"Temui pria ini!" suara Bibi Nana tegas, nyaris seperti perintah.
Maia menatap kertas kecil berisi alamat restoran yang baru saja diserahkan Bibi Nana. Tinta hitam di atas kertas itu seakan menyala di matanya.
Maia menelan ludah, tangannya meremas gaun lusuh yang ia kenakan. "Bibi, aku baru lulus SMA. Aku ingin kuliah. Aku ingin punya masa depan yang aku pilih sendiri."
Tamparan mendarat begitu cepat di pipinya, hingga wajahnya refleks menoleh ke samping. Panasnya seketika menjalar. Maia tertegun, tangannya menyentuh pipi yang kini berdenyut.
"Kau pikir hidup ini murah? Sepuluh tahun kami mengurusmu! Makan, sekolah, tempat tinggal-semua itu butuh uang!" Suara Bibi Nana meninggi. "Ini saatnya kau membayar!"
Maia menunduk, merasakan matanya mulai memanas. Sejak kecil, setelah kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan, ia tinggal bersama Paman Rudi dan Bibi Nana. Ia tahu mereka bukan orang kaya, tapi ia tidak pernah menyangka bahwa kasih sayang yang ia terima selama ini ternyata bukan tulus, melainkan investasi yang harus ia kembalikan.
"Bibi, aku janji akan bekerja sambil kuliah. Aku akan membayar semua pengeluaran yang sudah bibi dan paman keluarkan untukku, tapi jangan suruh aku menikah hanya demi uang!" suaranya bergetar, namun tekadnya kuat.
Bibi Nana mendengus, melipat tangan di dada. "Apa yang bisa kau lakukan dengan ijazah SMA? Kau pikir kau bisa membayar semua itu hanya dengan kerja sambilan? Kau harus realistis, Maia!"
Maia menggeleng cepat. "Aku bisa cari beasiswa-"
"Omong kosong!" Kali ini, tangan Bibi Nana terangkat lagi, tetapi Maia mundur selangkah, menghindari tamparan kedua.
Paman Rudi yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. "Maia, dengarkan bibimu. Kau tahu kami tidak mungkin terus menanggung beban ini. Pria yang akan kau temui itu kaya. Jika kau menikah dengannya, hidupmu akan terjamin."
"Bagaimana jika aku tidak bahagia?" Maia berani menatap mereka berdua.
Bibi Nana mencibir. "Bahagia itu bisa dibeli. Kau hanya perlu hidup enak, tak perlu khawatir soal uang. Apa lagi yang kau inginkan?"
Maia terdiam.
"Besok malam, jam tujuh, di restoran ini," Bibi Nana menepuk kertas di tangan Maia. "Datanglah, berpakaian rapi, dan bersikaplah manis. Jangan buat malu!"
Setelah berkata demikian, Bibi Nana berbalik, meninggalkan Maia dengan Paman Rudi yang hanya menghela napas berat.
***
Malam itu, Maia duduk di meja restoran yang telah dipesan. Gaun yang ia kenakan terasa asing di tubuhnya-terlalu mewah, terlalu berlebihan untuk seseorang yang bahkan tak ingin berada di sini.
Maia menggigit bibirnya, tangannya mencengkeram ujung rok ketika melihat pria di depannya. Usianya jauh di atasnya, dengan perut sedikit buncit dan senyum yang terasa menjijikkan.
"Kau Maia, kan?" suara pria itu berat, matanya menelusuri tubuh Maia tanpa malu-malu.
Maia menelan ludah, merasa perutnya mual. "Iya..." suaranya hampir tak terdengar.
"Bagus. Aku Alex. Nana sudah banyak bercerita tentangmu. Gadis muda, cantik, dan pastinya akan jadi istri yang baik," Alex tertawa kecil, mengambil gelas anggur dan menyesapnya pelan.
Maia ingin bangkit dari kursinya, ingin berlari, tetapi bayangan wajah Bibi Nana dan ancaman yang diberikan membuatnya tetap duduk. Ia tahu, jika ia kabur, ia tak punya tempat untuk pulang.
"Kau tahu, aku orang yang murah hati," lanjut Alex, menatap Maia seolah ia barang dagangan. "Aku sudah menyiapkan mahar 500 juta untukmu. Itu cukup, kan? Sebagai ganti semua biaya yang dikeluarkan keluargamu untukmu?"
Maia mengepalkan tangannya di bawah meja. "Aku bukan barang yang bisa dibeli," katanya tegas.
Alex terkekeh, meletakkan gelasnya. "Semua wanita punya harga, Maia. Tinggal berapa yang mereka pasang."
Maia ingin berteriak, tapi ia tahu itu tak ada gunanya. Pria ini jelas bukan tipe yang bisa dibantah dengan kata-kata.
Alex melambai ke pelayan, dan beberapa menit kemudian, segelas jus jeruk diletakkan di hadapan Maia. "Minumlah," katanya.
Maia menatap gelas itu ragu.
"Apa? Takut aku meracunimu?" Alex terkekeh, mengambil gelas anggurnya kembali. "Tenang saja, aku ingin kau tetap hidup. Kau terlalu berharga untuk mati begitu saja."
Maia memaksakan senyum, lalu menyesap jus itu sedikit. Rasanya biasa saja, tak ada yang aneh.
Tapi beberapa menit kemudian, tubuhnya mulai terasa berbeda. Panas menjalar dari tengkuk ke dada, lalu turun ke perutnya. Keringat mulai muncul di pelipisnya, napasnya menjadi lebih berat.
Maia mengerjapkan mata, mencoba tetap fokus.
"Kenapa... aku merasa aneh?" gumamnya.
Alex tersenyum puas. "Obat itu bekerja lebih cepat dari yang kukira."
Maia tersentak. "Apa... yang kau lakukan?"
Alex bangkit dari kursinya, mendekati Maia yang kini kesulitan mengontrol tubuhnya. Ia berjongkok di sampingnya, membelai rambut gadis itu.
"Aku hanya membantumu sedikit," bisiknya. "Agar kau lebih mudah menerima takdirmu."
Maia ingin menjerit, tapi suaranya hanya keluar sebagai desahan yang memalukan. Ia merasa tubuhnya bukan lagi miliknya.
"Tidak..." Maia memaksakan diri untuk bangkit, tapi lututnya lemas.
Alex tertawa, dengan mudahnya menyelipkan lengan di bawah tubuh Maia, mengangkatnya dari kursi.
"Kita seberangi jalan sebentar, sayang. Aku sudah menyiapkan kamar yang nyaman untuk kita," katanya, berjalan menuju pintu restoran dengan Maia di pelukannya.
Pikiran Maia berkabut, tapi satu hal yang ia tahu pasti-jika ia sampai ke hotel itu, semuanya akan berakhir.
Tidak.
Dengan sisa tenaga, Maia menggerakkan tangannya, mencengkeram bahu Alex dan menggigit sekuat tenaga.
"ARGH!" Alex berteriak, melepaskan Maia dari pelukannya.
Maia terjatuh ke lantai, tapi adrenalin membuatnya segera merangkak menjauh. Napasnya memburu, tubuhnya masih terasa panas, tapi pikirannya mulai sedikit jernih.
Orang-orang di restoran mulai memperhatikan.
"Ada apa ini?" salah satu pelayan mendekat.
Maia memanfaatkan kekacauan itu untuk berlari keluar restoran, meski kakinya masih terasa lemas. Ia tidak tahu harus ke mana, hanya satu tujuannya-menjauh dari pria itu.
Alex mengumpat, mengejar Maia. "BERHENTI!"
Maia menoleh ke belakang, melihat pria itu semakin dekat. Ia menyeberang jalan tanpa pikir panjang, mendengar suara klakson mobil yang hampir menabraknya.
Tubuhnya bergetar, dadanya naik turun. Ia tidak bisa pulang, tidak bisa kembali ke Bibi Nana, dan sekarang ada pria yang ingin menangkapnya.
Matanya liar mencari tempat persembunyian, lalu melihat sebuah gang sempit di antara dua bangunan.
Tanpa berpikir dua kali, ia berlari ke dalamnya.
Alex tidak bisa mengejar. Lelaki itu berdiri di pinggir jalan, mengumpat kesal.
"Kau tidak akan bisa lari selamanya, Maia," gumamnya. "Aku akan menemukannya lagi."
Sementara itu, di dalam gang, Maia tersungkur, tubuhnya masih bereaksi terhadap obat itu. Air mata turun di pipinya, tapi ia menggigit bibir, menahan isak.
"Aku harus selamat. Aku harus keluar dari semua ini."
Maia berusaha bertahan, menekan gejolak yang membakar tubuhnya. Setiap sel di dalam dirinya terasa panas, pikirannya berkabut. Langkahnya goyah saat mencoba menyeberang jalan. Tapi sialnya, sebuah mobil melaju cepat dari arah kiri.
BRAK!
Tubuhnya terhempas ke samping, jatuh ke aspal dengan nyeri yang menjalar di sekujur tubuhnya.
"Kampret! Apa dia baik-baik saja?" suara seorang pria terdengar dari kejauhan, lalu bunyi pintu mobil dibanting.
Maia merasakan seseorang menyentuh lengannya. Sentuhan itu terasa dingin di tengah hawa panas yang melanda tubuhnya.
"Hei, kau dengar aku?" pria itu mengguncang tubuhnya pelan.
Kelopak matanya terasa berat, tetapi ia berusaha membuka mata. Bayangan seorang pria berambut hitam dengan rahang tegas dan mata tajam menyambut pandangannya.
"Tian Jovanda Anderson," pria itu memperkenalkan diri sambil mengangkat tubuh Maia dengan mudah. "Kau pingsan di tengah jalan, aku tidak bisa membiarkanmu di sini."
Maia ingin menolak, ingin mengatakan kalau ia baik-baik saja, tetapi lidahnya kelu. Sensasi panas masih menjalar, membuatnya hanya bisa menggeliat gelisah di dalam pelukan pria asing itu.
Di dalam mobil, Maia mulai sadar. Dadanya naik turun cepat, keringat mengalir di pelipisnya. Ia menggigit bibir, mencoba melawan sensasi aneh yang terus menyerangnya.
"Om..." suaranya lirih, matanya mengerjap menatap pria yang sedang fokus mengemudi. "Tolong... Akhh panas..."
Tian melirik ke samping, alisnya mengernyit melihat kondisi Maia.
"Apa yang terjadi padamu?" tanyanya.
Maia tidak menjawab. Ia hanya menggeliat, meremas rok di atas pahanya, wajahnya memerah. Napasnya semakin berat, seperti orang yang sedang kesulitan mengendalikan diri.
Tian mendecak. "Kau habis minum sesuatu yang aneh?"
"Aku... aku tidak tahu..." Maia menggeleng, tangannya mencengkeram lengan Tian. "Tolong aku... aku tidak bisa mengontrol tubuhku..."
Tian menegang, jari-jarinya mengepal di atas setir. Ia sudah cukup dewasa untuk mengenali gejala seperti ini.
"Sial," gumamnya.
Maia semakin tidak bisa menahan diri. Tanpa sadar, ia mencondongkan tubuh ke arah Tian, mendekatkan wajahnya ke pria itu.
Dan dalam sekejap, bibirnya menempel pada bibir Tian.
Tian terkejut. Matanya membelalak saat merasakan bibir lembut gadis itu menekan bibirnya dengan gugup.
"Apa-apaan ini?" gumamnya dalam hati.
Namun, sebelum ia sempat menarik diri, Maia memperdalam ciumannya.
Tian merasakan darahnya berdesir. Tangannya masih memegang setir, tetapi pikirannya mulai kacau.
Gadis ini... baru saja ditemuinya, dan sekarang ia malah mencium dirinya tanpa ragu.
Tian menarik napas tajam, berusaha mengendalikan diri. Namun, begitu melihat Maia yang mendesah kecil dan meremas bajunya, batas kesabarannya mulai runtuh.
Dengan satu tangan, Tian menarik Maia ke pangkuannya. "Jangan salahkan aku," bisiknya di antara napasnya yang mulai memburu. "Kau yang mulai menggodaku."
Maia hanya menatapnya dengan mata berkabut.
Tian mendekat, nyaris membalas ciuman itu lebih dalam.
Tetapi tiba-tiba, Maia menggigit bibirnya sendiri dan menoleh ke samping, tubuhnya gemetar.
"Tidak..." gumamnya pelan.
Tian terdiam.
Maia memeluk dirinya sendiri, menggigil di kursi mobil.
Tian menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas panjang. Dengan cepat, ia kembali fokus pada jalan dan menginjak pedal gas lebih dalam.
"Pegangan, kita harus segera sampai ke tempat yang aman," ucapnya dingin.
Maia hanya bisa menahan air matanya. Hatinya bergemuruh, antara malu dan takut atas apa yang baru saja terjadi.
***
Sesampainya di sebuah apartemen mewah, Tian membawa Maia masuk ke dalam kamarnya. Dengan hati-hati, ia mendudukkan gadis itu di atas tempat tidur, lalu menatapnya lekat-lekat.
"Jelaskan semuanya. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya tegas.
Maia menggigit bibir, menundukkan kepala. "Aku... aku dijebak. Seseorang memberiku minuman yang sudah dicampur sesuatu..."
Tian mengepalkan tangannya. "Siapa?"
Maia menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi pria itu ingin membawaku ke hotel."
Tian menghirup napas dalam, menahan emosi yang mendidih. Ia tidak mengenal Maia, tapi melihat gadis itu dalam kondisi seperti ini membuat darahnya mendidih.
"Tunggu di sini." Tian berbalik, berjalan menuju lemari dan mengeluarkan sebotol air mineral. "Minumlah. Ini akan sedikit membantu tubuhmu menetralisir obat itu."
Maia mengambil botol itu dengan tangan gemetar, lalu meneguk isinya.
Tian bersandar pada dinding, melipat tangan di dada. "Jadi, sekarang apa yang akan kau lakukan?"
Maia menatapnya dengan mata penuh kebingungan. "Aku... tidak tahu, Om!"
Tian menghela napas. "Kau tidak bisa kembali ke tempatmu, kan?"
Maia menggeleng pelan.
"Baiklah." Tian menatap Maia dengan mata tajam. "Kau bisa tinggal di sini sementara, sampai kau benar-benar pulih. Tapi ingat, aku bukan pria baik yang suka menolong tanpa alasan."
Maia menggigit bibir, mencoba mencerna maksud perkataannya. "Maksudmu, Om?"
Tian mendekat, menatap Maia tepat di matanya. "Aku ingin kau membalas bantuanku dengan cara yang lebih dari sekadar terima kasih."
Maia menegang. "Apa maksudmu?"
Tian menyeringai kecil. "Kita akan buat kesepakatan, Gadis kecil!"
Gadis itu menatapnya dengan ketakutan, tetapi ada sesuatu dalam mata Tian yang membuatnya sulit berpaling.
"Apa kau siap mendengar tawaranku?" Tian berbisik, matanya menelusuri wajah Maia dengan penuh arti.
Maia tidak punya pilihan. Ini mungkin satu-satunya kesempatan untuk keluar dari masalahnya.
Ia mengangguk perlahan. "Apa yang Om inginkan dariku?"
Tian tersenyum miring. "Sesuatu yang lebih berharga dari uang."
Maia menatap Tian dengan mata membulat. Jantungnya berdebar keras ketika pria itu tiba-tiba mendekat, mengangkat dagunya dengan jemarinya yang kokoh.
"Syarat apa, Om?" Maia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena bibir Tian sudah menempel di bibirnya.
Ciuman itu begitu dalam, panas, dan menuntut. Bukan sekadar sentuhan biasa, melainkan seperti sebuah klaim.
Maia membeku sesaat, tetapi perlahan-lahan tubuhnya melemas. Ia seharusnya menolak, seharusnya mendorong pria ini menjauh, tetapi mengapa justru tubuhnya bergerak mengikuti ritme Tian?
Desahan kecil keluar dari bibirnya, membuat Tian semakin memperdalam ciumannya. Tangannya kini bertumpu di pinggang Maia, menariknya lebih dekat.
Tian menarik diri sejenak, menatap Maia dengan sorot mata penuh arti. "Jadilah istriku," katanya tiba-tiba.
"Hah?" Maia tersentak, matanya membesar. "Apa maksudmu?"
"Kita menikah," Tian mengulang dengan tenang, seperti baru saja membicarakan hal sepele.
Maia mengerjap, mencoba memahami situasi. "Tunggu... kita bahkan baru saja bertemu!"
Tian menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap Maia dengan ekspresi datar. "Dan tadi kau yang duluan menciumku, ingat?"
Wajah Maia langsung merona. Ia membuka mulut untuk membantah, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar.
Tian tersenyum miring, menikmati reaksi gadis di depannya. "Aku butuh istri. Kau butuh tempat tinggal dan perlindungan. Kita bisa saling menguntungkan."
Maia masih tidak percaya. "Om bercanda, kan?"
"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?" Tian menaikkan alisnya.
Maia menelan ludah. Pria ini memang tidak terlihat sedang bercanda.
"Lalu... kenapa aku?" Maia bertanya ragu.
Tian mengangkat bahu. "Kau menarik, dan aku tidak suka membuang waktu mencari wanita lain. Selain itu, kau juga dalam masalah. Kalau aku tidak membawamu tadi, sekarang kau mungkin sudah ada di tangan pria brengsek itu."
Maia menggigit bibirnya, mempertimbangkan.
"Aku akan membayar lima miliar," lanjut Tian santai. "Tapi pernikahan ini hanya status. Tidak boleh ada perasaan. Kita menikah karena saling membutuhkan, bukan karena cinta."
Lima miliar? Mata Maia membesar. Jumlah yang jauh lebih besar dibanding mahar pria yang disiapkan oleh Bibi Nana.
Ia berpikir cepat. Jika menikah dengan Tian, setidaknya ia bisa bebas dari cengkeraman keluarga angkatnya dan dari pria menjijikkan yang nyaris mencelakainya.
"Bagaimana?" Tian menatapnya lekat-lekat.
Maia menarik napas panjang, menatap mata pria itu dalam-dalam. "Baiklah," katanya akhirnya.
Tian tersenyum kecil. "Pintar."
Tiba-tiba, tanpa aba-aba, Tian menarik Maia ke dalam ciuman lain. Kali ini lebih lembut, tetapi tetap mendominasi.
Maia tidak melawan. Ia tahu ia baru saja masuk ke dalam sebuah perjanjian yang akan mengubah hidupnya.
Dan ia tidak bisa mundur lagi.
"Akhh.... " Maia mendesah pelan saat bibir Tian menyusuri lehernya, bahkan sampai membuat tanda merah.
"Aku suka suara desahmu, Baby! Ayo, keluarkan lagi," bisik Tian.
Bisikan Tian membuat tubuh Maia bergetar hebat. Maia memejamkan mata dan kembali mendesah.
***
Pukul lima pagi, Maia terbangun dengan kepala sedikit pusing. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Sunyi.
Pria itu tidak ada?
Ia duduk di atas ranjang, menarik napas dalam. Pikirannya masih kacau setelah apa yang terjadi semalam. Tangannya meraba tempat di sampingnya, masih terasa hangat. Tapi pria itu pergi tanpa meninggalkan jejak.
Di atas meja kecil di dekat tempat tidur, Maia melihat sebuah kartu nama. Ia mengambilnya, membacanya pelan.
"Tian Jovanda Anderson."
Mata Maia membesar saat membaca tulisan di bawah nama itu.
"Miliarder terkaya di ibu kota, pria paling berkuasa di negeri ini."
Tangannya sedikit gemetar. "Jadi dia bukan pria biasa?"
Maia menggelengkan kepala. Ia mengingat betapa santainya Tian tadi malam, seolah-olah menikahi seseorang hanyalah sebuah bisnis kecil baginya.
"Om itu pasti cuma bercanda," gumamnya pelan.
Ia tidak mungkin benar-benar menikahinya, kan? Buktinya, Tian pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan apa pun.
Maia memutuskan pulang. Ia pikir semuanya sudah selesai. Tian hanya memberinya tempat berteduh semalam dan kini segalanya kembali seperti semula.
Namun, begitu ia sampai di rumah, sesuatu yang mengerikan menunggunya.
Begitu pintu terbuka, tangan Bibi Nana langsung melayang ke pipinya.
PLAK!
Maia terhuyung ke belakang, terkejut dengan tamparan keras itu.
"Kau pikir bisa lari dariku, hah?!" suara Bibi Nana penuh kemarahan.
Maia memegang pipinya yang panas. "Bi... bibi, aku bisa jelaskan-"
"Jelaskan? Kau membuat Tuan Alex marah besar!" Bibi Nana menjerit. "Kau tahu berapa banyak uang yang hampir kudapatkan darimu?! Kau kabur di saat yang seharusnya kau berada di ranjangnya!"
Maia menegang. "Aku bukan barang dagangan, Bibi!"
PLAK!
Tamparan kedua lebih keras. Kali ini Maia jatuh ke lantai.
"Kau ini anak tidak tahu diuntung! Aku sudah membesarkanmu sepuluh tahun, dan kau berani membangkang?!"
Maia menangis, merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Namun, ia tidak ingin menyerah begitu saja.
"Aku akan membayar semua uang yang bibi keluarkan untukku! Aku akan bekerja!" Maia berusaha bangkit.
Bibi Nana mencengkeram rambutnya, menariknya kasar.
"Kau pikir uang itu bisa kau dapat dengan kerja rendahan?! Kau hanya perempuan biasa, Maia! Satu-satunya nilai yang kau punya adalah tubuhmu! Itu yang bisa kau jual!"
Maia terisak. Air matanya bercucuran.
Paman Rudi yang berdiri di sudut ruangan hanya diam, seakan tidak peduli dengan apa yang terjadi.
"Mulai sekarang, kau tidak boleh keluar rumah!" bentak Bibi Nana. "Dan kau harus minta maaf pada Tuan Alex! Kau harus jadi istrinya, entah kau mau atau tidak!"
Maia menggeleng cepat. "Tidak! Aku tidak akan menikah dengan pria menjijikkan itu!"
Bibi Nana semakin murka. Ia menarik Maia ke dapur, lalu mencelupkan tangannya ke dalam air panas yang masih mengepul.
"Aaakhh!" Maia menjerit kesakitan.
Air matanya semakin deras, tetapi Bibi Nana tidak peduli.
"Kau akan belajar untuk tidak melawan!" suara wanita itu dingin.
Pintu rumah tiba-tiba terbuka lebar.
"LEPASKAN DIA."
Suara berat itu menggema di ruangan.
Bibi Nana menoleh dengan geram. Namun, saat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu, wajahnya langsung pucat pasi.
Tian Jovanda Anderson berdiri di sana, mengenakan setelan hitam yang mahal. Di belakangnya, dua pria berjas dengan wajah dingin siap bertindak kapan saja.
Maia menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Om Tian..." suaranya lemah.
Tian menatap Maia dengan rahang mengeras. Matanya gelap, penuh amarah.
Ia melangkah masuk dengan aura yang begitu menekan. "Apa yang kau lakukan pada wanitaku?"
Bibi Nana mencoba tertawa kecil, meskipun jelas suaranya bergetar. "Tuan... Anderson? Ini hanya... hukuman kecil. Anak ini perlu diajari disiplin."
Tian tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Maia, melihat luka di wajah dan tangannya yang memerah akibat air panas.
Kemarahannya semakin memuncak.
Tanpa peringatan, Tian melangkah cepat, meraih tangan Maia dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Aku sudah memutuskan," ucapnya dingin, matanya masih menatap tajam ke arah Bibi Nana. "Mulai hari ini, dia adalah istriku."
Maia tersentak. "Hah?"
Bibi Nana terbelalak. "T-tapi-"
"Berani menyentuhnya lagi, dan aku pastikan kalian tidak akan pernah melihat matahari esok hari," suara Tian tajam seperti pisau.
Bibi Nana terdiam, tubuhnya gemetar.
Tian merangkul Maia lebih erat. "Kau ikut aku."