AISAH POV
Aku baru saja sampai ke kampus, turun dari ojek online, aku langsung melangkah masuk ke halaman kampus sambil merapikan rambut .
Hari ini entah kenapa rasa nya hati ku senang sekali karena Mas Rahmat tadi pagi mengajak aku ngobrol.
Aku selalu merasa apa yang aku rasakan adalah salah, seharusnya tidak boleh ada perasaan yang sekarang aku rasakan.
Ya, aku Aisah mempunyai perasaan dengan Rahmat suami kakak ku sendiri.
Setiap aku melihat Mas Rahmat selalu saja ada pikiran pikiran terlarang yang seharusnya tidak boleh ada.
Aku terkadang pingin merasa bagaimana rasanya di peluk mas Rahmat.
Tadi pagi di dapur rasanya jantungku mau lepas ketika mas Rahmat memeluk pinggangku.
Tubuhku seperti merasa getaran listrik. Hati berdebar, perasaan senang aku rasakan. Aku pingin merasakan di peluk dengan erat lebih lama lagi tapi itu sesuatu yang bener bener Terlarang untukku.
Setelah sampai di ruang kelas tiba tiba hp ku berbunyi tanda Wa masuk.
Mas Rahmat :
Sudah sampai ke kampus Syah
Aku tersenyum senang ternyata Wa itu dari mas Rahmat. Segera aku balas Wa nya
Sudah mas , baru aja mau masuk ke kelas
Aku bersiap mulai perkuliahan ketika dosen masuk ke kelas. Tidak ada Wa balasan dari mas Rahmat lagi padahal aku sudah berdebar menunggu Wa dari mas Rahmat.
Apa mas Rahmat lagi sibuk ya pikir ku menerawang sama sekali tidak bisa konsentrasi pada pelajaran yang di sampaikan dosen hari nih.
Aku liat lagi hp ku yang masih belum ada Wa dari mas Rahmat
Mas lagi sibuk ya di kantor
Aku bener gak sabar menunggu Wa dari Mas Rahmat sampai sampai aku Wa ulang. Setelah sekian menit aku menunggu balasan tidak ada juga. Dengan kesal akhir nya aku masukan hp ku ke dalam tas dan berusaha konsentrasi dengan materi yang dosen sampaikan .
Bodoh, pikir aku kesal . Aku gak bakal bales Wa dari mas Rahmat kalau dia Wa aku nanti.
"Syah habis kuliah jalan yuk", sahabatku Anisa menghampiri ku setelah selesai jam kuliah pertama ku.
Aku hari nih ada 2 mata kuliah, tapi rasa nya mau ikut mata kuliah yang ke dua aku merasa gak mood pinginnya pulang saja.
Gak tau kenapa hati ku rasanya kesal dan kecewa , apa mungkin karena mas Rahmat.
"Aku mau pulang aja deh Nis ", sambil membereskan buku-buku.
"Lho, kok pulang. Kita kan masih ada mata kuliah Syah", sahut Anisa bingung.
"Aku gak enak badan", jawabku bohong. Sambil melangkah keluar kelas.
"Ya uda nanti aku absenin aja ya", kata Anisa sambil menjajari langkahku keluar kelas.
"Makasih ya Nis",
Sampai di depan kelas aku segera mengeluarkan hp karena mau pesan ojek online buat pulang. Aku melihat ada Wa dari Mas Rahmat. Hatiku langsung deg degan. Perasaan kesal tadi hilang, buru buru aku buka Wa mas Rahmat.
Mas Rahmat :
Mau gak makan siang dengan mas, kebetulan mas lewat kampus kamu ?",
Aku langsung tersenyum senang. buru buru membalas Wa mas Rahmat.
Boleh mas kebetulan Aisah gak ada kuliah lagi
Nanti kalo mas sudah di depan kampus kabarin aja.
Sambil tersenyum aku melangkah ke depan gerbang bermaksud menunggu mas Rahmat.
"Siapa sih Syah yang Wa kamu sampai seneng gitu", tanya Anisa yang masih setia mengikuti ku.
"Eh, bukan siapa siapa cuma temen", jawab ku salah tingkah.
"Ya uda aku duluan ya Nis , tolong titip absen ", nyengir ku sambil berjalan menuju pintu gerbang kampus bermaksud menunggu di sana saja
Cukup lama aku sudah berdiri menunggu kabar dari mas Rahmat tapi masih belum ada Wa yang masuk ke hp ku. Tiba tiba ada mobil yang berhenti di depanku dan itu mobil mas Rahmat. Kaca mobil di turunkan dan aku melihat wajah mas Rahmat muncul.
"Ayo masuk Syah", sambil membuka pintu mobil dari dalam.
Aku bergegas masuk ke dalam mobil dan mobil langsung meluncur ke jalan.
"Sorry, lama gak nunggu nya Syah", tanya mas Rahmat sambil melirikku.
"Gak juga mas, baru sebentar padahal tadi aku sudah kesal karena merasa menunggu lama tapi ketika mas Rahmat sudah datang rasa kesalku hilang malah berganti rasa deg degan dan senang.
"Kamu mau makan di mana Syah ", tanya mas Rahmat sambil fokus nyetir menerobos kemacetan di jalan.
"Aisah terserah mas aja ", sahut ku sambil sekali kali melirik mas Rahmat. Entah kenapa hati ku senang sekali padahal seharusnya itu tak boleh karena mas Rahmat adalah kakak ipar ku.
"Beneran nih terserah mas ".
"Gimana kalau mas mau nya makan kamu aja", kata Rahmat sambil melihat Aisah .
Aku langsung menoleh terkejut ketika mendengar perkataan Mas Rahmat. Kami saling menatap. Setelah sekian detik saling bertatapan, aku menundukkan kepala karena malu. Kurasakan pipi ku yang hangat pasti merah sekali warnanya.
Aku kembali terkejut ketika merasakan belaian jari mas Rahmat di pipi ku yang panas, aku rasakan jari mas Rahmat mengapit daguku dan mengangkat wajahku , kami saling bertatapan lagi.
"Maaf mas bikin kamu jadi malu gini, jangan di pikiran tapi mas serius lho", sahut Rahmat sambil tersenyum.
Aku terdiam tak tau mau menjawab apa lagi. Kami akhir sampai di rumah makan ayam penyet. Aku masih aja terdiam di dalam mobil.
"Yuk turun , kita makan di sini aja", kata Rahmat sambil keluar dari dalam mobil. Dia membukakan pintu buat ku. Aku langsung buru buru turun dari dalam mobil.
Mas Rahmat mengandeng tangan ku membuat aku merasa deg degan . Kami lalu duduk di pojokan yang agak tersembunyi karena ada pot tanaman di depan meja kami , itu yang membuat kami berdua gak terlalu keliatan.
Setelah memesan makanan kami berdua jadi terdiam. Tiba-tiba mas Rahmat menggenggam kedua tanganku yang ada di atas meja.
"Mas minta maaf kalau malah buat kamu jadi malu Syah karena perkataan mas tadi".
"Tolong jangan di pikirkan ", kata mas Rahmat sambil mengelus-elus tangan.
"Iya mas...", Aku bingung mau jawab apa ke mas Rahmat. Aku cuma bisa menunduk tersipu malu.
Makanan kami akhirnya datang dan kami makan dalam diam. Setelah selesai makan kami berdua bergegas keluar karena Rahmat harus segera ke kantor lagi .
"Mas antar kamu pulang dulu ya Syah ".
"Gak usah Mas biar Aisah naik taksi aja, entar malah bikin Mas telat ke kantornya", sahut ku .
"Gak apa-apa Syah , biar Mas antar kamu ya", kata Rahmat sambil memaksa.
"Iya deh kalau gak ngerepotin mas Rahmat. Aku akhirnya mau di antar mas Rahmat pulang karena rasanya aku masih belum mau pisah sama Mas Rahmat.
Akhirnya Rahmat mengantarkan Aisah pulang selama perjalanan mereka diam sibuk dengan pikiran masing-masing.
To be continued..
AUTHOR .. 21+
Rahmat akhir nya mengantarkan Aisah pulang ke rumah sepanjang jalan mereka berdua diam membisu sibuk dengan pikiran masing-masing. Rahmat dengan pikiran gimana caranya merayu adik iparnya yang cantik ke dalam pelukan. Sedangkan Aisah dengan rasa debar-debar di dada karena senang bisa dekat dengan kakak iparnya tanpa tau pikiran-pikiran mesum yang lagi hinggap di kepala suami kakaknya itu.
Akhir nya mereka sampai juga di rumah orangtua Aisah. Suasana rumah dan lingkungan terasa sepi karena tetangga semua pada sibuk.
"Makasih ya mas sudah di traktir makan terus di antar pulang lagi", kata Aisah sambil melepas safety belt bersiap turun dari mobil.
"Mas mau langsung ke kantor?".
"Iya sama-sama Syah tapi mas mau numpang ke toilet dulu deh sebelum ke kantor", sahut Rahmat.
"Iya boleh mas , masuk aja", sambil Aisah membukakan pintu rumah. Suasana di rumah sepi karena kedua orangtua Aisah pasti lagi di toko. Mertua Rahmat ada toko kelontong di pasar jadi setiap hari keadaan rumah sepi karena keduanya sibuk di toko. Bahkan kalau ramai ortu Aisah sampai nginap di toko tidak pulang ke rumah. Itu yang membuat Aisah kadang-kadang sendirian di rumah.
Setelah dari toilet Rahmat melihat Aisah ada di dapur. Diam-diam dia kirim pesan ke teman kantor bilang kalau dia gak balik ke kantor lagi.
Rahmat sudah gak tahan lagi menahan nafsu sekian lama, hari ini dia putuskan merayu Aisah dan Aisah harus jadi miliknya.
Rahmat sengaja mendekati Aisah diam-diam. Aisah yang tidak tau ada Rahmat di belakang tiba-tiba balik badan karena terkejut, Teh hangat yang dia bawa tumpah mengenai mereka berdua.
"Aduh.. ", pekik Aisah sambil berusaha menarik pakaiannya yang basah kena tumpahan teh.
"Maaf Syah, panas ya", tangan Rahmat sibuk berusaha membersihkan tumpahan air teh di baju Aisah dengan sengaja dia menyentuh dan meraba bagian payudara dan perut Aisah.
Rahmat tiba-tiba menggendong Aisah dan mendudukkannya di meja makan. Sambil tangan Rahmat terus meraba tubuh Aisah.
"Maafin mas ya, mas gak sengaja", kata Rahmat tangannya tidak berhenti meraba-raba payudara Aisah yang besar.
"Mas sudah , Aisah gak apa-apa", sambil berusaha menepis tangan Rahmat yang meremas payudaranya. Entah kenapa Aisah tidak marah dan seperti membiarkan tangan nakal Rahmat. Aisah juga gak menolak terlalu keras malah dia merasa debar jantungnya berdetak kencang.
"Aisah , kamu cantik sekali", kata Rahmat. Aisah cuma bisa diam terpaku mendengar omongan Rahmat. Ketika Rahmat mendekati wajahnya , Aisah masih saja diam terpaku.
Akhirnya bibir Rahmat mencicipi bibir Aisah yang ranum. Aisah terbelalak , mata indah nya memandangi Rahmat seakan tak percaya tapi dia tak menolak, karena merasa Aisah diam tidak menolaknya membuat Rahmat semakin bernafsu mencium bibir gadis itu.
Rahmat menggerakkan bibirnya untuk melumat bibir perawan milik Aisah. Melumat bibir itu atas bawah seolah tak mau sedikitpun melewatkannya. Bibir Aisah terasa manis di lidahnya saat lidah Rahmat bermain menjilatinya.
"Buka mulutmu Syah", di sela-sela lumatannya yang tidak berhenti. Antara tidak sadar atau menikmatinya , gadis itu membuka mulutnya yang langsung dimanfaatkan oleh Rahmat untuk menerobos mulut gadis itu dan mencari lidahnya. Bergelut dan bermain dengan lidah Aisah.
Aisah cuma bisa pasrah sambil sekali-kali meremas kemeja Rahmat. Setelah Rahmat merasa Aisah hampir kehabisan nafas, di lepaskannya tautan bibir mereka. Benang saliva bertautan di bibir mereka yang menjauh.
" Mas..., Kita salah", sahut Aisah lirih menatap Rahmat dengan sayu.
"Maafin mas , Syah", kata Rahmat sambil mengusap dagu gadis itu yang berlepotan saliva mereka berdua .
"Mas sudah tidak bisa menahan perasaan lagi".
"Mas yakin kamu juga merasakan apa yang mas rasakan selama ini", rayu Rahmat.
"Tapi kita salah mas.. ".
"Kita sudah mengkhianati kak Farida", sahut Aisah sambil menahan tangisannya.
"Jangan menangis Syah, tidak ada yang salah sama perasaan kita berdua".
"Kamu percaya aja sama Mas", bujuk Rahmat sambil melumat bibir ranum gadis itu lagi. Di ciumnya bibir gadis itu, entah kenapa Aisah malah membalas ciuman Rahmat.
Rahmat yang merasakannya langsung semakin nafsu melumat bibir Aisah. Lidah mereka saling beradu, Rahmat menelusuri gigi gadis itu dengan lidahnya. Mereka saling melumat satu sama lainnya , bibir mereka di dagunya Aisah. Tangan Rahmat gak ketinggalan meremas-remas payudara gadis itu membuat nya melenguh. Perlahan tapi pasti kancing kemeja yang di pakai Aisah di buka Rahmat, melepaskan ciumannya Rahmat langsung menunduk dan mengecup payudara gadis itu yang tidak tertutup semua sama Branya.
Sambil masih mengecup payudara gadis itu, Rahmat mengendong Aisah menuju ke kamar Aisah yang ada di lantai dua.
"Mas.. " hanya itu yang bisa Aisah katakan. Gadis itu pasrah sambil menatap sayu kakak iparnya, tangan Aisah malah merangkul leher Rahmat yang sedang mengendongnya menuju ke kamar .
"Ayo kita nikmatin perasaan kita berdua, Syah", sahut Rahmat masuk ke dalam kamar gadis itu dan menutup pintunya.
Direbahkannya tubuh Aisyah di ranjang. Di ciumnya bibir gadis itu lagi sambil tangannya meremas payudara Aisyah yang sudah terbebas dari penutupnya karena Bra gadis itu diangkat Rahmat ke atas. Bibir Rahmat langsung turun ke payudara montok Aisah dengan puting berwarna pink yang telah mencuat naik.
"Mas aagghhh hhmmm..."
" sshhaaahh mas Rahmat...", Aisah menceracau tak jelas saat lidah Rahmat bermain di putingnya. Menjilati, mengulum bahkan menarik-narik puting kecil itu dengan bibirnya.
Sambil bibirnya masih mengisap payudara gadis itu seperti bayi yang lagi kelaparan, tangan Rahmat melepaskan kemeja panjang dan membuka kaitan Bra Aisah membuang nya ke lantai tak berhenti di situ Rahmat juga membuka kaitan rok panjang yang di kenakan Aisah. Di lepaskannya rok itu dan di lemparkan ke lantai menyusul kemeja dan Bra gadis itu. Tangan Rahmat langsung mengelus-elus vagina Aisah yang masih tertutup kain tipis.
Rahmat masih mengisap payudara Aisah membuat tanda merah di kedua dada montok itu. Ciuman itu turun dari payudara terus sampai menuju lubang surgawi yang sebentar lagi akan dia nikmatin. Ditariknya dengan perlahan kain tipis itu sampai lepas dan terpampang lah vagina berwarna pink yang tertutup bulu-bulu halus yang lumayan lebat persis seperti kesukaan Rahmat.
Aisah langsung saja menutup vaginanya dengan tangan karena malu.
"Jangan di lihat mas, Aisah malu".
"Gak perlu malu Syah, itu punya mas sekarang nih", sahut Rahmat sambil menyingkirkan tangan Aisah ke samping. Di buka nya paha Aisah lebih lebar, di tekukkannya kaki Aisah jadi gadis itu sekarang mengangkang di depan suami kakaknya sendiri.
"Jangan malu Aisah sayang sekarang kamu milik mas dan mas juga milik kamu", rayu Rahmat sambil membuka kemejanya, matanya fokus melihat vagina Aisyah yang terpampang di depannya. Setelah itu celana Rahmat juga di lepas. Sekarang Rahmat hanya memakai CD dan sepatu yang masih belum di lepas. Sementara Aisah hanya diam sambil mata dari tadi melihat tubuh Rahmat. Matanya menelusuri tubuh Rahmat berhenti sampai ke benda yang terselip di antara paha Rahmat yang kepalanya keliatan dari atas CD.
Aisyah merasakan darahnya mengalir dengan kencang, di rasakannya ada yang basah di vagina. Dia tahu apa yang akan terjadi antara dia dan kakak ipar nya Rahmat tapi bukan takut atau merasa bersalah dengan apa yang akan terjadi nanti justru dia malah merasa tidak sabar. Aisah sadar kalau dia akan pelepas keperawanannya pada kakak iparnya memikirkannya malah membuat vagina gadis itu semakin basah.
Setelah Rahmat melepas sepatu tinggal CD nya yang masih melekat , dia berdiri dan bergegas menurunkan CD nya dan melemparnya asal, langsung terlihat kejantanan Rahmat yang tegang berurat di depan mata Aisah membuat matanya terbelalak.
Rahmat menaikin kasur dan bergerak mendekati Aisyah. Sambil memandangi Aisah jari nya mengelus vagina gadis itu. Aisah tersentak dan mengerang.
"Aarrghh...'.
"Kau sungguh cantik Aisah, dan kau sudah basah sayang", kata Rahmat sambil menundukkan kepalanya ke depan vagina Aisah yang mengeluarkan aroma yang khas tanda gadis itu juga sudah terangsang.
Rahmat mencium dan menjilat vagina Aisah membuat gadis itu tersentak. Gadis itu langsung menegakkan kepalanya melihat apa yang tengah Rahmat lakukan dibawah sana. Rahmat menjilat klitorisnya terus menghisap dengan kuat.
"Aaaaggh Mas? Apa yang mas lakukan.. ssshhhh.." Aisah mendongakkan wajah dan payudaranya ke atas sampai kedua dada montok itu menantang Rahmat untuk meremasnya.
Rahmat meraih kedua payudara Aisah dan meremasnya bahkan mencubit putingnya saat mulutnya masih sibuk dengan vagina gadis itu. Aisah semakin menggila saat Rahmat membuka lipatan vaginanya dan menusuk lubang kenikmatan gadis itu dengan lidah, menjilat dan menghisap cairan cinta Aisah yang semakin banyak keluar.
Aisah mengerang lebih keras dan mencengkeram rambut Rahmat ketika lagi-lagi klitoris gadis itu di jilat dan di isap. Rahmat memutar lidahnya di klitoris sehingga membuat gadis itu menggelinjang, bergerak dan menekan kepala Rahmat lebih dalam lagi ke vaginanya.
Aisah merasakan ada sesuatu yang akan keluar, dia semakin erat mencengkeram rambut Rahmat ketika rasa itu akan sampai. Gadis itu mengerang dan melenguh dengan kencang, di jepitnya kepala Rahmat yang ada di antara kedua pahanya pinggul Aisyah melambung, kakinya menekan kasur tanda orgasme pertama yang dia rasakan
"Aaarrggh... Aaarrggh Mas Rahmat..". Tubuh Aisah mengejang mengiringi kedutan di dalam vaginanya mengalirkan cairan cinta yang mengalir begitu deras sampai membasahi wajah Rahmat.
Rahmat langsung tidak melewatkannya, di jilat dan di isapnya cairan cinta gadis itu sampai tak tersisa.
Rahmat akhir nya duduk di samping Aisah sambil jarinya masih mengelus-elus vagina Aisah. Sedangkan Aisah tergolek lemas setelah merasakan orgasme pertamanya.
To be continued..