Bab 1

Revel menatap penuh minat pada ponsel di tangan kanannya, seulas senyum sinis tersungging di wajah tampannya yang tampak jelas sedang merencanakan sesuatu. Entah apa. Hanya pria itu sendiri dan Tuhan yang tau. Yang pasti sesuatu itu dapat membuat hati Revel senang. Tak heran senyum terulas di wajah yang biasanya dingin dan datar!

“Dasar cowok bodoh! Gue akan bikin cewek lo ngeliat sendiri gimana kelakuan busuk lo itu malam ini!” gumam Revel lirih, hanya pada dirinya sendiri.

Dengan wajah puas, Revel mengantongi ponselnya serta turun menuju ruang makan dan menemukan keluarganya sudah berkumpul. Lengkap, tanpa kurang satu orangpun. Selalu seperti itu dari dulu, lebih tepatnya sejak orangtuanya resmi menikah di saat usianya sudah beranjak 5 tahun.

Revel menggeleng, mengingat masa dimana dirinya sempat merasa kesepian karena tidak mengetahui keberadaan sang papa, sejak lahir, hanya ada mama di samping Revel.

Tidak heran kalau Revel selalu menatap iri pada teman-temannya yang bisa bermain dengan ayah masing-masing, terlihat gembira. Bermain bola bersama. Diangkat tinggi-tinggi seperti sedang melayang di udara. Dan masih banyak hal lainnya.

Hal yang hanya bisa dilakukan oleh seorang ayah.

Tidak heran kalau Revel sering berdoa, meminta pada Tuhan agar dirinya juga memiliki seorang ayah! Dan ternyata Tuhan berkenan mengabulkan doanya!

Setelah orangtuanya resmi menikah, Revel akhirnya bisa tumbuh dalam keluarga yang utuh dan harmonis. Dan sesibuk apapun papanya dalam mengurus perusahaan, tapi sang papa tidak pernah melupakan keluarga.

Begitu juga dengan mamanya yang selalu memberi perhatian penuh pada suami dan anak-anaknya. Termasuk Revel tentunya.

Hal itulah yang membuat Revel sangat menghormati kedua orangtuanya, bahkan boleh dibilang Revel begitu memuja mereka. Bagi Revel, kedua orangtuanya adalah panutan meski tidak sempurna, tapi banyak hal yang dapat Revel pelajari dari mereka, tentu hal yang baik saja.

Apa yang pernah terjadi pada hubungan orangtuanya di masa lalu membuat Revel bisa belajar banyak hal. Hal yang tidak bisa dipelajari di sekolah ataupun kampus. Karena itu adalah bagian dari pelajaran hidup dan hanya bisa dipelajari di UK alias Universitas Kehidupan! Dan pelajaran itu berlangsung seumur hidup!

Tepat saat Revel tiba di ruang makan, Claire, mamanya, menoleh dan memanggil nama Revel dengan lantang. Heboh. Ceria. Itulah ciri khasnya. Jika tidak heboh, berarti bukan mamanya! Dan meski berisik, tapi Revel menyukai suara nyaring sang mama!

Ibarat kata, suara mamanya bagaikan burung yang tidak pernah berhenti berkicau. Nyaring. Bising. Namun jika tidak ada akan terasa sepi!

“Revel! Ayo kita makan malam. Papa kamu udah ribut lapar dari tadi tuh!”

“Iya, Ma,” jawab Revel patuh, khas anak penurut.

Mereka menikmati santap malam bersama dengan sedikit obrolan ringan.

“Bagaimana dengan kuliah kamu, Revel?” tanya papanya, Levin, sambil lalu.

“Nothing special, Pa. Tahun depan setelah lulus, aku berencana mengambil kuliah master di Melbourne,” jawab Revel memberitahu keinginannya yang sudah terpendam cukup lama kepada orangtuanya.

Dan baru hari inilah Revel mengatakannya secara gamblang, semoga saja papa Levin dan mama Claire tidak menentang rencananya!

“Kamu yakin? Apa kamu betah tinggal sendirian disana?” tanya mama Claire.

“Ma, aku bukan anak kecil lagi! Dan aku bukan seorang nerd, jadi Mama tidak perlu khawatir karena aku pasti akan memiliki banyak teman disana, tidak sendirian seperti yang Mama takutkan!” balas Revel gemas.

Mama Claire selalu seperti itu. Memperlakukan Revel seolah dirinya masih anak kecil! Padahal umurnya sudah 20 tahun! Revel menoleh saat mendengar cekikikan kecil, kedua adik kembarnya itu pasti sedang menertawakannya lagi!

Mereka sangat suka jika melihat Revel kesal seperti ini. Terlebih mereka juga tau kalau Revel merasa risih jika mama Claire masih menganggapnya seperti anak kecil! Iyalah! Mana ada pria dewasa yang suka diperlakukan seperti anak kecil? Jika ada, mungkin pria itu punya kelainan!

“Kalian kenapa ketawa?” tanya Revel sebal.

“Ihh! Jadi cowok kok sensi amat sih?” kekeh Brianna jahil sambil menjulurkan lidah.

Revel mendengus, tidak bisa menjawab atau mengomeli adiknya. Semenyebalkan apapun mereka, tetap saja Revel sangat menyayangi kedua adik kembarnya. Brian dan Brianna.

Claire memandang ketiga anaknya, memutus perdebatan kecil diantara mereka.

“Iya, sorry! Mama kan cuma khawatir. Lagipula apa pacar kamu nggak protes kalau kamu tinggalin dia sendirian disini? Nggak takut dia kecantol sama cowok lain yang lebih ganteng daripada kamu?”

“Pacar apa sih, Ma? Aku belum punya pacar!” balas Revel malas, sadar kalau sang mama hanya menggodanya saja atau mungkin ingin sekalian mengorek informasi? Bisa jadi!

“Masa? Terus dari kemarin yang sering telepon dan jalan sama kamu siapa kalau bukan pacar?” tanya mama Claire kepo.

“Mereka cuma teman kuliahku, Ma.”

“Ahh! Teman apanya coba? Anak sama bapak emang sama aja! Sama-sama playboy! Jangan kamu pikir Mama nggak tau ya kalau kamu sering jalan sama banyak cewek!” gerutu mama Claire jadi kesal sendiri saat mengingat masa lalu suaminya yang adalah mantan playboy sejati yang sering berkencan dengan banyak wanita!

Revel melirik ke arah papa Levin dan menahan tawa, tampak jelas wajah papa Levin yang begitu frustasi kalau mama Claire sudah berbicara mengenai masa lalunya. Entah kenapa sifat mamanya begitu ajaib, padahal papanya sudah lama tobat, tapi tetap saja kena omel jika membahas masalah pacar!

Mama Claire memang ahli sejarah sejati! Tidak pernah melupakan masa lalu barang sedetikpun! Tidak heran kalau papa Levin tidak berani macam-macam, dosa masa lalu saja masih dibahas, apalagi kalau buat dosa masa kini? Habislah sudah! Tamat riwayatnya! The end! Game over!

“Claire, please deh! Kita lagi makan malam. Jangan bikin anak-anak pusing dengan omelan kamu,” pinta Levin.

Mama Claire menoleh kepada ketiga anaknya. Revel. Brian. Brianna. Mereka hanya nyengir mendengar ucapan sang papa. Sadar kalau sebenarnya itu hanya akal-akalan papa Levin agar mama Claire tidak lagi berkicau mengenai masa lalu kelam sang papa.

Mama Claire mengangkat bahu, tidak lagi membahas masa lalu suaminya yang menyebalkan. Begitulah mama Claire, cepat tersulut tapi cepat reda juga ocehannya.

“Pokoknya Mama nggak mau kamu ceroboh atau salah pergaulan ya, Revel! Kalau sampai kamu melanggar, Mama tidak akan tinggal diam!” tegas mama Claire.

“Papa juga sama dengan Mama kamu, Revel. Hargailah wanita, jangan pernah mempermainkan mereka,” tambah papa Levin.

“Cih! Kayak sendirinya nggak pernah mempermainkan wanita aja!” cibir mama Claire telak membuat papa Levin merengut kesal, tidak bisa menjawab ucapan istrinya.

Revel menggigit bibir, menahan tawa yang hampir meledak. Orangtuanya memang lucu.

Mereka saling mencintai. Ralat! Mereka berdua udah cinta mati satu sama lain sejak dulu, tapi sering bertengkar juga! Aneh!

“Mama Papa tenang aja, okay? Aku akan ingat nasehat kalian berdua,” jawab Revel mencoba menenangkan orangtuanya. Berharap mereka tidak lagi berdebat.

“Mama pegang ucapan kamu. Awas kalau ingkar!” ancam mama Claire.

“Beres, Ma! Btw abis ini aku mau pergi ke acara pesta temen kampusku ya, Ma, Pa,” lanjut Revel mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Pulang jam berapa?”

“Mungkin tengah malam.”

“Tengah malam? Emangnya kamu nemenin mbah kunti?” tanya mama Claire asal.

Revel yang mendengar pertanyaan mama Claire hanya bisa mendesah kesal.

Mamanya seperti nggak pernah muda aja deh!

“Acaranya aja baru mulai jam 9 malam, Ma. Namanya juga pesta anak muda,” balas Revel mencoba sabar dengan kelakuan ajaib sang mama.

“Ya udah. Pokoknya jaga diri kamu jangan sampe salah pergaulan. Cuma itu pesan Mama,” ulang mama Claire tegas.

“Siap, Ma!”

Izin dari sang mama membuat Revel bersorak, semakin tidak sabar ingin segera melesat pergi ke tempat dimana ‘pertunjukkan’ seru akan berlangsung!

Bab 2

Jill menatap tampilan wajahnya dari cermin meja rias. Tangannya dengan lincah mengaplikasikan eyeliner tipis, hanya untuk menegaskan garis mata yang sebenarnya memang sudah terlihat cantik. Terakhir, dirinya memoleskan lipstick berwarna peach ke bibirnya. Warna yang menurut Jill paling cocok dengan kulit wajahnya yang putih bersih.

‘Perfect! Sekarang waktunya berpesta, Jill!’ batin gadis itu pada dirinya sendiri.

Sekali lagi, sebelum keluar kamar, Jill memastikan penampilannya yang sudah sempurna. Cantik. Itulah dirinya. Siapapun pasti akan mengakui kecantikannya. Jill patut berbangga diri karena anugerah yang Tuhan berikan padanya.

Dengan tubuh tinggi semampai bagaikan model, wajah oval, alis yang melengkung indah, mata berbentuk almond dengan double eyelid alami, hidung mancung dan bibir tipis berwarna pink cerah. Jill beruntung tidak perlu bersusah payah untuk mempercantik diri karena sudah terlahir cantik alami.

“Ma, aku pergi dulu ya.”

“Okay! Jangan terlalu banyak minum alkohol di pesta Gwen, okay?” peringat sang mama.

“Siap, Ma!” balas Jill cepat.

Tidak ingin mendebat meski Jill tidak yakin apakah dirinya bisa menepati ucapannya atau tidak! Tentu saja, di pesta anak muda pasti akan ada banyak alkohol yang diedarkan kan?

Dan Jill hanya perlu menikmati apa yang ditawarkan oleh sang empunya pesta!

Jill berjalan santai, asyik bersenandung lirih. Tepat setelah masuk ke dalam mobilnya, ponsel Jill berdenting menandakan ada chat masuk. Keningnya mengernyit heran saat melihat nomor asing yang tidak dikenal mengirimkan beberapa foto ke nomornya.

“Nomor siapa nih?” gumam Jill dan bergegas membukanya, tidak sabar ingin melihat foto apa yang dikirimkan padanya.

Dan foto yang muncul di layar ponselnya membuat Jill terbelalak kaget, membuat umpatan pelan meluncur mulus dari bibirnya! Tangannya terkepal erat, emosi menguasai dadanya yang bergemuruh. Terlebih saat membaca kalimat di bawah foto tersebut.

Kalimat yang terkesan mengejek!

‘Begini kelakuan cowok lo, apa lo yakin mau melanjutkan hubungan dengan pria brengsek macam ini? Kasian banget diselingkuhin berulang kali, sama cewek nggak jelas pula!’

Itulah pesan yang tertulis. Kalimat yang terkesan memprovokasi hingga Jill merasa emosinya naik seketika! Bagaimana tidak emosi saat sadar kalau dirinya mungkin sedang diselingkuhi oleh kekasihnya sendiri? Kekasih yang sangat dicintai dan dipercayainya!

Tanpa membuang waktu sedetikpun, Jill langsung menghubungi nomor tersebut, ingin memastikan siapa pengirimnya. Bisa saja orang jahil kan? Namun hingga nada panggil dialihkan ke kotak suara, si pemilik nomor tidak mengangkat teleponnya. Sialan!

‘Apa yang ada di foto ini benar? Alvaro nggak mungkin mengkhianati gue! Tapi kalau nggak benar, bagaimana bisa ada foto seperti ini? Foto saat Alvaro sedang mencium seorang wanita dengan begitu bergairah! Brengsek! Apa foto ini editan?’

Pikiran Jill masih begitu kacau saat nomor asing yang sama kembali mengiriminya pesan.

“Kurang ajar! Telepon nggak diangkat tapi bisa kirim pesan! Siapa sih orang ini?!” maki Jill jadi sewot sendiri. Kesal karena informan tersebut seolah ingin menguji kesabarannya yang setipis tissue!

‘Kalo nggak percaya, datang aja ke bar di hotel X dan lihat sendiri kelakuan cowok brengsek lo bersama dengan selingkuhannya.’

Itulah pesan yang masuk ke ponselnya. Pesan yang membuat rasa penasaran Jill semakin memuncak! Pesan yang seolah menantangnya untuk membuktikan kebenaran atas foto-foto tersebut! Pesan yang membuat Jill bimbang!

Haruskah dirinya datang? Bukankah sekarang Jill sedang bersiap untuk menghadiri acara ulang tahun Gwen, sahabatnya? Jill sudah bilang kalau dirinya akan hadir, tapi sekarang harus bagaimana? Membuktikan kebenaran dari chat tersebut atau abaikan saja?

‘Nggak boleh diabaikan! Gue harus buktiin sendiri! Gue nggak mungkin diam aja saat mengetahui kemungkinan kalau gue udah dikhianati kan?’ batin Jill.

Karena jika benar Alvaro mengkhianatinya, maka Jill tentu harus memberi pelajaran pada cowok sialan itu! Dan jika semua foto ini hanya rekayasa, maka Jill harus memberi pelajaran pada informan kurang ajar ini!

“Nanti setelah selesai dengan urusan Alvaro, gue akan langsung hadir ke acara ulang tahun Gwen!” gumam Jill memutuskan. Terlihat penuh tekad.

Jill sungguh penasaran, apakah benar Alvaro, pria yang tampak begitu mencintainya, tega mengkhianati dirinya? Tapi kenapa? Apa salah dan kurangnya? Jill tidak bisa menebak-nebak terus seperti ini! Jill perlu jawaban pasti!

Jadi tanpa ragu Jill melajukan mobilnya menuju ke hotel X. Gadis itu menginjak pedal gas semakin dalam, tidak sabar agar bisa segera tiba di lokasi. Beruntung malam ini lalu lintas tidak terlalu padat! Namun meski begitu Jill beberapa kali menyalip kendaraan hingga membuat mereka melengking marah!

Persetan! Jill tidak peduli. Urusannya jauh lebih penting saat ini! Urusan yang berhubungan dengan masa depan dan harga dirinya!

‘Gue bukan cewek bodoh yang akan diam aja kalau diselingkuhin! Gue harus buktiin sendiri kebenarannya!’ batin Jill sambil mencengkeram kemudi mobilnya erat-erat!

Dua puluh menit kemudian…

Jill melangkahkan kakinya menuju ke bar yang berada di hotel X dengan hati berdebar kencang, berharap semua isi pesan yang dikirimkan padanya hanya fitnah belaka dari oknum yang tidak bertanggung jawab. Berharap Alvaro tidak akan mengkhianatinya seperti informasi yang masuk ke ponselnya tadi.

Jill mengedarkan pandangan ke seluruh area bar dan nafasnya tercekat saat matanya menangkap sosok Alvaro, kekasihnya, yang sedang merangkul pinggul seorang wanita dengan begitu mesra! Bahkan tubuh mereka menempel erat!

Matanya terasa panas! Sialan! Ternyata foto-foto itu memang benar! Bukan sekedar editan! Ternyata ini alasan Alvaro tidak ingin menemaninya datang ke acara ulang tahun Gwen? Karena sibuk bermesraan dengan wanita lain?

Padahal Alvaro tau kalau Gwen adalah sahabat Jill!

Dan Jill dengan bodohnya tidak mempermasalahkannya! Terlalu poloskah dirinya hingga selalu mempercayai ucapan kekasih brengseknya itu? Selalu percaya pada alasan apapun yang keluar dari bibir Alvaro? Kurang ajar!

“Bagaimana? Percaya dengan informasi yang gue kasih?” tanya seorang pria dengan suara dalamnya. Suara yang membuat Jill merinding karena terkesan begitu maskulin! Begitu jantan! Dan terdengar menggoda indera pendengaran Jill.

Jill menoleh sengit dan melihat seorang pria berwajah oriental yang terlihat begitu tampan, belum lagi dengan tubuh tingginya yang begitu tegap. Jika saja Jill tidak sedang dalam keadaan emosi, mungkin saja dirinya akan terpesona!

Tapi tidak untuk saat ini, disaat kekesalannya memuncak karena pria asing di hadapannya sekarang! Pria yang membuat Jill sadar kalau Alvaro selama ini sudah membodohinya!

“Jadi lo yang kirimin gue foto-foto tadi?”

“Begitulah!”

“Apa mau lo?”

“Nggak ada. Biar lo tau aja kelakuan cowok lo kayak gimana.”

“Apa urusan lo, Brengsek?!” maki Jill emosi, tidak habis pikir kenapa pria asing ini begitu kepo mengurus kisah percintaannya. Kenal saja tidak!

Revel, pria itu tersenyum sinis saat mendengar ucapan Jill.

Nada marah terdengar jelas dalam suara wanita itu.

Entah marah karena Alvaro mengkhianatinya kah?

Atau marah karena malu kelakuan brengsek kekasihnya diketahui orang lain?

Atau yang lebih parah lagi, malu karena Jill sama sekali tidak sadar kalau dirinya selama ini dibodohi oleh pria seperti Alvaro?

Entahlah! Hanya Jill yang tau alasan sebenarnya!

“Jill, gue nggak nyangka kalau lo ternyata senaif ini. Kenapa? Apa karena lo nggak pernah mengira kalau pada kenyataannya cowok lo itu brengsek?” hina Revel.

Jill tersentak kaget saat pria itu menyebut namanya, seolah sudah mengenal dirinya sejak lama. Padahal mereka baru bertemu kali ini!

“Darimana lo tau nama gue?”

Revel hanya tersenyum, tidak berniat menjawab pertanyaan Jill.

“Lo nggak perlu tau.”

“Nggak adil! Lo tau nama gue, tapi gue nggak tau nama lo!”

“Revel. Itu nama gue,” jawab Revel singkat dan jelas.

Jawaban Revel membuat Jill terdiam, otaknya seolah memiliki memory akan nama tersebut. Tapi apa?

Bab 3

Jill terdiam saat pria itu tanpa ragu menyebutkan namanya, ia pikir pria itu akan menghindar saat Jill menanyakan namanya, nyatanya tidak! Detik itu juga Jill merasa hatinya terusik, seolah nama Revel memiliki arti tersendiri. Tapi apa? Entahlah! Jill tidak ingat! Padahal Revel bukan nama yang umum di Indonesia kan?

“So, apa yang akan lo lakuin sama cowok brengsek lo itu?”

Pertanyaan Revel membuat Jill tersentak. Gadis itu seperti baru tersadar akan tujuannya datang kesini dan menoleh sengit ke arah Alvaro yang saat ini malah asyik berciuman dengan wanita selingkuhannya!

Ciuman yang begitu bernafsu membuat Jill jijik! Ciuman yang membuat Jill muak! Ciuman yang membuat amarah Jill semakin menggelegak!

Tanpa ragu Jill melangkah ke arah Alvaro, kekasihnya yang masih asyik berciuman panas dengan wanita yang tampak jelas penuh dengan kepalsuan!

‘Pasti itu badan isinya silicon semua!’ geram Jill, tidak habis pikir kenapa Alvaro bisa tertarik dengan wanita semacam itu! Tentu saja Jill sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan wanita silicon yang menjijikkan itu! Jill 10000000% jauh lebih baik!

“Alvaro!”

Alvaro menoleh saat namanya dipanggil, terpaksa memutus pagutan liarnya dengan wanita yang berada diatas pangkuannya. Dan wajah Alvaro seketika memucat saat menemukan Jill berdiri di hadapannya, melihat jelas kelakuannya.

Jill menikmati raut wajah Alvaro yang begitu terkejut saat melihat kehadirannya.

Alvaro tidak menyangka kalau Jill, kekasihnya, akan datang ke bar ini dan menangkap basah kelakuan busuknya. Live. Tanpa sensor! Apakah ini hari sialnya?

Lagipula bukankah Jill seharusnya hadir ke acara ulang tahun Gwen? Tapi kenapa tiba-tiba bisa ada disini? Dan Alvaro sangat tau kalau Jill tidak pernah datang ke bar ini! Sumpah, Alvaro sama sekali tidak pernah mempersiapkan diri untuk menghadapi hal memalukan seperti yang sekarang terjadi!

“Ternyata urusan penting yang lo maksud kayak gini? Okay! Karena gue udah tau alasan yang sebenarnya, jadi lebih baik sekarang kita jalan masing-masing aja! Urusin aja selingkuhan lo itu! Gue nggak butuh cowok brengsek kayak lo!” ketus Jill membuat Alvaro kelabakan bagai ikan yang tidak diberi air.

Tidak menyangka kalau Jill akan mengucapkan kalimat itu, apalagi selama ini Jill terlihat jelas begitu mencintai dan mempercayai Alvaro!

Bagaimana bisa Jill memutuskannya semudah ini?

“Jill…”

“Kita putus!” sela Jill sebelum Alvaro sempat mengucapkan sepatah katapun.

Singkat, padat, jelas. Dan langsung berbalik pergi, hendak meninggalkan Alvaro yang langsung mengumpat kasar! Namun Alvaro yang tidak terima diputuskan sebelah pihak seperti ini langsung mengejar dan mencengkeram lengan Jill, tidak sadar atau tidak peduli meski itu membuat Jill meringis kesakitan!

“Lepasin gue, Brengsek!” maki Jill marah karena Alvaro bersikap kasar padanya.

“Apa maksud lo barusan?” geram Alvaro.

“Gitu aja lo nggak ngerti? Kita putus! Gue nggak punya hubungan apapun lagi sama cowok brengsek model kayak lo!”

“Gue nggak mau putus!”

“Terserah! Gue nggak peduli! Yang pasti gue mau putus! Gue nggak mau lagi punya hubungan sama cowok brengsek kayak lo!”

Jill mengatakan hal itu dengan tegas, tidak ada keraguan sama sekali dalam ucapannya, seolah dirinya hanya memutuskan pacar bohongannya, meski pada kenyataannya Jill merasa begitu marah, kecewa dan sakit hati, tapi dirinya pantang memperlihatkannya pada pria brengsek macam Alvaro! Pria itu tidak cukup berharga untuk ditangisi!

Jadi jangan harap Jill akan menunjukkan kelemahannya di depan cowok brengsek ini!

Ketegasan Jill membuat Alvaro melunak, sadar kalau dirinya tidak bisa bersikap keras jika menghadapi Jill, apalagi kesalahannya terlihat jelas di depan mata!

“Sayang, kamu salah sangka! Ini nggak seperti yang kamu pikir! Aku dijebak!” elak Alvaro, mengeluarkan kalimat klise yang sering diucapkan oleh pria yang sudah tertangkap basah saat melakukan hal memalukan nan menjijikkan seperti dirinya! Berharap Jill kembali percaya pada kebohongannya.

Kalimat yang hanya bisa mengelabui perempuan bodoh yang buta akan cinta. Yang pasti Jill tidak akan tertipu lagi karena dirinya bukan gadis bodoh!

“Dijebak?” sinis Jill dengan raut menghina.

“Gue udah liat semua kok kelakuan brengsek lo dari tadi. Nggak usah dijelasin lagi. Bye!” lanjut Jill telak.

Tepat setelah mengucapkan hal itu, Jill berlalu pergi begitu saja, meninggalkan pria yang selama beberapa tahun terakhir selalu memenuhi hari-harinya! Jill enggan menatap wajah munafik di hadapannya! Nggak sudi!

Revel menatap adegan pertengkaran di depannya dalam diam, tampak asyik menghayati perannya sebagai penonton yang baik dan tidak menginterupsi sama sekali. Biarkan saja Jill yang menyelesaikannya sendiri. Yang penting tujuan Revel sudah tercapai!

Revel hanya ingin agar Jill melihat sendiri tingkah brengsek dari pria yang selama ini dipujanya. Hanya itu. Simple kan?

Alvaro menatap panik pada Jill yang melangkah cepat meninggalkannya tanpa menoleh lagi. Seolah gadis itu tidak memiliki keraguan sama sekali untuk memutuskan hubungan dengannya! Gawat!

“Jill!” panggil Alvaro panik.

“Alvaro!”

Langkah Alvaro yang hendak mengejar Jill terhenti saat wanita selingkuhannya menahan pergelangan tangannya, tidak terima ditinggalkan begitu saja setelah Alvaro melumat bibirnya habis-habisan! Bahkan lipstiknya sampai habis karena Alvaro terlalu bersemangat melumatnya sedari tadi!

“Lepas, Steffi!” geram Alvaro saat langkahnya tertahan akibat ulah Steffi, wanita yang sedari tadi asyik duduk di pangkuannya! Alvaro tidak boleh kehilangan Jill. Tidak boleh! Atau dirinya yang akan rugi sendiri!

Alvaro tidak mungkin melepas gadis kaya yang bisa dimanfaatkan dan memberi keuntungan bagi perusahaan keluarganya kan? Alvaro tidak ingin rencana jangka panjang yang telah disusunnya jadi berantakan hanya karena keteledoran kecil seperti ini! Keteledoran karena dirinya bermesraan dengan wanita jalang yang bernama Steffi!

Alvaro menghentak tangan Steffi dengan kasar dan berniat mengejar Jill, tapi terlambat!

Kekasihnya itu sudah tidak nampak lagi dimanapun, meski Alvaro sudah berkeliling tetap saja dirinya tidak menemukan Jill!

“Brengsek! Kenapa Jill menghilang begitu cepat?!” umpat Alvaro frustasi, tidak menyangka kalau malam ini akan dipergoki oleh kekasihnya sendiri!

Biasanya Jill tidak pernah bersikap seperti ini dan selalu menerima alasan apapun yang diucapkan oleh Alvaro, tapi kenapa sekarang Jill bisa muncul disini? Siapa yang memberitahunya? Damn!

Berbagai macam pertanyaan muncul di benak Alvaro, namun pria itu hanya bisa bertanya heran dalam hati dan sayang otak bodohnya tidak bisa menemukan jawabannya sama sekali! Sepertinya otak Alvaro terlalu kecil seperti udang!

Alvaro tidak sadar kalau sumber informasi dari pertengkarannya dengan Jill berada tidak jauh dari dirinya! Alvaro hanya sibuk bertanya-tanya dan menebak-nebak!

Revel hanya melihat adegan yang terjadi di depannya dengan santai, seolah tidak peduli, meski yang sebenarnya terjadi adalah tidak ada satu hal pun yang luput dari matanya yang setajam elang!

‘Perfect! Satu benalu berhasil dibuang. Sekarang waktunya gue dapetin lo, Jill!’ batin Revel dengan senyum yang menyimpan sejuta makna.

“Sebentar lagi gue akan bikin lo jadi milik gue sepenuhnya, Jill! Tunggu aja! Gue nggak akan sia-siain cewek cantik kayak lo dan gue janji nggak akan bikin lo jomblo lama-lama,” gumam Revel lirih dengan senyum tipis.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED