“Aku ingin kamu menjadi diriku untuk sementara waktu,” pinta wanita yang menatap angkuh ke arah Belia.
Belia langsung terkejut dan merasa belum mengerti dengan permintaan wanita di depannya. Tatapan keduanya sejenak saling menyorot dengan penuh pertanyaan.
“Apa maksudmu?”
“Apa kamu nggak sadar? Lihat dirimu, kamu sangat mirip sekali denganku. Tak ada perbedaan sedikitpun di wajah kita,” jawab Bianca mengajak Belia memandang ke arah cermin yang ada di depan mereka.
Keduanya lalu memperhatikan diri masing-masing. Memang benar kalau mereka mirip sekali, seperti pinang dibelah dua. Belia juga heran, kenapa bisa terjadi hal seperti ini. Karena ia tahu, kalau dirinya tak memiliki saudari. Ia hanya anak tunggal dalam keluarganya.
“Seminggu lagi, akan menikah dengan pria kaya. Tapi aku sama sekali nggak mencintainya. Aku hanya menginginkan hartanya aja. Jadi aku minta, kamu yang menggantikanku dalam pernikahan itu. Bagaimana?” tanya Bianca.
“Nggak, aku nggak akan melakukan itu,” tolak Belia. Ia tak akan mengambil resiko dengan menjadi orang lain dan menipu banyak orang. Itu bukanlah sifat Belia, sehingga ia menolak dengan tegas tawaran Bianca.
“Aku nggak suka ditolak. Jadi kamu pikirkan baik-baik soal itu. Jangan sampai aku bertindak kejam,” ancam Bianca.
Seketika Belia merasa takut dengan ancaman itu. Ia tahu siapa wanita di depannya. Dari penampilannya, ia tahu kalau Bianca adalah anak keluarga kaya yang bisa melakukan apapun untuk menghancurkannya.
Akan tetapi, ia tetap teguh dengan pendiriannya. Ia tak akan melakukan apapun yang diminta oleh Bianca. Menurutnya, hal itu adalah senuah kejahatan. Karena jika sampai ia ketahuan, maka ia harus siap menekam di jeruji besi.
“Aku nggak peduli, biarkan aku pergi,” pinta Belia. Ia mencoba untuk pergi dari hadapan Bianca dengan cepat. Namun, tangan Bianca lebih dulu menangkap tangan Belia, lalu wanita itu berhenti dengan paksa.
“Ingat ya. Nggak ada yang bisa menolak keinginanku. Kamu nggak akan pernah lolos dariku,” ancam Bianca lagi.
“Maaf, aku nggak peduli. Biarin aku pergi,” titah Belia yang mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Bianca.
“Baiklah, aku akan melepaskanmu. Aku tunggu keputusanmu dalam waktu satu kali dua puluh empat jam. Aku akan menemuimu di sini lagi,” kata Bianca, bernada ancaman. “Oh iya, aku akan memberikan apapun yang kamu minta kalau kamu bersedia,” sambungnya.
Belia tak menggubris kalimat yang baru saja dikatakan oleh Bianca. Ia memilih untuk pergi dari hadapan wanita itu.
Perasaan Belia begitu takut. Tetapi ia mencoba tenang di depan rekan kerjanya. Kebetulan Samuel sedang santai di bar kecilnya.
“Kenapa, mukamu kusut amat. Lagi sebel?” tebak Samuel.
“Iya, Sam. Nenekku harus operasi. Aku harus pinjam di mana? Nggak mungkin di bos, ogah,” jawab Belia.
“Lalu di mana lagi? Rentenir?”
“Nggaklah. Jangan sampai itu terjadi.”
Belia sejenak merenung perkataan terakhir Bianca tadi. Ia mencoba memikirkan tawaran tersebut, karena ia tak memiliki pilihan lain sekarang selain menjadi Bianca. Meski ia tahu resikonya akan membuatnya menekam di jeruji besi.
“Semoga kamu mendapatkan pinjaman ya, Ana.”
“Thanks ya, Sam.”
“Sorry, aku nggak bisa bantu.”
“Santai aja.”
Beberapa waktu kemudian, ia telah selesai bekerja. Ia bergegas menggantikan pakaiannya. Ia berangkat ke rumah sakit lagi menemui neneknya. Ia belum tenang karena belum mendapatkan bantuan dan pinjaman. Sementara dokter sudah memberikan peringatan kalau neneknya harus segera dihadapi.
Sesampainya di rumah sakit, ia melihat neneknya yang sudah sadarkan diri. Ia cukup lega bisa melihat neneknya sekarang. Ia duduk disamping wanita tua itu.
“Nek, sebentar lagi nenek akan dioperasi. Nenek pasti sembuh,” ungkap Belia.
“Operasi? Bukankah biayanya mahal sekali. Kamu nggak usah melakukan itu untukku. Aku baik-baik aja,” ujar Indira.
“Nenek. Aku cucumu, aku punya kewajiban untuk mengurusmu. Kamu udah membesarkanku dari kecil hingga dewasa, jadi bagaimana mungkin aku membiarkanmu menderita. Kamu tenang aja, aku akan mengurus biayanya. Aku mau Nenek sembuh,” harap Belia.
Indira tak kuasa menolak keinginan sang cucu. Ia merasa bersalah karena sudah merepotkan cucunya. Ia tahu biaya operasinya sangat mahal.
***
Keesokan harinya, Belia masih bimbang di samping ranjang neneknya. Kebetulan bibinya sudah pulang, sehingga menyisahkan mereka berdua.
“Apa aku harus menerima tawaran wanita itu?” gumamnya, bimbang.
Ia masih menatap neneknya yang sedang tertidur di ranjangnya. Ia benar-benar kasihan dengan keadaan neneknya saat ini. Ia tahu, wanita itu sedang menikmati penderitaannya. Meski terus menunjukkan senyum di depannya. Tetapi ia tahu kalau neneknya sedang menderita karena sakitnya.
“Tapi kalau aku menerima tawaran itu, maka resikonya nanti akan sangat besar. Apa yang harus kulakukan. Aku bingung. Ya Tuhan, tolong aku,” lirih Belia.
Ia tak kuasa menahan kesedihannya, sehingga air matanya secara tak langsung menetes, lalu dengan cepat ia menyeka air matanya. Ia tak ingin kalau neneknya akan melihatnya menangis.
“Maafin aku ya, Nek. Selama ini selalu merepotkanmu. Tapi aku janji, aku pasti akan membahagiakanmu kalau aku berhasil suatu hari nanti,” gumam Belia.
Air matanya tak terbendung lagi. Terus saja mengalir membasahi pipinya dengan deras, ia juga terus berusaha menyeka air mata itu.
Tak lama berselang, ia menyandarkan kepalanya di tepi ranjang neneknya, dengan tangan mengalasi kepalanya. Ia terlelap bersama kesedihan dan keresahannya. Ia berharap, hatinya akan tenang saat tertidur.
Keesokan harinya, ia kembali ke rutinitasnya di restoran. Meski ia merasa lelah sekali, karena tidur sedikit. Tetapi ia tetap bertanggung jawab dengan tugasnya.
“Kamu sehat, kan?” tanya Samuel.
“Iya, Sam. Aku hanya kurang tidur.”
“Kamu istirahat aja dulu. Biar aku yang mengurus semua ini. Lagipula, tamu juga masih sedikit. Aku bisa atasi, santai aja,” kata Samuel.
Ia begitu peduli dengan Belia. Tentu ia tak ingin Belia mendapatkan masalah karena bekerja dalam keadaan sakit.
“Makasih ya, Sam.”
“Sama-sama.”
Belia lalu duduk santai. Ia mencoba untuk menenangkan dirinya seraya berpikir santai. Meski pikirannya kini terus tertuju pada sosok Nenek.
Beberapa saat kemudian, Bianca datang lagi ke restoran itu. Ia langsung meminta Belia untuk berbicara dengannya empat mata.
Belia langsung menuruti permintaan Bianca. Ia ikut bersama Bianca dan duduk bersama di meja nomor 12. Keduanya tampak serius akan membicarakan sesuatu yang penting. Bianca tersenyum kepada Belia, seolah ia yakin kalau kali ini Belia akan menuruti permintaannya.
“Nenekmu sedang membutuhkan biaya operasi, kan?” tanya Bianca seraya menyodorkan tagihan dari rumah sakit.
Belia tentu saja terkejut dengan hal itu. Ia tak menyangka kalau Bianca akan ke rumah sakit bertemu dengan sang dokter.
“Bagaimana kamu tahu hal ini?” tanya Belia.
“Hahaha. Itu bukan sesuatu yang sulit bagiku. Jadi kamu menerima tawaranku?”
Sejenak Belia terdiam. Ia bingung harus menjawab apa sekarang. Ia hanya menatap Bianca dengan lirih.
“Aku akan membayar semua tagihannya, asal kamu mau menjadi pengantin minggu depan. Gimana?”
Belia bimbang dan bingung. Ia tampak dilema dengan keputusannya.
***
“Aku akan membayar semua tagihannya, asal kamu mau menjadi pengantin minggu depan. Gimana?”
Belia bimbang dan bingung. Ia tampak dilema dengan keputusannya. Ia takut dengan resiko yang akan dia terima suatu saat.
Beberapa saat Belia berpikir. Ia membaca surat kontrak yang ada di tangannya. Ia tak ingin melewatkan sedikitpun kalimat di dalam surat kontrak yang dia baca tersebut.
“Kamu bisa memikirkannya terlebih dahulu,” kata Bianca.
“Aku udah pikirkan. Aku menerimanya,” ucap Belia. Ia mencoba menyakinkan dirinya atas keputusan yang baru saja dia ambil.
“Baiklah, kalau begitu. Kamu bisa tanda tangan kontraknya,” pinta Bianca.
Setelah itu, keduanya menandatangani surat tersebut di atas materai. Setelah selesai menandatangani surat tersebut. Bianca menyimpan surat tersebut.
“Ingat ya, aku punya satu syarat untukmu,” kata Bianca.
“Apa lagi?”
“Kamu nggak boleh jatuh cinta sama dia, ingat itu,” tegas Bianca memperingati Belia.
Belia hanya mengangguk mendengar peringatan itu. Ia tak peduli dengan cinta atau semacamnya. Ia hanya fokus pada keselamatan neneknya.
Beberapa saat kemudian, Bianca bangkit dari tempatnya. Sebelum pergi, ia menoleh ke Belia. Lalu mengucapkan sesuatu.
“Malam ini, kamu datang ke rumah keluarga Haditama. Dan mulai hari ini kamu menjadi Bianca, bukan Belia. Mengerti, kan?”
Belia mengangguk paham. Setelah itu, Bianca pergi dari hadapan Belia. Ia tampak lega sekali karena berhasil menemukan penggantinya.
“Aku bisa keliling dunia sekarang, tanpa harus menjadi boneka keluarga Haditama yang menyebalkan,” ujar Bianca sebelum masuk ke mobilnya.
Sementara di dalam restoran. Belia tampak bingung dan bimbang. Tetapi hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan neneknya. Ia sudah tak peduli dengan resiko yang akan dia temui suatu saat nanti.
“Setidaknya aku udah melakukan yang terbaik untuk Nenek. Tuhan, maafkan aku,” lirihnya.
Sekarang ia harus melakukan semua perintah Bianca. Salah satunya dia harus mengundurkan diri dari pekerjaannya. Karena sebentar lagi, dia akan sibuk menjadi nyonya di keluarga Haditama.
Keesokan harinya, Belia naik taksi menuju kediaman keluarga Haditama sesuai permintaan Bianca. Sesampainya di sana, ia bergegas turun dan melangkah ke rumah besar seperti istana. Ia tercengang melihat megahnya rumah keluarga Haditama.
Entah apa yang akan terjadi di dalam rumah itu nantinya. Ia sedikit bimbang dan ragu untuk masuk ke dalam rumah itu. Tetapi ia sudah ditunggu oleh keluarga besar Haditama.
“Selamat datang, Bianca,” sambut Sopia dengan senang hati. Sambutan hangat dari wanita tua itu cukup membuat Belia merasa lega. Ketakutan yang sejak tadi menghantuinya seketika luntur saat melihat senyum yang terbit dari wajah ramah sang Nenek.
Belia hanya bengong melihat wanita itu menyambutnya. Ia memang tak mengenal wanita itu, tetapi dari pertemuan pertama ini sudah memberikan kesan yang menyenangkan.
“Bianca, apa kamu nggak menyukai rumah ini?” tanya Sopia lagi.
“Oh, nggak kok, Nek. Aku senang sekali bisa berkumpul dengan keluarga Nenek. Aku hanya terkejut,” ungkap Belia.
“Anggap aja rumah sendiri. Karena sebentar lagi kamu akan menjadi menantu di keluarga ini. Keluargamu dan keluarga kami memang sengaja menjodohkanmu dengan cucu Nenek. Supaya keluarga kita tetap bersatu,” tutur Sopia.
Belia tersenyum mendengar kalimat manis dari Sopia. Tak lama berselang, anggota keluarga lain datang menghampiri Belia yang ada di ruang tamu. Pandangan mereka kepada Belia tidak menyenangkan, membuat Belia merasa takut kalau sampai mereka tak menyukai kehadirannya.
“Jadi ini calon menantu kita?” tanya Helena, wanita muda yang merupakan calon mertua dari Belia.
“Aku pikir cantik kayak bidadari. Ternyata wanita biasa aja,” ejek Bastian, calon bapak mertua.
“Iya nih. Si Nenek. Kok bisa-bisanya jodohin cucu yang ganteng banget dengan cewek biasa kayak gitu. Duh, kasian Arkan,” keluh Helena menghina Belia.
Mendengar ejekan itu, Belia hanya bisa bersabar. Ia tak menyangka mendapat perlakukan serendah itu. Melihat situasi yang kurang menyenangkan itu, Sopia langsung angkat bicara.
“Kalian ini apa-apaan sih. Gimana pun dia itu calon menantu keluarga ini. Tolong jangan menghinanya. Apa kalian nggak tahu, dia cucu keluarga Dwipangga. Apa kalian mau mendapat masalah gara-gara menghinanya begitu?” tanya Sopia.
Helena maupun Bastian hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan tersebut. Tentu mereka tak memiliki kuasa apapun dibandung Sopia. Mereka tak akan berani melawan Sopia jika mereka menginginkan warisan dari keluarga Haditama.
Belia lalu duduk di sofa empuk yang berkelas internasional. Pandangannya mengelilingi isi rumah ini, tentu semuanya memiliki kualitas terbaik. Hal itu semakin membuat Belia minder.
Tak lama berselang, seorang pria tampan baru saja turun dari mobil sport seharga miliaran rupiah. Ia langsung masuk dan menghampiri keluarganya di ruang tamu. Kebetulan dia mendapat telepon untuk pulang lebih cepat dari kantornya.
“Kamu?” Arkan terbelalak. “Jadi kamu calon istriku?” tanya Arkan.
Belia juga tak habis pikir, kenapa ia harus bertemu dengan pria itu lagi. Kesan buruk yang diberikan oleh Arkan saat pertama kali bertemu saat itu, membuat Belia benci dengan Arkan hingga detik ini.
“Nenek, jadi aku disuruh pulang cepat-cepat hanya untuk bertemu dengan gembel ini?” hina Arkan.
“Tutup mulutmu, Arkan. Berani sekali kamu menghina cucu keluarga Dwipangga. Bersikap sopan sama dia. Lagipula, dia itu calon istrimu. Paham!”
Arkan terdiam. Sejenak dia merenung. Ia tak menyangka kalau pelayan itu adalah cucuk dari keluarga yang kaya raya.
“Kok bisa sih?” gumamnya.
Ia memang tahu kalau wanita di depannya itu adalah seorang pelayan restoran. Bahkan mereka pernah bercekcokan di restoran tersebut.
Arkan terlihat sangat kesal bertemu dengan wanita paling menyebalkan dalam hidupnya. Tetapi lagi-lagi dia tak bisa menolak keinginan neneknya yang telah menjodohkannya dengan wanita tersebut.
“Nenek nggak mau tahu. Suka ataupun nggak. Kamu harus menerimanya dan mencintainya. Kalau kamu berani melanggarnya, maka jangan berharap kamu akan mendapatkan sepeserpun warisan keluarga ini. Mengerti!”
“I-iya, Nek.” Arkan tak berkutik.
Belia tak berkomentar apa-apa. Ia tahu posisinya saat ini dan sadar kalau dia juga terpaksa melakukan hal itu demi biaya operasi neneknya.
“Bianca, jangan dipikirin ya. Nenek harap kamu nyaman dalam keluarga ini. Karena sebentar lagi kalian akan segera menikah.”
“Iya, Nek.”
Belia mengembangkan senyumnya. Ia cukup lega karena masih ada nenek Sopia yang peduli dengannya. Meski semua anggota keluarga lain sangat membencinya.
Setelah acara pertemuan itu, Belia lalu pergi dari rumah itu. Sopia meminta Arkan untuk mengantar wanita itu ke apartemen milik Arkan. Karena tidak mungkin wanita itu akan kembali ke rumahnya yang berbeda pulau.
Dalam perjalanan, Arkan tampak kesal dengan perjodohan yang dilakukan oleh keluarganya. Ia merasa dipaksa untuk melakukan hal tersebut.
“Kenapa kamu mau menerima perjodohan konyol ini?” tanya Arkan.
“Aku nggak tahu. Aku juga terpaksa melakukan ini,” jawan Belia.
“Oh, terpaksa. Tapi mau-maunya kamu melakukan itu. Nggak waras kamu ya?”
Belia langsung menoleh ke arah Arkan. Ia terlihat kesal dan sangat membenci sikap Arkan yang selalu merendahkannya. Sayangnya, Arkan tak peduli dengan perasaannya.
Sesampainya di apartemen. Arkan mengantar Belia ke kamarnya. Sebelum dia pulang, ia memperingati Belia.
“Jangan harap aku akan mencintaimu!”
***