Ian Samudra Biru, dia pria yang sangat kharismatik. Sangat aneh bagi orang-orang yang mengurangi Yenka akan menikah pada Ian tapi Yenka malah memilih pria lain.
Ian selalu menjaga hubungannya dengan Yenka, dia adalah sahabat yang sangat royal pada Yenka. Baginya Yenka sudah menjadi bagian di hidupnya.
Karena itulah setelah mendengar ucapan Yenka, matanya bergetar dengan hebat. Dia tak menyangka Yenka akan mengatakan itu padanya. “Apa kau yakin, Yenka?” tanyanya Sekali lagi dengan kedua tangan yang memegang bahu Yenka, dia melihat tubuh Yenka bergetar. Karena tak tahan dengan itu, Ian menggendong Yenka ke kamar.
Ian mengunci kamar itu, walaupun Yenka masih gemetar, dia akan melakukan apa yang di minta oleh Yenka tadi. Yenka sama sekali tak mabuk, dia tahu Yenka sadar dan memahami apa konsekuensinya.
Ian membuka baju Yenka, baru kali ini dia melihat tubuh Yenka dengan buah dada yang berisi dan membuatnya terdiam.
“Ian, kumohon, lakukanlah. Aku harus melakukannya.”
Ian tka membiarkan Yenka memohon lagi, dia melumat bibir Yenka dengan sangat lihai, membuat Yenka terdiam menatap mata tajam Ian yang tak pernah dia lihat seperti ini sebelumnya.
“Yenka, kau tak bisa mundur lagi.” Ian sayang sudah ada di puncak nafsunya membuka semua baju Yenka, membuatnya benar-benar telanjang.
Yenka hanya bisa terdiam, dia sudah bertekad bahwa akan membalas Taran yang sudah tega menyakitinya berulang kali.
Ketika Ian menyentuh dada Yenka, ada perasaan geli yang hangat Yenka rasakan, sangat berbeda dengan sentuhan kasar Taran tadi. Ini benar-benar lembut dan membuatnya terbuai.
Yenka mendesah, jari-jarinya dia genggam karena menahan semua respons tubuh yang akan dia tunjukkan.
“Yenka, lepaskan. Kau tak perlu malu denganku.” Ian mengusap pipi Yenka dengan sangat lembut, kemudian menggigit bibir Yenka dan memasukkan lidahnya. Selama puluhan tahun mereka saling mengenal, baru kali ini dia tahu Ian memiliki teknik hebat dalam melakukan ciuman.
Wajah Yenka sangat menikmati, ciuman lama itu membuat Yenka lebih jujur. Di memeluk Ian dengan erat, sedangkan Ia bermain di bagian bahwa Yenka. Sudah basah dan lengket.
Ketika mulut mereka berpisah, Ian terkekeh kecil. Yenka sangat manis, dia menatap Yenka dengan penuh cinta. Perlahan dan pasti, Ian membaringkan Yenka di ranjang. Dia menaiki Yenka. Mata Yenka melotot saat melihat milik Ian yang besar dan berurat.
“Kau terkejut, ya?” Ian tertawa kecil sambil menutupi mulutnya. Kenapa dia suka sekali dengan ekspresi Yenka?
“Punya Taran tak seperti ini? Ah, kau pasti menikmatinya, Yenka.”
Ian memasukkan miliknya di tempat Yenka, ketika proses memasukkan itu terjadi, Yenka meringis karena milik Ian yang besar.
“Ngg ....”
“Tahan. Ingat, kau tak bisa menolakku sekarang.”
Dan semua milik Ian benar-benar masuk ke dalam Yenka, membuat Yenka bergelinjang dan mendesah besar. Dia tak tahu bahwa milik orang lain selain suaminya akan seenak itu, bagian bawahnya terasa terbakar dan penuh. Setetes air mata Yenka jatuh.
“... Ian, sialan ....”
Lagi-lagi Ian terkekeh kecil karena umpatan manis Yenka tersebut. Jari-jarinya Yenka yang mencakar punggungnya bahkan tak begitu terasa. Dalam aktivitas penuh keringat mereka, kedua bermain dengan kenikmatan yang tiada tara dan mencapai puncak kenikmatan.
**
Ian sudah bangun lebih dulu dibandingkan Yenka, dia melihat wajah wanita yang dia kenal sejak kecil itu, mengusap kepalanya dengan lembut dan Ian tersenyum.
Walaupun ini sedikit aneh, tapi dia suka berhubungan dengan Yenka. Jantungnya berdebar kencang dan dia menjadi seolah kecanduan.
“Kuharap kau akan memintanya lagi.” Ian sangat mengharapkan hal tersebut.
Yenka membuka matanya karena merasakan usapan lembut Ian, mata mereka saling bertemu dan Yenka membalas senyum Ian.
“Pagi, Ian.” Dia mengambil tangan Ian dan menciumnya.
“Bagaimana tubuhmu, Yenka?” Ian merasa khawatir, karena mereka bermain lebih dari satu ronde dan cukup liar.
Yenka mencoba duduk, dan itu menimbulkan sakit di area selangkangannya.
“Auh ...!”
Ian langsung memegang tubuh Yenka wajahnya sangat khawatir. Sejak dulu, Ian adalah orang yang hangat pada Yenka dan penuh perhatian. Karena itulah orang-orang bingung Yenka tak berakhir dengan Ian.
“Aku sudah bilang, ‘kan?” Ian menggeleng, dia terlihat kesal namun Yenka tahu itu adalah ke khawatir nnya.
“Terima kasih atas perhatianmu.” Yenka tersenyum kecil. Dia mengingat kenangan buruk lagi dengan Taran.
“Ada apa?” tanyanya khawatir.
“Taran, dia berselingkuh lagi.” Yenka mengatakannya dengan perasaan hancur. Semuanya bisa dilihat dari ekspresinya yang kacau.
Bahkan setelah mendengar hal itu pun, Ian tak berubah ekspresinya. Dia berulang kali mendengar cerita Yenka tentang Taran, dan dia sudah menyarankan agar Yenka berpisah dengan Taran. Tapi Yenka tetap keras kepala mempertahankan Taran, kali ini hal yang biasa itu terjadi lagi.
“Aku sudah bilang, bercerailah padanya.”
Suara Ian dingin, dia sangat benci dengan Taran. Pria kasar yang sangat sok digilai oleh semua wanita. Padahal jika dinilai dari kemampuan, Taran tak bisa apa pun tanpa kedua orang tuanya. Berbeda dengan Ian, dia adalah pria yang mandiri.
“Sulit, sangat sulit, Ian.” Matanya berkaca dan membuat Ian tak bisa berkata apa pun lagi.
Yenka menyentuh lengan besar Ian, menariknya untuk ada di pahanya, kemudian mereka saling menatap dengan dalam.
“Ian, dia bilang aku bebas melakukan seperti yang dia lakukan. Karena itulah, sekarang aku akan melakukannya. Sebelum aku berpisah dengannya, aku akan melakukan sebanyak yang aku mau.”
Mendengar pengakuan Yenka membuat mata Ian bergetar. Karena inilah pasti Yenka memintanya berhubungan.
“Karena itu, kau memintaku?” tanya Ian dengan mata yang terlihat sayur.
“Ya, dan aku akan melakukannya lagi.” Yenka mengernyitkan keningnya dan menghela napas.
Dia sangat tertekan dengan segalanya, namun setelah berhubungan dengan Ian, dia merasa mungkin Taran ada benarnya juga. Dia harus menikmati hidupnya dan merasakan banyak rasa yang selama ini tak pernah dia rasakan.
Selama ini dia sangat setia dengan Taran walaupun banyak pria yang mendekatinya, tapi setelah kejadian kemarin, Yenka tak akan bersikap setiap lagi. Apa yang Taran lakukan, akan dia kembalikan lebih banyak lagi.
Pria seperti Taran sudah seharusnya dia hancurkan dan dia harus bersenang senang.
“Tidak bisakah kau denganku saja melakukannya?” Ian menatap Yenka, memintanya menjawab dengan segera.
Dia menyukai hubungannya dengan Ian semalam, tapi tentu saja dia harus menjelajah lebih banyak lagi.
“Tidak bisa, Ian. Aku harus melakukan dengan banyak pri agar sama dengan Taran.”
Kepala Ian berdenyut, dia menunduk sambil menekan keningnga.
“Jadi, kau mau bagaimana Yenka?”
Yenka tersenyum. Lebar karena Ian sepertinya mendukungnya, dan dia memegang kedua tangan Ian dengan perasaan yang bahagia
“Kau ada saran bagaimana aku bisa melakukan itu sesukaku”
Ian menghela napas panjang.
“Ada pesta yang dilakukan setiap malam kamis.”
Yenka mengangguk mendengar penjelasan Ian, dan dia masih menunggu lanjutannya.
“Pesta topeng, dan orang yang ada di sana memiliki tubuh dan paras yang indah. Pesta itu tanpa identitas, mereka hanya menggunakan nama palsu atau semacam kode. Di pesta tersebut, kau bisa menarik orang yang kau sukai untuk berhubungan. Di sana tempat yang sangat rahasia.”
“Aku mau, Ian.” Mata Yenka terlihat bersinar mendengar penjelasan Ian.
“Baiklah, aku akan mengatur agar kau bisa terdaftar di sana. Nikmati waktumu di sana, Yenka.” Ian tersenyum samar sambil mengusap kepala Yenka
Suara dengungan itu terdengar. Rasanya telinganya panas sekali karena mertuanya ini suka sekali menghakimi dirinya.
“Kau sudah empat tahun menikah dengan anakku masa tidak kunjung memberikan aku cucu?”
Mertuanya bernama Mala, dia memiliki perawakan kurus dengan kerapian dalam berdandan. Tidak cantik, tidak juga manis, tapi mulutnya berbisa.
Yenka meletakan cangkir tehnya di piring teh dengan pelan. Bahkan suara ‘tuk’ saja tidak terdengar sama sekali.
“Ibu, kenapa Ibu hanya memanggilku?” Yenka tersenyum, dia kesal sekali di dalam hatinya. Setelah bermalam bersama Ian, dia malah di suruh oleh Mala ke sini.
Mereka itu tidak mempunyai hubungan mertua dan menantu yang hangat, bisa tidak Mala itu bersikap tidak peduli saja seperti biasanya? Setiap kali Yenka mengadu, Mala selalu mengabaikannya. Ah! Dia ingat waktu pertama kali Yenka mengadu tentang Taran yang berselingkuh.
“Namanya juga pria, selingkuh itu wajar. Jika dia melakukan itu pun, artinya kau sebagai istri yang melakukan kesalahan!”
Mala menghardiknya, bahkan di depan asisten rumah tangga membuatnya merasa malu.
“Bi, benar kan apa yang aku bilang? Itu tentu saja salah Yenka.”
Mala menyeringai, sedangkan hati yenka begitu sakit seperti teriris. Tidak bisakah dia peduli dengan menantunya sendiri?!
Ah, dia begitu menghormati Mala kala itu. Dia hanya manut dan manut dengan apa pun yang dikatakan oleh Mala. Tapi setelah kejadian kemarin, dia telah malas berurusan dengan apa pun yang mencoba menyalahinya.
“Jadi, aku harus memanggil siapa?” balasan dari Mala itu membuat Yenka tersadar lagi.
“Mungkin selingkuhannya, Bu.” Yenka tersenyum. Piring teh dan gelas teh masih dia pegang dengan elegan.
“Kau ini kurang ajar sekali. Bagaimana bisa kau menyuruh wanita tidak jelas datang ke rumahku?”
Wajah Mala Terlihat jelek ketika dia marah. Keriput di keningnya itu begitu besar.
“Kenapa aku yang kurang ajar, Bu? Bukannya Ibu bilang seorang pria wajar berselingkuh. Ibu menyetujui kelakuan Taran, bukan?” mata Yenka bertemu dengan mertuanya itu. “Kalau begitu berarti Ibu juga menyetujui wanita peliharaan Taran untuk ke sini. Mungkin dia bisa memberi ibu cucu.”
Yenkan mengangkat bahunya malas, kemudian meletakkan gelas teh dan piringnya di meja.
Dia telah muak ada di sini.
“Kau ini menjadi semakin kurang ajar, Yenka.”
“Maaf Ibu, tapi aku tidak ada waktu bermain polos lagi.” Yenka tersenyum dan dia berdiri. “Sebelum Ibu bilang aku kurang ajar, bagaimana jika Ibu memperbaiki sikap anak Ibu?”
“Yenka!” Mala berteriak. Menantunya ini dulu begitu menurut padanya, apa pun yang dia ucapkan Yenka akan menurutinya. Tapi sekarang dia bisa melawan balik.
Jika Yenka bukan berasal dari keluarga kaya juga, maka dia sudah menjambak Yenka dan menyiksanya.
“Permisi, Bu.”
Yenka mengabaikan Mala begitu saja. Tangannya menggenggam kuat dan keluar dari rumah mertuanya dengan wajah yang keras. Apa pun selalu disalahkan pada pihak wanita, seolah mereka tidak berharga saja.
Pria yang katanya akan menjadi pemimpin atau sesuatu dengan kuasa, nyatanya malah sangat memuakkan. Mereka selalu ingin dihargai tanpa di hargai, dan keluarga mereka menginjak-nginjak seolah wanita itu hanyalah inang bagi tempat keturunan mereka kelak.
Yenka mengendarai mobilnya dengan kesal, semua kesalahan ditujukan kepadanya. Orang tuanya saja tidak pernah ikut campur karena dia bisa menutupi kesalahan suaminya.
Ngiiiiiik!
Yenka menginjak pedal rem dengan kuat, membuat ban berdecit. Sebuah telepon masuk ke handphone nya. Dari Taran, pria yang ingin dia cakar sekarang.
Yenka mengangkatnya dengan cepat.
“Ada apa lagi!? Ibumu itu mengadu padamu? Memangnya apa peduliku!”
Yenka langsung mematikan sambungan telepon itu, emosinya begitu memuncak. Dibandingkan mengoreksi dirinya, lebih baik Mala mengoreksi anaknya.
**
Dari tempatnya, Taran sedang memeluk dua wanita. Dia membelainya dengan manja.
“Istri sialan! Kurang ajar, berani sekali dia mematikan teleponku sebelum aku mengucapkan apa pun!” Taran mendengkus kesal.
Wanita yang melihat Taran marah langsung mengusap pipinya dengan manja.
“Kenapa kau tidak menceraikan istrimu kalau begitu?” Tanyanya dengan manja.
Taran tertawa, dia bisa membayangkan lekuk tubuh Yenka yang indah, melihat wanita yang ada di dekatnya sekarang, itu tidak bisa dibandingkan dengan Yenka
“Tidak bisa. Sebentar lagi dia juga akan segera memohon padaku. Begitulah dirinya yang selalu mengiba meminta kasih sayang padaku.” Taran begitu percaya diri, dia melanjutkan belaiannya pada wanita tadi.
Belaian yang awalnya ada di dekat dengkul, naik ke atas hingga sampai ke selangkangan. Dengan manja wanita di dekatnya mendesah sambil menggigit bibirnya.
Terlihat seksi dengan dada yang membusung, menyentuh tubuhnya. Melayani dua wanita sekaligus tentu saja dia sanggup.
Dia percaya pada kejantanannya sendiri.
Taran langsung menjatuhkan tubuh satu wanita yang di dekatnya dan menaikinya begitu saja, sedangkan wanita satunya seolah tidak terima dengan apa yang dilakukan Taran, dia memeluk Taran dari belakang, memainkan batangan Taran yang sudah bangkit dikala Taran menyibukkan diri menciumi wanita di depannya. Berulang kali hingga wanita itu mendesah.
Dia pria yang mempunyai uang, wanita mana pun bisa saja bisa dia beli!
**
Yenka masuk ke dalam cafe, dia melihat Ian yang sedang meminum minuman dinginnya dengan santai.
“Ada apa? Mertua gilamu itu mengoceh lagi?”
Yenka langsung menatap Ian dengan tatapan memelas. Dia duduk seolah semua kekuatannya telah hilang.
Ian memegang tangan Yenka, mengusapnya dengan lembut walaupun dia sibuk menghabiskan minumannya.
“Masalah anak?”
Yenka mengangguk.
“Anaknya saja yang mandul. tidak anak, tidak Ibu, suka sekali menyalahkan orang lain.” Ian terlihat kesal.
Sebuah pesanan minuman datang di depan merek, pelayan meletakkan di depan Yenka.
“Aku sudah memesannya tadi.” Ian tersenyum. Dia sangat tahh minuman kesukaan Yenka itu,ketika dia tahu Yenka ingin bertemu dengannya, Ian langsung mengantisipasi segalanya.
Dia melihat Yenka yang meminum minumannya denagn cepat. Senyumnya sejak tadi tidak hilang dari wajahnya.
“Masih sakit kepala?” tanyanya penuh perhatian.
“Masih sedikit. Karena minuman ini aku menjadi sedikit tertolong. Thanks, Ian.”
Ian mengeratkan genggaman tangannya, matanya menatap tajam seolah dia adalah predator. Membuat Yenka beberapa detik terpesona dengannya.
“Mau kubuat hilang sakit kepalamu?”
Yenka mengangguk. Kemudian tangannya ditarik oleh Ian
Cafe ini adalah milik temannya, hanya dengan permainan mata mereka saja, dia tahu apa yang diinginkan Ian. Ian membawa Yenka ke ruang istirahat pekerja, di sana ada satu sofa panjang berwarna coklat, terbuat dari kain yang kuat.
Ian menarik dagu Yenka, dan menciumnya dengan lembut, dia mengulum bibir Yenka sangat lembut dan pelan. Menikmati setiap detail dari rasa, tekstur dan semuanya. Yenka yang terbuat mendekatkan dirinya pada Ian. Membuat tubuh hangat mereka semakin hangat karena lebih mendekat.
Napas mereka berat, dan permainan lembut itu menjadi liat.
Lidah yang bergelut di dalamnya, dan hisapan kuat itu. Ian memiliki rasa yang berbeda dengan suaminya. Ketika napas mereka menjadi lebih berat, bibir mereka berpisah.
Ian tersenyum, memandang Yenka sambil mengusap wajahnya.
“Sudah hilang?”