Bab 1

"Temukan bandot tua sialan itu. Aku tak peduli dia hidup atau mati. Berpencar!" Teriakan kasar penuh amarah seorang pria bercambang tipis dalam penampilan perlente menggema di ruang tamu kosong sebuah rumah tepi pantai mewah berdinding full kaca di Malibu, Los Angeles.

Sekitar selusin pria bersetelan jas hitam mengobrak-abrik seisi rumah tak berpenghuni itu untuk mencari Lawrence Brickman. Mereka sudah menyisir dua lantai dari rumah milik pria tersebut, tetapi nihil.

"Maaf, Tuan Jordan. Nampaknya pria itu sudah kabur entah kemana!" lapor kepala pengawal pria muda bertampang bengis yang bertolak pinggang di tengah lantai 1 rumah tepi pantai itu.

"Bangsat! Dia membawa kabur uang penyertaan modalku senilai 50 juta dolar. Itu nilai yang tidak kecil, Donovan. HUH!" Jordan Fremantle menjambak sendiri rambut cepaknya yang tadinya tertata rapi saking kesalnya.

Rasa depresi akibat kehilangan banyak uang dalam satu waktu membuatnya mengalami gejala depresi. Dia ingin membunuh pria tua yang begitu licik dan telah memperdayainya hingga setuju menggelontorkan dana untuk megaproyek pembangunan kota masa depan di Amerika Utara.

Tanpa dia sadari kamera CCTV yang terpasang di titik-titik tersembunyi di rumah tepi pantai itu merekam segalanya. Dan tua-tua keladi sang pemilik rumah tertawa pongah menikmati adegan yang terekam di sana dari tempat persembunyiannya.

***

Kepulauan Karibia.

"Hahaha. Dasar anak muda yang bodoh! Dia boleh memiliki banyak uang di usia belia. Namun, pengalaman adalah milik pria matang sepertiku. Terima kasih Jordan, kini aku bisa menikmati masa pensiunku tanpa bersusah-susah," ujar Lawrence Brickman sambil mengepulkan asap cerutu Cohiba Talisman favoritnya dengan kaki berselonjor di bangku berjemur tepi pantai.

Sebuah ipad dalam posisi berdiri tersangga di meja samping kursinya. Dia memutar secara live rekaman CCTV kamera yang terpasang di rumah tepi pantai miliknya di Malibu. Namun, ketika Lawrence menyesap Tequila Sunrise dingin yang ada di tangan kanannya, dia nyaris tersedak dengan mata melotot nyaris copot melihat adegan tak terduga yang terekam secara candid masih di tempat yang sama.

"Ohh My God! Chantal—" Desisan terkejut seakan tak percaya itu meluncur dari bibirnya. Dia melupakan satu hal paling berarti dalam hidupnya yang seharusnya layak membusuk di neraka karena dosa-dosanya. Malaikat kecilnya masuk ke sarang macan dengan langkah kaki ringan.

***

Malibu, Los Angeles.

"Hello, Tuan-tuan. Apakah aku melewatkan sebuah pesta di sini? Kenapa begitu banyak orang?" Suara merdu nan riang menyentakkan kepala Jordan Fremantle ke balik punggungnya.

Sesosok wanita berambut cokelat terang keemasan bergelombang sepanjang punggung dengan berpakaian gaun fit body sepanjang setengah paha warna kuning terang senada. Dia mengenakan sepatu stiletto kuning berhak setinggi 10 cm dan berkaca mata hitam lebar di wajahnya yang mungil berbentuk oval berdiri menatap langsung ke arah Jordan dari ambang pintu masuk rumah tepi pantai itu.

'Siapa wanita riang sialan ini?!' batin Jordan sembari menatap penasaran sosok di hadapannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. 'Cantik. Sexy. Sekalipun terlalu ramai hingga nyaris konyol penampilannya,' nilai Jordan dalam hatinya.

"Maaf, kalau kalian sudah selesai melakukan pekerjaan apa pun itu di sini. Tolong tutup lagi pintunya!" ujar Chantal Brickman seraya melangkah santai melewati Jordan yang berdiri mematung tanpa sepatah kata pun terucap dari mulutnya.

Tiba-tiba tangan Chantal dicengkeram dan disentakkan hingga tubuhnya terpental menubruk badan keras berupa anyaman otot yang tersembunyi di balik setelan jas Armani kelabu itu.

Chantal sontak kesal dan mencopot kaca matanya dengan tangan kirinya. "Siapa kau—berani-beraninya bersikap kasar kepadaku?!" tuntutnya.

"HA–HA–HA! Siapa aku? Kau boleh tahu setelah kau memberi tahukan terlebih dahulu siapa Anda, Nona?" balas Jordan sinis.

Wanita cantik itu mengendikkan bahunya lalu mendorong dada Jordan agar melepaskan dirinya dari dekapan erat pria itu. Dia lalu mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Jordan yang terpaksa dijabat oleh lawan bicaranya. "Chantal Brickman. Dan siapa Anda, Tuan?" ujarnya dengan nada ringan.

"Jordan Fremantle. Rupanya kedatanganmu di sini sanggup mencerahkan hariku yang kelabu, Nona Chantal ... Brickman. Sebuah unfinished business sepertinya menemukan sebuah titik terang!" tutur pria bermata biru terang bak batu saphire itu dengan seringai iblis nan berbahaya.

"Unfinished business?!" ulang Chantal membeo.

Lengkungan alis kiri Jordan yang tebal terangkat sembari menatap wajah kebingungan Chantal. "Ceritanya panjang dan aku memiliki gejala maag yang dapat mendadak kambuh bila harus menceritakannya kepadamu sekarang. Jadi—ikutlah aku!" jawab Jordan merangkul pinggang ramping Chantal yang berlekuk seperti huruf S itu.

"Hey! Jangan menyeretku, Bodoh—kakiku bisa terkilir dengan stiletto 10 centi!" protes Chantal berisik saat dia harus mengimbangi langkah kaki cepat dan lebar pria jangkung setinggi nyaris 2 meter di sisinya.

Langkah Jordan terhenti. Dia sejenak seolah berpikir sembari menatap Chantal. Sesaat setelahnya tubuh ringan gadis itu terangkat dari permukaan bumi dan tenggelam dalam gendongan Jordan. "Begini sepertinya lebih aman bukan, Chantal?" ucapnya lalu bergegas keluar dari pintu rumah tepi pantai milik Lawrence Brickman.

Selusin lebih pengawalnya mengikuti kepergian Jordan. Seorang pria di antara mereka menutup pintu rumah tepi pantai yang tak berpenghuni tadi. Kemudian Donovan Bailey, membukakan pintu limousine untuk bosnya yang menggendong puteri musuh pria itu. Diam-diam Donovan merasa lega untuk keberuntungan Jordan. Sekalipun pria tua bangka penipu itu kabur, tetapi mereka berhasil menawan puterinya.

"Kau mau membawaku kemana, Jordan?! Mobil Lexus milikku masih ada di depan rumah papaku! Aku sebaiknya mengemudikannya sendiri—" Chantal berbicara tak henti mencoba mencari alasan agar dia bisa lepas dari cengkeraman pria misterius di sebelahnya.

Jordan tersenyum lebar melirik Chantal, dia mengulurkan telapak tangannya. "Kemarikan kunci mobilnya. Biarkan anak buahku yang membawakannya untukmu!"

Helaan napas putus asa meluncur dari Chantal, dia membuka tas mini yang ada di kempitan lengannya dan mengeluarkan kunci mobil Lexus miliknya. "Silakan!"

Sebelum limousine itu melaju, Jordan membuka kaca jendela mobil dan memanggil Donovan Bailey untuk mengurus mobil sedan hitam milik Chantal. Lalu dia pun menyuruh sopir memulai perjalanan pulang mereka ke tengah kota Los Angeles dimana penthouse miliknya berada.

"Kau ingin membawaku kemana? Bisakah kau menjelaskan kejadian membingungkan yang terjadi ini padaku, Jordan? Aku merasa sangat tak nyaman!" gerutu Chantal merasa bahwa ada hal yang tidak benar sedang menimpanya.

"Ayahmu menipuku senilai 50 juta dolar. Apa kau bisa memberi tahuku dimana dia berada saat ini, Chantal yang cantik?" jawab Jordan sambil menatap wajah itu lekat-lekat sembari menilai dalam hatinya.

Mulut gadis itu terperangah. 'Papa, sepertinya kau meninggalkan sebuah masalah yang super duper besar untukku kali ini!' batin Chantal gundah. Dia sudah dua minggu terakhir tidak dapat menghubungi Lawrence Brickman sehingga memutuskan untuk mengunjungi rumah tepi pantai di Malibu, tempat tinggal ayahnya.

"Aku tak tahu dimana dia—"

"Hmm ... artinya kau akan lama menghabiskan waktu bersamaku nanti, Chantal! Mungkin papamu berminat untuk menebusmu bila dia kuberi tahu bahwa kau ada bersamaku via surelnya," jawab Jordan sembari membelai pipi halus Chantal dengan buku-buku jari tangannya yang besar.

Hening. Lalu Chantal pun berkata, "Bagaimana kalau aku tak mau?"

"Tak ada pilihan bagimu, Cantik!" tukas Jordan seraya menarik kasar punggung Chantal hingga tubuh ramping itu menubruknya.

Bab 2

"Hey, bisakah kau pelankan langkahmu, Jordan!" seru Chantal yang terseok-seok mengikuti Jordan Fremantle yang mencengkeram pergelangan tangannya melintasi lobi sebuah apartment mewah di tengah kota Los Angeles.

Kepala berambut cokelat tua mahoni itu menoleh ke belakang. "Dasar wanita manja! Lain kali jangan pakai sepatu berhak tinggi, itu rawan membuat kakimu terkilir," cerca Jordan dengan tatapan sinis yang membuat Chantal yang biasanya riang menjadi bermuka masam.

"Tolong kau ingat baik-baik, aku tidak ingin ikut denganmu ke mari. Lepaskan saja aku dan pasti kau tidak perlu repot dengan langkah kakiku yang lambat di atas high heel cantik, Tuan Fremantle!" sembur Chantal sembari mencoba melepaskan tangannya dari tangan sekuat borgol yang memeganginya agar tidak kabur.

Lift yang ditunggu oleh Jordan akhirnya sampai di lantai lobi, dia pemilik dari properti mewah pencakar langit berlantai 80 ini. Bangunan futuristik yang memiliki banyak fungsi selain sekadar hunian. Sky Eternity Intercontinental atau SEI terkenal di tengah salah satu kota metropolitan berpenduduk padat itu. Pusat kerajaan bisnis Fremantle Group. Dan Jordan, sang CEO tinggal di lantai 80 yang berupa penthouse tunggal di situ.

"Ayo masuk ke lift, jangan buat aku meradang dengan melawanku!" desak Jordan menyeret tangan Chantal dengan kasar.

Dua orang pengawal berjaga di kanan kiri pintu lift di depan Jordan dan Chantal. Mereka seolah menulikan diri atas apa pun yang dibicarakan oleh bos mereka dengan gadis tawanannya.

Pergelangan tangan Chantal memerah dan sakit, tapi dia menahan air matanya karena tak ingin terlihat lemah di hadapan pria menyebalkan di sampingnya. "Lepaskan tanganku, aku tak bisa kabur kemana pun di dalam lift yang sedang berjalan naik, bukan?" ucap Chantal dingin tanpa menatap lawan bicaranya.

"Ohh—baiklah!" Jordan melepaskan cengkeraman tangannya dan mengangkat kedua tangannya acuh tak acuh. Namun, ketika melihat bagian nadi Chantal yang membiru seperti pecah karena terlalu keras dia genggam tadi, Jordan panik.

Dia menarik lengan Chantal tanpa menyentuh pergelangan tangan wanita itu yang nampak hematoma. "Hmm ... sepertinya aku menggenggam tanganmu terlalu keras tadi. Akan kupanggilkan dokter untuk mengobati ini!" ujar Jordan melunak, tak lagi bersikap kasar.

(Hematoma adalah penumpukan darah abnormal di luar pembuluh darah. Kondisi ini terjadi akibat rusaknya pembuluh darah yang menyebabkan darah bocor ke jaringan tubuh lainnya.)

"Bersikaplah sedikit beradab, Tuan Fremantle!" tukas Chantal yang masih kesal. Tangan kanannya sakit saat digerakkan dan agak kebas seolah mati rasa bagian telapak tangannya.

"TING." Lift itu pun sampai di lantai 80 dan terbuka pintunya. Kedua pengawal Jordan keluar terlebih dahulu lalu menunggu pasangan itu berjalan menuju ke pintu masuk penthouse pribadi milik Jordan.

Pintu canggih itu hanya dapat dibuka dengan sensor retina Jordan saja. Tak ada orang lain yang bisa masuk ke penthouse tanpa seizin pria itu. Setelah memindai retina matanya, Jordan memersilakan Chantal masuk.

Wanita muda itu mengedarkan pandangannya memindai seisi penthouse luas dengan sisi dinding barat dan utara dikelilingi kaca film yang bisa melihat keluar ruangan, tapi tidak dapat dilihat dari arah sebaliknya. Interior penthouse nampak berkelas dan elegan, tidak banyak barang yang tidak perlu di dalam ruangan bercat dinding merah magenta itu. Selera Jordan tidak biasa, ruangan bercat dinding terang atau putih pada umumnya.

"Mulai sekarang kau tinggal di rumahku. Biasakan dirimu, Chantal Sayang. Jangan kuatir, aku pasti mengurusmu 'dengan–sangat–baik'. Hanya satu syaratnya ... kau harus menuruti perintahku, semuanya!" Jordan bersedekap di hadapan Chantal yang memandangnya dengan tatapan bermusuhan.

Ucapan wanita itu pun meluncur dari bibir merah jambunya dengan telunjuk kirinya dia menusuk-nusuk dada bidang Jordan, "Kau tidak memikirkan dari sisiku. Aku punya pekerjaan yang harus kuurus juga. Hey, dengar baik-baik! Aku bukan pengangguran kurang kerjaan, bisnisku sangat sibuk dan membutuhkan curahan perhatian setiap harinya!"

Jordan merengkuh tubuh ramping Chantal hingga tenggelam dalam dekapannya. "Sepertinya kau suka memprovokasi. Aku bisa membeli bisnismu asalkan papamu mengembalikan uang modalku yang dia bawa kabur! 50 juta dolar. AARRGGHH!" Teriakan emosional Jordan menggema di penthouse miliknya. Dia menyentakkan tubuh ramping Chantal hingga terjatuh di lantai berlapis karpet Turki.

Rasanya Chantal ingin mengamuk diperlakukan semena-mena seperti itu. "Dasar lelaki brengsek! Itu bukan urusanku, kau menculikku. Lepaskan aku dari sini!" tuntutnya seraya mencoba berdiri dari permukaan lantai.

"Tak sesederhana itu, Chantal. Aku akan memikirkan cara terbaik untuk memancing papamu keluar dari tempat persembunyiannya. Hmm ... aku butuh dokter yang bisa merawat luka hematoma di tanganmu itu. Jangan rewel!" Jordan berbicara dengan nada yang tak ingin dibantah lalu menghampiri pesawat telepon di meja kerjanya di dekat sisi dinding kaca sebelah barat.

Seusai berbicara dengan dokter pribadinya di telepon agar datang ke penthouse, Jordan menghampiri Chantal yang duduk di sofa ruang tengah. "Apa kau lapar, Chantal?" tanya pria itu ringan.

"Ya, tentunya karena aku hanya sarapan French toast pagi tadi, melewatkan makan siangku, dan belum makan malam hingga saat ini, Tuan Fremantle!" jawab Chantal dengan sarkastis.

"Tunggu sebentar, itu hal yang mudah diatasi. Katakan apa makanan kesukaanmu? Chef restoran di gedung ini bisa memasak apa pun yang kuminta," balas Jordan tak memedulikan nada pedas wanita itu.

Maka Chantal memilih masakan yang dia sukai seperti saran pria yang memiliki segalanya itu, "Mungkin masakan Italia bisa menaikkan moodku yang hancur karena harus terkurung di sangkar emas."

"Hmm ... baiklah!" jawab Jordan lalu dia berjalan lagi ke pesawat telepon di atas meja kerjanya.

Kandung kemih Chantal terasa penuh dan mendesak untuk dikosongkan maka gadis itu mengedarkan pandangannya mencari kamar mandi yang pastinya tersedia di penthouse super mewah milik Jordan. Dia bergegas menuju ke sebuah pintu yang terbuka dan memang benar itu adalah kamar mandi.

Usai buang air kecil dan mencuci tangannya, Chantal membuka pintu kamar mandi. Wanita itu sontak memekik tertahan karena menubruk sosok besar yang menunggunya di depan pintu kamar mandi.

"Aaaarrgghh!"

"Seharusnya kau tidak menghilang tiba-tiba dan membuatku panik mencarimu, Chantal!" Jordan meraup tubuh ramping itu hingga kakinya terangkat dari lantai dan memanggulnya ke arah tempat tidur.

"Turunkan aku, Brengsek!" Kepalan tangan wanita itu memukuli punggung Jordan yang bidang.

Hal itu mengesalkan Jordan hingga ia menepuk keras bokong Chantal beberapa kali dan berkata, "Dasar bandel! Kau wanita yang keras kepala seperti keledai!" Dia membanting tubuh Chantal ke atas ranjang hingga melesak lalu menindihnya dengan tubuhnya yang seperti beruang Grizzly.

"Minggir—kau bisa membunuhku dengan bobot tubuhmu, Jordan!" protes Chantal bernada galak. Dia meronta-ronta di bawah kungkungan pria yang tengah menatapnya dengan geli.

"Stop it! Chant, kau senang sekali membuatku berkeringat melayani temperamenmu yang meledak-ledak ini. Mungkin ada baiknya kita berolah raga di atas ranjang saja untuk menghindari cedera, bagaimana menurutmu?" Pria tampan bermata biru itu menaikkan alis kanannya tak melepaskan pandangannya di wajah rupawan di hadapannya.

Bab 3

"TING TONG." Bel pintu penthouse milik Jordan Fremantle berbunyi.

Pria yang sedang memerangkap tubuh Chantal Brickman pun terpaksa membatalkan niatnya untuk menggoda gadis itu dengan sedikit agresif. Jordan bangkit dari kasurnya lalu berjalan membukakan pintu untuk tamunya.

Pintu itu pun mengayun terbuka dan sosok berseragam putih khas dokter tersenyum memamerkan sederet gigi putihnya yang tersusun rapi. "Selamat petang, Mister Fremantle. Siap melayani Anda, Sir!" ucapnya.

"Selamat petang, Dokter Damian Brinkeley. Silakan masuk," sambut Jordan dengan sopan seraya menggeser tubuhnya agar tamunya dapat masuk ke penthousenya.

"Jadi, dimana pasien saya, Mister Fremantle?" tanya Dokter Damian seraya mengedarkan pandangannya di ruangan luas berinterior mewah itu mencari-cari manusia selain mereka berdua.

Jordan pun berjalan mendahului dokter pribadinya menuju ke tempat tidurnya. "Kucing kecil yang terluka itu ada di atas ranjangku, Dok. Hati-hati karena dia sedikit bengal!" Tawa Jordan terdengar membahana di kamar tidurnya.

"Pasti seorang wanita bertemperamen panas ya? Baiklah—" Dokter Damian mengikuti langkah Jordan hingga dia bertemu dengan pasiennya yang penampilannya sedikit berantakan, tetapi tak mengurangi kadar kemolekannya dari sisi manapun. "Menarik!" gumamnya saat bertemu pandang dengan sepasang mata hijau bak zamrud Colombia.

Dokter Damian pun mengitari ranjang raksasa tersebut lalu duduk di tepiannya. Dia berkata dengan nada ramah, "So ... apakah ada yang perlu saya sembuhkan, Nona Cantik?

Melihat dokter muda itu sepertinya tertarik kepada Chantal, dengan suara keras bernada tajam Jordan berseru, "Obati pergelangan tangannya, Dokter Damian. Pembuluh darahnya cedera karena terlalu halus dan aku memegangnya agak kencang tadi!"

Kedua kepala di atas ranjang lebar itu sontak menoleh bersamaan ke arah Jordan. Aura dominan dan sebersit keposesifan terasa nyata menggantung di udara. Dokter Damian Brinkeley pun tahu diri, kliennya nampaknya memiliki hubungan spesial dengan makhluk cantik di hadapannya itu.

"Ohh, baiklah. Saya akan memeriksanya segera, Mister Fremantle!" sahut Dokter Damian lalu dengan cekatan tanpa banyak bicara dia mulai memeriksa pergelangan kanan tangan Chantal.

"Siapa namamu, Miss?" tanya Dokter Damian sembari mengambil sebuah tube salep dari tas medisnya. Kemudian dia mengoleskan salep tersebut ke pergelangan tangan yang membiru kemerahan akibat kondisi hematoma.

Sembari tersenyum ramah wanita muda itu menjawab, "Namaku Chantal Brickman, Dok. Apakah ini tidak berbahaya? Rasanya nyeri dan tanganku sedikit tak bertenaga sekarang."

"Ohh—benar, itu efek pecah pembuluh darah nadi. Istirahatkan sejenak tangan kananmu dan oleskan salep ini 3 kali sehari maka segalanya akan membaik, oke?" tutur Dokter Damian Brinkeley seraya menyerahkan tube salep tersebut ke telapak tangan Chantal.

Setelah memeriksa tekanan darah, reflek pupil, dan ritme napas serta jantung pasiennya, Dokter Damian memutuskan bahwa kondisi Chantal secara umum baik-baik saja. Dia pun bangkit dari tepi ranjang dan berkata kepada Jordan, "Nona ini baik-baik saja kondisinya selain hematoma di pergelangan tangan kanannya. Saran saya lebih baik perlakukan dia dengan lebih lembut karena dinding pembuluh darahnya tipis sehingga mudah pecah bila tertekan keras."

"Baiklah, akan kuingat pesan darimu, Dok. Pembayaran jasa Anda akan ditransfer sekretaris pribadiku. Terima kasih sudah mau datang ke mari," ujar Jordan sembari mengantar Dokter Damian menuju ke pintu keluar penthousenya.

"Sama-sama, Sir. Kalau begitu saya pamit dulu. Sampai jumpa!" balas Dokter Damian tanpa ingin berlama-lama di sana. Dia melangkah cepat menuju ke lift untuk turun dari lantai 80 gedung pencakar langit yang tinggi menjulang di tengah kota Los Angeles tersebut.

Kepergian dokter pribadi Jordan bertepatan dengan pegawai room service yang mengantar pesanan makan malam Jordan. Dia pun membiarkan pria muda itu masuk menghidangkan berbagai masakan Italia di meja makan bundar di penthousenya.

Dengan langkah ringan Jordan pun menjemput Chantal di tempat tidurnya. Dia mengulurkan tangan kanannya seraya berkata, "Dinner is ready. Ayo Cantik isi perutmu sebelum jatuh sakit. Hari masih panjang, aku ingin kau bersiap setelah makan untuk menghadiri undangan pesta mewah di hotel tak jauh dari sini bersamaku."

"Terserah saja, bukankah aku saat ini berstatus tawananmu, Jordan?" sahut Chantal dengan nada dingin. Satu hal yang terpenting adalah mengisi perutnya yang kosong dan kadar gula dalam darahnya agaknya menurun drastis karena puasa yang dipaksakan.

Sembari menikmati makan malam yang agaknya terlalu awal, Jordan memandangi cara makan Chantal yang anggun. Dia pun penasaran untuk mengetahui latar belakang kehidupan wanita itu lebih dalam lagi.

"Pada hari biasa, apa yang kau kerjakan, Chantal? Kuharap bukan sekadar menghabiskan uang papamu yang didapat secara haram," tanya Jordan dengan sarkastis.

Chantal tidak menyukai dirinya dihakimi dengan semena-mena atas dosa papanya. Dia sama sekali tak ada hubungannya dengan raibnya modal jumbo milik pria yang duduk di samping kursinya saat ini.

"Apa perlu aku menjawab pertanyaan dengan disertai tuduhan tanpa dasar darimu, Sir?" balas Chantal dengan keenganan nyata. Dia pun tersenyum sinis sembari mengunyah polpette di mulutnya.

"Katakan saja jawaban yang kuminta, Cantik. Kau terlalu gemar memancing amarahku!" Jordan bersikap acuh dan mengambil menu lain di meja makan untuk mengenyangkan perutnya.

Chantal pun menjawab santai, "Aku desainer fashion dari sebuah rumah mode terkemuka berkelas internasional. Aset berharga bagi majikanku, kalau aku menghilang ... mereka pasti akan mencariku."

"Hmm ... pekerjaan yang menarik. Setidaknya kau bukan wanita tak berguna yang hanya bisa menghamburkan uang dan penggila pesta dengan seks bebas pada umumnya wanita di Hollywood," balas Jordan merendahkan Chantal sekali lagi hingga wanita itu memutar bola matanya.

"Menghina orang sepertinya sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging dalam dirimu, Jordan. Sepertinya aku akan mengalami tekanan batin akut bila terlalu sering bersama denganmu!" Chantal menggunakan tangan kirinya untuk mengangkat gelas bertangkai tinggi berisi air mineral untuk minum lalu dia meletakkannya kembali ke meja.

"Permisi!" Wanita bermata hijau itu bangkit berdiri dari kursi dan hendak meninggalkan meja makan. Namun, lengan Jordan menangkap pinggang ramping Chantal dengan sigap hingga bokong wanita itu sontak jatuh ke pangkuannya.

"AAARRGHH!" pekik Chantal terkejut. Bibirnya segera dikuasai oleh Jordan hingga tak mampu melancarkan protesnya.

Kepalan tangan wanita itu terlalu mungil untuk mencederai Jordan dengan pukulan-pukulannya. Ketika ciuman paksa itu berakhir, napas keduanya tersengal-sengal dan mereka saling bertukar tatapan.

"Aku suka bibirmu yang manis, tapi berbisa itu, Chant! Kau lebih cantik bila tidak berbicara sinis seperti ini," ujar Jordan membelai bibir bawah Chantal dengan ibu jari tangannya.

"Sayangnya aku bukanlah istrimu, aku hanyalah tawananmu untuk memancing papaku keluar dari tempat persembunyiannya bukan, Mister Jordan Fremantle?" tepis Chantal dengan nada kesal.

Alis Jordan berkerut sengit. Dia pun menjawab perkataan Chantal, "Kalau dengan menikahimu maka bisa menjinakkan temperamen liarmu ini, ada bagusnya kita lakukan usaha itu, Chantal Brickman. Aku tidak keberatan dan ketahuilah bahwa aku seorang pria single potensial yang menjadi incaran banyak gold digger di luar sana. Kau beruntung!"

Mulut Chantal ternganga dengan tidak anggun mendengar ucapan Jordan. Dia tak menyangka akan ada pikiran sekonyol itu dalam diri pria egois di hadapannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED