Bab 1

“HAPPY BIRTHDAY!” pekik keras dari wajah-wajah ceria bercampur tawa dan canda, bunyi musik dari semu pengunjung di sebuah klub malam hotel Carlington. Malam yang telah larut jadi makin meriah. Seluruh jam tidur sudah terlewati dengan pesta ulang tahun seorang istri miliuner pemilik jaringan supermarket terbesar di US saat ini.

“Oh, terima kasih kalian sudah datang!” sahut sang istri milyuner sambil menaikkan gelas sampanyenya ke udara.

Sang istri yang masih cukup muda, sedang menghabiskan uang suaminya yang kaya raya dengan menyewa klub malam hotel Carlington demi merayakan ulang tahunnya.

Tak tanggung-tanggung, ia menyewa beberapa DJ sekaligus untuk membuat pesta terus hidup selama 48 jam non stop. Selama dua hari, ratusan botol minuman keras dari bir sampai vodka, dihabiskan dalam pesta tersebut. Musik berdentum tanpa jeda dan terus menerus para tamu datang silih berganti.

“Nikmati pestanya! Sebentar lagi tamu spesial akan datang menghibur!” sahutnya lagi menyambut para tamu. Beberapa selebriti dari aktor, penulis buku terkenal sampai penyanyi, lalu olahragawan, sosialita dan undangan dari kalangan jet set itu datang menjadi tamu.

Suasana tak kalah riuh dengan meja-meja poker yang membuat pengunjung makin betah. Proses potong kue dan melakukan toast dilakukan di hari kedua. Sang suami begitu memanjakan istrinya yang memang gila pesta. Dan istrinya mengundang siapa pun termasuk putri presiden. Tak hanya itu, salah satu tamu spesial adalah seorang penyanyi yang tengah naik daun dengan paras seperti seorang dewi.

“Jadi apa Venus Harristian benar akan datang?” tanya sang suami separuh berbisik pada istrinya.

“Tentu saja, dia akan tiba!” jawab sang istri tersenyum.

Di luar, seorang doorman membuka pintu sambil menunduk pada seorang dewi yang berjalan anggun keluar dari mobilnya. Seorang staf lalu membantunya melewati jalan yang diperuntukkan untuk tamu-tamu VIP.

“Silahkan, Nona Harristian!”

Senyuman manis dari bibir merah padam itu menyihir semua mata tak terkecuali suami si empunya pesta.

Akan tetapi, pria-pria itu hanya bisa menunduk memberikannya jalan. Layaknya pedang, kala ia berjalan, ia seperti membelah kerumunan. Semua orang akan menyingkir memberikannya jalan.

Dewi itu memakai dress malam sequin berwarna keperakan dengan belahan dada rendah. Sebelah pahanya juga begitu cantik memperlihatkan tubuh dengan sempurna. Tak ada yang lebih indah dari kakinya yang jenjang dan kulit mulus tanpa cela.

“Selamat ulang tahun!” sapa Venus Harristian sambil membawakan buket bunga dan kado ulang tahun yang sudah dibawa lebih dulu.

“Kamu datang sendiri?” tanya si istri konglomerat usai memeluknya hangat. Venus mengangguk ramah sambil mengulum senyuman.

“Kenalkan ini suamiku, Edgar Luther,” ucap si istri lagi memperkenalkan suaminya. Edgar mendekat dengan pandangan nakal menyelidik pada Venus yang masih ramah. Tapi Venus membalasnya dengan tatapan sopan dan cenderung menunduk.

“Senang bertemu denganmu, Tuan Luther. Aku sudah banyak mendengar tentangmu,” ucapnya dengan ramah. Pria itu terkekeh dengan sikap angkuh pada Venus.

“Aku rasa yang kamu dengar itu belum seberapa, Nona Harristian. Ah, aku sangat senang bisa berkenalan dengan wanita secantik dirimu. Kamu benar-benar memesona, Venus Harristian. Sama seperti namamu,” puji Edgar lalu mengangkat sebelah tangan Venus dan mengecup punggung tangannya sambil terus memandang matanya.

Istrinya lantas mengernyit melihat perilaku suaminya yang terlalu manis pada Venus. Ia sedikit menyikut untuk memperingati suaminya agar tak bertingkah aneh.

“Maaf, Nona Harristian. Suamiku memang terlalu ramah! Hahaha ... ayo, aku kenalkan pada yang lain. Uhm, kamu akan tampil kan?” istri sang konglomerat langsung menarik lengan Venus agar menjauh dari suaminya yang memang punya sifat playboy. Venus hanya bersikap biasa saja dan masih seperti di awal. Sebagai penyanyi, ia telah terbiasa menghadapi banyaknya hal-hal yang mungkin tak tertebak dari para fans.

Venus pun menjadi salah satu pengisi acara utama pada acara ulang tahun itu. Ia bernyanyi untuk para tamu yang hadir sesuai kontrak kerja yang telah ia sepakati. Suara yang merdu serta fisiknya yang sangat cantik, membuat Venus begitu memanjakan mata.

Sayang, di jari manisnya telah melingkar sebuah cincin berlian 40 karat yang menandakan jika ia telah memiliki calon pendamping hidup. Namun rasa kecewa itu langsung menguap kala menonton pertunjukan dan nyanyian Venus di atas panggung.

Tepuk tangan dan pujian bersahutan bergema untuk Venus Harristian, si penyanyi muda yang sedang merajai tangga lagu. Beberapa bunga turut diberikan untuk Venus dari beberapa pria. Venus menerimanya dengan senang hati.

Acara pun berlanjut dan pesta masih terus berlangsung sampai pagi. Venus lantas ikut menikmati pesta dengan mengobrol bersama beberapa kenalan serta teman. Ia ikut minum meskipun membatasi diri agar tak mabuk.

“Aku ke toilet sebentar!” Venus meminta ijin untuk keluar sesaat. Ia ingin mencuci tangan dan menghubungi tunangannya. Rasa rindu tiba-tiba muncul dan Venus ingin mendengar suara pria yang ia cintai itu. Namun sebelum sampai ke toilet wanita, Venus merasa diikuti. Ia menoleh ke belakang dan cukup kaget melihat Edgar mengikutinya.

“Tuan Luther? Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Venus sedikit curiga. Edgar tersenyum dan mendekat.

“Oh, kebetulan aku lewat dan melihatmu jadi aku mengikutimu. Bisakan kita mengobrol sebentar?” Venus langsung mengernyit tak mengerti. Ia agak sedikit tak nyaman pada perilaku Edgar padanya.

“Maaf Tuan Luther ...”

“Edgar, panggil saja aku dengan nama depanku. Biar kita lebih akrab.” Sebelah tangan Edgar mencoba membelai lengan Venus. Venus perlahan mundur agar tangan itu tak menyentuh kulitnya.

“Maaf Tuan Luther. Aku rasa Anda salah paham.” Edgar sedikit memiringkan wajahnya dan ujung bibirnya terangkat menyeringai. Ia masih belum menyerah untuk mencoba mendekat lagi.

“Tidak, aku ingin mengenalmu lebih dekat. Bolehkan? Kita bisa mengobrol ...” Venus makin mundur dan tersenyum tipis.

“Aku tidak mau bermasalah dengan istrimu. Maaf, permisi!” tolak Venus lalu berbalik dan tetap berjalan ke rest room untuk wanita meninggalkan Edgar. Edgar masih memandang Venus dengan dagu terangkat. Ia kurang suka jika ada yang menolaknya, tapi buka tipenya menunggu wanita di dekat toilet. Tak lama, Edgar pun pergi.

Setelah mencuci tangan, ia mengambil tas tangannya dan merogoh ponsel. Sambil tersenyum Venus menghubungi Gareth Moultens, tunangannya.

Sekali sampai empat kali dering, kekasihnya itu tak mengangkat. Venus menghubunginya sekali lagi dan masih sama. Rasa kecewa membuat Venus akhirnya memilih untuk menyimpan saja ponselnya dan keluar dari kamar kecil untuk kembali ke pesta.

Venus berjalan kembali ke arah tangga yang menghubungkan dengan klub namun sebuah tanda di lantai membuatnya mengurungkan niat.

‘Lantai licin, baru dibersihkan!’ Venus mendengus melihat tanda itu dan terpaksa berbalik untuk naik menggunakan lift. Kebetulan ia hanya sendirian di dalam lift menuju lantai 10. Namun entah mengapa, lift malah berhenti di lantai 8 dan terbuka. Venus yang keheranan mengira jika lift mungkin sedang eror. Maka ia keluar hendak mengecek.

Mata Venus seketika membesar saat melihat seorang pria berhoodie tengah menikam seorang pria. Pria itu adalah Edgar Luther.

“Aaahkkk!” Venus berteriak di ujung koridor dan penikam itu berbalik menoleh pada Venus. Venus yang panik lalu berbalik dengan cepat kembali ke dalam lift untuk menyelamatkan diri. Sementara pria yang dilihat wajahnya oleh Venus itu berbalik mengejarnya ke dalam lift.

Bab 2

Bunyi sirene polisi terdengar sampai ke luar hotel The Carlington tempat terjadi pembunuhan terhadap seorang konglomerat yang tengah merayakan ulang tahun istrinya. Edgar Luther ditemukan tewas dengan lima belas luka tusukan di sekujur tubuhnya di sebuah koridor di hotel mewah tersebut.

Polisi langsung datang untuk menutup hotel, menggeledah, melakukan identifikasi sampai mereka menemukan sebuah lift yang berhenti dan segera menurunkannya kembali.

Ketika lift terbuka, Venus Harristian tampak berada di dalam ketakutan meringkuk.

“Nona, Anda tidak apa-apa?” tanya polisi yang menghampiri dan Venus langsung memeluk sambil menangis. Venus diamankan dan diberikan pelayanan medis untuk memeriksakan kondisinya.

“Nona, bisakah kami mewawancaraimu sekarang?” tanya seorang penyidik yang datang pada Venus.

“Tolong panggil Kakakku!” pinta Venus dengan ketakutan. Polisi itu tak bisa menolak Pihak NYPD kemudian memanggil Rei Harristian yang merupakan Kakak laki-laki dari Venus Winthrop Harristian. Rei pun langsung datang begitu mendapat panggilan dari polisi tentang adiknya.

“Venus!” panggil Rei dengan panik berlari ke arah Venus yang langsung berdiri dan memeluknya.

“Oh, Sayang! Kamu gak pa-pa? Coba Kakak lihat!” Rei begitu panik memeriksa kondisi adiknya lalu memeluknya lagi.

“Maaf, Tuan Harristian ...” Rei berbalik setelah ada suara dari arah belakangnya. Seorang detektif polisi datang menghampiri Rei dan Venus. Rei kemudian menjulurkan sebelah tangannya untuk menjabat tangan detektif itu.

“Namaku Detektif Daryl Brooke!”

“Aku Rei Harristian!” Detektif itu pun mengangguk.

“Kami memanggilmu kemari atas permintaan adikmu, Nona Venus Harristian. Nona Harristian kami temukan di dalam lift dalam posisi ketakutan. Kami ingin mengambil keterangan dan kesaksian dari Nona Harristian dan jika tidak keberatan, Anda bisa ikut menemani?” tawar detektif itu dengan sopan.

“Tentu saja. Terima kasih Detektif!” Detektif Brooke kemudian mengarahkan Rei yang merangkul Venus ke salah satu sudut di lobi tersebut untuk wawancara awal.

“Aku tidak tahu kenapa lift itu malah berhenti di lantai delapan. Aku ingin kembali ke klub!” Detektif itu terus mencatat hal penting sambil mengangguk-angguk.

“Apa ada yang mencurigakan sebelumnya? Seperti seseorang yang mengikutimu, Nona?” Venus mengatupkan bibirnya dan menoleh pada Rei sejenak.

“Tuan Edgar Luther mengikutiku ke kamar mandi wanita dan ...”

“Apa!” sahut Rei cepat dan kaget. Venus menoleh lagi pada kakaknya dengan raut polosnya yang cantik.

“Tapi aku langsung menghentikannya. Dia bilang dia hanya ingin bicara denganku. Setelah aku menolaknya, aku langsung pergi dan tak melihatnya lagi. Tapi begitu aku keluar dari lift aku malah melihat seseorang sedang menusuknya!” jawab Venus dengan raut ketakutan yang terlihat jelas. Rei jadi ikut cemas dan merangkul Venus lagi.

“Aku mengerti, Nona. Tapi itu artinya kamu adalah satu-satunya saksi mata yang menyaksikan penusukan dan pembunuhan itu!” ujar detektif itu dengan nada dingin. Rei lantas menoleh pada polisi itu dengan pandangan tak nyaman.

“Lalu apa yang akan kalian lakukan? Bagaimana jika sekarang adikku yang diincar?” sahut Rei dengan nada agak tinggi. Detektif itu pun mengangguk mengerti.

“Tuan Harristian, kami menyadari jika dalam kasus seperti ini jika ada saksi yang langsung menyaksikan maka kami harus mengambil keterangan dan kesaksian yang lengkap. Aku tidak bisa melakukannya di sini. Jadi aku meminta agar Nona Harristian bisa datang kembali esok pagi dan menemuiku,” jawab detektif itu lagi masih dalam keadaan tenang. Rei jadi mendengus kesal dan tak melepaskan rangkulannya pada Venus.

“Untuk keselamatan Nona Harristian akan diantarkan oleh polisi. Sampai ia bersedia untuk menjadi saksi, kami baru bisa memberikan perlindungan saksi!” sambung detektif itu lagi makin membuat Rei kesal. Ia hanya bisa merangkul dan terus mengelus pundak Venus yang masih ketakutan.

“Untuk malam ini, kami akan mengantarkanmu!” tawar detektif Brooke lagi.

“Kawal saja kami, biar aku yang bawa adikku pulang!” detektif itu pun mengangguk setuju.

“Baik, Tuan Harristian! Silahkan!”

***

Derap kaki bergerak dengan serempak membentuk barisan yang rapi dan kokoh. Dengan seragam coklat yang dilapisi oleh rompi anti peluru, pelindung bahu, siku, lengan, lalu paha, lutut hingga betis, para polisi personel Sabhara dari Kepolisian Resort sedang memasang barikade. Mereka tengah membuat perlindungan pada pengendalian situasi keamanan atas demonstrasi yang tengah terjadi.

Kepala Unit Satuan Pengendalian Massa (Dalmas), Dion Juliandra langsung turun untuk mengatasi dan mengurai demonstrasi berpotensi disusupi dan rusuh. Dengan wajah tegang, ia terus memasang insting penglihatannya dengan baik.

“Dan, kita harus bergerak sekarang!” ucap salah satu anggotanya melapor.

“Jangan, tunggu kabar dari Peter!” balasnya sambil sedikit menunjuk memperingatkan. Anggotanya itu pun mundur dengan perasaan cemas.

“Komandan, kita mulai dilempari batu!”

“Panggil Gerry!” perintahnya pada salah satu anak buahnya. Tak berapa lama, pria yang dipanggilnya pun datang menghadap. Dion lantas menarik pundak pria itu dan separuh berbisik.

“Mas, saya akan menyusup! Kayaknya Peter dalam bahaya, gak ada kabar dari dia sama sekali,” ujar Dion pada pria yang ternyata adalah wakilnya itu. Wakilnya itu mengernyit menoleh padanya.

“Kita kirim aja anggota lain untuk ngecek. Gak perlu Komandan yang langsung ke sana!” tukasnya. Dion tetap menggelengkan kepalanya.

“Gak bisa. Ini semua tanggung jawab saya! Mas Gerry pimpin anak-anak di sini. Gantiin saya! Kita tetap sesuai skema rencana awal, mengerti?” Dion tak menunggu wakilnya mengiyakan, ia langsung berbalik pergi.

“Huh, entar kalo ada apa-apa, aku yang kena semprot pimpinan!” rutuknya mengomel.

Suasana makin rusuh dan Dion hanya membawa tiga orang anggotanya untuk mendampingi. Dion kemudian membuka helm pelindung dan seluruh pelindung kecuali rompinya.

“Dan, masa kita gak pakai pelindung?” tanya salah satu anak buahnya.

“Terlalu kentara kalau kita masuk dengan pakaian seperti ini! Tinggalkan yang lain, pakai rompinya saja!” perintah Dion lagi mengambil risiko yang cukup besar.

“Kalau ketahuan bisa mati kita!” rutuk salah satunya.

“Sudah diam!” hardik Dion membungkam anak buahnya. Dion memerintahkan agar anak buahnya berpencar. Para demonstran sedang melakukan provokasi pada polisi yang tengah menahan laju mereka. Dari kejauhan, terlihat seorang pedagang bakso tengah jadi bulan-bulanan para preman yang ikut demonstrasi. Benak Dion pun terusik

“Kamu cari Peter dan bawa dia kembali! Aku akan ke sana!” perintah Dion pada salah satu anggota yang mengikutinya.

“Lho, Komandan mau ngapain?” protes si anggota.

“Udah, nurut aja!” bungkamnya lagi dan menyusup untuk menolong tukang bakso itu.

“Hei!” hardiknya keras. Para perusuh itu berbalik pada Dion dan menyadari bahwa itu adalah polisi. Dion langsung menendang dan memberikan beberapa pukulan sebelum mereka kabur untuk memanggil teman-teman mereka.

Di tengah perkelahian itu, sebuah mangkuk bakso tiba-tiba melayang ke kepala perusuh sampai pecah.

“Peter!” Peter hanya menyengir dan memiting perusuh yang tadi ia pukuli lalu menyeretnya. Dion juga melakukan yang sama.

“Siapa yang bayar kalian?” tanya Peter tanpa basa-basi.

“Aku bisa masukin kalian ke penjara dan gak akan pernah keluar! JAWAB SIAPA YANG BAYAR KALIAN!” bentaknya lagi lebih keras. Dion juga menekan wajah salah satu perusuh ke dinding batako yang keras dan kasar sampai ia mengaduh kesakitan.

“Ampun Pak ... ampun, Pak!”

“Jawab!” desak Dion meski tak membentak, suaranya menggeram kesal.

“I-Iya itu ...”

“Bang Komar!” Peter dan Dion saling melirik satu sama lain.

“Komar si bule?” perusuh itu mengangguk.

“Jadi benar ini bukan demonstrasi tapi kerusuhan!” ungkap Peter pada Komandannya.

“Kalian ditangkap! Ayo jalan!” Dion dan Peter anak buahnya lantas menarik para perusuh itu untuk dibawa ke kantor polisi.

Dion dengan cepat kembali ke barisannya dan kembali memegang kendali. Ia pun mengambil pengeras suara dan memberi pengumuman yang mengejutkan.

“JIKA DEMO INI TIDAK BERSIH DALAM 10 MENIT, KALIAN SEMUA AKAN DITANGKAP! PEMIMPIN KALIAN, KOMAR SI BULE SUDAH DITAHAN. JADI MENYERAHLAH!”.

Bab 3

Rei kemudian membawa Venus keluar dari hotel tersebut lewat jalan belakang. Ia tak ingin ada reporter yang mengetahui jika adiknya Venus adalah saksi dari pembunuhan itu. Sekarang keselamatan Venus bisa menjadi sangat riskan dan berbahaya.

“Aku pulang ke apartemenku aja, Kak!” pinta Venus setelah mereka setengah jalan. Rei menoleh dan mengernyitkan keningnya pada Venus.

“Mau ngapain kamu sendirian di sana? Apa Gareth ke rumah?” Venus menggelengkan kepalanya.

“Tapi aku bisa telepon dia ...”

“Ah, udahlah! Mana dia sekarang? Gak ada kan?” sahut Rei dengan nada kesal. Venus hanya menundukkan pandangannya dan diam saja. Rei paling tidak suka dengan pilihan Venus pada Gareth. Sekalipun Gareth seperti layaknya calon menantu idaman dari keluarga Harristian, tapi Rei tak pernah ramah pada Gareth.

“Aku sudah coba telepon dia. Mungkin dia masih sibuk, Kak,” balas Venus dengan suara lembutnya pada akhirnya. Rei hanya menghela napas dan menggeleng pelan.

“Malam ini kamu pulang ke rumah Mommy. Atau kalau kamu mau, kamu bisa tidur di tempatku, Ven. Yang jelas kamu gak boleh ke apartemen kamu sampai masalah ini selesai!” perintah Rei membuat Venus tak bisa membantah. Venus hampir tak pernah membantah perintah kakaknya sama sekali. Ia begitu penurut dan sebagai anak tengah, Venus seperti jembatan yang menyatukan seluruh anggota keluarga.

“Aku dengar Mommy sudah melayangkan permohonan cerai ke pengadilan ya?” tanya Rei beberapa saat kemudian. Venus menoleh dan menggeleng tanda tak tahu.

“Masa sih Kak? Tapi ...”

“Bagus kalau mereka cerai! Aku udah gak tahan lihat Mommy nangis terus!” gerutu Rei tetap menggenggam tangan Venus dan tetap menyetir pulang ke rumah ibu mereka.

“Gimana audisi di Boston?” tanya Venus iseng saja sambil menoleh tersenyum. Rei tak tersenyum dan menoleh sekilas lalu menggeleng.

“Memangnya kenapa dengan audisi Boston?” Rei balik bertanya.

“Aku dengar Kak Rei ke sana.” Rei malah tak menanggapi dan diam saja. Wajahnya tak tampak nyaman dan Venus tak ingin bertanya lebih jauh soal itu. Rei adalah seorang rapper dan produser ternama sekaligus pemilik label rekaman Skylar Labels. Dan Skylar Labels baru saja menggelar audisi pencarian penyanyi untuk sebuah ajang pencarian bakat terkenal di US.

Mereka pun keluar dari lift untuk berjalan melalui koridor dan masuk ke penthouse milik keluarga Harristian. Ibu mereka Claire Wintrop sudah menunggu begitu cemas di ruang tamu. Begitu anak-anaknya masuk, Claire langsung datang dan memeluk Venus.

“Sayang, kamu gak pa-pa? Kamu gak pa-pa kan?”

“Aku ga pa-pa, Mom. Cuma syok aja,” jawab Venus dengan lembut. Wajahnya tampak lelah dan Claire pun menarik putrinya itu diikuti oleh Rei yang ikut masuk usai meletakkan kunci mobil dan membuka jaketnya. Claire pun membawa Venus duduk di ruang tengah lalu mengambilkan segelas air untuknya.

Setelah ia minum, barulah Claire meminta Venus untuk bercerita tentang yang terjadi di hotel tersebut. Sementara Rei ikut duduk di salah satu sofa di depan adiknya.

“Aku gak tahu apa yang terjadi, Mom. Entah kenapa lift itu bisa berhenti di sana dan ketika aku keluar, aku malah melihat seseorang menikam Tuan Luther. Oh, aku takut banget!” keluh Venus sambil memegang kepala dengan kedua tangannya dan menunduk. Claire langsung memeluk Venus yang tampaknya cukup trauma dengan apa yang terjadi.

“Oh, Sayang! Kamu pasti takut dan trauma. Ada Mommy, Nak! Mommy gak akan biarkan siapa pun menyakiti kamu!” ucap Claire menenangkan sambil terus memeluk Venus. Venus pun mulai terisak lagi dan ikut memeluk ibunya. Rei hanya menarik napas dan melepaskannya perlahan dengan raut khawatir.

“Aku rasa, aku akan menempatkan beberapa pengawal untuk kamu, Venus. Aku akan bicara dengan Om Jay atau Ares soal ini!” sahut Rei kemudian. Venus dan Claire sama-sama menoleh pada Rei dan tak bicara apa pun.

“Apa kamu mau tidur di kamar Mommy?” tawar Claire pada Venus yang tersenyum lalu menggelengkan kepalanya sambil memajukan bibir.

“Mommy ... ntar aku dikira anak kecil lagi!” protes Venus sedikit merengek.

“Lho, kamu dan Chloe kan masih bayi-bayi Mommy!” jawab Claire makin membuat Venus tersipu dan memeluk ibunya lagi. Rei tersenyum hanya memperhatikan saja. Sepertinya malam ini, ia harus menginap di rumah ibunya juga. Adik bungsu Venus yaitu Chloe sedang menginap di rumah salah satu temannya untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Ia baru saja pindah kampus dan tugas kuliahnya menumpuk cukup banyak.

Setelah Venus masuk ke dalam kamar, Claire lantas menghampiri Rei dan sedikit bicara dengannya.

“Kamu serius mau menempatkan anggota Golden Dragon untuk menjaga Venus?” tanya Claire dengan suara rendah. Rei menghela napas berat dan mengangguk.

“Terpaksa Mom!”

“Kenapa gak minta tolong Gareth aja!” Rei langsung berdecap kesal dan menggeleng.

“Venus bahkan menelepon dia dan gak diangkat. Menurut Mommy, laki-laki macam apa dia?” tukas Rei dengan nada kesal. Claire hanya bisa diam dan ikut menghela napas sembari membuang pandangannya ke samping. Sesungguhnya mereka memiliki alternatif lain tapi syaratnya yang tak ingin dipenuhi oleh Claire.

“Apa yang Mommy pikirin?” tegur Rei melihat ibunya seperti melamun. Claire sedikit terkesiap dan menoleh lagi pada Rei.

“Uhm, gak ada ...”

“Mommy pikirin Daddy ya? Mommy berencana minta bantuan Daga Nero?” tebak Rei membuat Claire terdiam. Claire memang sempat berpikir seperti itu. Usai salah satu paman mereka, James Belgenza meninggal, Daga Nero yang sebelumnya merupakan kelompok mafia sudah berubah menjadi perusahaan jasa keamanan pribadi diambil alih oleh Arjoona Harristian, suami Claire. Dan sampai sebelum Arjoona meninggalkan rumah, keluarga Harristian masih di bawah perlindungan Daga Nero.

“Enggak kok! Ngapain!” bantah Claire tapi ia memang tampak gugup juga ragu.

Di kamarnya, Venus kemudian membersihkan diri lalu berganti pakaian agar bisa beristirahat malam ini. Hatinya masih sangat resah dan takut. Tapi ia tak ingin menampakkannya pada siapa pun.

Ia tak ingin dianggap sebagai wanita lemah yang tak bisa melindungi dirinya sendiri. Itulah mengapa Venus menolak tawaran ibunya untuk tinggal di kamarnya malam ini. Venus memilih beristirahat di kamarnya dahulu.

“Kenapa kamu belum hubungi aku, Gareth?” gumam Venus dengan lembut sembari duduk di pinggir ranjang. Sebelah tangannya terus mengusap layar ponsel menunggu telepon balasan dari Gareth. Ia sudah menghubungi Gareth sekali lagi tapi pria itu malah mematikan ponselnya.

Pandangan Venus perlahan beralih pada balkon kamarnya yang menyajikan pemandangan New York yang gemerlap saat malam hari. Semua begitu indah kecuali hatinya. Perlahan kakinya berjalan dan berhenti di pintu pembatas balkon. Ia bersandar dengan mata terus memandang indahnya malam-malamnya yang sepi.

Gareth begitu manis saat dulu ia membuat Venus jatuh cinta. Semakin lama, Venus yang lebih ingin perhatiannya, Gareth malah makin menjauh. Pekerjaan dan kesibukannya sebagai pengusaha dan billionaire menenggelamkan banyak waktunya untuk Venus.

Bahkan di saat-saat seperti sekarang, Gareth tak kunjung muncul. Air mata itu kembali menetes begitu saja. Hati Venus mulai kesepian dan Gareth makin tak mengerti jika ia pun butuh perhatiannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED