Namanya memiliki arti "Manusia yang Baik", tapi kelakuan dan sikapnya tak lebih dari iblis dan binatang! Ya,dialah Janied Marques, anak dari seorang taipan, Montella Cannavaro, pebisnis, juga raja mafia yang menguasai sepertiga pasar gelap senjata api, narkotika, juga perdagangan manusia di Kota Sion. Janied tak lain dan tak bukan adalah sepupu Arnius Nagendra. Sekilas, jika orang luar melihat keduanya, maka hubungan mereka akan tampak "baik-baik saja", namun yang sebenarnya terjadi adalah antara Arnius dan Janied telah bersitegang selama beberapa tahun karena urusan sepele, wanita. Terlebih, wanita yang dinikahi Arnius adalah wanita yang sama dicintai oleh saudara sepupunya.
Baik Arnius ataupun Janied keduanya adalah pria tampan yang digilai para wanita di Kota Sion, sebuah kota dengan hiruk pikuk bak Kota New York serta glamornya kehidupan malam di kota yang berjuluk "The City of Mafia" itu.
Layaknya film Romeo dan Juliet, keluarga besar dari klan Cannavaro merupakan saingan utama bisnis dunia bawah tanah dengan klan Morpheus, padahal sejatinya kedua klan ini adalah satu keluarga besar. Perpecahan dan perselisihan antar dua keluarga top mafia ini sudah lama dimulai sejak ayah mereka, Johny Morpheus dan Montella Cannavaro memperebutkan wilayah segitiga di Kota Sion yang bernama "Emerald".
Tempat itu bukanlah tempat biasa, melainkan sebuah kawasan di mana para mafia berkumpul dalam suatu rapat dan sekaligus menjadi ajang pamer kekuatan dan kekuasaan. Dan klan Cannavaro-lah yang paling unggul dalam pamer senjata dan kekuasaan, sehingga tak mengherankan jika ayah Janied, Montella Cannavaro ditunjuk menjadi anggota kehormatan di kalangan para mafia. Hal itulah yang di kemudian hari menjadi pemicu retaknya hubungan dua saudara ini.
Kemelut di antara kedua klan besar ini semakin meruncing tatkala Arnius mempersunting seorang wanita dari kalangan rakyat biasa. Seorang wanita yang bekerja sebagai pegawai bank di salah satu bank terkenal di Kota Sion dan sebagai baby sitter di akhir pekan. Wanita dengan mata hijau hazel-nya yang teduh dan senyum sehangat mentari telah meluluhlantakkan hati dua orang yang selama ini bersitegang, namun sayangnya justru dari sinilah awal mula masalah mulai bermunculan.
"Sayang, aku ingin mengenalkanmu pada sepupuku, dia sangat penasaran ingin bertemu dengan wanita yang berhasil menjatuhkan karang es di hatiku."
"Karang es? Hihi, kamu ada-ada aja, Sayang. Mana ada karang es, ada juga batu es."
Senyum ceria dari pemilik wajah oval dengan tatapan meneduhkan hati terpancar dari wanita yang duduk di sebelah kanan Arnius ketika mereka akan mengunjungi rumah saudara mereka, Janied. Sepanjang perjalanan, dua sejoli ini tak pernah tak menunjukkan kemesraan layaknya ABG yang baru pertama kali jatuh cinta. Senyum merekah selalu tersungging di bibir keduanya. Sang wanita enggan melepaskan lingkaran tangannya, sementara sang pria selalu membelai rambut kecoklatan sebahu milik Anna.
"Kau tahu, Tuhan mungkin menerangi jalanku dengan kehadiranmu, Anna. Aku sangat bersyukur aku menjadi pilihan di hatimu dari sekian banyak pria yang mengantri mendapatkan dirimu." Kecup manis Arnius di sela-sela mengemudi.
"Justru aku yang harusnya berkata seperti itu, Arnius. Jika bukan karena peristiwa itu, kita tak akan mungkin bersama seperti sekarang, kan?" Senyum Anna sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih.
Setengah jam kemudian, mobil Mercedes Benz putih yang membawa kedua sejoli ini tiba di sebuah rumah yang mirip mansion dengan arsitek megah. Bergaya neo-klasik, bangunan ini merupakan milik saudara sepupu Arnius, Janied Marques yang hidup memisahkan diri dengan keluarga besarnya.
"Ayo, kita turun." Ajak Arnius menggandeng tangan Anna turun dari mobil.
"Wow, bangunan yang sangat indah. Aku suka dengan desainnya." Takjub Anna ketika melihat rumah Janied kali pertama.
"Kau suka? Nanti akan kubuatkan."
"Eh?" Anna terperangah. "B-bukan begitu maksudku, Arnius. Aku hanya ...."
"Tak apa, Sayang. Toh kita akan menikah sebentar lagi. Apa yang aku punya akan menjadi milikmu." Senyum Arnius tak lepas dari wajahnya.
Anna menundukkan kepala tersipu malu, "Arnius!" teriak suara seorang pria yang turun dari tangga teras rumahnya.
"Janied, sepupuku! Apa kabar?" Keduanya saling berpelukan dan melepas senyum.
"Harus baik-baik saja, jika tidak tak ada lagi yang bisa menyaingi ketampananmu." Kelakar Janied menepuk bahu sepupunya, Arnius.
Arnius tersenyum mendengar ucapan sang sepupu. "Oh, ya, ada yang ingin kukenalkan. Seperti janjiku padamu, aku akan membawa bidadariku bertemu denganmu. Kenalkan, ini Anna. Anna Marbela, Anna, ini sepupuku, Janied Marques." Kedua makhluk Tuhan beda kelamin ini pun saling berkenalan berjabat tangan, senyum manis dilempar Anna ke arah Janied. Entah apakah sang cupid yang terlalu cepat menembakkan busur asmaranya tepat ke jantung Janied atau pria ini memang tipikal penyuka wanita cantik, sepupu Arnius itu seketika merasakan getaran yang sulit dikatakan dengan kata-kata.
"Ehem!" Arnius berdehem ketika melihat Janied masih menjabat tangan Anna.
"Oh, sorry. Aku Janied, sepupu Arnius, orang paling tampan pertama dan terakhir di Kota Sion." Kelakar Janied mengalungkan lengannya ke leher sang sepupu.
"Hahaha, baiklah ... baiklah, sepupuku. Kali ini aku kubiarkan untuk membanggakan dirimu, tapi lain kali, harus aku yang menjadi yang pertama." Ucap Arnius menyenggol perut Janied pelan.
"Kalian berdua seperti kakak-adik, ya. Aku benar-benar iri dan cemburu." Ucap Anna tak lepas dari senyumnya.
Awal perkenalan yang pada awalnya lancar dan baik-baik saja, sampai pada suatu ketika Arnius pergi ke luar kota dan sewaktu Anna hendak memberikan undangan pernikahan mereka, Janied mulai menunjukkan gelagat yang tak biasanya. Sepupu Arnius itu mulai memandang Anna dengan penuh tatapan nafsu serta sikap yang tak wajar sebagai seorang sepupu.
"T-Tuan Janied, maaf. Sepertinya saya harus segera pergi. Masih banyak hal yang harus saya selesaikan. Permisi." Anna membalikkan badannya dan berniat meninggalkan ruangan Janied. Namun tiba-tiba pria itu segera berdiri dan menyambar tangan Anna dengan cepat.
"Eh!" sahut Anna terkejut. "A-ada apa, Tuan? Lepaskan tangan saya, tolong."
"Katakan, berapa harga yang dibayar Arnius untuk menikahimu? Ah, bukan ... bukan menikahimu, tapi memacarimu atau menidurimu?" seringai Janied sambil mengusap-usap dagunya.
"Apa maksud Tuan? Tolong yang sopan kalau bicara!" kesal Anna menyahut ketus.
"Haha, kenapa harus jual mahal? Katakan saja dan aku akan membayar tiga kali lipat dari uang yang kau terima dari Arnius."
PLAK!!
Sebuah tamparan cukup keras dan kencang melayang ke pipi yang ditumbuhi jambang tipis di kedua sisinya. Warna merah cap lima jari mulus terpampang nyata di wajah tampan milik Janied Marques, pria dambaan tiap wanita.
"Tolong jaga bicara Anda, Tuan Janied! Saya masih menghormati Anda karena Anda adalah saudara sepupu calon suami saya, tapi saya tak akan tinggal diam jika sekali lagi Anda mengatakan hal yang tak pantas seperti tadi!" tegas Anna mengepalkan tangannya.
"Hahaha, aku suka wanita garang dan berani seperti dirimu, Nona Anna. Mungkin kau juga akan liar di ranjang?"
"KAU!!" Anna mendengus kesal. Wanita itu akan kembali menampar wajah Janied, namun sang pria berhasil menahan lengan Anna dan malah menyerangnya dengan sebuah ciuman di bibir Anna.
"Manis! Rasanya seperti wine yang baru saja dipetik dari pohon, disuling, dan disajikan dengan daging merah setengah matang yang menggugah selera." Janied tertawa setelah mencium Anna.
"Tuan Janied! Ini suatu pelecehan! Saya akan melaporkan hal ini pada ...."
"Arnius? Apa kau yakin, Nona Anna? Sepupuku itu lebih percaya padaku daripada dirimu. Lagipula, apa kau yakin dia akan membelamu? Bukankah justru sebaliknya, dia akan menganggapmu jalang karena mudah memberikan diri pada orang lain, terlebih orang itu adalah sepupunya sendiri." Janied tersenyum puas melihat Anna merasa terpojok.
"Kita lihat saja, Tuan Janied! Saya atau Anda yang akan lebih dipercaya oleh Arnius!" Anna membanting pintu ruangan Janied kencang, sementara Janied hanya tersenyum seringai sembari berkata, "Dia wanita pertama yang membuat gairahku terbakar! Tak puas rasanya bila aku blum 'memakan' santapan lezat yang ada di depanku."
***
Beberapa hari sejak kejadian itu, Anna tampak seperti orang yang ketakutan. Tiap kali ia mendengar nama Janied, wajahnya langsung pucat dan keringat dingin mulai mengucur deras. Awalnya, Arnius, sang calon suami tak begitu menanggapi tentang perilaku aneh calon istrinya. Namun, jelang pernikahan mereka, ketika Anna dipaksa bicara olehnya, barulah ia menyadari jika Anna telah mengalami pelecehan seksual oleh sepupunya sendiri!
Marah, murka, emosi yang tak lagi dapat ditahan, Arnius segera menyambangi kantor Janied, mendobrak pintu ruangannya dengan kencang dan melihat sepupunya sedang bercinta dengan sekretarisnya.
"Bajingan kau, Janied! Biadab! Manusia tak tahu diuntung! Kau berani melecehkan calon istriku!" Tunjuk Arnius tepat ke wajah sepupunya saat ia baru masuk ruangan.
Sang sekretaris yang panik segera berdiri dari pangkuan Janied dan merapikan pakaiannya sambil menunduk di hadapan Arnius.
"Yang seharusnya kau panggil jalang adalah sekretarismu dan bukan Anna! Berani-beraninya kau menghina dia dan mencumbunya di belakangku! Kau mau mati, hah!" teriak Arnius.
Seolah tak ada rasa sesal dan salah pada diri Janied, pria itu memasang ekspresi datar dan mengibaskan tangannya pada sekretarisnya untuk segera pergi. "Oh, jadi dia mengadu padamu, ya? Dan kau percaya?" tanya Janied enteng.
"Ya! Aku percaya padanya dan LEBIH percaya lagi setelah aku tahu kelakuanmu!" tunjuknya sambil mendelik.
"Jadi kau lebih percaya pada omongan orang lain daripada saudaramu sendiri, Arnius? Ckckckck, aku benar-benar tak menyangka jika wanita-mu benar-benar telah mengubahmu. Tapi, bolehkah aku mengatakan sesuatu padamu?" Arnius mendekatkan wajahnya pada sepupunya dan berbisik, "Wanita-mu menggairahkan, sepupuku."
BUAGH!
Pukulan mentah yang kencang dilayangkan Arnius ke perut Janied hingga pria itu tersungkur di lantai. Tampak pria dengan tato menyembul dari belakang lehernya itu memegangi perutnya, mengerang kesakitan. Arnius yang tengah dalam puncak emosi tanpa ampun memukul Janied lagi, kali ini wajah sepupunya-lah yang menjadi sasaran kemarahan Arnius. Membabi-buta, tanpa kenal ampun, Arnius terus menghajar Janied hingga darah menyembur dari mulutnya.
"Hah ... hah ... hah ...." Arnius menghela nafasnya setelah menghajar sang sepupu bertubi-tubi. "Inilah yang kau dapat jika berani menginjak-injak ladang orang lain! Aku masih mengampunimu, tapi lain kali, aku akan membunuhmu jika kau masih mengganggu Anna! Camkan itu!"
Arnius memunggungi Janied yang terkapar tak berdaya. Darah yang terus mengalir darii hidung dan mulutnya membuat pakaian yang dikenakannya bersimbah darah. "Kau lihat saja, Arnius apa yang akan aku lakukan pada istri tercintamu! Aku akan menghancurkan kau perlahan dan menyakitkan!" tatapan penuh dendam dan kebencian terlihat dengan sangat nyata di mata Janied.
BRAK!!
"Berani-beraninya Janied memperlakukan Anna seperti ini!" Arnius geram dan melempar ponsel milik anak buahnya ketika ia ditunjukkan video berisi hubungan terlarang antara sang istri dan sepupunya, Janied serta kebiadaban yang dilakukan sang sepupu.
"JANIED!!" teriak Arnius mengepalkan kencang tangannya dengan rahang mengeras dan gigi gemeretak. Tanpa pikir panjang, Arnius menghubungi sepupunya dengan wajah penuh emosi dan nafas sengal.
"Janied! Bedebah, kau! Bajingan! Di mana Anna? Di mana kau sembunyikan istriku!?"
[Oh, sepupuku ... apa kabarmu? Apa kau sudah menerima hadiah kecil dariku? Bagaimana menurutmu? Apa kau menyukainya?]
"Manusia keparat kau! Aku akan membunuhmu, Janied! Jangan salahkan jika aku akan turun tangan 'mengurusmu'!"
[Haha, apa kau yakin saudaraku? Kau akan membunuhku? Menghabisiku? Hahaha, jangan buat aku tertawa! Sebelum kau menghabisiku, aku yang akan menghabisi nyawamu dan istrimu yang cantik itu akan menjadi janda yang menyedihkan.]
"JANIED!! Katakan saja di mana kau sembunyikan Anna! KATAKAN CEPAT!"
[Kau mau tahu di mana istri tercintamu? Cari dan temukan sendiri, sepupuku yang pintar!]
Beep ...
"Halo ... halo ... JANIED! JANIED! JANIEDDD ..." teriak Arnius ingin melempar ponselnya namun ia tahan.
'Bedebah kau Janied! Akan kukejar hingga ujung dunia dan neraka!'
"Kumpulkan semua anak buah yang kita punya! Perintahkan mereka untuk mencari Nyonya Anna! Sebar ke seluruh kota dan tempat-tempat yang memungkinkan si bangsat Janied mengurung istriku! Cari dan temukan sampai dapat! Jangan kembali sebelum kalian mendapatkan kepala sepupuku! Paham!"
"Paham, Tuan."
Salah seorang kaki tangan Arnius segera memunggungi sang kepala keluarga dan mulai menjalankan apa yang diperintahkan oleh Arnius. Mata biru langit itu tampak penuh dengan emosi. Kepalan penuh tangan Arnius memukul meja dengan kencang hingga membuat semua benda yang ada di atasnya bergetar dan memecahkan gelas yang diletakkan di pinggir bibir meja kerja warna coklat mengkilap miliknya.
"Anna, aku akan menyelamatkanmu! Aku akan mencabik-cabik tubuh Janied dan memberikannya pada anjing liar di tengah jalan! Janied, tunggulah kehancuranmu!"
Tak lama, Arnius menyusul anak buahnya pergi ke teras depan rumahnya yang luas di mana ratusan anak buahnya telah berkumpul. Dengan balutan jas hitam lengkap dengan topi fedora hitam, Arnius berdiri di depan anak buahnya yang membawa senjata api laras pendek dan beberapa senjata pendukung lainnya. Di depan anak buahnya, Arnius dengan berapi-api berkata, "Aku ingin kalian menemukan istriku, Anna Marbela yang saat ini tengah berada di tangan Janied Marques Cannavaro!"
Sontak, suasana gaduh dan tegang pun sangat terasa di antara anak buah Arnius. Bahkan, mereka tampak berbisik seolah sedang membicarakan langkah sang kepala keluarga Morpheus selanjutnya.
"Aku ingin kalian menemukan istriku dan membawa mayat Janied ke hadapanku! Kepala atau badan, tak masalah, selama itu adalah milik si keparat Janied Marques! Jangan gegabah dan jangan coba-coba menegakkan kepala kalian sebelum menemukan istriku! PAHAM!!" tegas suara pria bertato salib di belakang lehernya itu.
"Mengerti, Tuan!" jawab serempak anak buah Arnius.
'Anna, tunggulah sebentar sayang, aku pasti akan menyelamatkanmu.
***
Sementara itu, Anna yang tersadar setelah "dikoyak" oleh Janied, membuka matanya perlahan dan menemukan dirinya berada di suatu kamar bergaya victoria dengan nuansa warna merah terang serta ranjang empuk dengan selimut pastel menutupi tubuhnya.
"Di mana aku?" Anna langsung mengangkat dirinya terkejut, melihat sekeliling kamar megah itu seraya memegangi kepalanya yang masih pusing.
"Anda sudah sadar, Nona?" Seorang wanita muda dengan rambut digelung dan memakai seragam pelayan berdiri di sebelah Anna sambil membungkukkan setengah badannya.
"Siapa kau?" tanya Anna melihat wanita muda itu.
"Saya adalah pelayan Anda, Nona." Ucapnya tetap membungkukkan badan.
"P-pelayan? Maksudmu?" Anna mengerutkan keningnya hingga tiga tingkat dan melihat pelayan muda itu bingung.
"Tuan Janied telah memerintahkan saya untuk menjaga dan melayani keperluan Anda selama berada di vila ini, Nona."
"Apa! Vila!?" Anna seketika bangun dari ranjangnya dan menuju balkon kamarnya yang terletak di lantai dua sebuah vila gaya baroque dengan halaman yang luas dan sebuah air mancur besar di tengahnya.
'I-ini ...." Anna terus menatap tak percaya dia kini berada di vila milik keluarga Cannavaro yang dulu menjadi tempat 'terkutuk' baginya. Tempat yang mengingatkan dia akan peristiwa kelam dua sepupu ini.
Anna mengepalkan tangannya kencang. Masih terasa ngilu dan perih organ intim miliknya setelah Janied melepaskan birahi liarnya. Gigi-giginya mengeluarkan suara gemeretak seolah seluruh giginya sedang menggigit benda yang sangat keras.
"Nona, apa Anda baik-baik saja?" pelayan muda itu menghampiri Anna yang masih berdiri di balkon kamarnya. "Nona, Anda ...."
"Aku baik-baik saja! Di mana Janied? Tuanmu?" Anna mengeluarkan suara rendahnya.
"Beliau sedang keluar, Nona."
"Kau boleh keluar!" perintah Anna. "Aku ingin sendiri," tambahnya.
Namun pelayan itu bergeming. Dia terus berada di belakang Anna menundukkan kepalanya.
"Kenapa masih di sini? Aku minta kau keluar! Apa kau tak dengar, hah!?" Anna meninggikan suaranya.
"Maaf, Nona. Tapi, Tuan Janied berpesan pada saya sebelum Nona mau menuruti keinginan beliau, Anda tak diperbolehkan meninggalkan kamar ini." Jelasnya sambil menunduk.
"Keinginan? Keinginan apa? Apa yang harus kuturuti dari kata-katanya!?" Anna membalikkan badannya menatap sang pelayan tajam.
"Sebentar Nona. Akan saya ambilkan 'sesuatu' dari Tuan Janied." Pelayan itu mengambil sebuah kotak persegi panjang yang ada di atas meja rias kamar yang ditempati Anna.
Anna tak memperdulikan ucapan pelayan muda itu dan dia membalikkan kembali tubuhnya menghadap ke arah taman vila milik keluarga Cannavaro. Tarikan nafas berat yang keluar dari hidung dan mulut Anna, seolah mengisyaratkan bagaimana wanita cantik bersuami itu tertekan dan menderita karena ulah sepupu gila suaminya.
"Nona, Tuan Janied meminta saya untuk memberikan ini pada Anda." Ucap pelayan muda itu menyerahkan kotak dengan pita warna merah di atasnya.
"Apa ini?" tanya Anna penasaran.
"Maaf, saya juga tidak tahu Nona, tapi, Tuan Janied meminta saya agar Nona mau menerimanya."
"Dan jika aku tak mau?!" tanya Anna seolah menantang.
"Anda harus mau menerimanya, Nona!" tegas pelayan itu menatap Anna.
"Haha, sepertinya tuanmu adalah seseorang dengan tipikal memaksa, ya? Tapi, aku, Anna Marbela, wanita yang telah bersuami-kan Arnius Nagendra, tak akan sudi menerima hadiah apa pun juga dari pria yang bukan suamiku!" tegas Anna membalas tajam tatapannya.
Pelayan itu tanpa membuang waktu mengambil ponselnya dari dalam seragam pelayan yang dikenakannya dan menghubungi Janied.
"Tuan, Nona Anna tak mau menerima pemberian Anda."
Anna menyilangkan kedua tangannya, memandang penuh kesinisan dan kebencian.
[Berikan ponselmu padanya!]
"Nona, Tuan Janied ingin bicara pada Anda." Pelayan itu memberikan ponselnya.
"Aku tak sudi bicara pada binatang macam dia!" ketus Anna.
"Tuan ...."
[Berikan 'barang' itu padanya! Aku akan kembali 10 menit lagi!]
"Baik, saya mengerti."
Tak lama setelah Janied memutus teleponnya, baik Anna maupun pelayan muda itu hanya terdiam kaku dan masing-masing saling memandang tajam.
"Mau berapa lama kau ada di sini, Nona Kecil? Apakah saat ini pekerjaan pelayan hanya mengawasi dan memperhatikan tawanan?" sindir Anna menyeringai.
"Maafkan saya, Nona. Tapi, perintah tetaplah perintah dan saya harus mematuhinya!" tegas pelayan itu.
"Apa kau seorang robot atau kau memang dengan tulus mendengar semua perintah manusia keparat itu!"
"Nona!"
Kriettt
"Dari luar gaduh sekali aku mendengar suara melodi nan indah keluar dari wanita yang kupuja."
Janied tiba-tiba masuk ke kamar Anna dan menyandarkan tubuh tinggi tegapnya ke kusen pintu warna merah bercampur coklat sambil menyilangkan salah satu kakinya dan menyembunyikan kedua tangannya di saku celananya.
"Tuan Janied." Pelayan itu menghampiri Janied membungkukkan badan.
"Keluar! Ada yang harus kubicarakan dengan wanita cantik ini." Seringai Janied melirik Anna.
Tak lama, setelah pelayannya keluar, Janied bergerak perlahan melangkah mendekati Anna yang masih berdiri di balkon kamar yang ditempatinya.
Tatapan sinis dan ekspresi ketus dari pemilik wajah oval dan mata hazel ini tak menyurutkan kaki Janied untuk menatap wanita idamannya.
"Kenapa belum dibuka?" tanya Janied melirik kotak yang diberikannya untuk Anna.
"Tak sudi aku terima barang pemberian bajingan seperti dirimu!" ketus Anna.
"Haha, aku suka ketika kau marah, Anna. Tambah seksi dan menggairahkan!" seringai Janied. "Tapi, sayangnya, kali ini kau harus menuruti kemauanku, jika tidak ...."
"Jika tidak apa!? Apa lagi ancamanmu!"
"Suami tercintamu sedang mencari dirimu dan sepertinya dia sangat terpukul dengan adegan kita, Sayang."
Anna membelalakkan matanya. "A-apa maksudmu? Adegan? Adegan apa?"
"Secepat itukah kau melupakan kenikmatan ketika kita bercinta sambil dilihat oleh banyak pasang mata?"
Anna terdiam. Dia mulai merasakan lagi organ intimnya nyeri dan ngilu. "Bajingan kau, Janied! Kau! Kau ....!"
Janied segera meraih kotak berpita merah itu dan membukanya. Tampak sebuah lingerie hitam berbentuk dalaman yang kemudian diangkat oleh Janied dan diberikan pada Anna secara paksa.
"Apa ini?" Anna mengangkat atasan dan bawahan dalaman hitam itu.
"Pengganti lingerimu!"
"Apa! Kau gila, Janied! Otakmu kau taruh di mana, hah! Bisa-bisanya kau memberikan aku barang setan seperti ini! Ambil kembali dan pakaikan pada pelacurmu!" Anna melempar dalaman warna hitam tersebut tepat di wajah Janied.
Murka! Itulah yang dirasakan oleh Janied saat ini! Dengan cepat dan jemari besar serta panjangnya ia meraih pinggang ramping Anna dan mendekatkan wajahnya. "Jangan pancing emosiku, Anna. Jangan sampai kejadian beberapa tahun lalu terulang kembali, Anna. Kau tahu apa maksudku bukan?" seringai Janied.
"Persetan denganmu, Janied! Aku benar-benar membencimu!" Anna dengan lantang menantang Janied.
"Oh, Anna. Kau tahu apa yang paling kusuka ketika aku bersamamu?" tanya Janied menatap liar wanita yang kini tengah ada di genggamannya. "Aku bisa berfantasi sangat liar meskipun hatiku penuh dengan dendam pada suamimu. Tapi keinginanku untuk bercinta denganmu melebihi apa pun di dunia ini." Bisik Janied seraya menjilat cuping telinga kanan Anna.
"Hentikan sikap binatangmu, Janied! Arnius akan segera menghabisimu! Dia akan mengoyak tubuhmu hingga bagian yang terkecil!" Anna mendengus kesal.
"Kita lihat saja, Sayang. Kau atau suamimu yang tolol itu yang akan bertahan sebagai raja rimba di tengah hutan savana." Janied melepaskan jemarinya dan lagi-lagi berbisik, "Sebaiknya kau menggunakan hadiah yang telah kuberikan padamu karena malam ini akan ada pesta yang tak akan pernah kau lupa, Anna Marbela!"
'Pesta?' gumam Anna Marbela melihat Janied yang memandangi dirinya terus tersenyum.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, Anna sayang. Karena itulah aku memintamu untuk memakai hadiah yang kuberikan padamu. Buat aku bergairah Anna di atas dendam kesumat yang telah membuncah di kepalaku ini!"