Bab 1

Hart mulai sadar perlahan membuka mata, tapi pandangannya terhalang selembar kain hitam yang menutup wajahnya.

Hart mencoba menggerakkan tangan kiri guna melepaskan kain yang menghalangi, tetapi tak bisa. Pergelangan tangan kirinya terikat pada sebatang tiang kecil, begitu juga dengan tangan kanan pria kidal itu.

Bukan hanya tangan, ujung kedua kakinya yang mengangkang juga terikat. Hart yang mulai sadar dengan keadaan dirinya mencoba berteriak. Namun, tindakan itu sia-sia, ada lakban hitam yang melekat erat pada mulutnya mencegah ia melontarkan teriakan.

Hart meronta, berusaha melepaskan tubuhnya yang terikat.

"Huuustt, tenanglah anak muda," pinta seseorang pria yang menjaganya di ruangan itu.

"Hmmm ... hmmm." Hart ingin mengatakan sesuatu.

"Tenangkan dulu dirimu! Percayalah kami tidak akan menyakitimu," kata pria penjaga seraya mendekati tubuh Hart yang diikat diatas ranjang mewah.

Melihat keadaan tawanannya mulai tenang, pria penjaga itu melepaskan kain yang menutupi wajah Hart dan menarik paksa lakban yang melekat di mulutnya.

Kini Hart dapat melihat pria umur 40-an dengan setelan rapi mengenakan jas hitam berdiri di samping ranjang tempat ia terbaring.

"Namaku Ali, Kau pasti haus." Pria itu menyuguhkan segelas air putih pada Hart untuk diteguknya.

"Saya sarankan agar kau menghemat suaramu, tidak akan ada yang mendengar teriakanmu di tempat ini, permisi." pamitnya setelah memberikan peringatan halus pada tawanannya.

Ribuan pertanyaan melayang di dalam kepala Hart, mencoba mengingat kembali setiap kejadian sebelum ia berada di tempat itu.

"Dia sudah bangun," bisik Ali pada seseorang yang sedang menikmati segelas anggur di ruangan tengah. Wanita muda itu adalah Veronica Diarliana-atasannya.

"Beri aku privasi untuk malam pertamaku," ungkap Liana.

"Permisi." Ali pamit dengan sopan.

Hart menoleh, ia mendengar suara langkah kaki perlahan mendekat. Pintu terbuka diikuti wanita dengan mantel tebal melangkah masuk.

"Kau?" lirih Hart.

Liana tersenyum tipis, menutup pintu tanpa berpaling. Melangkah pelan mendekati ranjang sambil melepaskan mantel tebalnya, lekuk indah tubuhnya tampak samar dari balik gaun tipis yang ia kenakan. Hart langsung memalingkan pandangannya.

Liana merangkak anggun di atas ranjang mendekati tubuh Hart lalu duduk di atas perut yang berbalut otot.

Jemari Liana mulai melepaskan satu per satu kancing kemeja Hart hingga tampak gumpalan otot dada lelaki itu. Jemari Liana semakin nakal, meraba permukaan kulit Hart dan sesekali meremasnya.

Hart masih diam, belum berani menatap ke arah Liana yang menindihnya. Kini dia paham tujuan tali yang melilit bagian tubuhnya.

Setelah puas bermain di area atas, Liana berbalik 90 derajat mengubah arah posisi duduknya. Hart diam-diam melirik punggung molek Liana yang sibuk melepaskan tali pinggangnya.

Libido Hart mulai meningkat saat Liana memainkan bagian tubuhnya yang paling istimewa. Seharusnya host profesional itu masih bisa menahan birahi, tapi kali ini hasratnya begitu kuat hingga tak dapat dibendung lagi.

Tubuhnya terasa panas, aliran darah berpacu dengan detak jantung yang semakin kencang, seluruh indra semakin peka. Hart merasakan sensasi kenikmatan yang berlebihan pada salah satu bagian tubuhnya.

"Lepaskan ikatannya," pinta Hart.

Liana tersenyum mendengar permintaan Hart, ia tahu jika tawanannya itu mulai hanyut dalam permainan nakalnya. Liana yakin jika cairan yang di tambahkan Ali ke dalam minuman Hart mulai bekerja.

Liana hanya melepaskan pengikat pada salah satu tangan Hart lalu berbaring dan membiarkan Hart melepaskan sisanya.

Hart kemudian berbaring menyamping di sebelah tubuh Liana, menatap wajah Liana sambil mengelus rambutnya lalu mulai mencumbu lembut batang leher Liana.

Tangan kiri Hart perlahan menarik turun tali gaun Liana, lalu meremas lembut gumpalan daging kenyal yang tergantung bebas, berlanjut meraba turun dan berhenti pada area yang mulai basah di antara kedua paha Liana.

Suhu terasa semakin panas, Hart melepaskan pakaian yang melekat pada tubuh indah Liana hingga tak tersisa sehelai pun.

Dengan celana sedikit melorot, Hart melancarkan serangan pamungkasnya dengan dorongan yang sangat lembut.

"Pelan-pelah, akh ...." Liana mendesah saat benda keras menyentuh permukaan kulitnya yang paling sensitif.

"Akhhh ... aaakh," desah panjang Liana, tubuhnya menggeliat, jemarinya meremas seprai.

Sebuah sensasi kenikmatan dirasakan Liana untuk pertama kalinya, rasa nikmat bercampur rasa nyeri dan ngilu.

Hart terus melakukan gerakan yang sama, bibirnya tak bisa berhenti beraksi, mencium, melumat, dan menghisap bagian tubuh Liana.

Lelaki yang semula terkesan terpaksa, kini justru menjadi penguasa yang mengendalikan permainan birahi di atas ranjang. Sentuhannya lembut, tapi tepat sasaran, gerakan pinggulnya pelan dan satai dengan irama tetap.

Tidak ada tindakan kasar atau beringas seperti singa kelaparan yang menerkam mangsa. Semuanya dilakukan sangat lembut dalam diam, tapi hal itu justru mempercepat perjalanan Liana untuk sampai ke puncak.

"Aaakkhhhh, sesuatu ... keluar, aakhhh." Liana mendekap tubuh kekar Hart, pelukan yang begitu erat diikuti cairan kenikmatan yang meluncur deras, bagaikan mata air mengalir membasahi sungai yang kering.

Liana mencapai puncak lebih awal. Sensasi itu kembali terulang hingga tiga kali.

Kini giliran Hart, seluruh kenikmatan berkumpul pada satu titik, dorongan gairah semakin kuat menuju klimaks. Hart bisa merasakan carian kental mengalir deras pada saluran kecil. Akhirnya, dengan otot yang mengeras dan urat yang tertarik, pemuda itu menembakkan peluru kejantanan beberapa kali di atas perut liana.

Hart langsung menjatuhkan tubuhnya di samping Liana, wanita itu juga terkapar lemas setelah proses pendakian yang cukup panjang.

"Apa yang telah kulakukan?" gumam Hart seakan menyesali perbuatannya.

"Heii, tolong jelaskan maksud semua ini!"

Hart menatap benci pada wanita di sampingnya. Setelah bertahun-tahun dia bekerja sebagai host profesional, baru kali ini ada wanita yang berani memperlakukannya sampai sejauh itu.

Meski pekerjaan Hart memang untuk menyenangkan hati para pelanggan wanita, tapi bukan berarti dia bisa seenaknya dijadikan pemuas nafsu bagi tamu-tamunya.

"Surat perjanjiannya akan menjelaskan semuanya padamu, jadi diam dan tidurlah," lirih Liana yang terbaring lemas dengan mata terpejam.

"Huh! Perjanjian?" Jawaban Liana justru mengundang pertanyaan baru di dalam kepala Hart.

"Kau berisik sekali! Diamlah atau keluar dari kamar ini, tapi jangan berpikir kalau kau bisa kabur dariku."

Hart terpaksa menahan diri, mencoba tenang dan bersabar, menunggu sampai wanita itu siap menjelaskan segalanya.

"Hei, bersihkan ini!" Liana menunjuk ke arah perutnya.

Hart meraih tisu di atas meja kecil, meletakkan di samping Liana lalu turun dari ranjang.

Hart bangun lalu turun dari tempat tidur, berdiri di samping ranjang, mengenakan serta merapikan kembali pakaiannya yang sebelumnya dilucuti paksa oleh wanita yang tidak dikenalnya.

"Ali akan menjelaskan semuanya padamu."

Liana masih terbaring lesu, perlahan menarik kain selimut untuk membungkus tubuh bugilnya, mengubah posisi tidurnya dengan memutar badan ke arah yang berlawanan.

Hart melangkah keluar kamar, meninggalkan Liana seorang diri agar wanita itu biasa tidur dengan tenang. Lagi pula, berada di dekatnya hanya akan memancing Hart untuk terus melontarkan pertanyaan padanya.

"Sepertinya rumah ini ditinggalkan cukup lama," gumam Hart berbicara sendiri.

Pemuda itu keliling mencari sesuatu yang dapat mengalihkan perhatiannya dari semua peristiwa yang membuatnya kebingungan.

Hart berhenti ketika tiba di balkon, tempat yang menurutnya sangat cocok untuk menenangkan pikiran. Di sana ia dapat melihat hamparan langit malam bertabur bintang, meskipun sisanya hanya gulita yang terbentang menyelimuti rumah tempatnya bernaung.

Tidak ada tanda-tanda adanya seseorang selain mereka berdua di tempat itu, tak ada satu pun penjaga.

"Sepertinya, aku bisa pergi dari tempat ini dengan mudah," batin Hart.

Hart bergegas turun ke lantai bawah, menelisik setiap sudut ruangan mencari jalan untuk keluar. Tidak sulit baginya untuk menemukan pintu utama yang berdiri jelas di sisi ruangan lantai dasar.

Pintunya terkunci, tapi kuncinya menempel di sana, maka Hart dapat dengan mudah membuka pintunya, bergegas melangkah ke luar tanpa lupa untuk menutupnya kembali.

Hart berhasil keluar, tapi langkahnya berhenti setelah ia melewati pintu utama.

'Aku perlu kendaraan untuk pergi dari sini, tapi sepertinya ....'

Hart mulai mencemaskan rencananya ketika ia tidak melihat adanya satu pun kendaraan yang parkir di sana.

"Mungkin di tempat lain, akan kucari," batin Hart, ia tidak ingin menyerah begitu saja.

Pemuda itu mulai mengitari rumah, menyusuri setiap sisi, mencari kendaraan apa saja di setiap sudut yang dapat ia jangkau. Hart terus mencari, tapi pada akhirnya ia kembali ke tempat semula tanpa menemukan satu pun kendaraan.

"Sepertinya memang tidak ada, pasti dibawa pergi pria tadi," keluh kesah Hart dalam hatinya. Namun, itu tidak berarti kalau Hart telah putus asa, meskipun ia gagal dalam pencariannya.

Hart duduk pada tangga kecil di depan pintu, melirik jam yang melingkar pada pergelangan tangannya dan mulai memikirkan kembali langkah selanjutnya yang akan ia ambil.

"Sudah hampir jam dua dini hari rupanya,"

Hart mulai memikirkan beberapa hal, mempertimbangkan segala sesuatunya sebelum mengambil keputusan agar usahanya tidak berakhir sia-sia.

Hart bisa kabur dengan berjalan kaki, ia juga tidak perlu khawatir dengan arah mana yang akan diambil, ia hanya perlu menyusuri jalanan yang ada. Namun, pemuda itu tidak tahu berapa jauh ia akan berjalan dalam kegelapan tanpa alat penerangan.

Pilihan yang lain adalah menelepon kenalannya dan meminta untuk menjemputnya, tetapi Hart sendiri tidak tahu lokasi keberadaannya saat ini, ditambah lagi pemuda itu tidak menemukan ponsel miliknya di dalam saku celana, pasti direbut saat ia disekap.

'Jangan berpikir kau bisa kabur dariku.'

Hart teringat akan ucapan Liana padanya yang sebelumnya ia sepelekan. Kini Hart mengerti jika wanita itu tidak main-main dengan ancamannya.

Kini hanya tersisa satu pilihan untuk Hart, pilihan terakhir yang terpaksa ia ambil. Pemuda yang menemui kebuntuan itu berdiri dan melangkah masuk kembali ke dalam rumah, tidak ada pilihan lain lagi untuknya.

"Apa salahnya menunggu hingga esok pagi, aku juga bisa mendengarkan penjelasan dari mereka. Lagi pula, sepertinya mereka tidak berniat menyakitiku," tutur Hart dalam hatinya saat ia berjalan lamban menuju ke kamar sebelumnya. Mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan di atas ranjang yang sama dengan wanita asing.

Liana bangun lebih awal, mengenakan kembali pakaiannya dan bergegas menuju ruangan tengah.

"Ali, jemput aku sekarang!" tegas Liana lewat sambungan telepon.

"Baik, Nona."

"Ingat juga untuk mengajak dua orang pelayan ke sini."

Liana memutuskan panggilannya setelah mengatakan apa perlu ia sampaikan.

"Permisi, Nona."

Ali pun tiba beberapa menit kemudian, diikuti dua orang pelayan wanita bersamanya.

"Sudah kau jelaskan tugas mereka?"

"Sudah, Nona."

"Dia masih tertidur, jelaskan semuanya saat ia bangun!" pesan Liana sembari melirik jam mewah di pergelangan tangan kirinya sebelum berdiri dan berjalan keluar.

Ali mengawalnya sampai ke depan, di mana seorang sopir menunggu di samping sedan mewah dengan pintu belakang yang terbuka.

"Hati-hati, Nona!"

Ali kembali ke dalam setelah Liana pergi. Terlihat Hart turun dari lantai atas tepat saat pria itu melewati pintu masuk.

"Kemarilah!" ajak Ali seraya berjalan menuju tempat duduk.

"Di mana wanita itu?" tanya Hart yang tak melihat batang hidung Lina sejak ia terbangun.

"Duduklah dulu," jawab Ali tenang.

Salah satu pelayan menyajikan kopi di atas meja untuk mereka.

"Waktu yang tepat untuk secangkir kopi," ungkap Hart seraya meraih cangkir dan mencicipi kopi yang disuguhkan untuknya.

"Jadi, perjanjian apa yang di maksud wanita itu?"

Bab 2

"Jadi, perjanjian apa yang dimaksud wanita itu?" tanya Hart, pikiran yang segar kini siap menerima jawaban dari setiap pertanyaannya.

"Liana sudah cerita tentang perjanjiannya, ya," cetus Ali.

"Owh, jadi namanya Liana," sambung Hart, kini ia tahu nama wanita itu setelah apa yang mereka lalui bersama semalam.

Hart kembali teringat saat pertama kali melihat Liana. Kejadian singkat yang berlangsung di klub tempat kerjanya.

Waktu itu Hart baru saja tiba, menghampiri atasan yang sedang duduk menunggu, ditemani seorang wanita serta beberapa pengawal.

"Jadi ini orangnya," ungkap Liana saat pertama kali melihat sosok Hart.

Seorang pengawal mendekati Hart, menyemprotkan cairan seperti parfum tepat di hadapan wajahnya. Sejak saat itu Hart tak lagi ingat apa pun dan tiba-tiba telah terbaring di atas ranjang dengan kondisi tubuh terikat.

"Ya ... dia bicara tentang perjanjian, tapi hanya sebatas itu saja, 'Ali akan menjelaskan semuanya', katanya," terang Hart tentang ucapan Liana padanya.

Ali membuka koper, mengeluarkan beberapa lembar kertas lalu menyerahkan kepada Hart, "Bacalah," katanya.

Sambil menikmati kopi dan roti tawar yang disiapkan pelayan, Hart membaca setiap baris kalimat yang tertulis di kertas dengan saksama.

Hart masih membaca.

Ali mengamati, menunggu tanggapan Hart.

Hart meletakkan kertasnya, ia telah selesai membaca isinya. Sekali lagi pria penikmat minuman bernikotin itu menyeduh kopi kemudian merapatkan tubuh pada sandaran sofa.

"Saya bersyukur kalian melunasi hutangku di sana, aku tak perlu lagi berurusan dengan pria kurang ajar itu," papar Hart dengan napas lega melepaskan beberapa bebannya.

"Terus terang saya prihatin padamu. Kau tidak akan mampu melunasi hutangmu di sana, bahkan jika kau bekerja seumur hidup di tempat itu," ungkap Ali sembari merapikan kertas yang telah selesai di baca Hart.

"Aku tahu itu, aku hanya bisa membayar bunganya saja setiap bulan dengan gajiku." Hart memperbaiki posisi duduknya. 

"Tapi ... kenapa kalian tidak meminta persetujuanku dulu," sesal Hart. Ada sesuatu yang membuatnya kurang nyaman.

"Apa kau akan setuju? Jelas tidak," timpal Ali membalas.

 "Kami tahu kau orang seperti apa, karena itulah Liana memilihmu, ia tidak pernah suka dengan penolakan," lanjut Ali.

Hart adalah seseorang yang selalu berusa menjaga kehormatan dan harga diri. Pria ini tidak suka menjilat, karena itu Hart tak pernah suka dengan wanita dengan kedudukan tinggi.

Mendekati wanita kaya untuk mendapatkan kekayaannya, Hart tidak ingin dianggap sebagai orang yang seperti itu. Dia lebih memilih menderita untuk mendapatkan sesuatu dengan usaha sendiri.

Sebagai seorang host di klub tempatnya bekerja, Hart selalu menolak melayani wanita kaya raya. Ia lebih senang dengan tamu yang benar-benar membutuhkan seorang teman untuk meringankan sedikit kesedihannya, bukan wanita yang hanya ingin bersenang-senang semata.

"Jadi aku tak bisa mundur lagi, ya?" Hart kembali bersandar.

"Betul sekali." Ali membenarkan dengan tegas.

Dalam surat perjanjian yang Hart baca, persetujuannya memang tidak diperlukan, karena itu ia berharap mendapatkan kabar sebelumnya. Namun, atasan Hart myarankan pada Liana agar hal itu tidak perlu dilakukan, sebab ia tahu bahwa Hart pasti akan menolak.

Di sana dijeslaskan bahwa pihak Liana telah membayar seluruh hutang Hart, dengan kata lain hutang Hart telah dipindahkan kepada Liana. Penebusan yang harus Hart lakukan adalah menjalani status sebagai kekasih Liana selama 2 tahun, dan setelah itu ia bebas.

Beberapa orang pasti berpikir jika itu adalah penawaran yang sangat menguntungkan Hart, tapi tidak demikian bagi Hart. Lelaki ini mungkin lebih memilih bekerja seumur hidup sebagai host ketimbang menjadi kekasih wanita kaya yang angkuh seperti Liana.

"Dua tahun," gumam Hart, ia membayangkan hari-hari berat selama itu.

Hart bisa saja lari meninggalkan semuanya, tapi banyangan wajah seorang wanita terlintas di benaknya, memberinya semangat dan bertekad untuk menjalani kehidupannya sebagai kekasih Liana selama dua tahun.

Limosin putih perlahan masuk pekarangan rumah, mengalihkan perhatian Hart yang sedang berbincang dengan Ali sambil menikmati kopi dia balkon lantai dua.

"Permisi," pamit Ali, ia harus segera turun untuk menyambut Liana.

"Akhirnya, dia datang juga," gumam Hart, ia terlihat sudah siap untuk segalanya.

"Ali, suruh pelayan menyiapkan satu kamar untukku!" Liana berlalu di hadapan Ali, wanita itu langsung menuju sofa dan membuang tubuhnya di sana.

Ali melangkah mendekati ujung sofa di mana Liana duduk. "Anda ingin kamar yang mana, Nona?" tanyanya.

"Bekas kamarku. Cepatlah! Aku ingin istirahat." Liana meregangkan seluruh tubuhnya yang kelelahan.

Rumah yang mereka tempati sakarang adalah rumah lama milik almarhum orang tua Liana, terletak cukup jauh dari hiruk-pikuk kota Olympus. Sudah lama Liana tidak berkunjung, bangunan itu ditinggal dan dibiarkan kosong begitu saja.

Tempat yang kemudian menjadi pilihan untuk menawan Hart atas saran Ali. Malam itu Liana kembali setelah cukup lama tidak menginjakkan kakinya di rumah masa kecilnya.

"Maaf, Nona. Saya tidak tahu kalau Anda akan menginap di sini malam ini," pinta Ali.

"Aku berniat untuk kembali dan tinggal." Liana bersandar dengan mata tertutup, meluruskan kakinya yang diletakkan di atas meja. "Oh, iya? Mana pemuda itu?" lanjutnya bertanya.

"Aku di sini," sela Hart dari ujung tangga.

Liana sedikit terkejut membuka mata dan berbalik menatap ke arah suara berat itu berasal, begitu pun dengan Ali.

"Hart," tegur Ali yang tak menyadari pemuda itu saat turun dari atas.

"Apa aku mengganggu kalian?" tanya Hart dengan rasa sesal.

"Ya ... kau mengganggu tidurku." Liana kembali memejamkan matanya.

"Maaf, tapi aku kehabisan kopi. Aku selalu membutuhkannya jika tidak sedang melakukan apa-apa." Hart membalik cangkirnya yang kosong.

"Mintalah pada pelayan di sana, jangan minta padaku!" saran Liana ketus, masih dengan mata tertutup.

"Sejujurnya, aku mau mencoba kopi buatanmu, tapi tampaknya saat ini kau terlalu lelah untuk meracik secangkir kopi. Mungkin lain kali saja." Hart melangkah ke arah dapur.

"Lupakan keinginan anehmu itu!"

"Mau kubuatkan juga untukmu? Kopi bisa membuatmu lebih tenang," tawar Hart berseru dari arah dapur.

"Ali, kenapa tidak suruh pelayan saja membuat kopi untuknya?" bisik Liana.

"Mereka baru selesai menyiapkan kamar untukmu, Nona," jawab Ali tepat saat ia melihat kedua pelayannya baru saja turun lewat tangga.

"Oh iya! Aku lupa," gumam Liana seraya bangkit dari duduknya yang lusuh.

Hart melihat wanita itu beranjak dan akan ke atas, "Bagaimana dengan tawaranku, Nona!" teriaknya.

Liana menghentikan langkahnya sesaat sebelum kakinya mendaki anak tangga pertama, ia berbalik dan kembali ke tempat duduk semula.

Hart tersenyum melihatnya kembali, ia mengerti jika wanita itu siap untuk mencicipi kopi buatannya, meskipun jelas dipaksakan.

"Cepatlah!" lirih Liana, tapi suara kecilnya masih dapat didengar Hart.

"Bersabarlah, Nona. Tidak ada kopi nikmat yang instan." Hart yang masih sibuk meracik kopi dengan espresso tua.

"Beres," gumam Hart, lima cangkir kopi telah selesai dibuatnya.

Dengan langkah tegas dan penuh percaya diri, Hart membawa semuanya ke ruangan tengah menggunakan nampan berbahan kayu.

"Silakan dicicipi, Nona." Hart menyuguhkan cangkir pertama pada Liana.

"Ini untukmu, Paman." Hart menatap ke arah Ali saat meletakkan cangkir kedua.

Lalu Hart berjalan mendekati dua wanita yang juga berdiri di sana, "Silakan," tawarnya.

Kedua pelayan saling menatap, lalu memandang ke arah Ali yang kini duduk dan bersiap mencoba kopi buatan Hart.

"Ambillah," kata Ali mengizinkan.

"Yang terakhir milikku." Hart mengambil cangkir terakhir, meletakkan nampan di atas meja lalu duduk di samping Liana.

Liana meliriknya.

"Sempurna," ungkap Hart puas.

"Jika hanya menatapnya, bagaimana kalian bisa menikmati rasanya." Hart menguk seduhan kedua.

Seketika mata Liana menyala, Ali terpejam dan kedua pelayan kembali saling menatap setalah mencicipi kopi hasil racikan Hart.

Ekspresi merka menunjukkan jika rasanya memang sempurna seperti yang diungkapkan Hart.

"Ngomong-ngomong, saya belum melihat ayah dan ibumu," tutur Hart polos.

Ali maupun Liana tidak menanggapi ucapannya sama sekali. Sepertinya mereka tidak ingin membicarakan hal itu.

"Bersiaplah! Malam inj akan ada pesta di kediaman Veronica," uangkap Liana setelah mencoba satu teguk kopi buatan Hart kemudian berdiri dan bergegas pergi.

"Bangunkan saya jam 7 malam," pesannya sebelum langkahnya menjauh.

"Apa saya akan bertemu orang tuanya di pesta itu?" tanya Hart yang masih penasaran.

"Tidak, kau tidak akan bisa bertemu mereka. Keduanya terbunuh sepuluh tahun yang lalau."

Kabar itu cukup mengejutkan untuk Hart, "Maaf," pintanya.

"Saya akan ke tempat Anda untuk mengambil pakaian. Kau tidak perlu ikut, tunggu dan bersiaplah!"

"Hemm, baiklah."

"Permisi," pamit Ali.

Bab 3

Pukul 7 malam, Hart kembali duduk di ruangan tengah setelah mandi dan bersiap, pemuda itu masih mengenakan pakaian yang sama dengan semalam.

Lalu Ali tiba, masuk bersama beberapa orang yang membawa koper pakaian.

"Kalian lama sekali, aku mulai gatal." Hart langsung beranjak menghampiri mereka.

"Tolong antar barang-barang itu ke kamarnya!" pinta Ali pada dua orang yang sebelumnya telah diminta menemaninya untuk mengambil barang-barang Hart di tempat tinggalnya dulu.

"Ikut aku." Hart mengambil salah satu koper kecil, sisanya dibawa oleh mereka.

Selesai mengganti pakaian, Hart kembali ke ruang tengah, disusul Liana dengan gaun hitam yang sebelumnya telah ia siapkan.

Mereka langsung bertolak menuju pusat kota dengan sedan hitam yang biasanya dibawa oleh Ali. Limosin putih yang sebelumnya mengantar Liana telah kembali ke rumah utama keluarga Veronica, rumah yang akan mereka tuju.

"Apakah pestanya meriah?" tanya Hart yang mulai gugup.

"Pestanya tertutup, hanya dihadiri beberapa orang penting saja untuk merayakan pencapaian salah satu perusahaan keluarga Veronica, " jelas Ali yang mulai memperlambat laju kendaraannya dan berhenti tepat di depan gerbang utama.

Penjaga membuka gerbang untuk mereka, kendaraan itu kembali melesat di tengah pekarangan yang sangat luas. Dari jauh Hart dapat melihat rumah mewah yang berdiri kokoh di depan sana.

"Wah, besar sekali," decak kagum pemuda itu.

"Tolong jaga mata dan ucapanmu nantinya, jangan sampai membuatku malu," tegur Liana yang hanya menatap ke samping sejak tadi.

"Tenanglah, Nona. Aku tidak sekolot itu." Hart menatap wajah Liana di kaca spion.

Akhirnya tiba juga mereka di depan gedongan keluarga Veronica.

"Biar aku saja." Hart menahan Ali yang hendak turun dan membuka pintu mobil untuk Liana.

"Huffft." Hart menghela napas, menatap mantap ke depan kemudian menyusul Liana.

