Rigel dan Xavier saling beradu pandang, “Emm begini Dok, kami menemukan dia sudah tergeletak di jalan, dan kami pun memutuskan membawanya ke sini.” Jelas Rigel pada sang Dokter .
“Apa tidak ada kerabat atau keluarga yang bisa di hubungi?”
Rigel menggelengkan kepalanya, “Tidak ada Dok, apa keadaaya parah?” tanya Rigel.
“Tidak, dia hanya pingsan akibat kelelahan, sekarang dia sudah sadar di dalam, dan boleh di bawa pulang." Tak seberapa, Arabella keluar dari ruang UGD dengan di tuntun oleh Suster. Arabella sedikit terkejut melihat kedua lelaki tampan itu ternyata yang di sebut oleh suster tadi, ia di dalam tadi sempat bertanya pada suster mengapa bisa ia ada di sini, dan si Suster pun menjawab ‘Mbak di bawa oleh dua lelaki tampan .’
“Ini benaran tidak apa-apa Dok? Apa tidak perlu di rawat inap?” tanya Rigel, mengambil alih lengan Arabella dari Suster dan membantu Bella berdiri tegak.
“Tidak apa-apa Pak, dia hanya perlu rutin meminum vitamin yang telah saya berikan resepnya, silakan di tebus nanti ya.”
Arabella hanya mengangguk . ‘Bagaimana aku mau nebus vitamin, bayar rumah sakit ini saja aku tidak tau bagaimana caranya.’ Batin Arabella lirih dengan wajah sedihnya.
“Saya permisi.”Dokter dan para suster pun pergi dari hadapan mereka.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Rigel yang masih setia memegangi lengan Arabella agar tak terjatuh.
Arabella tersneyum, senyum yang mampu membuat kedua lelaki itu terkesiap akibat kecantikan dari wajah gadis di hadapannya mereka itu.
‘Gila manis banget nih cewe.’ Batin Rigel terpesona.
“Emm terimakasih banyak sudah menolong saya, tapi boleh kah saya meminta tolong lagi Pak?” cicit Arabella pelan, sembari melapaskan tubuhnya dari pegangan Rigel.
“Ya boleh, ada apa?” tanya Rigel, sedangkan Xavier sedari tadi hanya diam sembari bersedekap menatap Bella dari atas sampai bawah.
“Tolong bayarkan biaya rumah sakit ini Pak, saya akan membayarnya nanti, untuk sekarang saya tidak memiliki uang.” Cicit Arabella pelan dengan kepala yang menunduk, sebenarnya ia cukup malu dan tak enak hati mengatakannya, namun ia tak memiliki pilihan lain saat ini.
“Masalah biaya rumah sakit ini kamu jangan khawatir, sudah kami bayar.” Ucap Rigel membuat Mata Arabella berbinar mendengarnya ,“Terimakasih banyak Pak, terimaksih.” Ucap Arabella meraih tangan Rigel lalu menciumnya berkali-kali.
“Eh sudah-sudah, tidak perlu seperti itu.” Ucap Rigel tak enak hati.
“Terimakasih banyak Pak.”
“Gak usah panggil Pak lah, lagi pula aku tidak setua itu buat di panggil Bapak.”
Arabella menggaruk pelipisnya sembari menyengir kuda, membuat kesan imut pada dirinya.
“Sudah kan? Ayo pulang!’’ ajak Xavier pada Rigel.
“Sebentar napa Vi.” Rigel kembali menatap Arabella dari ujung kaki sampai ujung rambut, penampilan Arabella saat ini sungguh memprihatinkan.
“Kamu mau pulang ke mana? Biar sekalian kita anterin.” Ajak Rigel.
Arrabella terdiam dengan wajah yang sedih mengingat saat ini ia tak punya tujuan untuk pulang. “Hey.” Tegur Rigel menyadarkan Bella dari pikirannya.
“Saya tidak punya tempat untuk pulang Mas.” Lirih Bella pelan dengan tangan yang saling bertaut.
Rigel dan Xavier kembali saling pandang dengan kening yang berkerut heran. “Maksudnya gimana?” tanya Rigel.
“Mungkin kalian akan menyebut saya berbohong, tapi ini kenyataannya, saya di usir dari rumah Tante dan Om saya, dan sekarang saya tidak punya tujuan untuk pulang.” Ucap Bella dengan wajah sedih dan malu.
Rigel dan Xavier lagi lagi beradu pandang. “Sebentar ya,”Ujar Rigel pada Bella, setelah itu menarik tangan Xavier untuk menjauh dari Bella.
“Apa?” taya Xavier langsung.
“ Vi kau tidak kasihan? Tudak ada niatan buat nampung dia?” tanya Rigel pada lelaki yang terlihat angkuh itu.
“Ogah! Kau aja sana!” sahut Xavier datar.
“Vi, jadiin dia pengasuh Boy aja gimana?” saran Rigel.
“Aku masih mampu mengasuh Boy seorang diri, lagian pembantu di rumah sudah ada dan bisa membantu ngurus Boy.”
Rigel mengusap wajahnya gusar.“Yaudah kalau gitu biar ku bawa ke apartemen ku saja.”
Mata Xavier terbelalak. “Gila!! Yang ada aku yang kena marah Grandma kalau sampai tau kau membawa perempuan ke apartemen.” Semprot Xavier, Rigel itu bagaikan adik Xavier di keluarga , jadi jika Rigel macam-macam, Xavier yang akan kena marah, karena tak memperhatikan sang adik .
“Ya makanya, bawa di ke rumah mu.” Suruh Rigel lagi.
“Biarin aja, dia kenapa sih!? Kau tidak dengar dia di usir, pasti itu ada sebabnya, bagaimana kalau dia orang jahat? Pencuri?”
“Itu tidak mungkin Vi, lihat lah penampilannya! Manaada tampang-tampang jahat.”
“Gak perduli!”
“Kau ini sungguh tidak punya hati !! Lo gak dengar cerita pilu dia, bayangin kalau itu Boy.” Ucap Rigel sedikit kesal dengan sahabat, Kakak, sekaligus atasannya itu.
Xavier terdiam sesaat, di lihatnya Arabella yang masih setia berdiri di tempatnya tadi. “Oke, aku mengalah lagi kali ini!” sahut Xavier.
“Nah gitu dong!” Senang Rigel. Keduanya kembali menghampiri Arabella.
“Hey, siapa nama mu?” tanya Rigel dengan suara terdengar ramah dan berdahabat.
“Nama saya Arrabella Casandra.”
‘Cantik.’ Xavier langsung menggelengkan kapalanya sendiri membuang rasa kagumnya itu.
“Kamu mau tidak jadi asisten rumah tangga di rumah Bang Vie, kan kata mu, kamu gak punya tujuan untuk pulang, kalau mau jadi asisten di rumah Bang Vi, kamu bisa tinggal di sana.” Jelas Rigel memberikan tawaran.
Wajah Arrabella beseri kegirangan mendengar itu, “Hah? Ini serius? Boleh Mas saya kerja di sana? “ tanya Arabella antusias dengan wajah girang.
“Iya boleh, ya kan Bang?”
“Hm.” Xavier menganggukkan kepalanya sebagai jawaban .
“Alhamdulilah terimakasih banyak Mas, Mas siapa namanya?”
“Aku Rigel, dan dia Xavier.” Ucap Rigel memperkenalkan dirinya dan Xavier. Bella hanya mengangguk menanggapinya.
Setelah menebuskan obat serta vitamin, mereka kembali mebelah jalanan yang basah karena habis hujan.
Tak seberapa mereka tiba di hadapan rumah yang begitu besar dan megah bak istana di dunia kartun. Bella sampai terperangah dengan mulut yanh terbuka lebar ketika keluar mobil melihat rumah semegah itu di hadapannya.
‘Bagus sekali .’ kagumnya.
“Bel, ayo.” Ajak Rigel pada Bella. Sedangkan lelaki bernama Xavier itu sudah melenggang pergi lebih dulu.
“Iya Mas Rigel.” Bella pun mengikuti langkah Rigel di hadapannya memasuki rumah yang di sebutnya sebagai istana itu.
“Ayo sini.” Rigel menarik tangan Bella, serta mengambil alih tas yang di bawa oleh Bella. Lelaki itu sangat baik sekali tak sedikitpun ia merasa jijik pada Bella yang berpenampilan biasa.
Hingga tiba di ruang tamu, di mana ada Xavier yang telah duduk dengan bocah lelaki berumur lima tahun di pangkuannya.
“Bel, ini Boy anak Bang Vier.” Ucap Rigel meperkanalkan bocah lelaki yang duduk di pangkuan Xavier dengan tangan mengalung di leher lelaki arogan itu.
“Boy, perkenalkan ini Kak Bella, dia mulai sekarang akan tinggal di sini, dan akan membantu semua urusan Boy.” Ucap Rigel menjelaskan pada Boy.
“Ihh tenapa ada lagi Daddy! Kan cudah ada Mbok iyem dan Yoyi.” Sahut bocah lelaki denagn pandangan tak suka.
Rigel hanya bisa menalan ludah kasar medapati keponakannya yang begitu mirip dengan sang Daddy nya itu, sama-sama songong. “Boy! Gak boleh gitu dong.” Tegur Rigel .
Sementara Bella hanya tersenyum, ia maklum saja karena Boy masih kecil. Toh seumuran Boy memang lagi nakal-nakalnya, begitu pikir Bella.
Gadis itu celingak-celinguk mencari keberadaan ibu dari Boy itu, namun tak juga ia temukan. ‘Kemana Ibu anak ini?’ Tanyanya di dalam hati.
“Bang di mana kamar Bella?” tanya Rigel pada Xavier.
“Mbok,” panggil Xavier. Tak lama wanita paruh baya pun datang, ia adalah Mbok (pembantu) di rumah itu, Mbok tak seorang diri bekerja di rumah besar Xavier , ada juga Loli yang di sebut oleh Boy tadi.
“Ada apa Tuan?” Tanya Mbok Iyem setibanya di hadapan mereka.
“Antarkan dia ke kamar yang kosong, dia akan bekerja di sini mulai sekarang.” Ucap Xavier.
“Oh begitu.” Mbok Iyem pun tersenyum, lalu menuntun Bella menuju ke arah dapur dimana kamar para pembantu berada .
“Nah ini kamar kamu ya? Yang sebelah ini kamar Loli, dan di sebelah Loli itu kamar saya.” Ucap Mbok Iyem menunjukkan sebuah kamar yang berjejer rapi.
“Iya Mbok. Terimakasih.”
“Ayo masuk.” Keduanya pun masuk ke dalam kamar yang terbilang lengkap dan bagus.
“Salam kenal ya Bella, saya Mbok Iyem, saya sudah lama bekerja sama Tuan Vier.” Ucap Mbok Iyem tersenyum ramah.
“Iya Mbok Iyem, maaf merepotkan.”
“Ah tidak seperti itu, santai saja ya. Kalau kamu butuh apa-apa, bilang saja pada Mbok ya.” Ucap Mbok Iyem sebelum pergi meninggalkan Bella di sebuah kamar yang cukup luas baginya, kamar itu padahal kamar khusus paa asisten rumah tangga, tapi memiliki fasilitas yang lenagkap, ada rajang, lemari,meja rias, serta ber AC.
‘Wow bahkan kamar ku dulu tidak seperti ini.’ Ucap Bella mengingat kembali kamar tidurnya di rumah sang Paman, yang hanya ada kardus dan selembar kain sebagai alas tidur.
Bella mengeluarkan semua pakaiannya, namun sayang semua pakaiannya basah akibat terkena hujan. ‘Yah bagaimana mau berganti baju jika seperti ini?’ lirihnya pasrah. Ia pun memutuskan untuk tidak berganti pakaian, ia hanya membenahi sedikit penampilannya, seperti mengikat rambut panjangnya dan mengelap wajahnya yang terlihat sedikit kusam.
Setalah di rasa sedikit rapi, barulah Bella keluar dari kamar, ia berniat untuk memulai pekerjaannya.
“Bell, sini!” panggil Rigel.
Bella pun tersenyum lalu menghampiri kedua lelaki yang sedang duduk di ruang keluarga tak lupa dengan bocah lelaki yang sedang meminum susu di dalam dot.
“Iya Mas Rigel, ada apa?”
“Loh kok gak ganti baju?” tanya Rigel memperhatikan penampilan Bella.
“Baju saya semuanya basah Mas Rigel, tidak apa-apa, besok baru saya akan berganti pakaian.” Sahut Arabella.
“Pinjamin baju mu Bang,” bisik Rigel pada Xavier yang memangku Boy.
Xavier menatap Bella dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Glek! ‘Sial kenapa badannya begitu sexy?’ batin Xavier lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya dari tubuh Bella.
“Loli!” paggil Xavier dengan suara lantang, tak lama datang seorang wanita yang kira-kura usianya 20 tahun, wanita itu menghampiri mereka, Loli sedikit melirik ke arah Bella.
“Ada apa Tuan?” tanyanya.
“Pinjamkan baju mu padanya.” Titah Xavier.
Loli terlihat kesal menatap Bella yang menundukkan kepalanya. “Ayo ikut aku.” ajak Loli pada Bella.
“Permisi dulu Mas.” Mata Loli terbelalak mendengar panggilan Bella untuk sang majikan, yang menggunakan embel-embel ‘Mas’.
Setibanya di kamar Loli, wanita itu menutup rapat pintu kamarnya, dan menatap tajam kearah Bella.“Heh kamu itu anak baru gak usah sok kecentilan di rumah ini, pakai acara manggil Mas segala, kamu gak sadar kamu itu pembantu, gembel lagi, sebenarnya aku tuh ya ogah minjamin baju, tapi karena Tuan Xavier yang menyuruhnya terpaksa deh.” Ucap Loli panjang lebar, Bella sedikit terkesiap mendapati perlakuan Loli yang tak menyukainya itu.
“Nih pakai ini!” Loli melemparkan satu lembar baju kaos berwarna putih dengan celana pendek.
“Emm terimakasih Mbak.” Ucap Bella.
“Ingat ya! Kamu jangan banyak tingkah di sini! Kamu itu anak baru! Udah sana keluar! Ganti baju di kamar mu!” perintah Loli, Bella pun keluar kamar Loli dan masuk ke dalam kamarnya yang berseblahan dengan kamar Loli.
Dengan cepat Bella menganti pakaiannya dengan baju milik Loli. “Apa celana ini tidak terlalu pendek?” monolog Bella menatap pantulan dirinya di depan cermin besar, saat ini ia semakin terlihat seksi, karena badan berisinya memakai baju milik Loli yang memiliki badan kecil, alhasil baju Loli menjadi kentat di badannya, hingga membuat lekuk badannya semakin terlihat, celana kain yang di berikan Loli pun semakin membuat penampilan Bella terlihat seksi.
Setelah itu Bella pun memutuskan keluar kamar. Ia berniat pegi ke dapur untuk mebantu Mbok Iyem dan Loli, namun belum samapi ia di dapur suara Xavier menghentikan langkahnya.
“Apa tidak ada baju yang lebih pendek dari itu?” Sinis Xavier menatap tubuh Bella dengan tatapan berkabut nafsu.
“Maaf Tuan, tapi Mbak Loli yang meberikannya bukan saya yang memilih.” Sahut Bella, ia sengaja mengganti pangilannya setelah di marah oleh Loli tadi.
Glek!
‘Sial!’ Xavier menelan ludahnya susah payah, lalu berjalan cepat keluar, “Jaga Boy, saya keluar sebentar!” perintahnya.
“Siap Tuan.” Sahut Bella.
Sedangkan lelaki itu berjalan cepat kearah luar dengan kaki panjangnya, tangannya merogoh saku celana yang ia kenakan saat ini, lalu mengambil benda pipih berwarna hitam miliknya.
“Halo sayang kenapa kau mebutuhkan ku malam ini?” Goda wanita di seberang telpon sana.
“Hm! Cepat datang ke hotel!” sahut Xavier. Tut! setalah itu dengan cepat ia pergi mengendarai mobil mewahnya.
Setibanya di hotel mewah miliknya sendiri, Yups!! Xavier merupakan pemilik hotel itu. Ia langsung masuk ke dalam, “Apa dia sudah datang?” tanya Xavier pada wanita cantik si resepsionis hotel .
“Dia sudah menunggu di kamar biasa Pak.” Sahut Resepsionis itu.
“Hm,.” Xavier langsung melangkah menuju kamar 201 kamar di mana biasa ia bercinta dengan para wanitanya. Xavier merupakan lelaki maniak s*x tak banyak yang tau mengenai hal itu. Dan sudah banyak wanita yang ia tiduri, bukan ia yang memaksa tapi para wanita itu sendiri lah yang bertekuk lutut memohon untuk di tiduri olehya, karena Xavier bagaikan dewa Yunani bagi mereka, mereka samapi rela di tiduri begitu saja oleh Xavier.
Di sebuah kamar hotel , terdengar suara desahan seorang wanita yang kini menggerakkan badannya dengan begitu liar di atas tubuh Xavier, sedangkan lelaki itu hanya diam, membiarkan wanita yang kini bergerak liar itu mengejar kepuasannya sendiri.
‘Sial! kenapa bodynya selalu terngiang.’ Xavier, lelaki itu tak merasakan kepuasan meskipun sedang bercinta dengan salah satu model ternama, pikirannya terus tertuju pada sosok Bella, lebih tepatnya pada body Bella yang di lihatnya di rumah.
“Akhhh!” jerit Gebi si model cantik jelita, wanita itu terbaring lemah di samping Xavier.
Xavier bangkit dan memakai celananya, hanya celana, karena bajunya tak di lepasaknnya. “Mau kemana?” tanya Gebi lemah menatap sosok lelaki tampan yang selalu di idolakannya itu.
“Pulang, kau tidak memuaskan ku!” Ucap datar lelaki arogan, Xavier Andara Yin Yue.
“Ta-tapi kita belum selesai Xa.”
“Aku tidak akan membuang-buang waktu ku hanya untuk memuaskan mu!” Desisnya lalu melenggang pergi meninggalkan model cantik yang kini terbaring lemah tanpa busana di kasur hotel.
Xavier berjalan dengan angkuhnya, tujuannya saat ini adalah bar yang tersedia di hotel miliknya itu. “Seperti biasa.” Ucapnya pada bartender.
“Siap Tuan.” Satu gelas minuman beralkohol pun di serahkan bartender itu pada Xavier.
“Ekhem, mau aku temani,” seorang wanita berpakaian terbuka menghampiri Xavier, wajahnya cantik sepertinya berdarah China juga. Satu hal yang pasti, wanita itu adalah penghuni hotel miliknya. Xavier menatap intens wanita itu dari atas sampai bawah. ‘Masih bagus body wanita itu(Bella)’ gumam Xavier membatin, lalu memalingkan wajahnya ke lain arah, wanita yang berusaha mendekati Xavier itu sadar jika Xavier tak tertarik padanya , ia pun langsung pergi tanpa berpamitan.
****
“Daddy mana?!” teriak Bocah lelaki yang kini berdiri di kasur berseprai kartun, tangannya bersedekap dada, dengan raut wajah kesal menatap Bella.
“Boy Sayang, Daddy kamu lagi keluar sebentar, ada keperluan , Boy sama Tante aja ya?” Bujuk Bella sembari berjalan mendekat kearah bocah lelaki yang wajahnya sangat mirip dengan wajah Xavier, bedanya Boy versi anak kecil dan Xavier dewasa.
“Boy mau cama Daddy! Boy gak mau cama kamu!” jawab bocah itu masih setia bersedekap dan menatap tajam Bella.
‘Aduh kenapa anak orang kaya selalu seperti ini, cerewet.’ Batin Bella.
“Boy, harus makan dulu nanti baru kita tunggu Daddy kamu, gimana?”
“No! Boy mau makan cama Daddy!”
Bella memejamkan matanya dan menarik nafas dalam, mencoba menambah kesabarannya.
Pintu kamar di buka perlahan, “Gimana mau Bel?” tanya Mbok Iyem sembari masuk.
Bella menggelengkan kepalanya dengan wajah lesu. “Masih kekeuh mau sama Daddy-nya Mbok.” Sahut Bella.
“Boy ganteng, makan sama Mbok Iyem mau?” bujuk Mbok Iyem dengan suara halus.
”No! mau cama Daddy!”
Bella menelisik kamar bocah lelaki itu yang terlihat lucu dengan nuansa kartun Spons berwarna kuning dan bintang laut yang berwarna merah muda. Bella tersenyum ketiak sebuah ide muncul di benaknya, gadis itu duduk di tepi ranjang Boy.
“Sini deh Tante bisikin,” panggil Bella melambaikan tangannya ke arah Boy.
Boy terlihat ragu-ragu hendak mendekat.
“Ayo gak papa, sini.”Akhirnya bocah lelaki itu pun luluh, ia mendekat kearah Bella.
“Kamu suka makan kue gak?” tanya Bella.
“Cuka.”
“Tante bisa bikin kue yang enak banget buat Boy, kuenya gambar sponsboob loh.”
Mata Boy terlihat berbinar.”Benalkah?”
Bella mengangguk antusias, “Hum! Makanya Boy makan dulu, setelah itu baru Tante bikin kan kuenya, bagaimana, setuju?” Bujuk Bella.
“Janji bikin kue ?”
“Janji.”
“Hm, baikyah!” Bella tersenyum senang akhirnya ia berhasil membujuk majikan kecilnya itu.
“Gedong!” pinta Boy menjulurkan kedua tangannya pada Bella.
“Oke, ayo Tante gendong!” dengan senang hati Bella menggendong bocah lelaki yang beratnya tak seberapa itu. Mbok iyem pun ikut tersenyum senang melihat Bella berhasil mebujuk Boy dengan cepat, pasalnya selama ini, mereka selalu membutuhkan waktu yang lama untuk membujuk bocah lelaki itu.
***
Sesampianya di meja makan, Bella langsung mengautkan makanan untuk majikan kecilnya itu. “Silahkan Boy.”
“Tidak cuka cayur! Mau cama ayam goyeng caja.”
Bella menatap Mbok Iyem.
“Memang seperti itu Bell, dia sangat susah sekali makan sayur.” Ucap Mbok Iyem memberitahu, Bella pun hanya mengangguk paham.
Seperti yang telah di janjikan oleh Bella, saat ini gadis itu sudah berkutat dengan berbagai macam bahan untuk membuat kue, dengan di temani Boy yang duduk meperhatikannya di meja makan, dengan kaki menjuntai kebawah.
“Tante, Boy mau dot!” rengek Boy pada Bella.
“Mau Dot? Sebentar ya Sayang, Tante cuci tangan dulu.” Bella dengan cepat mencuci tangannya setelah itu membuatkan Boy susu.
“Ini dot untuk Boy, bilang apa?” Ucap Bella mengajari bocah itu berucap terimakasih.
“No!” Sahut Boy acuh, lalu menyumpal mulutnya dengan Dot berisi susu.
Mulut Bella terbuka mendengar sahutan bocah kecil itu. ‘Kecil-kecil sudah arrogant.’ Gumam Bella dalam hati.
“Ya sudah Boy tunggu di sini ya, Tante lanjut bikin kuenya.” Bocah itu menganggukkan kepalanya dengan dot yang menyumpal mulut.
Beberapa menit berlalu , akhirnya kue buatan Bella telah di masukkan ke dalam sebuah open, “Boy, kok di-‘’ Bella menghentikan ucapannya ketika menoleh mendapati Boy yang tergerak terbaring tidur di atas meja makan, ia dengan perlahan menghampiri bocah lelaki yang kini tertidur di atas meja makan dengan dot yang terlepas dari mulut. “Uhh kacian anak ganteng,” Bella dengan perlahan menggendong tubuh kecil itu, hendak membawanya ke kamar Boy sendiri.
“Loh tidur Bell?” tanya Mbok Iyem yang baru tiba di dapur.
“Iya Mbok kelelahan sepertinya, Bella tidurin dulu.” Ujar Bella.
“Iya Bell.” Bella pun berlalu dengan menggendong Boy, membawanya naik ke lantai atas di mana kamar bocah lelaki itu berada, kamarnya tepat berseblahan dengan kamar Xavier sang Daddy.
Dengan perlahan Bella meletakkan tubuh bocah lelaki yang saat ini tertidur, “Enghh Daddy.” Gumamnya dengan mata yang terpejam.
‘Kasihan Boy.’ Tutur Bella pelan membelai sayang pipi gembul lelaki kecil itu. Dan dengan perlahan ia bangkit dari kasur namun tangannya di tahan oleh Boy.
“Daady, tetap di cini.” Bella terdiam, dan dengan terpaksa ia kembali ke samping Boy dan ikut berbaring di sana, dengan tangan Boy yang menggenggm erat lengannya.
Cup!
Di kecupnya sayang pipi gembul Boy, hingga kantuk pun menyerangnya membuat matanya dengan perlahan tertutup, dan tertidur.
*
Mbok Iyem yang mendengar suara open berbunyi langsung saja mematikan open itu, lalu ia pergi untuk memberitahu Bella, namun ketika ia membuka kamar majikan kecilnya itu, ia mengurungkan niatnya untuk meberitahu Bella lantaran melihat Bella yang terlelap dengan Boy yang memeluk lengan Bella.
‘Biarkan saja lah, aku simpan saja di dalam kulkas, besok pagi baru lanjutkan, gak tega juga aku, Bella juga pasti masih lelah.’ Batin Mbok Iyem dan kembali menutup pintu.
****
Xavier melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, tangannya sesekali memijit pangkal hidungnya sendiri, guna meredakan rasa pusing di kepalanya efek dari minuman beralkohol yang ia tegak banyak di bar hotel miliknya tadi.
Tak seberapa ia telah tiba di kediamannya yang sangat mewah bak istana itu, ia langsung masuk ke dalam rumah, tujuannya adalah kamar sang putra, Boy Andara Yin Yue. Dengan sisa kesadarannya yang masih tersisa, Xavier langsung saja masuk ke dalam kamar Boy, namun tatapannya tertuju pada sosok wanita yang kini juga sedang terlelap bersama sang anak, di lihatnya keduanya saling berpelukan.
Glek!
“Akhh Shit!” tangannya terasa gatal hendak meraba bokong berisi Bella yang kini menggoda imannya, di tamabh baju kaos gadis itu terangkat ke atas hingga terlihatlah sedikit perut rata , putih bak porselnnya.
‘Akhh sialan!’ rutuk Xavier ketika ada sesutu yang mengeras di bahwah sana. Kesadaran lelaki itu mulai menipis, semntara kabut nafsu sudah mengenadalikan dirinnta, hingga tanpa sadar tangan kekaknya itu terulur meraba bokong padat milik Bella, di remasnya pelan.
“Emphhh!” lenguh Bella dengan mata yang terpejam dan sedikit bergerak hingga pelukannya pada Boy terlepas. Xavier semakin berani mendengar suara desahan keluar dari mulut Bella, membuat kelakiannya semakin bangkit dan bergairah, tanpa basa basi di tindihnya tubuh Bella, dan mulai di ciuminya leher gadis yang masih tertidur itu. Tak hanya mengecup tetapi meberikan gigitan kecil hingga menimbulkan bercak merah di sana.
“Manis sekali.” Gumamnya menjilat bibirnya sendiri, dengan tangan yang bergrilya di bagian dada Bella yang masih terbungkus rapi.
Bella yang mulai merasa terganggu dengan perlahan membuka matanya, alangkah kagetnya ia mendapati sang majikan ada di atasanya .
Bruk! Bella dengan cepat mendorong tubuh Xavier hingga lelaki itu menjauh dari tubuhnya, dan dengan cepat bangkit dari baringnya.
“Tu-tuan apa yang sedang anda lakukan?” tanya Bella ketakutan, badannya bergetar takut dengan kedua tangan menyilang di depan dada.
Sedangkan Xavier meremas rambutnya sendiri, lelaki itu terduduk di pinggir ranjang, rupanya dorongan Bella sedikit memberikan kesadaran padanya, “Pergilah! Cepat!” usirnya pada Bella , khawatir ia akan lepas kendali lagi membiarkan gadis itu terap di kamar.
Bella pun langsung mengambil langkah seribu, keluar dari kamar Boy, ia masih kaget dengan yang di lakukan Xavier padanya tadi. ‘’Sepertinya Tuan Xavier sedang mabuk, makanya seperti itu aku juga mencium aroma alkohol dari mulutnya.” Monolog Bella berjalan cepat menuju kamarnya yang berada di bawah tepatnya didekat dapur, karena kamar khusus para asisten rumah tangga memang berada di sana.
Bella dengan cepat masuk ke dalam kamarnya sendiri dan menguncinya rapat-rapa, takut lelaki itu menerobos masuk ke kamarnya, karena orang yang tak sadarkan akibat minuman keras tak bisa di kendalikan, begitu pikir Bella.
‘Ya tuhan takut banget.’ Lirih Bella ketakutan di dalam kamarnya.
*
Sedangkan Xavier terus mencoba tetap sadar, sementara itu bayangan tubuh indah Bella seakan melekat di benaknya, seakan menghantui dirinya, hingga membuat gejolak gairah kembali menguasai saat ini, ia pun memilih masuk kedalam kamar mandi, menuntaskannya sendiri.
***
Pagi hari pun tiba Bella terbangun dari tidurnya, rupanya sakin takutnya ia tadi malam hingga tak sadar jika ia tertidur dalam posisi duduk.
Brak! Brak!
Bella terperanjat ketika mendengar suara nyaring berasal dari puntu kamarnya.
“Bella! hei! Bangun!” teriakan Loli masuk ke dalam kamar, Bella pun dengan cepat berjalan menuju pintu dan mebukanya.
“Bagus! Belum dua puluh empat jam kamu di sini sudah banyak tingkah kamu ya!! Bangun! Banyak pekerjaan menanti!” sembur Loli bercekak pinggang memerahi Bella.
“Iya Mbak, maaf.” Bella pun langsung keluar kamarnya dan menuju dapur, sebleumnya ia masuk ke dalam kamar mandi terlebih dahulu untuk menuci wajah.
“Selemat pagi Bell.” Sapa Mbok Iyem ketika Bella keluar dari kamar mandi, wanita paruh baya itu sibuk dengan masakannya.
“Pagi Mbok, maaf ya Mbok Bella kesiangan bangunnya.”
“Tidak masalah, kan kamu baru, itu juga efek dari kelelahan, sekarang kamu mandi saja dulu.” Suruh Mbok Iyem dengan sangat ramah.
Bella menggelengkan kepalanya, “Saya membantu Mbok saja dulu, mandi belakangan saja.”
“Ya sudah, oh iya Bell itu kue buatan kamu Mbok taruh di lemari pendingin tadi malam gak enak membangunkan kamu.”Ujar Mbok Iyem.
“Oh iya Mbok, terimakasih ya.”
“Kamu lajutkan saja kue itu takutnya si Tuan Boy nanti cari kuenya.”
Bella pun mengangguk paham , “Iya Mbok.” Baru saja Bella membuka lemari pendingin, suara lelaki yang tadi malam di takutinya menghetikan pergeraknya.