Ada banyak di dunia ini yang akan membuatmu tersakiti
Namun, salah satu rasa sakit yang terbesar adalah dikhianati.
Hari hujan berlangsung sejak pagi, seolah menjadi petanda untuk Yenka, wanita berumur 30 tahun itu menikah empat tahun lalu dengan pria teman kuliahnya yang sangat dia cintai. Pernikahan itu berlandasan dengan cinta. Seperti kata mutiara yang mengatakan, dengan cinta semuanya akan terlewati.
Namun hari ini, kata cinta adalah kata yang tak pantas di ucapkan oleh Taran.
Di kamar hotel dengan fasilitas terbaik itu, Taran sedang memadu kasih dengan seorang wanita. Mereka bergulat dengan tubuh telnajang mereka di atas ranjang yang sangat besar.
“Buka!” Yenka membawa bodyguardnya, dia menerjang masuk ke dalam kamar hotel yang telah di booking suaminya itu.
Walaupun para keamanan hotel menghalangi Yenka, tapi Yenka memiliki kekuasaan yang membuat mereka takut. Pada akhirnya, Yenka bisa masuk dengan mendobrak paksa.
Di depannya, suaminya dan seorang wanita murahan sedang bermadu kasih. Mereka saling menempelkan tubuhnya seolah keributan yang besar tak terdengar di telinga mereka.
“Bagus kau, ya, Taran! Pelacur mana lagi yang kau sewa!?” teriak Yenka, dia tak main-main, sudah ada di sisi ranjang dan menjambak rambut wanita yang bermain gila bersama suaminya itu.
Taran menyadari kehadiran istrinya itu. “Sialan kau, Yenka. Aku baru saja mau mencapai puncak klimaksku!” Taran memaki Yenka dari atas kasur.
Wanita selingkuhannya itu sedang ditarik rambutnya oleh Yenka, walaupun wanita itu meronta, dia tak bisa lepas dari Yenka. Ketika tangannya berusaha lepas, para bodyguard Yenka menahan tubuh wanita jalang itu.
Sedangkan Taran, dia hanya duduk di atas ranjang memperhatikan semuanya.
Yenka Linggarwarna, dia anak bungsu dari keluarga Linggarwarna yang sangat kaya raya. Yang berurusan dengannya tentu saja akan mendapatkan kesusahan juga. Sedangkan Taran Hariksana, dia juga berasal dari keluarga yang sama kuatnya dengan keluarga Yenka.
“Dasar kau gila, Taran!” teriak Yenka, kali ini dia menampar wanita itu. Yenka memperhatikan wajahnya dengan baik. “Kau pegawai baru suamiku,' kan!? Dasar gila kau bermain api! Berani sekali!”
Mendengar teriakan istrinya itu, Taran menyibak rambutnya dengan jari-jari, dia merasa kecewa dengan apa yang baru saja terjadi. Seharusnya, hasratnya terpenuhi, tapi karena istri sialannya ini, semua itu tak terjadi.
“seret wanita ini, dan buat dia menderita dengan kehidupan yang menderita juga.” Yenka memberikan perintah pada para bodyguardnya. Setelah para bodyguardnya membawa tubuh wanita tersebut, dia menepukkan tangannya seolah kotoran menempel di tangannya.
Pintu kamar hotel tertutup, hanya ada Yenka dan Taran di dalam kamar. Keinginan Taran masih sangat besar untuk hasratnya.
“Yenka, kemarilah dan puaskan aku.” Taran dengan santai memanggil istrinya itu tapi Yenka bergerak pun tidak.
“Istri macam apa kau tidak mau mendekat dipanggil suaminya sendiri!?” Suara Taran meninggi tapi Yenka tak peduli. Dia mengepalkan tangannya, ini sudah lebih dari lima kali Taran berselingkuh
“Istri harus menuruti suaminya! Kemari!” teriak Taran.
“Hahahah! Kau gila, ya, Taran. Otakmu otak udang, kah?” Yenka menunjuk kepalanya, dia memasang wajah yang terlihat mengerikan. “Sekarang kau membawa kata istri untuk kepuasanmu sendiri!”
Taran menatap Yenka dengan tatapan mata yang dingin, jantungnya berdetak tak sabar dengan panas tubuh yang meningkat. Rasa sakit di bagian bawahnya ini sangat menyebalkan.
“Kau yang bodoh, Yenka. Memiliki hubungan dengan orang lain adalah lumrah! Jangan sok suci, Yenka.”
Air mata Yenka tertahan, dia tak menduga suaminya itu yang merupakan cinta pertamanya akan mengatakan hal sekejam itu. Seolah hatinya akan terbiasa.
“Apa?” Yenka memajukan kepalanya, seakan meminta penjelasan lebih dan mengatakan apakah dia tak salah dengar. “Kau bilang berhubungan dengan orang lain adalah hal yang biasa?”
Alis Taran sedikit berkedut dan dia tersenyum. “Tentu saja. Kau bahkan boleh memiliki pria lain untuk kau tiduri. Jangan terlalu sok suci dalam hidup, Yenka!”
Jantung Yenka seakan tercabik-cabik mendengar ucapan Taran. Pria yang tak menghargai cintai itu, dia ingin sekali menghancurkan kesombongannya itu, membuatnya menderita dan merasakan apa yang dia rasakan.
“Baiklah, kalau itu maumu. Aku akan berbuat hal yang sama sepertimu agar kau tahu bagaimana rasanya. Semua priaku akan jauh lebih baik darimu.” Yenka menyeringai, dan ucapannya itu memancing kemarahan Taran.
Yenka yang berbalik untuk keluar dari kamar hotel tersebut langsung dihentikan langkahnya oleh Taran.
“Kau mau kabur ke mana?” Sorot mata Taran begitu marah, tak ada kelembutan seperti Yenka pertama kali berpacaran bersamanya.
Taran menarik tangan Yenka sangat kuat dan menjatuhkan tubub istrinya itu di atas ranjang.
“Auh! Kau gila, Taran!” ringis Yenka. Tapi Taran sama sekali tak peduli, dia melakukan apa pun yang dia mau sesukanya.
“Tugas istri adalah memuaskan suaminya.” Taran menarik rok Yenka, melepaskannya dengan kasar walaupun Yenka menerjang Taran.
“Puaskan saja sendiri, memangnya aku peduli denganmu!”
Taran marah, dia menaiki tubuh Yenka dan menarik kasar bajunya, semua baju Yenka telah terlepas. Dia bahkan tak melakukan pemanasan pada Yenka karena dia sudah tak tahan lagi. Secara kasar dia memasukan punya pada organ intim Yenka, walaupun Yenka meringis. Dia tak peduli, dan rasa perih di organ Yenka rasanya membakar dirinya. Air matanya menetes dari mata.
Yenka mengutuk Taran.
Pria yang seperti binatang ini, memang harus diberi pelajaran.
**
Yenka memadang Taran dengan ekspresi yang keras, pria yang tertidur di sebelahnya itu sangat dibenci olehnya.
Bahkan sekarang tubuhnya masih terasa sakit karena keegoisan Taran. Dia menyetubuhi Yenka tanpa izin dari Yenka, dan melakukannya sangat kuat. Rasa sakit itu masih terasa di seluruh tubuhnya yang berasal dari satu titik, bagian bawah Yenka.
Yenka dengan mata yang berair meremas rambutnya sendiri. Setelah beberapa menit dia seperti itu, Yenka akhirnya turun dari ranjang. Dengan langkahnya yang gontai Yenka masuk ke kamar mandi membilas seluruh tubuhnya. Rasa jijik membuatnya kesulitan bernapas, air dingin yang mengaliri tubuhnya tak membuatnya merasa menggigil.
“Dasar gila!” Yenka meninju dinding kamar mandi dengan perasaan frustasi yang meluap, kakinya gemetar dan akhirnya dia terjatuh dengan tangis yang deras.
Betapa kerasnya teriakannya itu tak juga membuat Taran peduli saat mendengarnya, dia kembali tertidur. Karena bagi Taran, wanita sudah sepatutnya melayani pria, karena di dunia ini yang sangat berkuasa adalah pria
Wanita hanyalah hadiah dari Tuhan untuk memenuhi hasrat para pria, dn hasrat Taran tidak bisa terpenuhi hanya dengan tubuh Yenka. Di matanya, ketika dia menyukai wanita itu, dia harus merasakan mereka.
Mencicipi setiap rasa mereka, dan ketika kepuasan itu tercapai, Taran akan tersenyum. Karena itulah dia tak merasa bersalah pada Yenka.
Yenka keluar dari kamar mandi, memakai pakaiannya dengan tubuh yang lemas. Matanya yang sayu memandang punggung telanjang Taran, rasa sakit sangat terasa.
“Pria bajingan.”
Yenka memakinya sebelum dia melewati pintu kamar hotel, meninggalkan pria gila seks yang membuatnya terluka.
**
Yenka masuk ke rumahnya yang sangat besar, berwarna putih dengan gaya yang klasik. Kepalanya sejak tadi terasa berdenyut—menyakitkan.
Rumah ini adalah rumah pribadi milik Yenka, bukan rumah yang dia tinggali bersama dengan Taran. Melarikan diri ke sini untuk menenangkan diri adalah yang terbaik, tanpa dia menyadari ada seorang pria yang berbahu lebar dengan jas hitamnya sedang berdiri memperhatikannya.
“Yenka, kau dari mana?” Dia berjalan pada Yenka dengan wajah yang tersenyum. Sangat terlihat bahwa dia memiliki tubuh yang proporsional, yang akan menjadi incaran para kaum hawa. Yenka melihatnya.
Tubuhnya yang sejak tadi lemah dan gemetar akhirnya kehilangan daya, Yenka terjatuh dan pria tersebut segera menangkapnya.
“Yenka! Kau kenapa!?” Matanya begitu perhatian, dia sangat khawatir dengan Yenka.
Di atas tangannya yang memegang Yenka, dia melihat Yenka mulai menangis dengan menutupi matanya. Air mata itu begitu deras dan Yenka malu karena itu.
“Yenka ....”
“Ian ... bantu aku, Ian ... bantu aku.” Dia terisak dan memandang Ian yang sekarang sangat khawatirkan pada Yenka.
Ian langsung memeluk kuat Yenka, dia mengusap kepala Yenka di saat Yenka menangis dengan deras.
“Bantu apa? Apa pun akan kulakukan untukmu!”
Ian adalah sahabat kecil dari Yenka, kedua keluarga mereka saling mengenal dan keluarga Ian bukanlah keluarga sembarangan. Di waktu senggangnya, Ian suka menemui Yenka untuk melepas rinsu pertemanan mereka. Yenka adalah wanita berharga bagi Ian.
Mata Yenka gemetar, dia menggigit bibirnya karena beberapa detik ragu. Tangan Yenka memegang pipi Ian dan mengusapnya.
“Kau mau membantuku?”
Ian mengangguk cepat, apa pun akan dia lakukan.
“Fuck me, Ian. Fuck me!”
Yenka menarik kerah baju Ian, membuat wajah mereka sangat dekat dan ekspresi tak percaya Ian muncul. Dia menelan salivanya dengan ragu.
Ian Samudra Biru, dia pria yang sangat kharismatik. Sangat aneh bagi orang-orang yang mengurangi Yenka akan menikah pada Ian tapi Yenka malah memilih pria lain.
Ian selalu menjaga hubungannya dengan Yenka, dia adalah sahabat yang sangat royal pada Yenka. Baginya Yenka sudah menjadi bagian di hidupnya.
Karena itulah setelah mendengar ucapan Yenka, matanya bergetar dengan hebat. Dia tak menyangka Yenka akan mengatakan itu padanya. “Apa kau yakin, Yenka?” tanyanya Sekali lagi dengan kedua tangan yang memegang bahu Yenka, dia melihat tubuh Yenka bergetar. Karena tak tahan dengan itu, Ian menggendong Yenka ke kamar.
Ian mengunci kamar itu, walaupun Yenka masih gemetar, dia akan melakukan apa yang di minta oleh Yenka tadi. Yenka sama sekali tak mabuk, dia tahu Yenka sadar dan memahami apa konsekuensinya.
Ian membuka baju Yenka, baru kali ini dia melihat tubuh Yenka dengan buah dada yang berisi dan membuatnya terdiam.
“Ian, kumohon, lakukanlah. Aku harus melakukannya.”
Ian tka membiarkan Yenka memohon lagi, dia melumat bibir Yenka dengan sangat lihai, membuat Yenka terdiam menatap mata tajam Ian yang tak pernah dia lihat seperti ini sebelumnya.
“Yenka, kau tak bisa mundur lagi.” Ian sayang sudah ada di puncak nafsunya membuka semua baju Yenka, membuatnya benar-benar telanjang.
Yenka hanya bisa terdiam, dia sudah bertekad bahwa akan membalas Taran yang sudah tega menyakitinya berulang kali.
Ketika Ian menyentuh dada Yenka, ada perasaan geli yang hangat Yenka rasakan, sangat berbeda dengan sentuhan kasar Taran tadi. Ini benar-benar lembut dan membuatnya terbuai.
Yenka mendesah, jari-jarinya dia genggam karena menahan semua respons tubuh yang akan dia tunjukkan.
“Yenka, lepaskan. Kau tak perlu malu denganku.” Ian mengusap pipi Yenka dengan sangat lembut, kemudian menggigit bibir Yenka dan memasukkan lidahnya. Selama puluhan tahun mereka saling mengenal, baru kali ini dia tahu Ian memiliki teknik hebat dalam melakukan ciuman.
Wajah Yenka sangat menikmati, ciuman lama itu membuat Yenka lebih jujur. Di memeluk Ian dengan erat, sedangkan Ia bermain di bagian bahwa Yenka. Sudah basah dan lengket.
Ketika mulut mereka berpisah, Ian terkekeh kecil. Yenka sangat manis, dia menatap Yenka dengan penuh cinta. Perlahan dan pasti, Ian membaringkan Yenka di ranjang. Dia menaiki Yenka. Mata Yenka melotot saat melihat milik Ian yang besar dan berurat.
“Kau terkejut, ya?” Ian tertawa kecil sambil menutupi mulutnya. Kenapa dia suka sekali dengan ekspresi Yenka?
“Punya Taran tak seperti ini? Ah, kau pasti menikmatinya, Yenka.”
Ian memasukkan miliknya di tempat Yenka, ketika proses memasukkan itu terjadi, Yenka meringis karena milik Ian yang besar.
“Ngg ....”
“Tahan. Ingat, kau tak bisa menolakku sekarang.”
Dan semua milik Ian benar-benar masuk ke dalam Yenka, membuat Yenka bergelinjang dan mendesah besar. Dia tak tahu bahwa milik orang lain selain suaminya akan seenak itu, bagian bawahnya terasa terbakar dan penuh. Setetes air mata Yenka jatuh.
“... Ian, sialan ....”
Lagi-lagi Ian terkekeh kecil karena umpatan manis Yenka tersebut. Jari-jarinya Yenka yang mencakar punggungnya bahkan tak begitu terasa. Dalam aktivitas penuh keringat mereka, kedua bermain dengan kenikmatan yang tiada tara dan mencapai puncak kenikmatan.
**
Ian sudah bangun lebih dulu dibandingkan Yenka, dia melihat wajah wanita yang dia kenal sejak kecil itu, mengusap kepalanya dengan lembut dan Ian tersenyum.
Walaupun ini sedikit aneh, tapi dia suka berhubungan dengan Yenka. Jantungnya berdebar kencang dan dia menjadi seolah kecanduan.
“Kuharap kau akan memintanya lagi.” Ian sangat mengharapkan hal tersebut.
Yenka membuka matanya karena merasakan usapan lembut Ian, mata mereka saling bertemu dan Yenka membalas senyum Ian.
“Pagi, Ian.” Dia mengambil tangan Ian dan menciumnya.
“Bagaimana tubuhmu, Yenka?” Ian merasa khawatir, karena mereka bermain lebih dari satu ronde dan cukup liar.
Yenka mencoba duduk, dan itu menimbulkan sakit di area selangkangannya.
“Auh ...!”
Ian langsung memegang tubuh Yenka wajahnya sangat khawatir. Sejak dulu, Ian adalah orang yang hangat pada Yenka dan penuh perhatian. Karena itulah orang-orang bingung Yenka tak berakhir dengan Ian.
“Aku sudah bilang, ‘kan?” Ian menggeleng, dia terlihat kesal namun Yenka tahu itu adalah ke khawatir nnya.
“Terima kasih atas perhatianmu.” Yenka tersenyum kecil. Dia mengingat kenangan buruk lagi dengan Taran.
“Ada apa?” tanyanya khawatir.
“Taran, dia berselingkuh lagi.” Yenka mengatakannya dengan perasaan hancur. Semuanya bisa dilihat dari ekspresinya yang kacau.
Bahkan setelah mendengar hal itu pun, Ian tak berubah ekspresinya. Dia berulang kali mendengar cerita Yenka tentang Taran, dan dia sudah menyarankan agar Yenka berpisah dengan Taran. Tapi Yenka tetap keras kepala mempertahankan Taran, kali ini hal yang biasa itu terjadi lagi.
“Aku sudah bilang, bercerailah padanya.”
Suara Ian dingin, dia sangat benci dengan Taran. Pria kasar yang sangat sok digilai oleh semua wanita. Padahal jika dinilai dari kemampuan, Taran tak bisa apa pun tanpa kedua orang tuanya. Berbeda dengan Ian, dia adalah pria yang mandiri.
“Sulit, sangat sulit, Ian.” Matanya berkaca dan membuat Ian tak bisa berkata apa pun lagi.
Yenka menyentuh lengan besar Ian, menariknya untuk ada di pahanya, kemudian mereka saling menatap dengan dalam.
“Ian, dia bilang aku bebas melakukan seperti yang dia lakukan. Karena itulah, sekarang aku akan melakukannya. Sebelum aku berpisah dengannya, aku akan melakukan sebanyak yang aku mau.”
Mendengar pengakuan Yenka membuat mata Ian bergetar. Karena inilah pasti Yenka memintanya berhubungan.
“Karena itu, kau memintaku?” tanya Ian dengan mata yang terlihat sayur.
“Ya, dan aku akan melakukannya lagi.” Yenka mengernyitkan keningnya dan menghela napas.
Dia sangat tertekan dengan segalanya, namun setelah berhubungan dengan Ian, dia merasa mungkin Taran ada benarnya juga. Dia harus menikmati hidupnya dan merasakan banyak rasa yang selama ini tak pernah dia rasakan.
Selama ini dia sangat setia dengan Taran walaupun banyak pria yang mendekatinya, tapi setelah kejadian kemarin, Yenka tak akan bersikap setiap lagi. Apa yang Taran lakukan, akan dia kembalikan lebih banyak lagi.
Pria seperti Taran sudah seharusnya dia hancurkan dan dia harus bersenang senang.
“Tidak bisakah kau denganku saja melakukannya?” Ian menatap Yenka, memintanya menjawab dengan segera.
Dia menyukai hubungannya dengan Ian semalam, tapi tentu saja dia harus menjelajah lebih banyak lagi.
“Tidak bisa, Ian. Aku harus melakukan dengan banyak pri agar sama dengan Taran.”
Kepala Ian berdenyut, dia menunduk sambil menekan keningnga.
“Jadi, kau mau bagaimana Yenka?”
Yenka tersenyum. Lebar karena Ian sepertinya mendukungnya, dan dia memegang kedua tangan Ian dengan perasaan yang bahagia
“Kau ada saran bagaimana aku bisa melakukan itu sesukaku”
Ian menghela napas panjang.
“Ada pesta yang dilakukan setiap malam kamis.”
Yenka mengangguk mendengar penjelasan Ian, dan dia masih menunggu lanjutannya.
“Pesta topeng, dan orang yang ada di sana memiliki tubuh dan paras yang indah. Pesta itu tanpa identitas, mereka hanya menggunakan nama palsu atau semacam kode. Di pesta tersebut, kau bisa menarik orang yang kau sukai untuk berhubungan. Di sana tempat yang sangat rahasia.”
“Aku mau, Ian.” Mata Yenka terlihat bersinar mendengar penjelasan Ian.
“Baiklah, aku akan mengatur agar kau bisa terdaftar di sana. Nikmati waktumu di sana, Yenka.” Ian tersenyum samar sambil mengusap kepala Yenka
Suara dengungan itu terdengar. Rasanya telinganya panas sekali karena mertuanya ini suka sekali menghakimi dirinya.
“Kau sudah empat tahun menikah dengan anakku masa tidak kunjung memberikan aku cucu?”
Mertuanya bernama Mala, dia memiliki perawakan kurus dengan kerapian dalam berdandan. Tidak cantik, tidak juga manis, tapi mulutnya berbisa.
Yenka meletakan cangkir tehnya di piring teh dengan pelan. Bahkan suara ‘tuk’ saja tidak terdengar sama sekali.
“Ibu, kenapa Ibu hanya memanggilku?” Yenka tersenyum, dia kesal sekali di dalam hatinya. Setelah bermalam bersama Ian, dia malah di suruh oleh Mala ke sini.
Mereka itu tidak mempunyai hubungan mertua dan menantu yang hangat, bisa tidak Mala itu bersikap tidak peduli saja seperti biasanya? Setiap kali Yenka mengadu, Mala selalu mengabaikannya. Ah! Dia ingat waktu pertama kali Yenka mengadu tentang Taran yang berselingkuh.
“Namanya juga pria, selingkuh itu wajar. Jika dia melakukan itu pun, artinya kau sebagai istri yang melakukan kesalahan!”
Mala menghardiknya, bahkan di depan asisten rumah tangga membuatnya merasa malu.
“Bi, benar kan apa yang aku bilang? Itu tentu saja salah Yenka.”
Mala menyeringai, sedangkan hati yenka begitu sakit seperti teriris. Tidak bisakah dia peduli dengan menantunya sendiri?!
Ah, dia begitu menghormati Mala kala itu. Dia hanya manut dan manut dengan apa pun yang dikatakan oleh Mala. Tapi setelah kejadian kemarin, dia telah malas berurusan dengan apa pun yang mencoba menyalahinya.
“Jadi, aku harus memanggil siapa?” balasan dari Mala itu membuat Yenka tersadar lagi.
“Mungkin selingkuhannya, Bu.” Yenka tersenyum. Piring teh dan gelas teh masih dia pegang dengan elegan.
“Kau ini kurang ajar sekali. Bagaimana bisa kau menyuruh wanita tidak jelas datang ke rumahku?”
Wajah Mala Terlihat jelek ketika dia marah. Keriput di keningnya itu begitu besar.
“Kenapa aku yang kurang ajar, Bu? Bukannya Ibu bilang seorang pria wajar berselingkuh. Ibu menyetujui kelakuan Taran, bukan?” mata Yenka bertemu dengan mertuanya itu. “Kalau begitu berarti Ibu juga menyetujui wanita peliharaan Taran untuk ke sini. Mungkin dia bisa memberi ibu cucu.”
Yenkan mengangkat bahunya malas, kemudian meletakkan gelas teh dan piringnya di meja.
Dia telah muak ada di sini.
“Kau ini menjadi semakin kurang ajar, Yenka.”
“Maaf Ibu, tapi aku tidak ada waktu bermain polos lagi.” Yenka tersenyum dan dia berdiri. “Sebelum Ibu bilang aku kurang ajar, bagaimana jika Ibu memperbaiki sikap anak Ibu?”
“Yenka!” Mala berteriak. Menantunya ini dulu begitu menurut padanya, apa pun yang dia ucapkan Yenka akan menurutinya. Tapi sekarang dia bisa melawan balik.
Jika Yenka bukan berasal dari keluarga kaya juga, maka dia sudah menjambak Yenka dan menyiksanya.
“Permisi, Bu.”
Yenka mengabaikan Mala begitu saja. Tangannya menggenggam kuat dan keluar dari rumah mertuanya dengan wajah yang keras. Apa pun selalu disalahkan pada pihak wanita, seolah mereka tidak berharga saja.
Pria yang katanya akan menjadi pemimpin atau sesuatu dengan kuasa, nyatanya malah sangat memuakkan. Mereka selalu ingin dihargai tanpa di hargai, dan keluarga mereka menginjak-nginjak seolah wanita itu hanyalah inang bagi tempat keturunan mereka kelak.
Yenka mengendarai mobilnya dengan kesal, semua kesalahan ditujukan kepadanya. Orang tuanya saja tidak pernah ikut campur karena dia bisa menutupi kesalahan suaminya.
Ngiiiiiik!
Yenka menginjak pedal rem dengan kuat, membuat ban berdecit. Sebuah telepon masuk ke handphone nya. Dari Taran, pria yang ingin dia cakar sekarang.
Yenka mengangkatnya dengan cepat.
“Ada apa lagi!? Ibumu itu mengadu padamu? Memangnya apa peduliku!”
Yenka langsung mematikan sambungan telepon itu, emosinya begitu memuncak. Dibandingkan mengoreksi dirinya, lebih baik Mala mengoreksi anaknya.
**
Dari tempatnya, Taran sedang memeluk dua wanita. Dia membelainya dengan manja.
“Istri sialan! Kurang ajar, berani sekali dia mematikan teleponku sebelum aku mengucapkan apa pun!” Taran mendengkus kesal.
Wanita yang melihat Taran marah langsung mengusap pipinya dengan manja.
“Kenapa kau tidak menceraikan istrimu kalau begitu?” Tanyanya dengan manja.
Taran tertawa, dia bisa membayangkan lekuk tubuh Yenka yang indah, melihat wanita yang ada di dekatnya sekarang, itu tidak bisa dibandingkan dengan Yenka
“Tidak bisa. Sebentar lagi dia juga akan segera memohon padaku. Begitulah dirinya yang selalu mengiba meminta kasih sayang padaku.” Taran begitu percaya diri, dia melanjutkan belaiannya pada wanita tadi.
Belaian yang awalnya ada di dekat dengkul, naik ke atas hingga sampai ke selangkangan. Dengan manja wanita di dekatnya mendesah sambil menggigit bibirnya.
Terlihat seksi dengan dada yang membusung, menyentuh tubuhnya. Melayani dua wanita sekaligus tentu saja dia sanggup.
Dia percaya pada kejantanannya sendiri.
Taran langsung menjatuhkan tubuh satu wanita yang di dekatnya dan menaikinya begitu saja, sedangkan wanita satunya seolah tidak terima dengan apa yang dilakukan Taran, dia memeluk Taran dari belakang, memainkan batangan Taran yang sudah bangkit dikala Taran menyibukkan diri menciumi wanita di depannya. Berulang kali hingga wanita itu mendesah.
Dia pria yang mempunyai uang, wanita mana pun bisa saja bisa dia beli!
**
Yenka masuk ke dalam cafe, dia melihat Ian yang sedang meminum minuman dinginnya dengan santai.
“Ada apa? Mertua gilamu itu mengoceh lagi?”
Yenka langsung menatap Ian dengan tatapan memelas. Dia duduk seolah semua kekuatannya telah hilang.
Ian memegang tangan Yenka, mengusapnya dengan lembut walaupun dia sibuk menghabiskan minumannya.
“Masalah anak?”
Yenka mengangguk.
“Anaknya saja yang mandul. tidak anak, tidak Ibu, suka sekali menyalahkan orang lain.” Ian terlihat kesal.
Sebuah pesanan minuman datang di depan merek, pelayan meletakkan di depan Yenka.
“Aku sudah memesannya tadi.” Ian tersenyum. Dia sangat tahh minuman kesukaan Yenka itu,ketika dia tahu Yenka ingin bertemu dengannya, Ian langsung mengantisipasi segalanya.
Dia melihat Yenka yang meminum minumannya denagn cepat. Senyumnya sejak tadi tidak hilang dari wajahnya.
“Masih sakit kepala?” tanyanya penuh perhatian.
“Masih sedikit. Karena minuman ini aku menjadi sedikit tertolong. Thanks, Ian.”
Ian mengeratkan genggaman tangannya, matanya menatap tajam seolah dia adalah predator. Membuat Yenka beberapa detik terpesona dengannya.
“Mau kubuat hilang sakit kepalamu?”
Yenka mengangguk. Kemudian tangannya ditarik oleh Ian
Cafe ini adalah milik temannya, hanya dengan permainan mata mereka saja, dia tahu apa yang diinginkan Ian. Ian membawa Yenka ke ruang istirahat pekerja, di sana ada satu sofa panjang berwarna coklat, terbuat dari kain yang kuat.
Ian menarik dagu Yenka, dan menciumnya dengan lembut, dia mengulum bibir Yenka sangat lembut dan pelan. Menikmati setiap detail dari rasa, tekstur dan semuanya. Yenka yang terbuat mendekatkan dirinya pada Ian. Membuat tubuh hangat mereka semakin hangat karena lebih mendekat.
Napas mereka berat, dan permainan lembut itu menjadi liat.
Lidah yang bergelut di dalamnya, dan hisapan kuat itu. Ian memiliki rasa yang berbeda dengan suaminya. Ketika napas mereka menjadi lebih berat, bibir mereka berpisah.
Ian tersenyum, memandang Yenka sambil mengusap wajahnya.
“Sudah hilang?”