Beberapa hari kemudian.
Di sebuah kamar kosan elit, Jesika duduk lesehan di atas ranjang dan terlihat serius di depan laptopnya. Dia terlihat serius mengulir dan meng-klik mouse sambil memperhatikan website yang bergantian muncul di layarnya.
Sebagai seorang mahasiswi, Jesika termasuk dalam deretan mahasiswi yang pintar. IPK-nya di setiap semester hampir tak pernah di bawah 3,0. Kesibukan lain di luar jam kampus, seperti organisasi mahasiswa, modeling, SPG dan lain-lain, seakan tidak mengganggu nilai akademisnya. Pun demikian dengan aktifitasnya sebagai lady escort.
Khusus untuk ‘aktifitas’ gadis panggilan yang satu itu, mungkin tidak satu pun dari sahabat Jesika yang akan pernah menyangkanya. Berprofesi sebagai wanita panggilan kelas atas justru sangat menguntungkan bagi Jesika.
Mengapa demikian?
Menerima ‘klien’ bermodal besar membuat Jesika menjadi banyak memiliki kenalan kelas atas. Dari politisi, akademisi, ahli hukum, sampai jabatan berpangkat lainnya. Tak jarang mereka membantu Jesika untuk hal-hal penting, tentu saja imbalannya beberapa jam kehangatan di atas ranjang.
Bagi Jesika, seks adalah kelemahan terbesar dari laki-laki jika bisa dimanfaatkan dengan baik. Profesi girls escort bagi Jesika memang menjadi salah satu cara untuk bergaul di kalangan elit. Tarif tinggi yang dipasang Jesika adalah filter, sehingga tubuhnya tidak sembarangan dijamah oleh laki-laki hidung belang di bawah standar yang diterapkannya.
Begitu pula dengan laki-laki yang menjadi kekasihnya. Status kekasih tidak serta merta membuat seorang laki-laki berhak menjamah tubuh moleknya. Jesika juga menerapkan standar yang tinggi untuk kekasih yang boleh menikmati kehangatan tubuhnya. Salah satu pemuda yang beruntung adalah Ricko, kekasihnya saat ini.
“Serius amat? Lagi bikin apa?” tanya Ricko yang baru keluar dari kamar mandi dengan hanya terbalut handuk.
“Nih lagi iseng browsing sambil nunggu kamu mandi,” balas Jesika manja.
“Hayo pasti browsing situs porno ya? Hehehe,” goda Ricko sambil naik ke atas ranjang.
Laki-laki muda itu lalu memeluk Jesika dari belakang dan mendaratkan ciuman di pipi kekasihnya.
“Enak aja, emangnya kamu super mesum!” Jesika pura-pura cemberut namun segera tersenyum.
Ricko memalingkan wajah Jesika, kemudian bibir mereka beradu. Sambil melumat bibir lembut itu, tangan Ricko bergerak masuk ke dalam kaos yang dipakai kekasihnya. Di balik kaos itu Ricko bisa dengan bebas merasakan seluruh kelembutan kulit tubuh Jesika. Tidak ada bra ataupun celana dalam yang menghalanginya.
Beberapa saat yang lalu Ricko telah dua kali merasakan kehangatan tubuh Jesika, namun baginya itu tidak akan pernah cukup. Jesika tahu itu, sehingga selama Ricko masih ada di kamar kosnya dia merasa tak ada gunanya memakai pakaian dalam.
“Katanya mau buru-buru meeting?” tanya Jesika sambil berpura-pura mencegah.
“Ah, mereka bisa nunggu,” sangkal Ricko.
Jesika tidak menolak lagi ketika Ricko merebahkan tubuhnya di ranjang. “Yakin bisa nunggu?” tanyanya.
Ricko mengangguk. Ciuman pun kembali mendarat di bibir Jesika. Ujung baju kaos Jesika terangkat dan handuk Ricko terlepas. Lenguhan panjang keluar dari mulut Jesika ketika batang tegang Ricko memasuki dirinya. Lenguhan itu semakin panjang ketika Ricko mulai menggerakkan pinggulnya.
“Aaaaaah, Sayaaaang,” lenguhan Jesika semakin panjang.
Kocokan rudal Ricko mendadak berhenti ketika terdengar suara nada ponsel miliknya dan milik Jesika yang berbunyi bersamaan.
Keduanya saling memandang. Ekspresi kesal Ricko disambut senyuman oleh Jesika. Rudal Ricko seakan ikut menjerit kesal karena harus terlepas dari jepitan lubang hangat milik Jesika.
Jesika dan Ricko beranjak turun dari ranjang dan mengambil ponsel masing-masing. Jesika melihat nomor tak terdaftar di layar ponselnya. Mungkin ‘klien’ baru, pikirnya. Awalnya dia ingin me-reject panggilan tersebut, namun kemudian membatalkannya.
Ditekannya tombol jawab.
“Halo,” ucapnya dengan nada manja dan menggoda seperti biasa.
“Jesika ya?” terdengar suara laki-laki.
“Iya dengan siapa saya bicara?” Jesika tanya balik.
“Ini dengan Om Lukman, Jes.”
Jesika terkaget mendengar nama itu. Sekilas dia melirik ke arah Ricko dan melihat laki-laki itu sedang sibuk dengan lawan bicaranya.
Bayangan kejadian di hotel beberapa hari yang lalu mendadak muncul kembali di kepalanya. Insting kewanitaannya langsung bereaksi kalau ini bukanlah sekedar telepon menanyakan kabar.
Hal ini dikarenakan, nomor ponsel ini hanya ia gunakan untuk menerima booking-an. Tak mungkin Pak Lukman mendapatkan nomor ini dari Felisia. Ia sama sekali tidak pernah memberitahukan nomor ini selain kepada pelanggannya. Dalam hati ia mencoba berpikir positif terhadap ayah dari sahabat karibnya ini.
“Oh ada apa Om?” tanya Jesika dengan suara yang sedikit direndahkan.
“Kamu sekarang jarang main ke rumah, lagi sibuk ya?” tanya Pak Lukman.
“Hhmm.. Iya Om, Jesika lagi sibuk nyusun skripsi jadi gak sempet main ke sana.” Jesika sedikit berbisik, kemudian berjalan menjauhi kekasihnya.
“Iya nih, Feli juga lagi sibuk bimbingan terus.” Pak Lukman mengamini jawaban Jesika.
“Gitu deh Om, soalnya pembimbing Jesika agak sedikit killer orangnya.”
“Memang siapa pembimbing kamu?”
“Prof Juanda Burhanudin, Om.”
“Oh Pak Burhan, Om kenal baik tuh sama dia, nanti Om bantu deh biar kamu bisa cepet bimbingannya.”
Sebagai salah seorang pejabat negara di Kementerian Pendidikan, Pak Lukman memang memiliki banyak kenalan di kalangan pimpinan universitas di Indonesia. Jesika tahu benar hal itu. Tapi sebagai gadis yang sudah makan asam garam, dia juga tahu pembicaraan ini pastilah basa-basi belaka. Ini adalah pembicaraan awal menuju ke sebuah pembicaraan inti.
Jesika kembali mencoba untuk berpikiran positif dengan Pak Lukman, namun itu sepertinya sulit. Semenjak pertemuan mereka di hotel beberapa hari lalu, penilaian Jesika terhadap Pak Lukman sudah sangat berubah.
“Wah makasi loh, Om,” Jesika berusaha akan kata-katanya terdengar gembira.
“Ya, tapi Om juga harus tahu judul dan kerangka skripsi yang kamu susun, biar Om bisa jelasin ke Prof. Burhan, teman Om itu.”
“Terus gimana dong Om?” Jesika bertanya namun sebenarnya dia sudah tahu maksud dari ucapan ayah sahabatnya. Untung saja dia sudah mulai mengatur sedikit rencana A, B dan bahkan D.
“Kamu ada waktu gak hari ini? Nanti kamu bawa skripsinya, entar Om baca dulu deh sekilas….” Sejenak Pak Lukman diam.
Terdengar desah napas panjang sebelum laki-laki itu melanjutkan kata-katanya. “Om juga sekalian mau ngomongin kejadian di hotel beberapa hari lalu itu.”
‘Oh my God! akhirnya aku harus juga menghadapi pembicaraan tentang kejadian itu,’ Jesika membatin.
Ucapan terakhir Pak Lukman membuatnya sedikit ragu. Haruskah dia menerima ajakan Pak Lukman ini. Sekilas dilihatnya jam di dinding hampir menunjukkan pukul sat siang.
Sejenak Jesika berpikir. Tak ada salahnya dia bertemu dengan Pak Lukman untuk sekedar ngobrol. Dia sendiri sudah cukup tersiksa apabila kejadian di hotel itu tidak segera terselesaikan. Apalagi Pak Lukman sekaligus menawarkan bantuan tentang skripsinya.
Pak Lukman bukanlah orang sembarangan dibidang akademisi. Laki-laki paruh baya itu bergelar doktor lulusan dari salah satu universitas di luar negeri. Apalagi kalau memang benar Pak Lukman kenal dengan pembimbingnya, itu berarti keuntungan bagi Jesika.
“Boleh deh Om, Jesika juga gak ada acara kok.”
“Oke kalau gitu kita ketemu di mall Bunga Bakung aja gimana?” tawar Pak Lukman.
“Aduh kejauhan Om, rame lagian di sana, gimana kalau Cafe Daun Bawang aja?” saran Jesika
“Gak masalah, kalau gitu Om tunggu jam 6 sore, oke?”
“Oke, Om.” Jesika berusaha bersikap renyah.
Jesika mematikan ponselnya. Gadis itu lalu membalikkan tubuhnya dan melihat Ricko sudah hampir selesai memakai kembali pakaiannya. Jesika berjalan mendekati kekasihnya tersebut.
“Udah ditunggu?” tanya Jesika.
“Iya, sorry musti buru-buru.”
“Gak apa-apa,” Jesika tersenyum.
Ricko adalah seorang pengusaha muda. Direktur di sebuah perusahaan ekspor impor milik orang tuanya. Mereka sudah berpacaran hampir setahun lebih. Selain faktor fisik dan materi, Jesika juga melihat Ricko sosok yang bertanggung jawab sebagai calon suami.
Ricko tidak menginggalkannya setelah dua tiga kali menyetubuhinya seperti kekasih-kekasihnya yang lain. Ricko pun tidak segan mengelurkan uang banyak guna memenuhi segala kebutuhan hidup Jesika.
Laki-laki inilah yang menjadi penyebab selama beberapa bulan ini dia tidak lagi menerima booking-an. Sebagai gadis biasa, dalam hati Jesika berharap Ricko adalah pangeran tampan berkuda putih yang selama ini dicarinya.
“Siapa yang nelpon?” tanya Ricko.
“I-itu cuma dari saudara mama, nanyain nomor telpon papa.” Jesika berbohong.
“Oh gitu, ya udah aku berangkat dulu kalau gitu.”
Jesika mengangguk. Mereka pun berciuman.
“Gak nganterin sampai mobil nih?” goda Ricko.
Jesika tersenyum. “Boleh aja, kalau kamu gak masalah aku turun ke bawah gak pake celana terus gak pake daleman juga, hehehehe.”
“Hehehe, ya udah gak usah aja kalau gitu.”
Jesika tahu kalau Ricko kerap cemburu dengan laki-laki lain yang menatap tubuhnya. Termasuk juga kepada beberapa laki-laki yang berada di kosan tersebut.
“Oke bye.”
“Bye.”
Kembali mereka berciuman. Jesika memandangi Ricko sampai laki-laki itu menghilang di tangga. Kemudian ia menutup pintu kamar kosnya. Berjalan menuju ranjang, mematikan laptop dan beranjak ke kamar mandi. Ia ada janji yang harus dipenuhi sore itu.
Beberapa jam kemudian.
Jesika turun dari taxi dan berjalan masuk ke dalam cafe. Dia disapa oleh pegawai berpakaian semi formal dan Jesika tersenyum kearahnya. Sesampainya didalam, ia menyapu pandangannya ke sekeliling cafe.
Rupanya malam itu suasana cukup ramai, tidak seperti hari-hari biasa. Akhirnya Jesika melihat seorang laki-laki yang melambai ke arahnya. Laki-laki itu duduk di pojokan. Laki-laki itu adalah Pak Lukman. Jesika pun berjalan kearahnya.
“Udah lama Om?” tanya Jesika.
Pak Lukman berdiri.
“Gak kok baru aja, duduk, Jes.”
“Maaf Jesika telat, Om.”
“Gak apa-apa.”
Keduanya kemudian duduk.
“Kamu mau makan apa?”
“Jesika udah makan Om, makasih.”
“Kalau gitu kita minum aja deh, kamu mau minum apa?”
Jesika mengambil daftar menu dan sejenak mencermatinya. “Jus wortel campur tomat aja, Om.”
“Hhmm.. healty life?” Pak Lukman tersenyum.
Jesika membalas senyuman itu. “Ya gitu deh, Om.”
Pak Lukman kemudian melambaikan tangan memanggil pelayan untuk mendekat. Tak lama pelayan itu selesai mencatat pesanan mereka berdua.
“So.. mana skripsi kamu, Jes?”
Jesika kemudian mengeluarkan laptop dari dalam tasnya. Meletakkannya di atas meja dan menyalakannya.
“Ini Om..,” Jesika memutar laptop tersebut sehingga dapat dilihat oleh Pak Lukman.
Sejenak Pak Lukman tenggelam membaca secara serius skripsi tersebut. Jesika sendiri hanya memandang ke arah Pak Lukman.
Terbersit rasa kagum dalam diri Jesika melihat sosok laki-laki paruh baya itu. Untuk laki-laki berusia di atas kepala lima, Pak Lukman mungkin tidaklah tampan, namun berkharisma.
Tubuhnya yang sedikit berisi justru membuat karakter kebapakannya terlihat jelas. Rambutnya yang mulai jarang dan sedikit memutih, menunjukkan kalau dia adalah sosok yang intelektual. Paling tidak kesan itulah yang muncul ketika melihat sosok Pak Lukman, selain sosok lain yang baru diketahui Jesika beberapa hari yang lalu tentunya.
“Ini sudah bagus kok, malah bagus banget,” ucapan Pak Lukman menyadarkan lamunan Jesika.
“Serius Om?” Jesika matanya membulat.
“Kamu itu selain cantik ternyata juga cerdas ya,” puji Pak Lukman kagum.
“Ah, Om bisa aja.” Jesika tersipu malu dan hatinya berbunga-bunga.
“Kalau seperti ini sih, Om bakal gampang ngomongnya ke Prof Burhan, gak perlu waktu lama deh kamu buat lulus, Jes.”
“Aduh itu mau banget Om, Jesika kan mau lanjut studi ke luar negeri kayak Om.”
“Beneran?” Pak Lukman sedikit tersentak.
“Beneran Om..,” Jesika terdengar makin bersemangat.
“Nah kalau gitu entar Om bantu juga deh nyariin beasiswanya.”
“Wah, serius Om? Makasih sebelumnya, Om.” Kali ini Jesika semangatnya melonjak 64 %.
“Sama-sama,” Pak Lukman menjawab sambil tersenyum penuh wibawa.
Kemudian beberapa saat ekspresi wajah laki-laki itu berubah serius. Keduanya membisu dan terlihat kikuk. Beruntung suasana berubah ketika pelayan datang membawa pesanan. Itu pun tidak lama, karena setelah pelayan pergi suasana kembali seperti semula.
Pak Lukman berdehem. Kebisuan pun pecah.
“Oya, soal kejadian di hotel Membara itu….” Laki-laki itu kembali terdiam sejenak dan menatap tajam ke arah Jesika. Ekspresi wajah gadis cantik itu terlihat berubah tegang.
“Kita sudah sama-sama dewasa Jes, jadi Om bakal cerita terus terang saja….”
Pak Lukman kemudian bercerita panjang lebar tentang kebiasannya bermain wanita dan gadis-gadis muda. Dia mengaku bahwa dirinya terpaksa mencari pelarian karena Mellyanti-istrinya, sudah semakin jarang memiliki waktu untuk menjalankan kewajibannya sebagai istri.
Masuk akal bagi Jesika karena dilihatnya Tante Melly, begitu biasa Jesika memanggilnya, memang terlihat lebih sibuk di luar rumah. Tante Melly lebih mengutamakan bisnis berliannya ketimbang mengurusi keluarganya.
Itu sebabnya Felisia juga menjadi sedikit agak bebas dan liar dalam bergaul. Terlebih lagi Rifky anak bungsunya. Jesika bahkan kini menduga jika adik Felisia yang baru SMA itu pun sudah mewarisi sifat-sifat ayahnya.
Akibat pertemuan tak diduga itu ternyata baik Pak Lukman maupun Jesika, tampaknya sama-sama ketakutan kalau rahasia mereka terbongkar. Jesika takut profesinya sebagai lady escort didengar orang tuanya. Pak Lukman pun di lain pihak, takut kalau kebiasaannya bermain perempuan tersebar akan merusak nama baiknya dan mempengaruhi rumah tangganya.
Keduanya kini sepertinya ada di dalam posisi yang sama. Sama-sama mengetahui rahasia pribadi satu sama lain. Sama-sama ingin rahasia itu tetap menjadi rahasia. Rahasia penting yang bisa mempengaruhi kehidupan masing-masing.
“Oke, itu semua cerita Om…,” ucap Pak Lukman sebagai penutup ceritanya.
Jesika tak tahu harus berkomentar apa. Dia sendiri di hotel Membra itu juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Pak Lukman dengan gadis belianya. Tentunya dia tidak bisa menyalahkan ayah sahabatnya itu.
“Kamu tahu, siapa gadis yang Om bawa waktu itu?” tanya Pak Lukman, yang sebenarnya sangat ingin Jesika tanyakan sejak lama. Jesika menggeleng karena memang sangat tidak kenal.
“Venty, mantan kekasihnya Rifky.”
“Hah!” Mata Jesika makin terbelalak.
“Panjang ceritanya, nanti kalau ada waktu Om ceritain, hehehe.”
“I.. ya Om,” balas Jesika gelagapan dan dia benar-benar tercengang.
Lama tidak mendengar komentar dari Jesika, akhirnya Pak Lukman pun melanjutkan kata-katanya. “Dan soal kamu, Om sudah dengar langsung dari Pak Ganwa.”
Jesika tersentak. ‘Ah aku tidak mungkin lagi bersembunyi tentang profesi sampinganku.’ Jesika kembali membatin.
“Dia cerita semuanya, tapi Om gak bilang kalau Om tidak kenal sama kamu. Nomor telepon yang tadi Om telpon juga Om dapet dari Pak Ganwa.”
Detik itu juga Jesika merasa kalau langit telah runtuh di atas dirinya. Laki-laki yang begitu dia hormati dan telah dianggap ayah kedua baginya, kini telah mengetahui rahasia terbesarnya. Pastinya tidak ada lagi yang akan disembunyikan Pak Ganwa dari Pak Lukman.
Untuk beberapa saat, kembali Jesika maupun Pak Lukman tak mengeluarkan kata-kata. Hanya suara-suara pengunjung cafe yang terdengar riuh di sekitarnya.
Setelah hening beberapa saat lalu Jesika berkata terbata-bata, “Tolong jangan kasih tahu orang tua Jesika, Om….”
“Oh tidak, tentu saja tidak,” Pak Lukman langsung menanggapi. “Dan Om juga minta kamu jangan bilang ke Tante Melly, apalagi ke Felisia dan Rifky.”
Jesika hanya mengangguk. Kini kartu AS mereka berdua sudah saling terbuka. Keduanya pun lalu saling berjanji untuk saling menutup mulut dan tidak akan membuka rahasia masing-masing. Tapi ternyata masalahnya tidak sesederhana itu, ketika Pak Lukman melanjutkan kembali kata-katanya.
“Jes, Om sudah dengar cerita Pak Ganwa dan juga cerita dia tentang temannya yang pernah, maaf, mem-booking kamu….” Pak Lukman tampak ragu melanjutkan kata-katanya, namun akhirnya laki-laki paruh baya itu melanjutkannya. “…Om juga pengen booking kamu.”
“Om…!” Ekspresi wajah Jesika bertambah tegang. “…Ja-jadi semua kebaikan yang Om tawarin tadi cuma karena ini?”
“Bu-bukan gitu Jes, bukan. Semua yang tadi Om tawarin itu adalah tulus karena kamu adalah sahabat baik Felisia, anak Om. Itu gak akan berubah walau kamu menolak sekalipun.” Pak Lukman menelan ludah dan terdiam cukup lama.
“Anggap saja sekarang ini, Om adalah orang lain yang gak kamu kenal….”
“Kalau Jesika menolak semua tawaran itu, apalah masih tetap berlaku?”
Pak Lukman mengangguk.
“Kalau Jesika menolak, apakah Om bakal cerita semua rahasia ini ke orang tua Jesika?” tanya Jesika pelan.
Pak Lukman menggelengkan kepala.
“Sekarang ini, Om adalah pelanggan kamu dan kamu sepenuhnya berhak menentukan apakah menerima atau menolak tawaran Om.”
Jesika terdiam sejenak untuk berpikir. Pak Lukman pun terlihat tegang menunggu jawaban gadis cantik itu. Setelah lama dalam kebisuan Jesika pun menjawab, “Tapi gak murah loh, Om.”
“Sebutin saja harganya….”
“Jesika gak mau nerima uang Om.”
“Loh terus?” Pak Lukman terheran.
“Udah lama Jesika pengen punya laptop Samsul yang terbaru, Om bisa beliin?”
Pak Lukman tersenyum lebar. “Kalau cuma itu sih sekarang juga Om bisa beliin kamu.”
Jesika terkejut kalau Pak Lukman akan menyatakan kesanggupan. Barang yang disebutkan Jesika tadi harganya begitu tinggi. Dia sebenarnya berharap Pak Lukman akan berpikir dua kali untuk menyanggupinya. Dengan demikian hubungan gelap yang mungkin akan terjadi di antara mereka bisa dihindari.
Ternyata Jesika salah memprediksi. Uang sebesar itu ternyata tidak menjadi masalah besar untuk Pak Lukman. Jadi kini bola panas kembali berada di pihak Jesika.
“Oke minum dulu jusmu, entar kita mampir ke Samsul counter di Jambu Mede Mall, biar kamu pilih sendiri yang kamu mau.” Pak Lukman menyebut salah satu mall khusus barang-barang elektronik terbesar di kota itu.
Jesika hanya bisa menurut. Paling tidak selama perjalanan nanti ia masih bisa berpikir. Berpikir apakah dirinya cukup gila untuk menjalin sebuah afffair. Sebuah hubungan gelap dengan ayah dari sahabat baiknya sendiri.