gatau rasanya jadi aku, aku tuh selalu dibully abangku, jadi aku mau balas dendam, hiks ... hiks ...,” ucap Diza sambil pura-pura menangis.
Ray memeluk Diza. “Iya ... iya ... aku siap-siap dulu,” ucap Ray. Kemudian beranjak pergi ke kamar mereka.
Setelah melihat Ray menghilang di balik tangga, Diza jingkrak-jingkrak sendiri kesenengan. “Yes yes.. tungguin kamu bangkrut ya bang,” ucap Diza sambil menciumi kartu milik Namo.
Ray di kamarnya menggerutu, ‘Bisa-bisanya Namo kasih hadiah itu di hari pertama pernikahan kami Hufftt …’ Tentu saja Ray sangat tidak rela kecantikan istrinya dinikmati banyak orang, namun jika itu bisa membuat Diza bahagia apapun itu akan Ray usahakan.
Setelah 15 menit Ray kemudian menuruni tangga dengan penampilan kerennya. Kaos putih sebagai dalaman dan menggunakan kemeja merah kotak-kotak sebagai outfit dipadu dengan ripped jeans hitam.
“Ayo hon”
Ray kemudian merangkul pinggang Diza dan mengajaknya turun ke basemant untuk mengambil mobil Bugati La Vo*****e No**e
.
.
.
Tak perlu waktu lama untuk sampai di sebuah mall terkenal yang tentu berdekatan dengan hotel bintang lima. Namun keduanya tidak tahu apa yang menanti mereka disana.
.
.
.
.
Di sebuah mall besar di kota terjadi perseteruan sengit dua orang yang menjadi pusat perhatian alias tontonan para pembelanjaners tapi kali ini secara diam diam.
"Honey.... udah tanganmu lepas ajaa.." ucap seorang laki-laki muda yang yang sedang berjalanan beriringan dengan istrinya yang memeluk perut pria itu dengan kedua tangannya.
"Kenapa? Kamu malu punya istri kayak aku? " ucap pendebat sang istri cantik dengan cemberut sembari melepaskan tangannya begitu saja.
"Gak gitu hon-" Ray berusaha menjelaskan, namun Diza dengan kejam memotongnya.
"Udah dari dulu kamu emang malu kalo berduaan sama aku kan! Mau jadi suami aku pasti karena dipaksa ama bunda!! Dasar jahat!!" Ucap Diza dengan mata berair dan pergi dari hadapan Rayden.
Yaaa.. benar pasangan itu adalah Rayden dan Diza.
Melihat Diza yang akan pergi dari hadapannya, Rayden segera bereaksi dengan menarik lengan kiri Diza dan memeluknya erat, sedemikian eratnya sampai Diza kesusahan mengambil oksigen.
"Lepasin Ray, lepasin!!!" Teriak Diza sambil memukul-mukul pelan punggung Rayden.
Rayden mengelus rambut Diza berusaha menenangkan "Ssstttt... honeyy.. kamu tahukan aku selalu cinta ama kamu" Rayden tak peduli kenyataan bahwa sekarang mereka menjadi tontonan pembelanjaners atau bisikan-bisikan disekitarnya. Karena fokus dunianya saat ini hanya satu –Honeynya-.
Bulir air telah membasahi pipi Diza yang mulus "Hikss hikss.. ta-tapii.. ka-kamu.. hikss nyuruh aa-"
"Ssttt.. udah-udah maksud aku tadi tuh biar kamu gak kesulitan jalannya. Masak jalannya sambil ke seret-seret gitu karna kamu gak mau lepasin pelukan kamu.." Akhirnya Rayden dapat menjelaskan maksud sebenarnya, ia sebenarnya juga ingin melakukan hal yang sama dengan honeynya namun mengingat kondisi istrinya tadi malam, Ray memutuskan untuk tidak egois kali ini. Ia ingin menggendong istrinya namun istrinya sendiri menolak opsi ini saat berdiskusi dalam perjalanan.
"Hikss hikss... ta-taapi kan me-"
"Aku.Cuma.Punya.Kamu.Honeyy... Don't worry.. liat muka kamu jelek kalo lagi nangis gitu" ejek Ray lupa situasi.
Diza langsung berhenti menangis dan melotot pada Rayden.
Rayden yang melihat pelototan itu hanya nyengir saja tapi di dalam hati seneng banget karena berhasil nenangin si honey trus bilang "Ingus mu tuh kemana-mana hon"
Diza kelabakan mendengar perkataan Ray dan segera membersikan ingusnya ke kaos putih yang sedang dipakai Rayden.
Rayden yang sudah terbiasa dengan kelakuan honey-nya cuman bisa ngembusin nafas pasrah toh honeynya juga yang akan bersihkan nanti.
Si pelaku hanya menyengir polos pada Rayden.
"Maaf ya bee... nanti aku cuci dehh.." ucap Diza dengan wajah dibuat seimut mungkin agar Rayden tidak marah padanya.
"Iya-iya udah yuk lanjut jalan lagi" ucap Rayden penuh perhatian.
Diza yang masih dalam dekapan Rayden menggeleng-gelengkan kepalanya "Nggak! Nggak mau!!"
"Kenapa?" Tanya Rayden bingung.
"Habisnya-.."
"Kenapa?" tanya Rayden bingung.
Diza memonyongkan bibirnya-tanda kalo dia sedang tidak mood dan menatap Ray sebal. "Habisnya cewek-cewek kurbel bin jablay bin cap cabe 5 kilo itu pada liatin kamu bee ... dan aku gak suka itu!!"
Rayden terkikik geli mendengar kata-kata Diza apalagi saat melihat ekspresi istrinya itu. Diza mengembungkan pipinya dan berusaha lepas dari kukungan Ray melihat suaminya hanya menertawainya tanpa membujuknya. "Udah lepasin aku."
Ray berusaha menghentikan kikikannya dan kembali membujuk si Ratu Ngambek tanpa mengendurkan pelukannya. "Dih ngambek ... udah gini aja nanti jalannya kamu sambil peluk aku kayak tadi aja ya hon?"
Diza masih mengembungkan pipinya tapi sudah berhenti memberontak dan menyamankan pelukannya pada Rayden. "Nggak! Nggak aku udah gak mood lagi! Mau pulang!"
"Loh terus gimana nasib pembalasan dendam ke abang yang udah ngebully kamu? Nanti Namo berubah pikiran lagi," ucap Rayden.
"Bener juga ya ... nanti bagaimana nasib kartu limited edition abang aku?" tanya Diza pada dirinya sendiri.
DRRRTT DRTTT.
Ponsel Diza bergetar, Diza segera mengecep pesan yang masuk. “Bee , temen aku mau ketemu aku di tokonya, yuk kesana,” ucap Diza menejelaskan pesan yang masuk ke ponselnya.
"Nah kan ... udah yuk lanjut jalannya," ucap Ray lalu melepaskan pelukannya dan menggandeng lengan Diza. Ray kembali melanjutkan langkah tapi diurungkan saat ia merasa seorang yang digandeng tidak mau bergerak.
Menoleh ke belakang dengan tangan tertaut dengan Diza dan mendapati muka cemberut Diza. "Kenapa honeeyy?" tanya Ray perhatian.
Diza melepaskan tautan tangannya dan membuka lebar kedua tangannya. "Peluukkk ..."
Ray kembali ke belakang dan memeluk Diza. "Uuuu honeynya aku lagi pengen dimanja-manja ya?" ucap Ray sambil menggoyangkan pelukan mereka.
Kepala Diza yang ada di dada Ray melakukan gerakan mengangguk berulang kali. Diza mendongakkan kepalanya. "Ayo jalan tapi bee harus peluk pinggang honey. Trus gak boleh bee lepas kecuali honey yang minta oke?"
"Ay ay captain," ucap Ray dengan senyuman dan mengecup dahi Diza.
Mereka mulai kembali melanjutkan perjalanan mereka setelah perdebatan mereka yang panjang dengan Ray yang merangkul pinggang Diza erat. Cukup lama mereka berjalan tanpa suara dan Ray mulai heran dan mencari topik menarik untuk bicara pada Diza.
Ray memandang Diza memulai pembicaraan. "Honeyy tempatnya masih jauh?"
Diza balas memandang Ray. "Nggak kok bee ... cuman tinggal naik lift doang."
"Oo ... di lantai dua ya? Yang pake hiasan patung kucing yang tangannya goyang-goyang itu ya hon?" tanya Ray sok tau.
Diza menghentikan langkah mereka dan melepaskan pelukan Ray. "Iiihhhh itu mah tokonya Ce Alin yang jual mutiara itu bee! Honey mau ke lantai tiga tokonya kak Winma. Ih pasti kamu mikirin Ce Alin yang putih, cantik, mulus itu kan? Mangkanya kamu selalu inget Ce Alin kan? Ada hubungan apa kamu sama Ce Alin hah??" tanya Diza dengan menggebu
"Honeyy aku gak ada hubungan apa-apa sama dia kok. Suerr deh!" ucap Rayden memposisikan jari telunjuk dan tengahnya membentuk V dan menunjukkannya pada Diza.
Diza menyedekapkan tangannya dan mengembungkan pipinya. "Trus kok bisa inget ce alin?"
Ray mencubit kedua pipi chubby Diza dengan gemas. "Iih kamu lucu deh, kamu lupa ya? Cincin kamu belinya dimana? Kalung? Anting? Kan kita beli semuanya ke Ce Alin, jadi aku kira kamu mau mampir ke sana dulu?"
Melepaskan cubitan Ray pada kedua pipinya. "Iihh tapi kan aku mau ketemu temen aku bee, bukan mau beli perhiasan," rengek Diza.
Ray mengelus-elus rambut Diza sayang. "Iyaa iyaa.. honeey aku cuma mau mancing kamu aja habisnya kamu diam aja dari tadi. Kenapa hmm?"
Diza mengambil sebelah tangan Ray yang mengelus kepalanya dan menggenggamnya. "Gak apa-apa bee, honey cuman jagain bee dari tatapan para jablay itu bee."
Ray menangkup wajah Diza dengan sebelah tangannya. "It's okay honey. Kalau kamu masih khawatir apa perlu aku pake masker dan kaca mata hitam?"
Awalnya Diza menunjukkan wajah penuh binar tapi memikirkan bee-nya yang harus kesusahan karena memakai kaca mata hitam dan kepanasan karena masker ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nggak, nanti bee kesusahan. Biar honey aja yang jagain bee."
"Uuh manisnyaa honeey ku. Ayo kita harus segera sampai. Honeynya-Rayden gak boleh kecapean," ucap Ray kembali merangkul pinggang Diza.
"Em," jawab Diza dan ikut melangkah bersama Rayden.
Melanjutkan langkah mereka yang lagi dan lagi sempat tertunda akibat perdebatan mereka yang yaaah .... seperti itulah.
Mereka memasuki lift bersamaan dengan seorang wanita yang usianya kira-kira sedikit di atas mereka. Tampilan wanita itu modis dan dewasa.
Hanya ada tiga orang di dalam lift dengan posisi Diza - Rayden - cewek ular itu sebutan dari Diza. Well- Diza memberi juga bukan tanpa sebab. Itu karena sedari tadi cewek ular itu selalu berusaha mencari perhatian bee-nya.
Entah itu dengan cara memainkan rambutnya dengan nakal, memoleskan lipstik merah terang sambil memonyong-monyongkan bibirnya dan sekarang dia berusaha menempelkan badannya dengan bee-nya.
'Ooh tidak ini sudah di luar batas cewek ular!'- batin Diza
"Bee pindah!" Ray yang sedari tadi hanya memandang wajah istrinya yang memandang wanita sebelahnya dengan mata menyipit terkejut gaesss!
"Oh oke," ucap Ray kalem lalu pindah ke sebelah Diza.
'Rasain lo. Gak bisa caper lagi kan' -batin Diza dengan melirik wanita itu tajam
Wanita itu juga balas melirik Diza tajam 'Si*l! Mangsa gue!'-batinnya
Saling lempar tatapan tajam itu di akhiri dengan Diza sebagai pemenang karena akhirnya wanita itu lebih memilih memutuskan pandangannya.
Tapi tiba-tiba ....
"Aduuhhh kok kepala gue pusing ya," ucap suara di sebelah Diza yang tidak ia pedulikan
Berbeda dengan Ray yang akan menunjukkan reaksi pedulinya pada wanita yang hampir jatuh itu tapi dihalangi Diza. "Kamu selangkah pergi kesana, aku pulang naik taksi!"
Ray menghentikan gerakannya saat mendengar suara istri tercintanya itu. "Tapi ..."
"Dia baik-baik aja kok, kalo udah pingsan baru kita tolongin dia, biar dibuang ke laut," ucap Diza datar.
Si wanita yang berpura-pura sakit itu langsung marah-marah pada Diza. "Heh mulut lo gak pernah di sekolahin ya!!"
"Lo yang gak pernah di seolahin. Pake goda suami orang lagi!!"
"Heh bit-"
"STOP!!!" teriak Ray tegas dengan suara dalamnya itu menimbulkan kesan yang wow amazing gitu.
"Jaga omongan anda ya B**ch!" Ucap Ray yang sudah berada dihadapan wanita itu dengan suara rendahnya sambil menunjuk wanita itu.
Wajahnya sudah merah tanda ia sangat malu dan merasa terhina oleh perkataan Ray. Untung situasi nya tepat. Lift terbuka. Jadi ia bisa langsung kabur begitu saja meninggalkan pasangan gila itu. 'Issh g*la tuh pasangan!'-batinnya
Diza lalu memeluk Ray penuh sayang sambil berjalan keluar lift
"Thank you my lovely hero" ucap Diza dengan senyum manis.
"Anything for you my honey" balas Ray tak kalah manis.
Ray kembali merangkul pinggang Diza, "Jadi.. mau kemana kita?" Nyanyi Ray meniru Dor* the explore.
"Kesanaa..." jawab Diza sambil menunjuk sebuah toko yang sudah tampak sepi itu.
"Yakin kesana? Kok udah sepi?" Tanya Ray terlihat tak yakin
"Iya itu butik temen aku yang baru buka, trus katanya dia mau kasih desain pertama bajunya buat aku, Tapi aku bilang mau beli aja bee" cerita Diza.
"Oooh" Ray hanya membulatkan mulutnya saja.
"Yuk yuk lebih cepat.. lebih cepat.." ucap Diza melepas pelukan Ray dan mulai menyeret tangan Ray yang tentu saja tidak bisa terseret tapi Ray berusaha menyesuaikan langkahnya dengan Diza.
"Iya sayang pelan ajaa" kata Ray menenangkan istrinya yang terlalu excited itu.
"Oke.. okee.. " mereka lalu melangkah biasa dengan tangan bergandeng dan digoyangkan ke depan dan belakang.
Tapi setelah sampai di depan pintu masuk Diza langsung melepaskan tangan Ray dan berlari kearah sahabatnya.
"Aaaa Winmaa kangen!!!" Teriak Diza lalu berlari ke pelukan Winma yang tengah berdiri di sebuah manekin memakai gaun yang indah berwarna biru dengan taburan berlian yang berkilau.
Rayden hanya tersenyum melihat kelakuan istrinya yang kekanakan saat bertemu sahabatnya itu.
Setelah selesai berpelukan Diza segera mengajak Winma agar berkenalan dengan suaminya itu.
"Winma ini Rayden. Rayden ini Winma. Dan gak usah ada jabat tangan ya..." diakhir kalimat ia memberikan senyum yang lebar sampai menunjukkan giginya.
Winma mencubit hidung Diza, “Sejak kapan anak kecil jadi suka cemburu gini?”.
“Ishh, apaan sih Winma.” Ucap Diza protes sambil menghempaskan tangan Winma.
"Iya, iya nggak usah ngambek gitu dong, tapi aku ngerti kok, suami kamu ganteng bangeett!!" Ucap Winma menggoda Diza.
"Jangan dekat-dekat Rayden!" Ucap Diza cemberut lalu menarik Ray menjauh dari Winma.
"Hahahaahahahaaaa gantengan pacar aku kok ba-bi " ucap Winma tertawa dan mencubit pipi Diza pelan.
"Iiihh gak lucu tauk!" Ucap Diza cemberut.
"Iya-iya maaf deh... sini deh gaun yang ini bagus gak? Aku udah buatin ini khusus buat sahabat dari orokku ini.." ucap Winma bangga sambil menunjukkan gaun yang dipakai manekin itu.
"Iih bagus aku suka!" Kata Diza sambil bertepuk tangan.
"Mbak tolong yang ini bungkusin ya buat temen saya harus rapi ya mbak" ucap Winma pada salah satu pegawainya.
"Oh iya aku gak enak masa harus gratis sihh win? " tanya Diza tak enak hati.
" Dih siapa bilang gratis? Itu hadiah supaya kamu ngasi amplop yang banyak buat aku, 2 bulan lagi aku nikah sama Renoo..!!" Ucap Winma bahagia.
"Hah beneran?" Tanya Diza tak percaya.
"Iya dongg jangan lupa dateng yaa.. ini undangannya. Harus dateng lo!"
"Iya-iya kita datengkan bee?" Tanya Diza pada Rayden. Ray mengangguk dan membuat senyum Diza terkembang.
"Udah nih pergi sana. Jangan romantis-romantisan depan gue, gue sibuk!" Ucap Winma setelah memberi Diza sebuah tas besar yang berisi gaun biru tadi.
"Ih kok gitu kan Diza masih kangen Winmaa" ucap Diz cemberut .
"Kita bisa ketemu kapan-kapan lagi lis, maaf ya aku lagi sibuk. Kamu tahukan aku baru buka toko apalagi mau ngurus pernikahanku habis ini" Winma memberi penjelasan pada Diza.
"Aku mau ban-"
"Sst baby udah ada yang urus nanti kamu dan yang lainnya tinggal lihat pas hari-H aja yaa oke baby acuu?" Ucap Winma sambil memeluk Diza.
"Oke, kita pulang ya? Bye!!!" Ucap Diza melepaskan pelukan Winma dan keluar bersama Ray.
"Honeyy mau shoping dulu?" Tanya Ray.
Diza memandang Ray dengan mata sayunya "Gak capek, kita pulang kerumah aja ya?"
Dan dengan senyum yang meneduhkan hati itu Ray dengan ringan menjawab "Oke honeyy"