Bab 1

Saat ini, Alan sedang bersiap-siap di dalam kamarnya, karena sebentar lagi, Alan harus secepatnya berangkat ke sekolah.

Di Sekolah, Alan mendapatkan julukan dari gurunya. "Tampang Konglomerat Tingkah Laku Melarat."

Alan tidak tahu kenapa gurunya menjuluki Alan seperti itu, mungkin karena Alan sering bolos dan zonk soal pelajaran Matematika.

Perjalanan dari rumah ke sekolah hanya memakan waktu 10 menit.

Setibanya disekolah, Alan masuk ke ruang kelas lalu duduk di pojok paling belakang.

Alan sangat membenci pelajaran matematika, karena setiap pelajaran matematika, Alan selalu di panggil ke depan oleh gurunya yaitu Bu Elissa.

Tak lama terdengar suara Bell masuk.

Kriiing... Kriiing...! Begitulah kira-kira suara Bell nya.

Mendengar suara Bell, semua murid kembali duduk di kursinya masing-masing, sehingga terlihat sangat rapi.

Beberapa saat kemudian, Bu Elissa masuk keruangan lalu duduk di kursi kebesarannya.

"Selamat pagi ibu guru." Sapa semua murid keroyokan.

"Pagi juga semuanya." Balas Bu Elissa dengan senyum manisnya.

Bu Elissa langsung memulai pelajarannya, lalu menulis soalnya di Papan tulis.

Setelah selesai menulis soalnya, Bu Elissa meminta semua muridnya untuk menyelesaikan tugasnya.

"Baik anak-anakku kalian salin di buku, setelah itu kalian kerjakan soalnya, kalau sudah selesai tolong kumpulkan tugasnya di meja saya." Kata Bu Elissa lalu duduk kembali di kursi kebesarannya.

Bu Elissa, terkenal guru yang paling cantik di sekolah, banyak sekali siswa yang membicarakan Bu Elissa, bukan hanya cantik, Bu Elissa juga memiliki body yang sangat aduhai.

Setiap pelajaran matematika. Semua anak pria otaknya mesum semua, dan tidak pernah fokus dengan pelajarannya, karena yang mereka lihat isi di dalam seragamnya Bu Elissa.

Setelah selesai mengerjakan soalnya, Alan mengumpulkan tugasnya. Walau hasil contekan dari temannya.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara Bu Elissa memanggil Alan. Dan Alan sudah langganan di panggil Bu Elissa, karena Alan terkenal sering menyontek setiap pelajarannya.

"Alan, coba kedepan dulu." Pinta Bu Elissa yang sudah siap mengintrogasi Alan.

"Benarkan dugaanku, dia benar-benar sentimen. Masa setiap pelajarannya, aku terus yang dipanggil, siap-siap deh dipermalukan di depan publik." Batin Alan.

"Alan, kamu nggak denger saya ngomong?" Tanya Bu Elissa lalu matanya melotot menatap Alan, karena Alan tidak mengikuti perintahnya.

"Iya bu." Alan bangkit dari kursinya, lalu pergi ke depan menghadap Bu Elissa.

Alan pun sudah pasrah dipermalukan, karena ini bukan pertama kalinya Alan dipanggil ke depan, dan hampir setiap pelajaran matematika, Alan selalu di panggil ke depan.

Setelah di depan, Alan berdiri menghadap semua teman-temannya.

Alan melihat semua teman-temannya terus tersenyum mengejek Alan, karena ia sudah tahu, sebentar lagi Alan akan mendapatkan hukuman dari Bu Elissa.

Bu Elissa kembali bicara.

"Barusan saya lihat jawabannya benar semua, Kamu sekarang sudah banyak kemajuan ya." Kata Bu Elissa lalu tersenyum manis menatap Alan, yang sedang berdiri di dekat papan tulis.

Alan sudah merasakan tanda-tanda bencana sudah mulai mendekat, sedikitpun Alan tidak senang mendengar pujian dari gurunya, Karena Alan merasa, sebentar lagi Bu Elissa akan membombardir nya di depan teman-temannya.

Alan hanya diam saja sambil menundukan kepalanya menatap lantai keramik, karena Alan tidak tahu harus berkata apa kepada gurunya.

Bu Elissa kembali berkata.

"Coba sekarang kamu kerjakan disini, agar teman-teman kamu bisa melihat cara perhitungannya dari mana." Ucap Bu Elissa, sukses membuat Alan jantungan.

Saat ini tubuh Alan terasa panas dingin, bahkan jantungnya sudah hampir lepas dari tempatnya, karena sebentar lagi bom atom akan segera meledak.

Bu Elissa menulis kembali soalnya di Papan tulis, setelah selesai, Bu Elissa mempersilahkan Alan untuk mengisi soalnya.

"Coba kamu kerjakan soal yang ini." Pinta Bu Elissa lalu kembali duduk di kursinya.

"Rasanya ingin secepatnya berakhir pelajaran ini, karena setiap pelajaran Matematika, sangat menguras sekali energiku." Batin Alan.

"Alan, cepat kerjakan." Kata Bu Elissa, karena melihat Alan terus berdiri mematung.

"I_iya Bu." Ucapnya sangat gugup.

Alan tidak tahu harus gimana, karena Alan sama sekali tidak mengerti pelajaran matematika, karena tidak ada cara lain, Alan terpaksa berpura-pura asal menghitung.

"Udah Bu." Ucap Alan, setelah selesai mengisi soalnya.

Bu Elissa langsung melihat hasilnya, namun setelah melihat hasilnya, Bu Elissa menggelengkan kepalanya.

Beberapa saat kemudian, semua murid berbondong-bondong menertawakan Alan. Bahkan saking gelinya, ada yang sampai menumpahkan iler nya ke mejanya.

"Aku sudah menduga hal itu akan terjadi, dan aku tetap tabah menghadapi cobaan ini." Batin Alan frustasi.

Bu Elissa kembali berkata.

"Di buku kamu jawabannya benar semua. Kenapa disini salah?" Tanya Bu Elissa sambil menggelengkan kepalanya, karena kecewa melihat Alan yang hanya dikaruniai memori 2 GB. Sehingga Alan selalu Loading saat pelajaran Matematika.

Mendengar itu, Alan hanya diam saja, karena tidak mungkin Alan mengatakan kalau semua itu ia dapatkan dari hasil google.

Bu Elissa kembali berkata.

"Ya sudah setelah pulang sekolah kamu menghadap keruangan saya, sekarang kamu boleh duduk." Ucap Bu Elissa penuh kecewa.

Alan terpaksa harus mengikuti perintahnya, Karena Bu Elissa sudah mengancam Alan, kalau sampai Alan tidak menuruti keinginannya, Alan tidak akan lulus sekolah.

Alan kembali duduk di kursinya, dan melanjutkan kembali pelajarannya.

4 jam kemudian terdengar suara Bell pulang...

Kriiing.... Kriiing... Suara bell.

Alan pun bersiap-siap, karena Bu Elissa sudah menunggunya diruangannya.

"Asik nih bisa berduaan sama Bu Elissa." Ucap Hendi mengejek Alan.

"Ah elu hen bisanya ngejek doang, bantu gua kek." Sahut Alan frustasi, karena Alan sudah tahu akan mendapatkan hukuman dari Bu Elissa.

"Gimana cara bantunya Lan?" Tanya Hendi sahabat Alan sambil cengengesan, karena merasa lucu melihat sahabatnya selalu di zolimi oleh Bu Elissa.

"Ia juga sih, nyesel gua pas pembagian otak nggak dateng, jadinya gini deh Loading terus." Ucap Alan penuh penyesalan.

"Hahaha... Salah elu sendiri main mulu." Sahut Hendi sambil tertawa.

Tiba-tiba trio macan datang mengejek Alan.

"Wiiiih.... Alan mau berduaan dengan guru terpopuler di sekolah kita nih." Kata Anna sambil berjalan menghampiri Alan.

"Apaan sih datang-datang malah ngejek, bukan nya bantuin kek." Sahut Alan merasa kesal, karena dari dulu Trio macan selalu mengejek Alan.

"Hati-hati loh Lan, dia kan janda." Sekarang Mela yang bicara.

"Gila lu ah, ya udah gua mau keruangan Bu Elissa dulu, takut dia nungguin gua." Ucap Alan lalu pergi menuju ruangannya Bu Elissa.

Saat ini semua murid dan Guru sudah pulang semua, yang tersisa hanya Alan dan Bu Elissa saja di sekolah.

Saat Alan tiba di depan ruangannya Bu Elissa, jantungnya berdetak sangat cepat. Alan pun sangat ragu untuk masuk ke ruangannya.

"Kalau terus-terusan seperti ini, sekolah seperti kayak di neraka." Batin Alan sambil mengatur nafasnya.

Alan terpaksa masuk ke ruangannya, karena ia ingin secepatnya pulang ke rumah.

Tok..tok..tok.. "Permisi Bu." Ucapnya sambil mengetuk pintu.

"Masuk." Teriak Bu Elissa di seberang pintu.

Setelah mendapatkan izin, Alan langsung mendorong pintunya, lalu masuk ke ruangannya Bu Elissa.

Bab 2

Setelah di dalam ruangan, Alan duduk di kursi menghadap Bu Elissa.

Bu Elissa bangkit dari tempat duduknya, lalu duduk diatas sofa yang ada di sebelah kiri mejanya.

"Alan, cepat duduk disini." Pinta Bu Elissa yang masih kesal karena Alan selalu tidak bisa mengerjakan tugasnya.

"Ia bu." Ucap Alan patuh, lalu duduk diatas sofa menghadap Bu Elissa.

Saat Alan duduk di sofa, tak sengaja Alan melihat pahanya Bu Elissa yang terlihat putih dan mulus, Alan juga melihat dengan sangat jelas celana dalamnya Bu Elisa berwarna merah jambu.

Saat Alan sedang melamun memikirkan warna merah jambu, Bu Elissa kembali berkata.

"Kamu mau sampe kapan nyontek terus?" Tanya Bu Elissa sukses membuat Alan kaget bukan main, karena otak Alan terus memikirkan isi di dalam warna merah jambu.

"E_enggak tau Bu." Jawab Alan sangat gugup, karena warna merah jambu sudah merusak otaknya, bahkan penis Alan sudah terbangun.

"Kamu kenapa gugup sekali?" Tanya Bu Elissa merasa heran, karena melihat Alan terlihat sangat aneh.

"E_enggak papa Bu." Lagi-lagi hanya itu yang dapat Alan katakan, karena Alan sangat gugup duduk berhadapan dengan Bu Elissa.

"Kamu sakit?" Tanya Bu Elissa merasa khawatir, karena wajah Alan terlihat sangat pucat.

"Nggak kok Bu." Lagi-lagi hanya itu yang Alan katakan.

"Coba kamu bangun." Pinta Bu Elissa sukses membuat Alan semakin ketakutan.

Karena kalau sampai Alan bangun, burung gagaknya pastinya terlihat sangat jelas menonjol, karena burungnya sudah terbangun dan ingin segera masuk ke dalam sangkarnya.

Alan kembali bicara.

"Ja_jangan Bu." Ucapnya sangat gugup, karena Alan sangat takut membuat kesalahan.

"Saya minta kamu bangun." Bu Elissa terus memaksa Alan, agar Alan menuruti perintahnya, karena Bu Elissa melihat sikap Alan terlihat sangat aneh. Sehingga membuat Bu Elissa semakin penasaran.

Alan tidak punya pilihan lain, akhirnya Alan pun terpaksa bangun dari tempat duduknya.

Saat Alan terbangun dari tempat duduknya, mulut Bu Elissa langsung menganga, dan matanya melotot menatap celana Alan yang terlihat menonjol.

"Kamu kenapa kok itunya bangun?" Tanya Bu Elissa sangat syok, melihat burung Alan tiba-tiba terbangun.

"Yaa... elah pake segala nanya kenapa. Orang pelakunya ada di depan gua." Ucap Alan dalam hati.

Alan kembali bicara.

"E_enggak tau Bu." Jawab Alan sangat gugup, sambil terus menundukan kepalanya karena merasa malu.

Karena merasa malu, Alan langsung membalikan tubuhnya, kemudian merapikan burungnya, agar tidak terlalu terlihat menonjol, karena kalau sampai di biarkan, urusannya bisa berabe.

Setelah merasa rapi, Alan kembali membalikan tubuhnya.

Saat ini otak Bu Elissa sudah mulai tidak waras, karena yang menonjol di dekat resleting celana Alan, sudah membuat otaknya terasa pusing.

Apalagi Bu Elissa sudah cukup lama kebunnya tidak pernah ada yang menyiramnya, sehingga kebun nya kembali kering dan rapat kembali.

Bu Elissa bangkit dari tempat duduknya, kemudian melangkah menghampiri Alan, yang masih berdiri mematung menunggu instruksi darinya.

Melihat Bu Elissa mendekat, jantung Alan berdetak semakin cepat, Alan terpaksa mundur satu langkah, karena takut membuat masalah.

"Kamu kenapa menjauh?" Tanya Bu Elissa sambil mendekati Alan.

"A_aku nggak papa Bu." Jawab Alan sangat gugup, karena takut membuat kesalahan.

"Kamu kesini maju, jangan jauh-jauh." Kata Bu Elissa memanggil Alan, Alan tidak berani terlalu dekat dengan Bu Elissa, karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Mendengar Bu Elissa berkata seperti itu, tubuh Alan terasa panas dingin, bahkan jantungnya terus berdetak sangat cepat.

"Sebenarnya apa yang akan Bu Elissa lakukan, kenapa sikapnya sangat aneh." Ucap Alan dalam hati, yang merasa heran melihat sikapnya Bu Elissa.

Karena Alan terus mematung, Bu Elissa kembali mendekati Alan.

Melihat Bu Elissa kembali mendekat, jantung Alan berdetak semakin cepat, bahkan tubuhnya terasa panas dingin.

Namun Alan tidak bisa berbuat Apa-apa, karena takut membuat kesalahan, dan Alan juga sangat penasaran, apa yang akan Bu Elissa lakukan kepadanya.

Setelah saling berhadapan, tak lama tangan Bu Elissa menyentuh resleting celana Alan, lalu menarik resletingnya, hingga terlihat celana dalamnya Alan yang ada gambar badaknya.

Bu Elissa mengelus penisnya Alan yang masih terbungkus rapi celana dalamnya, hingga membuat tubuh Alan semakin panas dingin, bahkan Alan kesulitan untuk bernafas, karena ini pengalaman pertamanya Alan merasakan kenikmatan di dalam tubuhnya.

Alan sangat tidak menyangka, orang yang selama ini Alan takuti, ternyata sangat liar.

Saat ini tubuh Alan sudah mulai terangsang. Karena sentuhan itu sudah membangkitkan gairah di dalam tubuhnya.

Beberapa saat kemudian, Bu Elissa pergi ke depan untuk mengunci pintu ruangannya, karena takut ada orang yang tiba-tiba masuk ke ruangannya.

"Anjir... gila..gila..gila..! mimpi apa gua semalem." Gumannya merasa tidak percaya apa yang dilakukan oleh Bu Elissa.

Saat Bu Elissa pergi mengunci pintu, Alan kembali menutup resleting celananya.

Tak lama Bu Elissa kembali menghampiri Alan, yang masih berdiri di dekat sofa.

Bu Elissa kemudian duduk diatas sofa, lalu tangannya menarik kembali resleting celana Alan.

"Ja_jangan Bu, aku malu." Ucap Alan lalu mundur satu langkah, karena Alan belum terbiasa melakukannya, apalagi saat ini pelaku utamanya gurunya sendiri.

Bu Elissa sudah kehilangan akal sehatnya, karena otaknya terus memikirkan yang menonjol di dalam celana Alan.

Dan Alan sudah berhasil membuat Bu Elissa kehilangan akal sehatnya.

"Jangan jauh-jauh Alan, dan kenapa harus malu, kan disini cuma kita berdua saja." Ucap Bu Elissa yang sudah mulai Oleng.

"Ta_tapi Bu." Sahut Alan sangat gugup, bahkan tubuhnya terasa sangat panas, dan jantungnya berdetak sangat cepat.

Bu Elissa maju satu langkah, lalu membuka gespernya Alan yang masih menempel di tubuhnya Alan, kemudian Bu Elissa melepaskan celananya Alan.

Alan hanya diam saja, tak tahu kenapa tubuhnya tidak bisa digerakan, bahkan Alan merasa tubuhnya terasa merinding.

Setelah celananya terlepas, Bu Elissa kembali membuka celana dalamnya Alan yang ada gambar badaknya.

Saat Bu Elissa melepaskan sempaknya, dengan cepat Alan menutupi kanjutnya dengan kedua tangannya.

"Nggak usah di tutup Alan, Ibu mau lihat sebentar burungmu." Kata Bu Elissa yang mulai gacor.

"Aku malu Bu." Ucap Alan dengan perasaan campur aduk. Karena ini pengalaman pertamanya, memperlihatkan benda pusaka nya di depan orang dewasa, apalagi orang pertamanya itu gurunya sendiri.

"Yaudah kalau kamu malu, kamu tutup mata saja." Sahut Bu Elissa yang sudah tidak sabar ingin melihat benda pusakanya Alan.

Karena takut membuat kesalahan, akhirnya Alan melepaskan tangannya, karena Bu Elissa terus memaksanya.

Setelah tangan Alan terlepas, Bu Elissa kembali melanjutkannya.

Bu Elissa menarik sempaknya Alan kebawah, hingga terlihat benda ajaib itu terlihat sudah terbangun, bahkan sudah sangat keras.

Bu Elissa sontak kaget melihat penisnya Alan yang sudah sangat keras, dan menurut Bu Elissa, penis Alan lumayan cukup besar dan panjang, sehingga membuatnya semakin penasaran dan ingin mencobanya.

Bab 3

"Woow... bagus sekali burungmu Alan." Kata Bu Elissa, sambil mengelus batang penisnya yang sudah sangat keras.

Saking kerasnya, burung Alan sampai manggut-manggut, menandakan burung itu sudah ingin segera masuk ke dalam sangkarnya.

Alan hanya diam saja, karena Alan sangat malu burungnya dilihat oleh gurunya sendiri.

Alan pun sangat penasaran, apa yang akan Bu Elissa lakukan dengan burungnya, Alan juga mulai menikmati sentuhan tangan nya Bu Elissa.

Karena rasanya sangat nikmat, akhirnya Alan pun membiarkannya.

"Alan kok bengong." Ucap Bu Elissa membuyarkan lamunannya.

Alan kembali sadar, lalu berkata.

"A_aku nggak tau bu, ini bawaan pabriknya Bu." Jawab Alan sangat gugup, karena tangan Bu Elissa terus mengelus-elus batang penisnya, sehingga membuat tubuh Alan terasa panas dingin dan merinding.

"Ibu boleh menyentuhnya kan?" Tanya Bu Elissa sambil terus memainkan burungnya.

"Aneh, udah tau dia lagi pegang-pegang burungku. Pake segala sok-sok izin" Ucap Alan dalam hati.

Mendengar Bu Elissa berkata seperti itu, Alan hanya menganggukkan kepalanya, karena Alan juga sangat penasaran, apa yang akan Bu Elissa lakukan selanjutnya.

Setelah mendapatkan izin, Bu Elissa mengocok pelan batang penisnya.

Alan mulai merasakan kenikmatan yang sesungguhnya, saat penisnya di kocok oleh Bu Elissa, hingga tubuh Alan semakin merinding.

Beberapa saat kemudian, Bu Elissa mendorong tubuhnya Alan hingga terjatuh di atas sofa.

Alan sangat kaget melihat Bu Elissa mendorong tubuhnya.

Bu Elissa berjongkok di depan Alan, hingga terlihat jelas celana dalamnya yang berwarna merah jambu.

Seketika penis Alan semakin mengeras dan membesar, karena warna merah jambu sudah membuat Alan semakin terangsang.

"Kok bisa tambah besar Alan?" Tanya Bu Elisa cukup kaget, karena penis Alan tiba-tiba membesar begitu saja.

"E_enggak tau Bu, mungkin karena aku liat warna merah jam...! huup." Alan langsung menutup mulutnya, karena hampir saja keceplosan.

"Kamu barusan bilang apa?" Tanya Bu Elissa sembari memastikan, padahal Bu Elissa mendengar dan tahu apa yang baru saja Alan katakan.

"E_enggak papa bu." Alan sangat gugup, bahkan perasaannya sudah tidak karuan.

"Kamu liat celana dalam Ibu ya?" Tanya Bu Elissa lalu tersenyum liar menatap Alan yang terlihat sangat gugup.

"Ma_maaf Bu sedikit, tapi sekarang udah nggak liat kok." Ucap Alan ketakutan, lalu mengalihkan pandangannya karena merasa malu.

Bu Elissa kembali berkata.

"Kamu mau lihat nggak?" Tanya Bu Elissa berhasil membuat Alan semakin gila.

Belum sempat Alan bicara, Bu Elissa langsung menarik rok nya keatas, hingga terlihat jelas celana dalamnya yang berwarna merah jambu.

Alan tidak berani melihatnya, karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Tak lama, Bu Elissa kembali berjongkok di depan Alan. Tanpa hitungan 123, Bu Elissa langsung melahap benda ajaib Alan dengan sangat lahap.

Haapp... Aarghh... Alan pun mendesah karena rasanya sangat nikmat, saat Bu Elissa mengulum penisnya.

Alan merasa tubuhnya seperti tersengat listrik bertekanan tinggi, bahkan, tubuh Alan sesekali bergetar karena Alan sudah sangat terangsang.

"Bu.. Ja_jangan Bu, itu kan jijik." Kata Alan terbata-bata, hingga mata Alan merem melek menahan nikmat.

Bu Elissa tidak memperdulikannya, Ia terus mengulum penisnya Alan, karena Bu Elissa sudah sangat terangsang.

Clook...Clook. Aarghh...Hhmmm.. Alan terus mendesah karena terasa sangat nikmat, saat Bu Elissa mengulum penisnya, hingga tubuh Alan sesekali bergetar menahan rasa nikmat.

Karena terasa nikmat, akhirnya Alan pun membiarkan Bu Elissa bekerja keras, karena Alan sangat penasaran, Apa yang akan terjadi selanjutnya.

Setelah merasa puas mengulum penisnya Alan, Bu Elisa bangkit lalu menurunkan celana dalamnya, sehingga terlihat jelas vagina Bu Elisa yang membahana.

"Gilaaaa...mimpi apa gua semalem." Ucap Alan dalam hati, sambil melihat Bu Elisa melepaskan celana dalamnya.

Setelah melepaskan celana dalamnya, Bu Elissa mendorong tubuhnya Alan, hingga Alan terlentang di atas sofa.

Bu Elissa mengoleskan ludahnya kelubang intimnya, agar lebih mudah saat memasukan penisnya kedalam lubangnya, setelah lubangnya basah, Bu Elissa berjongkok di atas kedua pahanya Alan, kemudian memasukan penisnya kedalam lubangnya.

Bleeess... Aawww.. Bu Elissa sedikit kesakitan, saat lubangnya terisi penisnya Alan, karena memang lubangnya sudah lama menganggur.

Alan merasa sangat nikmat saat burungnya masuk ke dalam sangkarnya, hingga matanya merem melek menahan rasa nikmat.

Bu Elissa terus menggoyangkan pinggulnya maju mundur, hingga terdengar suara.

Plook...plook...plook...Aarghh..Hhmmm.

Bu Elissa sudah mulai mendesah, karena lubangnya sudah mulai menyesuaikan ukuran penisnya Alan. Hingga mulutnya menganga menahan rasa nikmat.

Beberapa saat kemudian, Bu Elissa membuka kancing bajunya, hingga membuat Alan semakin terangsang.

Setelah kancingnya terbuka semua, Bu Elissa mengeluarkan payudaranya yang masih terbungkus bra nya.

Melihat payudara Bu Elissa, mata Alan langsung melotot, dan Alan terus menelan ludahnya, karena ini pengalaman pertamanya melihat keindahan tubuhnya Bu Elissa.

Tak lama Bu Elissa menarik kedua tangannya Alan, lalu menempelkan tangannya ke payudaranya.

"Ayo Alan remas-remas payudaranya." Kata Bu Elissa sambil terus menggoyangkan pinggulnya maju mundur.

"Ba_baik Bu." Alan sangat patuh karena Alan juga sangat menikmatinya.

Plook...plok...Aarghhh....Hhmmm.. "Terus Alan... Ee_naak bangeet." Uurghh.. Dengan susah payah Bu Elissa mengatakannya, karena tubuhnya sudah sangat terangsang.

Mendengar desahan Bu Elissa, nafsu Alan semakin terbakar, hingga tubuh Alan sesekali bergetar, menahan rasa nikmat.

Bu Elissa semakin kencang menggoyangkan pinggulnya, sampai desahannya terdengar sampai keluar ruangannya.

Plook..ploook.. Aarghh...Hhmmm... Uurghhh... Bu Elissa langsung menutup mulutnya, karena takut desahannya terdengar oleh orang lain.

Tak lama Bu Elissa menarik kepala Alan, lalu menempelkan kepalanya ke payudaranya.

Alan hanya diam saja saat Bu Elissa menempelkan bibirnya ke payudaranya, karena memang ini pengalaman pertamanya.

"Aa_lan...ayo jilatin putingnya." Kata Bu Elissa terbata-bata, karena tubuhnya sudah sangat terangsang.

"Ba_baik Bu." Setelah mendengar instruksi dari senior, Alan langsung melakukan tugasnya.

Alan langsung menjilati putingnya Bu Elissa dengan sangat nafsu, lalu tangan kirinya terus meremas-remas payudara Bu Elisa yang sebelah kiri.

Aarghhh...Hhmmm...Uurghh.. "Ee_nak banget Alan." Uurghh.. Bu Elissa tak henti-hentinya mendesah, karena Alan sudah membuatnya semakin terangsang.

Saking nikmatnya, tubuh Bu Elissa terus mengejang, dan tubuhnya sudah mengeluarkan keringat.

Beberapa saat kemudian, Bu Elissa sukses mencapai puncak kenikmatannya.

Aarghhh...Crooottss...Uurghhh... Desah nikmat Bu Elissa karena sudah mencapai puncaknya, hingga tubuhnya bergetar menahan rasa nikmat.

Alan bisa merasakan penisnya terasa sangat hangat, karena Bu Elissa sudah mengeluarkan cairan cintanya, dan bahkan, Alan bisa merasakan denyutan vaginanya Bu Elissa, yang lumayan cukup kencang.

Karena terasa lemah, Bu Elissa langsung memeluk tubuhnya Alan, sambil mengatur nafasnya yang masih terengah-engah.

Huuhh..Haahh..Huuhh..Haahh... Nafas Bu Elissa ngos-ngosan.

Sampai saat ini, Alan masih tidak menyangka, bisa menikmati tubuhnya Bu Elissa, orang yang selama ini ia takuti di sekolahnya.

Dulu, Alan hanya bisa berkhayal, bisa menikmati tubuhnya Bu Elissa, sekarang Alan bisa merasakannya langsung kenikmatan tubuhnya Bu Elissa.

Beberapa menit kemudian, setelah nafasnya kembali pulih, Bu Elissa kembali melanjutkannya, karena Bu Elissa belum melihat Alan mengeluarkan cairan cintanya.

Bu Elissa kembali menggoyangkan pinggulnya maju mundur, hingga membuat Alan kembali merem melek menahan rasa nikmat.

Plok...plok... Uurghh...Hhmmm.. Aarghhh.. Alan dan Bu Elissa mendesah, karena terasa sangat nikmat.

Melihat Alan terus mendesah, Nafsu Bu Elissa semakin terbakar.

Bu Elissa mempercepat goyangannya, hingga tubuh Alan langsung bergetar, karena Alan akan segera terbang ke awan.

Plok...plok...Aarghh...Uurghhh.. "Aa_waas.. Bu.. Aa_ku mau kencing." Dengan susah payah Alan mengatakannya, karena tubuhnya sudah sangat terangsang.

Karena sangat nikmat, Bu Elissa membiarkan Alan membuang spermanya di dalam lubang intimnya, karena Bu Elissa sudah tahu cara mengatasinya.

Aarghh...Crooot...croot..croot.. Uurghhh.. Desah Alan karena sudah mencapai puncak kenikmatannya.

Saking nikmatnya, tubuh Alan sampai bergetar hebat.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED