“Ahh ahh, yess Lex … disitu, enak banget Lex, aahh ahh!” seorang gadis sedang berada diatas meja kerja dengan kondisi selangkangannya terbuka dengan lebar. Dia sedang menikmati setiap momen jilatan dan hisapan di dalam lembahnya.
Laki—laki itu sedang jongkok dan mengaduk—aduk isi lembah si gadis hingga tubuhnya melenjing penuh dengan desahan kenikmatan.
“Uhgg Siska enak bangett lembah kamu, aku suka yang seperti ini …,” ucap laki-laki tadi. Dia berdiri dan segera membuka sarang burungnya yang sudah tak tahan semenjak tadi ingin dilepaskan. Burung perkututnya sudah berdiri tegak dan mengeras. Besar dan panjang.
“Ayo Lex … masukin aja. Aku udah nggak tahan. Ini hadiah untuk kamu, sayang!” desah si gadis sambil dengan sendirinya meremas dua gunungnya yang sudah terbuka dengan sangat indah. Siska sudah menelan air liurnya saat melihat burung perkutut Alex yang keluar dari sangkar. Dia sudah tak sabar ingin merasakan keperkasaan sang burung saat menggagahi tubuhnya.
“Dasar, Siska genit. Bilang hadiah apaan, aku kan udah sering masuk ke lembahmu,” kekehnya dan blush burung perkutut perkasa itu sudah masuk ke sarangnya dengan dalam. Menggoyangnya maju mundur hingga desahannya memenuhi ruangan.
"Ahhh ummh Lex nikmat banget, goyangan kamu memang nggak ada duanya. You're the best bangett, Lex ahh hmm! Yess fuck me yang dalam, Lex ...." Rancu Siska makin menggila ketika hujaman itu keras mengaduk-ngaduk lembahnya. Ganas dan benar-benar liar. Membuatnya melenjing tak karauan.
Alex Marcus, laki laki bertubuh besar dan berdada bidang bagai roti sobek itu tidak memperdulikan rancu dan desahan Siska yang menggila karena burung perkututnya, dia hanya fokus menghujani benda tumpulnya di lembah Siska. Dia ingin segera mencapai puncak kenikmatan agar bisa segera menuntaskan kegiatan panasnya siang ini.
“Alex umm ahh ... enak banget, Lex. Lebih kencang, Lex. Aku udah nggak tahan lagi mau keluar!" desak Siska.
Dan keduanya melengking. Mendesah. Mengerang. Kedua jemari mereka direkatkan dengan erat. Berhenti sejenak dari gempuran. Merasakan nikmat dari tetesan cairan yang keluar dan kedutan nikmat dari keduanya.
"Nih, Sis, jangan lupa diminum. Sorry tadi aku kebablasan!" Alex melemparkan sekotak obat pencegah kehamilan pada Siska setelah mereka melaksanakan pertempuran panasnya siang ini.
"Hehehehe, iya, nggak apa-apa, Lex, tadi aku juga yang salah, minta buru-buru," Siska berbicara sambil merapikan kembali bajunya. Dia mengambil obat pencegahan kehamilan yang diberikan Alex dan tanpa ragu meminumnya didepan laki-laki itu.
"Jadi, kapan lagi kita akan melakukannya, Lex? Aku selalu nggak sabar menunggu giliran kamu memanggil ke ruanganmu ini," ucap Siska bergelayut manja di lengan kekar bosnya.
"Nantilah aku kabarin lagi. Aku mau ada meeting siang ini," Alex melirik jam tangannya.
Alex tidak menyadari dari balik pintu yang sengaja tidak ditutup rapat, sepasang mata sedang menatap mereka. Beberapa kali dia menelan air liurnya saat burung perkutut tadi bergerak maju mundur dengan ganas di sarang Siska. Sampai dia tidak sadar apa yang sedang dipegangnya jatuh ke lantai.
Brukk! Suara itu mengganggunya dan dia berjalan menghampiri pintu. Alex melihat satu buah kue dengan full cream yang berserakan di lantai. Saat Alex melihat ke sekeliling, tak ada siapapun. Dia tersenyum.
“Rupanya ada kucing nakal yang mengintip. Lihat saja, aku akan beri pelajaran yang tak terlupakan untuk kucing tersebut.” Alex meraih ponselnya dan menelpon seseorang.
"Iya, Lex, ada apa?" Suara seorang pria menyahut dari seberang sana.
"Bini lo jadi nggak sih nganter kue, Ar?" ucapnya.
"Loh, emangnya dia belum sampai, Lex? Tadi, dia bilang sama gue lagi dijalan ke tempat lo. Tumben banget. Apa dia kena macet dijalan ya. Emang acaranya udah mendesak, bro? Coba nanti gue telpon dia sebentar," sahut Arya. Alex tersenyum, sekarang dia yakin akan sesuatu hal.
"Owh, nggak usah lo telpon bro, mungkin dia memang kena macet dan sebentar lagi sampai. Ehm, by the way, gue udah lama nggak mampir ke rumah lo, trus emangnya elo nggak berencana ngasih hadiah sama gue?" desak Alex.
"Ya ampun, bro. Umur lo udah tua kali, masa masih mau minta kado sama gue kayak anak kecil aja lo!" Suara di seberang telpon terdengar bergerutu.
"Cuihh pelit amat sih lo, Ar. Gue ini kan teman seperjuangan dan setali tiga uang sama elo. Masa kado kecil aja lo nggak siapin buat gue sih?” suara Alex terdengar memaksa saat meminta kado pada Arya.
"Ya udah, lo datang aja deh ke rumah nanti malam. Gue yang traktir lo, lo tinggal bawa diri aja ke rumah!" Alex tersenyum saat mendengar permintaannya disetujuin sama Arya.
"Nah, gitu dong. Nggak gitu juga, Ar, nantilah gue juga bawa sesuatu yang spesial kesana. Kita udah lama nggak minum bareng kan?" celetuk Alex.
"Hahahaha, sialan lo. Gue udah lama nggak minum. Gue udah tobat, Lex. Lo janganlah ngajarin gue sesat lagi. Lo tau sendiri kan sejak gue kawin, gue udah tinggalin itu semua. Gue sayang sama bini gue, Lex," ucap Arya setengah terkekeh.
"Heh, pengecualian kali. Setaun sekali juga belum tentu gue minta. Ini hari kan ultah gue, nggak apa-apalah kalo lo minum sedikit. Lagian kalo elo mabok kan di rumah dan udah ada pelampiasannya," Kekeh Alex tetap berusaha membujuk Arya untuk memperbolehkan bawa minuman nanti malam ke rumahnya.
"Ya udah lo bawa aja deh. Jangan bawa banyak-banyak!" Akhirnya Arya menyerah dengan keinginan Alex. Atau memang Arya yang nggak pernah bisa menolak keinginan Alex.
"Beres. Kita mabok sampai pagi ya. Hahahaha, lagian besok weekend bro. Lo lupa?" Alex tetap ngomporin temannya.
"Sialan lo, Lex. Kalo soal begituan lo gercep banget!"
"Udahlah, nggak apa-apa kali. Apa lo sejak kawin jadi suami suami takut bini?" ledek Alex.
"Gila lo ya, nggak-lah. Gini-gini dimata bini gue, gue tuh lakinya yang baik dan alim. Pokoknya lo nggak usah terus ngerayu gue pake alasan ini itu. Lo datang aja, cuma mungkin gue datang agak telat, lo nggak apa-apa kan kalo tunggu gue?" Alex tersenyum puas kembali saat diberitahu Arya i nanti malam akan pulang telat.
"Oke oke. Gue nungguin lo sampe pulang. Jangan malem banget nanti gue malah molor di rumah lo!"
"Ya, nggak apa-apa kali kalo lo molor di rumah gue. Kita juga udah lama nggak ketemu dan ngobrol. Nginep-lah sesekali di rumah gue. Tenang aja, gue masih ada satu kamar kosong!" Tawar Arya.
"Oke, kalo gitu gue nginep deh di rumah lo!" Bak gayung bersambut, Alex memang menginginkan hal itu.
"Sip. Datang aja langsung ke rumah gue, alamatnya nanti gue kirim."
Setelah berkata seperti tadi, telpon mereka terputus. Dan tak lama Setelah Arya mengirimkan alamat rumahnya.
“Hehehe, kucing nakal. Kita akan segera bertemu. Aku sudah nggak sabar buat ngeliat wajah kucing nakal dan usil yang suka mengintip kayak kamu. Kamu, harus bisa jadi hadiah untukku, apapun itu, aku pasti akan mendapatkannya.”
Dua hari sebelumnya.
"Nay, kamu sibuk nggak?" suara Mas Arya—suamiku, setengah berteriak saat dia turun sambil menenteng dasi. Mas Arya menghampiriku yang sedang sibuk mencuci piring di dapur.
"Sini aku bantu pasangin dasinya, Mas," Mas Arya menundukkan sedikit kepalanya saat tanganku bergerak dengan cepat memakaikan dasi, "Nah, udah oke dan keren, Mas!" Aku membereskan lipatan kerah bajunya dan mengusapkan kemejanya sambil tersenyum.
"Terima kasih sayang, kamu memang yang terbaik." Satu kecupan mendarat di keningku. Seperti biasanya sebelum Mas Arya pamit untuk bekerja dia selalu melakukan rutinitas manisnya.
"Hati-hati dijalan ya sayang, hari ini kamu lembur lagi?" Aku bertanya dan sudah memasang wajah cemberut pada suamiku.
Mas Arya jarang banget pulang ke rumah tepat waktu. Tiap hari, dia sibuk bekerja dan bekerja. Aku bertanya karena nanti malam, malam jum'at. Ada hasrat yang ingin aku salurkan juga sebagai pasangan suami istri yang jarang sekali Mas Arya menyentuhku.
"Sepertinya begitu, kamu nggak usah tunggu aku. Kunci rumah dan langsung tidur saja. Aku bawa kunci cadangan seperti biasa. Kenapa Nay?" Mas Arya membuka pintu mobilnya dan menaruh tas kerjanya lebih dulu di kursi samping kemudinya.
Aku hanya menghela nafas. Meski ingin sekali aku meminta Mas Arya pulang lebih cepat. Kalau aku bahas sekarang sebelum dia berangkat kerja, yang ada dia akan kesal dan menyalahkan aku kalau harinya nanti akan bad mood.
Padahal itu permintaan kecilku, hanya ingin Mas Arya pulang lebih awal saja.
“Nggak apa—apa kok, Mas, aku hanya tanya, mungkin saja kamu bisa pulang lebih cepat!” dihatiku padahal sangat berharap Mas Arya lebih peka dengan keinginanku.
Hubungan harmonis bukan hanya tercipta dari suami yang giat bekerja, selalu memenuhi apa yang aku minta, tapi juga nafkah dan lahir harus terpenuhi. Dan nggak membuatku selalu kesepian di rumah.
Untungnya aku punya sedikit keahlian, bikin kue dan jajanan pasar. Bersyukurnya lagi, keahlianku ini lumayan disukai oleh tetangga dekat atau jauh. Mereka selalu saja memesan kue untuk acara ulang tahun anak, arisan atau selamatan. Aku menerima semua karena untuk mengisi waktu dirumah biar nggak terus melamun apalagi sudah tiga tahun kami menikah, aku belum juga mendapat momongan.
Kami sudah melakukan pemeriksaan, dokter mengatakan semua baik-baik saja. Tidak ada yang mandul dari kami, hanya saja memang kami kurang sekali berolahraga ranjang dengan kesibukan Mas Arya itu. Aku pun kadang bingung, hari libur pun Mas Arya sering banget mendapatkan panggilan kerja.
Sebagai istri yang selalu menurut apa kata suami. Aku mah hayo aja, apa yang suamiku bilang, aku percaya. Sebab itulah sumber keharmonisan rumah tangga kami. Saling percaya. Apalagi Mas Arya membatasi jam pertemuanku diluar bersama teman-teman. Padahal sesekali, ingin rasanya aku menghilangkan rasa jenuh dengan sekedar berkumpul atau hangout sebentar.
Mas Arya nggak suka itu. Dia sukanya, aku dirumah. Menjadi istri yang selalu menurut apa katanya dan hanya memenuhi semua kebutuhannya di rumah.
“Kalo kamu bête seharian di rumah kamu bisa panggil Dian dan Nada ke rumah, aku rasa jadwal kampus mereka bisa di sesuaikan untuk menemani kamu, Nay!” ucap Mas Arya, sepertinya dia menyadari wajah cembetut—ku.
Ya kira—kira itulah solusi yang dapat Mas Arya tawarkan, memanggil Dian dan Nada adik—adiknya ke rumah untuk menemaniku. Bukannya aku nggak suka Dian dan Nada ke rumah, tapi kalau ke rumah pasti saja ada omongan dari mertua yang membuat telinga—ku panas, kepala—ku pusing tujuh keliling dan yang pastinya hatiku sakit saat mendengar sindiran mereka tentang kehadiran anak di tengah—tengah keluarga kami.
Meski Mas Arya memenuhi semua kebutuhanku, tapi sesekali sebagai seorang istri aku pun ingin dianggap, disayang dan diperhatikan. Aku nggak perlu dikasih hadiah intan berlian, cukup Mas Arya bisa meluangkan waktunya sedikit saja untuk—ku dengan pulang kantor lebih cepat. Dia nggak pernah peka, kalau aku itu kesepian.
“Nggak usah Mas, hari ini aku pasti sibuk. Aku ada pesanan risol dan panada masing-masing seratus piece untuk acaran selamatan di rumah bu Mina. Nanti juga ada bu Lastri yang bantu aku dirumah kok.” Aku mencoba menghilangkan rasa kecewaku dengan menghibur diri seperti ini. Setiap kali Mas Arya meminta Dian atau Nada ke rumah, alasan ini adalah jurus terjitu untuk menghindari mereka.
“Okeh, ya sudah kalau begitu,” saat Mas Arya akan masuk ke dalam mobil, dia berbalik lagi, “Oya, kalau hari jum’at kamu ada pesanan nggak, Nay?” sepertinya Mas Arya teringat sesuatu.
“Belum sih Mas, kenapa?”
“Aku baru ingat, temanku ulang tahun dan aku pernah bilang kalau kamu bisa bikin kue ulang tahun, trus dia pesan satu untuk jum’at sebelum makan siang, kamu kira-kira bisa antar nggak?”
Hmmm … selalu saja seperti ini kelakuan Mas Arya, bertanya satu hal aku bisa atau tidak, tapi dia sendiri yang sudah memutuskan dan pastinya aku nggak mungkin bisa menolaknya. Ingin sekali aku menolaknya, tapi lagi—lagi kalau aku menolaknya, sudah barang tentu Mas Arya ngambek lagi.
Ngambeknya persis seperti anak kecil, setiap satu hal nggak sesuai dengan keinginannya, aku pasti dicuekin. Disenggol atau ditawari makan pun pasti nggak jawab. Tidur pun sudah pasti memunggungiku. Mas Arya selalu saja jago kalau masalah aksi tutup mulutnya.
“Aku coba buatkan Mas, tapi apa dia ada permintaan khusus untuk dekorasinya atau mungkin request tertentu?” dan pada akhirnya aku mengalah. Mau nggak mau menurut padanya. Meski pun nggak nyaman. Semua aku lakukan demi menjaga keharmonisan keluarga kami.
“Nggak ada. Kamu bikin yang kayak biasa aja, toh dia pasti nggak akan makan. Itu paling buat formalitas aja di kantornya. Alamat kantor dan uang transferan kuenya nanti aku transfer ke rekeningmu, ok?” aku hanya mengangguk. Nggak mau membantah. Mencoba bersikap biasa dan memberikan senyuman terindah untuk mengantar kepergiannya, meskipun hatiku gondok setengah mati.
Hah, bisa—bisanya pesan kue untuk formalitas. Dia nggak tau apa, aku buatnya nanti setengah mati. Trus dia nggak makan, ck, ck, ck, kelakuan anak orang kaya memang beda. Nggak pernah bisa menghargai apapun jerih payah seseorang. Bagi mereka, uang bisa menyelesaikan masalah.
***
Seharian ini aku hanya bisa duduk melamun. Entah kemana pikiranku. Sejak aku mengantar kue tadi siang, pulang ke rumah aku gelagapan dan lemas sendiri. Bahkan debaran jantungku masih terasa saat menyaksikan peristiwa menegangkan tadi siang.
Mengisi waktu dengan menonton tipi jadi hiburan satu-satunya untuk menghilangkan bayangan tadi siang. Aku masih belum bisa konsen dengan pikiranku.
Otakku tiba—tiba membayangkan dan suara desahan tadi siang benar—benar menggangguku.
“Hah, lupakan Nay, jangan gila. Masa ngebayangin punya orang sih … ah lebih tepatnya itu milik sahabat suami kamu sendiri, Nay. Please lupain!” gumamku sambil menikmati tipi channel luar yang sedang dalam tanyangan mendebarkan.
Aku tersedak hingga baju tidurku yang berwarna putih menerawang itu. tanpa aku kenakan penyangga di kedua gunung kembarku dan aku juga nggak menggunakan kain segitiga. Cairan soda berwarna merah tadi tepat tumpah di tengah—tengah hingga membuat ciplakan besar pada kedua gunungku.
Aku memang tidur tidak pernah menggunakan penyangga di kedua gunung dan kain segitigaku. Sebab aku ingin tidur bebas. Alasan lainnya karena aku ingin selalu menyambut Mas Arya pulang dengan keadaan seperti itu. Agar Mas Arya dengan mudah menjamah tubuhku, jika sewaktu-waktu dia menginginkan bercinta denganku.
Aku berani berbuat nekat seperti itu karena di rumah tak ada seorang pun. Aku hanya tinggal berdua dengan Mas Arya dan jujur kalau malam menjelang aku sangat merindukan semua sentuhan dari Mas Arya.
Aku terkejut saat mendengar bunyi bel rumah. Saat kulirik jam di dinding masih jam setengah tujuh malam. Sontak dengan penuh kegembiraan aku menyambutnya. Aku nggak sangka kalau malam ini Mas Arya pulang cepat.
Saking girangnya, karena memang Mas Arya jarang banget pulang cepat. Aku nggak mau melewatkan kesempatan ini. Aku akan merayunya habis—habisan di ranjang sebelum dia tidur nanti. Pikirku.
“Mas Arya, kamu pulang cepat? Aku senang banget!” saat kubuka pintu aku langsung melompat ke dalam pelukannya. Memeluk tubuhnya dengan erat. Aku seolah nggak sabar ingin menyalurkan semua gairah-ku malam ini dengan Mas Arya. Pokoknya, aku sudah bertekad nggak akan ngijinin dia tidur, sebelum malam ini aku puas. Aku ingin menghilangkan semua bayangan dan desahan kenikmatan yang tadi siang kusaksikan.
Aku terus menggesekkan kedua gunungku di dada Mas Arya. Kebetulan banget tadi basah kena soda. Aku jadi punya alasan buat mandi bareng dengannya.
“Mas, kok tumben banget pulang cepat. Kamu tahu ya, kalau aku kangen banget sama kamu. Aku ingin mala mini kamu puasin aku ya, Mas. Pokoknya kamu nggak boleh tidur sebelum aku pu—as,” godaku berkata merayu dan menggodanya.
Tapi, seketika aku mundur dan melepaskan pelukan dan gesekan—ku tadi di dadanya.
“Ka—ka—kamu?” ucapku gelagapan dan menelan ludahku saat melihat orang yang berada dihadapanku ternyata bukan Mas Arya. Bukan suamiku.
Dia tersenyum menarik sudut bibirnya, lalu mata liarnya menatapku dengan perasaan yang tak kumengerti. Seolah membuat desiran dan tatapannya siap menerkam—ku. Laki—laki itu meletakan paper bag yang dibawanya.
Apa yang baru saja kamu lakukan, Nay. Bodoh sekali. Pantas saja dia diam saat dipelukmu.
Wajahku putihku pucat. Malu dan segera berbalik badan sebelum dia berkata apapun. Aku menyari tatapannya padaku, gaun tidur berwarna putih, menerawang, menampilkan lekuk tubuhku, seolah aku benar—benar telanjang dihadapannya.
“Alex, nama—ku, Alex. Sahabat Arya!” Alex menarik tanganku. Mencegahku untuk pergi.
“Ah, uhm, iya, maaf aku nggak tahu. Aku pikir tadi Mas Arya,” ucapku benar—benar malu, bisa—bisanya aku bersikap seperti jalang murahan tadi, mengesekan kedua gunung-ku disana.
“Arya bilang, pulang telat. Kami akan merayakan ulang tahun—ku. Kau tahu kan hari ini aku ulang tahun?” suara baritone, tegas dan terasa sekali kata—kata Alex seolah memberikan penekanan.
Aku benar—benar nggak berani meliriknya. Aku takut dan juga malu. Aku takut kalau Alex menyadari kehadiran—ku tadi siang dikantornya saat dia sedang melakukan pergumalan yang sangat aku inginkan itu.
“I—iya, Mas Arya memang bilang mau pulang telat, tapi dia tidak bilang kalau akan ada tamu yang datang ke rumah,” aku berkata masih memunggunginya. Meski itu nggak mengubah apapun, apalagi baju tidur menarawang yang aku pakai itu diatas lutut.
Deg! Aku lagi—lagi dikejutkan dengan tangan Alex yang tiba—tiba menarik pinggang dan mendekapku ke dalam pelukannya, “Aku suka gesekan—mu tadi, Nay. Sangat besar, padat dan kencang, sepertinya kamu sudah siap untuk menyambutku. Apa ini hadiah ulang tahun untuk—ku, Nay?” hembusan nafas berbau asap rokok itu berbisik di telingaku.
Aku gemetaran dan ingin sekali berontak, tapi tangan liar Alex tiba—tiba sudah memutari pentilku yang seketika itu ikut meruncing saat tangan Alex memutarnya perlahan.
“Ah—Lex, ahh!” lengkuhanku. Aku mengigit bibirku dan mencoba waras. Menghempaskan tangan liar Alex yang sedang bermain dipentil—ku. Tanpa berbalik melihat wajah Alex, aku berlari ke kamar dan mengganti bajuku.
Hemm … kucing lucu dan manis. Aku nggak sabar untuk mencicipi—mu malam ini. Bersabarlah Nay, malam ini kamu akan menjadi hadiah spesial untuk—ku.
“Mas, kamu kok nggak bilang kalau mau ada teman kamu datang ke rumah?” saat telpon terangkat oleh Mas Arya aku langsung memberondonginya dengan pertanyaan.
“Ahh ummpp ahh—ku lupa, maaf sayang,” aku menautkan kedua keningku. Rasanya ada yang salah dengan jawaban yang diberikan oleh Mas Arya, tapi apa ya?
“Maass, kamu lagi ngapain?” aku beneran penasaran karena suara Mas Arya seakan menghilang.
“Ump ahh maaf, Nay, aku lupa memberitahu-mu. Kamu masak lebihan nggak? Kalau nggak aku transfer ke kamu, tolong pesankan beberapa makanan untuk Alex. Dia nggak ada pantangan makan apapun. Kira-kira dua jaman lagi aku pulang!” ucapnya, lalu begitu saja telpon terputus.
“Halo, Mas … Mas Arya!” aku menghentakkan kakiku di lantai saking kesalnya dan melihat teman atau sahabat atau apalah itu pokoknya sekutu—nya Mas Arya mungkin.
Aku melihatnya sudah duduk santai di sofa sambil menonton saluran yang sempat aku tonton tadi. Saluran dengan film dewasa. Aku belum sempat menggantinya tadi, dan Alex menaikan kakinya di meja seolah itu rumahnya sendiri.
Hihh, nyebelin banget sih Mas Arya. Dia lagi ngapain sih? Suaranya tadi kok aneh.
Meski kesal karena dia tamunya Mas Arya aku pun menghampiri, apalagi beneran habis telpon terputus Mas Arya mentransferkan aku uang yang nominalnya woow banget buat aku. Lima puluh juta untuk makan malam, memangnya orang itu makan apa sampai harus mengeluarkan uang sebanyak itu.
“Aku sudah pesan makanan, aku yakin, Arya pasti lupa dan belum memesankan makanannya kan?” tebak Alex saat langkah kakiku mendekatinya. Aku memang berniat bertanya makanan apa yang dia inginkan. Aku hanya menatapnya.
“Lalu, kalau dia tanya, bilang saja semua pesanan makanan kamu yang pesan ok. Uangnya kamu simpan untuk ke salon mempercantik diri,” Alex tanpa diduga mengucapkan perkataan yang membuat aku melonggo.
Entah dari mana dia bisa menebaknya, atau memang ada hubungan yang tidak aku ketahui dari mereka. Aku pun baru tahu kalau Mas Arya punya sahabat kaya, tapi songong.
Dan benar saja seperti perhitungan bel rumahku berbunyi lagi. Aku berbalik dan menghampiri pintu. Mataku mengkrejab berkali—kali, tidak sangka makanan yang dipesannya banyak.
“I—ini semuanya?” aku masih melonggo.
“Iya, ini pesanan atas nama Mbak Nayara kan?” aku ingin sekali memaki suamiku, dengan seenakny Alex tahu namaku, sebelum aku memperkenalkan diri.
“Makasih Mas, bisa bantu bawa masuk semua,” suara Alex mendadak berada dibelakangku. Aku saja nggak mendengar langkah kakinya mendekat.
“Sudah semuanya Mas, ini tip buat kamu!” aku masih saja melonggo, Alex tanpa ragu memberikan uang lemberan merah lima lembar kepada pengantar makanan tadi, persis seperti sultan yang lagi ngasih saweran.
“Yuk masuk,” ucapnya lagi, aku mengkrejap kembali. Kaget saat Alex dengan bebas melingkarkan tangannya di pinggangku.
“Maaf Mas Alex, tapi di rumah sedang nggak ada Mas Arya. Mas tunggu saja sampai Mas Arya pulang. Aku akan tunggu Mas Arya di kamar.”
Aku nggak mau menimbulkan kesalahfahaman kalau Mas Arya nanti melihatku dengan sahabatnya.
“Ck, ck, ck, begitu saja dipikirkan. Kamu nggak usah khawatir Nay, Arya pasti ngerti lagian aku nggak ngapa—ngapain kok sama kamu. Atau jangan—jangan kamu berharap aku ngapa—ngapain kamu seperti yang tadi siang kamu lihat.”
Dadaku seperti ditusuk ribuan pedang. Aku nggak nyangka kalau Alex memang menyadari kedatanganku.
“Apa maksud—mu, Mas? Aku nggak mengerti,” aku terpaksa pura—pura bersikap tenang saat Alex memberikan tekanan padaku.
“Oya, benarkah? Beneran kamu nggak ngerti? Bukannya kamu sangat menyukai batang besar—ku ini saat sedang memompa sekretaris seksi—ku itu, hah?” sekali lagi aku merasa di tampar.
Aku benar-benar nggak sangka kalau Alex akan mengatakan hal itu untuk menerkan—ku. Aku membuang nafasku kasar. Tidak seharusnya tadi aku memancing perdebatan ini dengan Alex.
“Maaf Mas, aku akan tunggu Mas Arya di kamar. Silahkan Mas, nikmati makan malamnya sendiri,” ucapku baru saja akan melangkah pergi.
Tapi, blash. Lagi—lagi aku kaget, Alex sudah berhasil menangkap tubuhku dan membawaku duduk di sofa dan ada di pangkuannya.
“Temani aku nonton, makan, lalu turuti apapun yang aku mau dan kita menunggu suami—mu sampai pulang. Atau apa yang kau lihat tadi siang di kantor—ku, aku tidak akan sungkan mengatakannya pada suamimu. Aku ingin tahu bagaimana perasaannya saat dia tahu kalau istrinya sedang mengintipku bercinta sambil menelan ludahnya di balik pintu!”
Nafasku seperti tercekik dan jantungku seakan berhenti berdetak. Bagaimana aku mempertanggung jawabkan sikap bodoh-ku tadi siang. Aku pasti malu dan merasa buruk sekali dimata suamiku. Bodoh sekali kamu, Nay.
Tak terasa butiran beningku sudah membasahi pipi. Aku merasa seperti wanita rendah dan hina. Meski pun kenyataan yang sedang aku alami ini hanya karena aku ingin sekali mendapatkan perhatian dan kasih sayang lagi seperti dulu dari Mas Arya.
“Aku mohon, jangan beritahu apapun dengan Mas Arya, Mas Alex. Aku nggak mau sikap—ku yang tadi siang malah ngelukai dan membuat citra istri baik—ku lenyap. Aku mohon Mas, jangan bilang apapun soal tadi siang!”
Mungkin terdengar memberikan pembelaaan dan air mata buaya. Tapi, sungguh secuil pun aku nggak pernah berharap kejadian tadi siang terjadi denganku.
“Kau benar—benar mencintainya seperti ini, hah?” tangan Alex lembut menghapus butiran bening di pipiku.
“Iya Mas, aku sangat mencintainya. Sebagai istri. Sudah kewajiban—ku menjaga nama baik suamiku,” entah kenapa senyuman sinis Alex membuatku tidak tenang.
“Baiklah, aku akan tutup mulut. Tapi, apapun yang kuinginkan kau harus menurut, bagaimana?” dalam ragu aku menyelami mata Alex yang tak bisa kutebak sedang merencanakan apa dia padaku.
“Ta—pi, Mas.”
“Sssttt. Diam, aku ingin mencium dan menikmati pentilmu tadi. Kamu tidak boleh protes, oke?” perlahan tengkuk—ku ditarik lebih dekat padanya. Alex menghujaniku dengan kecupan di kening, kedua mata dan bibir.
Alex menatapku sambil tersenyum dan mengarahkan rahangku ke dekatnya, “Saat aku mencium—mu, buka mulut—mu, biarkan lidahku masuk kesana,” aku merinding.
Tubuhku meremang. Aku nggak pernah membayangkan akan berciuman dengan sahabat suamiku sendiri karena ulahku yang mengintipnya sedang bercinta.