Ia masih harus menapaki jalan lurus beberapa meter untuk sampai ke depan pintu rumah mewah itu.

Baru saja pemuda itu hendak melangkah masuk, dua orang pria berbadan besar tiba-tiba menahannya. Hart terpaksa menghentikan langkahnya, menatap telapak tangan yang menempel di dadanya dengan alis mengerut.

"Dia bersamaku," sahut Ali dari belakang, pria itu menyusul setelah memarkirkan mobilnya.

Dengan pandangan sedikit sombong, Hart menatap kedua pria raksasa di depannya bergantian. 'Lepaskan tangan kalian' begitulah makna tatapannya.

"Bergegaslah Hart, kita tak boleh jauh-jauh dari Liana," ajak Ali.

Mereka masuk, kemewahhan di dalam rumah sontak membuat Hart terkesima. Kekaguman jelas tampak dari raut wajahnya.

"Selamat malam, Pak." Seorang pemuda dengan jas hitam menyapa Ali dan membungkuk sedikit memberi hormat, hal itu juga dilakukan pengawal lain yang berbaris di sana, para pengawal junior Ali.

"Itu Liana di sana," tunjuk Hart.

Ali berhenti, dan Hart mengikuti geriknya.

"Kau lihat wanita tua yang sedang berbicara dengan Liana?" bisik Ali seraya merapikan pakaiannya.

Hart melakukan hal sama, "Ya," jawabnya.

"Kita akan ke sana, jangan bicara apa pun padanya kecuali jika ditanya, dan jawab seperlunya saja." Ali terus memandang ke arah Liana.

Hart mengangguk paham, lalu mengikuti apa yang dilakukan Ali, berdiri tegak dengan pandangan lurus mengarah pada Liana.

"Ayo!" ajak Ali setelah menerima isyarat panggilan dari Liana.

Mereka mendekat, semakin dekat semakin gugup perasaan Hart. Namun, ia berusaha tetap bersikap santai.

"Nyonya," sapa Ali sedikit membungkuk pada wanita yang duduk di kursi mewah layaknya singgasana.

Lagi-lagi Hart hanya bisa mengikuti gerakan Ali.

Ialah Veronica Elisa-nenek Liana, pemilik saham dari tiga perusahaan milik keluarga Veronica, salah satunya dipimpin oleh Liana.

"Jadi kau budak Liana?"

"Budak?" batin Hart, ia tak mengerti maksud ucapan wanita itu.

Hart masih tertunduk diam.

"Hart, beliau bertanya padamu," bisik Ali di sampingnya.

Hart hanya menatap mata Ali, ia tidak tahu harus menjawab apa. Budak? Apakah kata itu hanya hiasan atau memang dalam artian yang sebenarnya.

"Iya, Oma. Dia budak aku." Akhirnya Liana yang menjawab pertanyaan itu.

"Baiklah, akan aku umumkan."

Wanita itu berdiri, " tapi aku tidak mengizinkanmu tinggal di rumah itu, Liana," tegasnya sebelum mulai berbicara pada tamu-tamunya.

"Ali, minta perhatian semua orang!" Nyonya Elisa maju beberapa langkah lalu berhenti tiba-tiba, Hart yang masih berdiri di sana menghalangi jalan.

Ali segera menarik tubuh Hart, menjauhkan dari hadapan Elisa. hal itu sontak menyadarkan Hart dari lamunan dan segera mengatur kembali posisi berdirinya.

Dengan suara yang lantang, Ali mulai menarik perhatian orang-orang, "selamat malam para hadirin sekalian, mohon perhatiannya sebentar. Nyonya Veronica akan menyampaikan beberapa hal untuk kita."

Perhatian setiap orang di ruang itu langsung tertuju pada Elisa, wanita berusia 60-an yang masih terlihat bugar.

Ia mulai berbicara, diawali dengan ucapan selamat datang, ungkapan terima kasih dan beberapa lelucon basa-basi sebelum akhirnya mengumumkan keberhasilan perusahaan mereka.

"Perusahaan keluarga kami akhirnya berhasil menempati posisi kedua sebagai pemegang saham terbesar Altar Group," ungkapnya penuh kebanggaan yang disambut tepuk tangan meriah semua orang.

"Kalian pastinya sudah tahu kebiasaan keluarga kami, yaitu gemar membeli seseorang yang kemudian dijadikan sebagai budak." Hart semakin merasa ada yang tidak beres setelah mendengar pemaparan Elisa.

Lalu Elisa berbalik sedikit dan menunjuk ke arah Hart, "Pria ini ... budak baru kami, dia milik salah satu cucuku. Kalian boleh melakukan apa saja terhadapnya, tapi dengan izin Liana, pemiliknya," ungkapnya.

Hart dapat melihat tatapan setiap orang yang mengarah padanya, tatapan merendahkan, tatapan yang memandang hina.

"Silakan nikmati pestanya," kata Elisa mengakhiri.

Beberapa tamu mulai menghampiri nyonya besar itu, memberi ucapan selamat dan menjilat.

Sementara Hart yang masih terpukul dengan ucapan Elisa hanya bisa menatap Liana dan menahan amarah.

"Apa maksud ucapan wanita tua itu, Ali?" tanya Hart dengan mata menyala.

"Tolong jaga kata-katamu, Hart! Wanita itu bisa membunuhmu jika mendenggar ucapanmu," bisik Ali satu-satunya tempat bagi Hart untuk mendapatkan jawaban.

"Ikut aku," ajak Ali.

Begitu berbalik, seseorang yang tiba-tiba ada di sana menghentikan langkah mereka.

"Budak Liana cukup menarik juga, tampan dan ... tubuhnya bagus." Wanita itu mulai meraba tubuh Hart.

"Heii, apa yang kau lakukan!" Bentak Hart menyingkirkan tangannya.

"Awwhh," rintihnya manja.

"Nona Viana, mohon maafkan dia," pinta Ali membungkuk meminta ampun untuk Hart.

"Kau kasar, ya. Aku suka pria kasar. Siapa namamu?" Tampaknya Viana tidak mempermasalahkan perlakuan kasar Hart padanya.

"Rainer Hart," jawab Hart yang mulai menjaga sikapnya, ia tak ingin Ali mendapat masalah karena dirinya.

Veronica Arviana, wanita berusia 35 tahun, tapi masih tampak seperti gadis 18 tahun. Semuanya karena perawatan yang mahal.

Viana adalah adik kandung ibu Liana, wanita ini juga memimpin salah satu perusahaan milik keluarga Veronica. Perusahaan yang ia pimpin tidak memperkerjakan leki-laki satu orang pun, semua karyawannya adalah wanita.

Viana tidak pernah punya niat untuk menikah semenjak hatinya disakiti oleh seorang lelaki. Wanita itu juga memiliki budak, beberapa orang budak sebagai mainannya, tentu saja semuanya lelaki tampan dan masih muda.

"Hart? Rusa jantan." Viana membisikkan makna nama Hart tepat di telinga pemuda itu, bisikan lirih seakan mendesah dengan kedua telapak tangan menempel pada dada Hart.

"Hei kau, ke mari!" Viana memanggil salah satu pelayan yang membawa minuman untuk para tamu.

"Maaf, Nona. Kami minta izin untuk keluar sebentar," pinta Ali yang terlihat panik, tapi permohonannya ditampik dengan tangan lentik Viana.

Entah kenapa Ali terlihat panik.

Setelah mengambil segelas minuman pada nampan yang dibawa pelayan, Viana langsung menuangkan minuman itu di atas kepala Hart.

"Kalian semua lihatlah, budak hina ini berani menggodaku!" Teriakan tuduhan Viana menarik perhatian semua orang.

Hart ingin meronta, tapi dengan sigap Ali menangkap tangannya sebelum diayunkan. Ali menatap mata Hart, memberinya isyarat agar tetap tenang.

"Setelah melihat sikap kurang ajar budak ini, minuman kalian pasti terasa menjijikkan. Tuangkan saja ke wajahnya dan ganti dengan yang baru." Viana kembali berteriak, menatap benci ke arah Hart.

Orang-orang mulai bergantian menumpahkan minuman ke arah Hart, atau menuangkan langsung di atas kepala pemuda malang itu sambil tertawa.

"Aku mohon, jangan melawan." Ali berbisik pada Hart saat ia ikut menuangkan minuman padanya. Hanya itu cara agar ia bisa mendekati Hart tanpa dicurigai.

Setelah mendapatkan peringatan dari Ali, Hart hanya bisa diam dengan semua penghinaan yang ia terima. Hart tidak ingin bertindak bodoh, hal yang mungkin semakin merugikan dirinya dan Ali.

Lalu, ke mana Liana?

Wanita itu ada di sudut ruangan, duduk di kursi mini bar, menikmati pemandangan penghinaan terhadap Hart dengan sebotol anggur yang didatangkan langsung dari luar negeri. Bukannya menghentikan mereka, ia justru menjadikan hal itu sebagai tontonannya.

"Lepaskan pakaianmu!" perintah Viana menunjuk wajah Hart.

"Huh?"

"Kau tidak dengar? Aku bilang lepaskan pakaianmu, sampah!" bentak Viana murka.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED