Aku seorang siswa kelas 11 SMA di kota P, pada saat itu aku sudah kenal dengan suci karena memang kami teman sekelas. Suci sendiri sehari-hari memakai jilbab bila di sekolah dan keluar rumah. Suci memiliki kulit kuning langsat, bibir tipis. Dia memiliki payudara yang sangat menggoda bagi kaum laki-laki, termasuk aku hehe. Memang suci terkenal dengan siswi yang berbadan bongsor atau montok di kalangan angkatan kami. Aku yang memang menaruh hati dari kelas 10 mulai mencoba mendekatinya. Aku memulai pdkt melalui chating dan mengajaknya makan diluar. Setelah kami melalui pdkt selama 6 bulan, aku mulai berencana untuk menmbaknya. Pada saat itu hari minggu dan memang sedang libur sekolah, aku berencana mengajaknya pergi ke pantai dan melancarkan rencaku untuk menembaknya. Hari itu aku dan suci ketemuan di pantai, kami ketemuan karena suci tidak mau aku jemput di rumahnya. Saat itu aku lebih dulu sampai di tempat yang sudah dijanjikan, 10 menit kemudian aku di kejutkan oleh suara yang memanggil namaku.
Suci: “ Hai andi, maaf ya udah bikin nunggu aku.”
Aku: “eh Hai ci, ah tidak gakpapa kok.” (aku sedikit terkejut saat itu karena penampilan suci yang membuatku menelan ludah wkwk). Suci saat itu menggunakan jilbab merah dengan ditambah kemeja putih yang kulihat kancing2nya ingin copot karena didorong oleh payudara montoknya ditambah dengan balutan cardigan hitam dan rok hitam longgar membuat dirinya anggun dan membuat ku konak wkwk.
Suci: “ada apa kamu ngajak aku kesini?”
Aku: ”sebenernya ada yang ingin aku omongin ke kamu ci?” (aku deg-degan saat itu)
Suci: “apa yang mau kamu omongin?”
Aku: “mmhh.. aku sebenernya mau ngomong kalau mmhhh, aku cinta sama kamu ci, aku sayang sama kamu, kamu mau gak jadi pacarku?”
Suci: “kamu serius dengan perkataanmu ndi?” (suci sedikit terkejut dan malu, karena memang dia langsung menundukkan wajahnya dan pipinya agak merah)
Aku: “aku sangat serius ci”.
Suci: “Aku sebenernya juga saying sama kamu, aku nyaman di deket kamu. Tapi…”.
Aku: ”Tapi kenapa ci?” (tanyaku penasaran).
Suci: “Aku belom boleh berpacaran sama ayahku”. (Dengan menampilkan wajah sedih)
Aku: “Oh gitu”. (aku mulai putus asa).
Suci: “haha kamu kenapa pasrah begitu jawabnya, kan kita bisa menjalin hubungan asal ayahku tidak tau”
Aku: “yang benar ci?”
Suci: “iya benar.”
Aku: “Berarti hari ini kita jadian ya.”
Suci: ”iya, tapi ingat hanya kita yang tau. Jangan sampai ayahku tau.”
Aku: “iya sayang.”
Suci: “eh udah saying-sayang aja!” (katanya menggodaku)
Aku: (terdiam)
Suci: “haahaha becanda sayang, kamu boleh manggil aku sayang kok.”
Aku: (aku tersenyum dan mulai memegang tangannya sambal menikmati indahnya tarian ombak).
Hari itu aku habiskan sore di pantai bersama kekasih baruku, suci.
Hubungan kami sudah berjalan 3 bulan, ini kejadian yang membuatku terkesan hehe.
Kamis siang pada saat istirahat sekolah, aku mengajak suci ke kantin. Lagi-lagi penampilan suci di sekolah membuatku menelan ludah, walaupun sudah menggunakan jilbab tetapi jilbab itu tetap tidak bisa menutupi montoknya payudara suci.
Aku: “ci, nanti sepulang sekolah temenin aku ke warnet ya. Aku ada tugas nih.”
Suci: “hmmm, oke deh nanti aku temenin.”
Aku: “oke ci, nanti aku tunggu di parkiran motor ya.”
Suci: “Oke sayang.” (jawabnya lirih)
Aku: “hehe iya yang.”
Skip skip
Setelah pulang sekolah aku menuju warnet dengan suci, pada saat itu warnet telihat sepi dan aku memilih bilik yang pojok hehe.
Setelah di dalam bilik kami duduk berdua, aku di depan monitor pc dan suci disebelahku berhadapan dengan pintu bilik yang tentunya sudah aku kunci. Aku mulai mencari tugas yang diberikan oleh guruku dan beruntungnya aku langsung mendapatkan materi untuk tugas.
Saat itu kami kurang lebih sudah sejam didalam bilik warnet dan tugaskupun sudah selesai. Agak canggung emang berada dibilik warnet berdua saja dengan suci dan keadaan pintu bilik yang terkunci. Siang itu memang hari terasa panas, kipas diatas kami pun belom bisa menghilangkan rasa gerah di tubuh kami. Aku melihat suci mengambil buku di tas nya dan mengipaskan di area kepalanya.
Aku: “kamu gerah yang?”
Suci: “iya nih gerah banget.”
Aku: “buka aja cardigannya!” (saat itu memang suci menggunakan cardigan kesayangannya.)
Suci: “iya juga ya.” (jawab suci sambal membuka cardigannya.)
Aku: (Aku sedikit terkejut saat suci melepas cardigannya, saat melepas lengan cardigannya membuat tubuh suci sedikit maju kedepan dan memperlihatkan payudara indahnya dibalik seragam sekolah.)
Suci: “kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?”
Aku: “ka..muu cantic sekali ci.”
Suci: “ahh kamu gombal, kan aku jadi malu.” (sembil menundukkan wajahnya)
Aku yang sudah tidak bisa menahan lagi aku oegang dagu suci dan aku arahkan kearahku, setelah itu aku mulai mendekatkan bibirku ke arah bibir tipisnya yang saat itu menggunakan lipstick pink. Disaat bibirku hamper menyentuh bibirnya, suci memejamkan matanya dan “mmmmhhhh” desahnya saat bibirku berhasil menyentuh bibir indahnya. Kamu berciuman hanya sebentar karena suci mengakhirinya.
Suci: “itu ciuman pertamaku sayang
Aku: “aku cinta kamu.”
Suci: “aku lebih cinta kamu.” Jawab suci.
Aku cium kembali bibir suci dan suci mencoba untuk mebalas pagutanku dibibirnya. Suci mulai membuka bibirnya karena memang lidahku terus mencoba menerobos bibir indahya.
Suci: “ahhh mhhhh ndi.” (Disela ciuman pertama itu)
Tanganku yang sedari tadi menganggur mulai memberanikan diri menyentuh pinggang nya, aku elus pinggang dan perut nya. Desahn suci semakin jelas, dan saat aku mulai menyentuh payudaranya dan meremasnya sebentar. Suci menghentikan ciuman dan menarik tanganku dari payudaranya.
Suci: “ jangan dulu ya sayang.” .” (katanya sambil matanya sedikit berlinang)
Aku: “i iya yang.”
Waktu menunjukan jam 4 sore dan berarti aku dan suci sudah 2 jam di dalam bilik warnet, akhirnya aku mengajak suci pulang. Sesampainya di rumah otong ku masih tegang sejak kejadian tadi, aku pusing karena si otong belum juga bisa dikendalikan. Akhirnya aku mengechat si suci untuk bertanya apakah sudah sampai rumah (pada saat itu aku mengantar suci sampai pangkalan angkot dan memang arah rumah kami berbeda).
Aku: “sayang, udah sampe rumah belom?”
(10 menit kemudian suci baru membalas chat ku)
Suci: “hai yang, aku baru sampe rumah nih abis lepas jilbab”
(aku membaca chat dari suci sambal berpikiran yang macem2 hehe, maklum gan pada saat itu emang nafsunya lagi menggebu-gebu).
Aku: “coba foto kamu dong yang. Hehe”
sudah 15 menit aku menunnggu chat ku dibaca dan dibalas, karena terlalu lama aku akhirnya mandi dan sholat ashar, dan makan. Saat makan aku mendengar hp ku berbunyi, aku langsung mengambil hp dan ternyata itu chat dari suci. Saat membuka chat dari dia, aku sedikit terkejut karena suci mengirimkan foto dengan rambut panjangnya yang terlihat masih sedikit basah. Yang membuat ku lebih terkejut pada saat itu suci menggunakan tanktop hitam yang kontras dengan kulit badannya yang kuning langsat. Aku sedikit menelan ludah, hingga lupa bahwa aku belom menghabiskan makananku. Lalu aku buru-buru menghabiskan makananku lalu membalas chat suci.
Aku: “ahh sayang indah banget.” (pada foto itu memang sedikit terlihat belahan dada suci)
Suci: “apanya yang indah yang?”
Aku: “rambut kamu yang hehe.” (aku saat itu berbohong Karena tidak mau suci berpikiran aku cowok mesum bila aku bilang yang indah itu sebenernya belahan payudaranya hehe)
Aku setelah melihat foto itu mulai berfikir bagaimana rasanya bila menyentuh payudara suci secara langsung. Terlalu munafik bila saat itu aku tidak mengakui bila nafsu dengan suci.
Bersambung
Pov Suci
Aku Suci, aku memiliki tubuh yang kata teman-temanku begitu indah dan membuat iri. Padahal menurutku aku memiliki badan yang sedikit gemuk, tapi orang-orang malah bilang montok -_-
Aku anak pertama dari 4 bersaudara, adikku 3 dan laki-laki semua. Mereka bernama ajis (SMP kelas 8), indra (SD kelas 3), dan surya (3 tahun). Mereka adalah adik tiri ku, ya adik tiri. Karena ayahku kandung meninggalkan ibuku saat sedang mengandungku. Ibuku lalu menikah dengan ayah tiriku yang bernama paijo. Meskipun ayah tiri namun dia menyayangiku seperti adik-adiku yang memang anak kandungnya, sedangkan aku hanya anak tiri.
Ayahku memang terlihat galak dan tegas, makannya hingga saat ini aku dilarang berpacaran. Padahal saat itu aku sedang menjalin kisah asmara dengan andi. Ya saat kejadian di warnet aku mulai mengalami perubahan pada perasaanku. Aku jadi semakin sayang kepada andi, sebetulnya ciuman itu bukan ciuman pertamaku. aku berbohong kepada andi pada saat itu dan aku belum bisa untuk mengatakan yang sejujurnya. Pada saat kami berciuman, ada seperti listrik yang menyengat tubuhku dan membuatku hanyut dengan ciuman andi. Aku merasakan tangan andi mulai memegang pinggang dan perutku, sangat geli dan aku sebelumnya berfikir pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya tapi entah kapan akupun sedikit lupa. Saat andi ingin menyentuh dan meremas payudaraku, aku mulai teringat kapan aku merasakan ini sebelumnya. aku menghentikan ciuman ku dan menarik tangan andi untuk melepas payudaraku.
Ya, aku teringat sebelumnya aku merasakan seperti ini sebelumnya. Kejadian itu terjadi saat liburan kenaikan kelas 10 ke kelas 11. Saat itu ada kakek ku dirumah, kakeku tinggal di kota t dengan nenek dan budeku. Saat kakek baru saja tiba memang hanya aku sendiri di rumah karena ayah dan ibuku sedang pergi dan adik – adikku sedang bermain di lapangan. Meskipun beliau kakek tiriku namun aku sangat sayang, dan beliau pun dangat baik kepadaku layaknya kakek kandung. Saat aku sedang tiduran di kamar dan memakai baju terusan seperti baby doll sehingga menampakkan sedikit pahaku. Aku mendengar suara pintu di ketuk dan suara lelaki yang mengucapkan salam.
Kakek: “ assalamuallaikum”
Aku: “wallaikumsalam”
Akupun langsung membuka pintu dan ternyata kakekku yang datang, saat aku membuka pintu aku melihat kakek malah memperhatikan ku dari ujung kepala hingga kaki, akupun menyapa kakek.
Aku: “kakek sendirian?”
Kakek: “eh iya nduk” (kakek menjawab sambal sedikit terkaget)
Aku pun membawa tas kakek dan menyuruhnya untuk masuk kerumah. Setelah membuatkan minum untuk kakek aku pun ijin untuk mandi. Setelah mandi aku keluar hanya menggunakan handuk (kebiasaanku dirumah setelah mandi memang hanya memakai handuk). Aku mendengar suara seperti orang menahan rasa sakit dari ruang tamu. Ya, itu suara kakekku. Aku yang mendengarnya langsung menghampiri kakek dengan masih menggunakan handuk. Aku berfikir biasa saja, karena dengan kakek meskipun hanya kakek tiri.
Aku: “kenapa kek?”
Kakek: “eh eh nduk, ini pinggang kakek kok sakit sekali. Karena terlalu lama duduk di bis.”
Kakek berbicara kepadaku tapi matanya bukannya melihat wajahku tapi malah melihat payudaraku yang terlihat belahannya. Aku pun yang sedikit risih dengan tatapannya berencana untuk memakai pakaian dulu di kamar. Aku pun berkata “yaudah kek, aku pake baju dulu trus nanti aku pijitin.” Saat aku berbalik badan tangan ku dipegang oleh kakek. Akupun menghentikan langkahku.
Kakek: “tolong pijitin sekarang saja nduk, kakek sudah tidak tahan ini pinggangnya pegel banget”.
Aku pun terdiam dan kakek langsung menggandeng tanganku menuju sebuah kamar. Ya, kamarku adalah yang dituju kakek.
Setelah sampai kakekku pun langsung membuka bajunya dan mulai terlhiat perut yang agak buncit. Akupun masih berdiri di pinggir pintu dan aku dikagetkan dengan suara kakek, “nduk tutup pintunya trus pijitin kakek”. Akupun sperti terhipnotis lalu menuruti perintah kakek.
Kakek: “sini nduk pijitin pinggang kakek” (kata kakek sambil tengkurap di kasurku)
Aku: “aku pake baju dulu aja ya kek”
Kakek: “udah nanti aja, toh Cuma kakek minta pijitin sebentar.”
Akupun lalu beranjak ke meja kamarku untuk mencari minyak kayu putih karena aku biasa menaruhnya disana. Tapi aku sedikit bingung kenapa minyak kayu putih ku tidak ada. Aku masih berusaha mencarinya hingga ada suara dibelakangku yang mengagetkanku.
Kakek: “kamu cari ini to nduk” (sambal menunjukkan minyak kayu putih yang aku cari)
Akupun kaget, karena kakek berbicara disamping kupingku sambal sedikit mencium tengkuk leherku. Akupun mulai merasakan badan kakek di punggungku, setalah aku menatap kaca di depanku. Aku kaget ternyata kakek sangat dekat denganku bahkan aku sedikit merasakan sebuah tonjolan di pantatku. Aku baru pertama mengalami kejadian seperti ini dan aku tidak menginginkannya. Lagi-lagi aku seperti terhipnotis, kakek sedikit mendorong bahuku sehingga aku terduduk di pinggir kasurku. Lalu kakek duduk disebelahku. Akupun bingung harus berbuat apa, lalu kakek membuka pembicaraan.
Kakek: “Koe ternyata wes gede yo nduk? (Kamu ternyata udah besar ya nduk?)” (kakek berkata sambal membelai rambutku yang asih agak basah)
Aku: “i..iya kek hehe”
Kakek menarik bahuku untuk merapatkan ke tubuhnya aku pun sedikit terkejut “aahhh kek”. Kakekpun mulai mengelus-elus bahuku dan sambal menciumi rambutku. Aku merasakan sangat gelid an sedikit memberontak. Kakek malah sedikit tertawa setelah aku sedikit memberontak.
Kakek: “Dulu tuh kamu pas masih kecil sering minta mandi sama kakek, pake baju juga sama kakek.”
Aku: “i…itu kan dulu kek, sekarang kan aku udah...” (aku menghentikan perkataanku saat merasakan tangan kakek yang tadinya mengelus bahuku sudah mulai berusaha menyelinap melalui ketek ku dan meraba perutku.)
Kakek: “Sudah apa nduk?” (Tanya kakek sambil terus meraba perutku yang masih tertutup handuk.)
Aku: “Sudah ge..de kek”
Kakek: “haha iya nduk, kamu sekarang udah gede.” (kata kakek sambal mencubit pinggangku)
Aku: “ahhhkkk, kakek.”
Aku menggerakan badanku lebih keras, fatalnya aku lupa jika masih menggunakan handuk dan lilitan handuk ditubuhku hamper lepas. Aku berusaha menmbetulkan lilitan handukku, tetapi kakek malah semakin merapat kan tubuhku ke tubuhnya. Kepalaku kini bersandar di dadanya. Pipiku merasakan sedikit geli karena bersentuhan dengan bulu dada kakek.
Kakek: “mana coba yang katanya udah gede” (kata kakek sambal meraba perutku).
Aku merasakan tangan kakek meraba-raba perutku sampai ke pingganggku, sperti mencari sesuatu. Aku merasakan tubuhku sanagat geli, dan aku merasakan memekku sedikit basah. Aku yang saat itu belom mengetahui tentang sex tidak tau kenapa memekku bisa basah. Kakek terus meraba tubuhku dan aku tidak bisa menahan desahanku “ahhkkkk..ahhkkkk..kek…ahhhkk geli kek, udaahhh kek katanya mau dipijitin.” “udah nduk diem aja, pinggang kakek udah gak sakit kok.” (kata kakek).
Aku memejamkan mataku dan mulai sedikit menikmatinya. Dan aku tiba2 dikagetkan dengan payudara kiriku yang diremas oleh kakek.
Aku: “ehhh jangannhhh kek ahhkk.” (aku merasakan payudaraku diremas walaupun masih dari luar handukku tapi rasanya geli sekali.
Kakek: “gede sekali nduk.” (kata kakek sambal masih meremasi payudara kiriku)
Aku: “kek udahhh kek ahkk, jangann kek huhuhu” (aku mulai menangis, aku bingung harus bagaimana)
Kakek masih saja meremasi payudaraku bahkan sekarang kedua tangannya sudah berhasil meremasi kedua payudaraku. Aku hanya bisa mendesah dan menangis. Aku memperhatikan tangan kakek meremasi payudaraku.putingku tak luput dari tangan kakek. Meskipun masih menggunakan handuk tapi kakek dapat menemukan putingku.
Kakek: “handuknya dibuka ajaya nduk, trus kakek pakein baju kayak dulu hehe.”
Aku: “ahhh udah kek, akum au pake baju sendiri ahhkkk.” (kakek dengan tiba2 mencubit putting kiriku.)
Kakek: “udah nduk gapapa, kakek pakein baju ya.” (kata kakek sambal berusaha membuka handukku)
Aku sangat malu karena bagian atas payudaraku sudah terlihat, dan sedikit putingku juga sudah terlihat. Aku mulai panic. Dan tiba2….
“kakkkkk, aku pulang”.
Bersambung
Untuk saat ini mungkin terlebih dahulu menceritakan kisah nyata suci dimasa lalu ya gan sampai dengan suci berpacaran dengan andi. Disini aku menambahkan sedikit bumbu drama dalam percakapan, tetapi kejadian yang terjadi tidak ada yang ditambah atau dikurangi. Sama seperti yang suci ceritakan pada waktu itu. Agar alurnya jelas dan gak muter2. hehe
“kakkkkk, aku pulang”.
Aku dan kakek sama-sama kaget mendengar suara itu. Ternyata itu suara adikku indra. Kakek yang sedikit mengendurkan tangannya menjadi sebuah kesempatan bagiku. Aku berdiri lalu membetulkan handukku dan aku sangat ketakutan pada saat itu. Kakek yang melihatku ketakutan hanya tersenyum, lalu ia memakai bajunya dan keluar dari kamarku. Setelah kakek keluar aku memakai baju sambal terisak tangis. Aku bingung, apa yang barusan terjadi. Aku mulai khawatir dengan kehadiran kakekku di rumah. Takut bila ia melakukan hal itu lagi kepadaku.
Waktu sudah menunjukkan jam setengah 8 malam, dan aku mendengar suara motor ayahku. Aku yang sedari tadi sore hanya diam tiduran di kamar karena masih takut dan teringat kejadian tadi sore. “kak, ayah sama ibu pulang.” Kata indra sambil membuka pintu kamarku. Akupun hanya membalas “iya dek, biarin aja.” Ya pada saat itu tidak keluar kamar karena aku takut bila bertemu kakekku.
Karena terlalu lama di kamar akhirnya aku ketiduran, dan pada saat itu aku merasa geli pada area pahaku. Aku merasakan ada tangan yang mengelus lutut hingga pahaku. “mmmhhhhh mmmhhhhhh” aku merasakan seperti mimpi, tapi setelah aku merasakan sentuhan berulang kali. Aku mulai tersadar, dan anehnya aku masih merasakannya. Keadaan kamarku memang gelap, karena aku selalu mematikan lampu disaat tidur. Aku membuka mataku pelahan dan aku sekilas melihat bayangan karena terpantul cahaya dari jendela kamarku. aku sangat ketakutan dan aku tidak bisa menahan rasa geli ini. “mmmhhhh mmmhhhh ahhh” aku mendesah pelan sambal menggerakkan kedua kakiku. Aku memejamkan mataku kembali sambil merasakan sentuhan itu. setelah 10 menit aku merasakan sentuhan itu sampai di ujung cd ku. Aku membuka mataku kembali dan mulai memperhatikan bayangan itu. mungkin ia mulai menyadari bila aku terbangun. Dan ia menuju saklar untuk menyalakan lampu. Setelah dipencet, dan byaarrr cahaya terang langsung menyinari kamarku. aku terkejut ternyata bayangan itu adalah kakekku. Aku langsung bangun dan membetulkan daster bagian bawahku (aku memang tidur selalu memakai daster). Aku terkejut karena dasterku tersingkap hingga paha atasku dan cd ku hamper terlihat.
Aku: “kakk..keek, kenapa ada di dalam kamarku?” (aku berbicara berbisik karena disebelah adalah kamar orang tuaku, aku takut mereka terbangun.
Kakek: “ini nduk kakek bawain makanan, kan kamu dari tadi di kamar terus. Jadi kakek bawain ke kamarmu. Eh ternyata kamu sudah tidur hehe.” (kata kakek sambal tersenyum sambil menunjukkan makanan di meja kamarku).
Saat kejadian tadi aku mulai benci dengan senyum kakek. Aku pun mulai melirik jam dinding di kamarku dan sudah menunjukkan jam setengah 12 malam. Aku hanya mengangguk dan bilang terima kasih kepada kakek karena sudah membawakan makanan, tetapi saat itu aku tidak nafsu makan. Melihatku masih duduk di pinggiran Kasur ia menyuruhku untuk segera makan makanan itu. “cepat makan nduk”
Aku: “aku sedang tidak nafsu makan kek.”
Kakek: “apa mau kakek suapin?”
Aku : “eee. Tidak usah kek.”
Kakek: “yaudah dimakan dong makannya.”
Aku dengan malas mulai mengambil piring itu dan mulai memakan makananku, kakek lalu duduk disampingku sambil memperhatikan tubuhku. Aku takut melihat mata itu, tatapan kakek seolah menelanjangiku. Setelah makananku habis lalu kakek membawa piring ke dapur dan membawakan ku segelas air. Aku ambil gelas yang dibawakan kakek, saat ingin meninumnya “duuuaaarrrr” suara petir sangat keras hingga menggetarkan kaca jendela kamarku. aku yang kaget lalu tidak sengaja menumpahkan air dan membasahi bagian bawah dasterku. “yahhh, malah tumpah” kata kakekku.
Tapi kakek berkata begitu sambil memperhatikan bagian bawah dasterku yang basah. Air itu membasahi bagian perutku sampe kebawah. Mengakibatkan puserku terlihat dan warna cdku yang berwarna ungu terlihat karena pada saat itu aku memakai daster putih tipis tanpa lengan. Kakek masih saja memperhatikanku dengan tatapan nafsu, ya aku tau itu nafsu karena aku memergoki kakek menelan ludah saat melihat cd ku yang nyeplak akibat dasterku basah. Aku dan kakek saling diam, dan dikejutkan dengan suara adikku yang paling kecil berteriak karena kamarnya bocor. Adikku selalu minta tidur bersama kakekku bila sedang ada di rumah dan mereka selalu tidur di kamar itu. Teriakan itu membangunkan ayah ku, dan kakek yang mengetahui itu langsung keluar dari kamarku sambil tersenyum kepadaku. Aku gak tau maksud dari senyuman itu, yang aku tau senyuman itu memiliki arti lain.
Surya: “ayah, kamarnya bocor kasurnya basah.” Sambil menangis
Ayah: “yaudah adek bobo sama ayah ya.”
Surya: “ah gak mau, maunya sama kakek.”
Kakek: ”dede surya bobo sama ayah ya, biar kakek bobo di ruang tamu.”
Surya: “yaudah aku juga di ruang tamu.”
Ayah: “ehh jangan de, nanti digigit nyamuk. Dede surya bobo sama mbak suci ya.”
Surya: “tapi sama kakek.” (ujar adikku)
Ya memang Kasur di kamarku memang besar dan hanya aku sendiri yang menempati.
Kakek: “coba dede bilang dulu ke mbak suci kalo dede sama kakek mau bobo di kamar mbak suci gitu.”
Aku yang mendengar hal itu langsung menghentikan aktifitas ku, saat itu aku sedang mengambil pakaian ganti dan berniat untuk ke kamar mandi. Dan tiba2 surya langsung masuk ke kamarku. “kak, dede sama kakek bobo sini ya, soalnya bocor.” (pinta adiikku sambil memelas khas anak kecil). Aku terdiam sejenak dan dengan berat hati aku menjawab “iya dek” ucapku. Mendengar hal itu adikku langsung memanggil kakek untuk masuk ke kamarku. adekku langsung menarik tangan kakekku untuk mengeloni nya di kasurku. Aku langsung keluar kamar dan menuju kamar mandi untuk mengganti daster ku yang basah. Di dalam kamar mandi aku mengganti pakaianku, saat itu aku teringat bila aku lupa membawah bh ku. “ahh bodohnya aku.” Aku memang tidak pernah memakai bh disaat tidur dan aku lupa bila aku akan sekamar dengan predator menyeramkan. Lalu aku memakai kaos dan celanaku. Aku saat itu memakai kaos basket dan celana pendek. Saat aku masuk ke kamar, aku melihat kakekku sedang memeluk surya yang sudah terlelap. Aku pun mulai menutup pintu kamarku, saat hendak mematikan saklar aku teringat bila adiku takut gelap. Lalu aku mulai merebahkan tubuhku di sebelah kakekku. Ya kakekku berada di tengah2 surya dan aku. Aku lalu memunggungi kakek, sulit bagiku untuk tidur bila lampu kamar menyala. Setelah hampir 30 menit aku tidak bisa tidur akhirnya aku memutuskan untuk mematikan lampu kamar dan melihat adikku sudah pulas dan gak mungkin kebangun. Aku kembali merebahkan tubuhku ke Kasur. Disaat aku berusaha memejamkan mataku, aku merasakan tubuhku seperti ada yang memeluk dari belakang. “nduk, dingin.” Karena saat itu hujan deras dan kakekku hanya menggunakan kaos singlet dan sarung.
Aku: “mau aku ambilin selimut kek?” (tanyaku dengan lirih)
Kakek: “nggausah nduk, kakek peluk kamu aja biar gak dingn.”
Aku hanya terdiam dan berusaha memejamkan mataku, tapi tetap tidak bisa. Aku malah merasakan ada yang menyodok-nyodok pantatku. Dan aku merasakan tangan kakek berusaha menyelinap masuk melalui ujung kaos basketku.
Aku: “jang..ann kekk” (kataku mulai terisak menahan tangis.)
Kakek: “diem aja nduk, biar kakek gak kedinginan”
Bersambung