Saat ini Bu Erna sedang bersiap-siap di dalam kamarnya, Bu Erna terpaksa memakai bedak karena tidak mau melihat majikannya jijik ketika melihatnya.
Setelah merasa rapi, Bu Erna pergi menuju kamarnya Pak Heru.
Dalam langkahnya, Bu Erna terus memikirkan cara, agar dia tidak sampai melakukannya, karena menurutnya, hal ini sangat tidak pantas dia lakukan, apalagi Bu Erna harus masuk ke kamar majikannya.
Bu Erna masih merasa heran dengan sikap majikannya, karena tidak biasanya majikannya bersikap seperti ini kepadanya, Apalagi memintanya untuk memijat tubuhnya.
Akhirnya Bu Erna tiba didepan pintu kamarnya Pak Heru.
Dengan perasaan campur aduk, Bu Erna terpaksa mengetuk pintu kamar majikannya.
Tok...Tok...Tok... "Permisi Pak." Ujar Bu Erna sambil mengetuk pintu.
"Masuk." Teriak Pak Heru dibalik pintu.
Saat ini Pak Heru sudah siap dengan misinya, Pak Heru hanya mengenakan celana kolor saja, sambil merentangkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
Karena sudah mendapatkan izin, Bu Erna masuk kedalam kamarnya Pak Heru.
Setelah di dalam kamar, Bu Erna sontak kaget melihat Pak Heru hanya mengenakan celana kolor saja, sambil merentangkan tubuhnya diatas tempat tidurnya.
Bu Erna tidak sengaja melihat tubuhnya Pak Heru yang terlihat sangat kekar dan Sixpack, karena memang majikannya sangat gemar sekali berolahraga.
"Ayo bi masuk." Kata Pak Heru yang sudah tidak sabar ingin segera memulainya.
"I_iya Pak." Sahut Bu Erna sangat gugup.
Bu Erna melangkahkan kakinya dengan sangat berat, karena ini pertama kalinya dia masuk ke kamarnya Pak Heru.
Karena yang biasa membereskan kamarnya Pak Heru yaitu Yanti anaknya Bu Erna.
"Itu minyak urutnya Bi." Ucap Pak Heru sambil menunjuk ke arah meja yang tidak jauh dari tempat tidurnya.
"Ia Pak." Ucapnya lalu mengambil minyaknya.
Ingin sekali Bu Erna menolak permintaan majikannya, namun Bu Erna takut membuat majikannya marah, karena memang tugasnya hanya melayani perintah majikannya.
Sesampainya di dekat ranjang, Bu Erna berdiri sambil menunggu instruksi selanjutnya dari majikannya.
"Loh kok bengong, ayo Erna." Kata Pak Heru karena melihat Bu Erna hanya berdiri di tepi ranjang.
"Ba_baik Pak." Ucap Bu Erna sangat gugup, karena Bu Erna belum pernah melakukannya.
Bu Erna duduk ditepi ranjang, lalu membuka tutup botol minyaknya.
"Ma_maaf ya Pak." Bu Erna melumuri minyaknya ke tubuh Pak Heru.
"Kamu jangan terlalu gugup seperti itu, santai saja." Kata Pak Heru, karena melihat Bu Erna sangat gugup.
"I_iya Pak." Hanya itu yang Bu Erna katakan.
Tiba-tiba Bu Erna kepikiran Almarhum suaminya, yang sudah meninggal karena kecelakaan.
Sewaktu suaminya masih hidup, Bu Erna memang sering memijat tubuh suaminya, terkadang mengerik tubuh suaminya yang masuk angin.
Dan ini pertama kalinya Bu Erna melakukannya dengan majikannya.
Pak Heru terus menatap wajahnya Bu Erna, semakin lama Pak Heru melihatnya, Pak Heru melihat Bu Erna memang memiliki paras yang cantik, sehingga membuatnya semakin penasaran.
Walau Bu Erna tidak merias wajahnya, Bu Erna masih terlihat sangat cantik, Bu Erna hanya memakai bedak dengan harga yang sangat murah.
Pak Heru melihat ke arah payudaranya Bu Erna, seketika Otaknya langsung Traveling memikirkan isinya.
"Kamu sudah berapa lama menjanda?" Tanya Pak Heru lalu menatap Bu Erna dengan tatapan liarnya.
Mendengar pertanyaan itu, Bu Erna sangat kaget, karena tidak biasanya majikannya bertanya soal statusnya.
"Su_sudah 2 tahun Pak." Jawab Bu Erna sangat gugup, sambil terus memijat tubuhnya Pak Heru.
"Kalau boleh tau, selama kamu menjanda apakah kamu punya pikiran ingin berhubungan intim?" Tanya Pak Heru yang mulai oleng karena otaknya sudah sangat kotor.
Lagi-lagi Bu Erna kembali dikagetkan dengan pertanyaan majikannya, dan sekarang pertanyaan sangat diluar akal sehatnya, Bu Erna sangat malu untuk mengatakannya.
Pak Heru melihat Bu Erna sangat gugup ketika mendengar pertanyaan yang baru saja dia tanyakan.
Namun Pak Heru terus berusaha mengajaknya mengobrol, agar Bu Erna tidak terlalu kaku.
"Kamu kenapa Erna bengong terus, kamu jangan terlalu kaku, santai saja." Kata Pak Heru mencoba memecahkan keheningan.
"Ma_maaf Pak saya nggak biasa." Sahut Bu Erna sambil menundukan kepalanya, karena merasa malu.
"Saya mau kamu jangan terlalu kaku, kamu harus bisa lebih rileks." Pinta Pak Heru.
"I_ia Pak." Jawab Bu Erna patuh.
Bu Erna tidak berani melihat ke bawah, karena bagian itu sangat Rawan.
Pak Heru sudah tidak kuat lagi menahan hasratnya.
Tak lama tangan Pak Heru langsung memegangi tangannya Bu Erna, hingga membuat Bu Erna sangat ketakutan.
"Pak tolong lepaskan tangan saya Pak." Kata Bu Erna ketakutan, lalu menarik tangannya dari genggamannya Pak Heru.
Pak Heru tidak memperdulikannya, dia terus memegangi tangannya Bu Erna, yang sedang mencoba melepaskan tangannya.
Bu Erna terus mencoba melepaskan tangannya, Namun tangan Pak Heru sangat kuat, sehingga Bu Erna kesulitan untuk melepaskan tangannya.
"Pak tolong lepaskan tangan saya, saya mohon Pak." Pinta Bu Erna sembari memohon, agar Pak Heru bisa melepaskan tangannya.
Pak Heru sudah kehilangan akal sehatnya, hingga tidak memperdulikan rengekannya Bu Erna.
Pak Heru lalu menarik tangannya Bu Erna, hingga Bu Erna tersungkur di atas pelukannya Pak Heru.
Pak Heru langsung memeluk erat tubuhnya Bu Erna, lalu tangannya melingkar di punggungnya Bu Erna.
Saat ini Bu Erna sudah sangat ketakutan, karena menurutnya, hal ini sudah sangat kelewatan.
Bu Erna terus berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Pak Heru, namun lagi-lagi Bu Erna tidak bisa melepaskannya, karena tangannya Pak Heru begitu erat memeluk tubuhnya.
Melihat Bu Erna terus meronta-ronta, Pak Heru semakin tidak bisa menahan hasratnya.
Pak Heru langsung membalikan tubuhnya Bu Erna, setelah itu menindih tubuhnya Bu Erna.
Pak Heru memegangi tangannya Bu Erna, agar Bu Erna tidak bisa berontak.
"Pak tolong lepaskan saya. Saya mohon jangan lakukan ini Pak." Kata Bu Erna ketakutan.
"Saya mohon kamu jangan berontak, tolong layani saya, karena saya sangat menginginkannya." Ujar Pak Heru yang sudah kehilangan akal sehatnya.
"Saya mohon jangan lakukan ini Pak, saya takut Pak." Kata Bu Erna yang terus berusaha melepaskan tubuhnya dari himpitan Pak Heru.
"Kamu jangan takut, saya tidak akan menyakiti kamu, saya hanya ingin menyenangkanmu." Kata Pak Heru lalu menggesek-gesekan Penisnya ke bagian intimnya Bu Erna, karena Penisnya sudah sangat keras.
"Pak tolong lepaskan saya Pak, saya mohon Pak." Lagi-lagi Bu Erna hanya bisa merengek meminta belas kasihan majikannya.
Pak Heru sudah kehilangan akal sehatnya, dia sama sekali tidak peduli dengan rengekannya Bu Erna.
Pak Heru terus melancarkan serangannya.
Pak Heru lalu mencium bibir tipisnya Bu Erna dengan sangat agresif.
Cuupsss...Cuupss....Suara itu yang terdengar saat Pak Heru mencium bibirnya Bu Erna.
Bu Erna sudah kewalahan, ingin sekali dia berteriak, namun Bu Erna takut membuat majikannya marah kepadanya.
Eeemm...Eeemm.. Suara itu yang terdengar saat bibir Bu Erna dijilati oleh Pak Heru.
Pak Heru sudah tidak sabar lagi ingin secepatnya menikmati tubuhnya Bu Erna.
Tak lama tangan Pak Heru langsung meremas-remas payudaranya Bu Erna yang masih terhalang oleh Dasternya.
Saat Pak Heru sedang meremas-remas payudaranya, dengan cepat Bu Erna mendorong tubuhnya Pak Heru, agar Pak Heru melepaskan tangannya dari tubuhnya.
Namun Bu Erna hanya seorang perempuan, dia tidak memiliki kekuatan untuk melawan, Hingga akhirnya Bu Erna hanya bisa pasrah dan menangis melihat apa yang sudah Pak Heru lakukan terhadapnya.
Bu Erna mencoba melepaskan bibirnya, lalu memohon agar Pak Heru bisa melepaskan dirinya.
"Pak, tolong jangan lakukan ini Pak, saya mohon lepaskan saya." Ujar Bu Erna sambil meneteskan air matanya.
Pak Heru tidak memperdulikan tangisannya, karena Pak Heru sudah kehilangan akal sehatnya.
Pak Heru terus melancarkan serangannya, karena sudah tidak kuat lagi menahan Hasratnya.
Pak Heru menarik dasternya Bu Erna, hingga Daster nya robek, karena Bu Erna terus berontak mempertahankan pakaiannya.
Namun apalah daya, Bu Erna hanya seorang perempuan, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Bu Erna hanya bisa menangis menyesali perbuatan majikannya.
Setelah Dasternya terlepas dari tubuhnya, Pak Heru bisa melihat belahan dadanya Bu Erna yang masih terbungkus bra nya.
Pak Heru melihat payudara Bu Erna terlihat sangat indah dan cukup besar, sehingga otaknya sudah sangat kotor.
Pak Heru mendorong bra nya ke atas, hingga mendekati lehernya Bu Erna.
Setelah bra nya terbuka, Pak Heru bisa melihat dengan sangat jelas payudaranya Bu Erna yang super duper membahana.
Hingga membuat Pak Heru menelan ludahnya.
Pak Heru melihat payudara Bu Erna cukup besar dan bulat, dia juga melihat putingnya berwarna merah jambu.
Dalam hatinya, Pak Heru berkata.
"Gila... gede juga payudaranya." Ujar Pak Heru dalam hati, sambil terus menatap payudaranya.
Menurut Pak Heru, payudara Bu Erna lebih besar dibandingkan dengan payudara istrinya.
Saat ini Bu Erna hanya bisa menangis menahan rasa malu dan sakit, karena perlakuan Majikannya sudah sangat kelewatan.
Ingin sekali dia berteriak meminta pertolongan, namun Bu Erna takut Pak Heru akan marah kepadanya.
"Pak tolong jangan lakukan ini Pak, saya nggak mau seperti ini, saya nggak enak sama Ibu Pak." Kata Bu Erna sembari memohon, agar Pak Heru bisa melepaskannya.
"Kamu nggak usah takut, Ibu kan lagi kerja, jadi sekarang hanya kita berdua." Kata Pak Heru mencoba menenangkan Bu Erna.
"Tapi Pak ini sangat memalukan, saya mohon lepaskan saya Pak." Bu Erna terus memohon agar Pak Heru bisa melepaskannya.
Pak Heru sudah kehilangan akal sehatnya, dia sama sekali tidak memperdulikan rengekan Bu Erna, Justru sebaliknya, Pak Heru malah semakin gila dan sangat penasaran dengan tubuhnya Bu Erna.
Pak Heru langsung mencaplok payudaranya Bu Erna dengan sangat nafsu, lalu memainkan lidahnya berputar-putar di sekitar putingnya yang berwarna merah jambu.
"Pak tolong hentikan, jangan lakukan ini pada saya, saya mohon Pak." Rengek Bu Erna sambil meneteskan air matanya.
Lagi-lagi Pak Heru tidak memperdulikannya, dia terus menjilati payudaranya Bu Erna dengan sangat nafsu.
Bu Erna terus meronta-ronta, berusaha melepaskan tubuhnya dari setan alas yang sedang menggerogoti tubuhnya.
Namun apalah daya, Bu Erna tidak bisa melawannya, Bu Erna hanya bisa menangis menyesali perbuatan majikannya.
Saat ini Pak Heru sudah dibuat gila oleh Bu Erna, bahkan dirinya sudah sangat terangsang, hingga nafasnya tidak beraturan.
Pak Heru terus menjilati putingnya Bu Erna, sambil menggesekan Penisnya ke vaginanya.
Saat ini Bu Erna hanya mengenakan celana dalam saja, sedangkan Pak Heru masih mengenakan celana kolor pamungkasnya.
Pak Heru langsung membuka celana kolornya, lalu melemparkan celananya ke atas lantai.
Setelah itu Pak Heru kembali menggesekan Penisnya ke vaginanya Bu Erna.
Semakin lama Pak Heru menggesekan senjata pamungkasnya ke vaginanya Bu Erna, Bu Erna mulai merasakan kenikmatannya, hingga matanya mulai remang-remang.
"Pak.. tolong.. hen_tikan.. Aarghhh.." Dengan susah payah Bu Erna mengatakannya, karena tubuh Bu Erna sudah mulai terangsang, karena gesekan itu sudah membangkitkan gairah di dalam tubuhnya.
Pak Heru bisa melihat Bu Erna sudah mulai menikmatinya, hingga membuat nafsunya semakin menggebu-gebu.
Pak Heru memasukan tangannya kedalam celana dalamnya Bu Erna, lalu mengelus-elus vaginanya dengan sangat lembut.
"Aarghhh..To_long hentikan... Pak.." Dengan susah payah Bu Erna mengatakannya, karena tubuhnya sudah mulai terangsang.
Saat ini Bu Erna sudah tidak berontak lagi, karena tubuhnya sudah mulai terangsang.
Mendengar desahan Bu Erna, Nafsu Pak Heru semakin membara.
Pak Heru menurunkan kepalanya, lalu menarik celana dalamnya Bu Erna.
Dengan cepat Bu Erna menahannya, agar celananya tidak terlepas dari tubuhnya, karena menurut Bu Erna, bagian itu sangat rawan dan sangat memalukan.
"Pak, tolong jangan lakukan ini Pak, saya mohon Pak." Kata Bu Erna sambil memegangi celana dalamnya.
"Saya mohon kamu jangan teriak, saya janji nggak akan menyakiti kamu." Ucap Pak Heru yang sudah kehilangan akal sehatnya.
"Saya mohon lepaskan saya Pak." Sudah keberapa kalinya Bu Erna berkata seperti itu kepada majikannya, namun tetap saja Pak Heru tidak memperdulikannya.
"Kamu mau saya pecat?" Tanya Pak Heru lalu menatap dingin, karena merasa kesal melihat Bu Erna terus berontak.
Melihat tatapan Pak Heru yang terlihat sangat dingin, Bu Erna langsung berhenti berontak, karena takut Pak Heru akan benar memecatnya, sedangkan Bu Erna masih membutuhkan pekerjaannya.
Melihat Bu Erna sudah tidak berontak lagi, Pak Heru kembali melanjutkan aktivitasnya.
Pak Heru langsung menarik celana dalamnya Bu Erna, lalu melemparkan celana dalamnya ke atas lantai.
Setelah celana dalamnya terlepas, Pak Heru bisa melihat dengan sangat jelas keindahan vaginanya Bu Erna.
Dengan cepat Bu Erna menutup vaginanya dengan kedua tangannya, karena merasa malu di lihat oleh majikannya.
"Tolong lepaskan tangannya." Pinta Pak Heru sedikit kesal, karena Bu Erna terus mempertahankan harta karunnya.
"Pak tolong jangan lakukan ini, saya mohon Pak." Ujar Bu Erna dengan berlinang air mata.
"Kamu percaya sama saya, saya tidak akan menyakiti kamu." Kata Pak Heru mengingatkannya, agar Bu Erna bisa memberikan harta karunnya.
Bu Erna hanya bisa menangis sambil menggelengkan kepalanya.
Pak Heru melepaskan tangannya Bu Erna, yang terus menutupi harta karunnya.
Pak Heru sudah tidak bisa lagi menahan nafsunya, hingga dia tidak perduli lagi dengan tangisannya Bu Erna.
Saat tangan itu terlepas, Pak Heru bisa melihat dengan sangat jelas, keindahan harta karun Bu Erna yang luar biasa dahsyatnya.
Pak Heru melihat vaginanya sangat indah. Ada sedikit bulu halus dan lurus yang menghiasi vaginanya.
Tanpa berlama-lama, Pak Heru langsung mencaplok vaginanya dengan sangat liar.
"Aarrgghh...Pak.. To_long.. hentikan Pak." Dengan susah payah Bu Erna mengatakannya. Karena tubuhnya sudah sangat terangsang.
Pak Heru terus memainkan lidahnya berputar-putar di sekitar daging kecil yang ada di tengah-tengah bibir vaginanya. Hingga membuat Bu Erna langsung terbang ke awan.
"Aarghhh...Hmmm.. Pak..tolong.. hen_tikan.." Ucapnya terbata-bata, karena Bu Erna sudah mulai menikmatinya. Hingga matanya merem melek menahan rasa nikmat.
Mendengar Bu Erna terus mendesah, Pak Heru pun semakin terangsang.
Pak Heru kemudian memasukan lidahnya kedalam lubang vaginanya Bu Erna, hingga tubuh Bu Erna kelojotan menahan rasa nikmat.
Aarrgghh...Uugghh...Hhmmm...
Bu Erna sudah tidak berontak lagi, bahkan sekarang Bu Erna sudah mulai menikmatinya.
Tak lama lubang vagina Bu Erna sudah mulai basah, karena Bu Erna sudah sangat terangsang.
Pak Heru kemudian memasukan jari tengahnya kedalam lubang vaginanya Bu Erna.