***
Pintu kamar dibuka perlahan. Cahaya dari koridor membuat bayangan sosok pria tampak di lantai kamar yang gelap. Perawakannya tegap, dia berdiri diambang pintu sebelum kemudian kakinya melangkah masuk. Langkah kakinya berhenti di dekat single bed. Lalu dia duduk di tepi ranjang. Tatapannya terpaku pada wajah tidur seorang gadis di sana.
Pria itu hanya diam memperhatikannya lamat-lamat. Dia memperhatikan kelopak mata gadis itu yang nampak tertutup dengan damai. Bulu matanya yang lentik, menyembunyikan permata indah di dalamnya. Lalu bagian bibir gadis itu terlihat sedikit terbuka, membuat wajah tidurnya agak lucu sekaligus menggoda. Menggoda pria ini. Sampai-sampai sebelah tangannya sudah berada di bibir sang gadis.
Ibu jari pria itu mengelus permukaan lembut bibir sang gadis. Bibirnya kecil namun sedikit tebal, memberikan kesan sexy di wajah bak malaikat itu. Bibir kecil ini juga yang seringkali mendesak sisi lain dari seorang pria untuk merasakannya. Namun naluri lain berteriak-teriak, berusaha menahan dirinya agar tetap waras. Karena fakta bahwa gadis ini adalah saudarinya, membuat dia terus berkelahi di dalam dirinya sendiri.
Ketika gadis muda itu mengerutkan dahi, pergerakan kecilnya membuat sang pria tersentak sadar dan seketika menarik tangannya dari bibir ranum itu. Pria itu menarik napas, lalu sontak berdiri. Karena canggung, dia berjalan ke arah tirai untuk membukanya. Cahaya matahari pun menyeruak ke dalam kamar berukuran empat kali empat.
Tampaklah isi kamar gadis itu dengan jelas. Jelas sekali terlihat berantakan. Kondisi kamar yang berbanding terbalik dengan kamar milik dirinya. Kamar gadis ini dipenuhi dengan tumpukan kaset game di lantai, buku-buku dan komik-komik yang tidak disusun dengan rapi ke dalam raknya. Bahkan sampah camilan masih tergeletak di atas meja komputer.
Pria itu menghela napas. Entah tidur jam berapa gadis ini semalam. Tidak mungkin tidur dibawah jam sepuluh. Pasti semalam sempat bermain game online dulu di komputer, kemudian langsung tidur. Begitulah yang dia pikirkan tentang kebiasaan adik perempuannya.
"Emily, bangun. Kau bisa terlambat hari ini!" panggil pria itu dengan tegas membangunkan puteri tidur.
Sang gadis bernama Emily hanya melenguh, lalu berbalik badan sambil menarik selimutnya sampai menutupi kepala untuk menghindari silau terang mentari.
Pria itu mengecek jam tangannya. Mereka bisa terlambat. Akhirnya dia berpindah ke ujung ranjang untuk menggelitik telapak kaki Emily. Sontak saja gadis itu menggeliat terbangun. Sensasi gelinya membuat kaki mulus Emily menendang-nendang udara. "Okey, okey, kak! Aku bangun!" teriak Emily menyerah. Maka, upaya kecil pria itu pun berhasil untuk membuatnya bangun.
"Sekarang, mandi dengan cepat!" perintah Evan, disambut bibir cemberut Emily. "Aku masih mengantuk, kak~" rengeknya dengan manja.
Lalu Evan kembali ke sisi ranjang dan menarik lengan Emily, sampai gadis itu terduduk. "Semalam kau tidur jam berapa, huh?" tanyanya duduk di tepi kasur. Emily jadi bungkam. "Aku tidak ingat," jawab gadis itu kemudian cengengesan.
Seketika raut muka pria itu menjadi datar. "Kakak tahu kau semalam baru tidur dini hari. Apa perlu kakak laporkan pada ibu?" ancamnya.
"Jangan dong kak. Nanti uang jajanku dikurangi," ucap Emily.
"Ya sudah, sekarang cepat mandi. Kakak tunggu di meja makan," kata pria itu beranjak.
Sedangkan Emily yang masih terduduk di dalam bathtub, tampak cemberut dengan wajah basah menatap pintu kamar mandi dengan tajam. "Dasar kakak menyebalkan! Padahal aku baru tidur jam tiga pagi...." keluhnya. "Pasti mataku jadi seperti panda!"
Tiga puluh menit kemudian Emily sudah menuruni anak tangga sambil membawa tas punggung di pundak. Dia menghampiri kakaknya yang terlihat duduk menunggu di kursi makan. Sarapan tersaji mewah di meja porselen.
Emily duduk di hadapan Evan dengan meletakan tasnya di kursi samping. Mereka makan tanpa obrolan. Sesekali manik Evan mengerling ke depan hanya untuk memperhatikan adik perempuan.
"Emily," panggil Evan.
Emily mendongak dari makanannya.
"Rambutmu tidak cocok kalau diikat begitu. Lepas ikat rambutmu," titah Evan sambil menunjuk-nunjuk rambut Emily. Rambut gadis itu diikat ekor kuda. Bagi Emily itu hal yang biasa. Tapi jarang dia lakukan selain hanya dibiarkan tergerai.
"Kenapa?" protes Emily.
"Wajahmu jadi jelek," ejek Evan.
Emily memelotot kaget. "Tidak mau. Sekarang musim panas, aku mudah gerah," elak Emily membantah perintahnya.
Lalu, Evan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Pria itu menyodorkan beberapa lembar dollar pada sang adik.
Uang itu berjumlah lima ratus dolar. Diberikan oleh tangan Evan dari hadapan. Karenanya, Emily menatap Evan dengan ekspresi bersemringah.
"Uang itu untuk jatah jajanmu dalam sehari kecuali hari libur," ucap Evan. Jumlah uang jajan Emily bertambah dua lembar dari normalnya.
"Sungguh, kak? Asik!" Emily langsung mengambil uang itu. Dia menghitungnya lagi dengan senyum lebar. Lima ratus dolar, lumayan cukup untuk membeli kebutuhan hobinya nanti. Itulah yang Emily rencanakan ketika menerima uang jajan lebih dari kakak.
"Terima kasih, kakak!" riang Emily begitu senang.
Tapi tunggu, kenapa tiba-tiba kakaknya menambahkan jatah uang jajan? Emily mendadak curiga pada Evan. Apakah ada maksud terselubung?
"Ngomong-ngomong, nih. Kakak sedang tumben apa?" kata Emily bertanya.
"Itu tambahan dari uang pribadi kakak. Jadi, gunakan dengan bijak. Ingat, aku maupun ayah dan ibu tidak mengajarimu untuk menghamburkan uang dengan sia-sia," ucap Evan mengingatkan nasihat orang tua mereka.
"Baik, kakak!"
Senyum tulus terukir di bibir datar Evan.
Mereka berangkat bersama menggunakan mobil Bugatti hitam. Ketika lajunya berhenti di depan gerbang sekolah yang ramai akan murid-murid, sebelum melangkah turun ke luar, Emily mencium pipi Evan dengan sangat cepat. Sampai-sampai Evan terdiam beku hingga mobil melanjutkan lajunya lagi. Diam-diam dia memegang pipi sebelah kiri yang barusan disinggahi bibir lembut Emily.
Sedangkan Emily segera bertemu teman akrabnya bernama Sherin, dan mereka berjalan bersama menuju gedung sekolah. "Apa tadi diantar kakakmu lagi?" tanya Sherin, setelah melihat sekilas sosok kakak Emily di dalam mobil tadi.
Emily mengangguk mantap. "Ya. Kenapa?" balasnya bertanya.
"Bisa tidak sih ketampanan kakakmu dibagi rata? Bisa-bisanya kau punya kakak setampan aktor begitu. Tahu tidak, bisa bahaya kalau anak sesekolahan tahu." Sherin namanya. Dia adalah sahabat dekat Emily sejak tahun pertama high school. Rambutnya yang pendek, dan jaket yang tak ketinggalan di pinggangnya menjadi ciri khas Sherin sebagai gadis tomboy.
Emily mengeryitkan dahi. "Bukankah ada banyak pria tampan yang pasti sering mereka lihat di internet sebagai aktor ataupun idol, bukan? Harusnya melihat pria taman adalah hal biasa bagi mereka."
Gelengan kepala Sherin menjawab pendapat Emily. "Mereka menyukai pria tampan. Terlebih kakakmu benar-benar terlihat seperti figur animasi yang sempurna yang mustahil hidup di dunia ini." Sherin sudah pernah melihat rupa kakak Emily sewaktu pertama kali ke rumahnya untuk mengerjakan tugas sekolah bersama. Sudah dapat ditebak bagaimana reaksi Sherin saat itu. Emily hanya mendengus menyadarkan lamunannya.
Emily merotasikan mata dengan jengah. Pujian terhadap kakaknya membuat dia merasa kian sebal. "Jangan tertipu pada ketampanan kakakku. Sebenarnya dia sangat menyebalkan," cibir Emily.
"Meskipun menyebalkan, kau sangat membutuhkannya, bukan?" goda Sherin dengan senyum menyeringai. Emily melirik dengan kaget seolah perkataannya itu terdengar menggelikan.
"Yaa! Aku membutuhkannya untuk kumanfaatkan dengan baik~" rengek Emily menyerah. Tidak salah juga, akan tetapi sebagai adik, Emily sering dibuat kesal oleh Evan selaku kakak yang terkadang bersikap semaunya sendiri seperti halnya memerintah dia untuk hal-hal yang tidak penting sama sekali.
***
Emily ketakutan. Berdiri sendirian di tengah gang belakang sekolah. Sedangkan di hadapannya dua pria tampak galak.
"Maaf, aku tidak sengaja melakukannya," ucap Emily menyesal. Beberapa detik lalu dia berpapasan dengan mereka berdua, kemudian pot di tangan pria itu tersenggol sampai jatuh dan hancur. Sekarang tanaman dan potnya tampak mengenaskan di tengah mereka.
"Wah...." Pria sedikit gemuk itu nampak tidak terima. Dia berkacak pinggang. "Kata maaf saja tidak cukup untuk mengganti tanaman berharga ini!" bentaknya.
Emily meringkuk pundaknya. Dia menunduk takut, sambil memainkan tangannya sendiri. "Maaf...." Emily hanya bisa meminta maaf.
"Anak muda, apa kau tahu betapa berharganya tanaman ini?" kata pria kedua. "Saking berharganya, tanaman ini sangat langka!" teriak pria itu. Membuat Emily semakin terpojokkan.
"Kalau begitu aku akan menggantinya...." usul Emily.
"Apa kau bisa menggantinya, anak muda? Berapa uang jajanmu?" Pria gemuk itu memicingkan matanya, menilai penampilan Emily dari atas ke bawah. "Lima ratus dollar!" pungkasnya.
Emily terkejut. Angka segitu sama saja dengan uang jajannya hari ini. Tapi mau bagaimana lagi. Emily tadi tak sengaja bersenggolan dengan mereka di gang sempit ini.
"Jangan berikan!" Seseorang berteriak tiba-tiba dari belakang Emily.
Emily berbalik. Dilihatnya seorang pemuda berseragam sama dengannya, berjalan mendekat. Lalu pemuda itu berdiri di depan Emily, melindunginya.
"Apa kau ingin menjadi pahlawan kesiangan, anak muda?" sarkas mereka dengan sinis.
"Aku melihatnya sendiri. Kalian dengan sengaja menjatuhkan pot bunga itu agar dia memberikan uangnya! Apakah ini model pemalakan baru?" sindir pemuda pemberani ini.
Kedua pria itu nampak panik.
Pemuda itu menunjukkan ponselnya. "Aku akan menelepon polisi," ancamnya. "Pergi dari sini atau kalian ditangkap?"
"Hey, bocah! Jangan main-main dengan kami!" gertak pria gemuk itu.
Akhirnya pemuda ini menekan nomor polisi, kemudian menempelkan ponselnya ke telinga. "Halo pak polisi. Kami bertemu dengan dua preman di gang belakang sekolah." Dia melaporkan.
Tidak lama setelahnya, terdengar suara sirine. Sontak membuat mereka panik dan berlari kabur.
Sekarang tinggallah mereka berdua di sini. "Anu, terima kasih sudah menolongku tadi," ucap Emily. Pemuda itu meliriknya. "Ah~ tidak masalah," balasnya mengibaskan tangan.
"Kenapa kau menolongku? Apa kau mengenalku?" tanya Emily. Seketika ekspresi pemuda itu membeku.
"Eh? Kau tidak tahu aku?" kagetnya.
Emily menggeleng dengan polosnya.
"Aku teman sekelasmu dan paling disukai anak-anak perempuan di sekolah ini! Kau tidak tahu???" Pemuda itu terheran-heran.
"Maaf aku tidak memperhatikanmu," ujar Emily sambil meringis. Jawabannya membuat pemuda itu melongo.
"Jadi, siapa namamu?" tambah Emily.
Gubrak! Pemuda itu jadi semakin kaget. Meskipun terkenal di sekolah, ternyata masih ada siswi yang tidak mengetahui siapa dia. Kejadian ini membuat dirinya bagaikan tertampar. Lalu dia tersenyum lebar. "Namaku Louis!"
"Apa kau pernah mendengar nama itu?" tanyanya.
"Tidak."
Gubrak!
Inner Louis kembali jatuh. "Kau bahkan tidak pernah mendengar namaku? Padahal kita sekelas, loh!" Louis jadi gemas sendiri. Betapa cueknya gadis ini terhadap teman sekelasnya sendiri. Apalagi dia seorang bintang di sekolah!!!
"Maaf, aku tidak tahu." Emily hanya bisa meringis menjawabnya.
***
Sepanjang kelas berlangsung, konsentrasi Louis terganggu sejak pengakuan Emily tadi siang. Sesekali pemuda itu mencuri pandang ke meja Emily yang di seberang sana. Jaraknya terpisah oleh dua meja murid lain. Di sana, Emily tampak fokus memperhatikan penjelasan dari guru.
Louis hapal semua wajah anak-anak di kelasnya. Kelas yang berisikan empat puluh murid. Meskipun tahu teman-teman sekelas, nyatanya dia hampir jarang memperhatikan seorang gadis di kelasnya. Tidak seperti saat ini.
Gadis bernama Emily telah menarik perhatian Louis pada pertemuan pertama mereka hari ini, walau tidak bisa disebut pertemuan pertama--karena mereka sudah sekelas hampir setahun lamanya. Tetapi kejadian tadi siang adalah pertama kalinya mereka saling berbicara dan bertatap muka.
"Louis!" seru guru. Seketika mengejutkan Louis. "Sebutkan faktor apa saja yang membuat negara inflasi?"
Mampus. Louis tidak mendengarkan dengan bijak penjelasan guru tersebut. Sekarang dia malah disuruh menjawab kuis dadakan. Namun, otak Louis dapat merespon pertanyaan itu. Akhirnya dia menjawab pertanyaan dengan baik.
Begitu suara bel berbunyi, kelas pun bubar. Guru pergi keluar kelas, dan para murid merapikan alat tulis mereka ke dalam tas, seperti yang dilakukan Emily. Setelah memasukkan semua buku ke tas, gadis itu menggendong tasnya ke pundak lalu berjalan ke depan kelas untuk keluar.
Tiba-tiba hadangan tubuh tinggi Louis membuat Emily berhenti sebelum mencapai pintu. "Apa kau mau pulang?" tanya Louis.
"Ya," jawab Emily singkat. Sekarang Emily sudah ingat siapa pemuda di depannya.
"Apa kau tidak ikut organisasi?" tanya Louis lagi.
"Tidak," jawab gadis itu pendek. Emily berjalan ke sisi Louis, mengabaikan pemuda itu dengan pergi begitu saja. Louis berbalik badan dan menyusul punggung gadis itu di koridor sekolah, sampai mereka berada di luar.
"Emily," interupsi Louis. "Dapatkah kita berteman?" Louis bertanya dengan segan.
"Bukankah kita teman sekelas?" timpal Emily. Tanggapan yang acuh. Louis baru menemukan gadis seperti Emily di sekolah ini.
"Apa kau tidak tertarik padaku?" Pertanyaan Louis justru terkesan sangat narsis. "Ah, maksudku, ingin menjadi temanku?" Louis meralatnya buru-buru.
"Boleh saja, kok," sahut Emily. Lagi-lagi respon yang datar dan putus. Membuat percakapan mereka tidak terbangun dengan akrab. Sehingga Louis jadi merasa harus sedikit lebih berusaha agar Emily mau mengobrol dengannya.
Diam-diam Louis memperhatikan Emily dari sampingnya. Gadis ini terlihat dingin dan pendiam. Tidak mudah untuk membangun obrolan dengan orang pendiam. Satu-satunya yang terpikirkan di otaknya adalah membahasa topik yang disukai lawan bicaranya. Itulah bagaimana dia dapat bergaul dengan mudah dan diterima orang baru.
Tapi, apa kesukaan Emily?
Emily berhenti di tepi trotoar depan sekolah. Louis juga ikut di sisinya. Ketika Emily mengeluarkan ponsel dari saku rok, Louis juga memperhatikan itu. Ketika Emily memosisikan ponselnya searah horizontal dan terpampang layar game online, seketika Louis mendapatkan jawabannya sendiri.
"Apa kau suka bermain game online itu?" tanya Louis.
"Ya. Apa kau juga suka?" timpal Emily. Sebuah kemajuan yang bagus saat gadis ini melempar tanya kepadanya. Wajah Louis jadi bersemringah walau tidak dilihat Emily yang memulai permainannya.
"Aku sering bermain game online sampai tengah malam. Apa kau tahu game online TOP?"
Tiba-tiba saja pergerakan lincah jemari Emily terhenti di layar ponsel. Lalu dia mendongak dan menatap Louis dengan sedikit ketertarikan atas topik ini. "Aku baru sampai level dua puluh, dan untuk naik level itu sulit sekali," sahut Emily. "Kalau kau sampai level berapa?"
"Aku sudah level lima puluh!" ucap Louis bersemangat. Mata Emily langsung berbinar dan mulutnya terbuka kecil. Emily terpengarah mendengarnya.
"Wah! Apa rahasianya! Aku terjebak di level dua puluh sejak seminggu lalu...." keluh Emily dengan wajah sedih.
"Itu mudah saja!" antusias Louis. Lalu dia menjelaskan beberapa triknya.
Tidak terasa waktu berlalu ketika mobil Audi hitam berhenti di depan mereka berdua. Emily dapat melihat kakaknya dari kaca mobil. "Aku sudah dijemput," pamit Emily. Dia membuka pintu mobil lalu menyelinap masuk dan duduk di samping Evan.
Mobil mewah melaju pergi. Louis hanya menatapnya dari belakang sampai kendaraan itu hilang dari pandangan.
***
Suasana di dalam perkantoran sore itu belum terlalu sepi. Masih ada beberapa karyawan yang tinggal di meja mereka. Begitu juga dengan asisten bernama William. Mejanya tampak penuh dengan sejumlah berkas. Pria berkacamata itu kemudian bangkit dari duduknya, membawa sepuluh map tebal di lengannya lalu langsung membuka pintu cokelat di depannya. Seketika itu juga pemandangan mengejutkan terpampang di mata seorang asisten direktur. Membuatnya terpaku kaget. Terbengong. Sesaat otaknya blank melihat sang bos sedang memangku gadis sekolahan sambil mengerjakan tugas.
"Ada apa?" Akhirnya Evan mendongak lurus. William tersadar lagi. Tiba-tiba sikapnya jadi gugup.
"Ini ada dokumen baru lagi yang harus Anda periksa," ucap William seraya membetulkan letak kacamatanya gugup.
"Letakkan saja di meja," perintah Evan. Pandangannya kembali tertunduk pada lembar dokumen di meja. Sementara Emily tidak bisa pergi kemana-mana saat satu lengan berotot Evan mengekangnya.
William segera meletakkan map itu ke meja. Kemudian bergegas pergi. Setelah pintu tertutup rapat lagi, Emily mengutarakan protesnya. "Kakak! Sampai kapan kita di sini? Aku lelah dan ingin pulang!" Sudah hampir satu jam lamanya sejak dia diseret paksa Evan ke kantor, bukannya langsung pulang ke rumah dulu tadi.
"Sedikit lagi ini akan selesai, sayang," ujar Evan bersabar. Padahal dalam hatinya memaki seluruh map yang diserahkan kepadanya hari ini. Dia hanya menandatangani nota kesepakatan dengan singkat dan membaca beberapa laporan karyawannya. Terlihat ada setumpuk map di sisi kanannya yang sudah diurus, sedangkan di sisi kirinya sepuluh map baru belum diselesaikan.
"Aku bosan...." keluh Emily. Dia bersandar ke pundak kakaknya dengan malas, tanpa merasa terusik dengan tangan kiri Evan yang tidak berhenti mengelus pahanya di bawah meja. Emily memakai rok sedikit di atas lutut, sehingga ketika duduk maka ujung roknya tertarik ke atas, membuat pahanya sedikit terekspos.
***
Malamnya, Emily duduk di depan komputer. Dia ingin melakukan saran dari Louis untuk naik level. Maka di dalam kamar yang gelap inilah dia sibuk menggerakkan mouse dan aktif menekan keyboard.
Jam di dinding menunjukan setengah dua belas malam. Hampir memasuki larut malam, akan tetapi rasa kantuk belum menggantungi kelopak matanya. Padahal sewaktu menemani Evan di kantor tadi sore, sudah terasa mengantuk berat.
Tiba-tiba sebuah pesan muncul disudut layar komputernya. Emily membuka pesan itu dan sederet kalimat pujian ditujukan.
[Permainanmu sangat bagus! Baru kali ini aku kalah dari seseorang di level 22!]
Emily telah berhasil menaikkan level karakternya dengan waktu singkat. Saran dari Louis sangat berguna. Walau dia hanya diberitahu secara listening tanpa ditunjukkan bagaimana prakteknya, tetapi Emily mampu melakukan semua itu dengan cepat. Bahkan hanya dalam dua jaman. Sepertinya dia memang berbakat dalam game online.
Kemudian pesan lain masuk dari Id pengirim yang sama. [Boleh aku tahu namamu?]
Emily mengetikan balasan dengan gerakan jemari yang cepat di atas keyboard. Dia membalas.
[Namaku adalah Id-ku. Lily.]
Tentu saja bukan nama asli yang dia ungkapkan. Menurut Emily, nama lengkap seseorang adalah rahasia yang tidak boleh sembarangan diberitahukan pada orang asing. Dia berprinsip hanya akan mengenalkan namanya jika mereka pernah bertemu secara langsung.
Jual mahal? Oh jangan berpikiran sempit. Nama lengkap seseorang bisa disalahgunakan di jaman serba canggih ini. Sombong? Jelas jauh dari kata rendahan tersebut bagi Emily.
Emily bukan tipe orang yang terbuka pada orang asing. Walaupun kepada seorang teman. Jadi dia enggan memberitahu nama aslinya jika itu bukan hal penting seperti pendataan yang membutuhkan identitas sebenarnya.
Pesan dari Id pengirim bernama L, kembali menghiasi notifikasi komputer Emily.
[Apa kau suka game ini? Beberapa hari lagi perusahaan itu akan melaunching game baru lagi.]
Emily membalas. [Benarkah? Ah, aku tidak sabar! Game ini sangat seru dan tidak lama lagi aku tamatkan. Lalu mereka meluncurkan game baru lagi? Ini membuatku bersemangat untuk mencobanya! Game dari perusahaan itu memang selalu memuaskan.]
Untuk beberapa menit ke depannya mereka saling bertukar pesan dalam obrolan seputar game online. Percakapan teks mereka hampir menjeda waktu Emily untuk melanjutkan permainannya. Bertukar pesan dengan si L itu cukup menyenangkan bagi Emily.
Membuat dia merasa baru pertama kali berkirim pesan dengan orang asing sepanjang ini dengan ramah. Alasan sefrekuensi menjadi faktor utama percakapan mereka saling menyambung, sama-sama pecinta game online dengan pengetahuan tidak terlalu amatir, alhasil obrolan mereka dapat dimengerti satu sama lain.
***
Evan terlihat baru keluar dari kamar mandi. Dia mendapati layar ponselnya menyala. Ketika dia meraihnya, ternyata sebuah panggilan masuk dari kontak bernama Mom. Evan menjawabnya. "Ada apa, Ma?" Suara berat Evan mengawali percakapan.
"Bagaimana kabar kalian? Di sana sudah malam kan?" kata suara ibunya dari seberang lain.
Evan menjawab. "Ya. Kabar kami di sini baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian di sana? Ada rencana untuk pulang?"
"Ya ketika nenek akan ulang tahun, Nak. Apa semua di perusahaan juga dalam keadaan baik?"
"Tentu, Ma. Aku sedang mempersiapkan pembukaan produk baru. Mama dan Papa tidak perlu khawatirkan di sini. Semua Evan jaga dengan baik termasuk Emily." Evan berkata penuh yakin. Sebagai anak sulung, dia memiliki tanggung jawab besar atas adik perempuannya sekaligus tugas yang orang tua percayakan padanya.
"Baiklah kalau kalian baik-baik saja. Mama tutup teleponnya. Selamat tidur."
Sambungan telepon pun putus. Evan meletakan ponselnya lagi di atas nakas, sejenak wallpaper wajah Emily menghiasi layar ponselnya sebelum touchscreen itu menghitam.
Tiba-tiba Evan terpikirkan adiknya. Sedang apa gadis itu sekarang? Apa sudah tidur?
***
Pintu kamarnya dibuka. Emily melirik sekilas. "Ada apa kak?" tanyanya sambil menatap komputer.
"Kenapa belum tidur? Ini sudah jam berapa, Emily? Nanti besok kau telat bangun lagi." Evan melihatnya dengan sabar.
"Iya, sebentar lagi." Emily ngeyel.
"Tidur sekarang atau kakak cabut kabelnya?" ancam Evan. Emily cemberut.
"Baiklah~" Emily mengalah. Dia mematikan layar komputernya. Lalu beranjak naik ke kasur, menarik selimut sampai leher. "Kakak keluar lah. Aku akan tidur," usir Emily. Namun, bukannya pergi, pria itu duduk ke tepi ranjang. Tatapannya menatap dengan lekat. Membuat Emily membalas mata kakaknya masih dengan ekspresi cemberut.
Wajah muramnya justru dibalas dengan senyum kecil di sudut bibir Evan yang kaku. Lampu tidur di atas nakas sedikit membantu penglihatannya melihat wajah sang kakak. Namun tiba-tiba merasa ada yang aneh dari tatapan sepasang mata dalam kakaknya. Seketika itu dia dibuat tertegun.
Tidak pernah Emily lihat sorot mata pria itu seperti sekarang. Kejanggalan menyusup di dalam benak Emily begitu melihatnya. Tatapan Evan terlalu sulit ditebak, dan terlalu dalam untuk diselami. Seolah-olah ada sejuta rahasia terjaga di dalam obsidian intens mata itu. Atau mungkin ini hanya perasaannya saja? Emily menggeleng, mengenyahkan pikiran abstraknya.
"Baiklah. Sudah malam." Evan tidak ingin mengganggu waktu tidur gadis itu lebih lama lagi. Sebelum keluar kamar, dia mencium kening Emily sesaat dengan membisikan kalimat selamat tidur yang manis di telinganya. "Mimpikan kakak, sayang." Sekilas embusan napas Evan menyapu telinganya.
Sambil berbaring, Emily melihat pintu kamarnya menutup perlahan di depan punggung tegap sang kakak. Perasaannya ambigu. Dia sendiri tidak mengerti. Tapi tidsk mau ambil pusing. Lantas di menit berikutnya dia memilih memejamkan mata dengan tenang.
***