"Panji, ini perjanjian perceraiannya. Aku sudah menandatanganinya. Tolong bantu aku untuk memberikan ini pada Kusuma."
Bukan hal yang mudah bagi Dewi Nayaka untuk mengumpulkan keberaniannya dan menyerahkan perjanjian perceraian yang telah dia tandatangani kepada Panji, pelayan dari keluarga Hadi.
Panji nampak terkejut saat mendengar kata-kata "perjanjian perceraian". Pikiran pertama yang terlintas di benaknya adalah Dewi ingin bercerai untuk mendapatkan harta milik Kusuma Hadi.
Tetapi ketika dia mengecek dan membaca dokumen yang diserahkan padanya itu, dia melihat bahwa Dewi ingin menyerahkan segalanya, termasuk bagiannya atas kepemilikan properti bersama.
Panji menghela napas berat. "Dewi, kenapa kamu bertingkah konyol seperti ini? Kenapa kamu ingin menceraikan Tuan Hadi dan bahkan memilih untuk menyerahkan kepemilikan propertimu?"
Dewi sekarang hanyalah seorang mahasiswa biasa, dan dia tidak memiliki orang tua. Tidak bijaksana baginya untuk meminta bercerai sekarang, apalagi menyerahkan harta miliknya yang bernilai cukup tinggi.
Karena malu, Dewi membuang muka dan menggaruk bagian belakang kepalanya. "Aku sudah menikahi Kusuma selama tiga tahun, tetapi pernikahan kami hanya ada di atas kertas. Aku tidak ingin membuang waktuku untuknya lagi," alih-alih menyembunyikannya dari Panji, dia memilih untuk mengakui apa alasan dirinya untuk membuat keputusan seperti ini.
Dia memiliki kehidupannya sendiri. Dia tidak ingin pernikahan yang hanya tertulis di atas kertas ini merenggut masa mudanya.
Di matanya, Kusuma hanyalah orang asing yang belum pernah dia temui secara langsung, jadi dia tidak akan mengalami kerugian apapun jika membiarkannya pergi. Selain itu, pernikahan ini adalah suatu hal yang diatur oleh mendiang orang tuanya. Dia sama sekali tidak punya perasaan untuk tetap mempertahankan pernikahan ini.
"Aku mengerti. Tampaknya keputusanmu sudah bulat. Hari ini... Tidak. Aku akan memberikan surat perceraian ini pada Tuan Hadi besok."
Dewi akhirnya bisa menghela napas lega. "Terima kasih, Panji," ucapnya dengan senyum manis di wajahnya.
Panji berdiri untuk pergi dari sana. Tetapi sebelum dia mengambil langkah, dia menoleh ke Dewi dan berkata, "Dewi, Tuan Hadi adalah seorang pria yang baik. Menurutku, kalian berdua adalah pasangan yang sangat cocok. Aku harap kamu akan berpikir dua kali."
'Pasangan yang sangat cocok?' Dewi mengulangi perkataan Panji di dalam pikirannya. Tapi dalam tiga tahun terakhir, dia bahkan belum pernah melihat suaminya. Bahkan jika mereka adalah pasangan yang sangat cocok, lalu memangnya kenapa?
Sebuah senyum pahit terbentuk di bibirnya. Dewi menarik napas dalam-dalam dan dengan tegas menjawab, "Panji, keputusanku sudah bulat."
Keesokan harinya di waktu sore, Panji masih belum menerima panggilan telepon dari Dewi. Dia mengharapkan Dewi untuk menyesali keputusannya yang terlalu terburu-buru untuk bercerai atau setidaknya menambahkan beberapa persyaratan untuk melakukan perceraian pada perjanjian cerai-nya. Namun, telepon yang dinantikan oleh Panji itu tidak datang juga.
Menyerah, Panji mengeluarkan ponselnya dan memanggil sebuah nomor. Begitu dia terhubung dengan Kusuma, dia berkata, "Tuan Hadi, ada dokumen yang perlu tanda tangan Anda."
"Dokumen apa itu?" Kusuma bertanya dengan nada cuek.
Panji merasa ragu-ragu sejenak sebelum menjawab, "Ini... adalah perjanjian perceraian."
Kusuma, yang sedang sibuk mengurus beberapa dokumen di kantornya, membeku.
Baru pada saat itulah dia ingat bahwa dia punya seorang istri.
Karena Panji tidak menerima tanggapan dari ujung telepon yang lain, dia menyarankan, "Tuan Hadi, mengapa Anda tidak berbicara dengan Nyonya Hadi terlebih dahulu tentang ini?"
"Berapa banyak uang yang dia inginkan?" Kusuma bertanya dengan dingin.
"Dia tidak meminta uang. Dia bahkan ingin menyerahkan kepemilikannya atas properti Anda."
"Dia ingin menyerahkan semuanya?"
"Benar. Tapi Tuan Hadi, saya ingin mengingatkan pada Anda bahwa ayah Anda tidak dalam keadaan yang sehat sekarang. Jika beliau tahu tentang ini, saya merasa cemas beliau akan kehilangan kesabarannya lagi. Apalagi jika ada berita yang menyebar mengenai Anda telah dicampakkan oleh istri Anda, saya khawatir itu akan meninggalkan dampak buruk bagi Anda dan juga pada perusahaan," pungkas Panji dengan tenang.
"Baiklah. Letakkan perjanjian itu di kantorku. Dua hari lagi, aku akan kembali ke Kota Yoya."
"Baik, Tuan Hadi." Panji tidak berani mengatakan apa-apa lagi.
Lagi pula, begitu Kusuma mengambil keputusan, tidak ada yang bisa mengubah keputusannya.
Di Bar Malam Biru di Kota Yoya.
Saat malam tiba, semakin banyak anak muda yang berjalan memasuki bar itu.
Biasanya Dewi memilih untuk mengenakan pakaian kasual. Tetapi karena hari ini adalah hari ulang tahunnya, dia memutuskan untuk mengenakan gaun merah muda yang dihiasi dengan renda. Merupakan sesuatu hal yang tidak biasa baginya untuk berpakaian feminin layaknya seorang gadis. Beberapa teman sekelasnya mengeluarkan ponsel mereka masing-masing dan berfoto dengannya.
Saat mereka menikmati pesta, entah dari mana datang seorang pria bertubuh gemuk yang mabuk dan melingkarkan lengannya di pinggang Dewi.
"Hei, gadis cantik. Ayo kita berdua berfoto juga."
Saat pria itu mulai melakukan pelecehan seksual padanya, Dewi menampar wajahnya dengan sekuat tenaga.
Pria mabuk itu dalam sejekap langsung tersadar. Dia menggertakkan gigi karena marah dan berjalan mendekat, berniat memberikan pelajaran pada Dewi.
Untungnya, teman-teman sekelasnya langsung berdiri di depannya untuk melindungi Dewi dari pria itu.
Dewi adalah seorang gadis yang sangat cantik. Ini bukan pertama kalinya dia mengalami pelecehan dari pria menjijikkan seperti ini.
Salah satu teman sekelas Dewi memandang pria yang mabuk itu dari atas ke bawah dan berkomentar dengan penuh rasa jijik, "Bisakah kamu bersikap baik? Sungguh sangat memalukan melihat seorang lelaki tua sepertimu mengganggu seorang gadis muda."
"Lain kali, lihat bagaimana penampilan dirimu sendiri di cermin sebelum pergi meninggalkan rumah. Bagaimana bisa kamu memiliki keberanian untuk mengajak berfoto seorang gadis yang begitu cantik? Dasar orang gila," ejek yang lain.
Pria itu semakin marah karena sekelompok anak muda menghina penampilannya. Dengan marah, dia meletakkan minumannya dan berteriak, "Beraninya kamu?! Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja!"
Begitu pria mabuk itu mengucapkan kata-kata tersebut, dia melambaikan tangannya. Beberapa saat kemudian, sekelompok preman mengepung Dewi dan teman-teman sekelasnya.
Orang-orang yang menghadiri acara ulang tahun Dewi adalah mahasiswa. Mereka takut akan membuat masalah untuk diri mereka sendiri, jadi mereka tidak berani melakukan keributan di luar kampus.
Sementara itu, mata Dewi melebar ngeri saat menyadari bahwa mereka kalah jumlah dengan para preman itu. Jadi, tanpa ragu-ragu, dia berteriak pada teman-temannya, "Lari!"
Teman-teman sekelasnya juga sadar bahwa ini bukan waktu yang tepat bagi mereka untuk berusaha menjadi seorang pahlawan. Tanpa membuang waktu, mereka mengambil tas mereka dan berlari pergi dari tempat itu.
Para preman tentu saja tidak tinggal diam, mereka berusaha mengejar teman-teman Dewi yang berlari ke segala arah.
Sayangnya untuk Dewi, dia tidak bisa berlari kencang karena dia mengenakan gaun dan sepatu hak tinggi. Bahkan sebelum dia bisa mencapai pintu keluar, dirinya terpisah dari teman-temannya.
Karena itu, dia melepas sepatu yang dia kenakan dan berlari dengan kaki telanjang.
Ketika dia berbelok di sebuah tikungan, matanya tiba-tiba melihat sosok yang akrab.
Sementara itu, para preman yang mengejarnya bergerak semakin dekat. Dewi, yang sedikit mabuk, tidak punya waktu untuk memikirkan rencana, jadi dia hanya melemparkan dirinya ke dalam pelukan pria itu dan memeluknya dengan penuh rasa putus asa. "Sayang!" dia mengucapkan kata itu dengan suara paling centil yang bisa dia kerahkan.
Dengan ekspresi jengkel di wajahnya, Kusuma menatap wanita cantik yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Pada awalnya, dia berpikir bahwa wanita ini adalah seorang artis atau model yang tidak terkenal, yang ingin menghabiskan malam dengannya.
Tapi entah kenapa, wajah wanita ini terlihat sangat tidak asing baginya.
Sementara dia tenggelam dalam pikirannya sendiri, Dewi mendorong tubuhnya agar bersandar di pintu dan berjinjit untuk menciumnya.
Sosok pria yang tinggi itu mengaburkan pandangan Dewi. Di mata orang lain, sepertinya pria itu yang memaksa Dewi untuk menciumnya, berlawanan dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Kusuma sangat marah. Tidak ada yang pernah membuatnya marah seperti ini.
Tepat ketika dia hendak mendorong Dewi menjauh, wanita itu malah membuka kancing kemejanya dan dengan terang-terangan meraba dadanya.
Dewi menegang sesaat ketika tangannya bisa merasakan dada yang keras dan kencang. 'Wah. Benar-benar seorang pria yang berotot!' komentarnya dalam hati.
Para preman yang mengejar Dewi pergi begitu melihat adegan mesra itu. Mereka tidak berpikir bahwa salah satu dari pasangan mesra itu adalah target mereka.
Seolah ciuman yang dia berikan tidak cukup, Dewi menyandarkan diri ke dalam pelukan Kusuma. Begitu dia menyadari bahwa para preman yang mengejarnya itu sudah pergi, Dewi mendorongnya menjauh dan tersenyum manis padanya. "Ups. Maafkan aku. Aku sudah salah mengenalimu sebagai orang lain."
Dengan rasa jijik, Kusuma menyeka lipstik dari bibirnya. Dia bisa mencium bau anggur merah di napas wanita ini dan di mulutnya sendiri, jadi dia menduga wanita itu pasti sebelumnya sempat minum alkohol.
Pada saat ini, Dewi mengangkat kepalanya untuk melihat pria itu. Barulah pada saat itu dia benar-benar melihat wajah pria itu.
Matanya yang gelap dan dalam, alis tebal yang gagah, hidung mancung, dan bibir yang indah yang ada di wajahnya benar-benar menunjukkan keanggunan dan kebangsawanannya.
Namun, matanya sedingin es, dan ketidaksenangannya terlihat jelas di seluruh wajahnya.
Setelah menyadari bahwa pria itu tidak senang dengan apa yang terjadi, Dewi tersenyum padanya dan berkata dengan nada meminta maaf, "Sebagai kompensasi atas apa yang sudah aku lakukan, aku akan memberikan dua juta rupiah kepadamu!"
Di matanya, pria ini adalah pria paling tampan yang pernah dilihatnya. Dua juta rupiah cukup sepadan untuk membayar apa yang telah dia lakukan tadi.
Dewi segera membuka tasnya untuk mengambil uang. Yang mengejutkannya, dia hanya memiliki dua ratus ribu rupiah dan beberapa lembar uang kecil. Terpaku selama beberapa detik, dia berdeham dan menambahkan, "Uh... bisakah aku mendapatkan diskon?"
"Diskon?" Kusuma mengulangi ucapan gadis itu, merasa semakin marah. Semakin lama dia menatap wanita asing ini, semakin dia yakin sebelumnya dia pernah melihat wajahnya.
Tidak membutuhkan otak yang jenius untuk mengetahui bahwa pria yang ada di depan Dewi sedang kesal. Pria ini tampak seolah-olah berencana melemparkan Dewi ke laut untuk menjadi makanan hiu. Jika tatapan bisa membunuh, dia seharusnya sudah mati sekarang.
Tiba-tiba, wajah Dewi berubah menjadi riang. Dia mengeluarkan ponselnya dan mengusulkan, "Aku tahu! Aku bisa mengirimkan uangnya ke rekeningmu melalui ponsel."
Tangannya kemudian mengklik layar, tetapi ponselnya tidak menyala. Rasa panik mulai muncul di dalam hatinya saat dia melihat ponselnya dalam keadaan mati.
Malu, dia mengangkat kepalanya dan memberikan sebuah senyuman canggung pada pria itu. "Sepertinya ponselku tiba-tiba mati..."
Sementara itu, Kusuma sudah berada di puncak amarah. Dia merasa bahwa gadis di hadapannya ini sedang berusaha untuk mempermainkannya. Tepat di mana sedetik lagi Kusuma akan kehilangan kesabarannya, Dewi meletakkan semua uang yang dia miliki sekarang ke tangan Kusuma dan melarikan diri dari sana.
Kusuma tercengang menyaksikan ini terjadi. Dia menatap uang di tangannya dengan tatapan linglung dan kemudian melihat ke arah di mana Dewi baru saja pergi.
Edi Cataka, asisten Kusuma, baru saja pergi untuk memarkir mobil. Ketika dia berjalan menuju ke bar, dia melihat Kusuma sedang berdiri dalam diam dengan ekspresi kesal. Edi menelan ludah dan kemudian berlari ke arah bosnya berada.
Melihat Kusuma memegang beberapa ratus ribu rupiah di tangannya dan mengeluarkan aura yang menakutkan, dengan hati-hati Edi bertanya, "Tuan Hadi, apakah Anda... apakah Anda mau membeli sesuatu?"
Kusuma melirik asistennya dengan tajam dan melemparkan uang itu kepadanya. "Tangkap wanita itu!" perintahnya, dengan gigi terkatup erat.
"Ya, Tuan!" Edi dilanda kebingungan, tapi dia tetap bergerak mengikuti perintah yang diberikan oleh Kusuma.
Pada saat yang sama, Dewi mampu meninggalkan bar tanpa mendapatkan cedera sedikit pun. Tidak butuh waktu lama sebelum dia dapat bertemu kembali dengan teman-teman sekelasnya.
Wajahnya masih memerah saat dia duduk di mobil milik Jaya Handaru. Apa yang baru saja terjadi adalah suatu hal paling gila yang pernah dia lakukan di dalam hidupnya.
'Ya, Tuhan! Aku baru saja memberikan ciuman pertamaku pada seorang pria asing! Apakah yang aku lakukan tadi bisa dianggap sudah menodai pernikahanku? Apakah aku baru saja berselingkuh dari suamiku?'
Setelah berpikir lebih lanjut, Dewi merasa bahwa yang tadi dia lakukan itu bukan suatu masalah besar. Dia telah menandatangani perjanjian perceraian.
Tiba-tiba, temannya Kirani Jenar tersentak kaget dan berseru, "Ya, Tuhan!"
"Ada apa? Apakah para preman itu masih mengejar kita?" Kristina Latif bertanya dengan rasa cemas. Dia sangat ketakutan sehingga dia hampir melompat dari kursi ketika dia mendengar suara Kirani. Dalam keadaan panik, dia buru-buru melihat ke jendela belakang untuk melihat apa yang membuat temannya nampak kaget. .
Kirani mencondongkan tubuh lebih dekat ke Dewi yang masih melamun, dan mengguncang bahunya dengan penuh semangat. "Dewi, apa kamu tahu siapa pria itu?"
Saat itulah Dewi tersadar dalam lamunannya. Dia tahu betul bahwa Kirani adalah seseorang yang mudah terkejut. Namun, dia tidak merasa keberatan dengan itu, karena dia sudah terbiasa sekarang. "Siapa dia?" tanyanya balik pada Kirani dengan ekspresi datar.
"Pria itu adalah pria idaman dari para wanita. Dia adalah CEO terkenal dari grup multinasional di Kota Yoya! Itu Tuan Hadi!"
"Oh... Aku belum pernah mendengar tentang pria itu." Dewi mengambil sebotol air dan meminumnya dengan santai.
"Nama pria itu adalah Kusuma Hadi!" Kirani menekankan ucapannya lagi, berharap dia akan mendapatkan antusiasme yang sama dari temannya. Kusuma adalah sosok legendaris yang tidak bisa dia singgung.
Mendengar nama itu, Dewi menyemburkan minuman yang dia minum. Percikan air yang disemprotkan olehnya itu mengenai wajah Kirani. Dengan ekspresi tak berdaya di wajahnya, dia menatap Dewi, yang entah kenapa dilanda oleh kepanikan.
"Apa? Apakah kamu mengatakan bahwa pemabuk gemuk tadi adalah Kusuma Hadi?!" Dewi bertanya dengan mata terbuka lebar karena terkejut.
Kirani memutar bola matanya ke atas dan menepuk kepala Dewi. "Bukan pria yang itu, bodoh. Aku sedang berbicara tentang pria yang tadi kamu cium!"
"Tunggu, apa?! Kamu tadi mencium Tuan Hadi? Dewi, kamu ini benar-benar suka berbuat onar, ya?" Jaya berkomentar sambil tertawa. Dia adalah orang pertama yang bereaksi setelah mendengar ucapan Kirani. Dia sendiri sebenarnya sangat terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar sehingga dia menginjak pedal gas dengan keras.
Ayahnya bekerja sebagai manajer umum sebuah perusahaan keuangan di Kota Yoya. Selama bertahun-tahun, dia sudah tahu banyak mengenai Kusuma.
Ketika Kristina mendengar nama Kusuma dan mengingat siapa dia, kemudian dia berseru, "Ya ampun! Dewi, kamu baru saja mencium Tuan Hadi! Mendekatlah padaku. Biarkan aku menciummu untuk merasakan bibir Tuan Hadi dan mencium bagaimana aroma tubuhnya!"
Begitu dia mengucapkan kata-kata itu, dia menerkam Dewi.
"Hentikan." Dewi mendorong Kristina menjauh dengan kesal dan menyeka air yang ada di wajah Kirani menggunakan tisu. Dia sangat terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar sehingga dia bahkan lupa untuk meminta maaf kepada Kirani.
"Kusuma jarang muncul di media. Bagaimana kamu bisa tahu itu dia?" tanyanya dengan nada serius.
"Dia bekerja sama dengan ayahku, dan aku pernah bertemu dengannya sekali," jawab Kirani dengan tidak sabar.
"Apakah kamu benar-benar yakin itu dia?" tanya Dewi lagi.
Sebenarnya, sekarang dia benar-benar merasa seperti di ujung tanduk.
"Aku seratus persen yakin dia adalah Kusuma Hadi!"
Meskipun berciuman dengan Kusuma merupakan suatu kehormatan besar, Kirani tidak pernah menyangka seorang Dewi yang tidak pernah tampak tertarik dengan pria, bersikap begitu bersemangat.
Di sisi lain, hati Dewi rasanya seperti mencelos. Dia benar-benar telah membuat suatu masalah besar.
Menyadari Dewi tenggelam dalam lamunannya sendiri, Kirani menepuk-nepuk tangan temannya dengan tujuan untuk menenangkan pikirannya. "Aku dengar bahwa banyak wanita ingin tidur dengan Tuan Hadi, tetapi mereka diusir keluar olehnya. Dewi, kamu sama sekali tidak punya kesempatan untuk bisa tidur dengannya. Tapi jika kita lihat dari sisi baiknya, tidak semua wanita memiliki kesempatan untuk bisa menciumnya."
Dewi menepis tangan Kirani dan dengan murung berkata, "Dia tidak pantas mendapatkannya."
"Terserahlah. Bagaimanapun, kita harus merayakannya. Ayo kita pergi belanja besok! Setelah itu, ayo minta Dewi untuk mentraktir kita makan malam!" teriak Kristina dengan penuh semangat.
Dewi memutar matanya ke atas pada Kristina dan bersandar di kursi belakang, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia tidak memerhatikan antusiasme yang diperlihatkan oleh teman-teman sekelasnya.
Tidak seperti mereka, dia sekarang merasa tertekan.
Tiga tahun lalu dia dan Kusuma menikah. Prosedur pernikahan mereka ditangani oleh asisten Kusuma.
Ketika pernikahan mereka telah sah secara hukum, Kusuma meminta Panji memberikan yang terbaik untuk Dewi tidak peduli apa pun yang dia butuhkan.
Selama tiga tahun itu, baru pada malam ini dia mendapatkan kesempatan untuk melihat seperti apa rupa suaminya.
Kusuma tidak menonjolkan diri dan tidak pernah menerima wawancara apa pun. Media bahkan tidak diizinkan untuk memposting fotonya di Internet.
Tapi suatu hari, media membuat kesalahan dan memposting foto Kusuma. Foto itu adalah foto di mana pria itu sedang memegang lengan seorang artis wanita pada sebuah konferensi pers. Namun, satu-satunya yang ditunjukkan dari Kusuma pada foto itu adalah punggungnya. Pantas saja Dewi merasa punggungnya tampak tidak asing bagi dirinya.
Dan malam ini, dia menciumnya di bar... Jika Kusuma sudah menandatangani surat perceraian mereka, pria itu akan menjadi mantan suaminya sekarang.
Dewi tiba di rumah sekitar satu jam kemudian. Yang membuatnya kecewa, Kusuma masih belum menandatangani surat perceraian itu. Dia menggila setelah mengetahui hal ini. Kegelisahannya tidak hilang bahkan ketika dia akan pergi tidur. Sepanjang malam, dia hanya terus berguling-guling di atas tempat tidur.
Keesokan harinya, Dewi berjalan beriringan dengan Kirani dan Kristina di Plaza Cahaya Internasional. Ada lingkaran hitam di bawah matanya karena semalam dia sama sekali tidak bisa tidur.
Dengan membawa tas belanja di tangan mereka, Jaya dan Dimas Subianto berjalan mengikuti gadis-gadis itu ke mana pun mereka pergi. Mereka telah berbelanja selama berjam-jam, dan para lelaki itu kelelahan.
Tidak tahan lagi, Jaya menepuk bahu ketiga gadis itu. "Hei, nona-nona. Aku belum pernah melihat kalian terlihat begitu bersemangat saat melakukan lari jarak jauh sebelumnya. Mengapa kalian tidak beristirahat sejenak saat berbelanja?"
"Untuk apa melakukan hal itu?" Kristina menunjuk ke toko di depan mereka dan menambahkan, "Kita sudah tiba. Ini perhentian terakhir kita."
Jaya mengenggam erat kedua tangannya dan menghela napas lega. "Terima kasih, nona!"
Dewi, Kristina, dan Kirani berjalan ke dalam toko dan saling berbisik satu sama lain. Ketika pramuniaga melihat kotak lipstik yang ada di tangan Dewi, dia tersenyum padanya dan berkata, "Halo, Nona. Lipstik itu cukup populer di sini. Jika Anda menginginkannya, ambillah. Anda beruntung kami masih memiliki satu barang yang tersisa untuk Anda."
Dewi kemudian melihat label harga pada lipstik itu. Lipstik itu seharga dua belas juta rupiah. 'Haruskah aku membeli ini atau tidak?' tanyanya pada dirinya sendiri.
"Dewi, apakah kamu lupa bahwa kamu kaya? Kamu mengendarai mobil senilai miliaran rupiah. Apa yang membuatmu begitu ragu untuk membeli itu? Lipstik ini harganya hanya lebih dari sepuluh juta rupiah. Kamu lebih dari mampu untuk membelinya. Jika kamu merasa ragu-ragu, aku yang akan memutuskannya untukmu. Belilah!" Jaya mendesak Dewi.
"Mobil yang aku pakai itu bukan milikku. Aku hanya memakainya saja untuk sementara," ucap Dewi.
Sebenarnya, mobil yang biasa dia pakai itu adalah mobil milik suaminya, bukan miliknya sendiri. Dewi tidak punya apa-apa yang bisa dipamerkan.
Saat itu, keributan terjadi tidak jauh di mana mereka berada.
Dewi mengangkat pandangan matanya untuk melihat apa yang terjadi. Tiba-tiba, matanya melebar, dan dia hampir menjatuhkan kotak lipstik yang dia pegang karena kaget.
Beberapa orang sedang menuju ke toko tempat Dewi dan teman-temannya berada. Pria yang berada paling depan mengenakan setelan jas gelap yang terlihat mahal. Pakaiannya sangat menegaskan sosoknya yang tinggi dan lurus. Matanya yang dalam terlihat tenang, namun auranya yang mengesankan membuat orang bergerak mundur dan memberi jalan untuknya.
'Pria ini... Oh, tidak! Dia adalah suamiku! Tapi siapa wanita yang ada di sebelahnya? Wanita itu memiliki kulit putih dan tubuh yang sempurna. Dia benar-benar memesona,' Dewi terkagum-kagum dalam hati.
Merupakan hal yang tidak biasa bagi Kusuma untuk punya pacar, apalagi pergi ke ruang publik bersamanya untuk berbelanja. 'Apakah dia begitu bersemangat untuk bisa memamerkan cinta mereka?' Dewi bertanya-tanya.