BRAKKKK!
Pria itu menggebrak meja kerjanya dengan keras dan membuat seisi ruangan berjengit karena kaget bercampur takut.
Pasalnya, ketika bos mereka itu mengamuk konsekuensinya berat, kemungkinan besar mereka akan kehilangan pekerjaan.
"Vino, laporan keuangan macam apa ini?! Kamu pikir saya nggak baca ulang laporan keuangan perusahaan?! Mulai hari ini kamu DIPECAT!"
"Maaf, Pak Leon. To-tolong beri saya kesempatan sekali lagi ... firma akuntan kami mungkin melakukan kesalahan yang tidak disengaja, Pak," mohon pria muda itu berlutut di hadapan Leon, CEO Indrajaya Realty.
"Tidak. Keluar dari ruangan saya sekarang, saya muak melihatmu." Leon memberi kode pengawalnya untuk menyeret keluar Vino, kepala firma akuntan publik yang bekerja untuk perusahaannya.
Dia paling benci orang yang tidak kompeten. Bagi Leon, ketika sudah mengeluarkan uang untuk membayar jasa artinya dia harus dilayani dengan sempurna, tak boleh ada cacat atau celah.
Indrajaya Realty adalah sebuah perusahaan multinational. Leon mengepalai cabang di Jakarta, Indonesia. Sementara kakak sulungnya berbeda ibu yang bernama Leeray, mengepalai cabang di Perth, Australia.
Leon menghempaskan tubuhnya di kursi CEO dengan ekspresi lelah. Pria bodoh tadi merusak mood paginya. Dia bisa uring-uringan sepanjang hari karena hal ini.
"Gio, Adri, kalian cari akuntan publik yang baru untuk perusahaan kita. Cari yang jujur dan teliti membuat laporan keuangan. Aku benci orang bodoh! Mana bisa membohongiku ... aku sekolah untuk gelar master bisnisku bukan membeli gelar kosong!" ujar Leon pada kedua sekretaris pribadinya yang sudah bekerja di perusahaan itu sejak dia belum dilahirkan.
Giorgio dan Adrian adalah dua sekretaris pribadi yang sejak muda dipekerjakan oleh papinya Leon yaitu Leonard Indrajaya.
Bagi mereka berdua, ayah dan anak itu berbeda bagai langit dan bumi. Leonard Indrajaya adalah seorang pebisnis yang kawakan dengan segudang pengalaman yang bertemperamen halus dan tenang. Sementara putera bungsunya ini, Vladimir Leon Indrajaya adalah seorang pebisnis muda yang bertemperamen panas dan mudah tersinggung sekalipun secara skill bisnis setara dengan ayahnya.
"Tentu, Pak Leon. Kami akan segera carikan gantinya," sahut Adrian dengan patuh.
Giorgio pun berbicara, "Pak Leon, sekadar mengingatkan ... Anda ada janji konsultasi dengan psikolog di rumah sakit Siloam Internasional hari ini pukul 10.00. Papi Anda yang membuatkan janji temu ini."
Mendengar perkataan Giorgio barusan, Leon mendengkus geli bercampur kesal. Papinya merasa temperamen Leon terlalu kasar dan cenderung meledak-ledak, jadi papinya ingin dia melakukan sesi terapi psikologis dengan ahli kejiwaan.
"Aku masih waras ... apa kalian menganggap aku orang gila yang butuh terapi kejiwaan?!" ucap Leon menanggapi janji temu dengan psikolog itu.
Gio dan Adri saling bertukar pandang dengan senyum terkulum karena geli dengan pertanyaan Leon. Mereka merasa senior boss mereka benar, puteranya agak sedikit agresif dan mudah mengamuk. Jelas sekali Leon butuh sesi terapi kejiwaan.
"Pak Leon, maaf saya tidak berani menjawabnya. Itu sepenuhnya hanya berdasarkan perintah Tuan Leonard. Saya hanya menjalankan perintahnya saja. Tolong jangan membuat saya berada dalam posisi dilematis," jawab Giorgio dengan halus.
Leon memang hanya mau mendengarkan masukan dari kedua sekretaris pribadinya itu. Maka, dia pun menuruti keinginan papinya.
"Oke, Gio. Aku berangkat sekarang, jadwal terapinya satu jam lagi. Kalau ada masalah kantor yang penting segera hubungi ponselku. Hal remeh ini membuang-buang waktuku yang berharga," pamit Leon sambil mengomel. Dia pun meraih kunci mobilnya di meja kerjanya lalu bergegas keluar ruangan CEO diikuti oleh pengawal-pengawalnya yang berbadan kekar.
Leon bertubuh tegap dan kekar dengan tinggi 190cm, wajahnya tampan mirip artis Korea Ji Chang Wok. Dia baru berusia 27 saat ini. Namun, dia sudah memimpin perusahaan sejak usia 21 tahun menggantikan papinya yang sudah berusia senja.
Papinya menikah dengan maminya Leon yang adalah istri keduanya di usia 59 tahun sementara istrinya berusia 28 tahun saat itu. Jadi saat ini papinya itu berusia 86 tahun lebih mirip seperti kakeknya dibanding ayahnya. Namun, papinya itu memang awet muda dan sangat sehat.
Hal itu sebenarnya menjadi penyebab trauma masa kecil Leon. Pernikahan papinya dengan maminya menjadi bahan gosip dan bully-an nyonya-nyonya sosialita konglomerat. Dan dalam prosesnya itu sungguh menyakiti hati Leon serta maminya.
Sejak kecil Leon gemar berkelahi karena teman-teman sekolahnya ikut membully dirinya karena omongan ibu mereka yang menjelek-jelekkan Leon dan maminya, Elena.
Tak jarang Leon mendengar perkataan bahwa maminya pelacur murahan, maminya matre, maminya menikahi kakek-kakek karena mata duitan, maminya wanita simpanan, dan sejenis itu. Semuanya selalu menyulut emosinya dengan membabi buta.
Leon sebenarnya anak yang jenius, hanya saja dia bermasalah di lingkungan sekolahnya. Jadi dia berpindah-pindah sekolah karena dropped-out akibat kegemarannya berkelahi. Pada akhirnya, papinya mengirim Leon bersekolah di luar negeri ketika SD kelas 5 di Perth, menumpang di rumah kakak sulung tirinya, Leeray.
Bagi Leon, Leeray justru seperti ayah baginya karena usia mereka berbeda 36 tahun. Kakak sulungnya itu sangat menyayanginya seperti anak kandung karena Leeray memiliki sepasang anak kembar seusianya yang bernama Poseidon dan Midori. Keduanya bertampang blasteran menuruni genetik mami mereka yang memiliki darah Australia. Berambut cokelat kemerahan dan bermata biru dengan kulit seputih porselen.
Semenjak bersekolah di Australia, Leon mulai menunjukkan prestasi di sekolahnya. Dia mengalami akselerasi pendidikan hingga dapat masuk bangku kuliah lebih muda dari usia seharusnya.
Papinya memanggilnya pulang ke Indonesia seusai studi S2-nya di bidang bisnis internasional. Mulailah Leon memimpin perusahaan warisan papinya di Jakarta di usia 21 tahun. Papinya masih membimbingnya di tahun-tahun awal hingga mulai melepaskan Leon untuk memimpin sendiri perusahaan multinational itu.
Secara skill memang Leon mumpuni, tapi secara hubungan dengan orang-orang memang Leon agak kurang sabar. Hal itu sedikit banyak membuat nyawa Leon terancam. Dia mengalami banyak teror dari pihak-pihak yang tersinggung dan tidak menyukainya. Maka dari itu kemanapun dia pergi sepasukan pengawal berbadan tegap selalu mengikuti untuk menjaganya.
Image sebagai CEO yang kasar dan dingin itu melekat erat pada diri Leon. Hanya saja reputasi perusahaan kontraktor swasta terbaik se-Indonesia itu yang membuat banyak klien tetap menggunakan jasa perusahaannya.
Sementara dengan pihak luar negeri yang menjadi klien mayoritas mereka, justru Leon dinilai sangat profesional dan kompeten. Dia menguasai 5 bahasa asing seperti maminya karena memang sejak kecil maminya mengajarinya serta memanggilkan guru privat bahasa asing untuknya.
Leon pun merasa kemampuan 5 bahasanya itu membantu banyak untuk kemajuan perusahaannya. Kontrak klien asing mengalir deras karena kemampuan negosiasinya yang bagus.
Bakat kedua orang tuanya menurun tepat pada Leon. Leonard Indrajaya dikenal sebagai negosiator hebat di masa mudanya hingga disebut sebagai maestro bisnis pendiri konglomerasi grup Indrajaya.
Jalanan kota Jakarta selalu macet, Leon melirik jam tangan berlapis emas di pergelangan tangannya yang menunjukkan bahwa dia sangat terlambat dengan janji konsultasi kejiwaan dengan psikolog di RS. Siloam International.
Dia tidak suka bila ada orang yang membuat janji dengannya terlambat datang. Sekarang sebaliknya keadaannya, dia yang terlambat datang. Leon berharap dokter ahli jiwa yang akan memeriksanya tidak marah padanya.
Akhirnya, Leon pun sampai di rumah sakit itu. Dia berjalan ke front desk rumah sakit dan bertanya dimana ruang praktik psikolog. Petugas resepsionis itu memberitahukan petunjuk arah dimana ruangan itu berada.
Leon pun segera berlari ke sana. Dia telah terlambat 1 jam. Sial!
Perawat jaga di depan ruang periksa psikolog itu menanyainya, "Selamat siang, Pak. Apa sudah membuat janji sebelumnya? Atas nama siapa?"
Leon menata napasnya yang terengah-engah akibat berlari. "Ehmm ... atas nama Vladimir Leon Indrajaya, saya sudah membuat janji sebelumnya," jawab Leon sembari mengamati perawat jaga yang sedang mengecek buku pendaftaran pasien.
"Oohh iya, ada. Silakan masuk, Pak Leon. Mari ... lewat sini," ujar perawat jaga itu mengantar Leon ke sebuah ruangan periksa dengan nama dokter yang tertera di pintu masuk 'Dokter Evita Caroline Meyers'.
Perawat jaga itu membukakan pintu ruang periksa lalu menutupnya kembali setelah Leon masuk ke dalam.
"Selamat pagi menjelang siang. Silakan duduk di kursi itu, Tuan ... Vladimir atau Tuan Leon?" ujar dokter wanita itu pada Leon, dia sedang menulis sesuatu di bukunya di meja kerjanya.
Leon berjalan ke kursi dengan sandaran rendah yang memanjang di bagian kakinya. Dia duduk setengah berbaring di sana.
Tak lama kemudian Dokter Evita berjalan mendekat sambil membawa sebuah buku notes dan pulpen lalu duduk di samping Leon.
"Jadi sebaiknya saya panggil Tuan Vladimir atau Tuan Leon?" ulangnya.
"Leon ... dan Anda Dokter Evita?" balasnya sembari menatap wajah dokter itu.
Sebagai seorang playboy, Leon menilai wanita di hadapannya tampak sangat menarik. Rambutnya merah terang bukan merah kecoklatan dengan mata berwarna hijau seperti zamrut. Sepertinya bule asli atau keturunan blasteran dengan genetik Kaukasoid yang kuat karena bahasa Indonesianya sangat fasih.
Mata Leon langsung turun ke belahan kemeja bagian dada Dokter Evita lalu menelan salivanya 'glekk'. Dia suka ukurannya. 'Tubuh wanita itu ramping, tapi ukuran dadanya sangat mantap,' pikir Leon.
Dokter Evita merona pipinya karena sadar kemana arah pandangan pasiennya yang nakal itu.
"Tuan Leon, bisakah fokus ke wajah saya saja?" tegur Dokter Evita.
"Ehhh ... baik, Dok. Kita mau ngapain, ya?" tanya Leon bingung salah tingkah terpergok melihat yang tidak seharusnya dilihat.
"Kita ngobrol santai, jawab pertanyaan saya, ya? Ceritakan tentang kesibukan Anda sehari-hari," jawab Dokter Evita seraya bersandar santai di kursinya menatap wajah Leon.
Leon pun berkata, "Aku seorang CEO di sebuah perusahaan properti multinational. Bekerja dari pagi hingga sore, kadang lembur hingga malam bila sedang sibuk. Kegiatanku di luar jam kerja biasanya berkencan dengan wanita cantik, mencari calon istri yang belum kutemukan ... apa Dokter Eve sudah bersuami?"
Dokter Evita terkikik mendengar pertanyaan pasiennya itu. "Belum. Pertanyaan selanjutnya, apakah pekerjaan itu membebani Anda secara mental?" tanyanya lagi.
"Tidak. Aku menikmati pekerjaanku, memang itu keahlianku dan juga bisnis warisan keluargaku yang harus kuteruskan dan kukembangkan. Ketahuilah Dok, aku waras ... tidak stres atau frustasi. Mungkin lebih baik Anda berkencan saja denganku daripada menanyaiku pertanyaan yang tidak penting seperti ini," jawab Leon lalu duduk mencondongkan tubuhnya mendekat ke wajah Dokter Evita.
"Maaf, tidak bisa. Ini adalah pekerjaan profesional, Tuan Leon harap mengerti." Evita memundurkan tubuhnya menabrak sandaran kursinya.
Melihat dokter cantik itu agak ketakutan dengan sikapnya yang agresif, Leon pun berkata, "Baiklah. Maaf, kita lanjutkan ...." Lalu kembali berbaring di kursi pasien itu.
"Apakah Anda memiliki kejadian tidak mengenakkan atau trauma di masa lalu?" tanya Dokter Evita sesuai alur konsultasi pasien kejiwaan.
Leon mendengkus kesal lalu menjawab, "Ya, tentu saja. Aku mengalami banyak trauma di masa kecil. Dan itu membuatku ingin marah dan membalas orang-orang yang telah menghinaku dan mamiku. Orang-orang itu seolah tahu segalanya, padahal mereka tak tahu apapun!"
Dokter Evita merasakan kenaikan emosi yang kuat dari pasiennya. Ternyata trauma masa kecil yang membuat Leon memiliki perilaku mengarah ke tindak kekerasan dan agresif. Sebenarnya trauma semacam ini bisa disembuhkan dengan terapi sugesti positif. Dia salah satu ahli terbaik di bidang post-traumatic syndrome.
Dia mengenal papi Leon sudah lama, ayahnya bersahabat dekat dengan papi Leon. Jadi ketika Om Leonard menghubunginya untuk membuat satu janji sesi konsultasi kejiwaan, Dokter Evita segera menyetujuinya.
Pria muda itu sangat tampan menurut Dokter Evita, hanya sayangnya temperamennya yang dominan dan dingin itu sedikit membuatnya takut. Sedangkan, dari data yang dia peroleh dari Om Leonard, Leon memiliki kecenderungan menyakiti orang lain secara verbal dan fisik.
"Tuan Leon, kurasa itu akar masalah dari sifat kasar dan kerasmu. Apa kau bersedia mengubahnya? Kita bisa mengubah sifatmu menjadi lebih baik." Dokter Evita menatap Leon lurus ke matanya.
Leon menjawab setelah terdiam beberapa saat, "Sebenarnya pekerjaanku ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang tegas dan berkarakter kuat. Kadang sikapku terkesan kasar, tetapi itu konsekuensi ketika ada pihak-pihak yang menyulut kemarahanku dengan tindakan yang bodoh dan tidak bertanggungjawab."
"Tuan Leon, tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan kekerasan atau perkataan kasar apalagi secara fisik seperti bertarung atau berkelahi," balas Dokter Evita dengan tenang.
"Yaa ... yaaa ... wanita selalu berpikir begitu, bukan?"
"Ini bukan isu gender, Tuan Leon. Aku harap bisa membuat pikiranmu lebih tenang dan damai dalam menjalani hidup. Aku mengerti kekuatiran papimu. Ketika Anda banyak bersinggungan dengan orang-orang, lebih besar kemungkinan Anda untuk terluka baik secara fisik maupun mental," balas Dokter Evita dengan tenang.
Leon terdiam dan berpikir, 'Mungkin wanita itu benar. Namun, bukan itu intinya ... sifatku tidak ada yang salah. Poin pentingnya adalah aku lebih tertarik untuk bertemu lagi dan lebih sering dengan Dokter Evita. Atau aku bisa meminta jadwal terapi pribadi di kantorku saja setiap pagi atau sore mungkin ...'
"Dokter Eve, apa kau bisa datang ke kantorku untuk memberikan sesi terapi kejiwaan untukku setiap pagi atau sore?" tanya Leon sambil duduk berhadapan dengan dokter itu.
"Maaf, tidak bisa, Tuan Leon. Namun, mungkin Anda bisa datang setiap jam 08.00 pagi ke sini, akan saya buatkan jadwal ...," jawab Dokter Evita.
"Baiklah buat saja begitu, aku yang akan datang menemuimu. Apa aku boleh meminta nomor ponselmu, Dok?" balas Leon sembari mengeluarkan ponsel dari saku jasnya.
Dokter Evita tertawa pelan dan menundukkan wajahnya yang merona. Pasiennya yang ini lebih tertarik untuk menggodanya dibanding menjalani terapi kejiwaan.
"Haruskah aku memberikan nomor ponselku?" kata Dokter Evita.
"Ayolah ... aku ingin mengenalmu lebih dekat, apa tidak boleh?" bujuk Leon tak mau menyerah.
Dokter Evita berdiri lalu berjalan ke meja kerjanya untuk mengambil kartu namanya selembar. Dia berjalan kembali ke kursinya, menyerahkan kartu nama itu kepada Leon.
"Apa ini nomor pribadimu atau nomor kantor?" tanya Leon lagi.
"Yang paling bawah itu nomor pribadiku."
Leon tersenyum gembira. "Aku pasti menghubungimu segera dan menemuimu lagi besok pagi jam 08.00, aku tak akan terlambat lagi. Kau sangat cantik, tipe wanita kesukaanku, Eve."
"...." Dokter Evita terperangah tak tahu harus berkata apa pada pasiennya yang naksir kepadanya dan mengatakannya terang-terangan.
Setelah sesi konseling bersama Leon usai, Dokter Evita bergegas ke bagian administrasi RS. Siloam International. Dia ingin mengetahui rincian biaya kemoterapi untuk mamanya, Dokter Evelyn Meyers, yang sedang dirawat di rumah sakit itu karena kanker cervix (leher rahim).
Sudah hampir setahun sejak diagnosa dokter spesialis onkologi diberitahukan kepada keluarga Dokter Evelyn Meyers. Itu sebuah berita yang menghancurkan hati Evita dan papanya, Dokter Philip Meyers. Mereka berusaha mencari jalan agar mama sekaligus istri tercintanya itu bertahan.
Serangkaian kemoterapi sudah dijalani oleh Dokter Evelyn Meyers selama hampir 1 tahun dan memakan biaya yang sangat besar untuk tiap sesi kemoterapinya. Harta kekayaan yang sudah dikumpulkan oleh Dokter Philip sepertinya pun sudah tiris untuk membayar biaya rumah sakit.
"Suster Mina, total biaya kemoterapi tahap ketiga berapa jumlahnya ya?" tanya Dokter Evita dengan cemas, tabungannya benar-benar nyaris kosong.
Suster Mina membacakan jumlah estimasi biaya kemoterapi untuk Dokter Evelyn Meyers, "Sekitar 500 juta, Dok Evita. Untuk jadwalnya minggu depan di hari Senin. Bila Anda melewatkan jadwal yang ini kemungkinan harus mengantre sekitar 5 bulan lagi."
Pikiran Dokter Evita serasa buntu, 500 juta itu jumlah yang besar baginya. Apakah dia bisa meminjam pada tunangannya uang tersebut? pikirnya. Namun, akan sulit untuk melunasinya juga karena gaji praktiknya hanya berkisar 15 juta hingga 30 juta bila sedang ramai pasien per bulan. Butuh bertahun-tahun melunasinya.
"Baik, Suster Mina. Saya akan usahakan melunasi biayanya dalam waktu dekat. Terima kasih," ujar Dokter Evita lalu berjalan kembali ke ruang praktiknya dengan langkah berat.
Dia pun memutuskan untuk menelepon tunangannya, Belvin Alexander Young, CEO Young Entertainment.
Belvin: "Halo, Evi. Tumben siang-siang nelpon?"
Evita: "Halo, Vin. Apa aku mengganggumu?"
Belvin: "Tentu tidak, Sayang. Ada apa?"
Evita menghela napas panjang, dia ragu untuk mengatakannya. Namun, dia harus ...
Evita: "Mamaku harus dikemo Senin depan, aku belum bisa membayar biaya kemoterapinya. Kalau ... aku meminjam uang padamu ... apa bisa?"
Belvin: "Berapa jumlahnya?"
Evita: "500 juta rupiah. Bagaimana?"
Belvin berpikir sejenak, itu jumlah yang agak besar sebenarnya dan perusahaannya pun sedang membutuhkan banyak dana untuk membayar artis-artis yang bernaung di perusahaan entertainment miliknya itu.
Belvin: "Sepertinya aku belum bisa membantu, Evi. Maafkan aku ... itu jumlah yang agak besar. Mungkin kalau 100 juta aku ada di rekening pribadiku. Kalau menggunakan uang perusahaan tidak bisa seenaknya ...."
Evita: "Ohh jangan kalau begitu ... aku akan mengusahakan cara lainnya, Belvin. Terima kasih sudah menawarkan bantuan."
Belvin: "Apa kita bisa makan malam bersama nanti malam, Evi Sayang?"
Evita: "Oke, jemput aku di apartment jam 7 ya ... sampai nanti malam, Vin."
Belvin: "Oke, jam 7. Bye, Evi."
Dokter Evita menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu menangis. Dia bingung harus mencari uang itu kemana. Ketika ada bunyi sms masuk di ponselnya, dia pun membaca isinya. Itu adalah broadcast message mengenai agen properti Ray White.
Dia pun berpikir, mungkin jalan satu-satunya adalah menjual unit apartment miliknya itu. Sementara dia akan tinggal kembali bersama papanya di rumah keluarga mereka. Dokter Evita segera menghubungi nomor kontak agen properti Ray White untuk memproses penjualan unit apartmentnya dengan harga 650 juta. Dia berharap akan ada uang sisa dari biaya kemoterapi yang 500 juta itu.
***
Setelah meninggalkan ruang praktik Dokter Evita, Leon segera mengirim pesan WA ke Adrian sekretaris pribadinya. "Selidiki semuanya tentang Dokter Evita Carolyn Meyers, aku mau tahu apapun hingga detail terkecil mengenai dia. Aku dalam perjalanan kembali ke kantor," ketik Leon di layar ponselnya.
Setelah hampir dua jam bergelut dengan kemacetan jalan raya ibukota Jakarta, Leon pun memarkir Lamborghini-nya di basement parkir mobil gedung Indrajaya Realty. Dia segera naik lift ke lantai 30 tempat ruangan CEO berada.
Di meja sekretaris depan ruangan CEO, Adrian dan Giorgio berdiri menyambut kedatangannya lalu ikut masuk ke ruangannya.
"Katakan, informasi apa saja tentang Dokter Evita."
Adrian membuka tablet pc di tangannya lalu membacakan informasi umum mengenai wanita itu.
"Dokter Evita Caroline Meyers, usia 25 tahun, lulusan terbaik Fakultas Psikologi Universitas Pelita Harapan, mengambil S2 di bidang yang sama di Cambridge University, Inggris. Status single, memiliki tunangan yang bernama Belvin Alexander Young. Mengenai orang tua, ayah Dokter Philip Meyers, spesialis pediatrik, ibu bernama Dokter Evelyn Meyers, spesialis kulit dan kelamin."
Giorgio melanjutkan informasi financial dari Dokter Evita.
"Pak Leon, ada yang menarik dengan laporan financial Dokter Evita. Dia sedang mengalami pengurasan tabungan sejak setahun terakhir ini. Saldo akhir tabungannya hanya Rp. 710.050,00. Kalau saya teliti lebih dalam, pemakaian uangnya yaitu untuk biaya perawatan ibunya di RS. Siloam International. Beliau menderita kanker leher rahim stadium 2, memang masih bisa disembuhkan dengan chance 50:50, menggunakan kemoterapi. Saya mendapat info terupdate minggu depan di hari Senin akan ada jadwal kemoterapi berikutnya dengan biaya 500 juta rupiah. Menurut analisa saya, Dokter Evita akan kesulitan membayar biaya itu."
"Aahh bagus ... itu jumlah yang kecil buatku, bahkan hanya memberikan jam tanganku saja biaya kemoterapi itu sudah bisa dilunasi," ucap Leon ringan sembari terkekeh, dia pun bertanya lagi, "ada info lainnya?"
Adrian pun menyahut, "Pak Leon, agen Ray White menawarkan satu unit apartment dengan nama pemilik Evita CM, mungkin itu wanita yang sama dengan yang sedang kita bahas saat ini."
"Hubungi agen Ray White itu, katakan aku berminat membelinya, berapa harganya?" tukas Leon dengan penuh semangat, dia merasa sedikit lagi dia akan memiliki dokter cantik yang agak sombong itu.
"Ditawarkan 650 juta rupiah, Pak. Apa Anda ingin menawar dengan harga di bawahnya?" tanya Adrian lagi.
"Katakan pada agen Ray White itu, aku ingin bertemu langsung dengan pemilik unit apartment itu. Bila kondisi unit itu bagus maka aku akan membeli semua bersama isinya dan menambahkan hingga 800 juta untuk harga belinya," jawab Leon seraya tertawa lepas. Dia sangat senang dan membayangkan wanita itu akan takluk padanya dalam waktu singkat.
'Uang memang berguna dan bisa membuat hal yang mustahil menjadi tidak mustahil. Aku ahlinya mencari uang! Uang bekerja untukku bukan sebaliknya ...' batin Leon dengan angkuh.
"Adri, dengan siapa aku akan menghabiskan malam ini?" tanya Leon. Dia selalu berganti wanita yang melayaninya di ranjang setiap malam. Sebagian besar model, artis cantik, dan puteri-puteri konglomerat yang suka bersenang-senang dengan pria tampan sepertinya.
Adrian membuka lagi tablet pc miliknya dan mengecek jadwal wanita partner ranjang bos mudanya itu. Terkadang dia merasa seperti mucikari! batinnya mengelus dada. Bos mudanya sangat berbeda jauh dengan ayahnya, Leonard Indrajaya yang setia pada istrinya, Elena, maminya Leon.
"Dengan Nona Annabela Berliana, model majalah dewasa Famous, yang menjadi model cover depan majalah edisi minggu ini, fotonya sudah saya forward ke ponsel, Pak Leon," jawab Adrian membacakan profil wanita cantik itu. Tipe favorit bos mudanya itu yang langsing dengan ukuran dada besar, dia sangat hapal.
Leon mengecek ponselnya dan melihat tubuh polos di foto itu lalu tersenyum dengan devilish smirk-nya yang membuat wajahnya semakin tampan dan menggoda. "Kerja bagus, Adri. Aku suka wanita itu."