"Siapa suruh kamu makan!?"
Bantingan piring keramik terdengar nyaring memenuhi seluruh sudut rumah sederhana, membuat Nikitamela, gadis yang baru saja kehilangan semua–nya mulai dari orang tersayang hingga kehidupan mewahnya, begitu terkejut dengan hal tersebut.
Mela sapaan Nikitamela yang sedang duduk untuk menikmati makan malam setelah seharian pontang-panting mengurusi berbagai macam pekerjaan rumahan yang tiba-tiba dibebankan padanya oleh ibu tiri dan putrinya.
"Ma, aku lapar." Dengan nada gemetar, Mela menanggapi ucapan dari Mama Mira yang beberapa tahun belakangan ini menjadi mama tirinya.
"Aku tidak peduli!" sahut Mama Mira. Wanita setengah baya itu lantas menarik rambut Mela, membuat gadis itu sontak berdiri sembari memegangi rambutnya.
"Ma, sakit!" pekik Mela.
"Terserah! Yang jelas, kamu harus kerja dulu baru bisa makan!" tanpa belas kasihan, Mama Mira menarik rambut Mela dan membawa gadis itu ke luar rumah. "Di sini tidak ada yang gratis! Paham!?"
Rasa sakit yang dirasakan Mela membuat gadis itu tidak mampu menyanggah ataupun berontak, meskipun jelas-jelas seharian ini ia sudah mengerjakan pekerjaan rumah sesuai perintah.
Detik berikutnya, tubuhnya tersungkur di teras depan akibat dorongan kasar dari ibu tirinya. Samar-samar di balik air matanya, Mela menyaksikan Mama Mira bertolak pinggang di ambang pintu, menatapnya tanpa belas kasihan.
Ibu tiri yang dulu baik padanya sekarang berubah seratus delapan puluh derajat setelah sang papa meninggal dunia. Apalagi saat semua harta peninggalan sang papa disita oleh pihak bank, tanpa menyisakan sedikit pun untuk sang ibu tiri.
"Pergi dari sini, dasar benalu!" bentak Mama Mira.
Beberapa kali Mela melihat ibu tirinya itu tampak marah. Tetapi tidak pernah semurka ini. "Bertahun-tahun kuhabiskan untuk mengurusi pria tua itu, tapi dia justru meninggalkan anak sial tak tahu diuntung sepertimu. Kamu pikir aku akan membiarkan kamu tinggal gratis di rumah ini? Tidak! Jika kamu masih ingin tinggal disini, cari uang yang banyak buat bayar. Paham!?"
"Tapi, Ma–" Mela tidak jadi meneruskan ucapannya, yang ada ia kini terkejut. Karena Mama Mira membanting pintu hingga menutup dengan kencang.
Mela bangkit dari tempatnya dengan tenaga yang tersisa, karena dari kemarin ia belum makan apa pun.
"Ma, tolong buka pintunya, Ma." Mela mengetuk pintu berharap mama Mira mau membukakan pintu.
Namun, bukannya membuka pintu, yang ada lampu teras rumahnya dimatikan oleh Mama Mira.
Lebih dari satu jam, Mela duduk bersandar di depan pintu, dengan bulir air mata yang tidak ada putusnya, meratapi betapa berbedanya kehidupan Mela sekarang dibandingkan dulu, sekaligus bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang.
Bagaimana ia bisa mencari uang sekarang, saat ia tidak ada tenaga sama sekali?
Bagaimana cara ia makan?
Haruskah ia mengemis belas kasihan orang lain yang lebih ramah dibanding ibu tirinya?
Atau meminta belas kasihan para tetangganya?
Dimana tetangganya pun memilih tidak peduli dengan kehidupan miris yang dialaminya.
Tanpa Mela sadari, sejak tadi, ada sesosok wanita yang mengamatinya dari kejauhan.
Ya ampun! Kepada siapa Mela harus meminta bantuan?
