Berawal dari Alvin yang memilih untuk keluar dari desanya, dan memutuskan untuk meninggalkan wanita yang begitu ia cintai, demi mengubah nasibnya.
Alvin baru dua bulan lulus dari pendidikan sekolah menengah atas, dan selama dua bulan ia tidak mendapatkan kepastian dari kedua orang tuanya tentang kelanjutan pendidikannya.
Maka dari itu, bertepatan ketika kedua orang tuanya sedang tidak berada di rumahnya, iapun segera berbenah untuk segera pergi dari rumahnya menuju rumah kekasihnya.
Meskipunia tidak terlalu pintar, tapi ia beranggapan, kalau pendidikan yang tinggi bisa saja menjamin masa depan yang cerah. Jadi iapun memutuskan untuk merantau keluar pulau, dengan harapan bisa kerja sambil kuliah.
******
"Indah, kamu baik - baik yah selama aku pergi, kalaupun dalam satu tahun aku tidak kembali, kamu berhak mengambil keputusan tentang kelanjutan hubungan kita !" ujar Alvin sambil memegang tangan Indah, yang tak lain adalah kekasihnya.
"Issshh yank, panggil ayank dong, " timpal Indah.
"Banyak orang soalnya !" jawab Alvin.
"Gini yank, aku percaya kok, kamu akan kembali, tapi yang tidak aku percaya itu, apakah di sana kamu bisa membawa diri ? Sedangkan di sini saja, kamu itu cuman akrab denganku. Kamu juga ngga pernah tuh ikut kerja apapun, di sana kamu mau kerja apa emangnya ?" ujar Indah.
"Kalau di desa jelas yank, karena kurangnya lapangan pekerjaan, dan aku yakin, aku bisa membawa diri di sana !"
Meskipun Alvin berkata cukup yakin, tapi sebenarnya dirinya sendiri belum percaya, bahwa ia bisa membawa diri di tanah perantauan.
Sebelum berpisah, Indah menyerahkan dua lembar uang seratus ribu untuk bekal kekasihnya selama perjalanan, tapi sebelum menerimanya, Alvin menoleh untuk memastikan keadaan sekitarnya.
"Yank, makasih yah, sumpah aku akan menggantinya !" ucap Alvin sambil menerima sodoran uang dari Indah.
"Daaahhh, aku pergi nih !" ucap Alvin.
"Iya, hati - hati !"
Alvin sambil melangkah menyempatkan untuk menoleh sesekali untuk melihat Indah, dan tanpa sengaja iapun menabrak seseorang yang membuat langkahnya terhenti.
"Jalan itu pakai mata, " bentak pria buru panggul kapal yang di tabrak Alvin.
Alvin yang mendengar bentakan itu, langsung tertanam dalam hati kecilnya. Ada rasa emosi yang seketika meluap, tapi tak berani di lampiaskannya.
"Maaf bang, " ucap Alvin gemetar ketakutan.
Melihat tingkah Alvin yang memang tidak ada persiapan untuk melawan, membuat pria yang membentaknya tadi merasa ibah.
"Ya sudah, saya maafkan !" ucap pria itu lalu berlalu pergi.
"Anjngg, tadi aku kok mati kutu sih ? Ahh banggsaatt, andaikan aku memukulnya, bodoh, bodoh, bodoh !" ucap Alvin seolah menyalahkan dirinya sendiri.
Alvin kemudian melanjutkan langkahnya untuk menaiki dek kapal dan iapun mulai mencari letak tempatnya sesuai dengan tiket yang sudah di belikan oleh Indah.
*******
Ketika perjalanan pulang, Indah di berhentikan oleh seorang wanita yang tak lain adalah sahabatnya.
"Indah, dari pelabuhan kah ?" tanya Fira.
"Iya beb, aku dari liat kapal !" jawab Indah berbohong, dan memang kepergian Alvin hanya indah yang mengetahuinya, bahkan kedua orang tuanya Alvin hanya sekedar di titipkan selembar surat, dengan pernyataan ia akan pergi mengadu nasib.
"Eh, kamu kok bawa koper segala ? Mau kemana beb ?" tanya Indah.
Indah sejenak memilih untuk mengobrol dengan Fira. Obrolan mereka semakin mencair, hingga membahas tentang kelanjutan pendidikan mereka.
"Ohh, jadi kamu mau ke kota ? Mau lanjut atau kerja ?" tanya Indah.
"Rencananya mau kerja dulu Beb, kalau dananya udah cukup, baru mau lanjut kuliah !" jawab Fira.
Mendengar itu Indah hanya tersenyum paksa, di mana kedua orang yang di cintai dan di sayanginya akan pergi meninggalkannya seorang diri.
"Isshh, beb jangan sedih dong, "
"Kamu jahat Fi, kenapa kamu ngga ngomong sih, kalau kamu mau pergi ke kota ?" tanya Indah.
"Huuff, aku sebenarnya tidak ingin membuatmu sedih seperti ini Beb, dan aku juga yakin, orang tuamu pasti tidak akan mau membiarkan kamu pergi kemana - mana, "
"Iya beb, tapi setidaknya ngomong kek, biar aku bisa mempersiapkan diriku. Aku sedih banget loh, soalnya Alvin juga ke kota !" ujar Indah.
"Hah, Alvin ?"
"Upsss, hufff iya Beb. Dia katanya mau cari kerjaan di sana, " jawab Indah pasrah, dan iapun tertunduk lemas sesaat.
"Terus hubungan kalian ?" tanya Fira memastikannya, berhubung dia salah satu wanita yang menyukai Alvin.
Meskipun Alvin tidak pernah menebar pesona, dan tidak pernah membuka pembicaraan selain tanpa ada kepentingan dan sebagainya, tapi Alvin banyak di sukai oleh mantan teman sekelasnya dari kalangan wanita.
"Kami masih pacaran kok, "
Sebelum berpisah, mereka berdua menyempatkan untuk saling memeluk, dan sempat juga air mata mereka mengalir deras.
"Hiksss, beb, makasih untuk semuanya!" Ucap Fira.
"Hiksss, kita adalah sahabat selamanya, jadi jangan berterimakasih, " timpal Indah sambil mencubit pelan pinggang Fira.
******
Berpindah, dimana Alvin tengah sibuk berkeliaran di atas kapal hanya demi mencari tempatnya, dengan mengandalkan dirinya sendiri, berhubung ia tak memiliki keberanian untuk bertanya. Sampai pada akhirnya ia mendapatkan tempatnya, tapi seketika keberaniannya kembali di uji, ketika ia melihat ada seseorang yang sudah rebahan di tempatnya.
"Giman sih tuh orang, jelas - jelas itu tempatku!" batin Alvin kesal.
Alvin yang tidak berani menegur orang itu, iapun
memilih mengalah. Alvin kemudian mencari tempat yang lain. Sesaat langkahnya terhenti ketika ia merasa tangannya di pegang seseorang, dan ketika ia menoleh barulah ia menepis pelan tangan yang memegangnya.
"Ehh, kok, kamu kok di sini ?" tanya Alvin gugup.
"Kamu tuh, ngapain di sini, kek orang linglung aja !" timpal Fira.
Alvin yang mendengar timpalan dari Fira, seolah
menjadi hinaan baginya, hingga Alvin memilih melanjutkan langkahnya. Sampai saat ini Alvin belum mengetahui, kalau ia memiliki kelebihan dari fisiknya, bahkan ia beranggapan kalau dirinya itu serba kekurangan, hingga membuatnya selalu mengintrospeksi dirinya sendiri.
Sampai saat ini juga, Alvin tidak mengetahui, bahwa ada banyak wanita yang menyukainya, di mana ia beranggapan kalau hanya Indah yang menyukainya, berhubung Indah mengutarakan perasaannya pertama kali kepadanya.
Fira lanjut membuntuti langkah Alvin yang terkesan terburu - buru, namun Alvin yang mengira kalau ada sesuatu yang membuatnya di buntuti, maka dari itu dia berbalik dan membentak Fira.
"Kamu kenapa sih, kamu kurang kerjaaan ?" bentak Alvin yang membuat Fira langsung mati kutu, lalu menundukkan kepalanya.
Alvin kemudian melanjutkan langkahnya, meskipun terkesan santai, tapi kini perasaannya berkecamuk.
"Tadi aku bentak Fira ngga sih ? Dia salah kok ? Astaga, seharusnya aku ngga perlu membentaknya. Gimana nih, mau minta maaf, tapi malu, mau mulai dari mana nih ? " batin Alvin yang merasa tidak nyaman dengan sikapnya barusan.
15 MENIT KE DEPAN KAPAL INI AKAN SEGERA BERANGKAT MENUJU PELABUHAN xxxxx !"
Alvin yang mendengar suara penyampaian akan keberangkatan kapalnya, iapun semakin panik, karena ia belum mendapatkan tempatnya. Sampai Alvin memaksakan dirinya untuk berani bertanya dengan salah anak buah kapal.
"Bang, ada tempat ngga ?" tanya Alvin.
Bambang yang mendengar pertanyaan Alvin, sempat bingung juga, tapi iapun segera menanggapi dengan meminta tiket milik Alvin.
"Ikuti saya, " pinta Bambang.
"Tunggu bang, ini, maksudnya saya memang sudah ketemu dengan tempatku, tapi sudah ada yang tempati !" ucap Alvin.
Bambang terhenti, iapun berpikir sejenak, lalu iapun memberikan Alvin tawaran untuk tinggal di kamarnya.
"Adek mau ngga sewa kamar ?" tanya Bambang.
"Berapaan itu pak ?" tanya Alvin.
"Tujuan xxxxxx, itu memakan waktu sekitar 7 hari di atas kapal, kebetulan kamar saya itu termasuk kamar VIP di kapal ini, jadi adek perlu membayar 7 jutaan. Itu udah murah banget dek, biasanya untuk pejabat saya kasih 20 jutaan, gimana ?" jelas Bambang.
Alvin sontak kaget mendengar tarif kamar milik Bambang, sedangkan saat ini ia hanya memegang uang sebanyak dua ratus ribu.
"Hehhehe, saya cari tempat lain aja bang, bukannya ngga minat, tapi saya cuman memegang uang sedikit !"
"Pegang berapa ?" tanya Bambang.
Sebenarnya Alvin tidak mau jujur akan hal itu, tapi otaknya sudah bisa menebak pertanyaan selanjutnya yang akan di lontarkan oleh Bambang, maka dari itu iapun memutuskan untuk jujur saja.
"Dua ratus ribu bang, itupun uang ini untuk bekal selama perjalanan!" jawab Alvin.
"Sebenarnya kamu mau ngapain di kota sana ? Kamu ada keluarga di sana ?"
"Ngga ada bang, saya mau ubah nasib saya di sana, " jawab Alvin.
Melihat sikap gugup Alvin, membuat Bambang meliriknya sesekali, dan pikirannya itu berpikir keras, antara ingin membantu Alvin, tapi di satu sisi ia juga mau mendapatkan uang dari penyewaan kamarnya.
Cukup lama mereka saling melirik, dan sebenarnya Alvin sudah merasa begitu canggung dengan Bambang.
"Bang, ehhh, pak saya lanjut aja yah ?" ucap Alvin.
Bambang yang mendengar itu, segera mencegahnya, lalu demi membuatnya yakin dengan sosok di depannya itu, Bambang kemudian melontarkan beberapa pertanyaan kepada Alvin.
"Kamu merantau udah punya tujuan ?" tanya Bambang.
"Udah pak, rencanan saya mau mencari pekerjaan di sana !"
"Hadeh, jadi kamu belum tau mau kerja apa di sana ?"
"Nanti saya minta petunjuk aja bang, sama yang menciptakan saya !" jawab Alvin.
"Kayaknya nih bocah polos banget deh, tapi kok tatapannya begitu liar ?" batin Bambang.
"Kamu ikut aja denganku, kamu boleh memakai kamarku untuk sementara!" ucap Bambang.
Bambang kemudian mengantarkan Alvin menuju kamarnya. Setelah sampai di kamar, Bambang mengingatkan Alvin tentang sebuah kejujuran.
"Dek, Abang percaya sama kau, kamu boleh tinggal di kamar ini selama dalam perjalanan menuju kota M. Kalau begitu saya lanjut dengan pekerjaanku dulu, nanti kalau butuh apa - apa call nomor ini saja !" ujar Bambang, sambil menyerahkan kartu nama miliknya.
"Iya bang, makasih bang !" jawab Alvin.
Bambang kemudian berlalu meninggalkan Alvin seorang diri di dalam kamar yang begitu mewah menurut Alvin.
"Wah, kok bisa yah ada kamar semewah ini di atas kapal, udah rumah mewah gini nih, pantesan aja di kasih mahal !"
Alvin sejenak merebahkan tubuhnya di atas kasur yang membuatnya begitu nyaman, sampai - sampai ia berguling - guling, bahkan dia melepaskan pakaian bagian atasnya, agar kulitnya bisa bersentuhan langsung dengan kelembutan tempat tidurnya itu.
"Banggsaatt, enak banget punya kamar semewah ini, apalagi di temani dua orang istri, hahahhaa !" ujar Alvin yang sempat tertawa lepas, namun ia di kagetkan ketika ia mendengar ketukan pintu dari luar.
Alvin yang mengira bahwa itu adalah pemilik kamar itu, maka iapun segera beranjak, tanpa memakai pakaian atasnya, karena takut membuat Bambang menunggu kelamaan di luar kamar.
Saat Alvin keluar ternyata seorang wanita yang tampilannya membuat Alvin langsung menunduk tak berani melihatnya. Bagaimana tidak prempuan yang berdiri tepat di hadapannya itu sedang memakai rok jeans mini, sepasang dengan kaos ketat, sambil membawa sebuah tas tentengan dan koper.
"Maaf mba cari siapa ?" tanya Alvin dengan gugup, sambil tetap menjaga pandangannya.
"Katanya belum ada yang booking nih kamar, tapi ternyata udah di booking bocah cacing ini, hadeh, " gerutu Laura, sambil mengutak atik ponselnya, dengan tujuan untuk menghubungi Bambang.
Sementara Alvin yang mendengar hujatan dari wanita di depannya itu, ikut mengutak atik ponselnya untuk menghubungi Bambang juga.
"Lah, kok malah sibuk sih ?" tanya Laura kesal.
"Eh, mba juga nelpon yang punya kamar ini ?" tanya Alvin yang seketika menyadarinya.
"Anjngg, kamu hubungin juga ?" tanya Laura yang semakin membuatnya kesal.
"Banggsaatt!" batin Alvin ikut kesal.
"Biar aku saja yang menghubunginya !" ucap Alvin yang berusaha untuk menahan emosi, berhubung panggilannya sudah terjawab oleh Bambang.
"Halo bang, ini, aku Alvin yang pinjam kamar Abang tadi. Aku mau memberikan informasi bang, ini ada cewek yang nyariin Abang, saya bilang gimana nih bang ?" ujar Alvin.
"Ohhh, iya namanya Laura, dia yang booking kamarku dek, tapi kamu ngga usah keluar dari situ. Lagi pula dia juga cuman bayar setengah kok, jadi kamu ngga usah merasa sungkan di situ !" ujar Bambang.
"Tapi bang, " ucap Alvin merasa sungkan untuk menjelaskan keluhannya.
"Coba kamu kasih hp kamu kepada dia, biar Abang yang ngomong!" Pinta Bambang, lalu Alvin menyerahkan ponselnya kepada Laura.
"Kamu pegang aja itu hpmu, speaker !" ucap Laura yang seolah tidak mau memegang ponsel jadul milik Alvin.
Alvin kemudian menurut saja, sementara Bambang, langsung menjelaskan tentang keberadaan Alvin.
"Ok !" ucap singkat Laura, lalu melangkah masuk ke dalam kamar, meninggalkan Alvin yang masih berdiri mematung di belakang pintu, karena matanya itu seolah mengikuti tubuh Laura yang menurutnya begitu seksi.
Berhubung di dalam kamar itu, ada dua tempat tidur, jadi mereka berdua tetap di tempat tidur yang terpisah.
"Kak, itu tempat tidurku, " tegur Alvin ketika Laura meletakkan kopernya di atas tempat tidur yang di tempati Alvin.
"Heiii, diam kamu ! Di bawah banyak kuman, ngga steril, lagi pula ini barang gw mahal - mahal, jadi ngga boleh disimpan di bawah !" Timpal Laura.
"Sabar - sabar !" ucap Alvin yang tak sengaja terlontarkan, hingga terdengar pula oleh Laura.
"Yah, kamu harus sabar menghadapi gw, secara gw cantik, seksi, manja, dan memang kamu pantas tidak mendapatkan perlakuan baik dariku, soalnya kamu itu dekil, kurus. " Ujar Laura.
Sebenarnya Laura itu baik, cantik, murah senyum, tapi di hari keberangkatannya itu seolah ternodai oleh mantan suaminya yang meninggalkannya demi wanita lain. Laura juga bukan pertama kalinya ia meninggalkan tanah kelahirannya, melainkan ia sudah beberapa kali pulang balik ke kampung untuk sekedar melepas rindu kepada keluarganya.
Awalnya Alvin begitu nyaman dengan tempat tidurnya, meskipun bagian kakinya tertekuk, karena adanya barang milik Laura. Alvin tak bisa menahan rasa ngantuknya ketika kapal sudah mulai oleng, Alvin begitu menyukai keadaan itu, iapun merasa seperti sedang di atas ayunan, hingga ia begitu nyaman dalam tidurnya.
Tapi tak berselang lama, Alvin terbangun, ketika ia mendengar suara tangisan yang sesenggukan, dan ketika ia menoleh, barulah ia bisa memastikan kalau itu adalah tangisan Laura.
Sebenarnya Alvin tipe orang yang malas tau, tapi saat ini dia seolah berkewajiban untuk membuang egonya. Entah, apakah dia hanya ingin sekedar mencari muka dengan Laura, dan memang Alvin tak bisa memungkirinya, kalau Alvin tergoda dengan fisik Laura yang terkesan hampir sempurna.
"Mba ?"sahut Alvin, sambil menenggak ludahnya. Bagaimana tidak, matanya itu langsung tertuju ke arah pangkal paha Laura, dan memang posisi Laura seolah memancing nafsu Alvin.
Sebenarnya Alvin panas dingin, karena dengan posisi Laura, sangat jelas celana dalamnya terlihat oleh Alvin. Ia juga bisa melihat cetakan berbentuk, di balik dalaman berwarna putih milik Laura.
Alvin sempat terpana, tapi Laura mulai menyadari posisinya, dengan sigap, Alvin langsung tertunduk tanpa berani melihat ke arah Laura lagi.
"Kamu lihat apa barusan bocah Ingusan?" Bentak Laura, kemudian dia turunkan kakinya sambil dia tutup memakai tangan di cela cela pahanya.
"Maaf, tadi aku tidak sengaja melihatnya, kalau Mba mau marah silahkan Mba, soalnya saya tau saya salah !" ucap Alvin masih tertunduk.
"Kamu ini, kalau di ajak ngomong jangan nunduk, bangsaaaaat? "ujar Laura, yang seketika membuat darah Alvin mengalir cukup cepat.
"Kamu jangan membentak saya, saya juga punya harga diri !" ucap Alvin, dan dia seolah membentak Laura.
Laura yang notabenenya baik, penyayang, rendah hati, dan suka menabung, merasa sangat di tindas, hatinya pun begitu rapuh, hingga membuatnya kembali bersedih kembali.
Alvin yang kembali mendengar suara isakan tangis, akhirnya memberanikan diri untuk menatap ke arah Laura. Melihat Laura menangis sejadinya, iapun merasa sangat bersalah.
"Mba kok nangis ?" tanya Alvin.
"Hiks, hiksss, kamu, siapa suruh bentak aku, aku ngga suka di bentak, hiksss, "
"Ehhh, gara - gara aku sepenuhnya? Perasaan, mba sudah menangis dari tadi kok, " timpal Alvin.
"Hikkssss, hikssss, " Laura tidak menanggapinya, dan beberapa saat kemudian, setelah tangisan Laura meredah, akhirnya dia kembali menanggapi Alvin.
"Eggak papa kok, Ini sedih aja harus pisah dengan keluarga " ujar Laura sambil menyeka air matanya yang membasahi pipinya.
"Ohh terus mba lari dari kenyataan hidupnya? "tanya Alvin.
"Lebih tepatnya, aku mau balik lagi, soalnya aku sudah kerja di kota, kamu sendiri mau kemana ?"
"Mau ke kota mba, di pulau sebelah, "
"Orang tuamu di sana ?"
"Saya Rencana Ingin merantau di sana mba !" jawab Alvin.
"Apa ? bocah penakut seperti kamu ingin merantau, atau aku salah denger ?"
"Ngga kok, mba ngga salah dengar, saya mau pergi ke pulau sebelah merantau atau lebih tepatnya mengadu nasib !" jawab Alvin tegas.
Laura tidak langsung menimpalinya, sejenak dia terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Mau kerja apa kamu di sana ?" tanya Laura, setelah beberapa saat.
"Belum tau mba, aku rencana sampai di sana baru mau nyari, yang cocok dengan skilku !"
"Ohh, kamu lulusan sarjana yah ?"
"Ehh, bukan, aku lulusan sekolah menengah saja, "
"Hmmm, kamu bisa apa sih ? "
"Entahlah mba, tapi aku rajin membantu ibuku di rumah, untuk sekedar berbenah !"
Lagi dan lagi Laura terdiam, namun setelahnya ia tersenyum manis ke arah Alvin. Laura juga merasa, kalau sosok pria di depannya itu, bisa membuat bad moodnya jadi good mood.
"Kamu mau ikut kerja denganku tidak ?" tanya Laura.
"Memangnya kerja apa mba ?" tanya Alvin balik.
"Kerja di club, "
"Club mobil atau motor?"
"Hihihi, dasar bocah !" Timpal Laura sambil menggelengkan kepalanya.
Mereka pun melanjutkan obrolannya, Alvin sudah berani menatap Laura, karena memang sebenarnya ia gampang menguasai keadaan jikalau hanya mengobrol dengan satu orang saja, itupun tergantung lawan bicaranya, lawannya cuek berarti ia akan merasa sungkan, namun jika obrolanku terasa nyaman, pasti ia tidak merasa sungkan untuk terkesan akrab.
"Marketing itu apa yah, pemasaran ?" tanya Alvin.
"Iyya kerja Marketing di bagian memuaskan lawan jenis atau BO !" ujar Laura, tapi Alvin belum mengerti.
"Bagian mana lagi itu, gimana cara kerjanya ?" tanya Alvin penasaran.
"Ternyata selain penakut, kamu juga kudet, jadi kerja aku itu berhubungan intim dengan laki laki yang mau membayarku !"
"Jadi kakak udah pernah Gituan ?"
"Astaga kamu ini, namanya juga kerja begitu yah hampir tiap malam aku begitu dengan laki laki !" ujar Laura sambil menepuk jidat tiga kali.
"Kok kakak mau sih kerja begitu, padahal itu tidak baik kak?"
"Yah gimana lagi, tidak ada pilihan lain, karna cuman kerja gitu yang cocok denganku," ujar Laura sambil menunduk.
"Aku tau ini pekerjaan kotor, tapi aku butuh uang buat menghidupi ke dua anak anak ku, dia di jaga oleh neneknya di kampungku" ujar Laura.
"Kakak udah nikah ?" tanya Alvin.
"Iyya, sebelumnya kawin lari dengan pacarku sampai aku memiliki dua orang anak, tapi tiba tiba suami kakak kabur entah kemana, jadi mau tak mau aku kembali ke rumah orang tua, dan akhirnya memilih merantau. Tapi di tawarkan kerja BO, yah langsung terimah aja kebetulan gajinya lebih dari cukup untuk membiayai anak- anakku !"
Mendengar penjelasan itu, Alvin terlihat begitu terharu dengan perjuangan Laura. Bagaimana tidak, selama ini, dia hanya mengeluh dengan sikapnya, serta ada satu impian yang mau ia capai, yaitu menjadi orang sukses.
"Oiya, kenalkan namaku Alvin, dari tadi kita ngobrol tapi kita belum kenalan, makanya tadi pertama aku panggil mba dan panggil kakak lagi, hehehe !" ujar Alvin sembari menggaruk kepala.
Alvin kemudian duduk melantai, berhubung ia mau merasa lebih rileks, dan ia juga mau duduk selonjoran.
"Oiyya panggil aja Laura, ujarnya kemudian dia ikut duduk melantai dengan Alvin.
"Kakak di atas aja ngga papa kok !"
"Di sini aja, masa kamu di bawah, nanti kamu intipin cdku lagi, hihihi !" timpal Laura.
"Maaf kak, saya mau tanya kak tadi kakak mengajakku kerja sebagai apa ? Memangnya ada gitu kerjaan cocok buat aku ?"
"Kalau kamu berani mengangkat kakimu dari tanah kelahiranmu, dengan tujuan untuk mengubah nasibmu di tanah perantauan, itu tandanya kamu mengandalkan dirimu sendiri, selama ada kemauan, pasti ada jalan. " Ujar Laura.