Rumah bak istana yang megah itu berdiri di tengah lahan yang luas, dikelilingi oleh taman yang rimbun dan bunga-bunga yang indah. Arsitektur rumah ini mencerminkan perpaduan antara gaya klasik dan modern, dengan detail ukiran yang menakjubkan di setiap sudut dan furnitur yang mewah di dalamnya.
Namun di balik kemewahan yang dimiliki, rumah ini juga menyimpan banyak rahasia. Di kamar tidur utama, tempat Azizah dan suaminya berbagi cinta, suasana menjadi lebih gelap dan misterius. Dinding-dinding kamar ini dihiasi oleh lukisan-lukisan eksotis yang menggambarkan keintiman pasangan, dan di atas ranjang yang besar, seprai sutera hitam yang lembut menambahkan nuansa sensual. Di ruang ini, Alex menunjukkan sisi lain dirinya yang liar dan penuh gairah.
Di bawah cahaya redup lampu tidur, tubuh mereka berpelukan erat, menciptakan harmoni antara kelembutan dan keganasan yang tak terduga. Namun, tak seorang pun di luar kamar ini yang mengetahui apa yang terjadi di balik pintu yang tertutup rapat.
"Umiii, kapan selesai datang bulannya, Abi udah ngga bisa tahan nihh !" ucap Alex, sang suami dari Azizah.
"Abi, mau di kulumin ngga ?" tawar Azizah, dia langsung menghampiri Alex di atas kasurnya.
"Ya udah, tapi harus enak yah !" ucap Alex.
Azizah tidak melepas kimono mandinya, dan langsung saja berada di perantara pahanya Alex.
Dengan lembut, Alex mengelus objek yang mulai menegang di tangannya, menyebabkan sensasi nikmat mulai terasa. Setelah objek tersebut semakin keras, Azizah membuka mulutnya selebar mungkin agar dapat menampungnya.
"Ah!" jerit Alex pelan, ketika merasakan ujung objek tersebut mulai ditutupi oleh bibir Azizah.
Perlahan-lahan, sensasi nikmat yang dirasakan Alex semakin meningkat, dan Azizah pun semakin bersemangat untuk mengakomodasi objek yang semakin keras itu. Namun meskipun berusaha sekuat tenaga, Azizah hanya bisa menampung objek tersebut sampai setengahnya saja.
"Akhh!" pekik Azizah ketika Alex mulai menekan kepalanya. Air mata Azizah kembali mengalir, bukan karena benci atau marah pada Alex, melainkan karena desakan objek yang semakin ingin memasuki lebih dalam. Dalam kepasrahan, Azizah membuka mulutnya lebih lebar, dan dia memejamkan matanya seiring dengan gerakan maju mundur objek tersebut di dalam mulutnya.
Glok glokk glokk glokk glokk!
Bahkan suara desakan itu semakin nyaring memenuhi ruangan kamar mereka.
Selang beberapa menit, akhirnya Alex merasa dia akan mendapatkan puncak kenikmatannya, kembali dia tekan kepala Azizah, dia tahan sampai,
Crooot croooottt croooottt croooottt!
Cairan kental putih itu menyemprot dengan kuat ke dalam mulut Azizah.
"Huuuppp!" napas Azizah tercekat, kaget akan semprotan yang begitu dahsyat, sehingga matanya yang tadinya terpejam, seketika melotot. Azizah melepaskan kulumannya, lalu menelan cairan kental tersebut. Glekk! Sementara itu, Alex mulai terpejam dan kembali tertidur dengan pulas. Inilah kehidupan Alex saat ini: makan, tidur, jalan-jalan, dan menikmati pelayanan istrinya yang setia.
Namun, kekayaannya tak akan pernah habis, sebab setiap bulan, dia mendapat keuntungan investasi dari beberapa orang yang pernah dibantunya membangun bisnis. Sungguh, tak ada yang mustahil jika Sang Pencipta telah menentukan nasib. Setelah menunaikan tugasnya, Azizah kemudian merenungi wajahnya di depan meja rias, mempertanyakan nasib dirinya dan apakah akan ada perubahan dalam hidupnya bersama suaminya yang misterius ini.
"Tuhan, kuatkan hambamu untuk meladeni nafsu suamiku, dan aku mohon, berikan dia kesabaran!" Doa memohon dipersembahkan Azizah dalam hatinya.
Setelah memoles wajahnya dengan make up secukupnya, lantas mengenakan pakaian syar'i, Azizah merasa telah siap untuk menghadapi hari ini. Hidup bersama suami yang temperamental memerlukan kesabaran yang tak tertandingi, tapi di sisi lain dia ingin berupaya menjadi istri yang baik.
Dalam hembusan napas, Azizah berjalan ke arah teras rumahnya, menikmati udara pagi yang segar.
"Mbak, Marissa mana?" tanya Azizah lembut kepada Siska, baby sister yang bekerja di rumah mereka.
"Masih tidur, Non!" jawab Siska seraya tersenyum simpul. Setelab itu, Siska berlalu masuk ke dalam.
Marissa adalah anak kandung Alex, tapi bukanlah anak kandung Azizah sendiri. Namun, bukan berarti Azizah tak mencintai anak tiri tersebut. Meski tahu tak pernah bisa menggantikan kehadiran ibu kandung Marissa, namun cinta Azizah padanya tulus dan tanpa syarat, seakan-akan Marissa adalah darah dagingnya sendiri.
Saat Azizah tengah termenung, tiba-tiba terbersit ide di benaknya untuk membuat suaminya, Alex, tak terlalu sering meminta jatah kepadanya. Ia ingin agar Alex menciptakan sebuah bisnis jual beli agar waktu luangnya tak terlalu banyak.
"Kira-kira apa ya yang cocok untuk suamiku?" gumam Azizah dalam hati.
Azizah tentu saja kebingungan, pasalnya selama mereka menikah, ia tidak sempat mengamati bakat-bakat yang dimiliki oleh Alex, kecuali kepiawaiannya di atas ranjang.
"Hmm, nanti aku tanyakan langsung saja deh!" tambahnya lagi di dalam batin.
Pada saat yang sama, di ruangan yang berbeda, seorang wanita juga tengah termenung. Wanita itu bernama Santi, asisten rumah tangga keluarga Alex.
Namun, dibandingkan merenungkan hal yang sama dengan Azizah, Santi justru merasa haus akan belaian seorang pria. Tak hanya itu, pikirannya bahkan melayang untuk membayangkan Alex, majikannya, memenuhi hasrat terpendam yang kian menggebu di dalam hatinya. Ketegangan emosi Santi tersirat dalam setiap tarikan napasnya, seolah-olah berharap ada keajaiban yang dapat mewujudkan keinginannya yang terlarang tersebut.
"Majikan ini benar-benar nggak ada penghargaannya ya, main di ruang tamu, main di dapur, main di mana-mana. Apakah mereka nggak sadar kalau di rumah ini ada orang lain juga, huh!" keluh Santi dalam hati.
"Non Azizah itu beruntung sekali, bisa mendapatkan suami kaya raya dan sangat memenuhi hasratnya," gumam Santi sambil merenung.
Tak bisa dipungkiri, rasa iri dan penasaran muncul di benaknya.
"Eh, kok tiba-tiba perasaan ini timbul ya?" Santi mencoba mengalihkan perhatiannya.
Pagi itu, Santi meminta izin kepada majikannya untuk istirahat, dia merasa tidak enak badan. Padahal, sebenarnya dia hanya ingin menenangkan dirinya agar terbebas dari godaan yang menghantui pikirannya.
Santi saat ini berstatus janda tanpa anak, setelah memutuskan untuk meninggalkan suaminya yang tak mampu memberikan kepuasan hati. Hampir empat tahun lamanya, Santi belum pernah merasakan belaian kasih dari pria manapun lagi. Kini, rasa penasaran yang membayang-bayangi hatinya dianggap sebagai karma yang harus dihadapinya.
Santi merasa tak bisa menahan hasrat yang menjalar dalam tubuhnya di pagi itu. Semakin ia mengusap bagian sensitifnya, semakin ia merasa terbakar oleh nafsu tak tertahankan. Santi menyingkap gaun tidurnya dan menurunkan bagian dalamannya, seakan tak sabar lagi. Ia mengambil alat pemuas rasa keingintahuan yang dipesannya dari toko daring, berbentuk unik dan misterius. Dengan menahan rasa malu dan penasaran, Santi membayangkan mainan itu adalah penjelajah yang melintasi ruang dan waktu demi menemukannya di dunia nyata. Dalam lamunan, ia membisikkan
"Oh, jelajahi tiap inci tubuhku, peluk dan buai aku dalam lautan kenikmatan ini!" Di saat yang sama, Santi menjelajahi batas tubuhnya menggunakan alat tersebut.
Perlahan namun pasti, irama permainannya semakin intens, persinggungan terasa menggairahkan. Dan dalam sekejap, Santi merasa terbang tinggi ke langit ketujuh, menembus awan-awan yang menghiasi dunianya. Tak henti-hentinya, ia merasa berputar dalam pusaran perasaan yang tak mampu dijelaskan oleh kata-kata.
Santi merasakan gelombang kenikmatan yang semakin memuncak, seolah-olah puncak kesenangan itu ada di ambang pintu. Suara lembut yang memecah kesunyian terdengar semakin keras, menggema di sekitar ruangan itu. Perlahan, ia merasakan bagaimana basah dan licinnya benda silikon itu semakin mempercepat irama gerakan tangannya. Tak terduga, pintu kamar terbuka tiba-tiba.
Seorang pria setengah baya, berusia empat puluh tahun, berdiri di ambang pintu. Dia adalah Pak Herman, yang bekerja di rumah Alex sebagai penjaga pintu pagar atau menjaga keamanan. Tujuan dia menghampiri Santi hanyalah untuk mengantarkan sarapan, namun ketika mendengar suara desahan yang tertangkap telinganya, rasa ingin tahu dan kekhawatiran bercampur aduk di benaknya. Akhirnya, dia nekat membuka pintu tanpa mengetuknya.
Awalnya, pikiran liar membayangkan kalau Santi sedang terlibat adegan mesra dengan majikannya, namun ternyata apa yang terjadi di hadapannya jauh dari sangkaan. Di situ, Santi tengah merasakan pelampiasan hasrat semata, terjerat dalam maut cinta yang terlarang.
Pak Herman mengintip kegiatan Santi, hasrat terlarangnya seketika memuncak. Tanpa berpikir panjang, dia masuk dan mengunci pintu dari dalam. Santi sontak menghentikan aksi yang dilakukannya.
"Neng, ayolah Neng, tolong... Sekali saja, Bapak sangat rindu kenikmatan itu. Sudah hampir sepuluh tahun Bapak tak pernah merasakan kebahagiaan itu lagi," ujar Pak Herman sembari melangkah mendekati Santi.
Herman meratapi kesedihan yang menghantuinya sejak istrinya meninggal akibat kecelakaan kapal sembilan tahun lalu.
Namun seketika wajah Santi memerah saat ia merasa perlu mengabulkan permohonan pak Herman. Sebagai pria duda, Pak Herman berhak merasakan kebahagiaan yang telah lama hilang dalam hidupnya. Namun, ada rasa enggan dalam hati Santi untuk menuruti perintah pria itu.
"Bapak, hanya sekali ini ya!" gumam Santi pelan, hatinya mencoba menahan rasa gugup dan takut.
Dia sadar akan kebutuhan dirinya sendiri akan kenikmatan, namun dia juga berharap pak Herman bisa menahan keinginannya dengan adanya batasan ini. Setelah perjanjian tersebut terucap, perasaan Pak Herman dan Santi memenuhi udara ruangan itu dengan berbagai ragam emosi, merasa was-was akan apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun begitu, Santi berusaha menguatkan hati, meyakinkan dirinya bahwa sepertinya inilah langkah terbaik bagi mereka berdua untuk saling melupakan rasa kesepian yang menghampiri.
Mendengar ucapan yang menggoda itu, semangat Pak Herman langsung memuncak. Dengan cepat, ia melorotkan celana dan celana dalamnya, memperlihatkan kemaluannya yang hitam berukuran kira-kira dua belas sentimeter.
Namun, kekurangan itu seolah terbayar dengan kelebihan yang dimilikinya, yaitu kemampuan bertahan lebih lama daripada pria pada umumnya. Sementara itu, Santi belum menyadari apa yang akan terjadi dan bagaimana Pak Herman akan memuaskan hasratnya dengan durasi permainan yang cukup lama.
Kedua mata Santi membulat melihat kejutan yang diperlihatkan Pak Herman, namun rasa penasaran dan ketidakberdayaan mulai menyelimuti hatinya. Apakah dirinya akan mampu menghadapi kejutan besar dari Pak Herman atau justru akan menyerah di tengah jalan? Suasana di ruangan tersebut mulai terasa tegang dan penuh dengan aura hasrat yang mencekam.
Pak Herman menatap Santi dengan tatapan penuh nafsu, seolah-olah ingin segera melahapnya. Di sisi lain, Santi mencoba menguatkan hatinya, bersiap menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya dalam permainan panjang ini.
"Pendek sekali, Pak!" ucap Santi tanpa merasa sungkan.
"Jangan salah sangka, Neng, tak selalu ukuran yang menentukan kepuasan, tapi durasi dan teknik yang lebih menentukan!" timpal Pak Herman dengan entengnya.
Mendengar kata-kata itu, Santi merasa tertantang. Dia melepas bajunya hingga kini berdiri dengan penuh percaya diri. Pak Herman menelan ludah, terpesona dengan keindahan tubuh Santi yang terpampang di hadapannya. Melangkah maju, Pak Herman memperhatikan setiap lekuk tubuh Santi, mencoba menilai keindahan yang berbeda yang tersembunyi di baliknya.
Tak bisa menahan diri lagi, dia memandang gumpalan dada Santi dengan penuh nafsu, membayangkan betapa menggoda rasanya. Pak Herman ingin mencoba menjelajahi setiap bagiannya, merasakan sensasi yang berbeda di setiap sentuhan. Tetapi tanpa tergesa-gesa, mereka berdua bermain dalam gairah, saling memberikan perhatian yang dalam kepada satu sama lain. Masing-masing berupaya menggali keintiman yang lebih dalam lagi, menciptakan pengalaman bersama yang akan tetap mereka ingat sepanjang masa. Dalam pergulatan yang bergairah, mereka menemukan cara untuk saling mengeksplorasi, menjalin ikatan emosional yang bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
"Aaahh, Pak, kocokin juga!" pinta Santi dengan suara parau, ketika Pak Herman mulai meraba bagian sensitifnya.
Tubuh Santi mulai bergoyang, tangannya gemetar dan meraih kepala Pak Herman yang tengah mencumbui dada mungilnya. Detik demi detik, hembusan nafas Santi kian memburu, menyatakan kenikmatan yang tak terduga.
"Ugh... Pak, aku... terasa...ah!" tersedu Santi, menahan erangan manis saat pak Herman semakin terampil dalam memberikan sentuhan ajaibnya.
Ketika ia merasa kenikmatan itu akan memuncak, Santi merasakan rasa hangat yang menyebar ke seluruh tubuhnya, dan dadanya berdesir memikirkan momen yang akan terjadi berikutnya.
"Santi ingin lanjut, Pak," bisiknya mesra sambil menarik pak Herman agar melanjutkan permainan gairah mereka. Perbuatan terlarang itu seolah mengalir dengan begitu kuat dan tak terbendung.
Berhubung pak Herman memilki tubuh seperti pendekar atau pendek dan kekar, jadi dia tidak bisa mengambil posisi berdiri. Jadi dia meminta Santi mengambil posisi rebahan di atas tempat tidurnya itu.
"Pak, cepetan pakk, aku ngga tahan nih !" pinta Santi, dia tidak peduli lagi dengan siapa ia memohon, dan dia tidak peduli dengan gengsinya bermain dengan pria tua.
Pak Herman, sejenak membasahi ujung kepala rudalnya dengan ludahnya, hingga membuat Santi berceloteh.
"Pak, ngga perlu di basahin, itu pasti gampang masuknya !" ucap Santi.
Jlub!
Benar saja, rudal pak Herman masuk dengan mudahnya, bagaikan benda kecil yang nyemlung di air.
"Ayo pak, garuk tempikku pak, sssttt !" pinta Santi lagi.
Plokk plok plok plok plok!
Pak Herman yang merasa di remehkan, langsung memompa sangat cepat.
Benturan paha mereka sampai - sampai menimbulkan bunyi yang nyaring.
"Aaahh, aaahh, aaahhh !" desahan Santi, meskipun liangnya hanya terasa di kocok pakai dua jari saja, namun dia tidak bisa memungkiri bahwa pak Herman masih menyimpan tenaga kudanya.
Plok plok plok plok plok plok!
"Pakk, pakkk, lebih cepat pakkkk, aaarr, aasrrhh, ohhhh, shiittt, waterproof, watermark, waterboom, aaahh, aaaahhh, !" seketika Santi kembali berkicau dengan desahannya, Santi kembali menggapai puncak kenikmatannya dengan squirt.
Serrrrr serrrrr serrr serrrr serrrr serrrr!
Plokk plokk plokk plokk plokk plokk!
Pak Herman masih tetap memompa sangat cepat, dan di sela pompaannya, terdapat cairan yang terus menerus muncrat.
"Aaahh, pakkk, aahhh, aku dapat lagi pakkk !" teriak tertahan Santi, untuk ketiga kalinya, dia meraih tubuh pak Herman, mereka saling menindih dan berpelukan.
Sluuuurrrppp sluuuurrrppp sluuuurrrppp sluuuurrrppp!
Pak Herman yang terbawa suasana melumat bibir seksi Santi, dan hal itu mengundang amarah dari Santi.
"Pakkkk, jangan ciummm, nanti aku ketularan tuaaaaaa !" ucap Santi.
Berhubung pak Herman tidak terlalu membutuhkan ciuaman itu, dia memilih untuk tidak memasukkan dalam hati cacian dari Santi.
Dia kembali menenggakkan tubuhnya, dan pak Herman berusaha untuk mencapai segera puncak kenikmatan.
Plok plok plok plok plok plok plok plok!
"Aaahhh, punya kamu aja yang longgar neng !" sahut pak Herman.
"Hahah, punya kamu yang kecil pak !" timpal Santi dengan sedikit tertawa.
Di sela - sela permainan mereka, tentu saja ada orang lain yang mendengarnya, tidak lain adalah Siska.
Awalnya Siska malas tau dengan hal itu, karena dia saat ini masih menggendong Marissa.
Namun lama kelamaan nafsunya perlahan bangkit, gendongannya mulai gelisah. Akhirnya Siska memilih untuk kembali ke kamarnya sambil membawa Marissa juga.
Sesampainya di kamar, Siska meletakkan tubuh Marissa di kereta kecilnya itu, lalu Siska secara diam - diam memainkan liangnya menelusup di balik celana dalamnya.
Siska saat ini umurnya masih 22 tahun, dia hidup sebatang kara, dan dia juga tinggal di rumah mewah milik Alex. Siska sampai saat ini masih tergolong sangat polos. Hanya saja dia memiliki nafsu menggebu juga, tapi sampai saat ini dia masih bisa menjaga kesuciannya itu.
Ada beberapa faktor yang membuat nafsu Siska semakin tidak tertahankan, hampir setiap saat dia mendengar dan menyaksikan persetubuhan Azizah dan Alex. Dia yang notabenenya masih polos, namun sudah tau bahwa yang mereka lakukan adalah kenikmatan, jadi Siska mulai terpengaruh untuk menggunakan sapuan tangannya saja.
"Ssshhht, mas Alex, kok besar banget punya kamu mas, aku sampai takut menikah, tapi aku penasaran banget gimana rasanya, uhhhh !" ucap lirih Siska, ketika dia mulai menggesek - gesek bagian kacang kecil miliknya yang berada di ujung atas bibir liangnya.
Siska memiliki tubuh yang cukup proporsional, dadanya tentu masih aman terkendali, liangnya juga, dan wajahnya juga khas banget, dia sama sekali belum pernah menyentuh yang namanya skincare, dan semacamnya.
Hal itu membuat tubuhnya sangat segar, dan memiliki daya tarik khas cewek pedesaan.
"Ssshhht, shhhttt!" desisan Siska, dia memberanikan diri untuk melepaskan celana dalamnya, dan dia juga merebahkan tubuhnya sambil membuka lebar pahanya.
Klek!
Alex membuka pintu kamar Siska,
"Maris......!" panggil Alex terputus, dan pandangannya langsung tertuju ke arah tempat tidur, dia melihat baby sisternya sedang memberikannya kenikmatan kepada dirinya sendiri.
Karena Siska sudah larut dalam kenikmatan, dia tidak menyadari keberadaan Alex, dan sejenak dia masih lanjut, sampai ketika,
"Eeehhhemmm !" Alex mendehem, hingga membuat Siska langsung tersadar.
Dia langsung menghentikan kegiatannya, dan lanjut berdiri mematung.
"Maaf tuan !" ucap Siska, Sambil menunduk.
Ada satu hal yang membuat Alex geram, Siska melakukannya di depan Marissa, jadi otomatis itu adalah tontonan yang tidak di anjurkan untuknya.
"Hari ini juga, kamu di pecat, dan hari ini juga, kamu angkat kaki dari rumah ini !" ucap Alex, dan dia langsung mengambil Marissa untuk keluar.
Tanpa basa basi, Marissa langsung di bawa oleh Alex menuju kamarnya, dia membawakan untuk Azizah.
Setelah membawa Marissa, dia kembali menuju kamar Siska.
Buggg!
"Ini uang pesangon untukmu, sekarang kemas barang - barangmu !" ucap Alex dingin.
Siska yang mendengar hal itu membuatnya langsung menghampiri Alex, dia bersimpuh di kaki Alex sembari berkata.
"Tuan, saya menggantung hidup saya di keluarga tuan, saya mohon jangan pecat saya, tolong berikan kesempatan kedua, saya mohon !" ujar Siska memelas.
Alex masih terdiam, di sisi lain hati nuraninya tersentuh seketika, apalagi Alex juga sudah mengetahui latar belakang kehidupan Siska.
"Tuan, saya mau melakukan apapun, yang penting saya tidak di pecat, tuan tolong saya, hiks, hiks !" lanjut Siska, kali ini Siska mulai menangis.
Akhirnya Alex luluh juga, dia tunduk, lalu memegang bahu Siska untuk segera berdiri.
"Jangan di ulangi lagi, apa yang kamu lakukan itu sebenarnya lumrah, tapi liat keadaan juga !" ucap Alex.
Siska seketika merasa begitu diberkahi dengan kebaikan hati tuannya. Emosi yang mendalam dan hangat menyelimuti hatinya, membuat Siska tanpa sadar memeluk tubuh Alex. Sebagai bentuk pengertian, Alex membalas memeluknya, berusaha menenangkan hati Siska yang masih dilanda isak tangis.
Dalam keharuan itu, Alex mengelus lembut ujung kepala Siska. Namun, sentuhan itu malah membangkitkan nafsu yang sempat terkubur dalam hati Siska. Tanpa disadari, sentuhan Alex bagai siraman bunga api yang menyala kembali nafsu yang sempat reda dalam diri gadis itu.
Tak lama, Siska larut dalam pelukan hangat yang meleburkan sekat di antara mereka. Kedua lengan melingkar erat di seputar tubuh Alex, hingga Siska merasakan ada yang ganjal di perutnya. Penasaran, dia merapatkan tubuhnya, seolah ingin merasakan lebih dekat apa yang baru saja ditemukannya.
Perubahan dalam pelukan Siska membuat Alex merasa aneh. Pada awalnya, dia hanya berniat untuk menenangkan Siska yang kacau hatinya, namun seiring waktu berjalan, hasrat liar pun mulai menggejala di dalam dirinya. Tak kuasa mengendalikan nafsu, tangan Alex mulai mengembara, satu tangan menjalar ke pinggang, dan yang satunya lagi mencumbu lembut tengkuk leher.
Namun, Alex yang telah bertekad untuk tidak bermain dengan wanita lain, berusaha keras menepis keinginan yang mulai timbul di hatinya. Sementara itu, Siska yang sudah terlarut dalam nafsunya tak mampu menahan diri dan dengan penuh hasrat melumat bibir Alex. Mereka terjerat dalam hujan ciuman panas, dan sayangnya, Alex yang sebelumnya memiliki tekad kuat hanya memiliki kekuatan bertahan setipis tisu saja. Hanya dengan sedikit godaan, dia pun menyerah dan menerima tawaran dosa dari Siska.
Tanpa ragu, tangan Siska merambah ke dalam celana Alex, dan ia terhenyak ketika menyadari kejutan di sana. Ciuman panas itu terus berlanjut, sementara tangan Alex mengeksplorasi lebih jauh. Alih-alih menemukan celana dalam, ia terkejut saat menyingkap rok Siska dan mendapati tangan langsung menyentuh bibir terlarang milik wanita itu. Seluruh kehormatan diri yang telah dipertaruhkan dan bertekad untuk dijaga, kini tergoyahkan di bawah hasutan penuh gairah.
Smooooccchhh!
Siska berhenti sejenak saat jari tengah Alex hendak bergerak lebih jauh.
"Maaf, jangan terlalu jauh, aku masih perawan!" bisik Siska dengan lemah.
Mendengar itu, Alex segera melepaskan pegangannya, namun dia kembali mencium bibir Siska dengan penuh nafsu.
Siska lantas memegang pinggiran celana dan pakaian dalam Alex, menurunkannya perlahan sebelum mengakhiri ciuman mereka. Ia bersimpuh di bawah, menatap wajah Alex dengan pandangan yang memohon.
"Tuan, izinkan aku untuk membantu memuaskan tuan dengan mulutku," pinta Siska.
Alex mengangguk, membiarkan Siska mengambil alih. Dia tidak ingin merasa kecewa kali ini, karena nafsunya sudah mencapai puncaknya.
"Waduh, jangan terkena gigi dong!" seru Alex tiba-tiba.
"Maaf tuan, ini pertama kali aku melakukannya, dan sulit untuk menyesuaikan di mukutku," jawab Siska.
"Makanya jangan terburu-buru mengulumnya, lakukan pemanasan dulu. Jilati setiap sisinya hingga mulutmu terasa lebih nyaman, lalu masukkan perlahan!" arahkan Alex dengan sabar.
Siska berusaha menerapkan apa yang Alex ajarkan kepadanya. Hanya dalam waktu singkat, jeritan keras Alex sebelumnya berganti menjadi desahan nikmat, saat Siska mulai mengulum kepala senggama dengan cermat, menghisap, dan mengulumnya sesekali.
"Aaahhh, ya, begitu enak... Kalau tak muat, gunakan tanganmu untuk merangsang bagian pangkalnya!" ujar Alex.
Siska pun kembali melakukannya, dan perlahan, seiring gerakan mengocok yang diterapkannya, alat kelamin Alex semakin terbenam dalam mulut Siska.
Sluuurrrppp, sluuurrrppp!
Namun, Siska tampak lebih menyukai mengulum bagian kepala saja, sehingga sensasi yang dirasakan Alex semakin tak terkendali. Terbawa hasrat, Alex meraih kepala Siska dan mencengkeram rambut hitamnya yang bergelombang.
Glok, glok, glok!
Alex menggerakkan pinggulnya maju-mundur, membuat Siska meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Namun, seolah tak peduli dengan kondisi Siska, Alex yang sudah mendekati puncak kenikmatan justru semakin bernafsu dalam merenggut kemesraan tersebut.
Glok glokk glokk glokk glokk!
"Aaakk, ngokkkk, aaakkk, hueeekkk, aaakkk, uggg aaaakk, oooggghh!" suara yang keluar dari mulut Siska.
"Fucck, fuckkk, ohh, fuckkk, aaah, aaahh, shiiittt !" umpatan kenikmatan dari Alex, di barengi dengan tembakan cairan kental dari rudal Alex, dan langsung masuk tertelan oleh Siska, karena Alex semakin menekan pinggulnya.
Crooot croooottt croooottt croooottt!
Bugggg!
Saat Alex melepas jambakan di kepala Siska, seketika tubuh Siska langsung tergeletak di lantai, dia tidak pingsan, namun dia setengah mati mengatur nafasnya.
"Hhah, hahhhhh, huh, huh, huuh !" Siska berusaha mengatur nafasnya.
Setelah Alex mendapatkan puncak kenikmatannya, dia membopong tubuh Siska naik di atas tempat tidurnya.
Melihat tubuh Siska telentang lemas di atas kasur, membuat nafsu Alex kembali, dan dia seolah tidak tahan ingin menikmati tubuh Siska.
"Sis, lu ngga mau ngasih gw itu ?" tanya Alex sambil menunjuk ke arah liang Siska.
Sejenak Siska terdiam, dia menatap langit - langit kamarnya, dia menimang permintaan Alex, di sisi lain Siska merasa berutang budi dengan Alex, jadi merasa sangat sungkan untuk menolaknya. Saking kelamaannya berpikir, Alex menimpalinya segera.
"Kalau ngga mau kasih yang itu, yang belakang juga boleh kok !" ucap Alex.
"Emangnya tuan ngga jijik ?" tanya Siska.
"Ngga kok, yang penting gw bisa keluar di dalam tubuhmu aja, tapi pasti sakit sih !" kata Alex.
"Ngga papa tuan, yang penting tuan tidak keberatan melakukannya di lubang belakang !" ucap Siska.
Baru saja Alex ingin melakukan keinginannya, tiba - tiba dia mendengar Azizah memanggilnya. Seketika Alex kalang kabut, dan dia segera keluar dari kamar Siska. Dia langsung menuju ke lantai kedua.
"Ada apa Umi ?" tanya Alex, dan perlahan masuk di dalam kamarnya. Tangannya sampai gemetar ketika dia ingin menutup pintunya kembali.
Marissa sedang bermain - main dengan Azizah, dan Alex menghampiri mereka berdua. Alex mengecup kening Azizah, lalu mengecup putrinya juga.
"Maafkan aku !" ucap Alex membatin.
Azizah kemudian meminta Alex untuk duduk di tepian kasur, sepertinya mereka akan membicarakan hal yang penting.
"Bi, dosa banget loh, hidup di dunia tapi tidak melakukan hal - hal yang bermanfaat !" kata Azizah.
Alex tentu saja belum bisa menangkap maksud dari Azizah, jadi sejenak dia mengangguk saja.
"Umi, maksudnya gimana yah ?" tanya Alex.
"Jadi begini, setiap harta yang kita nikmati di dunia ini akan di pertanggungjawabkan di akhirat, kalau Abi berharap terus dari keuntungan investasi, itu sama saja Abi menikmati uang riba. Jadi maksud aku, Abi seharusnya punya pemasukan sendiri dengan cara memulai bisnis !" ujar Azizah.
"Umi, tau sendiri, kalau aku itu ngga punya sama sekali skill untuk berbisnis!" pungkas Alex.
"Itu karena Abi tidak mau mencoba untuk memulai !" timpal Azizah.
Alex sejenak terdiam lagi, dia memikirkan apa yang memang sudah ada di dalam pikirannya, tapi dia masih mencoba untuk menyaring dan ingin mengelola kembali, maka dari itu kinerja otaknya sedikit lambat.
"Abi punya hoby ?" lantut Azizah.
"Hoby, mungkin main kuda - kudaan dengan Umi!" jawab Alex.
Azizah yang mendengar itu ingin menepuk jidatnya, tapi Azizah tentunya tidak rela dan tidak mau membuat suaminya tersinggung.
"Selain itu Bi ?" ucap Azizah.
"Koleksi asisten, mobil, atau traveling, itu sih untuk saat ini !" jawab Alex.
"Abiiii, kok ada hoby koleksi asisten juga sih, ihhh !" timpal Azizah, dia memonyongkan bibirnya.
Alex yang melihat gemas ekspresi istrinya itu, seketika dia semakin dekat, dan tanganya langsung meremas dada Azizah , dan langsung melumat bibir Azizah.
Sluuuurrrppp!
Smooooccchhh!
"Abi, ada Marissa, ihh !" timpal Azizah.
Cup!
"Abi, mulai lagi deh, Umi serius, Abi harus berubah, dan harus mengambil langkah untuk memulai bisnis!" ujar Azizah, sambil mendorong pelan suaminya itu.
"Iya, Abi akan pikirkan itu, untuk sekarang belum ada ide !" jawab Alex.
Namun Azizah tidak mau menyerah, dia terdiam, dan berpikir keras untuk memikirkan bisnis apa yang cocok dengan suaminya.
"Abi tadi bilang hoby koleksi mobil, gimana kalau Abi mulai buka showroom mobil, Umi yakin Abi pasti suka !" saran Azizah.
Alex yang mendengar masukkan dari Azizah, seolah mendapatkan sisi terang yang sedari tadi hanya ada sisi gelap di otaknya itu.
Namun tetap saja, Alex belum tau harus mulai dari mana, jadi Alex seolah hanya ingin di suap dan di suap masukkan dan saran.
"Abi punya teman atau kenalan yang memiliki basic bisnis, meskipun beda bisnis, setidaknya dia bisa memberikan masukkan, harus mulai dari mana !" ujar Azizah