Saudara dan sahabat yang pernah ia miliki tidak lagi menganggapnya ada setelah ia tidak lagi memiliki apa pun.
"Ah! Bibi!"
Sepasang mata Mela melebar saat ia teringat pada asisten rumah tangganya dulu, wanita tua yang sudah mendampingi ia, ayahnya, dan ibu kandungnya sejak dulu.
Ya, wanita itu pasti mau membantunya.
Perlahan Mela menghentikan tangisnya, kemudian beranjak dari duduknya. Dengan sisa tenaga yang ia punya, ia pergi ke lokasi yang ia ingat merupakan kediaman asisten rumah tangganya tersebut.
Namun, ternyata wanita tua ramah itu sudah pindah. Mela tidak mendapatkan informasi mengenai ke mana si Bibi pergi.
“Tuhan … apa yang harus kulakukan sekarang,” gumam Mela lemah.
Dan ia kembali melangkahkan kakinya menyusuri jalanan, meninggalkan tempat tinggal si Bibi dengan langkah gontai, dan pandangannya mulai kabur.
Nyaris saja Mela terjatuh, sebelum sepasang tangan kekar menahan tubuhnya.
"Hati-hati Nona," seorang pria menahan tubuh Mela.
"Terima ka–" Ucapan Mela terhenti saat menyadari bahwa tiba-tiba ada segerombolan pria mengepungnya. Lekas, ia menyingkirkan tangan pria yang tengah menahannya.
“Whoa, kasar sekali,” komentar pria tersebut sembari tersenyum miring.
Sepasang matanya memindai tubuh Mela dari kepala hingga ujung kaki dengan intens, seketika membuat Mela merinding.
Gadis itu melihat sekeliling dengan panik, apalagi saat menyadari bahwa ia tengah berada di jalanan sepi dan hari telah larut. Ditambah lagi, tiga pria lain yang tadi hanya mengelilinginya, kini mendekatinya dan mengepungnya.
"Tidak!" batin gadis itu.
Dengan panik, Mela merangsek pergi, setengah berlari dengan sisa tenaganya.
Namun, naas, baru beberapa meter berlari tiba-tiba Mela terjatuh.
Seketika, pandangannya menggelap.
Sesaat sebelum akhirnya Mela kehilangan kesadaran, ia bisa mendengar salah satu pria itu berucap.
"Mantap, malam ini kita mendapatkan barang gratis. Cantik dan mulus pula!"
***
"Hai, Bangun!"
Sayup-sayup, Mela mendengar suara seseorang.
Perlahan, ia membuka kedua matanya dan melihat sekilas seorang wanita duduk di sisi tubuhnya.
Kemudian Mela mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, dan ia tidak mengenali ruangan dimana dirinya sekarang berada.
"Bisakah kamu bangun?" tanya sosok asing yang tengah bersamanya.
Namun, anehnya, Mela merasa ia pernah melihat sosok ini entah di mana, meskipun ia tidak mengenal wanita tersebut dengan dandanan mencolok dan pakaian seksi.
Tidak merasakan bahaya, Mela mengangguk dan berusaha bangun meskipun sekujur tubuhnya terasa sakit.
"Siapa Anda? Dan di mana aku?"
Wanita tersebut tersenyum mendengar pertanyaan dari Mela.
"Panggil saja aku Madam, dan aku bisa membantumu," ucap wanita itu. Berpikir pasti Mela tidak mengenalinya sebagai tetangga di lingkungan rumah si ibu tiri.
Dan Madam sendiri sudah memperhatikan Mela sejak lama dan merasa bahwa inilah kesempatan yang tepat untuk menarik gadis ini ke dunianya.
Mela menautkan keningnya, merasa bingung dengan perkataan wanita tersebut yang tahu jika ia sedang kesulitan.
"Apa anda bisa memberikan aku pekerjaan?" tanya Mela langsung, karena saat ini ia hanya butuh uang dan pekerjaan.
"Tentu saja bisa." Madam mengangguk. Senyumnya makin lebar. “Sebuah pekerjaan yang membuatmu bisa membalas kelakuan ibu tirimu."
Mela tercengang mendapati wanita tersebut, tahu tentang mama Mira, sosok mama tiri yang dulu sangat baik padanya, tapi berubah kejam setelah sang papa meninggal dunia. "Pekerjaan apa?"
"Seorang wanita penghibur."
"Apa!?"
Tentu saja Mela menolak mentah-mentah tawaran Madam. Ia pun ingin turun dari tempat tidur, meskipun dengan susah payah.
Namun, gerakannya terhenti saat Madam menyentuh lengannya dengan lembut.
"Pikirkan baik-baik," ucap wanita dengan riasan mencolok tersebut. "Dengan tubuh dan kecantikanmu, kamu pasti bisa langsung mendapatkan uang melimpah untuk membalas ibu tirimu yang semena-mena itu."
Mela menoleh pada Madam setelah mendengar apa yang dikatakannya.
"Tapi aku tidak mau menjual diri!" tegas Mela. "Aku mau melakukannya pertama kali dengan pria yang benar-benar kucintai."
Seketika Madam di hadapan Mela memasang wajah sedih. Wanita itu mengelus rambut Mela dengan lembut.
"Anak cantik," ucap wanita itu pelan. "Namun … kamu sudah tidak perawan."
Sepasang mata Mela sontak membeliak, terkejut. Secara berangsur, ia bisa mengingat kejadian sebelum ia jatuh pingsan, bahwa ada segerombolan pria yang mengepungnya, dan mendengar salah satu pria mengatakan hal senonoh.
"Aku menemukanmu di pinggir jalan, dalam keadaan yang menyedihkan," lanjut Madam kemudian dengan hati-hati.
Bulir air mata jatuh membasahi kedua pipi Mela, merasa kotor dengan keadaannya sekarang, yang sudah tidak perawan lagi.
Di sisi lain, Madam diam-diam merasa senang, karena Mela sudah percaya dengan ucapannya. Padahal saat ia menemukan Mela, gadis itu masih baik-baik saja.
Tapi dengan Mela percaya pada ucapannya, Madam yakin. Mela akan mudah diseret ke dunia malam. Dan membuat Madam semakin banyak mendapat pundi-pundi uang. Dengan menjual Mela yang masih perawan ke pria hidung belang berkantong tebal.
"Percuma menangis, semua sudah terjadi!" Kali ini, Madam berucap tegas. "Yang bisa kamu lakukan saat ini adalah, bagaimana caranya mendapatkan uang yang banyak. Agar kamu tidak lagi menderita seperti sekarang ini, ingat! Di dunia ini yang kamu butuhkan hanya uang, dan uang. Karena uang adalah segalanya."
Mela mendengar semua yang Madam katakan di sela-sela isak tangisnya dan ia juga membenarkan ucapan tersebut.
Mengingat lagi, kehidupan pahit yang ia alami sekarang, karena ia tidak memiliki uang. Berbeda saat sang ayah masih hidup dan bergelimang harta, hidupnya sangat sempurna.
Belum lagi … ya. Ia harus membalas ibu tirinya.
Wanita itulah yang membuatnya sengsara, kehilangan semuanya termasuk hal yang selama ini ia jaga dengan baik.
"Aku bisa memastikan, seratus juta bisa kamu dapatkan dalam semalam. Jika kamu mau menjadi wanita penghibur." Kata Madam yang kini beranjak dari duduknya. "Pikirkan tawaran ini baik-baik, kapan lagi kamu bisa mendapat uang yang cukup banyak dalam semalam, dengan keadaan kamu yang tidak perawan lagi,"
Mela perlahan menghentikan tangisnya, kemudian memanggil Madam yang ingin meninggalkannya, membuat wanita seksi itu diam-diam tersenyum.
"Tunggu!"
***
"Malam ini aku tidak ingin menghabiskan malam dengan siapa pun."
Wanita cantik itu berujar dengan fokus mata tetap ke arah layar ponsel di tangannya.
Tiga tahun telah berlalu. Mela yang dulu polos dan awam dengan dunia luar ini menjelma menjadi sesosok wanita seksi dengan penampilan glamor usai ia terjun ke dunia malam.
Meski awalnya masih sedikit ragu, tapi usai uang mengalir ke kantongnya saat ia mendapatkan pelanggan pertamanya, Mela merasa ini benar jalannya.
"Aku belum mengatakan apa pun padamu, Mel," balas Madam, wanita yang Mela anggap sebagai seorang yang berjasa dalam hidupnya.
"Tidak perlu mengatakan apa pun padaku, aku sudah tahu tujuan Madam mendatangiku," sahut Mela. Ia tahu persis jika Madam mendatanginya, pasti ada pria hidung belang yang ingin menghabiskan malam dengannya.
Sebagai pelayan kelab yang kadang menerima klien, hal tersebut sudah terlampau biasa untuk Mela.
"Malam ini aku tidak ingin menghabiskan malam dengan siapa pun," ulang Mela lagi. "Madam tahu sendiri, baru seminggu lalu aku melayani pelanggan. Madam sendiri yang setuju agar aku memilih sendiri pelanggan yang kulayani dan tarif yang kuinginkan agar aku tetap menjadi produk eksklusif Madam."
Karena paling cepat, satu bulan sekali ia akan bermalam dengan pria hidung belang, itu pun jika pria itu wangi, tampan dengan tubuh atletis dan tentunya bayarannya harus tinggi.
Madam mengambil ponsel yang ada di tangan Mela, membuatnya mendengus kesal.
"Dia hanya mau denganmu, Anak Cantik," ucap Madam meskipun dengan lembut, Mela menangkap ada ketegasan yang tidak dapat dibantah di sana.
Mela mendengus. "Tunggu satu bulan lagi!"
"Dia mau malam ini juga dan dia bersedia membayar kamu dua kali lipat dari biasa yang kamu dapatkan."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Madam, alis Mela terangkat. Heran.
"Dua kali lipat dari biasanya?" tanya Mela yang begitu tergiur dengan uang yang tidak sedikit baginya.
"Ya, dia juga bisa memberikan lebih dari itu, jika kamu mau melayaninya,"
"Benarkah?" tanya Mela yang langsung beranjak dari duduknya. "Di mana aku harus menemui pria itu?"
Dan untuk malam ini Mela akan dengan senang hati melayani pria yang berjanji memberi bayaran dua kali lipat dari biasanya. Kapan lagi ia bisa mendapat bayaran yang sungguh fantastis untuk semalam.
Madam pun, langsung memberi tahu di mana pria itu berada. Membuat Mela langsung menuju ruang VIP dimana pria itu sedang menunggu kedatangannya.
Mela yang baru saja memasuki ruang VIP yang diberi tahu oleh Madam, langsung mengumpat dalam hati, melihat sosok pria yang ada di ruangan tersebut.
Karena pria tersebut sangat jauh dari kriteria pria yang selama ini selalu menghabiskan malam dengannya, karena pria tersebut sudah tua, dengan kepala botak dan juga perut buncit.
"Sial, apa Madam lupa kriteria pria yang aku mau, dasar menyebalkan!" batin Mela sambil menatap pria yang kini beranjak dari duduknya ketika melihat kehadirannya. "Tapi, oke. Demi dua ratus juta…."
"Mela," Mela memperkenalkan diri kemudian.
"Iya," hanya itu ucapan yang keluar dari mulut pria tersebut, yang sudah tahu siapa Mela dari Madam yang tadi ia temui.
Beberapa saat yang lalu, pria tersebut meminta wanita penghibur yang paling spesial, dan Madam langsung menunjukkan foto Mela.
"Apa kamu sudah siap?" tanya pria tersebut.
Mela mengangguk. "Tentu."
Mela tak lupa mengukir senyum, tapi senyum itu hilang ketika Mela ingin memeluk lengannya, tapi pria tersebut menjauh.
"Bukan aku yang harus kamu layani malam ini," ucap pria tua tersebut, membuat Mela mengernyit. Heran, tetapi juga lega.
"Maksud Anda?"
"Aku punya misi untuk kamu, jika kamu berhasil, lima ratus juta pun, akan aku berikan padamu,"
Mendengar uang yang sangat banyak, tentu saja membuat Mela tergiur, kapan lagi dalam semalam ia bisa mendapat lima ratus juta.
"Misi apa yang harus aku lakukan?"
"Menggoda pria impoten."
"Apa?!"
"Kamu bisa menyebutkan berapa harga yang kamu mau jika kamu berhasil melakukan misi ini."
Mela terdiam. Setelah pengalamannya selama tiga tahun, Mela yakin dirinya mampu.
Tanpa pikir panjang lagi, karena iming-iming uang yang cukup besar, akhirnya Mela mau menjalankan misi dari pria tua yang tadi membawanya, dimana pria tua tersebut, bernama pak Johan, dan dia adalah tangan kanan dari pria yang harus Mela goda, dimana pria itu impoten.
Dan ini misi yang cukup sulit untuk Mela, tapi ia merasa tertantang dengan misi tersebut.
"Temui Pak Nick Carson, di kamar nomor 135," ucap Pak Johan memberi tahu Mela, dimana ia harus menemui pria yang harus ia goda agar tidak lagi impoten. "Tenang saja, kamu tinggal pergi ke meja reservasi dan sebut namaku, nanti kamu akan mendapat kunci cadangan untuk kamar yang baru aku sebut," kata Pak Johan yang sudah menghentikan laju mobilnya tepat di depan sebuah lobi hotel bintang enam yang begitu megah. "Buat senjatanya bisa berdiri,"
"Baik, Pak," hanya itu ucapan yang keluar dari mulut Mela, kemudian turun dari dalam mobil, bersiap untuk menjalankan misi, dan Mela yakin, misinya akan berhasil seratus persen, mengingat lagi, tidak ada satu pun pria yang tidak tertarik padanya.
Kemudian Mela segera memasuki lobi hotel tersebut, dan tujuannya adalah ke meja reservasi mengikuti apa yang Pak Johan perintahkan padanya.
Dan benar saja, Mela dengan mudah mendapat kunci cadangan untuk kamar nomor 135, setelah menyebut nama pak Johan, dimana pria yang bernama Nick Carson berada disana.
Tidak butuh waktu lama akhirnya Mela tiba di depan kamar hotel nomor 135, membuatnya langsung masuk ke dalam kamar hotel tersebut.
Namun, setelah ia masuk ke dalam kamar hotel tersebut, Mela tidak mendapati siapa pun di dalam kamar tersebut, hanya ada satu buah laptop yang menyala.
Dan Mela yakin, pemilik laptop yang masih menyala pasti sedang berada di dalam kamar mandi.
"Semoga pria itu, tampan dan juga wangi," kata Mela yang tidak di beri tahu oleh pak Johan, seperti apa pria impoten yang harus ia goda.
Mela langsung melotot, ketika melihat pria tampan yang memiliki garis wajah tegas, tak lupa tubuhnya sangat proposional dengan otot-otot yang terbentuk sempurna, yang menurut Mela sangatlah sempurna, baru saja keluar dari kamar mandi tidak jauh dari tempatnya berada, dan Mela tidak yakin, pria yang sedang ditatapnya adalah pria impoten.
Nick Carson, di usianya yang masih muda, yaitu dua puluh tujuh tahun, ia sudah di percaya menjadi CEO perusahaan keluarga yang bergerak di bidang properti. Tapi usia tidaklah penting, yang terpenting ia bisa mengantarkan perusahaannya menjadi salah satu perusahaan yang patut di perhitungan.
Namun, dari ketampanan dan juga karir yang cemerlang di usia yang cukup muda, hanya sang mami dan juga pak Johan yang tahu, jika ia mengalami impoten, dan ia mengalami impoten bukan dari lahir, melainkan setelah mengalami kecelakaan beberapa tahun lalu.
Nick tidak terlalu terkejut jika di dalam kamar hotel tempatnya menginap malam ini, setelah tadi bertemu klien barunya, dan ia memutuskan untuk menginap di hotel tersebut, tiba-tiba ada wanita asing.
Karena bukan kali ini, tiba-tiba ada wanita di dalam kamarnya, tapi sudah puluhan kali hingga lebih. Dan Nick tahu, siapa dalang dari kehadiran wanita di dalam kamarnya, siapa lagi jika bukan pak Johan, yang menjadi tangan kanannya.
"Pulanglah!" perintah Nick pada Mela yang masih mengagumi ketampanan dari pria yang baru saja memerintah dirinya untuk pulang. "Apa kamu tuli?!" tanya Nick sambil berjalan melewati Mela.
Membuat Mela langsung kembali ke dalam dunianya setelah mengagumi fisik Nick.
"Maaf Pak, tugasku belum selesai, jadi aku tidak akan pulang," tolak Mela yang kini berjalan menghampiri Nick.
"Berapa jumlah uang yang pak Johan janjikan padamu? Aku akan memberinya sekarang juga,"
Namun, bukannya menjawab pertanyaan dari Nick, yang ada Mela mendekatinya, dan seperti biasa ketika ia akan melayani pria hidung belang di kamar hotel, Mela akan bertingkah agresif untuk memancing gairah pria itu, begitu pun yang Mela lakukan sekarang pada Nick, dimana ia yang berdiri di depan Nick langsung menggerayangi tubuhnya.
Dan itu hanya membuat Nick menyunggingkan senyum sinis dari sebelah sudut bibirnya. "Kenapa banyak sekali wanita murahan, dimana harga dirimu sebagai wanita?"
Mendengar pertanyaan dari Nick, Mela segera menghentikan aksinya, lalu menatap pada Nick sambil menunjukkan senyum manis yang ia punya.
"Apalah sebuah harga diri, jika uang bisa membeli harga diri, bukan begitu Pak?" tanya Mela balik untuk menanggapi pertanyaan dari Nick.
"Berhentilah terobsesi pada uang, karena tidak semua membutuhkan uang,"
"Oh ya, tapi dengan uang kita bisa semuanya," sambung Mela, dan kini mulai melepas satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya, dengan tujuan awalnya, yaitu menggoda Nick.
Untuk malam ini dan untuk pertama kalinya, Mela benar-benar tidak bisa berbuat apa pun lagi, dan malam ini Mela baru mengerti seperti apa rasanya malu, ketika sedang bersama pria yang akan ia layani.
Bagaimana tidak malu, saat ia sudah melucuti semua pakaian yang melekat di tubuhnya, dan juga sudah merayu Nick, seperti ia merayu pria hidung belang yang akan menghabiskan malam dengannya.
Nick sama sekali tidak tertarik padanya, dan hanya menatapnya dengan tatapan sinis.
Membuat Mela langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos, karena untuk malam ini ada seorang pria yang tidak tertarik dengan tubuhnya yang mulus tanpa ada setitik noda.
"Lebih baik kamu pulang saja, apa kamu ingin tetap disini dan mempermalukan diri kamu sendiri?"
Tapi Mela tidak menjawab pertanyaan dari Nick yang masih berdiri di depan ranjang, setelah tadi Mela menarik tubuhnya untuk menuju ranjang, yang langsung mendapat penolakan dari Nick.
"Kenapa masih diam disitu?" tanya Nick, karena Mela tetap berada ditempatnya, dimana ia sedang duduk di pinggiran ranjang. "Oh sebentar dulu," kini Nick berjalan menuju meja dimana ia menaruh tas miliknya untuk mengambil cek dan juga pulpen
Setelah mengambil cek dan juga pulpen, Nick kembali lagi mendekati Mela, lalu menyodorkan cek dan juga pulpen padanya. "Tulis berapa yang kamu inginkan, setelah itu, katakan pada pak Johan tugas kamu sudah selesai, kemudian silakan tinggalkan kamar ini, mudah bukan?"
Mela tidak ingin menanggapi apa yang Nick katakan, dan ia langsung mengambil cek dan juga pulpen dari tangan Nick.
"Aku tahu wanita seperti kamu, lebih memilih hidup tanpa cinta, kasih sayang atau pun yang lainnya, hanya uang, uang dan uang yang kalian pikirkan," kata Nick dengan tatapan tidak lepas dari wajah Mela, entah mengapa ia seperti mengenalnya, tapi dimana Nick tidak tahu.
Mendengar apa yang Nick katakan, entah mengapa membuat Mela sedikit emosi, dan sekarang ia melempar cek dan juga pulpen yang berada di tangannya.
Tentu saja hal itu mengejutkan Nick, dan kini menautkan dahinya.
"Jangan bicara cinta dan juga kasih sayang, apa kamu merasakan itu? Tidak bukan? Kamu pria impoten mana mungkin bisa merasakan cinta dan kasih sayang, apa bedanya kamu dan aku hah?! Dasar pria impoten, untuk apa hidup jika tidak ada gunanya, apa kamu mau berganti kelamin? Itu sih lebih cocok untuk kamu, dari pada jadi pria tapi tidak berguna, iya kan?"
Nick merasa kesal dengan apa yang Mela katakan, karena untuk pertama kalinya ada seorang wanita yang berbicara kurang ajar padanya.
Melihat wajah Nick berubah menjadi kesal, membuat Mela langsung menyunggingkan senyum sinis.
"Kenapa diam saja? Benar bukan yang aku katakan? Dan lebih baik, besok kamu menggunakan rok,"
"Kurang ajar!" seru Nick yang merasa Mela sudah kurang ajar, dan sekarang ia mendorong tubuh Mela, hingga tubuhnya terlentang di atas ranjang.
Namun, bukan membuat Mela gentar dengan apa yang Nick lakukan padanya, yang ada ia mengukir senyum. "Jangan marah, itu kenyataannya, dasar pria tidak berguna!" seru Mela penuh penekanan, berharap Nick akan terpancing dengan ucapannya, dan bisa membuatnya menjadi pria sejati.
"Tutup mulutmu!"
"Oke, aku akan menutup mulutku, setelah mendapat bukti darimu, jika kamu benar-benar pria seutuhnya, jika tidak ada bukti, untuk apa aku harus menutup mulutku, dasar PRIA IMPOTEN TIDAK BERGUNA!" kata Mela penuh penekanan.
Perkataan Mela benar-benar membuat harga diri Nick jatuh ke dasar curang, dan tanpa pikir panjang lagi, ia langsung naik ke atas ranjang dan menindih tubuh Mela.
Bukan hanya menindih tubuhnya, tapi Nick langsung mendaratkan bibirnya di bibir Mela dan menciumnya.
Tentu saja hal itu membuat Mela bahagia, karena akhirnya ia bisa memancing pria impoten.
Kemudian Mela balik mencium bibir Nick, ketika ia menyadari ciuman Nick begitu payah. Bukan hanya menciumnya, tapi Mela juga menggerayangi tubuh Nick berharap bisa memancing hasrat di dalam tubuhnya.