Bab 2

Dengan ekspresi jengkel di wajahnya, Kusuma menatap wanita cantik yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Pada awalnya, dia berpikir bahwa wanita ini adalah seorang artis atau model yang tidak terkenal, yang ingin menghabiskan malam dengannya.

Tapi entah kenapa, wajah wanita ini terlihat sangat tidak asing baginya.

Sementara dia tenggelam dalam pikirannya sendiri, Dewi mendorong tubuhnya agar bersandar di pintu dan berjinjit untuk menciumnya.

Sosok pria yang tinggi itu mengaburkan pandangan Dewi. Di mata orang lain, sepertinya pria itu yang memaksa Dewi untuk menciumnya, berlawanan dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Kusuma sangat marah. Tidak ada yang pernah membuatnya marah seperti ini.

Tepat ketika dia hendak mendorong Dewi menjauh, wanita itu malah membuka kancing kemejanya dan dengan terang-terangan meraba dadanya.

Dewi menegang sesaat ketika tangannya bisa merasakan dada yang keras dan kencang. 'Wah. Benar-benar seorang pria yang berotot!' komentarnya dalam hati.

Para preman yang mengejar Dewi pergi begitu melihat adegan mesra itu. Mereka tidak berpikir bahwa salah satu dari pasangan mesra itu adalah target mereka.

Seolah ciuman yang dia berikan tidak cukup, Dewi menyandarkan diri ke dalam pelukan Kusuma. Begitu dia menyadari bahwa para preman yang mengejarnya itu sudah pergi, Dewi mendorongnya menjauh dan tersenyum manis padanya. "Ups. Maafkan aku. Aku sudah salah mengenalimu sebagai orang lain."

Dengan rasa jijik, Kusuma menyeka lipstik dari bibirnya. Dia bisa mencium bau anggur merah di napas wanita ini dan di mulutnya sendiri, jadi dia menduga wanita itu pasti sebelumnya sempat minum alkohol.

Pada saat ini, Dewi mengangkat kepalanya untuk melihat pria itu. Barulah pada saat itu dia benar-benar melihat wajah pria itu.

Matanya yang gelap dan dalam, alis tebal yang gagah, hidung mancung, dan bibir yang indah yang ada di wajahnya benar-benar menunjukkan keanggunan dan kebangsawanannya.

Namun, matanya sedingin es, dan ketidaksenangannya terlihat jelas di seluruh wajahnya.

Setelah menyadari bahwa pria itu tidak senang dengan apa yang terjadi, Dewi tersenyum padanya dan berkata dengan nada meminta maaf, "Sebagai kompensasi atas apa yang sudah aku lakukan, aku akan memberikan dua juta rupiah kepadamu!"

Di matanya, pria ini adalah pria paling tampan yang pernah dilihatnya. Dua juta rupiah cukup sepadan untuk membayar apa yang telah dia lakukan tadi.

Dewi segera membuka tasnya untuk mengambil uang. Yang mengejutkannya, dia hanya memiliki dua ratus ribu rupiah dan beberapa lembar uang kecil. Terpaku selama beberapa detik, dia berdeham dan menambahkan, "Uh... bisakah aku mendapatkan diskon?"

"Diskon?" Kusuma mengulangi ucapan gadis itu, merasa semakin marah. Semakin lama dia menatap wanita asing ini, semakin dia yakin sebelumnya dia pernah melihat wajahnya.

Tidak membutuhkan otak yang jenius untuk mengetahui bahwa pria yang ada di depan Dewi sedang kesal. Pria ini tampak seolah-olah berencana melemparkan Dewi ke laut untuk menjadi makanan hiu. Jika tatapan bisa membunuh, dia seharusnya sudah mati sekarang.

Tiba-tiba, wajah Dewi berubah menjadi riang. Dia mengeluarkan ponselnya dan mengusulkan, "Aku tahu! Aku bisa mengirimkan uangnya ke rekeningmu melalui ponsel."

Tangannya kemudian mengklik layar, tetapi ponselnya tidak menyala. Rasa panik mulai muncul di dalam hatinya saat dia melihat ponselnya dalam keadaan mati.

Malu, dia mengangkat kepalanya dan memberikan sebuah senyuman canggung pada pria itu. "Sepertinya ponselku tiba-tiba mati..."

Sementara itu, Kusuma sudah berada di puncak amarah. Dia merasa bahwa gadis di hadapannya ini sedang berusaha untuk mempermainkannya. Tepat di mana sedetik lagi Kusuma akan kehilangan kesabarannya, Dewi meletakkan semua uang yang dia miliki sekarang ke tangan Kusuma dan melarikan diri dari sana.

Kusuma tercengang menyaksikan ini terjadi. Dia menatap uang di tangannya dengan tatapan linglung dan kemudian melihat ke arah di mana Dewi baru saja pergi.

Edi Cataka, asisten Kusuma, baru saja pergi untuk memarkir mobil. Ketika dia berjalan menuju ke bar, dia melihat Kusuma sedang berdiri dalam diam dengan ekspresi kesal. Edi menelan ludah dan kemudian berlari ke arah bosnya berada.

Melihat Kusuma memegang beberapa ratus ribu rupiah di tangannya dan mengeluarkan aura yang menakutkan, dengan hati-hati Edi bertanya, "Tuan Hadi, apakah Anda... apakah Anda mau membeli sesuatu?"

Kusuma melirik asistennya dengan tajam dan melemparkan uang itu kepadanya. "Tangkap wanita itu!" perintahnya, dengan gigi terkatup erat.

"Ya, Tuan!" Edi dilanda kebingungan, tapi dia tetap bergerak mengikuti perintah yang diberikan oleh Kusuma.

Pada saat yang sama, Dewi mampu meninggalkan bar tanpa mendapatkan cedera sedikit pun. Tidak butuh waktu lama sebelum dia dapat bertemu kembali dengan teman-teman sekelasnya.

Wajahnya masih memerah saat dia duduk di mobil milik Jaya Handaru. Apa yang baru saja terjadi adalah suatu hal paling gila yang pernah dia lakukan di dalam hidupnya.

'Ya, Tuhan! Aku baru saja memberikan ciuman pertamaku pada seorang pria asing! Apakah yang aku lakukan tadi bisa dianggap sudah menodai pernikahanku? Apakah aku baru saja berselingkuh dari suamiku?'

Setelah berpikir lebih lanjut, Dewi merasa bahwa yang tadi dia lakukan itu bukan suatu masalah besar. Dia telah menandatangani perjanjian perceraian.

Tiba-tiba, temannya Kirani Jenar tersentak kaget dan berseru, "Ya, Tuhan!"

"Ada apa? Apakah para preman itu masih mengejar kita?" Kristina Latif bertanya dengan rasa cemas. Dia sangat ketakutan sehingga dia hampir melompat dari kursi ketika dia mendengar suara Kirani. Dalam keadaan panik, dia buru-buru melihat ke jendela belakang untuk melihat apa yang membuat temannya nampak kaget. .

Kirani mencondongkan tubuh lebih dekat ke Dewi yang masih melamun, dan mengguncang bahunya dengan penuh semangat. "Dewi, apa kamu tahu siapa pria itu?"

Saat itulah Dewi tersadar dalam lamunannya. Dia tahu betul bahwa Kirani adalah seseorang yang mudah terkejut. Namun, dia tidak merasa keberatan dengan itu, karena dia sudah terbiasa sekarang. "Siapa dia?" tanyanya balik pada Kirani dengan ekspresi datar.

"Pria itu adalah pria idaman dari para wanita. Dia adalah CEO terkenal dari grup multinasional di Kota Yoya! Itu Tuan Hadi!"

"Oh... Aku belum pernah mendengar tentang pria itu." Dewi mengambil sebotol air dan meminumnya dengan santai.

"Nama pria itu adalah Kusuma Hadi!" Kirani menekankan ucapannya lagi, berharap dia akan mendapatkan antusiasme yang sama dari temannya. Kusuma adalah sosok legendaris yang tidak bisa dia singgung.

Mendengar nama itu, Dewi menyemburkan minuman yang dia minum. Percikan air yang disemprotkan olehnya itu mengenai wajah Kirani. Dengan ekspresi tak berdaya di wajahnya, dia menatap Dewi, yang entah kenapa dilanda oleh kepanikan.

"Apa? Apakah kamu mengatakan bahwa pemabuk gemuk tadi adalah Kusuma Hadi?!" Dewi bertanya dengan mata terbuka lebar karena terkejut.

Bab 3

Kirani memutar bola matanya ke atas dan menepuk kepala Dewi. "Bukan pria yang itu, bodoh. Aku sedang berbicara tentang pria yang tadi kamu cium!"

"Tunggu, apa?! Kamu tadi mencium Tuan Hadi? Dewi, kamu ini benar-benar suka berbuat onar, ya?" Jaya berkomentar sambil tertawa. Dia adalah orang pertama yang bereaksi setelah mendengar ucapan Kirani. Dia sendiri sebenarnya sangat terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar sehingga dia menginjak pedal gas dengan keras.

Ayahnya bekerja sebagai manajer umum sebuah perusahaan keuangan di Kota Yoya. Selama bertahun-tahun, dia sudah tahu banyak mengenai Kusuma.

Ketika Kristina mendengar nama Kusuma dan mengingat siapa dia, kemudian dia berseru, "Ya ampun! Dewi, kamu baru saja mencium Tuan Hadi! Mendekatlah padaku. Biarkan aku menciummu untuk merasakan bibir Tuan Hadi dan mencium bagaimana aroma tubuhnya!"

Begitu dia mengucapkan kata-kata itu, dia menerkam Dewi.

"Hentikan." Dewi mendorong Kristina menjauh dengan kesal dan menyeka air yang ada di wajah Kirani menggunakan tisu. Dia sangat terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar sehingga dia bahkan lupa untuk meminta maaf kepada Kirani.

"Kusuma jarang muncul di media. Bagaimana kamu bisa tahu itu dia?" tanyanya dengan nada serius.

"Dia bekerja sama dengan ayahku, dan aku pernah bertemu dengannya sekali," jawab Kirani dengan tidak sabar.

"Apakah kamu benar-benar yakin itu dia?" tanya Dewi lagi.

Sebenarnya, sekarang dia benar-benar merasa seperti di ujung tanduk.

"Aku seratus persen yakin dia adalah Kusuma Hadi!"

Meskipun berciuman dengan Kusuma merupakan suatu kehormatan besar, Kirani tidak pernah menyangka seorang Dewi yang tidak pernah tampak tertarik dengan pria, bersikap begitu bersemangat.

Di sisi lain, hati Dewi rasanya seperti mencelos. Dia benar-benar telah membuat suatu masalah besar.

Menyadari Dewi tenggelam dalam lamunannya sendiri, Kirani menepuk-nepuk tangan temannya dengan tujuan untuk menenangkan pikirannya. "Aku dengar bahwa banyak wanita ingin tidur dengan Tuan Hadi, tetapi mereka diusir keluar olehnya. Dewi, kamu sama sekali tidak punya kesempatan untuk bisa tidur dengannya. Tapi jika kita lihat dari sisi baiknya, tidak semua wanita memiliki kesempatan untuk bisa menciumnya."

Dewi menepis tangan Kirani dan dengan murung berkata, "Dia tidak pantas mendapatkannya."

"Terserahlah. Bagaimanapun, kita harus merayakannya. Ayo kita pergi belanja besok! Setelah itu, ayo minta Dewi untuk mentraktir kita makan malam!" teriak Kristina dengan penuh semangat.

Dewi memutar matanya ke atas pada Kristina dan bersandar di kursi belakang, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia tidak memerhatikan antusiasme yang diperlihatkan oleh teman-teman sekelasnya.

Tidak seperti mereka, dia sekarang merasa tertekan.

Tiga tahun lalu dia dan Kusuma menikah. Prosedur pernikahan mereka ditangani oleh asisten Kusuma.

Ketika pernikahan mereka telah sah secara hukum, Kusuma meminta Panji memberikan yang terbaik untuk Dewi tidak peduli apa pun yang dia butuhkan.

Selama tiga tahun itu, baru pada malam ini dia mendapatkan kesempatan untuk melihat seperti apa rupa suaminya.

Kusuma tidak menonjolkan diri dan tidak pernah menerima wawancara apa pun. Media bahkan tidak diizinkan untuk memposting fotonya di Internet.

Tapi suatu hari, media membuat kesalahan dan memposting foto Kusuma. Foto itu adalah foto di mana pria itu sedang memegang lengan seorang artis wanita pada sebuah konferensi pers. Namun, satu-satunya yang ditunjukkan dari Kusuma pada foto itu adalah punggungnya. Pantas saja Dewi merasa punggungnya tampak tidak asing bagi dirinya.

Dan malam ini, dia menciumnya di bar... Jika Kusuma sudah menandatangani surat perceraian mereka, pria itu akan menjadi mantan suaminya sekarang.

Dewi tiba di rumah sekitar satu jam kemudian. Yang membuatnya kecewa, Kusuma masih belum menandatangani surat perceraian itu. Dia menggila setelah mengetahui hal ini. Kegelisahannya tidak hilang bahkan ketika dia akan pergi tidur. Sepanjang malam, dia hanya terus berguling-guling di atas tempat tidur.

Keesokan harinya, Dewi berjalan beriringan dengan Kirani dan Kristina di Plaza Cahaya Internasional. Ada lingkaran hitam di bawah matanya karena semalam dia sama sekali tidak bisa tidur.

Dengan membawa tas belanja di tangan mereka, Jaya dan Dimas Subianto berjalan mengikuti gadis-gadis itu ke mana pun mereka pergi. Mereka telah berbelanja selama berjam-jam, dan para lelaki itu kelelahan.

Tidak tahan lagi, Jaya menepuk bahu ketiga gadis itu. "Hei, nona-nona. Aku belum pernah melihat kalian terlihat begitu bersemangat saat melakukan lari jarak jauh sebelumnya. Mengapa kalian tidak beristirahat sejenak saat berbelanja?"

"Untuk apa melakukan hal itu?" Kristina menunjuk ke toko di depan mereka dan menambahkan, "Kita sudah tiba. Ini perhentian terakhir kita."

Jaya mengenggam erat kedua tangannya dan menghela napas lega. "Terima kasih, nona!"

Dewi, Kristina, dan Kirani berjalan ke dalam toko dan saling berbisik satu sama lain. Ketika pramuniaga melihat kotak lipstik yang ada di tangan Dewi, dia tersenyum padanya dan berkata, "Halo, Nona. Lipstik itu cukup populer di sini. Jika Anda menginginkannya, ambillah. Anda beruntung kami masih memiliki satu barang yang tersisa untuk Anda."

Dewi kemudian melihat label harga pada lipstik itu. Lipstik itu seharga dua belas juta rupiah. 'Haruskah aku membeli ini atau tidak?' tanyanya pada dirinya sendiri.

"Dewi, apakah kamu lupa bahwa kamu kaya? Kamu mengendarai mobil senilai miliaran rupiah. Apa yang membuatmu begitu ragu untuk membeli itu? Lipstik ini harganya hanya lebih dari sepuluh juta rupiah. Kamu lebih dari mampu untuk membelinya. Jika kamu merasa ragu-ragu, aku yang akan memutuskannya untukmu. Belilah!" Jaya mendesak Dewi.

"Mobil yang aku pakai itu bukan milikku. Aku hanya memakainya saja untuk sementara," ucap Dewi.

Sebenarnya, mobil yang biasa dia pakai itu adalah mobil milik suaminya, bukan miliknya sendiri. Dewi tidak punya apa-apa yang bisa dipamerkan.

Saat itu, keributan terjadi tidak jauh di mana mereka berada.

Dewi mengangkat pandangan matanya untuk melihat apa yang terjadi. Tiba-tiba, matanya melebar, dan dia hampir menjatuhkan kotak lipstik yang dia pegang karena kaget.

Beberapa orang sedang menuju ke toko tempat Dewi dan teman-temannya berada. Pria yang berada paling depan mengenakan setelan jas gelap yang terlihat mahal. Pakaiannya sangat menegaskan sosoknya yang tinggi dan lurus. Matanya yang dalam terlihat tenang, namun auranya yang mengesankan membuat orang bergerak mundur dan memberi jalan untuknya.

'Pria ini... Oh, tidak! Dia adalah suamiku! Tapi siapa wanita yang ada di sebelahnya? Wanita itu memiliki kulit putih dan tubuh yang sempurna. Dia benar-benar memesona,' Dewi terkagum-kagum dalam hati.

Merupakan hal yang tidak biasa bagi Kusuma untuk punya pacar, apalagi pergi ke ruang publik bersamanya untuk berbelanja. 'Apakah dia begitu bersemangat untuk bisa memamerkan cinta mereka?' Dewi bertanya-tanya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED