Bab 1

If love is blind... I'll find my way with you...Cause I can see myself, not in love with you...

Suara mendayu manja melantunkan lagu dari Tiffany terus saja membelai pendengaran semua orang di ruangan seluas 20 x 30 meter berpenerangan remang-remang. Hanya bagian panggung saja yang terang benderang.

Memang itu di sebuah kafe yang mengusung live music di setiap penghujung minggu. Jum'at, Sabtu, dan Minggu adalah jadwal tetap bagi para penyanyi lokal.

Sabtu malam ini telah tampil biduanita ternama kafe tersebut. Dia biasa mengisi jadwal malam Minggu, momen paling ramai di kafe itu.

"Ruby! Ayo, nyanyikan yang lebih hot!" teriak salah satu pengunjung sembari acungkan gelas bir di tangan kanan ke arah panggung.

Biduan bernama Ruby pun tersenyum usai menuntaskan lagu mellow tadi. "Baiklah, saya akan coba bawakan lagu apik yang saya harap disuka semua di sini."

Ruby berbisik sebentar ke pianis di dekatnya. Sang pianis mengangguk, lalu main mata memberi kode pada pemain drum di belakang, tak jauh darinya.

Tak lama lagu Toxic milik Britney Spears mulai dibawakan mengambil versi jazz. Suara Ruby terdengar manja merayu. Para pria bertepuk dan bersorak senang.

Apalagi ketika tubuh ramping Ruby bergerak menggeliat menawan, terkadang memamerkan paha indah dia di balik gaun terusan warna merah yang berbelahan paha tinggi.

Gadis itu bernama panggung Ruby. Tak ada seorangpun yang mengetahui nama aslinya, pun pemilik kafe atau bahkan para pemain musik yang kerap mengiringi dia di panggung.

Tidak, kalian tidak perlu meliarkan imajinasi kalian membayangkan Ruby adalah gadis muda berumur awal dua puluh, bertubuh sangat sintal dengan payudara memenuhi pakaiannya.

Tidak, jauhkan angan-angan mesum kalian,

Ruby hanyalah gadis di pertengahan tiga puluh tahun. Meski begitu, tubuhnya masih terawat dengan baik. Pinggangnya masih ramping tersambung oleh lengkungan indah pinggul yang tidak berlebihan meski kentara jelas.

Ukuran dada? Dia bukan wanita yang menyimpan melon atau semangka di kantung dadanya. Payudara dia berukuran normal dan tidak berlebihan. Walaupun begitu, takkan ada yang tega dan keji mengatakan payudara Ruby tidak menarik.

Tentu saja masih menarik meski bukan seukuran semangka. Dadanya masih mencuat kencang dan pasti akan terasa pas jika ditangkup oleh telapak tangan.

Urusan kecantikan, kalian bisa membayangkan siapapun yang kalian anggap cantik, karena memang dia rupawan serta mempesona dengan segenap garis wajah yang ia miliki. Tak mungkin ada orang mengatakan dia wanita berwajah buruk kecuali kalian dengki atau buta.

Ruby adalah wanita yang ingin kalian ajak mengobrol akrab sembari berpautan tangan di atas ranjang. Dia menyenangkan, sekaligus menggairahkan dalam aspek yang unik.

Keindahan Ruby menjadikan dia sebagai biduanita paling dinanti-nanti penampilannya di kafe tersebut.

Malam ini pun demikian adanya. Kafe sudah berjejal dipenuhi para pengunjung yang sebagian besar adalah lelaki yang datang dan terkadang rela berdiri hanya untuk menatap Ruby saja, persetan seperti apa suara dia.

Sungguh amat beruntung bahwa disamping penampilan aduhai dari sang biduanita, suara Ruby juga bersaing indah dengan performa dia sendiri.

Ia fasih membawakan lagu-lagu berjenis pop dan jazz. Ia cukup meliukkan sedikit pinggulnya, maka para penonton pria akan mengerang meski itu ada di sudut-sudut gelap kafe yang dipenuhi asap rokok hingga kita akan bergumam, ini kafe atau lembah mistis berkabut?

Semua karena Ruby. Itu gara-gara dia. Anggap saja itu dosa dia jika para pengunjung terancam akan memiliki penyakit paru-paru pada dekade mendatang.

Tak terasa jam sudah hampir menunjuk ke jarum 2. Waktunya pertunjukan disudahi. Pemilik kafe memang tegas agar kafe selesai jam 2 pagi setelah buka dari jam 8 malam.

Ruby sudah merampungkan 10 lagu. Sebelum dia naik panggung, ada band anak muda terlebih dahulu yang mengisi acara. Kemudian sang biduanita naik panggung mulai jam 10.

Di panggung, biasanya Ruby beramah-tamah dengan pengunjung. Mengobrol disela-sela lagu. Hingga terkadang maksimal ada 20 lagu dia dendangkan secara santai diiringi piano, petikan gitar, serta drum yang dimainkan ala jazz pop.

Jam 1 malam biasanya pihak kafe sudah mulai berbenah. Pengunjung paham dan berangsur pulang.

"Ruby, sepertinya kau punya fans baru." Manajer kafe setengah berbisik padanya sambil dagu menunjuk ke sebuah meja. Mereka sedang berkumpul di meja bartender. Lampu kafe juga mulai dinyalakan walau tidak semuanya.

Sang biduan turutkan pandangan ke meja tersebut. Mata besarnya mendapati sesosok pria yang duduk tenang menikmati bir yang hampir habis.

"Jangan beri nomerku lagi, Bos." Ruby menyentuh punggung tangan bosnya. "Yang dulu sudah cukup merepotkan hingga aku musti berganti kontrakan 2 kali."

Si Bos terkekeh. "Iya, maaf. Aku terlalu teledor waktu itu. Baiklah, tenang saja. Identitas dan alamatmu aman."

"Oke, aku pulang dulu, Bos." Ruby menepuk bahu bosnya, dan berpamitan pada musisi pengiringnya. Ia sempatkan melirik lelaki di meja tak jauh dari bartender. Tersenyum sekilas, kemudian melenggang pergi.

Ia keluar dari kafe lewat jalan belakang dimana mobilnya terparkir. Riasan sudah dihapus, sehingga dia bisa sedikit menyamar agar tidak dikuntit penggemar.

Tak perlu terheran akan kebiasaan para penggemar yang terkadang tidak rasional dan berbuat di luar harapan para idolanya.

Dulu, di awal-awal Ruby mulai menjadi biduanita, banyak lelaki yang bertingkah bagaikan anak sekolah baru mengenal cinta. Menguntit, menempel, serba ingin tau, dan bahkan mengintip Ruby dengan berbagai metode yang memalukan.

Namun, itu semua sudah menjadi sejarah yang akan membuat wanita pertengahan tiga puluh itu akan tergelak kecil jika mengingatnya.

Bisa dikatakan, akhir-akhir ini para penggemarnya sudah lebih tertib dan menghargai privasi Ruby jika di luar kafe. Wanita lajang itu sekarang bisa lebih nyaman menjalani hari-hari dibanding tahun lalu.

Sesampai di apartemen sederhana, ia hempaskan tubuh ke sofa sebelum beranjak ke kamar nantinya.

Membuka tas kecil, mengeluarkan dompet, dan menghitung lembaran uang yang menjejali di sana sebagai bayaran hari ini, Ruby tersenyum puas. Bos kafe selalu baik, melebihkan bayarannya jika kafe penuh sesak.

Hampir 2 tahun dia menggantungkan hidup dari kafe tersebut. Tadinya dia menyanyi di kafe lain yang lebih kecil, namun dia merasa seperti sapi perah saja, seminggu 4 kali, namun bayaran minim. Untung saja dia bertemu dengan pemilik kafe yang sekarang yang menawarinya penghasilan lebih banyak dengan jam lebih sedikit.

Setelah memasukkan kembali dompet ke tas kecil, dia teringat pria tampan yang tadi duduk sendiri di meja depan panggung. Dia sadar pria itu mengaguminya meski tak banyak bicara. Tapi dari tatapannya yang lekat memandangi Ruby, ia tau pria itu terpesona.

Tergelak kecil, Ruby pun bangkit dari sofa untuk berjalan ke kamarnya. Ia ingin bermalas-malasan di hari Minggu seperti biasanya.

Bersambung

Bab 2

Sabtu malam jam 11, kafe sudah mulai dipadati pengunjung. Ruby sudah selesai menyanyikan 5 lagu yang dia buat menjadi panjang mendayu seperti biasa.

Itu harus menjadi sebuah kepiawaian seorang penyanyi jika ingin mengulur waktu atau saat dia mulai kelelahan.

Obrolan sedikit dengan pengunjung dilakukan agar dia bisa istirahatkan pita suara sejenak seraya mengakrabkan diri dengan penonton. Toh musisi pengiring juga senang kalau sesi mengobrol tiba. Mereka bisa rehat sebentar sebelum melanjutkan tugas mereka.

"Oke, kita lanjut, yah!" Ruby mulai posisi bernyanyi. Tangan meraih mic. "Lagu ini untuk kalian yang sangat fokus dalam memandang hidup. Atau... memandang saya? Hihi..." Dia memang paling cerdas mengaduk emosi penonton.

Terbukti dengan beberapa erangan dan celetukan jahil dari beberapa sudut. Tentu saja suara itu didominasi suara pria.

Sampai saat ini belum pernah ada wanita yang mengejar Ruby. Kalaupun mereka menonton pertunjukan Ruby, hanya ada beberapa opsi. Pertama, diajak teman lelaki atau pasangan mereka. Kedua, sedang suntuk dan butuh hiburan. Ketiga, dia penikmat musik sejati yang suka berkelana dari satu kafe ke kafe lain yang memiliki live music band.

Sudut mata Ruby terarah ke pria misterius yang lagi-lagi duduk di dekat panggung. Masih juga sendiri saja ditemani bir dan camilan seadanya.

Pria itu amat sangat tampan, sungguh mirip dengan rupawan seorang artis terkenal atau seorang idol yang digilai para gadis.

Si tampan itu selalu saja duduk tenang di mejanya tanpa pernah berkata atau menyuarakan sesuatu seperti layaknya pengunjung lelaki lain yang terkadang kehilangan ketenangan mereka jika dipancing oleh geliat tubuh Ruby atau sekedar kerlingan matanya saja.

Lelaki ini terlalu elit. Atau sebenarnya dia frigid? Atau lebih parah lagi... dia sebenarnya tuli?

Tak lama, lagu My All yang penuh dayu dan syahdu milik Mariah Carey pun mengalun indah meski dibawakan secara santai. Setelah itu berlanjut ke sebuah tembang Cina klasik yang merayu manja dengan pembawaan Ruby.

Mendekati tengah malam, Ruby kembali menggelar sesi bincang-bincang dengan penonton. Ia biasanya tak menanggapi pertanyaan jahil seperti hal-hal berbau privasi. Ia lebih meladeni obrolan umum mengenai apa yang sedang tren atau sedang dibicarakan orang banyak.

Selesai sesi mengobrol, ia melanjutkan menyanyi. Tembang lawas milik ABBA dia nyanyikan dengan apik tanpa cacat.

Ruby pantas menjadi penyanyi ternama. Namun dia sadar, dia sudah tidak secemerlang penyanyi kini yang muda belia. Umur Ruby sudah menapak 35 tahun meski tidak terlalu kentara.

Tentu takkan ada yang mempercayainya jika dia mengungkap umur sebenarnya dia. Itu karena dia pandai merawat penampilan dan selalu menjaga apa yang dia makan secara teratur.

Sebagai penyanyi yang hanya menggantungkan kehidupan dari mengolah vokal, Ruby secara alami tidak menyentuh rokok ataupun minuman alkohol. Dia hanya meneguk sedikit minuman keras bila di momen-momen yang paling spesial saja.

Itu menjadikan dedikasinya pada dunia tarik suara makin membuat dia diakui meski hanya ditaraf kafe.

Apakah tidak ada perusahaan rekaman yang tertarik untuk mengabadikan suara Ruby dalam sebuah pita rekaman? Sudah banyak. Namun, setelah Ruby menimbang segala sesuatunya, dia merasa kurang cocok dengan dunia rekaman.

Bagaimana dengan fenomena artis di sebuah platform ternama seperti Y**t**? Ruby pernah menjajal juga kehidupan sebagai Y**t**er dan ia lumayan menikmati.

Penghasilan dia dari platform tersebut juga sangat menunjang kehidupannya selain hasil dari kafe. Ia banyak mengunggah suaranya dibantu oleh pihak kafe, menyanyikan cover lagu-lagu terkenal. Dan banyak juga hal-hal remeh sehari-hari yang dia unggah ke sana.

Meski tidak memaparkan kehidupan pribadi dia secara terang-benderang pada platform terkenal itu, Ruby masih bisa meraup banyak subscriber dan views. Ia hanya mengunggah acara jalan-jalan dia, atau ketika dia sedang makan di sebuah tempat sambil memberikan review atas makanan tersebut.

Hanya hal-hal ringan tanpa perlu menguak kehidupan pribadi dia di rumahnya.

Mendekati jam 2, kafe mulai sepi. Pengunjung secara teratur keluar dari kafe begitu Ruby menuntaskan lagu terakhir di jam 1 lewat 27 menit.

"Wah, gerimis!" ujar salah satu kru kafe.

Ruby menoleh ke pintu keluar kafe. Tak sampai 3 menit, hujan turun. "Aku harus lekas pulang sebelum hujan makin deras. Yok, bye!" Ia berpamitan ke semua kru dan pegawai kafe. Ia termasuk penyanyi yang ramah pada semua kru kafe.

Melewati pria tampan nan misterius yang masih tenang di mejanya, dia hanya berikan seulas senyum kecil. Sekedar basa-basi keramahan.

Bagaimanapun juga pria itu sudah datang, membayar makan dan minum hanya demi bisa menonton Ruby. Apa salahnya gadis di usia pertengahan tiga puluh itu memulas sebuah senyum kecil untuk pemuda tersebut?

Begitu Ruby masuk ke mobil, hujan turun bagai dituang dari langit.

"Aduduh, derasnya." Ruby menghela napas, kemudian ia jalankan mobil. Ia ingin cepat sampai di rumah. Terbayang secangkir coklat hangat pasti nikmat diseruput saat hujan dingin begini.

Sialnya, belum sampai ke gedung apartemen, mobilnya mendadak terasa aneh. Ruby mengerang. Ban kanan belakang mobil kempes. Ini adalah hal paling menjengkelkan sekaligus menyusahkan!

"Oh please, jangan sekarang!" serunya kesal. Ia mengambil ponsel untuk menghubungi bengkel langganannya. Tak ada jawaban. Wajar saja karena ini sudah terlalu larut.

Kesal, Ruby memukul setir. Dua tangan meremas rambut. Terbayang dia harus susah payah mengganti ban di malam hujan deras begini. Taksi pun tak ada. Benar-benar apes!

Ia pun menyerah, keluar dari mobil, seketika bajunya basah kuyup meski belum ada 5 menit diguyur hujan.

Baru saja dia akan mengeluarkan peralatan dari bagasi, tiba-tiba ada lampu mobil lain menyorot mendekat. Ia terpaksa picingkan mata dan lindungi mata agar bisa melihat siapa gerangan.

Seorang pria lekas keluar dari mobil, setengah berlari ke arahnya. "Mogok?"

Ruby terkejut ketika melihat siapa gerangan pria tersebut.

Bersambung

Bab 3

Seorang pria lekas keluar dari mobil, setengah berlari ke arahnya. "Mogok?"

"Ban kempes!" seru Ruby karena derasnya hujan. Meski tangan sudah memayungi dahi, tetap saja basah kuyup.

Pria itu mengangguk. Dia pria misterius di kafe. Ruby sempat berasumsi pria itu mengikuti dia, tapi apakah mungkin?

"Ayo kuantar saja pulang ke rumahmu!" seru si pria. Tampaknya kondisi tidak memungkinkan bila mengganti ban di bawah guyuran hujan lebat begitu.

"Hah?"

"Ayo! Jangan lama-lama hujan-hujanan! Nanti kau sakit!"

Ruby hanya bisa kaget terbengong ketika tangannya sudah ditarik pria tadi menuju ke mobil si pria. "H-hei! Tunggu! Mobilku belum aku kunci!"

Pria itu pun melepas genggamannya agar Ruby bisa mengunci mobilnya. Kemudian keduanya masuk ke mobil si pria. Ruby memandang skeptis.

"Kau takut kuculik?" Pria itu membuka omongan sebelum mobil dijalankan. "Hahaha, jangan kuatir. Aku tidak sejahat itu. Cepat beritahu di mana alamatmu, aku antar kau pulang." Mesin mobil dinyalakan. Penghangat udara mulai bekerja menyemburkan hawa hangat di mobil.

Ruby angkat bahu. Mungkin dia memang terlalu paranoid mengira yang tidak-tidak pada pria di sampingnya. Toh jikalau pria itu berniat jahat, Ruby bisa hujamkan high heels dia ke batok kepala pria tersebut.

Mau tak mau, Ruby mengatakan lokasi tempat dia tinggal.

Di lain pihak, pria itu mencoba menghubungi bengkel langganannya. Ternyata ada yang mengangkat. Mungkin Ruby harus ganti bengkel sejak ini. Pria itu meminta bengkel mengurus mobil Ruby yang ditinggal di jalanan.

Sampai di apartemen sang biduan, Ruby turun. Mereka ada di basement. "Maaf, jokmu jadi basah."

"Oh, tidak apa-ap--HUATCHIM!" Belum sempat selesai bicara, bersin keras si pria sudah menginterupsi.

Ruby jadi tambah tak enak sendiri. Pria itu berkali-kali repot karena dirinya. Mengurus mobilnya, jok basah, dan kini terancam demam?

"Errngh... mau masuk? Secangkir coklat hangat pasti nyaman untukmu," tawar Ruby.

Pria itu mendongak ke Ruby. "Kau yakin?"

Sedikit ragu, Ruby mengangguk. Namun, pria itu menangkap keraguan sikap Ruby.

"Lebih baik aku pulang--HATCHIN!"

"Lihat, sepertinya tubuhmu menginginkan coklat hangat, Tuan." Ruby lipat dua tangan di depan dada, menahan tawa.

Pria itu terkekeh. "Susah bohong, yah? Hehehe..."

-0-0-0-0-

"Letakkan saja mantelmu di bawah sana." Ruby menunjuk ke lantai ruang tamu apartemen. "Nanti akan aku bawakan keranjang laundry." Ia sudah mendahului masuk ke ruang dalam usai melepas sepatu basahnya di rak ruang tamu.

Pria itu mengikuti setelah menaruh mantelnya seperti yang disuruh Ruby.

"Oh ya, siapa namamu, Tuan?"

"Vince. Tapi panggil saja Vin."

Ruby menoleh sebentar ke belakang. "Oke, Vin. Kau bisa pinjam kamar mandiku untuk berbilas karena kamar mandi tamu sedang rusak kerannya. Baju... kurasa aku punya kaos longgar. Semoga kau tak keberatan dengan style wanita."

Vin mengangguk patuh. "Tak masalah." Ia menerima handuk dan baju ganti dari tangan Ruby. Kemudian ditunjukkan arah kamar mandi di ruang pribadi Ruby. Rupanya dua ruangan itu menyatu

"Mandilah air hangat agar tidak demam, Vin. Aku akan buatkan minuman hangat untuk kita."

"Tapi kau kan juga basah."

"Tenang saja, aku sudah biasa kehujanan, kok. Jadi, lumayan kebal." Ruby melenggang meninggalkan Vin di kamar untuk ke dapur membuat 2 coklat hangat.

Setelah coklat selesai dibuat, Ruby ke ruang lain, tempat baju-baju dari laundry diletakkan sebelum masuk ke lemari. Lekas saja dia menukar pakaian basahnya dengan baju kering di sana. Atasan kaos merah muda dan rok mini merah tua. Ingin mencari yang agak panjang, sayangnya tak ada. Daripada ke kamar dan kepergok Vin, lebih baik yang ada saja.

Begitu dia selesai ganti pakaian, ia membawa dua mug berisi coklat hangat ke ruang tengah, tepatnya ke minibar.

Baru saja dia rampung meletakkan dua mug, Vin sudah muncul. Handuk sibuk digusakkan ke rambut basahnya. Ruby menahan tawa melihat kaos pink longgarnya di tubuh atletis Vin. Apalagi boxer merah bermotif kupu-kupu. Hanya itu yang berukuran besar di lemarinya.

"Syukurlah keduanya muat di tubuhmu, Vin." Ruby mengulum senyum. "Ayo duduk sini. Coklat hangatmu sudah menanti." Ditepuknya kursi tinggi di sebelah ia henyakkan pantat.

Vin patuh. Handuk ia sampirkan ke besi kursi lain, sementara dia duduk di sebelah Ruby. "Kau sudah ganti baju rupanya. Tidak ingin mandi?"

Ruby menggeleng. "Nanti saja." Lalu ia menoleh ke Vince. "Kau... yang akhir-akhir ini sering datang ke kafe, kan?"

Vince naikkan alis sambil menyesap coklat hangat di tangan. "Wah, kau sampai tau. Sebuah kehormatan bagiku dikenali seorang biduan cantik."

"Dasar perayu," kilah Ruby sambil senyum miring. Dua tangan menangkup mug, lalu menyesap pelan isinya. "Ahh... sedap sekali."

Vin melakukan hal yang sama. "Humm... kau benar. Sungguh perpaduan sempurna."

"Perpaduan sempurna?" Ruby menoleh ke Vin.

"Yah, perpaduan rasa yang enak dan suasana yang mendukung minuman ini." Vin balas menoleh sembari ulaskan senyum simpatik.

"Kuharap perpaduan sempurna ini bisa mencegah kau demam," sergah Ruby.

Vin terkekeh ringan. "Yeah. Semoga." Ia menyesap coklatnya. "Oh ya, boleh tau namamu?"

"Hn? Namaku?" Ruby angkat alisnya.

"Yup. Aku yakin Ruby bukan nama aslimu. Benar, kan?"

Biduan itu tergelak kecil. "Terlalu kentara, yah?"

"Tidak. Hanya insting saja."

"Instingmu luar biasa."

"Juga analisa, sedikit."

"Analisa?"

"Karena kau selalu memakai baju merah tiap tampil. Makanya aku asumsikan itu berhubungan dengan nama Ruby. Nama panggung."

"Hahah. Cerdas juga kau, Vin." Ruby bangkit dari kursi mini-bar, berjalan ke depan lemari es demi mengambil shortcake yang ia beli pagi tadi.

Vin mengamati Ruby dari belakang. Meski terlihat layaknya wanita dewasa dan matang, namun penampilan Ruby sangat trendi, didukung bentuk tubuh proporsional.

Pinggul ramping, pantat kecil yang padat, lekuk dada tidak berlebihan, dan betis yang rasanya menggiurkan jika dijilat. Oke, Vin mulai berpikiran kotor. Memalukan sekali.

Vin menggusak gusar rambut basahnya. Ruby menoleh ke belakang seraya taruh kue yang sudah ia potong ke meja mini-bar.

"Kuharap kau tidak keberatan dengan makanan manis seperti ini, Vin." Ruby meletakkan sepotong shortcake yang dia tempatkan pada piring kecil beserta garpu di tepinya pada meja minibar.

"Oh, kau bisa tenang, karena aku bukan jenis orang yang terlalu pemilih dengan makanan." Vin tersenyum simpatik pada wanita menarik di dekatnya. "Terlebih jika kue manis ini dihidangkan oleh wanita semenarik dirimu," imbuhnya tanpa ditutup-tutupi.

Ruby terkekeh lirih begitu mempesona, seolah hanya kekehannya saja sudah seperti sebuah lantunan nada merdu yang mengambil kunci nada do = C mayor. "Kau ini rupanya benar-benar mempunyai bakat besar sebagai penggombal nomor satu di daerah ini, yah! Hihi!"

Vince ikut terkekeh tanpa malu-malu. "Jurus spesialku ini hanya akan muncul di depan wanita yang juga spesial."

Alis rapi Ruby terangkat naik.

Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED