Bab 1

Raisa Aquila Nazara, perempuan berparas cantik dengan tubuh yang terlihat sangat menggoda. Bagaimana tidak, gadis itu memiliki body bak gitar Spanyol. Dengan ukuran buah dada yang terlihat sangat menantang dan juga pinggul yang begitu aduhai.

Berkali-kali ia menarik nafas kemudian membuangnya. Berada di dalam kamar dengan seorang pria tua, botak dan sepertinya adalah pria hidung belang membuat Raisa sedikit merasa ketakutan dan risih karena tatapan pria itu.

Kedua tangannya sudah meremas kertas yang tadi diberikan oleh ibu kekasihnya. Sebuah kertas bertuliskan alamat dan nomor kamar hotel tempat tempat pria yang disebut oleh ibu kekasihnya akan mampu menolong diri Raisa dari kesulitannya.

Ayahnya yang sedang sakit membutuhkan uang yang tak sedikit untuk biaya operasi. Meminta tolong pada teman-temannya sudah Raisa lakukan, tapi percuma saja. Mereka tak bisa membantu Raisa, karena uang yang Raisa butuhkan bukanlah uang dalam jumlah kecil.

Dengan sangat terpaksa Raisa pun akhirnya meminta pertolongan pada Helena ibu dari Harry –kekasihnya.

Harry yang sedang berada di luar negeri untuk kuliahnya tak mungkin Raisa ganggu dengan hal seperti ini. Apalagi saat ini Harry sedang menjalani ujian. Oleh sebab itu Raisa menurunkan gengsi dan membuang jauh harga dirinya untuk meminta tolong pada Helena sang calon ibu mertua.

Tanpa sedikit pun merasa curiga pada Helena, Raisa yang kalut tak tahu harus ke mana lagi mencari pertolongan, langsung menuruti perintah dari wanita itu.

Raisa tak tahu kalau saat ini Helena sedang sengaja menjebaknya. Helena sengaja menyuruh Raisa datang ke hotel menemui pria hidung belang yang hendak membeli tubuh Raisa.

Helena akan membuat Raisa kehilangan harga dirinya sehingga Raisa akan merasa bahwa ia tak pantas lagi bersanding dengan putra kesayangannya.

Sejak perusahaan keluarga Raisa bangkrut, Helena merasa bahwa Raisa itu bukanlah pasangan yang sepadan dengan putranya. Ia ingin hubungan mereka putus dan jebakan inilah yang akan Helena pakai sebagai senjata untuk menghancurkan hubungan tersebut.

“Duduklah! Kenapa kamu masih berdiri saja?” ucap pria botak yang sudah kembali dengan segelas air di tangannya.

“I-iya!” balas Raisa dengan perasaan hati yang sudah tak tenang diselimuti rasa takut.

“Silakan diminum dulu. Kamu pasti haus kan?”

Karena pikirannya sedang kalut juga penuh dengan rasa takut, di tambah rasa haus juga tiba-tiba menghampiri tenggorokkannya. Tanpa berpikir kalau minuman itu adalah minuman yang sudah dicampuri obat perangsang, Raisa pun langsung meneguknya sampai habis.

“Saya sudah tahu tentang kesulitan yang sedang kamu alami. Saya bersedia memberikan uang berapa pun buat kamu, tapi apakah balasan yang akan saya dapatkan?!”

Pria botak itu beralih tempat duduk ke samping Raisa. Membuat Raisa yang sedikit merasa curiga semakin yakin bahwa pria botak ini adalah pria kurang ajar.

“Sa-saya ti-tidak mengerti apa maksud Anda. Sa-saya datang ke sini karena di suruh oleh Tante Helena.”

“Ya... saya tahu! Bu Helena juga yang sudah memberi tahu saya kalau kamu butuh uang dan kamu bermaksud menjual diri kamu, iya kan?”

Raisa sangat terkejut. Ia tak percaya kalau Helena berkata demikian. Tapi kalau melihat dari kejanggalan hari ini, saat Helena menyuruhnya datang ke hotel malam-malam begini dan menemui pria botak ini, tentunya tak ada yang tidak mungkin.

Tanpa menghiraukan ia akan kehilangan uang untuk biaya operasi ayahnya, Raisa yang masih ada dalam kesadaran penuh karena obat perangsang yang telah diberikan oleh pria botak itu belum bereakasi –mencoba untuk kabur.

Tanpa mencoba untuk lebih lanjut bicara, Raisa langsung bangkit dari duduknya. Namun pria botak itu menahannya. Ia meraih tangan Raisa dengan sangat kuat, tapi untunglah Raisa memang selalu sedia Stun Gun di dalam tasnya.

Dengan sangat cepat ia merogoh tasnya untuk mengambil senjata kejut listrik tersebut dan ia pun langsung menempelkannya pada si pria botak. Kemudian Raisa langsung kabur dari sana.

Dua orang penjaga di depan pintu kamar tersebut sempat curiga pada Raisa. Namun, Raisa mencoba untuk bersikap tenang sehingga mereka mengira tak ada hal apa pun yang terjadi.

Ting....

Seiring dengan bunyi pintu lift itu terbuka, Raisa merasakan dunianya telah kembali. Ia menoleh ke belakang untuk memastikan jika kedua anak buah pria kurang ajar tadi tidak mengejarnya.

Namun, Kaki Raisa sempat mundur ketika pintu lift itu telah benar-benar terbuka. Ia merasa sangat tak nyaman harus masuk karena di dalam lift itu ada dua orang pria dan wanita yang dengan tidak tahu malu sedang saling bercumbu, seolah lift itu adalah milik mereka berdua mereka terus saja bermesraan.

“Hallo Nona.... apa kamu tidak mau masuk?!” tegur si wanita yang kesal karena Raisa hanya berdiri sambil memegangi pintu liftnya. “Kalau kamu tak mau masuk, lepaskan tangan kamu dan biarkan pintunya tertutup!”

Terlihat oleh Raisa tubuh pria membelakanginya yang sedang menenggelamkan kepalanya di ceruk wanita itu. Raisa tak bisa dengan jelas melihat wajah si pria tapi entah kenapa hati Raisa berdebar hanya dengan melihat punggungnya saja.

“A-aku masuk!” ucap Raisa.

“Cepetan kalau emang mau masuk!”

Raisa ikut masuk ke dalam lift karena memang tak bisa lagi ia menunggu. Jika ia lebih lama menunggu tentunya itu akan membuat keadaannya kembali memasuki zona merahnya si pria botak.

Raisa sedikit menjauh dari pasangan yang menurutnya tak tahu malu itu. Tapi sesekali ia mencuri pandang ke arah mereka dan tak sengaja tatapannya pun bertemu dengan tatapan si pria tampan yang sedang bermesraan itu.

Tatapan mata yang sangat tajam. Tatapan yang indah. Tatapan yang mendebarkan dan tatapan yang sangat mengagumkan hingga Raisa tak bisa lagi mengalihkan kedua bola matanya ke arah lain.

Pandangan Raisa terpaku pada kedua bola mata itu. Ia tenggelam ke dalamnya dan ia terhipnotis dalam pesonanya. Pria tampan itu tampak sempurna. Punggung yang lebar dan tubuh yang atletis membuat Raisa merasa sangat pantas kalau wanita yang sedang bersama dengannya sampai kehilangan rasa malunya begitu.

Belum lagi wajahnya, meski sebagian wajahnya bersembunyi dalam ceruk leher si wanita. Namun, Raisa bisa memastikan bahwa pria itu adalah pria yang tampan dengan hidung yang sangat mancung. Rahangnya terlihat kokoh dan bulu matanya juga sangat lentik.

“Sayang, kenapa kamu membiarkan orang lain masuk? Apa kamu ingin membuat dia iri melihat kita?”

Raisa menelan salivanya. Ucapan si pria sepertinya menyadarkan Raisa dari lamunannya tentang kekaguman yang Raisa miliki akan pria tak tahu malu yang ada di hadapannya sekarang.

“Aku sangat suka kalau ada orang yang iri melihatku bersama denganmu. Bahkan aku merasa sangat ingin sekali seluruh dunia merasa iri padaku karena aku memiliki pria sepertimu.”

“Ya... ya... aku tahu hal itu. Memang seluruh wanita yang ada di dunia ini pasti sangat tahu kalau aku ini adalah pria idaman. Aku kaya, aku tampan,dan aku..._”

“Kamu hot sayangku! Kamu itu terlalu sempurna bahkan saat di atas ranjang pun kamu itu tetap menjadi yang paling sempurna. Pantas saja kamu itu dijuluki Raka Mirza Bramantyo sang Hot Billionaire,” ucap kekasih dari pria itu dengan sangat menggoda.

Raka menyeringai dengan kedua bola mata elang masih tertuju pada Raisa yang sudah berdiri di samping mereka. Tatapannya mengunci kedua manik cantik milik Raisa, sehingga Raisa sangat sulit untuk mengalihkan pandangannya.

Tiba-tiba Raisa merasa gerah, ia merasa panas menjalari seluruh tubuhnya hingga ingin rasanya ia melepaskan semua pakaian yang tengah dikenakannya. Belum lagi melihat kemesraan yang dipamerkan oleh Raka dan wanitanya.

Raisa bahkan sampai berkali-kali harus menelan salivanya dan hal itu berhasil ditangkap oleh kedua bola mata Raka.

Ting...

Pintu lift pun kembali terbuka, Raisa tahu kalau lantai ini bukanlah lantai tujuannya. Ia tak melangkahkan kakinya, tapi justru kedua bola matanya sudah tak sanggup lagi untuk ia buka.

Pandangannya menjadi gelap, kesadaran tubuhnya juga menghilang. Dan setelahnya, Raisa pun tak tahu apa yang terjadi pada dirinya.

Selain alarm yang berhasil membangunkannya, Raisa juga merasa seluruh tubuhnya sangat sakit terutama dibagian pangkal pahanya.

Tak hanya sampai disitu saja, Raisa juga dikejutkan dengan tubuh seksinya yang telah polos tanpa sehelai benang pun ketika ia bangun pagi ini. Dadanya yang sintal bertabur tanda merah membuat Raisa semakin kalap dibuatnya.

Raisa mencoba mengingat apa yang sudah terjadi semalam tapi ingatannya tak mampu merangkum semuanya. Yang ia ingat hanyalah bisikan lembut di telinganya yang mampu membuatnya melayang tinggi.

“Aku menginginkan kamu.” kalimat itulah yang diucapkan oleh Raisa. Dan kemudian ada seseorang yang menjawab. “Kamu yang memintaku untuk menyentuhmu, sayang! Maka bersiaplah untuk menerima kenikmatan hujamanku.”

Raisa menggelengkan kepalanya. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah mimpinya saja. “Ini pasti hanya mimpi kan?” ucap Raisa di dalam hatinya.

Apa yang coba Raisa yakinkan pada dirinya langsung terbantahkan saat seorang pria saat ini ada di atas tempat tidur bersama dengannya. Kedua tangan pria itu sedang melingkari perutnya yang langsing dan lembutnya kulit si pria juga menempel erat dengan punggungnya.

Kini harapan Raisa menganggap ini hanya sebuah mimpi sangatlah sia-sia saja. Karena hal itu justru jauh lebih membuat Raisa merasa terkejut hingga ingin rasanya ia berteriak dengan keras.

Bersambung.....

Bab 2

Bunyi alarm dari ponsel Raisa memaksa Raisa yang masih mengantuk untuk meraihnya dan mematikannya karena Raisa masih enggan untuk bangun pagi ini.

Seluruh tubuh yang sakit dan kepala yang pusing, membuat Raisa ingin sedikit lebih lama lagi terpejam.

Ia meraba-raba untuk mendapatkan ponselnya yang terus berbunyi. Tapi tak sengaja tangannya malah justru menyentuh tangan seseorang yang saat ini tengah tertidur di sampingnya dengan tangan yang melingkar di perutnya.

Tentu hal itu membuat Raisa merasa sangat terkejut. Ia tak berani membuka matanya. Ia terlalu takut jika yang saat ini sedang tidur dengannya itu adalah pria botak yang semalam sudah memberinya obat agar Raisa menjadi buas dan liar.

“Ini mimpi Raisa! Percayalah kalau ini hanya mimpi!” Raisa mencoba untuk meyakinkan dirinya kalau apa yang saat ini terjadi padanya adalah mimpi.

Tapi percuma, sehebat apa pun Raisa memaksa dirinya untuk terpejam. Sekuat apa pun Raisa mencoba untuk membiarkan mimpi kembali menyapanya –kenyataan saat ini ada pria asing yang tidur di sampingnya itu tak bisa ia lupakan dan tak bisa ia hindari.

Dengan sangat pelan ia membuka matanya dan mengerjapkannya. Ia edarkan mata bulatnya ke sekeliling kamar. Mencari tahu di mana sekarang ia berada.

“Ya Tuhan ini adalah kamar yang sama seperti kamar yang semalam! Apa mungkin aku berhasil kembali ditangkap oleh si pria botak itu?” pikir Raisa meringis pilu.

Setelah mengira kalau dirinya kembali ke kamar yang sama dengan kamar durjana yang semalam ia tinggalkan. Raisa beralih pada dirinya. Ia ingin tahu apakah benar dirinya telah kehilangan satu-satunya hal yang paling berharga dalam hidupnya.

Raisa menurunkan pandangannya, sedikit menyibak selimutnya dan menemukan dirinya yang sudah tak memakai apa pun. Ia ingin menjerit histeris dan ingin sekali menangis sekencang-kencangnya, tapi tak bisa. Ia tak bisa melakukan hal itu karena itu pasti akan membuat si pria yang sedang memeluk dirinya dari belakang terbangun. Dan Raisa belum siap untuk kembali melihat pria tua, botak yang menjijikkan itu.

Padahal sebenarnya, pria yang tidur di sampingnya itu kini telah terbangun karena bunyi alarm dari ponsel Raisa juga memekikkan telinganya. Ia meraih ponsel tersebut dan mematikannya. Ia berpura-pura kembali tertidur dengan tidak melakukan pergerakan apa pun.

Raisa menyadari hal itu. Raisa sadar kalau si pria asing di sampingnya telah terbangun.

Ia juga sadar kalau ini memang nyata. Ini bukan mimpi dan ia memang telah tidur dengan seorang pria asing. Hanya saja yang membuat Raisa tak bisa percaya adalah kenapa kegadisan yang selalu coba ia pertahankan harus jatuh di tangan pria tua hidung belang yang botak dan menjijikan.

Padahal Raisa sudah sangat menjaganya. Bahkan pada kekasih yang sangat ia cintai pun, Raisa tak pernah berniat untuk memberikannya sebelum mereka naik ke pelaminan.

Setelah hampir sepuluh menit ia mencoba menenangkan dirinya. Untuk memastikan apa benar ia telah tidur dengan si pria botak. Raisa pun kembali memutar tubuhnya menghadap ke arah pria asing itu, tapi dengan mata yang masih terpejam.

Benar-benar sangat lucu, pikir si pria yang kini tengah menatapnya tersebut. Raisa yang semalam liar dan buas pagi ini terlihat sangat menggemaskan dengan matanya yang tak berani ia buka.

Raisa menarik nafasnya dengan sangat dalam. Lalu perlahan mulai membuka matanya sedikit demi sedikit. Samar-samar ia melihat wajah si pria tampan yang semalam ia lihat di dalam lift. Pria yang tak tahu malu bermesraan dengan wanitanya di tempat umum itu kini ada di hadapannya.

Raisa mengerjap-ngerjapkan matanya. Bahkan ia menguceknya untuk memastikan bahwa ia tidak sedang salah melihat.

“Kenapa? Enggak nyangka ya bisa tidur sama cowok tampan seperti aku?”

Suara bariton dari Raka Mirza Bramantyo, pria tampan, masih muda dan seorang CEO itu mengagetkan Raisa. Menyadarkan Raisa bahwa pria yang semalam bertemu dengannya di lift, si pria yang menurut Raisa adalah pria tak tahu malu –ternyata pria itu yang saat ini tidur bersama dengannya di atas ranjang yang sama dan di bawah satu selimut yang sama juga.

“Kamu?” Raisa terkejut dan langsung bangkit untuk duduk, melupakan kalau saat ini dirinya sedang bertelanjang.

Sontak tubuh bagian atas Raisa pun terekspose dengan sangat nyata di depan Raka. Membuat seringaian itu terukir jelas di sudut bibir Raka.

“Apa yang sudah kamu lakukan padaku?”

Raisa menarik sekaligus selimut untuk menutupi tubuhnya.

“Kamu nanya, apa yang sudah aku lakukan padamu? Kamu lupa? Dengan apa yang sudah kita lakukan semalam?

“Kamu itu menggodaku, merayuku dan kamu memperkosa aku!!”

“Apa?” kedua bola mata Raisa terbelalak. Tak bisa ia percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Raka padanya.

“Kamu masuk ke dalam lift lalu pingsan, dan aku menolongmu. Seharusnya kamu berterima kasih padaku. Kamu menjadi sangat liar dan buas saat kamu bangun dari pingsan kamu.

“Lalu kamu memohon-mohon padaku meski aku sudah bilang kalau aku tak mau, aku tak bisa, tapi kamu malah justru memaksa aku dengan melucuti seluruh pakaian kamu di depanku.

“Kamu menggodaku dan bagaimana bisa aku menahan. Bagaimana bisa aku menolak. Apalagi kamu bilang sama aku kalau ini akan menjadi yang pertama untuk kamu.”

Sulit bagi Raisa untuk tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Raka. Dia yang memang sedang ada dalam pengaruh obat yang telah dicampurkan oleh si pria botak dan buncit pastinya akan melakukan semua hal gila yang telah Raka ucapkan.

“Sudah cukup...!” Suara Raisa terdengar bergetar. Bahkan tubuhnya dan kedua bola matanya juga ikut bergetar seperti hendak menangis.

“Tutup mata kamu? Jangan sembarangan melihat apa yang seharusnya tidak kamu lihat lagi.” Wajah Raisa merona menahan malu juga menahan pilu.

“Oh ya? Jadi aku tak boleh melihat tubuh indahmu setelah semalam kamu membuatku harus bekerja keras memuaskan keliaran dan kebuasanmu?”

Raisa mencoba untuk mengingat kembali apa saja yang telah terjadi semalam.

Dengan sangat keras ia memaksa otaknya untuk mengulang rekaman kejadian malam tadi. Namun, apa yang terekam di dalam otaknya itu hanya sampai dirinya yang masuk ke dalam lift dengan kepala yang sudah terasa sangat pusing dan bertemu Raka yang sedang bermesraan dengan seorang wanita, selebihnya ia tak ingat.

“Kamu masih mau melamun?” ucap Raka saat Raisa tak buru-buru merespon. “Kalau begitu lanjutkan saja lamunanmu itu. Dan harus kamu ingat juga, semalam itu kamu benar-benar sangat memuaskan. Kamu liar dan buas. Aku sangat menyukainya!

“Dan satu hal lagi. Itu di atas nakas ada cek yang sudah aku tanda tangani. Kamu boleh menulisnya berapa pun yang kamu mau. Aku harap itu akan cukup untuk membayarmu atas apa yang sudah kita lakukan semalam.

“Sekarang aku harus mandi karena aku harus berangkat ke kantor.” Tanpa berniat untuk menutupi tubuhnya yang bertelenjang Raka pun langsung turun dari atas ranjang dan melangkahkan kakinya dengan santai menuju kamar mandi.

Raka berlalu meninggalkan Raisa yang saat ini memalingkan wajahnya karena merasa tak pantas melihat tubuh Raka yang bertelanjang.

Raisa yakin sekali semalan dirinya dan Raka sudah melakukannya. Mereka melakukan apa yang seharusnya tidak mereka lakukan.

Setelah tubuh gagah perkasa itu menghilang di balik pintu kamar mandi, Raisa melirik ke sampingnya dan menemukan selembar cek yang tadi sudah Raka sebutkan.

Entahlah apa yang saat ini harusnya Raisa rasakan. Apa dia harus merasa sedih karena apa yang paling berharga pada dirinya telah terenggut. Atau ia harus merasa senang karena dia berhasil mendapatkan uang untuk biaya operasi papanya.

“Papa?!” kedua bola mata Raisa terbeliak kaget mengingat ia harus segera ke rumah sakit untuk menyerahkan uangnya agar papanya itu bisa segera dioperasi.

Tanpa menunggu Raka selesai mandi, Raisa pun langsung memakai kembali bajunya. Ia bergegas pergi dari kamar durjana itu.

Dan saat Raka telah usai mandi, Raka hanya menyeringai melihat kamarnya sudah kosong dan cek yang telah ia simpan di atas nakas juga sudah tak ada. Namun ada satu benda yang sangat menarik perhatian Raka, ponsel milik Rania.

Entah kenapa Raka merasa sangat senang melihat ponsel tersebut. Dengan penuh semangat, Raka pun mencoba untuk membuka layar ponsel Raisa dan Raka merasa lebih senang lagi saat ia bisa menemukan banyak informasi tentang Raisa dari ponselnya.

“Gadis yang sangat menarik,” gumam Raka.

***

Raisa kembali ke rumah sakit. Ia melihat orang tuanya tak ada di ruang rawat. Untungnya ada perawat yang memberi tahunya kalau papanya sekarang sedang dioperasi.

“Sebentar Sus, apa boleh saya nanya?”

“Nanya apa Mbak?”

“Saya belum bayar DP operasi papa saya, tapi kok bisa sih papa saya sudah masuk ruang operasi?”

“Oh kalau itu Mbak bisa langsung tanya saja sama bagian administrasi. Karena saya tidak tahu apa-apa soal itu.”

“Oh begitu ya Sus! Ya sudah terima kasih ya Sus.”

Raisa sudah merasa cukup lega dengan ayahnya yang sudah ada di ruang operasi. Mungkin sekarang akan lebih baik kalau dia menyelesaikan urusan administrasinya saja, pikir Raisa.

“Semua biaya operasi Pak Arifin sudah lunas, Mbak! Bahkan uang depositnya saja sudah lebih dari cukup untuk biaya rawat inap Pak Arifin selama satu bulan ke depan.”

“Apa? Siapa yang sudah membayarnya?”

“Saya kurang tahu, karena orang itu tidak memberi tahu siapa namanya.”

“Dia seorang wanita apa pria?”

“Seorang pria paruh baya Mbak!”

“Oh... Ya sudah terima kasih ya Sus!”

“Sama-sama, Mbak!”

Raisa pergi menuju ruang operasi untuk menemui mamanya. Ia akan bertanya pada mamanya, apakah mamanya mengenal siapa orang yang sudah menolong mereka atau tidak.

Tapi Raisa sangat yakin mamanya pasti tidak kenal. Karena kalau dia kenal sudah tentu mamanya akan menghubunginya untuk memberi tahunya.

Raisa merasa semakin bingung memikirkan masalah ini. Ia tak tahu siapa orang yang sudah membayar semua biaya rumah sakit ayahnya, namun satu hal yang pasti. Raisa nanti akan mencari tahu jika memang mamanya benar tak tahu. Dan Raisa akan mengembalikan semua uangnya itu padanya.

Bersambung.....

Bab 3

Raisa tengah termenung di sebuah taman yang tak jauh dari ruangan papanya dirawat. Ia sedang memikirkan siapa kira-kira orang yang sudah menolongnya —membayar semua biaya rumah sakit papahnya.

“Apa mungkin itu Tante Helena?” pikir Raisa. “Mungkin dia mengira telah berhasil menjebakku makanya dia membayarkan semua biaya operasi Papa?"

Raisa menggeleng, ia sendiri merasa sangat tak yakin jika ini adalah perbuatan ibu dari kekasihnya tersebut. Rasanya tidak akan mungkin kalau Helena yang melakukan hal semulia itu. Setelah Raisa tahu bagaimana cara Helena menjebaknya, rasanya sangat sulit dipercaya jika Helena yang akan menolongnya.

“Woy...!!”

Tiba-tiba saja ada suara yang mengagetkan Raisa, Dini sahabat Raisa baru saja datang untuk menemuinya karena Raisa tak bisa dihubungi.

“Ngelamun aja! lagi mikirin apa sih?!" cecar Dini.

“Kamu ngagetin aja Din, gimana kalau aku jantungan terus mati karena kaget!” seru Raisa mendelik kesal.

“Ya lagian masih ngelamun aja. Om Arifin kan udah bebas dari masa kritisnya. Dan pastinya kamu senang kan, karena Harry yang udah bantuin kamu!”

Dahi Raisa mengerut, tak mengerti Raisa dengan apa maksud dari ucapan Dini. Apa hubungannya Harry dengan papanya yang sudah berhasil melalui masa kritisnya.

“Kenapa kamu bawa-bawa nama Harry? Memangnya apa yang sudah Harry lakukan?” tanya Raisa.

“Oops... Aku lupa belom bilang ya sama kamu?”

“Bilang apa?”

“Semalam aku ketemu sama Harry, dia udah balik dari London dan aku keceplosan bilang sama dia kalau kamu lagi berada dalam kesulitan. Dan dia juga bilang kalau dia yang akan menghapus semua kesulitan kamu itu.”

Kabar yang dibawa Dini ini benar-benar sangat mengejutkan bagi Raisa. Harry bahkan tak bilang sebelumnya kalau dia mau pulang dan bahkan setelah pulang pun Harry tidak mengabarinya.

“Apa? Harry udah pulang, dan dia enggak ngabarin aku? Terus, apa Harry juga yang udah bayarin semua biaya operasi Papa?”

Ingin rasanya Dini mentoyor kepala Raisa karena kesal dengan Raisa yang malah terlihat kesal gara-gara Harry tidak mengabarinya.

“Woy.... Bukannya Harry enggak mau ngabarin kamu! Kamunya aja yang enggak bisa dihubungi. Dari semalam itu Harry udah nyoba neleponin kamu, tapi katanya HP kamu enggak aktif terus.”

Handphone? Raisa baru ingat dengan handphonenya. Dia lupa di mana dia menyimpannya. Ia membuka tas yang masih membelit tubuhnya, mencari benda pipih tersebut namun sayangnya benda itu tak ada.

Raisa mencoba mengingat, di mana dia menyimpan handphonenya. Dan ingatannya hanya berhenti sampai di kamar hotel saja.

Raisa sangat yakin sekali kalau ponselnya itu tertinggal di kamar hotel tempatnya semalam tidur bersama dengan Raka.

“Sorry, Sorry... Emang ponsel aku ilang, Din! Makanya dari semalam aku enggak bisa dihubungi.

“Tapi beneran? Harry udah balik?”

“Ya benerlah!! Masa bohong! Terus itu yang ketemu aku siapa dong! Hantu?!!” gerutu Dini tak terima.

“Tadinya Harry mau kasih kejutan buat kamu. Dia datang ke rumah kamu tapi rumah kamu kosong. Terus dia coba hubungin kamu, tapi malah terus-terusan enggak aktif. Ya... akhirnya dia telpon aku. Dia minta ketemu, saat aku ceritain ke dia gimana sulitnya hidup kamu selama satu tahun ini dia merasa sangat bersalah karena tak ada di samping kamu.

“Tadinya kita mau langsung ke rumah sakit, tapi nyokapnya nyuruh Harry yang baru aja tiba di Jakarta dan dari bandara langsung nyariin kamu –untuk pulang dulu.”

“Nyokapnya ya?” Raisa menegaskan.

“Hmm....” balas Dini singkat dibarengi anggukan kepala.

Rasanya beban yang ditanggung Raisa terasa semakin berat ketika ia tahu dan mulai yakin bahwa Harry-lah yang sudah membantunya.

Ia merasa sangat malu pada Harry karena sekarang ini dia sudah tak suci lagi. Dia sudah tak punya sesuatu lagi yang bisa ia banggakan padahal selama ini Harry selalu berusaha untuk menjaganya karena Harry merasa sangat menghormati dan menghargai keputusan Raisa yang tak ingin melewati batasan sebelum adanya janji suci pernikahan.

“Sa... Kenapa sih? Aneh banget deh dari tadi kebanyakan bengong! Harry udah balik Sa! Semua masalah dalam hidup kamu pasti bakalan bisa selesai dengan sangat mudah. Keluarga Harry itu kaya raya kan? Dan Harry sangat mencintai kamu.”

Raisa tersenyum miris, mengingat apa yang sudah dilakukan oleh ibu dari kekasihnya itu yang telah tega menjebaknya dan hampir menjual Raisa pada pria hidung belang.

“Raisa....” Panggilan lembut dari seorang pria yang sudah hampir satu tahun tak dilihatnya itu berhasil mengalihkan perhatian Raisa dan juga Dini.

Harry berdiri dengan kedua tangan yang sudah ia lebarkan siap menerima tubuh wanita yang sangat dicintainya untuk masuk ke dalam pelukannya

“Harry....” ucap Raisa dengan sangat pelan. Ia tak percaya dengan apa yang saat ini ada di hadapannya.

Ada rasa ragu bercampur malu yang membelenggu hati Raisa untuk segera berlari ke dalam pelukan kekasihnya itu. Tapi rasa rindu yang menggebu. Rasa cinta yang membara berhasil menepis semuanya.

Raisa ingin sedikit saja berlaku egois dengan melupakan apa yang sudah terjadi dengan hidupnya semalam. Ia tak ingin mengingat bahwa dirinya sudah tak sengaja mengkhianati Harry. Dan terlebih lagi semua itu adalah karena ulah ibu Harry sendiri.

Raisa berlari ke dalam pelukan Harry, menenggelamkan kepalanya dalam kehangatan tubuh kekasihnya.

“I really Miss you, Honey!” ucap Harry diiringi dengan kecupan penuh cinta di puncak kepala Raisa.

Rasanya sungguh tenang dan sangat damai ketika Raisa berada dalam pelukan tubuh tegap Harry.

Dia merasa semua beban berat yang selama ini harus ditanggungnya sejenak bisa ia lepaskan.

Bukan karena Raisa ingin meminta Harry untuk membantunya lepas dari beban itu. Hanya saja memiliki Harry yang sangat mencintainya itu benar-benar merupakan sebuah kekuatan yang sangat besar bagi Raisa bisa melewati semua masalah dalam hidupnya.

Harry masih tak ingin melepaskan pelukannya. Ia masih mendekap erat tubuh Raisa untuk bisa mencurahkan semua kerinduan yang selama satu tahun ini sudah sangat membelenggunya.

“Permisi!!"

Suara bariton pria dari arah belakang tubuh Harry berhasil membuat semua orang yang ada, menoleh ke arahnya tanpa terkecuali Raisa yang sudah terlepas dari dekapan kekasihnya.

“Dia?! Di sini?!” gumam hati Raisa. Tak bisa Raisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat pria yang sedang berdiri di hadapannya.

“Mau apa lagi sih dia?” Raisa masih menggerutu, tapi di dalam hatinya.

Raisa sedikit merasa ketakutan, ia takut kalau Raka akan mengatakan apa yang sudah terjadi antara mereka semalam pada Harry. Sejujurnya Raisa sama sekali belum siap untuk itu. Dia masih merasa belum siap untuk jujur dan menghadapi kekecewaan dari pria yang merupakan separuh dari nafasnya tersebut.

Raisa terlalu mencintai Harry, hingga ia sanggup untuk sedikit lagi berbohong demi bisa sedikit lebih lama melepaskan kerinduannya pada Harry.

“I-itu bukannya Raka Mirza Bramantyo ya?” seru Dini kegirangan.

Dini yang kebetulan ikut masuk group kumpulan para pencari Hot CEO tampak mengenalinya. Dini tahu nama lengkapnya bahkan di saat Raisa yang semalam sudah tidur dengan Raka tidak mengetahui itu.

“Kamu kenal, Din?” tanya Raisa.

“Ya kenal-lah Sa! Dia itu CEO termuda yang lagi hot-hotnya jadi bahan perbincangan di salah satu group yang aku ikuti.”

Raka melangkah dengan gagahnya menghampiri Raisa, Harry dan Dini.

“Ini Hp kamu kan?”

Sebuah ponsel dengan gantungan liontin diasongkan oleh Raka pada Raisa.

“Aku menemukannya di atas ranjang saat kamu sudah pergi,” ungkap Raka dengan sengaja ingin menimbulkan kecurigaan dalam benak Harry.

Wajah Raisa sudah pucat pasi. Ia tahu kalau yang namanya kebohongan itu pasti akan terbongkar dan sepertinya Raisa memang tak diizinkan untuk lama-lama berbohong.

Raka menyeringai dengan tatapan yang super sangat tajam menghunus bagaikan pedang jauh ke dalam mata bulat Raisa.

“Sebentar! Ini apa maksudnya ya? Kenapa bisa ponsel Raisa ada sama kamu dan kamu bilang kamu melihatnya ada di atas ranjang. Memangnya kalian..._?” tanda tanya besar nampak jelas ada di dalam kepala Harry.

Harry merasa harus ada salah satu dari Raisa atau pun Raka yang menjelaskannya.

“Oh.... Dia itu kekasih kamu ya?!” pungkas Raka. “Jadi begini!” serunya, “wanita yang bernama Raisa yang saat ini sedang kamu rangkul itu adalah wanita yang semalam...._”

Raisa tahu Raka pasti akan mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi dengan mereka semalam. Raisa rasanya ingin mati saja saat ini karena ia benar-benar belum siap kehilangan Harry.

Bersambung....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED