Bab 1

Gemericik hujan masih mengguyur kota New York sejak sore tadi. Hawa dingin menyelimuti kota yang tak pernah tidur itu. Sebuah jam besar berdiri pada sudut ruangan dengan cat dinding bernuansa air laut Karibia. Jarumnya menunjuk tepat pada anggka dua.

Benar, sudah pagi. Namun aktivitas panas masih berlangsung di dalam kamar VVIP dimana jam besar itu bertengger. Ia terpaksa harus menyaksikan pergumulan liar sepasang manusia di tengah ranjang.

California Hotel, bangunan itu memiliki 100 lantai dan termasuk hotel bintang lima yang paling populer di kalangan kaum Jetset di Amerika. Hotel itu dulunya milik seorang pengusaha asal Jepang bernama Hisaki Shimada. Namun setelah usahanya bangrut, pria itu melelang aset mewahnya kepada seorang pengusaha terkaya nomer dua di Amerika yakni Edward Willbowrn.

Edward mendapatkan hotel itu dengan harga yang lumayan tinggi. Bahkan ia memberikan tawaran terakhir yang membuat para pembeli di pelelangan itu tercengang dibuatnya. 500 juta dolar, harga yang Edward sanggupi mengalahkan semua tawaran pembeli di pelalangan siang itu. Akhirnya hotel 100 lantai itu pun jatuh ke tangannya.

California Hotel sendiri Edward beli untuk hadiah anniversary pernikahannya dengan Meghan Crafson, wanita 30 tahun asal Polandia yang baru saja ia nikahi satu tahun yang lalu. Menikahi wanita yang seumuran dengan puteranya membuat Edward sangat bahagia.

Dia selalu berusaha untuk membuat mantan model majalah dewasa itu hidup bergelimang kemewahan. Bahkan CEO utama perusahaan teknologi terbesar di Amerika itu rela menghabiskan banyak uangnya demi kebahagiaan Meghan. Ini semua ia lakukan karena rasa cintanya yang teramat besar pada wanita itu.

Namun bagaimana dengan Meghan? Apakah wanita berkulit putih itu juga sangat mencintainya? Jawabannya tidak. Karena Meghan adalah wanita matrealistis yang hidupnya tak mau ambil pusing. Baginya uang adalah segalanya. Persetan dengan apa pun yang penting saldo rekeningnya selalu luber terisi.

Seperti saat ini, Meghan malah asik bergumul dengan pria bayaran bernama Louis. Dan ini bukan kali pertama dirinya tidur dengan pria lain setelah terikat pernikahan dengan Edward Willbowrn. Wanita itu kerap menghabiskan malam dengan siapa saja yang bisa memuaskan hasratnya.

Meski tak mau dibilang seorang hiper sex, namun itulah kenyataannya. Meghan tak pernah benar-benar puas hanya dengan satu pria saja. Bahkan ia selalu mencari batang berurat yang besar dan bisa memberinya kenikmatan yang ia inginkan.

"Louis, terus sayang! Kamu payah! Shit!" Suara cetar itu berasal dari bibir merah basah yang terus meracau di bawah kendali seorang pria berambut kecokelatan. Meghan tak henti berdesah dan meracau di sela percintaan yang sedang dirinya lalui. Sudah hampir empat jam mereka bercinta, namun si jalang Meghan masih belum mencapai puncaknya.

"Nyonya ..." Kali ini si pria yang berdesah dengan napas beratnya yang terdengar memburu. Peluh bercucuran dari ribuan pori-pori kulitnya. Louis sudah kewalahan menggempur milik Meghan.

Tapi sial! Wanita itu tak juga mencapai klimaks. Dia mulai kesal.

"Louis! Oh, shit!"

"Fuck!"

Persetan dengan Meghan yang tampak sangat kecewa karena batang kebanggaan Louis sudah meledak di dalamnya. Pria itu bahkan segera berguling usai menarik senjatanya keluar. Meghan memalingkan wajahnya kesal. Sial! Ternyata bercinta dengan gigolo itu pun tak mampu membuatnya merasakan kenikmatan yang ia cari. Sia-sia dirinya sudah membayar mahal untuk pria 26 tahun itu. Ternyata Louis sangat payah!

"Nyonya, saya tak bisa bermain lagi," ucap Louis seraya menoleh pada wanita di sampingnya. Keduanya masih dalam keadaan polos dan berada dalam selimut yang sama. Penyesalan tampak jelas di mata pria muda berparas tampan itu. Baru kali ini ia mendapatkan pelanggan seperti ini. Wanita 30 tahun yang sangat cantik namun memiliki nafsu layaknya kuda betina.

"Tak usah banyak bicara, kamu memang payah!" Setelah menoleh tegas pada pria muda di sampingnya, Meghan segera beringsut dari ranjang. Dia lantas berjalan menuju kamar mandi dengan wajah kecewa.

"Dasar wanita hiper." Louis berdesis sembari memandangi tubuh polos Meghan yang semakin menjauh darinya. Tubuhnya memang indah, namun nafsunya sangat gila, pikirnya. Dia bergidig kemudian.

Langkah sepasang tungkai jenjang itu berhenti di samping sebuah bathtub berukuran cukup besar. Meghan menggelengkan kepalanya masih tampak kecewa atas percintaan buruk tadi. Wanita itu lantas memasuki wadah air di hadapannya. Dia membenamkan tubuhnya di sana.

Benar-benar sial! Dimana ia bisa mendapatkan kenikmatan yang seperti itu? Sepasang matanya terpejam perlahan dengan kepalanya yang bersandar pada tepi bathtub. Sekilas ingatannya melayang pada kejadian dua tahun yang lalu, saat dirinya menghadiri sebuah pesta temannya yang bernama Laura.

Laura dan beberapa teman prianya mengadakan sebuah permainan dimana akhirnya Meghan kalah dan ditantang bercinta dengan seorang pria. Saat itu dirinya diikat di tengah ranjang dengan kain hitam yang menutupi sepasang matanya. Sampai seorang pria pun datang, lantas menikmati setiap inci tubuhnya. Meski itu konyol, namun Meghan merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa saat pria itu membantainya di atas ranjang.

Untuk pertama kalinya bagi Megan. Dan pria itu membuatnya serasa melayang-layang dengan berjuta kenikmatan yang diberikannya. Dia menginginkan pria itu lagi. Namun siapa dia dan dimana dia sekarang? Sayangnya Meghan tak tahu hal .

Dia pernah beberapa kali menanyakan pria itu pada Laura. Namun temannya itu tak mau memberitahunya. Karena itu melanggar peraturan dari permainan mereka. Dia tak boleh mengatakan pada Meghan (korban) siapa pun pria itu (pelaku).

Dan semenjak itu Meghan terus berpetualang sex untuk mencari kenikmatan yang pernah dirinya rasakan malam itu. Dia sudah candu dan sangat menginginkannya lagi. Tapi sayang, dari sekian pria yang dikencaninya, tak ada satu pun dari mereka yang bisa membuatnya terpuaskan seperti yang pria itu lakukan.

Hh, apa lagi sejak dirinya menikahi Edward. Dunia sex-nya sangat buruk. Boro-boro merasa puas di atas ranjang, si tua bangka itu bahkan jarang sekali menyentuhnya.

Memang, ada beberapa malam dimana ia bercinta dengan Edward. Namun hasilnya sangat buruk! Payah! Baru saja 30 menit mereka bergumul, pembisnis itu sudah menyerah. Benar-benar menyebalkan! Meghan menyibak air hangat di hadapannya. Hatinya tak bisa tenang jika hasratnya belum terpuaskan. Apakah dia harus sewa dua gigolo sekaligus? No! Itu bisa merusak aset berharganya nanti. Dia tak mau.

Sepertinya memang hanya pria itu yang bisa membuatnya puas. Tapi dimana dia? Ugh! Meghan mengerang kesal dengan sesekali melepaskan tinjunya pada air. Kemudian ia menyentuh miliknya di bawah sana. Dibelainya dengan lembut namun berangsur kasar kemudian. Ah, nikmatnya. Ia teringat kenikmatan itu. Dia sangat menginginkannya lagi.

"Pergilah," ucap Meghan seraya menyodorkan selembar cek pada pria berkemeja hitam lengan panjang di hadapannya. Bibirnya tersenyum remeh menatap Louis. Pria ini masih muda, tampan dan bertubuh kekar.

Tapi kenapa dia sangat payah di atas ranjang, pikirnya kesal.

"Terima kasih, Nyonya." Dengan wajah merah menahan malu, Louis segera meraih haknya dari wanita dengan dress selutut warna hitam di hadapannya. Sial! Meghan sudah membuatnya seperti tisue bekas yang tak berguna. Bahkan wanita itu mencibir padanya. Ah, itu bukan salahnya. Bukan! Baiknya wanita itu bercinta dengan seekor kuda saja, pikirnya yang juga tak kalah kesalnya.

"Aku harap Madam Barbara tak lagi mempekerjakan pria payah sepertimu!"

Louis menghentikan langkahnya sejenak di hadapan pintu. Ucapan menohok dari bibir seksi Meghan membuatnya merasa sangat terhina. Namun apa daya? Dia hanya seorang pekerja sex. Pasti Madam Barbara akan memecatnya setelah ini. Benar-benar sial!

Tangan kanan Louis mencengkeram pegangan kopernya dengan penuh emosi. Pria itu pun kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan kamar hotel nomer 1334 dimana Meghan masih berdiri memandangi kepergiannya.

Wanita itu melipat kedua tangannya di bawah dada dengan bibirnya yang bergetar-getar mengutuk pria yang sudah tiga hari bersamanya itu. Payah! Rutuknya dalam hati.

Tak lama dari itu, ponsel pintar yang tergeletak pada meja nakas pun berdering. Ah, siapa yang menelepon? Masih dengan mood-nya yang buruk, Meghan segera meraih ponsel itu. Sial! Untuk apa si tua bangka itu menelepon? Wajahnya semakin dipenuhi aura kesal setelah melihat ID si pemanggil yang tampak pada layar ponselnya, Edward Willbowrn.

"Hubby! Apa? kamu akan pulang? Baiklah, aku akan menyiapkan sebuah pesta untukmu!"

Omong kosong! Wanita itu selalu berkata manis pada Edward. Padahal hatinya selalu menyumpai pria 50 tahun itu agar segera tewas. Menurutnya itu lebih baik daripada harus mengurusi suami yang tak berguna itu.

Eh, tapi dia masih membutuhkan Edward juga, kan? Tentu saja. Karena jika Edward tewas, lantas bagaimana ia melangsungkan hidupnya? Terlebih sampai sekarang dirinya belum memiliki seorang anak dari konglomerat kaya raya itu.

Apa? Memiliki anak dari Edward? Cih! Meghan tak pernah berpikir sampai sejauh itu. Karena mana mungkin dirinya bisa memiliki seorang anak, membuatnya 'puas' saja Edward tak mampu. Dasar tua bangka! Meghan menggelengkan kepalanya sembari tersenyum tipis. Kedua tangannya segera melipat ponsel pintarnya.

***

Sore itu langit tampak mendung. Mobil sport jenis Lamborghini keluaran terbaru edisi terbatas musim ini terlihat menepi di pelataran sebuah mansion mewah. Mansion tiga lantai itu berdiri mencolok di antara rumah-rumah besar di sekitarnya. Karena bangunan megah dengan cat putih itu berdiri pada dataran yang lebih tinggi dari beberapa mansion di sekitarnya. Bahkan mansion itu tampak lebih besar dari yang lainnya.

Sepasang tungkai panjang dibalut celana kain hitam keluar satu per satu dari pintu mobil sport itu. Seorang pria muda, tampan. Wajahnya blasteran Jerman-Rusia dengan postur tubuhnya yang tinggi dan kekar bak seorang atlet tinju. Tubuh idaman para wanita itu dibalut stelan jas hitam mahal dengan merk ternama, Mars Anthony. Terlihat sangat menawan dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.

"Ayo Hardin, Daddy ingin memperkenalkan seseorang padamu," ucap pria paruh baya yang juga keluar dari mobil yang sama. Edward Willbowrn, dia baru kembali dari Jerman setelah menghadiri acara wisuda puteranya yang bernama Hardin Leonard Willbowrn.

Sudah hampir lima tahun puteranya itu menempuh pendidikan pada universitas ternama di Jerman. Hardin akhirnya lulus dengan nilai tinggi. Kini pria itu kembali untuk membantu sang ayah mengurus bisnisnya.

Bibir kemerahan itu hanya mengulas senyum saat Edward merangkul bahunya. Hardin memang tipikal pria yang tak banyak bicara. Edward mengatakan puteranya itu mewarisi sipat ibunya yang pendiam. Padahal itu bohong belaka. Karena sebenarnya Hardin bukanlah putera kandungnya.

Edward tak henti tertawa senang seraya menggiring Hardin memasuki mansion. Di ruang tamu sudah tampak seorang wanita dengan long dress warna merah hati yang sedang berdiri menyambutnya. Sementara beberapa pelayan wanita berseragam juga tampak berdiri di belakangnya, turut menyambut kedatangan mereka.

Sepasang manik hijau kebiruan Hardin membulat penuh melihat wanita itu. Sial! Kenapa wanita itu berada di sini? Pikirnya seraya memalingkan wajahnya ke lain arah. Rahut wajahnya tampak tidak nyaman lagi setelah melihat Meghan yang sedang memasang senyum manis untuknya.

"Honey, ini Hardin puteraku. Dan Hardin, ini adalah Meghan, Mommy barumu."

Hardin sangat tersentak mendengar ucapan sang ayah. Apa? Mommy baru? Jadi, wanita itu adalah istri baru ayahnya? No! Ini tidak mungkin. Hardin menelan ludah kasar saat Meghan tersenyum binal seraya menyodorkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengannya.

Tubuh Hardin gemetaran tiba-tiba dengan jantungnya yang hampir meledak. Apakah Meghan tidak mengenalinya? Ya, sepertinya wanita itu tidak mengenalinya, pikir Hardin seraya menerima uluran tangan wanita cantik di hadapannya itu.

Sepasang pupil hazel Meghan terangkat ke wajah Hardin. Keduanya saling berpandangan barang sejenak. Crazy! Ternyata putera Edward ini sangtlah tampan dan memiliki aura seksual yang menggoda. Meghan menelan salivanya melihat bibir seksi Hardin yang tampak lembab.

Sepertinya sangat nikmat jika dilumat, pikirnya mulai melantur. Kemudian pandangan binalnya turun pada bagian depan celana kain hitam yang dikenakan oleh Hardin. Diamatinya sesuatu yang tampak sesak di dalam sana. Bibirnya menyeringai tipis diam-diam.

Sementara Edward hanya tersenyum senang melihatnya. Dia sangat lega jika Meghan bersedia menerima Hardin sebagai puteranya. Dan itu juga yang ia harapkan dari Hardin, dia berharap puteranya itu bisa menerima Meghan sebagai ibu sambungnya. Dengan begitu kini keluarganya kembali lengkap, pikirnya.

Wah, indah sekali harapan Edward. Namun sangat berbeda dengan apa yang sedang Meghan harapkan dan Hardin pikirkan saat ini.

Bab 2

"Sudah cukup sesi perkenalannya, lebih baik kita makan sekarang." Dengan bibirnya yang tersenyum masam Edward segera melerai tangan Hardin dan Meghan yang sedang berjabat tangan. Dia lantas merangkul bahu wanita cantik di sampingnya itu menuju ruang makan.

Hardin mematung sesaat sampai akhirnya menyusul mereka. Sepasang matanya memandangi wanita yang tengah berjalan di hadapannya. Tubuh Meghan sangat indah bak sebuah jam pasir. Dia memiliki bokong yang besar dengan ingkar pinggangnya yang kecil. Sementara kedua payudaranya yang montok selalu menyembul penuh dari bagian depan pakaiannya.

Ya, dia sudah pernah melihat semuanya dua tahun yang lalu.

Benar, dua tahun yang lalu dirinya pernah mencumbui wanita itu di sebuah kamar hotel dimana teman kuliahnya Julio mengadakan sebuah sex party di Polandia. Pesta itu Julio gelar untuk merayakan ulang tahun Hardin. Akhirnya ia datang ke pesta konyol yang diadakan oleh rekannya itu. Dia tak ingin membuat Julio kecewa.

Namun sungguh tak disangkanya, baru saja dirinya tiba di pesta, Julio dan beberapa rekannya langsung memaksanya memasuki sebuah kamar.

Kamar 365 di lantai tiga hotel, dia masih mengingatnya. Hardin sangat terkejut melihat seorang wanita yang sedang terlentang pasrah di tengah ranjang di kamar itu. Tubuh wanita itu hanya dibalut sehelai lingerie hitam transparan yang seksi. Sedangkan kedua tangannya diikat pada masing-masing tepi ranjang.

Pengaruh obat horny yang dicampurkan pada wine yang diminumnya pun mulai bereaksi. Menariknya untuk segera menggumuli wanita itu. Julio dan yang lainnya hanya menonton saat Hardin membantai wanita itu di atas ranjang. Bahkan mereka merekamnya, entah untuk apa.

Hardin dalam keadaan sadar sepenuhnya. Meski di bawah kendali obat perangsang, dia tahu betul malam itu dirinya telah merenggut kebanggaan wanita itu. Namun ia akui, wanita itu sangat liar dan membuatnya sangat bergetar.

Ah, sial. Dia segera memalingkan wajahnya mengingat betapa menggilanya dia pada malam itu.

Setelah kembali dari Polandia, dia tak lagi mengetahui tentang wanita itu. Entah dari Julio sekali pun. Karena rekannya itu mengatakan, jika wanita itu sudah mereka beli untuk hadiah ulang tahunnya. Hardin pun tak mau ambil pusing.

Tapi sekarang apa yang terjadi. Wanita itu kini muncul di hadapannya, bahkan berada di sekitarnya. Sial! Hardin segera memalingkan wajahnya saat Meghan menatapnya. Wanita itu melempar senyum binal untuknya saat mereka sudah mulai menikmati hidangan di ruang makan.

Apa maksudnya? Hardin tak ingin Meghan sampai mengingatnya dan kejadian malam itu. Namun entah kenapa dirinya merasa sangat bergetar karena tatapan wanita di hadapannya itu.

'Aghh! Kamu ...'

Oh, shit! Tiba-tiba saja suara itu terdengar kembali. Saat dimana dirinya dan Meghan menghabiskan malam bersama di Polandia. Oh, tidak. Sepertinya dia sudah tidak waras sekarang. Meghan bukan lagi wanita bayaran yang dulu dirinya cumbui, melainkan ibu sambungnya saat ini. Konyol! Hardin menggelengkan kepalanya tampak dilema.

"Hardin, why? Kamu kelihatannya sangat gelisah. Apakah ada masalah?" tanya Edward seraya menunjuk pria muda di seberang meja makan dengan garpu di tangannya. Sejak tadi puteranya itu tampak gelisah, itu yang dilihatnya.

"Ah, tak ada. Maaf," balas Hardin dengan gelagat yang tampak canggung. Bibirnya tersenyum garing dan kembali sibuk dengan sendok dan garpunya.

Meghan tersenyum tipis melihatnya. Crazy, pria ini sangat menawan. Sepasang matanya tak mau beranjak dari wajah tampan blasteran Jerman-Rusia itu. Handsome, namun bukan itu yang mengalihkan dirinya. Justru bibir itu yang tampak seperti telaga kenikmatan. Ingin rasanya ia melumatnya. Gila! Bagaimana mungkin? Pria macho yang sedang dirinya pandangi itu adalah anak tirinya.

Sial! Meghan menusuk steak yang sudah diirisnya. Dengan agak kasar dia memasukan potongan daging panggang itu ke dalam mulutnya. Dia menguyahnya seraya memandangi Hardin. Nikmat sekali, pikirnya sudah hilang kendali.

"Hardin, Daddy senang kamu sudah menyelesaikan studimu. Esok kamu harus ikut dengan Daddy ke kantor. Mulai besok kamu harus mengurus perusahaan," tukas Edwar seraya menatap pada Hardin, sementara tangan kanannya meraih tisue untuk menyeka bibirnya. Dia sudah selesai makan.

"Well," jawab Hardin singkat tanpa memalingkan pandangan dari steak yang sedang diirisnya. Mungkin memang sudah saatnya ia menjadi pria yang bertanggung jawab. Setelah selama ini hidupnya hanya berhura-hura bersama para wanita dan para rekannya di Jerman.

Edwar hanya mengangguk sembari tersenyum. Dia sangat bangga pada puteranya itu. Meski Hardin bukan darah dagingnya yang sebenarnya, namun baginya anak hasil perselingkuhan istrinya itu adalah anaknya. Dia rela menutupi aib itu seumur hidupnya sampai istrinya meninggal.

Dia berusaha menahan segala sakit di hatinya karena pengkhianatan sang istri. Namun saat istrinya, Deborah datang padanya dalam keadaan hamil tua, Edward tetap menerimanya dengan tangan terbuka. Sebenarnya dia masih sangat mencintai Deborah, namun sebagai seorang pria, dia merasa terhina atas perbuatan istrinya itu.

Bagaimana tidak? Deborah telah berselingkuh dengan koleganya sendiri. Daniel Hernandez, ingin rasanya ia menghabisi pria itu. Namun dari beberapa perkelahian mereka, dirinya tak pernah bisa lebih unggul dari Daniel. Sampai akhirnya Edward memilih untuk mengalah, membiarkan Deborah memporah-porantahkan pernikahan mereka.

"Aku harus pergi, ada beberapa berkas yang harus aku urus di kantor. Istirahatlah," tukas Edward seraya mengecup pucuk kepala wanita di hadapannya. Keduanya sedang berdiri di samping mobil BMW hitam yang menepi di pelataran mansion.

"Ini sudah malam, kenapa tidak besok saja?" Meghan hanya sedang berbasa-basi saja. Karena sebenarnya dia lebih merdeka jika pria tua itu tak berada di sampingnya.

"Jangan cemas. Lagi pula sekarang sudah ada Hardin. Aku rasa dia bisa menjagamu juga. Aku pergi," balas Edward. Dia melepaskan genggaman tangan Meghan darinya seraya melempar senyum manis untuk sang istri.

Meghan hanya mengangguk sembari tersenyum manis. Pergilah dan jangan kembali lagi, Tua bangka! Gumannya dalam hati. Dia melambaikan tangannya pada Edward saat pria itu memasuki pintu mobilnya. Bagus, pergilah kemana pun! Bibir tipis itu kembali tersenyum sembari memandangi mobil BMW hitam yang membawa Edward meninggalkan pelataran mansion.

Tubuh indah bak jam pasir itu spontan berputar untuk kembali memasuki mansion. Namun dia sangat terkejut mendapati Hardin yang sedang berdiri di hadapannya saat ini. Sepasang pupil kebiruan itu membulat penuh dengan mulutnya yang sedikit mengangah.

"Maaf, Mom. Boleh aku bicara denganmu?" tanya Hardin. Tak ada ekpresi apa pun di wajah tampan itu selain senyum misteriusnya dan tatapan yang terlihat menekan.

"Hm, baik. Ayo." Dengan jantungnya yang masih cenat-cenut tak karuan, Meghan segera melenggang melewati pria tinggi kekar di hadapannya itu. Bicara? Bicara apa? Dalam hati bertanya sendiri dengan ekor matanya yang berusaha menggapai bayangan Hardin yang tengah berjalan di belakangnya.

"Ya, bicaralah." Meghan mempersilakan Hardin duduk pada sofa panjang di ruang santai. Sementara dia segera mendaratkan bokongnya di sana.

"Aku ingin bicara di kamarku," tukas Hardin masih dengan ekpresi yang sulit diartikan oleh Meghan. Hanya tatapan yang menekan, namun sangat memesona.

Apa? Meghan sangat terkejut mendengarnya. Bicara di kamar? Pikirannya mulai traveling tak karuan. Dia menelan ludah kasar seraya mengangkat sepasang netranya ke wajah Hardin. Jujur saja, daripada menjadi anak tirinya, pria itu lebih cocok menjadi pasangan sex-nya. Konyol! Meghan segera memalingkan wajahnya guna menepis pikiran mesumnya itu.

"Ayo ke kamarku sekarang."

Meghan sangat tersentak mendengar ucapan Hardin. Dia segera bangkit dari sofa. Sepasang mata indahnya menatap penuh tanya pada pria berkemeja putih di hadapannya itu. Lengan kemejanya dilipat sampai ke siku, menampilkan otot-otot lengannya yang kekar. Meghan kembali menelan ludah kasar melihatnya. Terlebih cara pria itu membasahi bibirnya. Sangat menggemaskan.

"Kenapa masih diam? Ayo ikut aku sekarang." Hardin tak memberikan kesempatan lagi pada Meghan untuk bertanya. Pria itu segera mencekal lengan wanita itu, lantas menyeret Meghan menuju kamarnya di lantai tiga mansion.

Terhuyung-huyung langkah kecil Meghan mengimbangi langkah panjang Hardin yang tengah menyeretnya menaiki anak tangga. Apa ini? Kenapa pria itu memperlakukan dirinya seperti seorang wanita yang telah dibelinya. Hardin menyeretnya tanpa mengendahkan jika dirinya adalah ibu tirinya. Sekarang entah apa yang akan pria itu lakukan padanya. Meghan sedikit curiga.

Bab 3

Langkah panjang Hardin tiba di depan pintu kamarnya. Pria itu segera meraih knop pintu mahoni di hadapannya itu dengan tangan kirinya. Karena tangan kanannya tetap menggenggam pergelangan tangan Meghan.

Wanita itu menanggah pada pria tinggi di hadapannya. Apa, apa yang akan Hardin lakukan padanya? Dia sangat berdebar-debar dan tak bisa berpikir jernih saat ini. Apakah anak tirinya ini akan mengajaknya untuk bercinta? Oh, shit! Kenapa pikiran konyol itu yang melintas di kepalanya.

Hardin mendorong pintu mahoni di hadapannya. Dia menoleh sesaat pada wanita dengan dress selutut warna merah itu. Bibirnya menyeringai pada Meghan sebelum menyeret wanita itu memasuki kamar.

Meghan tak habis pikir. Apa yang diinginkan oleh Hardin. Setibanya di dalam kamar pria itu terus saja menyeretnya menuju kamar mandi. Melewati ranjang king size di sana. Dia benar-benar tak mengerti. Tapi dia takkan menolak jika si tampan ini akan mengajaknya mandi bersama. Fuck! Kenapa hanya pikiran mesum yang ada di otaknya.

"Kamu lihat itu? Keran kamar mandinya rusak. Ayo perbaiki, aku mau mandi air hangat malam ini."

Sepasang mata Meghan membulat penuh dengan mulutnya yang sedikit mengangah mendengar ucapan Hardin padanya. Dia lantas menoleh pada keran air yang bocor.

"A-apa? Memperbaiki keran air? A-ku tak bisa." Dengan perasaan tak karuan dan gugup, Meghan menjawab seraya menggelengkan kepalanya.

Hardin menyeringai melihatnya. Pria itu kembali mencekal lengan Meghan, lantas menarik wanita itu sampai ke dadanya. Meghan sangat tersentak dibuatnya. Sementara Hardin sedang menatapnya sangat dalam.

"Kenapa tidak bisa? Bukankah kamu sangat mahir?" bisik Hardin hampir menyentuh daun telinga Meghan. Bahkan wanita itu bisa mendengar deru napasnya yang memburu. Wangi  maskulin dari tubuh Hardin membuatnya menginginkan hal lebih.

"Mahir? Apa maksudmu? Lepaskan, aku akan memanggil Andreas untuk memperbaikinya," ucap Meghan seraya berusaha melepaskan genggaman tangan Hardin darinya. Ada apa dengan pria ini? Dari tatapan matanya ia bisa melihat ada gairah besar di sana. Apakah Hardin menginginkan dirinya? Pertanyaan demi pertanyaan konyol terus membaur di kepalanya. Meghan segera menunduk saat Hardin mendekatkan wajahnya padanya.

"Aku ingin kamu yang perbaikinya," bisik Hardin lagi. Kali ini wajahnya hanya berjarak beberapa senti saja dari wajah Meghan. Gila! Wanita ini sudah membuatnya sangat kepanasan.

"Baiklah, akan kucoba. Lepaskan aku," ucap Meghan masih dengan perasaan canggung tak karuan. Dia berusaha tenang. Tangan kekar itu pun melepaskan dirinya.

Hardin mengangguk sembari tersenyum tipis. Dia membuka satu tangannya mempersilakan Meghan untuk segera memperbaiki keran air yang terus mengucur itu.

Dengan perasaan ragu disertai debaran jantungnya yang sulit dinetralkan, Meghan menghampiri keran air di sana. Jari-jemari dengan nail warna merah itu mulai menjangkau keran air itu. Konyol! Dia mantan seorang model, bukan mantan seorang tukang. Astaga, ada-ada saja, pikirnya pusing sendiri.

Baru saja tangannya menjangkau keran air itu, tiba-tiba saja semburan air menyerangnya begitu deras. Meghan memekik kaget. Tubuhnya menjadi basah kuyup sekarang. Hardin tersenyum tipis melihatnya. Dress tipis itu menjadi basah hingga melekat pada tubuh indah Meghan. Mencetak setiap titik penting tubuhnya yang menantang. Jakun pria itu naik turun menahan hawa nafsunya.

"Sini, biar aku saja." Hardin segera berdiri di belakang Meghan. Kali ini dia yang berusaha menutup keran yang bocor itu. Namun usahanya gagal. Akhirnya keduanya menjadi basah kuyup.

"Biarkan saja, biar Andreas saja yang mengurusnya." Meghan hendak memutar tubuhnya guna meraih handuk yang berada pada rak di kamar mandi. Namun dia terpeleset tiba-tiba. Tangannya spontan meraih lengan pria di sampingnya, menariknya hingga keduanya jatuh ke dalam bathtub.

"Hardin," desah Meghan kala pria itu menimpa tubuhnya di dalam bathtub. Basah kuyup keduanya dengan tatapan saling menginginkan.

"Maaf." Hardin hendak segera bangkit dengan berusaha menolak hasratnya. Namun Meghan menahannya. Sepasang mata pria itu kembali menatap wajah wanita di bawahnya. Keduanya saling berbagi pandangan sampai beberapa detik hingga akhirnya saling memalingkan wajah salah tingkah. Sial! Meghan mau pun Hardin sedang dilanda dilema saat ini.

"Keringkan tubuhmu, aku akan memanggil Andreas." Meghan menyodorkan sehelai handuk putih pada Hardin. Dia menggigit bibir bawahnya melihat pria itu sudah melepaskan kemejanya. Tubuh yang kekar dengan otot-ototnya yang menyembul padat. Putih dan licin dengan tulisan suci di dada kirinya. Pria seperti inilah yang ia inginkan. Sejenak Meghan tak ingin berpaling dari pemandangan erotis di hadapannya itu.

"Mom, jangan pergi." Hardin mencekal lengan Meghan saat wanita itu hendak meninggalkan kamar mandi.

Meghan hanya tertegum melihatnya. Apa lagi yang pria ini inginkan? Pikirnya sudah benar-benar tak tahan dengan godaan si anak tirinya itu. Dia bisa gila jika tetap berada di sini, pikirnya seraya memalingkan wajahnya dari tatapan intens Hardin padanya.

Meghan sangat tersentak kala pria itu menariknya sampai ke dada bidangnya yang polos. Wangi cologne pria itu membuatnya dimaabuk kepayang. Pikirannya tak lagi perduli apa pun. Dia hanya menginginkan Hardin saat ini. Sangat.

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" bisik Hardin ke wajah Meghan. Sepasang manik kebiruannya liar menjelajahi setiap inci wajah sempurna di hadapannya. Wajah tirus bak boneka barbie itu benar-benar membuatnya gemas. Apa lagi bibirnya yang sensual bak bunga mawar yang baru saja mekar. Ingin rasanya ia meneguk kenikmatan surgawi dari sana.

"Tidak. Kita baru bertemu hari ini setelah aku menikahi Ayahmu," jawab Meghan dengan wajah polosnya. Sepasang mata hazel itu terangkat ke wajah Hardin. Mencari jawaban dari semua pertanyaan di hatinya. Alis tebal itu sedikit menyatu setelah mendengar ucapannya.

"Tidak, kita pernah bertemu sebelumnya di Polandia," bisik Hardin dengan napas mint yang segar. Bibirnya mengulas senyum melihat Meghan menatapnya dengan sepasang pupilnya yang membulat penuh. Kedua tangannya melepaskan rengkuhan itu dari tubuhnya. Dia lantas melenggang pergi melewati Meghan yang masih terdiam mematung di sana.

"Polandia?" Meghan berkata sendiri sembari mengingat-ingat. Namun sepertinya dia memang tak pernah bertemu dengan Hardin sebelumnya. Konyol! Ini sangat konyol! Anak nakal itu pasti sedang menggodanya saja, pikirnya. Kepalanya menggeleng dan segera meninggalkan kamar mandi. Dia harus segera bertukar pakaian sebelum tubuhnya menggigil.

Baru saja Meghan meninggalkan ambang pintu kamar mandi, dia kembali dikejutkan dengan sosok Hardin yang sedang berdiri di kamarnya. Pria itu hanya mengenakan celana boxernya saja. Dia berdiri di hadapan standing miror setinggi dirinya. Meghan menelan ludah kasar melihatnya.

Sial! Kenapa pria itu sangat menggoda birahinya. Bodoh! Rutuknya dalam hati seraya melanjutkan langkahnya untuk meninggalkan kamar Hardin.

Pandangan Hardin menangkap sosok Meghan yang sedang berjalan menuju pintu keluar. Tidak, dia tak bisa menahannya lagi. Wanita itu sudah memantik api gairah yang dulu pernah ia nyalakan. Dia menginginkannya lagi. Langkah panjangnya segera menyusul Meghan.

Tangan putih Meghan ingin menggapai knop pintu di hadapannya, namun tiba-tiba saja ada tangan kekar yang mencekal lengannya. Meghan memekik kaget. Namun kesempatan itu sangat kecil. Hardin segera menariknya menuju ranjang. Tubuh Meghan yang masih berbalut dress basah itu terlentang pasrah di bawah kendali Hardin. Sepasang matanya menatap penuh pada pria itu dengan napasnya yang terengah-engah.

"Apa aku harus membantumu untuk mengingatku lagi?" bisik Hardin ke wajah Meghan. Tubuh kekarnya sudah memenjarakan wanita itu di tengah ranjangnya.

"Apa?" Meghan menelan salivanya mendengar ucapan Hardin. Apa maksudnya? Sebenarnya siapa pria ini, pikirnya.

Hardin tersenyum seringai membalas tatapan Meghan. Dia lantas mendekatkan wajahnya pada wanita itu. Meghan segera memejamkan sepasang matanya dengan perasaan campur aduk tak karuan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED